Hijaber Sukses, Hijaber Pembelajar

myrep-1

 

Hijaber Sukses, Hijaber Pembelajar

 (Diambil dari buku saya, “My Hijab”, Pastelbooks, 2016)

Manusia pembelajar adalah mereka yang selalu belajar, terus berusaha mempelajari segala sesuatu setiap saat dalam hidupnya, berusaha memperoleh dan menghasilkan hal-hal baru setiap hari dalam hidupnya. Seorang profesional yang ingin sukses juga harus mempunyai mental manusia pembelajar. Dia tidak boleh bosan belajar dan senang mencoba hal-hal baru.

Dalam sejarah kenabian telah dicontohkan bahwa semua Nabi dan Rasul, para sahabat, bahkan hingga anak-anak mereka adalah pembelajar sejati. Anak-anak mereka bahkan sejak dini telah ditanamkan kecintaan belajar. Sebagai contoh, pada masa Nabi saw tak jarang ditemukan para penghafal Quran berusia muda. Iklim belajar itu nyaris merata di semua kalangan, dari para pemimpin hingga anak-anak kecil.

Sahabat Zaid bin Tsabit ra adalah salah satu contohnya. Selain menguasai berbagai bahasa, beliau juga merupakan seorang ilmuwan yang cerdas dan teliti. Ia adalah orang yang berperan dalam pencatatan dan perangkaian ayat-ayat Al Quran sehingga menjadi sebuah buku seperti sekarang.

Berbagai ilmu terus berkembang pada masa kejayaan Islam, sampai sekarang, seperti ilmu astrologi, ilmu kimia, ilmu ekonomi dan ilmu matematika. Pada masa itu lahirlah ilmuwan-ilmuwan yang nama dan karyanya abadi hingga kini, seperti Al Khawarizmi, Ibnu Sina, dll.

Mereka terbiasa belajar sedari kecil. Imam Syafii sebagai contoh, beliau telah hafal seluruh ayat dalam Al Quran di usia 7 tahun. Usamah bin Zaid telah diamanahi memimpin sebuah perang besar di usia 17 tahun. Padahal pada saat itu belum berdiri sekolah dan universitas seperti sekarang. Mereka semua belajar otodidak.

Para tokoh terkemuka di luar Islam juga demikian. HC Andersen adalah seorang penulis kisah-kisah dongeng klasik terkenal. Ia membuat puisi, dongeng, dan drama tanpa ada yang mengajari. Ia hanya belajar dari apa yang ia baca dan ia lihat. Sewaktu kecil, ia senang menjelajahi hutan dan kebun bunga. Terpesona dengan keindahan alam, ia membiarkan imajinasinya berkembang. Kemudian ia menuliskannya menjadi bentuk-bentuk karya sastra yang indah. Karya puisi dan lagunya sudah sangat dikenal kaum bangsawan Swedia sejak ia berusia remaja.

Thomas Alva Edison tidak pernah menerima pendidikan formal. Ia memang sempat bersekolah selama 3 bulan, sebelum akhirnya dikeluarkan. Selanjutnya, ibunya, seorang mantan guru, yang langsung mengajarinya berbagai hal. Selain itu, Edison hanya belajar dari buku-buku. Edison senang mempraktikkan apa yang ia baca, termasuk mempraktikkan percobaan ilmu kimia. Ia tidak putus asa meski seringkali percobaannya gagal, bahkan beberapa kali laboratorium yang ia buat sendiri ikut terbakar.

Ia tidak pernah belajar dari seorang ahli. Boleh dikatakan, satu-satunya ahli yang pernah menjadi tempat ia belajar adalah seorang ahli telegraf.  Ia belajar bagaimana cara menjadi seorang petugas operator telegram. Edison telah melakukan berbagai percobaan dan berhasil menciptakan kurang lebih 120 penemuan. Ia berhasil membumikan teori Newton tentang listrik dan menterjemahkannya menjadi bola lampu listrik yang sangat berguna bagi kehidupan manusia moderen.

Walt Disney juga tidak pernah menerima pendidikan formal dalam bidang menggambar dan animasi. Hanya berbekal pengalaman bekerjanya di biro iklan dan perusahaan film-lah, ia bisa menjadi seorang perintis dalam bidang animasi studio.

Galileo Galilei juga sama sekali tidak pernah bersekolah tinggi. Tetapi ia telah menemukan sebuah teori yang pada saat itu tak terpikirkan oleh ilmuwan lain, bahkan bertentangan dengan faham masyarakat umum saat itu. Galileo berhasil membuktikan faham heliosentris lewat serangkaian percobaan yang ia lakukan secara mandiri. Ia memang seorang pencinta ilmu.

Demikian pula untuk menjadi seorang hijaber profesional yang sukses, tidak selalu dibutuhkan seorang sarjana lulusan Fakultas Ekonomi atau Ekonomi Syariah, atau Fakultas Manajemen. Lulusan manapun dan sekolah apapun bisa, asal ia memiliki kemauan untuk selalu belajar.

Dunia sekarang ini, terlebih di zaman dimana ekonomi syariah berkembang pesat ini, selalu penuh dengan tantangan baru yang menjanjikan. Selalu ada ilmu dan wawasan baru yang menanti untuk dikuasai oleh para hijaber. Dengan rajin mengikuti training, seminar, pelatihan, dan menghadiri forum diskusi dan kajian tentang ilmu yang berhubungan dengan karir dan mknatnya, seorang hijaber akan selalu terpacu untuk belajar dan terus mengembangkan serta menambah ilmunya.

Sebagai seorang profesional, seorang hijaber tidak boleh puas dengan ilmu yang dimiliki. Ia harus mencari dan menggali terus ilmu dan wawasan yang dapat mengantarkannya mencapai tujuan wakaf.

Seorang manusia pembelajar akan memiliki sebagian besar karakteristik di bawah ini:

  1. Selalu berusaha untuk belajar setiap waktu
  2. Bisa belajar dimana saja dan kapan saja
  3. Otaknya selalu aktif mengolah informasi yang dilihat/didengarnya
  4. Selalu tertarik pada banyak hal, terutama hal-hal unik dan baru
  5. Terbuka kepada berbagai pengalaman
  6. Selalu memiliki berbagai pertanyaan
  7. Memiliki penjelasan untuk setiap hal yang dilakukannya
  8. Kreatif dan trampil
  9. Produktif, banyak menghasilkan karya atau gagasan yang orisinil
  10. Memiliki pemikiran dan wawasan yang luas
  11. Luwes dalam berpikir, memiliki berbagai sudut pandang dalam melihat suatu masalah
  12. Merasa tertantang dalam menyelesaikan masalah yang kompleks
  13. Sanggup menjelaskan masalah yang sulit sehingga menjadi mudah difahami
  14. Tertarik untuk mengeksplorasi banyak lingkungan baru
  15. Tidak membatasi diri, selalu tertarik meluaskan pandangan, pengalaman, dan ketrampilannya
  16. Selalu berusaha fokus, memiliki daya konsentrasi tinggi
  17. Memiliki imajinasi yang tinggi
  18. Mampu menguasai suatu masalah dan menanganinya dengan cepat dan tepat
  19. Bisa mengambil kesimpulan secara cepat dan tepat
  20. Jeli dan hati-hati dalam melihat sebuah persoalan
  21. Bisa bertahan berada dalam lingkungan belajar yang tidak nyaman
  22. Memiliki daya tahan belajar yang tinggi
  23. Mampu menyesuaikan diri dengan cepat pada lingkungan baru
  24. Memulai belajar dari yang mudah, terus berlanjut menuju yang sulit
  25. Mencari jawaban yang orisinil untuks etiap hal yang dihadapi
  26. Mandiri dalam belajar
  27. Selalu bisa keluar dari masalah yang sulit sekalipun
  28. Menganggap kesulitan sebagai tantangan dan bukan hambatan.

Sangat banyak karakter yang menandakan seorang manusia pembelajar. Tentunya seorang hijaber yang baik akan berusaha memenuhi standar-standar karakter tersebut untuk meningkatkan perannya dalam mengelola amanah benda wakaf sehingga bisa tercapai tujuannya.

 

Ketika Perubahan Sulit Terjadi : Tantangan bagi Hijaber Profesional

 

Sebelum kita memulai berbicara tentang perubahan yang dimaksud, ada sebuah ilustrasi tentang perilaku makan yang tidak rasional.

Pada suatu hari Sabtu di tahun 2000, sejumlah pengunjung bioskop yang tak menaruh curiga sedikitpun datang ke sebuah bioskop di Chicago untuk menonton sebuah film. Mereka masing-masing memperoleh sebotol minuman ringan dan sekotak popcorn gratis. Mereka diminta untuk tidak langsung pulang seusai pertunjukan, dan diminta menjawab beberapa pertanyaan tentang makanan yang disajikan saat itu.

Ternyata popcorn itu rasanya sangat tidak enak. Sebenarnya, popcorn itu sengaja disajikan dalam rasa yang sudah tidak enak. Popcorn itu dibuat lima hari sebelumnya, sehingga sudah bau dan rasanya juga sudah tidak renyah lagi. Salah seorang penonton belakangan membandingkannya dengan styrofoam, dan dan dua lainnya lupa kalau mereka menerima popcorn itu gratis, meminta uang mereka dikembalikan.

Sebagian penonton menerima popcorn gratis dalam ember kertas berukuran sedang, sementara sisanya menerimanya dalam ember yang berukuran sangat besar, hampir sebesar ember yang digunakan untuk menimba air dari sumur di pedesaan. Setiap penonton mendapatkan bagiannya masing-masing, sehingga tidak perlu berbagi. Peneliti di balik studi itu ingin mendapatkan jawaban: apakah orang yang mendapatkan wadah makanan lebih besar makan lebih banyak?

Ternyata kedua wadah tersebut begitu besar, sehingga tak seorang penontonpun mampu menghabiskan jatah mereka. Maka pertanyaan dalam penelitian itu menjadi lebih spesifik: apakah penerima popcorn dalam ember besar makan lebih banyak daripada penonton yang menerima dalam ember sedang?

Wadah-wadah itu telah ditimbang oleh para peneliti, sebelum dan sesudah popcorn-nya dimakan. Hasilnya sangat mengejutkan: orang yang menerima wadah ember besar makan 53% popcorn lebih banyak daripada penonton yang menerima wadah ember sedang. Ini setara dengan kira-kira 173 kalori dan 21 kali mengambil popcorn lebih banyak.

Brian Wansink, pemrakarsa studi itu, pemimpin Food and Brand Lab di Cornell University, menguraikan hasilnya dalam bukunya “Mindless Eating”, sebagai berikut, “Kami telah menyelenggarakan studi popcorn yang lain, dan hasilnya selalu sama, bagaimanapun cara kami mengubah detailnya. Tidak peduli penonton film itu ada di Pennsylvania, Illinois, atau Iowa, dan tidak peduli film apapun yang sedang diputar, semua studi popcorn kami mengantar kepada kesimpulan yang sama. Orang makan lebih banyak ketika anda memberi mereka wadah yang lebih besar. Titik”.

Tidak ada teori lain yang bisa menjelaskan alasan perilaku ini. Mereka tidak makan untuk mencari kesenangan, sebab popcornnya tidak enak. Mereka juga tidak tergerak oleh hasrat untuk menghabiskan popcornnya, karena wadahnya sama-sama terlalu besar. Hasil; juga tidak berubah apakah ketika mereka sudah kenyang atau sedang lapar. Jawabnnya tetap tidak berubah: wadah besar = makan lebih banyak.

Semua orang menolak hasil kesimpulan percobaan tersebut. Mereka menolak dengan ebrkata, “Hal seperti itu tidak berpengaruh pada diri saya”, atau “Saya tahu kapan saya merasa kenyang”.

Bayangkan, jika ada orang yang menunjukkan kepada kita data studi di atas tanpa menyebutkan ukuran wadah yang berbeda itu. Kita dapat membaca hasilnya dengan cepat setelah melihat begitu banyaknya popcorn yang dimakan oleh sebagian orang, dan sisanya hanya makan sedikit. Dengan mudah pula kita dapat menarik sebuah kesimpulan: sebagian makan dengan sewajarnya, dan sebagian lagi makan dengan rakus.

Seorang pakar kesehatan masayarakat setelah membaca data itu, kemungkinan sekali akan segera merasa cemas soal si Rakus. Kita perlu memotivasi orang–orang ini agar menerapkan kebiasaan makan lebih sehat! Mari kita berupaya untuk menunjukkan kepada mereka bahayanya makan terlalu banyak bagi kesehatan!

Tapi jika anda ingin orang makan popcorn lebih sedikit, jawabannya sebenarnya sederhana sekali. Berikan saja mereka wadah yang lebih kecil. Anda tidak perlu cemas tentang pengetahuan mereka atau kebiasaan makan mereka.

Dapat kita lihat, betapa mudah mengubah masalah perubahan yang sederhana (mengecilkan wadah) menjadi masalah perubahan yang sulit (membujuk orang berpikir secara berbeda). Ini adalah kejutan pertama tentang sebuah perubahan: Yang tampak sebagai masalah pada manusia (people problem) sesungguhnya adalah masalah pada situasi (situation problem).

Ada banyak perubahan dalam kehidupan setiap manusia. Ada perubahan yang besar, ada perubahan yang kecil. Ada perubahan yang sulit dilakukan, ada yang mudah. Tidak semua perubahan besar, sulit dilakukan, demikian juga tidak semua perubahan kecil mudah dilakukan. Masalahnya terkadang bukan terletak pada manusianya yang tidak mau berubah saja, tetapi pada kondisi yang tidak membuat manusia mau berubah.

Sebagai contoh dalam masyarakat tradisional, peruntukan tanah wakaf biasanya berkisar antara dibangunkan masjid, makam, yayasan yatim piatu, atau sekolah. Sebenarnya bisa saja di atas tanah tersebut, dibangunkan masjid yang memiliki ruko-ruko atau aula yang dapat disewakan untuk hajatan. Masalahnya, banyak wakif dan nazhir yang pemikirannya tidak ke sana, mengingat fungsi wakaf sebagai salah satu model pemberdayaan ekonomi masih belum bergaung di masa lalu. Tetapi ketika mereka dikondisikan untuk berpikir ke sana, misalnya dengan mengadakan banyak pelatihan, seminar, dan kursus peningkatan wawasan bagi nazhir, pasti ada beberapa orang nazhir yang akan tergerak. Jadi bukan nazhirnya yang tidak mau berubah. Adakalanya ini dipicu oleh kondisi yang tidak membuat mereka berpikir ke arah perubahan yang lebih baik.

Lalu bagaimana merubah situasi dan kondisi yang tidak mau berubah?

Ini yang akan kita bahas lebih lanjut. Tapi sebelumnya, ada kejutan lagi dari sebuah perubahan. Di bawah ini ada sebuah ilustrasi.

Seorang mahasiswa MIT yang bernama Gauri Nanda telah menemukan sebuah jam yang unik, yang diberi nama Clocky. Jam beker ini mempunyai roda. Jika anda menyetel alarm Clocky pada malam hari, ia akan berbunyi pada pagi hari dan menggelinding ke sana kemari. Ini akan memaksa anda turun dari tempat tidur dan berusaha mengejar Clocky untuk mematikan suara alarm-nya yang ribut. Dengan ini anda akan dibawa sejauh mungkin dari tempat tidur. Unik, bukan?

Hasilnya, 35.000 unit telah terjual dengan harga 50 dollar per buah, hanya dalam dua tahun pertama pemasaran Clocky, itupun tanpa melakukan pemasaran yang maksimal.

Kesuksesan temuan ini mengungkapkan banyak hal seputar psikologi manusia. Intinya adalah sebenarnya kita mengidap skizofrenia. Sebagian dari diri kita, yaitu sisi rasional kita, ingin bangun lebih pagi agar kita mempunyai banyak waktu untuk banyak hal yang bisa kita lakukan sebelum sibuk dengan rutinitas sehari-hari. Sebagian yang lain, yaitu sisi emosional kita, yang ketika terbangun di pagi hari, masih ingin bergelung di dalam selimut dan tidur lagi selama beberapa menit. Jika anda termasuk orang yang mempunyai sisi emosional yang lebih dominan, maka anda adalah calon pembeli potensial jam beker unik tersebut. Mengapa? Sebab alat tersebut sangat membantu anda dalam mengalahkan sisi emosional anda yang dominan, yang seringkali membuat anda terlibat dalam masalah kesiangan, misalnya. Hampir tidak mungkin, anda akan tetap tidur lagi ketika jam beker itu berisik dan menggelinding kesana kemari di dalam kamar anda.

Lain halnya jika anda termasuk orang yang sangat rasional. Dengan mudah anda akan memiliki alarm sendiri di dalam diri anda, sehingga tidak perlu membeli Clocky.

Kadang kita tidak berpikir sejauh ini. Tapi pada dasarnya setiap manusia punya kecenderungan yang tidak hanya satu. Kadang sisi rasionalnya sangat dominan, sementara di lain waktu sisi emosional mengambil alih kendali atas dirinya. Ada sisi yang dominan sekali dalam diri kita, tetapi itu bisa segera tergantikan ketika situasinya mendukung.

Kejutan kedua: pikiran dalam otak manusia tidak hanya satu.

Inilah sebabnya mengapa manusia bisa berubah, atau sebaliknya tidak mau berubah sama sekali. Kadang kedua sisi kepribadian itu saling bertentangan, kadang malah saling menguatkan. Lebih sering mereka memang saling bertentangan.

Pertentangan ini digambarkan dengan sangat jelas dengan analogi yang digunakan oleh Jonathan Haidt, seorang psikolog dari University of Virginia, dalam bukunya “The Happiness Hypothesis”. Haidt mengumpamakan sisi emosional kita adalah Gajah (elephant) dan sisi rasional kita sebagai Pawang (rider). Pawang bisa mengendalikan dan memimpin gajah, tetapi kadang Gajah bisa mempergunakan kekuatannya sehingga pawang terpaksa harus mengalah.

Masalah akan timbul ketika pawang dan gajahnya tidak menemukan kata sepakat. Harus ada yang dikorbankan atau mengalah.

Ada sebuah ilustrasi lagi untuk hal ini, dan akan membuat kita menemukan kejutan ketiga dari sebuah perubahan.

Sekelompok mahasiswa diikutsertakan dalam sebuah percobaan tentang persepsi terhadap makanan. Mereka diminta untuk tidak makan, setidaknya tiga jam sebelum percobaan. Setelah itu mereka melapor kepada laboratorium bahwa mereka agak lapar. Mereka lalu dibawa ke sebuah ruangan yang begitu harum aroma kue coklat yang baru saja selesai dipanggang. Di meja ada dua mangkok, yang satu berisi kue coklat yang begitu menggoda, dan yang satu lagi berisi lobak merah, makanan kelinci.

Setengah dari peserta diminta makan 2-3 potong kue coklat dan permen, sementara sisanya hanya boleh makan lobak merah. Sementara mereka makan, para peneliti meninggalkan ruangan dengan maksud agar mereka tergoda. Para peneliti itu ingin agar para pemakan lobak tergoda oleh kue coklat. Tapi hingga selesai, tak ada seorang pemakan lobakpun yang berusaha meminta kue coklat. Ini contoh ketika tekad sedang bekerja.

Tak lama setelah itu, datang beberapa peneliti lain, yang tampaknya tidak berhubungan dengan para peneliti pertama. Mereka meminta mahasiswa-mahasiswa tersebut memecahkan sebuah teka-teki sulit tentang bangun geometris yang membuat mereka harus berkali-kali mengulang mengerjakannya. Mereka diberi kertas yang banyak sekali agar mereka bisa terus mencobanya. Teka-teki tersebut ternyata memang dirancang untuk tidak bisa dipecahkan. Para peneliti ingin mengetahui, berapa lama para mahasiswa itu bertahan dalam mengerjakan soal yang sulit dan menyebalkan itu sebelum akhirnya menyerah.

Hasilnya adalah sebagai berikut:

Mahasiswa yang makan kue coklat mengerjakan soal tersebut selaam 19 menit melalui 34 kali upaya coba-coba. Dan, mahasiswa pemakan lobak menyerah hanya dalam 8 menit menxoba dengan mengulang sebanyak 19 kali. Mengapa mahasiswa pemakan lobak ternyata lebih mudah menyerah?

Jawabannya sangat mengejutkan; mereka kehilangan kendali diri. Dalam studi-studi seperti ini, psikolog menemukan bahwa kendali diri adalah sumber yang bisa habis. Mahasiswa pemakan lobak telah menggunakan sebagian besar kendali diri untuk menahan godaan terhadap kue coklat. Jadi ketika dihadapkan pada soal yang sulit tersebut, gajah-gajah dalam diri mereka sudah lelah dan mengomel karena merasa soal itu terlalu sulit. Akibatnya pawang-pawang juga tidak memiliki kendali untuk gajah-gajahnya lebih dari 8 menit. Sementara itu, mahasiswa yang makan kue coklat memiliki pawang-pawang yang masih segar sehingga masih bisa mengendalikan gajah-gajah mereka selama 19 menit.

Ini memang bukan kejutan dalam sebuah perubahan, tetapi sebuah poin penting: kendali diri adalah sumber yang bisa habis.

Ini juga yang menjadi sebab mengapa dalam melakukan sebuah perubahan, atua dalam proses mencapai keinginan untuk merubah sebuah kondisi, seorang manusia dituntut untuk menyeimbangkan gajah dan pawangnya. Mengatur strategi agar tak kehabisan kendali diri sementara jalan masih panjang adalah sebuah ketrampilan yang harus dikuasai oleh seorang profesional yang ingin melakukan banyak perubahan ke arah yang lebih baik.

Masih ada satu ilustrasi lagi yang semoga akan memperkaya daya analogi kita sebagai nazhir dalam merancang sebuah perubahan.

Dua orang peneliti bidang kesehatan, Steve Booth-Butterfield dan Bill Reger, yang juga merupakan guru-guru besar di West Virginia University, sedang memikrkan cara untuk membujuk orang agar mau makan makanan yang lebih menyehatkan. Dari penelitian sebelumnya, mereka tahu kalau orang lebih mungkin berubah ketika mereka merasa sangat jelas dan faham tentang perilaku baru yang diharapkan terhadap diri mereka. Tetapi sayangnya, ini tidak berlaku untuk soal makanan sehat.

Ada beberapa pertanyaan sehubungan dengan hal ini. Dari mana kita harus mulai? Makanan apa yang tidak boleh lagi atau malah harus mulai dimakan sekarang? Haruskah mereka mengubah kebiasaan makan waktu sarapan, makan siang, dan makan malam? Di rumah atau di restoran?

Begitu banyak cara tentang makan makanan yang sehat, apalagi bila meneliti kebiasaan makan orang Amerika. Rata-rata orang Amerika suka sekali minum susu. Seperti diketahui, susu adalah sumber kalsium yang besar, sekaligus merupakan sumber lemak jenuh. Kemudian, perhitungan-perhitungan membuat kesimpulan yang luar biasa: andai saja orang Amerika beralih dari susu fulkrim (whole milk) ke susu skim atau susu 1%, maka pola makan mereka rata-rata akan langsung memenuhi kadar lemak jenuh yang dianjurkan oleh USDA.

Lalu bagaimana anda bisa mengajak warga Amerika mulai minum susu rendah lemak? Anda harus mengusahakan agar susu tersebut berada paling depan dalam kulkas mereka. Mengapa? Karena orang cenderung memakan atau meminum apa saja yang ada tepat di depan mereka! Seluruh keluarag akan meminum susu rendah lemak tersebut sebanyak dan secepat mereka menghabiskan susu fulkrim.

Jadi, anda tidak perlu mengubah kebiasaan minum. Yang justru harus diubah adalah : kebiasaan belanja. Tiba-tiba intervensi menjadi alat yang sangat penting di sini. Ketika kita ingin konsumen membeli susu 1%, , maka lakukanlah intervensi agar mereka membelinya saat mereka berbelanja bahan makanan.

Kedua guru besar tersebut menyusun strategi. Mereka meluncurkan kampanye di dua komunitas warga di West Virginia, dengan menampilkan iklan-iklan singkat di semua media lokal selama dua minggu. Kampanye susu 1% dibuat sangat tegas dan spesifik, tidak malu-malu seperti pengumuman merokok dapat menyebabkan kanker di iklan rokok, misalnya. Salah satu iklan menyebarluaskan fakta bahwa satu gelas susu fulkrim memiliki kandungan lemak jenuh setara dengan lima kerat daging babi. Dalam sebuah konferensi pers, para peneliti itu menunjukkan kepada para wartawan setempat, sebuah tabung penuh lemak yang setara dengan kadar lemak dalam dua liter susu fulkrim. Reaksi para gajah di kepala para wartawan, mereka cenderung terkejut dan berkata, “Wah, banyak sekali!”

Kedua peneliti itu kemudian memantau data penjualan susu di delapan toko di kawasan intervensi tersebut. Sebelum kampanye, pangsa pasar susu rendah lemak 18%, sesudah kampanye meroket menjadi 41%, dan enam bulan setelahnya stabil di angka 35%.

Ini mengantar kita ke bagian akhir pola yang mencirikan sebuah perubahan yang sukses: jika ingin orang berubah, anda harus memberikan arahan yang jelas. Jika misalnya, anda menghimbau orang agar hidup lebih sehat, akan banyak tafsiran yang dapat dibuat untuk itu. Misalnya, mana yang harus saya dahulukan; berolahraga untuk mengimbangi kebiasaan saya minum es krim ataukah mengurangi minum es krimnya dulu? Jadi, jika anda ingin orang hidup lebih sehat, jangan hanya katakan “jalanilah kehidupan yang sehat”, tapi anda bisa mengatakan secara lebih jelas, “Kalau belanja makanan, beli susu 1%, dan anda akan lebih sehat”. Ini adalah kejutan dalam perubahan: Yang tampak sebagai hambatan seringkali merupakan ketidakjelasan.

 

Dalam hal ini, setelah melihat ketiga ilustrasi tadi, dapat disimpulkan ada tiga kerangka kerja yang perlu diperhatikan seorang profesional yang ingin melakukan berbagai perubahan, demi peningkatan hasil. Ketiga kerangka tersebut adalah:

  1. Mengarahkan sang pawang. Yang tampak sebagai hambatan, seringkali merupakan ketidakjelasan. Ingat ilustrasi tentang kampanye susu 1% tadi. Jadi, berilah arah sejelas-jelasnya tentang apa yang anda inginkan dan dengan cara apa. Mulailah dengan menemukan titik terang yang berkaitan dengan faktor-faktor yang telah ada sebelumnya, misalnya kebiasaan masyarakat setempat, fakta-fakta ilmiah dll. Setelah itu uraikan langkah-langkah kritis, misalnya dengan melakukan pendekatan perorang atau kampanye melalui media lokal. Terakhir tunjukkan kemana arah yang dituju, bersama dengan upaya mengurai langkah-langkah kritis yang dilakukan. Hal ini dapat dilakukan pada masyarakat di wilayah yang belum faham terhadap wakaf produktif, misalnya. Untuk ini diperlukan pula gerakan melalui media dan menarik perhatian masyarakat melalui tokoh-tokohnya. Jangan lupa gunakan pesan yang sejelas mungkin.
  2. Memotivasi Sang Gajah. Yang tampak sebagai kemalasan, seringkali merupakan bentuk ketidakberdayaan. Ingat tentang eksperimen kue coklat dan lobak. Yang paling penting di sini adalah menggugah perasaan orang lain, misalnya dengan menyentuh sisi kemanusiaan masyarakat untuk berwakaf bagi peningkatan ekonomi rakyat miskin. Lalu sederhanakan perubahan, misalnya dengan menyediakan loket/gerai khusus bagi mereka yang akan ikut berwakaf. Terakhir adalah dengan mengembangkan personil baik kuantitas maupun kualitas, sehingga akan memperbaiki mutu pelayanan bagi yang akan berwakaf.
  3. Melicinkan jalan. Yang tampak sebagai masalah pada manusia sesungguhnya seringkali merupakan masalah pada situasi yang sedang mereka hadapi. Ingat kasus popcorn basi pada penonton bioskop. Ini bisa dilakukan dengan mengotak-atik lingkungan sekitar anda, lalu membangun kebiasaan yang baru, dan menggiring kawanan obyek untuk menempuh ‘jalan yang baru’.

 

Profesi apapun sangat memungkinkan anda untuk berada dalam situasi yang sulit dirubah, meskipun anda sangat ingin melakukannya. Mulailah dengan kreativitas anda yang tak terbatas untuk melakukan 3 hal ini serempak atau secara bertahap. Profesionalisme anda diuji untuk menghadapi hal-hal seperti ini dalam hampir setiap situasi dan apapun profesi anda. Dan, masyarakat masih memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap seorang hijaber.

Advertisements
Posted in buku, inspirasi, life, muslimah, perempuan, Uncategorized | Tagged , , , , , , , , | Leave a comment

Malam Minggu Bersama Olahan Ikan Tuna Karya Ayah

gizi1

 

Anak-anak saya selalu menantikan saat ayahnya libur kantor. Bukan hanya karena bisa bermain dan jalan-jalan bersama ayah, namun juga karena ayah pintar memasak. Selalu ada saja kreasi resep karya ayah yang diluncurkan pada malam minggu atau malam senin, dan langsung jadi hidangan favorit seluruh keluarga. Berbeda dengan saya yang kalau memasak harus ada patokan resep tertentu, ayahnya anak-anak lebih kreatif. Tinggal melongok isi kulkas, dan taraaa…jadilah kreasi masakan karya chef Ayah.

Seperti kreasinya kali ini yang diilhami oleh sekaleng ikan tuna olahan yang dikemas di dalam kaleng bermerek Isabella. Isabella adalaaah kisah cintaaa…. Astagah, kenapa malah nyanyi? Si Isabella ini didapat ayah sewaktu berdinas ke Minahasa beberapa waktu yang lalu. Dia adalah pecinta ikan, demikian pula saya dan anak-anak. Maka dia membeli beberapa kaleng Isabella dan dibawa sebagai oleh-oleh untuk kami di rumah.

Oh ya, ayah bercerita kalau di Minahasa dan daerah-daerah tepi pantai yang dia kunjungi selama berdinas, banyak memiliki kekayaan kuliner hasil laut yang enaknya luar biasa. Tidak hanya ikan, tapi juga udang, lobster, dan aneka siput atau kerang. Ayah tidak suka kerang, sebaliknya dengan saya, pecinta kerang garis keras. Sampai-sampai mbak warteg sebelah hafal banget kesukaan saya itu.

Baiklah, kita kembali kepada Isabella. Jadi si Isabella yang isinya ikan tuna ini dicampur di dalam minyak dan air serta bumbu, baru dikemas di dalam kaleng sebesar kaleng sarden. Nah, ayah mengolahnya dengan mengeringkan minyaknya, baru kemudian ikan tuna yang sudah setengah suwiran itu diolah untuk berbagai kreasi makanan.

Kali inipun dia mengolahnya dengan menambahkan dua buah tahu kuning dan tiga butir telur. Tahunya dia potong halus, jangan dihancurkan. Telur dikocok lepas. Kemudian tahu, telur, ikan tuna, dan boleh juga diberi irisan selederi dan daun bawang, dibumbui seperti bumbu telur dadar, yaitu bawang putih, garam, lada dan pala. Semua dicampur rata dan kemudian didadar di Happycall.

Hasilnya? Luar biasaaaa. Ikan tuna nya memberi rasa gurih di telur dadar tahu. Kata ayah, biar tambah enak, tunggu sampai pinggir-pinggir telurnya kering dan kayak ada selaput tipis. Praktis dan mudah banget kan caranya? Cocok sekali untuk sarapan. Tapi kali ini kami menyantapnya pada makan malam, ditemani cah kangkung terung sosis yang juga kreasi ayah. Chef ayah memang keren deh.

 

Kreasi lain dari dadar tuna Isabella tadi, bisa juga tahu diganti dengan mie, atau macaroni, atau pernah juga spaghetti. Untuk penyuka pedas, bisa tambahkan irisan cabe ke dalam adonan. Penyuka sayur bisa menambahkan aneka sayuran seperti cincangan brokoli, atau irisan halus bayam ke dalam adonan. Proses memasaknya juga tidak harus pakai Happycall, dikukus dengan kukusan juga bisa. Tapi nanti hasilnya ya enggak kayak telur dadar, tapi lebih menyerupai skotel.

Syukurlah anak-anak kami bukan anak picky eater. Semua mereka suka dan Alhamdulillah nafsu makannya kayak naga, makanya kami suka menjuluki keluarga kami sebagai keluarga naga. Ikan termasuk salah satu menu favorit kami. Ikan air tawar seperti ikan mas biasanya dipepes. Kadang kami membeli pecel lele, ikan bumbu kuning dan pepes teri saat makan di luar. Untuk ikan laut, kami penyuka gulai kepala ikan kakap, ikan salmon yang diformulasikan di dalam sushi, seperti salmon makki, salmon sushi roll, rainbow sushi dan sejenisnya. Ikan dori yang digoreng tepung atau dibumbui lada hitam juga favorit kami. Cumi padang, cumi isi tahu adalah menu kesukaan saya, sementara anak-anak lebih suka cumi goreng tepung atau calamari. Kalau ayahnya anak-anak, sudah tidak boleh makan cumi dan udang. Ehm…saya juga sih sebenarnya.

Kembali pada ikan tuna yang disukai semua anggota keluarga di rumah (termasuk lima ekor kucing saya), ternyata memiliki nilai gizi dan nutrisi yang sangat tinggi. Ikan tuna yang berwarna putih memiliki kandungan protein yang lebih tinggi dari ikan tuna yang berwarna merah. Ikan tuna yang paling banyak mengandung gizi dan nutrisi terdapat pada ikan tuna jenis Skyjack yang banyak terdapat di perairan Indonesia. Ikan tuna tergolong jenis scombrid yang sangat aktif dan menyebar di perairan oseanik hingga ke dekat pantai. Migrasi kelompok ikan tuna di perairan Indonesia mencakup wilayah perairan pantai, territorial dan Zona Eksklusif Ekonomi (ZEE) Indonesia.

Ikan tuna termasuk ke dalam warga Thunus, terdiri dari macam-macam jenis yaitu Mandidihang (Thunus albacores), Mata Besar (Thunus obesus), Abu-abu (Thunus tonggol), Tongkol (Euthinnus afinis), Albakora (Thunus allalunga), dan sirip biru (Thunus thymus). Ikan tuna adalah perenang cepat , bisa mencapai kecepatan 70 km/jam dan termasuk hewan berdarah panas.

Daging ikan tuna terdiri dari bagian yang putih dan yang merah. Daging merah yang menempati 1/6 bagian tubuh ikan tuna mempunyai kandungan mioglobin yang tinggi, yang diimbangi dengan banyaknya jaringan pengikat dan pembuluh darah. Sementara daging putih mengandung berbagai jenis protein berkualitas tinggi.

 

 

Salah satu cirri ikan keluarga scambroidea yaitu memilki kandungan asam amino bebas histidin yang tinggi. Pada saat penangkapan jika tidak ditangani dengan tepat, maka histidin akan diubah menjadi senyawa toksik yang disebut histamine, yang dalam jumlah tertentu dapat menyebabkan semacam alergi.

Tuna kalengan banyak dianjurkan untuk diet karena mengandung protein tinggi dan mudah disiapkan (tepuk tangan yang meriah untuk…Isabella adalaaah… hissshh). Tuna merupakan ikan yang berminyak dan karena itu mengandung vitamin D yang tinggi. Minyak tuna kalengan (Isabellaaa…. Ya ibu tiriiii…. Apaaan sih???), mengandung Adequate Intake (AI) vitamin D untuk bayi, anak-anak, laki-laki dan perempuan berusia 19050 tahun sebanyak 200 UI. Tuna kalengan juga dapat menjadi sumber yang baik dari asam lemak omega 3 yang kadang berisi lebih dari 300 mg persajian.

Ada beberapa manfaat ikan tuna bagi kesehatan, yaitu :
1. Merupakan sumber protein yang baik bagi tubuh
2. Mencegah stroke
3. Membantu mencegah tekanan darah tinggi
4. Menurunkan kadar trigliserida
5. Baik untuk kesehatan jantung
6. Mencegah atau mengurangi obesitas
7. Memperbaiki sistem imunitas tubuh
8. Merupakan sumber vitamin B
9. Mencegah kanker.

Hebat banget ya manfaat ikan tuna bagi kesehatan kita. Dan bersyukurnya kita karena ikan tuna banyak sekali terdapat di perairan Indonesia. Itu sebabnya saya ingin sekali mengenal lebih jauh keragaman dan khasiat kekayaan laut Indonesia dalam program Jelajah Gizi. Program Nutrisi untuk Bangsa dari Sarihusada kali ini memang pas banget mengangkat Jelajah Gizi Minahasa yang kaya dengan hasil laut, termasuk ikan tuna. Nanti pingin borong Isabella lagi ah… Aamiin…

Referensi :
Indonesia-mania.blogspot.co.id
Gizinutrisi.blogspot.co,id
Manfaat.co.id/manfaat-ikan-tuna

gizi7

 

Posted in food, kesehatan, kuliner, pangan | Tagged , , , , , , , , , , , , , | 4 Comments

Girl Power dalam Buku-Buku Saya

Bagi saya, perempuan adalah makhluk ciptaan Tuhan yang indah dan kuat. Bukan hanya kuat secara fisik sebab ia dikaruniai tugas mulia, yaitu mengandung, melahirkan, sekaligus merawat anaknya, yang kelak menjadi penentu peradaban. Untuk melengkapi tugasnya itu, perempuan juga diberi kekuatan secara psikologis sehingga mampu menerima beban yang simultan dalam perannya yang banyak itu. Luar biasa kan jadi perempuan itu?

 

Itu sebabnya dalam setiap buku saya, yang sampai saat ini, baru berjumlah 43 buku, dimana 22 diantaranya novel, banyak berkisah tentang perempuan-perempuan tangguh, the Lady who has a girl power, bukan powerpuff girl lho ya. Secara konsisten, saya berkisah tentang bagaimana perempuan dengan segala feminitasnya mampu melakukan hal-hal yang amazing. Dalam novel terbaru saya, Cinta dalam Semangkuk Sop Kaki Kambing, saya bercerita tentang Stephanie yang berani memilih jalan hidupnya sendiri, meski dia dihadapkan pada keinginan orang tuanya yang sulit ia tentang. Secara terselip, saya juga berkisah tentang Enyaknya Awy, seorang perempuan Betawi keturunan Arab, yang sekolahnya tidak tinggi, namun mampu menjadi penyeimbang bagi kekerasan watak sang suami, sekaligus mampu menjembatani kekakuan suaminya terhadap anak-anak dan saudaranya. Ada juga tokoh Grace yang berani memilih menjadi isteri seorang pejuang meski sebenarnya ia dibesarkan dalam keluarga ningrat yang kaya raya.

 

Novel saya yang ditulis duet dengan seorang penulis senior, Eni Martini, yang berjudul “Sunyi” menggambarkan tiga perempuan yang kuat menahan beban kehidupan yang menempatkan mereka pada situasi yang bukan jadi pilihan awal mereka. Ada Mala yang berani menolak dijadikan isteri kedua, Melati yang berani bertahan dalam kesunyian rumah tangganya, dan Soraya yang dalam kelemahlembutannya memilih bersikap ketika suaminya hendak menikah lagi. Ada lagi novel saya yang pernah memenangkan award sebagai Novel Terbaik 2014 versi UNSA Award, judulnya “Home”, menngisahkan Truly, sang istri dan menantu riang gembira, ceria dan suka menolong, berhasil mencairkan hubungan kaku antara suami dan ayah mertuanya. Truly dengan ketulusan dan kepolosannya justru menguatkan orang-orang di sekelilingnya ketika hidup menjadi getir. Ada lagi sebuah buku saya, nonfiksi motivasi, judulnya “My Hijab” yang berusaha menjabarkan hijab dalam sudut pandang saya, yang bukan sebatas trend fashion, namun lebih dari itu merupakan sebuah sikap dan ketegasan pandang terhadap cara beragama dan cara menjalani kehidupan.

 

Mengapa saya konsisten menulis tentang Girl Power? Sebab saya perempuan. Sejatinya, seorang perempuan, adalah dirinya yang satu, yang hanya dimiliki Tuhannya dan dirinya sendiri. Dia ada untuk menguatkan dan juga, pada waktunya, dikuatkan oleh orang-orang sekitarnya. Dia adalah sama dengan laki-laki, hamba Tuhan yang punya kewajiban melakukan yang terbaik untuk dunia dan afterlife-nya kelak. Perempuan selalu punya kekuatan untuk menjadi lebih baik. Kekuatan itu ada dalam dirinya, Maka tidak salah ketika Tuhan menitahkan para perempuan mengambil demikian banyak peran. Sebab ia mampu, sebab ia punya kekuatan dari dalam dirinya.

 

So, Ladies, keep smart, keep being tough, keep shine… coz you are amazingly and beautifully strong enough to be your best.

 

Terus, setelah ini, apakah saya masih akan tetap setia menulis tentang perempuan dan The Girl Power-nya? Tentu saja, insha Allah.

 

And please meet ms. Primadita, seorang sister yang menginspirasi muslimah muda Indonesia dengan kiprahnya yang sebagian pemikirannya bisa kamu baca di sini nih.

Posted in beauty, buku, inspirasi, life, menulis, muslimah, perempuan | Tagged , , , , , , , | 5 Comments

#MudaBikinBangga Sebab Berani Beda

Masih ingat enggak, waktu kecil dulu kalau ditanya cita-cita? Jawaban paling favorit adalah dokter, guru, pilot, insinyur, polisi dan tentara. Meski enggak tahu-tahu amat detailnya profesi tersebut, namun tetap saja sebagian besar dari kita menyebutnya sebagai cita-cita. Artinya memang itu mindset yang mainstream bagi anak-anak zaman dulu yang dibesarkan di iklim sosial masyarakat, bahwa yang namanya profesi itu ya yang bekerja di tempat tertentu dan digaji tetap. Dokter bekerja di rumah sakit dan digaji setiap bulan. Guru mengajar di sekolah dan diberi gaji setiap bulan. That’s all. Jadi kalau ada anak-anak yang cita-citanya antimainstream dianggapnya aneh. Dulu cita-cita saya jadi penyiar radio biar bisa dengar music sepanjang hari, habis saya ditertawakan dan dianggap aneh oleh sebagian besar teman. Keluarga sayapun demikian.

 

Perjalanan hidup mengantarkan saya dan dua dari tiga anak saya menjadi anggota komunitas Homeschooling. Di sini kami belajar bahwa hidup itu sendiri adalah sumber ilmu, bahwa belajar bisa dimana saja dan kapan saja, oh juga tentang apa saja. Dan… kita bebas menjadi apa sepanjang itu membawa kemanfaatan dan kita happy menjalaninya. Wow.

 

Bertemulah saya dengan anak-anak istimewa. Pemuda pemudi cilik yang berani speak up tentang cara belajar mereka yang antimainstream dan mau jadi apa mereka kelak. Saya juga bertemu Bunda-bunda juga Panda-panda mereka yang berusaha membebaskan pikiran mereka dari keberbedaan anak-anaknya dari mereka. Maklumlah, sama seperti saya, mereka juga adalah produk pendidikan konvergen dimana yang mainstream berarti yang baik dan benar. Perlu keluasan pandangan untuk menerima kenyataan bahwa zaman telah berubah dan anak-anak menjadi produk zaman yang mencengangkan.

 

Bersama mereka, saya menemukan keajaiban para pemuda pemudi cilik yang membanggakan itu. Saya kebetulan menjadi coach mereka untuk Club Menulis. Wow… saya selalu takjub. Ini adalah kelas menulis paling ajaib dan mencengangkan yang pernah saya pegang. Hanya dalam hitungan hari, mereka membuat blog. Dan mereka konsisten untuk mengisinya. Mereka bercerita tentang banyak hal, dari keseharian dan kegiatan favorit, seperti melakukan eksperimen sains mandiri, memelihara kucing, membuat bolu goreng, hingga yang filosofis seperti tentang makna sujud. Ada juga yang sangat psikologis seperti perasaannya ketika adiknya sempat hilang di sebuah acara, dan kerinduan kepada ayahnya yang sedang melanjutkan studi jauh di seberang benua.

Serunya Komunitas #MudaBikinBangga anak-anak Homeschooling KSuper Depok

 

Yang sangat menakjubkan juga adalah ketika mereka bicara tentang cita-cita. Benar-benar yang #MudaBikinBangga. Ada yang bercita-cita menjadi chef, movie maker, pemilik homeschooling alam, homesteader, dan masih banyak lagi. Ada yang sekarang sudah merintis belajar tentang homesteading, menghafal Quran, dan bahkan ada yang sudah serius menekuni astronomi dan bird-watching. Padahal usia mereka baru berkisar antara 7-13 tahun. Luar biasa. Dengan metode homeschooling, mereka tidak hanya asal menyebut cita-cita, tapi serius belajar untuk mewujudkannya.

 

Anak-anak homeschooling itu yang #MudaBikinBangga, berani berbeda demi cita-cita unik mereka di masa depan. Berani menempuh sistem belajar yang berbeda, berani dianggap aneh oleh anak-anak lain sebab dikira ‘tidak sekolah’, berani jalan terus demi cita-cita yang mungkin hari ini dianggap aneh, namun di masa depan, inilah profesi yang bisa mengukir nama harum anak bangsa Indonesia di mata dunia.

 

Tiba-tiba saya merenung, andaikan saya ada di zaman sekarang dalam usia sebelia mereka, pasti cita-cita saya jadi penyiar radio dan penulis tidak jadi bahan tertawaan. Dan tiba-tiba saya bangga sekali pada mereka; Karin, Alia, Liv, Suhaib, Wafa, Asiah, Maryam, Ceca, Syabil, Atala, Nofail, Naufal, Pia, Haqi, Mumtazah, Kayfa, Ikhwan, Aziz, Fathi, Kayla, Nayla, Belva, Cheraman, Babalou, Ahya, dan semuanya. Tetap jadi homeschoolers yang kelak bisa memimpin Indonesia dengan kreativitas dan kebaikan akhlak ya Nak. Jangan lupa terus update dengan semua perkembangan dunia, termasuk ilmu pengetahuan dan teknologi. Kita sekarang bisa dengan mudah mengupdate semua itu lewat satu aplikasi, namanya Kurio, aplikasi berita terkini yang bisa langsung diunduh di Playstore. Sesuai semboyannya ‘selalu lebih tau’, Kurio akan membantu kita lebih siap menghadapi perkembangan terkini dunia.

 

Posted in education, Home Schooling, inspirasi, life | Tagged , , , , , , , | 4 Comments

Tarling Khas Indramayu Kota Budaya Dulu dan Kini

Seni Tarling adalah seni music tradisional yang sangat melekat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Pantura, terutama wilayah Cirebon dan Indramayu sebagai tempat asal muasalnya kesenian ini. Komponen utama dalam seni Tarling adalah alat music gitar dan seruling, ditambahkan juga kendi sebagai gong, kotak sabun sebagai kendang, ada juga baskom dan ketipung kecil sebagai tambahan alat perkusi. Itu pada awal mulanya music ini diciptakan sekitar tahun 1930an. Sekarang banyak ditambahkan pula dengan organ tunggal. Bahkan semakin banyak yang memadukannya dengan music dangdut, sehingga sekarang dikenal Tarlingdut atau Tarling Dangdut. Dampaknya, banyak orang mengira Tarling adalah sejenis music dangdut, padahal berbeda.

 

Tarling tidak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat Pantura, termasuk masyarakat Indramayu, sebab Tarling merupakan salah satu hiburan rakyat yang dianggap mampu melepaskan beban hidup yang semakin berat dirasakan oleh masyarakat, terutama masyarakat kelas bawah. Dengan ikut berjoged dan nyawer dianggap mampu mengobati rasa lelah dan stress dalam mencari nafkah dan menjalani kehidupan. Lirik lagu Tarling juga banyak menghibur dan mencerahkan, disamping memberikan petuah dan menceritakan kisah sehari-hari.

 

Sebagai salah satu budaya yang erat dengan nilai-nilai kearifan local, Tarling tidak hanya berarti gitar dan seruling sebagai komponen utama kesenian ini, namun juga filosofi masyarakat tradisional Indramayu, yaitu ‘yen wis mlatar kudu eling’ atau kalau sudah berbuat kesalahan, harus segera eling dan bertobat. Artinya, harus selalu ada keinginan untuk memperbaiki diri. Tema kisah yang dipaparkan di dalam Tarling juga menyentuh kehidupan sehari-hari masyarakat, dan bersifat universal, misalnya saja lakon pegat-balen (kawin cerai), wayuan (poligami), demenan (cinta), mabuk, maen (berjudi), dan madon (Main perempuan). Semua ini dikemas dengan gaya bertutur yang subjektif sehingga mampu menghanyutkan penonton atau pendengarnya.

 

Saking populernya kesenian Tarling ini, penggemarnya tidak hanya berada di Cirebon dan Indramayu, namun sampai ke Pemalang, bahkan mengalahkan Campursari ala Jawa Tengah. Sebenarnya Tarling sendiri sudah melewatkan masa yang panjang dalam sejarah perkembangannya.

 

 

Tarling muncul kira-kira tahun 1931 di desa Kepandean, Kecamatan/Kabupaten Indramayu. Awalnya ada seorang komisaris Belanda yang meminta tolong kepada salah seorang warga bernama Mang Sakim untuk memperbaiki gitarnya. Mang Sakim juga dikenal sebagai ahli gamelan, musisi lah gitu istilahnya. Karena sang Belanda tidak juga mengambil gitarnya, mang Sakim menggunakan gitar itu untuk mempelajari lebih lanjut dan membandingkannya dengan nada-nada pentatonis gamelan. Hal ini dilanjutkan oleh putra Mang Sakim, yang bernama Sugra. Bahkan Sugra melakukan eksperimen dengan memindahkan nada-nada pentatonis ke gitar yang menggunakan nada diatonis. Sehingga, tembang-tembang (kiser) Dermayonan dan Cerbonan yang biasanya menggunakan gamelan bisa terdengar makin indah dengan alunan gitar, yang kemudian ditingkahi pula oleh tiupan seruling bambu.

 

Sejak itu, kaum muda Indramayu dan Cirebonan menganggap Tarling sebagai bagian dari gaya hidup mereka. Kian populer, Sugra kemudian melengkapi Tarling dengan berbagai kisah rekaannya sendiri, seperti Pegat Balen, Saeda Saeni, dan Lair Batin. Bahkan lakon Saeda Saeni menjadi lakon paling populer dan melegenda hingga saat ini, merupakan lakon sedih yang tak jarang membuat para penonton menangis.

 

Namun demikian, tarling saat itu belum menjadi suatu aliran music. Nama yang digunakan untuk menyebut music ini adalah Melodi Kota Ayu untuk Tarling Indramayu, dan Melodi Kota Udang untuk Tarling Cirebon. Nama Tarling baru diresmikan saat RRI sering menyiarkan jenis music ini. Oleh Badan pemerintah Harian, Tarling diresmikan sebagai jenis music pada tanggal 17 Agustus 1962.

 

Sayang banget ya, Tarling yang kaya akan nilai-nilai kearifan daerah pada masa sekarang ini lebih diasosiasikan dengan joged dangdut dengan syair yang kadang kurang pantas diperdengarkan. Sepertinya perlu  ada upaya pencerahan oleh seniman local untuk mengembalikan Tarling kepada bentuk asalnya.

 

Referensi :

Wikipedia

Namirart.blogspot.co.id

Tarlingkita.wordpress.com

 

Foto : google

 

indramayu1

 

Posted in culture | Tagged , , , , , , , | Leave a comment

Tahapan BCA Saksi Karir Kepenulisanku

Saya pertama kali punya buku tabungan yang ada ATM-nya tahun 1998, ya dari BCA, Tahapan BCA namanya. Warna bukunya sama seperti sekarang, biru sesuai dengan warna banknya. Bangga sekali rasanya, padahal waktu itu sudah kerja sekian lama dan punya buku tabungan tapi tampa ATM. Kartu kredit sudah punya lebih dulu malah, suplemen dari papa saya. Tapi punya ATM atas nama sendiri itu rasanya gimana ya, noraklah waktu itu.

Setelah itu saya punya beberapa kartu ATM dari bank lainnya, dan tetap saja yang paling aktif ya rekening BCA. Mungkin karena saat itu saja mesin ATM-nya sudah ada dimana-mana ya. Gampang kalau mau tarik uang tunai. Waktu itu merchant yang bekerjasama untuk pembayaran dengan kartu debit belum sebanyak sekarang, kalau enggak salah The Body Shop PIM termasuk yang sudah bekerja sama. Sempat jadi langganan di situ soalnya. Duluuuu lhoooo….xixixi.

Setelah saya menikah dan resign tahun 2004 saya menjadi ibu rumah tangga yang sempat galau. Mau ngapain saya? Terbiasa sibuk dengan jadwal kantor media yang cukup padat, di rumah sempat merasa kosong. Ngeblog juga untuk iseng-iseng saja, waktu itu pakai domain di typepad yang sekarang sudah beralih menjadi domain berbayar. Berjualan juga saya tidak terlalu pandai, dan termasuk type enggak tegaan. Paling enggak tega kalau ada kastamer yang minta diskon atau minta gratis. Bahaya banget kan penjual model saya begini?

Saya lalu terpikir untuk menulis dan mengirimkan tulisan-tulisan saya ke media dan penerbit. Bismillah dengan bermodalkan computer tua, mulailah saya mengumpulkan tulisan yang berserakan. Saya edit dan kirimkan ke salah satu penerbit ngetop kala itu, Al Mawardi Prima yang kantornya ada di Pondok Pinang, Alhamdulillah tidak terlalu lama menunggu, datang kabar baik bahwa naskah saya diterima untuk dibukukan dengan beberapa perubahan/editing. Bahagiaaanyaaa….

Tak lama naskah saya diterbitkan jadi buku. Alhamdulillaaah…. Dengan bahagia saya naik taksi ke kantor penerbit dan menerima uang DP. Senang sekali rasanya. Sejak saat itu saya mulai rutin menulis dan mengumpulkannya ke penerbit atau mengirimkan ke beberapa media.

bca1

Buku Pertamaku tahun 2004

Tiga bulan setelah buku pertama terbit, saya mendapatkan royalty pertama yang dibayarkan melalui bank. Dengan hati berbunga-bunga, saya mengambil royalty pertama yang jumlahnya cukup banyak itu ke ATM BCA. Rasanya tak percaya menemukan sejumlah angka di mesin ATM yang menandakan itu royalty hasil jerih payah saya setelah resign. Semangat saya makin membara. Saya harus terus menulis. Ini jalan rezeki yang Allah kasih setelah saya resign. Bye bye emak galau.

Sejak saat itu, tulisan demi tulisan, buku demi buku saya hasilkan. Kartu ATM BCA saya menjadi saksi perkembangan karir kepenulisan dan keberkahan rezeki lewat tulisan saya. Dia yang jadi saksi betapa saya sering bengong, tertawa, menangis, dan aneka ekspresi lain di depan mesin ATM setiap kali membaca saldo akhir tabungan. Kadang menggendut, menipis, dan kosong sama sekali. Enaknya di BCA, saldo 0 rupiahpun untuk beberapa waktu tidak akan menyebabkan rekening kita ditutup.

Hebatnya lagi, servis kepada nasabah pemegang rekening di BCA sangat baik. Saya beberapa kali mengalami kartu ATM tertelan di mesin, mungkin mesinnya kelaparan, ketika mengurus penggantian kartu, bisa cepat selesai. Demikian juga kalau buku tabungan hilang. Nah, penyakit saya tuh, sering lupa menyimpan buku tabungan. Ternyata di BCA prosesnya cepat dan tidak berbelit-belit.

bca2

Si kartu ATM dan debit BCA yang setia itu…

Itulah alasan mengapa saya bersetia terhadap BCA selama ini, selain ATM-nya paling banyak, servis terhadap nasabah memuaskan, dan … saya punya ikatan emosional dengan kartu ATM sekaligus debit BCA, sebab dialah yang menjadi saksi perkembangan karir menulis saya, dari pertama bikin buku hingga sekarang telah menghasilkan 43 buku. Tetap setia sama saya juga, BCA.

bcaexp

berpartisipasi dalam “My BCA Experience” Blog Competition

Posted in buku, inspirasi, menulis | Tagged , , , , , , | 4 Comments

Tiga Pantai Utara Jateng Untuk Wisata Keluarga

Jawa Tengah bagian utara, atau dikenal juga dengan wilayah Pantura, memiliki rentangan pantai yang luas dan memanjang. Meski belum banyak yang dikenal luas oleh wisatawan, pantai ini rata-rata memiliki cirri landai dan berombak tidak terlalu besar dibandingkan dengan pantai di laut selatan. Sebagian dari pantai-pantai ini memiliki pasir hitam, bukan putih seperti pasir di pantai selatan. Namun pemandangan dan suasananya cukup menyenangkan dijadikan sebagai tempat bersantai bareng keluarga.

 

Saya sendiri memang menjadwalkan wisata bareng keluarga setiap musim mudik lebaran, atau pada akhir tahun jika dananya memungkinkan. Pantai utara Jawa Tengah adalah salah satu destinasi kami, tentu saja tak lupa acara wisata pantai.

 

Ada paling tidak, tiga pantai yang mungkin belum terlalu banyak dikenal wisatawan, dan potensinya juga belum banyak tergali, namun cukup cocok untuk wisata bareng anak-anak.

 

Pantai Kartini, Jepara

Terletak tepatnya di kecamatan Bulu, 2.5 km sebelah barat ibukota Kabupaten Jepara. Sekitar satu jam paling lama menempuh perjalanan dengan mobil dari Kota Jepara, kita akan sampai di sebuah pantai dengan pasirnya yang cukup putih. Kawasan dengan luas lahan 3.5 hektare ini merupakan salah satu jalan masuk menuju kawasan wisata Nasional Karimun Jawa dan Pulau Panjang.

Ada beberapa obyek wisata seru di sini, seperti Kura-Kura Ocean Park yang merupakan ikon wisata Pantai Kartini. Merupakan obyek wisata yang pas buat keluarga, terdiri dari dua lantai, dan bangunannya berbentuk kura-kura raksasa. Anak-anak saya takjub mengamati akuarium berisi aneka jenis kura-kura dan hewan laut lainnya. Di lantai bawah ada dua jenis akuarium. Yang satu akuarium raksasa yang berisi kura-kura raksasa segede gaban, juga ikan-ikan besar seperti Pari, Kerapu, Buntal, hiu, kakap, Giant Trafelly, dan penyu sisik. Ada lagi 12 akuarium kecil dan 4 akuarium meja yang berisi berbagai jenis ikan kecil dan sedang, terdiri dari ikan air laut dan ikan air tawar.

Yang menariknya, ada kolam sentuh dimana pengunjung bisa menyentuh ikan-ikan dan kura-kura yang sudah jinak. Ini menimbulkan sensasi tersendiri yang mengasyikkan bagi bocah. Di lantai ini ada juga tempat terapi ikan (fish spa) yang berisi ribuan ikan Garra Rupa, sayang sekali kami enggak sempat masuk waktu berkunjung ke sini, karena susah sekali mengalihkan perhatian bocah yang asyik mengamati ikan dan kura-kura. Di lantai dua ada beberapa mainan edukatif bagi anak-anak, tapi tetap lebih seru di lantai bawah.

Oh ya, soal jajanan jangan khawatir, karena di sini banyak tukang jualan makanan dan minuman, meskipun harganya….lebih mahal dari kelas minimarket nasional sekalipun.

 

Untuk menyeberang ke Pulau Panjang, bisa ditempuh dengan perahu mesin lengkap dengan ‘supir’ dan jaket pengaman untuk setiap penumpang. Agak ngeri juga karena kadang jarak antara perahu dengan bebatuan terjal dan agak licin di tepi pantai lumayan jauh juga, jadi agak ribet buat emak-emak takut air kayak saya. *Ini sebenarnya emak kucing atau emak manusia ya, takut sama air?

 

Pulau Panjang sendiri sepi dan tenang, kita hanya bisa mendengar suara debur ombak dan memandang laut di kejauhan. Cocok sekali untuk refreshing dan bersantai. Pasirnya putih dan cukup bersih. Hanya sayang, toiletnya masih kurang bersih.

 

Pantai Sendang Sikucing, Weleri Kendal

Terletak di desa Sendang Sikucing, kecamatan Rowosari, 5 kilometer sebelah utara Weleri Kendal. Sebenarnya jalan ke sini sudah cukup baik, hanya hati-hati karena kadang GPS anda mengarahkan pada jalur yang salah, masuk ke persawahan sepi dimana di situ terdapat area begal yang cukup horror ceritanya. Ini pernah saya ceritakan di sebuah blogpost saya.

Pantai Sendang Sikucing yang kami kunjungi ini tidak ada kucingnya sama sekali. Yang ada adalah pasir hitam yang landai, sementara ke laut dibatasi bebatuan yang cukup terjal sehingga anak-anak tidak bisa berenang. Anak-anak main di tepi pantai yang landai sambil sesekali mendekati bibir pantai. Kami duduk-duduk santai menanti sunset dengan pemandangannya yang indah. Sayang sekali di sini banyak warung yang kurang menjaga kebersihan. Toilet dan tempat berbasuh juga kotor dan becek. Sayang banget ya. Padahal kalau saja terus dibenahi, bisa jadi tempat ini akan makin banyak dikunjungi wisatawan.

Sebenarnya ada satu lagi pantai Cahaya Sendang Sikucing yang lebih bersih dan lebih banyak sarana bermain anak-anak. Sayang sudah malam waktu itu, jadi kami memutuskan segera mencari hotel karena anak-anak juga sudah cukup puas bermain dan mengamati matahari terbenam.

jateng

 

 

Pantai Pasir Kencana Pekalongan

Terletak berbatasan dengan Pusat pelelangan ikan atau Pelabuhan Perikanan Nusantara, berjarak sekitar 4.5 kilometer dari kota Pekalongan. Luas pantai ini 1.5 hektare dan didominasi oleh pasir hitam. Sunset dari sini juga indah sekali. Sama dengan pantai Sendang Sikucing, cukup banyak warung di sini yang kurang menjaga kebersihan. Di samping itu panggung hiburan seringkali menampilkan penyanyi-penyanyi dengan lagu Pantura-an yang syairnya kurang pantas didengarkan oleh anak-anak. Ada juga arena bermain anak-anak yang tidak terlalu luas, becak air, dan perahu mesin. Hebatnya di sini, supir perahunya kelewat pede, sehingga penumpang seringkali tidak diberi jaket pengaman. Hahaha, merangkap sales asuransi kayaknya, Menjamin keselamatan penumpang walau tanpa jaket pengaman…

Anak-anak senang naik becak air dan perahu mesin di sini, karena wilayah jalan-jalan di lautnya lebih luas daripada yang biasa anak-anak saya mainkan di Setu Babakan, Jakarta. Hahaha iyalah. Pantainya juga lebih bersih dari Sendang Sikucing. Sayang juga, parkirnya becek. Hehehe, adaaa saja komentar saya ya.

pantai-pekalongan

 

 

 

Sebenarnya pantai-pantai ini bisa lebih cantik jika terus dibenahi dan ditertibkan kebersihannya. Terus fasilitasnya juga ditambah dong. Jadi makin pas untuk wisata keluarga yang bocahnya senangnya main air melulu.

 

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Visit Jawa Tengah 2016 yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah @VisitJawaTengah (www.twitter.com/visitjawatengah)

 

Posted in travelling, wisata | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , | 2 Comments

Refresh Your Family Life with Staycation

Pernah enggak merasa jenuh dengan keseharian dan rutinitas yang kita alami, Bunda dan Panda? Woohooo, saya mah seringg. Wajarlah ya, namanya juga manusia, pasti ada rasa jenuh yang tiba-tiba menyelinap di hari-hari kita, dan sempat mengganggu keikhlasan dalam menjalankan peran sebagai anggota keluarga, entah itu sebagai istri dan ibu, suami dan ayah, atau sebagai anak.

Kalau sudah jenuh, yang terjadi adalah emosi yang membludak dan ujung-ujungnya bête, baper serta saling manyun. Belum lagi kalau saling teriak, dan diakhiri dengan tangisan atau omelan enggak putus kayak bebek lapar.

Gimana caranya untuk mengurangi atau menghilangkan rasa jenuh? It’s time to refresh your family life! Ibaratnya hp jarang di-charge kan jadi lemot, jarang di-refresh kan jadi lola, begitu juga relationship dalam keluarga kecil kita. Iya, tapi mau refreshing, dana yang tersedia juga sedang ngepas, belum lagi kondisi badan yang sedang kurang memungkinkan untuk traveling jalan-jalan, apalagi bawa bocah yang sedang aktif-aktifnya.

Oke, kenapa enggak dicoba staycation saja, Bunda dan Panda? Liburan tapi berdiam saja di hotel, semalam dua malam, enggak usah kemana-mana, menikmati kolam renang dan breakfast di hotel, wifi-an dan foto-foto sepuasnya sambil mengeksplorasi semua fasilitas hotel, dan kruntelan di kamar sama anak-anak sambil saling curhat santai. Seru kan? Kalau mau jalan-jalan, ya yang murah dan dekat saja.

putri1

Jalan-jalan yang murah dan enggak bikin capek ke Benteng Vredeburg, kan fokusnya Staycation di Jogja…

 

Saya dan keluarga mengandalkan kegiatan staycation ini dikala butuh liburan dan enggak punya dana yang besar. Ya itu tadi, staycation dibutuhkan untuk me-refresh kembali kehidupan berkeluarga. Sambil kruntelan di kamar hotel sama anak-anak, kita akan menyadari betapa bersyukurnya menjadi orang tua mereka, betapa indahnya masa bersama mereka. Nanti kalau mereka sudah punya keluarga sendiri kan enggak mungkin mereka kruntelan sama kita lagi. Staycation sangat saya butuhkan ketika saya perlu sekali mendekatkan kembali hubungan dengan suami dan anak-anak. Sambil menikmati staycation, rasa syukur kami bertambah bahwa kami memiliki satu dan yang lain, dan saling mencintai serta menyayangi satu sama lain.

putri2

Staycation semakin mendekatkan hubungan orang tua dan anak

 

Sambil staycation juga kami menikmati suasana baru yang menyegarkan kembali pikiran dan jiwa setelah lama berkutat di suasana yang sama: rumah, kantor, komunitas anak-anak. Lagi-lagi ini sebuah cara yang oke banget buat menyegarkan semangat memulai kembali hari-hari di depan.

Jadi, liburan enggak perlu mahal dan capek. Staycation di Jogja insha Allah jadi salah satu rencana liburan akhir tahun kami, dan Adhisthana Hotel yang nyaman dan menyenangkan jadi pilihan hotelnya. Jalan-jalannya juga enggak usah jauh-jauh. Mungkin kami akan ke Museum Benteng Vredeburg lagi, atau ke Museum D’Mata dan D’Arca. Shopping? Enggak kali ya, boros dan capek. Hehehe…. Kan tujuan utamanya menambah rasa syukur atas sebuah keluarga kecil yang kompak dengan Staycation, bukan buat blenjong, Bun.

Hotel Adhisthana Jogja yang cozy. Credit foto by : discoveryourIndonesia.com dan rsrv.me

 

“Tulisan ini diikutsertakan dalam #PUTRIJALANJALAN giveaway yang berlangsung selama 3 – 30 Oktober 2016”
Posted in inspirasi, lifestyle, travelling | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , | 4 Comments

Jalan Lain Menuju Beasiswa

Kreatiflah, sebab begitu banyak masalah yang tidak mungkin dipecahkan di dunia ini, ternyata berhasil dilalui dengan kreativitas tak terduga!

 

Itu sebuah pesan yang saya ingat betul dari guru mengaji saya sewaktu kuliah dulu. Dia tahu banget bahwa saya adalah pemburu beasiswa yang tidak pantang mundur, pantang pulang sebelum padam, eh maksudnya, pantang surut sebelum diterima. Saya yang waktu itu kuliah di Fakultas Teknik UI, dan bercita-cita melanjutkan kuliah ke Aachen, atau Australia, atau Belanda. Oh Inggris juga. Enggak tahu kenapa tujuannya kok ke Negara-negara itu, pokoknya pingin saja. Khas remaja galau banget ya.

 

Jika memang itu hanya sebatas keinginan remaja galau, kok kayaknya enggak juga ya. Setelah saya lulus dan bekerja, saya tetap keukeuh memburu beasiswa pendidikan lanjutan. Bahkan sampai saya menikah dan punya anak, tetap juga. Sampai sekarang? Ya betul, Enggak mati-mati juga keinginan itu? Enggak sekalipun.

 

Pernah dapat enggak? Ya belum. Lah? Kok bisa? Ya mungkin belum jodoh. Meski semua usaha telah saya lakukan. Meski semua doa dan ikhtiar telah saya upayakan. Mungkin memang belum ditakdirkan dan belum tiba waktunya. Semua yang disebutkan di SINI sudah saya lakukan, tapi jika Tuhan belum kasih, saya bisa apa?

 

Yang pasti, tak sedetikpun keinginan itu mati. Terima kasih, Tuhan, yang telah mengajarkan saya untuk begitu tangguh mengupayakan cita-cita yang satu ini. Terima kasih Tuhan yang telah membukakan sejuta jalan dan cara untuk saya lalui. Kuncinya memang satu: kreativitas. Lewat kreativitas itu pula saya sering mendapatkan beasiswa dengan cara dan bentuk yang lain, beasiswa gratis belajar bikin scriptwriting, beasiswa gratis bikin dan mengelola blog, beasiswa gratis mengenal manajemen perbukuan dan penerbitan, beasiswa gratis sosial media management, dan beasiswa gratis pengelolaan home schooling. Dari mana? Ini dia yang saya mau kasih tips n trick-nya.

 

Pertama, kreativitas dalam usaha. Ketika dalam masa kuliah, kamu tidak berhasil mendapatkan beasiswa, kenapa enggak terus coba di saat kamu sudah menekuni profesi tertentu, misalnya? Saya sedang mencoba beberapa aplikasi beasiswa semacam Writer’s Grant, atau Writers in Residence. Insha Allah aka nada hasilnya. Mengapa juga tidak mencoba mengirimkan proposal kepada lembaga-lembaga yang selama ini tidak terlalu terekspose? Coba selidiki dulu, jika mereka memang punya jalur beasiswa ini. Di Kemenag RI contohnya, tidak selalu ada pengumuman besar-besaran, sering ada lewat grup-grup beasiswa, kependidikan, dan kepenulisan. Demikian juga lembaga-lembaga lain, seperti Arsip Nasional, Yayasan Al Azhar Cairo, dan beberapa lembaga luar negeri. Barangsiapa bersungguh-sungguh pasti akan ketemu jalannya. Kan jalannya bisa lewat jalan tol hingga jalan tikus, misalnya.

Kreativitas ini bisa juga dalam hal karya, misalnya menulislah buku sebanyak-banyaknya, kirim artikel dan tulisan lainnya ke media dan portal, ngebloglah sebaik-baiknya. Insha Allah ada kok beasiswa, sejenis beasiswa untuk kursus ilmu kepenulisan dari penerbit, kursus ngeblog dan monetisasinya dari komunitas blogger atau perusahaan tertentu, atau dapat anugerah Ubud Writers’ Award misalnya. Huhuhu….mupeeeng bangeeet. Ini nih tiap tahun mencoba, tapi belum berhasil.

Kreativitas juga bisa dalam menembus networking dan memanfaatkan sosial media. Perbanyak networking dengan hati yang bersih. Jangan berteman dengan si A supaya dapat sesuatu misalnya. Tuluslah. Membuka networking sama dengan memperpanjang silaturahmi yang berarti menambah berkah dan rezeki. Siapa tahu kamu bikin networking dengan si A yang tukang ketik di sebuah kantor, eh tahu-tahu kamu dapat beasiswa menulis scenario dari si B yang punya PH misalnya. Eh siapa tahuuu? Jangan pernah meremehkan the power of silaturahmi ya. Ini yang saya dapatkan. Istilah saya, belajar bersama maestro. Lewat networking dan aktivitas di sosial media, saya dipertemukan dengan banyak orang kompeten dan baik, yang membagikan ilmu dan wawasannya dengan Cuma-Cuma. Semoga menjadi berkah bagi mereka, dan hanya Allah yang bisa membalasnya dengan pahala abadi. Beneran deh, ilmunya terpakai dan bergunaaa sekali.

Tujuh dari 43 buku yang mengantarkan saya pada beasiswa lewat karya dan networking. Semoga selalu membawa berkah 🙂

 

Kedua, kreativitas dalam beramal. Amal ibadah pribadi dan wajib saja jelas masih kurang. Ibaratnya masih kurang pantas kaleee kita minta dimudahkan jalan dapat beasiswa jika ibadah masih pas-pasan. Itu juga yang bikin saya mikir, pantas saja enggak dapat-dapat Writers in Residence, lah ibadanya aja ndut-ndutan. Hilang-hilang timbul kayak sinyal modem tua saya kalau habis hujan.  Yuk tambahi amal ibadah kita dengan yang berdimensi sosial, dan yang sunnah-sunnah. Semua sunnah nabi itu kan baik dan mengajarkan kebaikan, ikuti saja semampu kita. Semua ibadah berdimensi sosial itu kan bisa kita praktekkan, semampu kita yuk.

Barangsiapa mau dimudahkan jalannya, permudah dulu urusan orang lain. Yuk cobaaa. Saya juga lagi mencoba belajar dan terus belajar untuk ini.

 

Terakhir, kembalikan niat kita yuk. Mau ngapain cari beasiswa? Cari ilmunya atau gelarnya doang? Ya pilih yang paling bermanfaat ya, buat diri pribadi dan buat umat. Insha Allah jalan kita diberkahi dan dimudahkan.

 

 

Posted in buku, inspirasi, life, menulis | Tagged , , , , , , | 2 Comments

Tiga Hal Ini Kudapat dari FLP

Ada yang Tanya enggak, apa sih FLP itu? Jiaaah, hari giniii enggak tahu FLP? Oke baiklah, FLP adalah Forum Lingkar Pena, sebuah komunitas penulis yang anggotanya tersebar di seluruh Indonesia, bahkan sampai ke luar negeri. Istimewanya apa? FLP tidak hanya mengumpulkan anggotanya saja, tapi juga secara kontinyu melakukan upgrading dan pengkaderan kepada para anggotanya sehingga bisa menjadi penulis yang selalu mencerahkan dalam setiap tulisannya. Paling tidak, ada beberapa cirri tulisan anak FLP yang kutahu: menyebarkan kebaikan, santun, dan berusaha menjalin hubungan yang baik dan akrab dengan para pembacanya. Aihhh.

 

Saya eh aku ya, ikut bergabung dengan FLP sejak organisasi ini didirikan tahun 1997 oleh mbak Helvy Tiana Rosa, sahabat saya yang hebat pisan lah. Saya sebagai apa? Sebagai penggembira doang sik. Hehehe, bukan apa-apa, saya memang kurang berbakat jadi organisatoris, bakatnya hanya jadi pompom girl saja. Haaa?? Hush, sudahlah mari kita serius, Isabella.

 

Sekarang ini, kira-kira sudah 19 tahun ya saya jadi anggota FLP. Tentu banyak sekali kenangan manis yang tak terlupakan selama di FLP ini. Berhubung terlalu banyak dan terlalu manis untuk dilupakaaaan….kenangan yang indah bersamamu…. (Slank mode ON), maka saya mengumpulkannya dalam blogposting singkat ini, menjadi paling tidak ada 3 hal terindah yang saya dapatkan dari FLP.

 

Sahabat-sahabat tersayang ada di sini

Saya sebenarnya penyendiri (masyaaaa?), oleh karena itu saya agak susah menemukan sahabat. Kalau teman sih banyak. Musuh? Wah yang itu enggak berani menghitung. Di FLP ini, saya ketemu sahabat-sahabat yang mungkin memang tidak selalu bareng, sarapan bareng, ngopi bareng, pergi ke salon bareng, ya enggaklah. Tetapi mereka seperti bintang di hati saya, kerlip cahayanya terus ada di dalam hidup saya, entah mereka jauh atau dekat. Sebab saya tahu, kami selalu saling mendoakan, saling menyemangati. Saya tahu mereka ikut bahagia ketika saya bahagia, demikian pula sebaliknya. Mendoakan mereka selalu membuat hati saya basah.

Menyebut beberapa nama, ada Helvy Tiana Rosa, Maimon Herawati yang sekarang jauh di Jerman, Intan Savitri, Afifah Afra alias jeung Yeni, Rahmadianti, Sinta Yudisia, teteh Pipiet Senja, mbak Tyas Tatanka, Naqiyyah Syam, Jazimah al muhyi, Bunda Kusmarwanti, Amanda Ratih Pratiwi, bunda Aprilina Prastari, bundaro DePita, Sri Widiastuti, mama Nana alias Santy Musa,  juga almarhumah Nurul F Huda. Oh juga barisan bapak-bapak seperti suhu Sakti Wibowo, suhu Ali Muakhir, Kang Arul, Gus Awy dan gus Irja, om Koko Nata. Sebetulnya masih banyaaak sekali yang lain, yang selalu teringat dalam setiap jenak kehidupan, setiap pencapaian yang saya dapatkan. Saya tahu ada doa mereka buat saya, ketulusan yang sama juga buat saya. Hehehe, moga-moga yang kebetulan baca dan pas ada namanya, langsung tersenyum bahagia. Aamiin….

Ya tapi enggak apa-apa juga kalau tetiba ada yang komen, aihhh si Ifa ini sok akrab sekali ya orangnya. Ya tak apalah. *kalem sambil mengunyah keripik pedas.

 

Ilmu dan Wawasan Lengkap di Sini

Saya tidak punya latar belakang pendidikan menulis dan media. Saya hanya learning by doing. Nah, FLP adalah komunitas pertama dimana saya mendapatkan ilmu dan wawasan tentang kedua hal tersebut lebih mendalam. Bahkan gegara FLP pula, saya berani mengirimkan naskah saya ke penerbit, yang kemudian keterusan hingga sekarang dan nanti. Coba kalau saya enggak ikut FLP, mungkin saya hanya puas fotokopi itu naskah-naskah dan saya sebarkan ke teman-teman dekat. Enggak bakal ada itu 43 buku yang saya terbitkan dan sebagiannya sudah teman-teman baca, baik punya sendiri, pinjam terus dikembalikan, atau pinjam terus diam-diam dikoleksi sendiri. Hehehe.

Terus ya, kalau lihat prestasi teman-teman di FLP, haduuuh itu bikin saya panas dingin. Ini yang bikin saya semangat terus meningkatkan kemampuan dan produktivitas. Ya memang sih rezeki orang lain-lain, tapi menimba ilmu dan semangat dari mereka kan boleh ya?

flp3

Berbagi sedikit ilmu menulis di HSAlam Depok

 

Networking dan kesempatan untuk lebih maju

Di FLP itu kan enggak hanya penulis isinya, ada illustrator, praktisi dunia penerbitan, editor, sampai komentator juga ada. Hehehe. Ada juga blogger dari berbagai niche, ghostwriter, copywriter, dan scriptwriter. Lengkap. Enggak hanya ilmu dan wawasannya saja yang saya ambil dari mereka, mereka juga enggak pelit berbagi networking dengan saya. Enggak pernah ada tuh ceritanya, menyembunyikan kabar tentang penerbit yang lagi butuh naskah, atau lomba menulis, lomba blog apa gitu. Semua di-share, dibagi agar semua mendapatkan kesempatan yang sama untuk maju. Kalau ternyata yang beruntung bukan dia? ya enggak apa-apa, Alhamdulillah. Jadi di FLP saya belum pernah dengar sirik-sirikan gegara ‘job and networking’.

Kalau sudah begini, saya jadi ingat Naqiyyah, Kang Ali, Koko, teh Pipiet, dan beberapa sahabat yang selalu kasih kabar tentang job dan networking. Terima kasihhh bangeet… Allah memberkati kalian…

flp2

One of my best-selling books. Berkat support dari FLP juga ini…

 

Betul kan, banyak banget kenangan indah saya di FLP? Ini adalah komunitas terlama yang saya ikuti dan saya enggak pernah berniat keluar darinya. Ada banyak komunitas lain yang saya ikuti dan saya juga enjoy ada di dalamnya, namun FLP tetaplah cinta pertama saya.

flp1

 

Posted in buku, inspirasi, love, menulis | Tagged , , , , , , , , | 2 Comments