Ketika Matahari Fira Tenggelam

#ceritaanak

 

Seharian Fira ngambek pada Bunda. Ia tak mau menjawab jika ditanya Bunda. Pokoknya Fira sedang kesal dan marah pada Bunda.

Gara-garanya tadi pagi, Bunda kembali memaksa Fira membawa bekal nasi dan lauk pauk dari rumah. Fira menolak karena malu pada teman-temannya. Di kelas, hanya sedikit saja murid yang membawa bekal. Sisanya lebih suka jajan di kantin.

Fira malu masih membawa bekal dari rumah. Ia kan sudah kelas empat SD. Masa seperti anak kelas satu saja. Lagipula di kantin kan banyak jajanan enak. Ada somay, bakso, es sirup, cireng, sampai kue cubit.

Fira juga repot harus bawa-bawa kotak bekal. Tasnya jadi berat. Bawa buku sekolah saja sudah berat. Akibatnya selalu saja ada yang tertinggal di sekolah karena Fira kerepotan dengan tas dan segala isinya.

Alasan Bunda, jajanan di kantin kan belum tentu bersih. Bunda takut Fira jadi sakit dan malah nanti tidak bisa sekolah. Selain itu membawa bekal sendiri kan bisa lebih menghemat uang. Uangnya jadi bisa ditabung untuk keperluan lain.

Tapi Fira tetap nggak mau bekal! Fira berkeras.

Fira sekarang memang sering berbeda pendapat dengan Bunda. Kemarin Fira juga protes karena Bunda melarangnya membawa HP dan iPod ke sekolah. Padahal teman-temannya banyak yang bawa.

Alasan Fira, ia ingin membawa HP kan biar bisa menghubungi Bunda kalau tiba-tiba pulang telat atau pulang cepat. Ia juga bisa sms Bunda kalau sedang kesal sama teman-teman atau bu Guru.

Ia juga ingin bisa mendengarkan lagu-lagu sambil makan siang di sekolah. Itu sebabnya Fira ingin juga membawa iPod ke sekolah.

Bunda melarangnya membawa HP dan iPod karena takut benda-benda mahal itu hilang di sekolah. Lagipula nanti Fira menggunakan benda-benda itu pada saat belajar di kelas. Itu kan melanggar peraturan.

Akibatnya, kemarin Fira mogok makan. Padahal ia lapar sekali. Sore hari, Bunda membangunkannya yang tertidur lemas dan menyuapinya nasi serta sop hangat. Namun Fira masih kesal juga sih.

Selain itu, ada satu masalah lain. Fira paling malas disuruh Bunda membantu mencuci piring dan menyapu lantai. Fira kan sudah capek seharian sekolah dan les, masa harus disuruh membantu lagi?

Fira sering protes mengapa Bunda tidak mau menggaji seorang pembantu. Namun Bunda berkata bahwa ia lebih puas jika semua pekerjaan rumah tangga dia kerjakan sendiri, dengan dibantu Fira dan Ayah. Lagipula ini untuk melatih Fira agar mandiri dan tidak manja.

Fira juga sekarang sering pura-pura tidur cepat, karena tidak ingin mendengar Bunda bercerita atau mendongeng. Sejak kecil, Fira selalu tidur diiringi dongeng Bunda. Namun sekarang, Fira malas mendengar Bunda berkisah tentang banyak hal. Sejujurnya ia sangat suka dengan cara bunda bercerita. Sambil mendongeng, Bunda sering menyisipkan nasihat, ilmu, dan kadang lelucon dengan cara yang indah. Setiap kali bunda bercerita, Fira merasa bertambah sayangnya kepada Bunda. Namun, entahlah Fira sedang kesal kepada Bunda saat ini.

Malam ini, Bunda tiba-tiba jatuh sakit. Ia sesak nafas dan kemudian pingsan. Ayah segera membawa Bunda ke Rumah Sakit tempat Bunda biasa periksa. Fira yang masih ngambek sama Bunda, ikut juga. Dalam hatinya berkata, asyik, besok bisa jajan di kantin. Bisa bawa HP dan iPod Bunda!

Di rumah sakit, Bunda segera diberi pertolongan pertama. Bunda belum sadar juga sampai pagi harinya. Juga sampai siang, sampai besok dan besoknya lagi. Bunda terbaring kaku dengan aneka peralatan di sekelilingnya.

Fira kini sedih sekali. Mataharinya redup. Tiba-tiba ia rindu masakan Bunda yang beraneka ragam dan selalu enak. Ia rindu suara klakson mobil Bunda yang selalu menjemputnya pulang sekolah. Ia rindu cium sayang Bunda setiap kali Fira membantu pekerjaan Bunda di rumah. Ia rindu pelukan Bunda setiap mau tidur. Fira sedih mengingat Bunda. Fira sering ngambek sama Bunda. Meskipun begitu, Bunda tak pernah berhenti menyayangi Fira. Bunda tidak pernah ngambek sama Fira.

Astaghfirullahal ‘azhim. Fira merasa berdosa sekali kepada Bunda. Baru ia sadari, Bunda sangat berarti baginya. Bunda tak pernah berhenti mencintainya, tapi Fira membalasnya dengan suka ngambek. Fira segera minta ampun kepada Allah dan mendoakan Bunda dalam setiap shalatnya.

Fira tahu Allah akan menjawab doa-doanya. Fira tak pernah bosan berdoa dan menunggu Bunda sadar. Hari demi hari, Bunda tampak seperti tertidur. Bunda tampak kurus dan lelah. Baru Fira perhatikan, akhir-akhir ini Bunda tambah kurus. Apakah karena penyakitnya ataukah karena memikirkan Fira?

Suatu hari, setelah Bunda koma selama dua minggu, pak dokter memanggil ayah. Fira ingin ikut mendengar tapi dilarang ayah.

Ternyata Bunda menderita kanker paru dan sudah gawat. Paru-paru Bunda sudah dipenuhi sel kanker dan air.

Fira menangis tak berhenti semalaman, sampai matanya bengkak. Ia menyesali sikapnya yang buruk kepada Bunda. Ia memohon kepada Allah agar memberinya kesempatan meminta maaf kepada Bunda. Fira berjanji akan menjadi anak yang baik.

Beberapa hari kemudian, Bunda siuman. Alhamdulillaaah. Fira dan ayah senang sekali. Mereka menciumi Bunda dengan rindu. Sambil menangis, Fira meminta maaf kepada Bunda.

Bunda yang hanya bisa menjawab dengan isyarat, mengangguk sambil tersenyum. Dan… Bunda menangis. Fira memeluk Bunda erat sekali.

Keesokan harinya, Bunda kembali koma. Bunda tak pernah bangun lagi hingga Allah memanggilnya dua hari kemudian. Bunda tampak bersih dan cantik sekali. Fira tak kuat menahan tangisnya melihat jenazah Bunda.

Matahari Fira tenggelam. Fira hanya bisa mendoakan Bunda kini. Sepenuh hati Fira berusaha menjadi anak baik dan salihat yang membahagiakan ayah. Karena hanya tinggal ayahlah orang tuanya kini. Fira tak ingin mengulangi kesalahannya kepada Bunda.

Setiap malam, Fira selalu merindukan Bunda beserta kisah-kisahnya yang menghangatkan hati dan mendoakannya hingga ia tertidur lelap dan bermimpi seakan Bunda masih ada, memeluknya erat sekali.

 

#30DEM

#30daysemakmendongeng

#day30

#asyiknyaemakmendongeng

 

Advertisements
Posted in fiksi, Uncategorized | Tagged , , | Leave a comment

Putri Bungsu dan Gunung Ruai (Dongeng Kalimantan Barat)

#ceritaanak

Pagi belum lagi lama menyelimuti alam raya, tatkala sudah terdengar suara isak tertahan dari mulut seorang gadis cantik yang tengah duduk di tepi belakang rumah panggungnya yang cukup megah. Wajah gadis itu kemerahan dan ada beberapa memar di keningnya yang semula agaknya licin dan mulus. Sesekali diusapnya memar-memar itu dengan semacam ramuan yang terbuat dari akar dan dedaunan hutan yang banyak tumbuh di hutan yang terletak di sekitar rumah yang cukup besar itu.

“Sampai kapan nasibku harus seperti ini?: rintihnya dalam lirih, seolah ia ingin mencurahkan kesedihannya kepada seseorang. Tapi tak seorangpun terlihat di sana. Putri cantik itu hanya berteman sepi. Hanya cericit ramai suara burung-burung yang bersahutan dengan hewan lain penghuni hutan yang terdengar. Mereka seakan berusaha menghibur hari si cantik itu. Namun tetap saja air mata turun membasahi pipinya.

“Sejak Ibu pergi, nasibku jadi makin menyedihkan begini. Apa salahku sehingga kakak-kakakku seakan makin membenciku? Padahal semua keinginan mereka sudah berusaha kupenuhi. Tapi adaa…saja salahku. Aku benar saja tetap dianggap salah, apalah lagi jika aku memang benar berbuat salah…” keluhnya sambil terus memborehkan ramuan di atas memar-memarnya.

Hari terus beranjak siang, beberapa orang lewat dan mengangguk atau tersenyum hormat kepada si Cantik yang ternyata seorang putri raja itu. Si Cantik berlesung pipit itu adalah putri Bungsu yang merupakan anak ketujuh dari Raja yang berkuasa di daerah pedalaman Benua Bantanam/ sekarang letaknya di sebelah timur kota Sakura, ibukota Kecamatan Teluk Keramat, kabupaten Sambas. Letak kerajaan itu tidak jauh dari Gunung Bawang yang berdampingan dengan Gunung Ruai. Di dekat gunung itu terdapat sebuah gua yang banyak sekali ikannya yang disebut orang Gua Batu. Konon di dalam gua itu tinggal seorang kakek yang terkenal kesaktiannya. Entahlah, paling tidak begitu yang dikatakan masyarakat Dayak yang tinggal di daerah itu. Puteri Bungsu yang juga berasal dari suku Dayak itupun belum sempat bertemu dengan kakek tersebut.

Bagaimana bisa sempat? Puteri Bungsu sangatlah sibuk setiap harinya. Ia harus melayani semua keperluan keenam kakak perempuannya, yang juga sama cantiknya dengan dirinya. Bedanya, keenam kakaknya ini sangat pemalas dan pesolek. Kerjanya hanya berdandan dan bermain saja. Semuaaaa harus dikerjakan oleh Puteri Bungsu. Dari mulai masak, mencuci, hingga mendandani keenam kakak. Belum lagi, ia punya tugas tambahan yaitu mencarikan pemuda-pemuda tampan untuk teman bicara dan bercanda keenam kakak. Meski menyebalkan, Puteri Bungsu terpaksa harus melaksanakan serentetan tugas itu, kalau tidak mau dihukum dan dihajar habis-habisan oleh kakak-kakaknya.

Dan begitulah yang kembali ia alami pagi ini.

Sejak semalam, ia sedikit demam. Badannya tidak enak, kepalanya pusing, dan perutnya mual. Tak ada makanan yang bisa masuk ke dalam perutnya. Puteri Bungsu merasa sangat lemas. Tapi kakak-kakaknya ribut karena ia belum juga memasak untuk mereka. Mereka sudah lapar, katanya. Padahal mereka bisa saja kan, menyuruh para dayang atau pelayan istana. Toh, ayah mereka adalah raja, dan mereka sendiri merupakan puteri-puteri raja. Tapi begitulah mereka. Dengan manja, mereka berkeras tidak mau dilayani siapapun kecuali oleh si Bungsu.

Karena menolak, si Bungsu kena cubit di kening dan pipinya oleh kakak-kakak yang terkenal judes dan kejam itu. Tentu saja ia menangis kesakitan, dan penyakit demamnya menjadi bertambah parah. Tapi keenam kakaknya tak peduli,. Dipaksanya si Bungsu bangun dari tempat tidurnya dan didorongnya keluar dari rumah.

Di sinilah si Bungsu sekarang, menangis tersedu-sedu sambil meratapi nasib dan sakitnya. Tak ada seorang dayang atau pelayanpun yang berani mendekatinya. Bisa-bisa mereka dipecat oleh puteri-puteri yang galak itu. Mau makan apa keluarga mereka nanti jika mereka tak punya pekerjaan lagi? Padahal, pekerjaan sebagai petugas istana adalah pekerjaan bergengsi yang tak semua orang bisa mendapatkannya.

Apalah lagi para rakyat jelata.

Mereka bukan tak tahu penderitaan yang dialami si Bungsu yang malang itu. Setiap hari mereka merasa teriris hari melihat si Bungsu menangis sambil mencuci di sungai, atau sedang menjemur pakaian di belakang istana raja. Sesekali jika tak ada yang mengawasi, mereka berusaha membantu pekerjaan Puteri Bungsu, yang meskipun sambil menangis, tetap memaksakan tersenyum dan menyapa kepada setiap rakyat yang ditemuinya. Kadang pula mereka member atau mengirimkan obat untuk menyembuhkan luka-luka sang Puteri, bisa secara langsung atau melalui para pekerja di istana yang bisa menyelundupkannya kepada sang Puteri.

Seperti obat yang dipakai Puteri Bungsu pagi ini merupakan kiriman dari seorang nenek tua yang merasa sayang kepadanya. Seringkali diam-diam, nenek itu datang menemui sang Puteri untuk memijat kaki dan badan sang Puteri yang pegal-pegal karena terlalu capek bekerja.

Sebenarnya, Puteri Bungsu merupakan anak kesayangan dari Ayah dan Ibunya. Apalagi dulu, sewaktu Ibunya, Sang Ratu, masih hidup. Puteri Bungsu sama cantiknya dengan keenam kakaknya, tetapi ia memiliki akhlak dan budi pekerti yang paling baik dibandingkan dengan keenam kakaknya. Ia paling rajin bekerja, dekat dengan rakyat jelata, dan senang membantu Raja dan Ratu melaksanakan tugas memimpin Negara. Hal ini tentu saja membuat keenam kakaknya menjadi iri, mereka menilai ayah dan ibu mereka tidak adil dan pilih kasih.

Sejak ibunya meninggal karena sakit, nasib Puteri Bungsu semakin menyedihkan. Yang tadinya kakak-kakaknya hanya bisa bersikap judes padanya, kini mereka makin berani memperbudaknya untuk mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga dan tugas-tugas kenegaraan yang diberikan oleh ayahnya untuk mereka.

Jika ayahnya sedang ada di istana, kakak-kakaknya memang kelihatan sayang dan sangat melindunginya. Tapi jika ayahnya sedang bertugas keluar, mereka bebas memperlakukan Puteri Bungsu semena-mena.

Sementara si Bungsu menahan sakit di luar istana, di dalam, kakak-kakaknya tengah asyik makan masakan hasil karya si bungsu.

“Ih, kok ikannya asin sekali ya? Kamu rasekan ndak?” Tanya si kakak nomor dua kepada yang lain, yang tengah mengelilingi meja makan.

“Iye, aku rase gitu. Kurang ajar ndak ni si Bungsu, mau die kite keracunan garam pulak?” timpal kakak nomor enam.

“Macam mane die ni? Kemane die bah?” Si Sulung bangkit sambil berkacak pinggang dengan gemas.

“Beraninye ndak ade ayah. Ade ayah, manis pulak lakunye”, sambar si nomor tiga.

“Ehh, Dayang, becarik-lah kau sana, cari si Bungsu, bawe ke mari die, cepat sikit ye…” perintah si nomor lima.

Para Dayang yang tengah menunggui mereka makan, buru-buru melipir ketakutan sambil tertunduk-tunduk. Dalam benak mereka terbayang entah siksaan apa lagi yang akan dialami si Bungsu. Sejenak mereka saling bertatapan enggan. Namun bentakan dari para Puteri yang galak itu memaksa mereka segera melaksanakan perintah.

Di belakang istana, mereka menemukan si Bungsu tengah memotong-motong daun pisang yang akan digunakan sebagai alas masakan untuk makan siang. Sambil berbisik-bisik mereka meminta si Bungsu tidak muncul dulu sebelum ayah mereka pulang bertugas siang nanti. Jika si Bungsu muncul sekarang, bisa habis dia dihukum kakak-kakaknya yang kejam itu.

 

Matahari tepat sepenggalah ketika ayah mereka, sang Raja, beserta para pengawalnya, pulang bertugas. Tentulah mereka sangat lelah dan lapar. Dengan lahap mereka memakan masakan hasil karya si bungsu. Kakak-kakaknya dengan wajah ceria berusaha mencandai ayah dan si Bungsu. Si Bungsu lebih banyak menunduk untuk menyembunyikan biru-biru memar di wajahnya.

“Eh Bungsu, ngape wajah kau tu? Biru-biru layaknye habis dicubiti orang?: Tanya sang Ayah yang heran melihat wajah sang puteri bungsu.

Keenam kakaknya kaget mendengar ayah memerhatikan wajah sang adik. Mereka saling sikut untuk mulai bicara. Jangan sampai ayah tahu bahwa mereka yang telah menganiaya si Bungsu.

“I-ini, Ayah, aku…. Aku….” Si Bungsu menelan ludah sambil sembunyi-sembunyi melirik kakak-kakaknya.

“… itu Ayaah, si Adek Bungsu kite niii….suke sangat papaya di kebun kerajaan sebelah. Tempo hari die ade dikasih papaya same puteri sebelah. Eh kemarin die pingin lagi. Sudah kami bilang, ndak usah. Nanti jak tunggu ayah pulang, Eh die nekadlah tuh pegi sendiri….”

Si Bungsu tetntu saja kaget mendengar omongan si Sulung.

“Ha terus? Jatuh kah kau Bungsu, atau kenape?” Tanya Ayah tak sabar.

“Bukan jatuh Yah. Mane gak anak dare sebesak die jatuh pulak? Die curi lah tuh papaya….” Lanjut si kakak nomor dua.

“HAAA? Astagee, Bungsu, ape kate orang pulak, anak Raje mencuri papaya?” seru ayahnya, setengah tak percaya.

“Bu…bukan, Ayah…” si Bungsu berusaha bicara. Tapi kakinya diinjak si kakak nomor enam. Ia meringis kesakitan. Aduhai, bagaimana ini?

“Iye lah Yah, marahlah pengawal kerajaan sebelah. Abislah die nih dipukulnye. Untunglah kami datang. Kami lelah becarik die ni. Eh, ndak taunye maling papaya di kerajaan tetangge…” bual si nomor lima.

Ayahnya menatap anak-anaknya satu persatu. Memandang mata ayah yang tegas dan berwibawa, mereka semua menunduk segan. Tentu saja kakak-kakak takut kebohongan mereka terbongkar.

Terakhir ayah menatap si Bungsu lama. Si Bungsu membalasnya dengan sedih. Ada tangis yang gagal turun dan ada kata-kata yang tak terucap di mulutnya. Ia hanya berharap ayah mengerti bahwa sungguh ia tidak melakukan apa yang dituduhkan dengan keji oleh kakak-kakaknya itu.

“Maafkan Bungsu, Ayah…” hanya itu yang sanggup ia ucapkan.

“Hukum jak die, Yah….” Ujar si nomor enam.

“Eh, diamlah kau!” Balas sang Ayah tegas. Si nomor enam langsung cemberut dan melotot pada si Bungsu.

“Baiklah, Bungsu. Kali ini kau tak ayah hukum. Ayah tahu ade yang ndak tepat di sini, tapi nantilah kite lihat. Kau pegi tiduklah, istirahat siang sana. Tampaknya kau lelah sangat”, suara ayah melunak tapi masih terkesan tegas.

“Jika ini benar, ndak boleh kau ulangi ye?”

“Baik, Ayah”. Si Bungsu menelan ludah sedih. Ayah sepertinya kesal padanya. Tapi mau bagaimana lagi, kakak-kakaknya terlalu pandai bicara, sementara ia tidak diberi sedikitpun kesempatan.

Dengan lesu, si Bungsu bangkit meninggalkan makannya yang belum selesai. Badannya menjadi dua kali lebih sakit, ditambah dengan semakin perih hatinya.

‘Ibu, aku rindu padamu….’, tangisnya dalam hati.

“Aaah, kalian berenam, abis ni kalian pulak yang bereskan meje ni dan cuci piring ye”, perintah Ayah kemudian.

“Ayah ni, ngape ndak suruh pelayan lah?” sergah si nomor tiga.

“Eh, sekali-kali kaulah yang kerje… biase ayah lihat si Bungsu jak yang kerje…” balas ayah keras.

Serempak keenam anak gadisnya cemberut dan mengomel dalam hari. Ah gara-gara si Bungsu lagi….

 

Pada suatu hari, sang Raja memanggil seluruh keluarga dan rakyatnya untuk mendengarkan sebuah pengumuman penting. Ketujuh puterinya tentu saja ikut hadir pula. Ternyata sang Raja akan mengadakan kunjungan ke luar negeri selama sebulan penuh. Belum pernah Raja pergi sejauh dan selama itu.

Yang sangat mengejutkan adalah, selama Raja pergi, semua urusan kenegaraan dan pemerintahan akan dipegang oleh Puteri Bungsu untuk sementara waktu. Hal ini tentu saja sangat mengecewakan bagi keenam kakaknya yang berharap mereka yang mendapat wewenang itu.

Secepat kilat timbul ide jahat di benak mereka, yang segera mereka rundingkan di kamar si sulung pada malam harinya, ketika ayah sudah pergi dan si bungsu sudah tidur.

“Sepakat ye, ide kite ni harus terlaksana… Jangan ade yang bocor!” kata si Sulung selaku pimpinan rapat gelap.

“Siap, Kakak. Ide ini harus benar-benar matang supaya hasilnye juge bagoos…” seru si nomor dua.

“Sudah ke rapatnye? Aku ngantuk sangat ni. Besok jak ye kite lanjotkan….” Ujar si nomor enam yang bertubuh paling gemuk. Dia memang pengantuk.

“Ah, kau. Ye sudahlah. Ingat, jangan ade yang membocorkan ini ke si Bungsu ye?” tegas si Sulung sekali lagi.

“Siappp, Kakaaak!” seru adik-adiknya serempak.

“Eh, kau ni gaduh pulak!” si Sulung melotot sadis pada adik-adiknya yang cekikikan geli.

 

Seminggu sudah berlalu semenjak kepergian ayah mereka. Selama itu keadaan sangat tenang dan damai. Si Bungsu mengira, kakak-kakaknya sudah sadar untuk tidak lagi berbuat jahat padanya.

Suatu hari yang cerah, kakak-kakak mengajak si Bungsu bertamasya ke Gua Batu sambil menangguk (menangkap ikan dengan Tangguk, semacam ember besar dari kayu dan dedaunan). Si Bungsu tentu saja senang, apalagi ia memang cukup lelah menangani masalah kenegaraan yang tak kunjung habis.

Mereka bertujuh berangkat tanpa pengawalan. Dengan riang, mereka bercanda sambil bernyanyi-nyanyi sepanjang jalan. Belum pernah mereka serukun dan sebahagia ini tampaknya. Apalagi si Bungsu yang merasa rasa sayangnya kepada kakak-kakaknya semakin bertambah.

Setibanya di lokasi, mereka sangat senang menangguk ikan. Si Bungsu dapat menangguk banyak sekali ikan.

“Kaaak, lihatlah, aku dapat banyak ikaaan”, serunya riang.

“Iyeee, besak-besak pula ikan kau, Su”, balas kakak-kakaknya.

“Mau ndak kite lebih ke dalam sikit? Ikannye lebih banyak dan lebih besak-besak”, ajak si nomor dua.

“Haaa, gendot-gendot macam die niii”, tunjuk si nomor tiga pada si nomor enanm yang dibalas toyoran kepala oleh si nomor enam. Yang lain tertawa semua.

“Ayoklah. Nanti kumasakkan ikan masak kuning buat kite semua”, sambut si Bungsu.

Beriringan mereka menuju bagian dalam gua. Suasana agak gelap, makin lama makin sedikit cahaya matahari yang masuk lewat celah-celah gua. Keenam kakak sengaja pura-pura berpencar mencari ikan. Si Bungsupun tampak asyik dengan tangguknya, dan tak memerhatikan bahwa keenam kakaknya telah berhasil keluar satu persatu dari gua.

Di dalam gua yang semakin gelap, si Bungsu menyadari ia tersesat jauh. Ia segera berteriak memanggil kakak-kakaknya. Sekian lama tidak juga terdengar jawaban. Si Bungsu tertegun menyadari ada yang salah di sini.

Ia telah ditipu kakak-kakaknya. Ia telah dibuang kakak-kakaknya.

Sungguh ia mengira kakak-kakaknya telah berubah menjadi begitu baik padanya. Ternyata, semua itu hanya tipuan belaka untuk menyingkirkannya.

Menyadari hal itu, Puteri Bungsu duduk dengan lemas di sebuah batu besar di tepi aliran sungai di dalam gua itu. Ia menangis tersedu-sedu meratapi nasibnya. Sungguh ia tak mengerti jalan pulang. Tambahan lagi, hari sudah beranjak senja, matahari sudah mulai beranjak pulang. Hari semakin gelap.

Ia terus menangis dan berdoa agar ditunjukkan jalan keluar dari gua itu. Ketika lapar, ia memakan ikan yang banyak terdapat di situ dan minum air dari sungai.

Tanpa terasa sudah tujuh hari tujuh malam berlalu.

Hampir putus harapan Puteri Bungsu untuk bisa keluar dari gua itu, Yang ia pikirkan hanyalah ayahnya dan rakyatnya. Bagaimana mereka nanti?

Ia tahu, tidak ada yang bisa mendengar suara tangisannya di luar gua. Gua itu terlalu dalam dan gelap. Ia hanya bisa terus berdoa dan mencoba bertahan hidup. Ia yakin suatu saat akan datang pertolongan. Ia yakin selama ini ia bukan orang jahat yang suka menyengsarakan kehidupan orang lain. Barangsiapa yang suka menolong orang lain, Tuhan Penguasa Alam pasti akan menolongnya pula dari segala penjuru, bahkan dari arah yang tidak disangka-sangka.

 

GLODAK GLODAK!!!

GUBRAK!!! GRUDUG GRUDUG!!!

“AAAAAAA…. TOLOOOOONGGGG!!!” Teriak sang Puteri mendengar suara gemuruh yang seakan dapat meruntuhkan gua yang kokoh itu. Ia sangat ketakutan.

Belum reda rasa takut dan terkejutnya, tiba-tiba terdengar ledakan dan muncul asap tebal di hadapannya. Ia langsung mundur ketakutan. Nyaris ia tercebur ke sungai.

Perlahan asap itu mewujud menjadi sosok seorang kakek tua. Kakek itu berwajah ramah dan teduh. Sang Puteri yang tadi memejamkan mata kini membuka matanya perlahan. Ia masih kaget, namun sempat berpikir inikah kakek sakti yang banyak dibicarakan orang itu.

“Sedang ape kau di sini, Cucuku?” Tanya si Kakek tua itu dengan suara yang berwibawa. Seketika Puteri ingat ayahnya yang amat ia rindukan.

“Hamba sedang menangguk ikan di sini, Kek, tapi kakak-kakak hamba meninggalkan hamba sendirian”, jawab Puteri sambil menangis tersedu-sedu. Tangisnya tak tertahankan. Tak bisa lagi ia berkata-kata.

Melihat ia menangis, Kakek itu tak tega. Dengan kesaktiannya, diubahlah air mata sang Puteri menjadi telur-telur berwarna putih bersih serupa mutiara. Kakek itupun mengubah si Bungsu menjadi seekor burung yang cantik.

“Cucuku, engkau akan dapat menolong dirimu dari penderitaan dengan cara seperti ini. Engkau kuubah menjadi seekor burung yang kuberi nama Burung Ruai. Jika aku telah tak nampak dalam pandanganmu, kaueramilah telur-telur itu sehingga menjadi burung. Kelak mereka akan jadi teman-temanmu”, ujar sang Kakek.

“Kwek…kwek…kwek…..” jawab si Puteri Bungsu yang kini telah sempurna menjadi burung cantik bersuara serupa bebek.

Wussss….

Seketika Kakek tua itu menghilang bersama asap tebal yang memenuhi gua. Puteri Bungsu yang kini menjadi Burung Ruai melihat ke sekelilingnya. Ia hanya dikelilingi oleh telur-telur yang banyak jumlahnya.

Dengan sabar, ia erami telur-telur itu hingga semuanya menetas menjadi sekawanan burung Ruai yang cantik. Burung-buurng itu terbang keluar gua dan hinggap di pohon di depan sebuah rumah besar serupa istana. Rumahnya dulu. Ia dan teman-temannya rebut bersuara, “Kwek kwek kwek kweeeek…”

Di situ mereka dapat melihat ayah sedang menghukum kakak-kakaknya karena telah menganiaya adiknya sendiri.

Sejak itu gunung dimana terdapat gua batu itu disebut Gunung Ruai. Sekarangpun, jika cuaca cerah, Gunung Ruai dapat terlihat dengan bentuknya yang memanjang.

 

#30DEM

#30daysemakmendongeng

#day29

#dongengtradisional

#kalimantanbarat

Posted in fiksi, Uncategorized | Tagged , , , , | 1 Comment

Rambut Baru Tipi Tupai

#ceritaanak

 

Seluruh penghuni hutan Alamanda pasti kenal Tippi Tupai. Dia adalah seekor tupai perempuan yang cantik dan lincah, sekaligus galak. Melihatnya akan mengingatkanmu pada Sandy Chick, si Tupai Darat, teman SpongeBob.

Bedanya Tippi berbulu abu-abu putih, sedangkan bulu Sandy berwarna coklat tua dan coklat muda. Gigi-giginya sih, sama besarnya. Yang paling sama adalah kesukaan mereka berteriak-teriak heboh.

Pagi ini, seluruh penghuni hutan Alamanda sudah terbangun oleh teriakan Tippi. “Huaaaaaa! Huaaaaa!” Langsung saja mereka berbondong-bondong menuju sebuah pohon kenari, tempat rumah Tippi berada.

“Ada apa, Tippi? Kamu membangunkan tidur kami”, seru Robi si Rubah sambil mengeluarkan gigi taringnya, marah.

“Iya. Kamu mengganggu istirahat kami!” sambung Poppy, si pelanduk geram.

Tippi berjingkat keluar dari rumahnya. Tak seperti biasanya, kali ini hewan-hewan hutan itu tak jadi marah. Mereka malah menjadi kasihan kepada Tippi.

Hanya ada beberapa hewan kecil, Tuti Tikus, Lolo Landak, dan Bevi Berang-berang yang tertawa kecil. Mereka terlalu kaget melihat Tippi.

Siapa yang tidak kaget?

Tippi yang biasanya berambut lebat dan indah kini gundul. Ia tampak lebih kurus, lebih tua, dan lebih jelek dari sebelumnya.

“Kemana rambut indahmu, Tippi?” tanya Berri, beruang madu.

“Ya. Apakah kamu memotongnya?” Cici kelinci ikut bertanya. Ia merasa sayang sekali jika Tippi sengaja memotong rambutnya.

“Aku sedang memanggang kenariku, ketika angin tiba-tiba bertiup kencang. Pintu rumahku terbuka, angin itu membuat api komporku membesar, sehingga membakar rambutku!” keluh Tippi sedih. Ia mulai menangis tersedu-sedu.

Para hewan menjadi kasihan dengan Tippi. Mereka mengajukan beberapa usul untuk ‘menumbuhkan kembali’ rambut Tippi. Misalnya dengan keramas memakai sampo seledri, lidah buaya, urang-aring, dan ada juga yang mengusulkan memakai kemiri. Tapi Tippi menolaknya. Kemiri seperti kenari kecil. Jangan-jangan dia bukan memakainya untuk keramas, tapi memakannya!

Demikianlah Tippi menjadi sangat rajin keramas. Setiap hari ia memetik daun seledri, daun lidah buaya, dan memerasnya sendiri. Ia ingin rambutnya cepat tumbuh.

Hari berlalu terus. Sedikit demi sedikit rambut Tippi mulai tumbuh. Tippi senang sekali. Kini ia semakin rajin keramas, menyisir dan berkaca. Terbayang olehnya, ia akan kembali menjadi tupai yang cantik.

Namun Tippi harus kecewa. Rambutnya tidak tumbuh seperti dulu lagi. Kali ini rambutnya tumbuh seperti bulu landak. Warnanya hitam, coklat, abu-abu, dan ada sedikit merah serta kuning dan oranye. Kasar dan berdiri. Betapa anehnya!

Tippi kembali berteriak-teriak. Ia tidak terima rambutnya tumbuh seperti rambut Lolo Landak. Kali ini ia tidak mau keluar saat teman-teman mendatangi rumahnya. Tippi maluuu sekali.

Tippi marah pada Tuhan yang telah membuat rambutnya menjadi aneh. Akibatnya Tippi tidak mau ikut shalat berjamaah yang biasa dipimpin Leon Singa. Tippi menjadi penyendiri.

Teman-teman tidak putus asa. Setiap hari mereka datang bergantian menjenguk Tippi meski tidak dibukakan pintu. Mereka mengirim kenari, minuman, juga buku-buku. Mereka tahu Tippi suka membaca. Mereka juga menempelkan pesan di pintu rumah Tippi.

Kami merindukanmu, Tippi.

Apapun, kamu tetap sahabat kami, Tippi.

Kami rindu teriakanmu, Tupai Cantik.

Dan masih banyak lagi.

 

Lama-lama Tippi tergerak ingin keluar juga. Ia rindu cahaya matahari. Juga sangat merindukan teman-temannya, dan ingin shalat berjamaah dengan mereka.

Tebak, siapa yang dijumpai Tippi pertama kali saat keluar rumah?

Lolo Landak!

Mereka saling berpandangan. Keduanya diam karena sama-sama terkejut.

Tapi kemudian, Lolo berteriak, “Tippi, subhanallah… kamu keren sekali!”

Tentu saja Tippi bingung. Keren? Yang benar saja!

“Betul deh. Kamu jadi tupai yang sangat unik. Cantik sekali! Dan rambutmu juga tidak tajam. Dia hanya keras dan sedikit kaku. Percaya deh padaku!”

Teman-teman yang lain berdatangan mendengar ucapan Lolo yang keras itu. Mereka merasa kaget dengan rambut baru Tippi. Tapi kemudian mereka memujinya, karena memang Tippi kelihatan unik dan berbeda. Keren!

Tippi bersiul senang. Ia menjadi percaya diri. Teman-teman semua memujinya sebagai tupai yang unik. Tippi tak lagi marah pada Tuhan. Ia malah berterima kasih karena Tuhan sudah menciptakannya dengan bentuk yang bagus.

 

 

#30DEM

#30daysemakmendongeng

#day28

#warna

 

Posted in fiksi, Uncategorized | Tagged , , , | Leave a comment

Popo Panda Mabuk Laut

#ceritaanak

 

Ini adalah perjalanan jauh yang pertama bagi Popo, si Panda kecil, keluar dari hutan tempatnya tinggal di daerah Cina. Ia dan orang tuanya akan dipindahkan ke sebuah kebun binatang di eropa. Jauh sekali perjalanan yang akan Popo tempuh. Oleh karena itu, Popo dan kedua orang tuanya dibawa dengan sebuah kapal laut yang besar sekali.

Sebelum berangkat, Popo sudah sangat ketakutan. Dia mengira, naik kapal laut yang besar akan sama rasanya dengan naik rakit. Setiap kali air mengalir atau angin bertiup, rakit akan terombang-ambing. Popo pernah sekali naik rakit ketika harus menyeberangi sungai dulu. Waktu itu Popo mual dan muntah-muntah.

Kali inipun, Popo takut sekali akan mengalami kejadian yang sama seperti itu. Kacaunya, ia tidak berani bercerita kepada ayah atau ibunya. Hanya saja, mukanya makin pucat saat harus naik ke kapal laut yang besar itu.

Di kapal, Popo tidak merasakan apapun. Tidak ada ayunan karena ombak yang bergelombang atau angin yang bertiup. Kapal laut bergerak tak terasa.

“Ayah, kok kapal lautnya seperti tidak bergerak sih?” Tanya Popo kepada ayahnya yang sedang berbaring menatap langit.

“Ah, masa sih, Po? Mungkin karena saking besarnya kapal ini ya, jadi geraknya jadi tak terasa. Kalau kapal ini tidak bergerak, bagaimana kita bisa sampai di benua Eropa?” jawab ayah sambil menyuruh Popo duduk di sampingnya.

“Kamu tidak pusing, Po?” Tanya ayah.

“Tidak, Yah, alhamdulillah,” jawab Popo senang.

“Makanlah dulu. Nanti kamu mual dan masuk angin,” perintah ayah.

“Popo nggak lapar, Yah.popo mau melihat-lihat di pinggir kapal ini ya?”

“Jangan terlalu ke pinggir ya. Nanti kamu bisa tercebur ke lautan lho,” pesan ayah.

 

Popo melongok-longokkan kepalanya kea rah laut. Subhanallah, indah sekali ya, lautnya tampak biru dan airnya bergerak-gerak. Popo kagum sekali. Ia menikmati angin dan laut di tepi kapal. Angin yang dingin meniup-niup wajah dan tengkuknya. Brrr… mulai terasa dingin nih.

Di sebelahnya, seekor beruang kutub menyapanya. “Hey, Nak, hati-hatilah, nanti kamu masuk angin. Juga jangan terlalu ke tepi, nanti kamu tercebur. Kamu bisa berenang?”

Popo tersenyum dan menggeleng.

“Aku bisa renang, tapi aku tak suka renang. Hanya karena  rumahku di kutub sekarang mencair, mau tak mau aku harus suka berenang,” cerita pak Beruang Kutub.

Tapi Popo tiba-tiba merasa tubuhnya menjadi sangat dingin. Perutnya mual. Mungkin ia mabuk laut karena masuk angin. Ia merasa goyang.

“Aduuuh… tolong, Pak,” serunya panic.

Pak beruang segera menariknya ke dalam ruangan kapal. Ayah dan ibu segera mendekatinya.Popo langsung diberi minum air hangat dan obat anti mabuk.

“Kamu sih, mestinya kamu makan dulu sebelum melihat-lihat laut,” kata ibu.

“Iya, untung saja dia tidak jatuh ke laut karena mabuk tadi,” jawab pak Beruang.

Popo tidak bisa menjawab. Ia masih sedikit mual.

Hoook. Hoook.

Huek! Huek!

Bukannya menjawab, Popo malah muntah.

Itu akibatnya jika bepergian tidak makan terlebih dulu. Kamu bisa sakit, masuk angin, atau mabuk kendaraan seperti si Popo.

 

 

#30DEM

#30daysemakmendongeng

#day27

#dokterkecil

Posted in fiksi, Uncategorized | Tagged , , , , | Leave a comment

Aufa dan Gas Kehidupan

#ceritaanak

 

Aufa adalah seorang anak perempuan yang senang sekali mengamati langit di waktu malam. Hal ini dimulai ketika ia bermimpi tentang seorang bidadari cantik yang mendatanginya. Bidadari itu berkata, bahwa Aufa bisa saja datang untuk bermain ke tempatnya berada, jika ia mau. Aufa mau sekali. Sejak lama, ia ingin bertualang ke tempat lain selain bumi yang sekarang ia diami.

Ia merasa di bumi tempatnya tinggal sekarang, tak ada yang mau berteman dengannya. Semua teman menjauhinya, hanya karena ia anak yatim piatu yang miskin, tak punya baju bagus dan mainan yang cukup, untuk diajak bermain bersama teman-temannya itu. Selain itu, Aufa juga tak punya siapa-siapa lagi, kecuali seekor kucing bernama Oranye.

Setiap malam ia termenung di jendela rumah reotnya, menatap bintang. Ia tak peduli, Bombom dan Nail, temannya yang nakal sering meledeknya ‘gila’.

Suatu malam, Aufa sedang mengamati langit seperti biasa, ketika Ibu Bidadari benar-benar menjumpainya. Aufa mengadukan kesepiannya dan juga tentang kedua temannya yang nakal itu. Aufa juga bilang, ia ingin tinggal di Promethea saja, tentu bersama Oranye.

Ibu Bidadari berkata, dia bisa saja pergi ke Promethea, tapi harus berangkat sendiri. Karena Aufa adalah seorang manusia, sementara Ibu Bidadari bukan manusia, maka mereka tak bisa pergi bersama. Aufa harus membawa sebuah tabung berisi gas kehidupan. Gas kehidupan itu ada di sebuah gua di bawah tanah yang dijaga oleh sepasang macan besar yang ganas.

Saking inginnya pergi, Aufa mengajak Oranye pergi ke gua yang dimaksud. Benar saja, dari jauh sudah terdengar auman sepasang macan itu.  Begitu melihat Aufa dan seekor kucing (Oranye) yang bulunya mirip dengan bulu macan, kedua macan itu mengaum makin keras dan mengejar mereka. Untunglah akhirnya mereka menemukan sebuah semak berduri yang cukup aman untuk sembunyi. Kedua macanpun kehilangan jejak.

Aufa dan Oranye terpaksa berbalik arah, menjauhi gua, karena merasa takut pada macan itu. Di perjalanan menuju gua, Aufa dan Oranye bertemu dengan Pak Manan, sang penjaga hutan dimana gua itu berada. Pak Manan bercerita bahwa sepasang macan itu berjaga di mulut gua, karena mereka sedang menunggu anak mereka yang masuk ke dalam gua itu dan belum kembali hingga sekarang. Jadi kalau mau selamat memasuki gua itu, Aufa dan Oranye harus dapat menemukan anak macan yang hilang itu dulu.

Berdasarkan petunjuk pak Manan, Aufa dan Oranye berjalan memutar. Mereka harus mencari pintu masuk yang lain ke gua itu yang tak dijaga oleh macan.  Dalam perjalanan, mereka menemukan sebuah lorong rahasia yang membawa mereka ke dalam gua.

Alangkah terkejutnya mereka ketika di dalamnya, mereka menemukan sekumpulan tulang belulang binatang. Belum habis rasa terkejut mereka, ternyata itu adalah tempat persembunyian para pemburu macan, yang dengan serakah membunuhi macan, terutama anak macan yang tak berdaya, untuk diambil kulitnya. Caranya dengan memancing mereka ke dalam gua dengan aroma daging segar dari hewan yang juga sebelumnya sudah dibunuh dengan kejam. Dan itu ternyata ulah Pak Kebo dan Pak Bondo, ayah  Bombom dan Nail. Aufa dan Oranye ditawan oleh Pak Kebo dan Pak Bondo, beserta Bombom dan Nail, yang mengancam Aufa agar tak melaporkan kejahatan mereka kepada Pak Manan dan Polisi Hutan.

Berkali-kali para penjahat itu memaksa Aufa agar mengaku apa tujuannya pergi ke gua. Akhirnya karena tak tahan disiksa, Aufa mengaku bahwa ia ingin mencari gas kehidupan. Menyangka itu adalah semacam gas sakti yang akan memberi mereka umur panjang, kekebalan, dan kemampuan menghilang agar tak tertangkap polisi hutan, keempat penjahat itu segera menjelajahi gua untuk menemukan gas kehidupan itu.

Sementara disekap di gua gelap itu, Aufa didatangi kembali oleh Ibu Bidadari. Beliau mengatakan bahwa ada tiga macam gas di dalam gua itu.  Pertama adalah gas yang berbau seperti karbol, jika dihirup dalam jumlah banyak akan membuat pusing dan bahkan pingsan (gas hasil pembakaran alcohol), yang akan ditemui di pintu gerbang gas kehidupan di dalam gua.  Di pintu itu ada sebotol anggur dan setitik nyala api yang akan menghasilkan gas itu. Kedua adalah gas yang akan ditemui begitu menggeser gerbang pertama, yaitu gas yang berbau busuk seperti kentut atau telur busuk (gas ammonia). Ini jika dihirup dalam jumlah banyak akan menyebabkan kematian. Ketiga, adalah gas kehidupan itu sendiri yang akan ditemui setelah memasuki gerbang kedua.  Di dalam gerbang itu, jika beruntung, Aufa akan menemukan anak macan yang ternyata bersembunyi di situ.

Lalu apa yang terjadi dengan keempat penjahat? Mereka berhasil menemukan gerbang pertama yang di depannya ada minuman anggur. Mereka haus dan akhirnya minum anggur itu hingga mabuk. Sementara pengaruh alcohol membuat mereka pusing dan tidak konsentrasi ketika membuka gerbang pertama. Saat berhasil membuka gerbang pertama itulah, mereka tak menyadari bahwa di atas gerbang tergantung topeng-topeng yang harusnya bisa melindungi mereka dari gas beracun. Akhirnya mereka menghirup gas beracun itu dan menemui ajal di sana.

Setelah berusaha melepaskan diri, akhirnya Aufa dan Oranye berhasil meloloskan diri. Mereka berhasil mencapai gerbang pertama dan bertahan tidak minum anggur, meskipun haus. Mereka melihat topeng dan memakainya sehingga saat membuka gerbang pertama, tidak keracunan, meski sempat sedikit menghirup gas beracun itu.

Di gerbang kedua, mereka berhasil masuk dengan menggeser pintunya. Di sana mereka menemukan anak macan itu bertahan hidup dengan memakan tumbuhan yang tumbuh di sana karena ada gas kehidupan. Aufa dan Oranye segera memenuhi tabung yang mereka bawa dari rumah dengan gas kehidupan, sambil tak lupa menyelamatkan si anak macan.

Akhirnya Aufa, Oranye, dan anak macan berhasil keluar dari gua.Mereka menyerahkan anak macan kepada orang tuanya yang sangat bahagia. Sebagai tanda terima kasih, sepasang macan itu mengantarkan Aufa dan Oranye ke sebuah lapangan di dekat gua, dimana terdapat sebuah balon udara yang bisa membawa mereka terbang menjelajahi dunia. Bukan main senangnya Aufa.

Saat sedang mempelajari balon udara itu, Ibu Bidadari datang dan mengajarkan Aufa dan Oranye terbang, bahkan hingga ke bulan dengan berbekal gas kehidupan di punggungnya, yang tak lain adalah gas oksigen. Akhirnya tercapai juga keinginan Aufa untuk jalan-jalan sejenak melupakan kesedihannya di bumi.

 

#30DEM

#30daysemakmendongeng

#day26

#antariksa

Posted in fiksi, Uncategorized | Tagged , , | Leave a comment

Mama Sayang Semua

#ceritaanak

“Rafiii, ini bukunya kok nggak dibereskan?” Mama berteriak nyaring. Rafi yang sedang bermain game di komputer bangun dengan segan.

“Bukan Rafi yang membuatnya berantakan, Ma… Dek Tina yang habis membaca dan tidak mau mengembalikan ke raknya” Rafi menjawab sambil cemberut.

“Iya, tapi ini kan buku Rafi, bukan buku Tina”.

“Tapi kan Dek Tinaa…”

“Masya Allah, Rafiii. Kamu ini kok sukanya menjawab kalau Mama sedang marah?”

Mama pergi ke dapur dan mukanya masam.

Rafi sedih sekali. Sudah sejak dek Tina lahir, dan kemudian dek bayi Fatia juga lahir, Mama sering marah padanya. Hampir semua kesalahan dek Tina (atau kerewelan dek Fatia), pasti akibatnya akan kena kepada Rafi.

Kadang Rafi berpikir, apakah Mama sudah tidak sayang lagi padanya? Apakah Mama lebih sayang pada dek Tina dan dek Fatia?

Kemarin dek Fatia jatuh dari tempat tidur. Mama sedang membuat kue, dek Tina sedang menonton televisi, dan Rafi sedang menggambar di dekat kasur tempat dek Fatia tidur.

Dek Fatia menangis keras sekali karena jidatnya membentur lantai.

Rafi buru-buru memeluk dan menenangkan dek Fatia. Dek Tina juga membantunya. Tapi Mama tetap memarahinya dan mengatakannya lalai, karena tak menjaga dek Fatia dengan baik.

Rafi menangis sendiri. Ia menyepi, memanjat pohon jambu air di depan rumahnya. Ia merasa Mama benar-benar tak sayang lagi padanya. Rafi melihat dari atas pohon, Mama sedang bercanda dengan dek Fatia dan dek Tina. Bahkan Mama tak mencarinya!

Rafi ingat Papa yang sedang bertugas di pengeboran minyak lepas pantai. Karena pekerjaannya itu Papa jarang pulang. Rafi rindu sekali sama Papa. Hanya pada Papa, Rafi bisa bercerita tentang kesedihannya. Biasanya mereka saling bercerita sambil memancing ikan berdua. Papa sering menasihati Rafi untuk lebih mengerti Mama.

Mama mungkin sangat capek. Ia bekerja menjadi guru piano. Mama juga memasak, membereskan rumah, mengantar jemput sekolah Rafi di SD dan Tina di Kelompok Bermain. Mama juga mengurus dek Fatia yang masih bayi.

Tapi Mama tidak adil. Mama pilih kasih. Mama lebih sayang pada dek Tina dan dek Fatia!

Biasanya Papa hanya memeluk Rafi dengan hangat. Rafi merasa aman dan nyaman sekali. Sayang Papa jarang pulang…

Kadang Rafi mengira dia bukan anak kandung Mama dan Papa. Tapi Papa sayang padanya, juga pada dek Tina dan dek Fatia. Atau Mama saja yang benci padanya? Mana mungkin? Dan kenapa harus benci? Rafi sedih, lebih sedih lagi karena dia tak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu.

Malam ini, Rafi sudah berniat melakukan sesuatu. Mama dan adik-adik sudah tidur. Rafi pelan-pelan membuka jendela kamarnya.

Ia lemparkan tas berisi pakaian, buku dan mainan kesayangannya ke luar jendela. Dilipatnya selembar surat di meja belajar. Rafi mencium sejenak fotonya bersama Papa, Mama, dan adik-adiknya. Ia menghapus air matanya.

 

Mama sayang. Maafkan Rafi ya  Rafi sayang Mama, Papa, dek Tina, dan dek Fatia. Tapi Mama nggak sayang Rafi kan?

Salam cinta,

Rafi.

 

Rafi berhasil keluar dari jendela. Dia mengendap-endap menuju ke pintu pagar depan. Tapi ia mendadak berhenti. Lampu teras samping menyala. Wah!

Rafi semakin memperlambat langkahnya. Tasnya mulai terasa berat. Sesampainya di teras samping, Rafi mendengar suara mesin jahit tua milik Mama.

Mama menjahit? Menjahit apa? Rafi berusaha mengintip ke ruang dalam dari teras samping yang pintunya terbuka lebar.

“Eh, ada Rafi…” Mama kaget dan langsung membereskan jahitannya.

“Mama… jahit apa?” tanya Rafi penasaran. Ia melihat kain handuk berwarna merah dan biru. Seperti… handuk Spiderman… yang lama dia inginkan.

“Eh…ini…”

Tiba-tiba kain merah biru itu meluncur ke dekat kaki Rafi.

“Handuk Spiderman?”

Mama tersenyum. Dirangkulnya bahu Rafi.

“Ini lho, Nak. Kamu kan sudah lama ingin punya handuk renang yang ada kepalanya, yang bergambar Spiderman… Ini Mama sedang buatkan”, jelas Mama.

“Waaah, bagus sekali, Ma. Mama kok masih ingat sih keinginan Rafi?”

“Iya dong. Kan Mama sayang sama Rafi… jadi Mama memerhatikan apa saja keinginan dan keperluan Rafi”. Mama tersenyum manis.

Rafi menelan ludah. Ia merasa rinduuu sekali bicara seperti ini dengan Mama. Ia rindu disayang Mama.

“Terima kasih, Ma. Rafi kira…”

“Apa?” Mama tersenyum.

“Mama nggak sayang Rafi. Habis Mama suka marah sama Rafi…”

“Ya nggak begitu dong, Sayang. Mama marah sama kamu karena kamu suka malas membantu Mama. Malas menjaga adik-adikmu. Tapi… Mama juga suka galak ya?”

Rafi mengangguk takut-takut.

“Maafkan Mama, ya Sayang… Tolong ingatkan Mama agar jangan marah-marah terus ya?” Mama memeluk Rafi erat.

“Maafkan Rafi juga, Mama…”

“Mama sayang sama semua anak Mama, Nak”.

“Selamat ulang tahun, Sayang. Sebenarnya baru besok ulang tahunmu. Tapi ini kado dari Mama untukmu”, Mama menciumnya sambil memakaikan handuk berkepala dengan gambar Spiderman itu.

“Terima kasih, Mama”, Rafi mencium pipi dan tangan Mama. Rafi dan Mama sama-sama terharu.

Tapi tiba-tiba seekor kucing menyenggol tas besar Rafi di teras. Brugg! Tas itu jatuh. Mama dan Rafi berlari keluar.

“Kamu ngapain bawa tas besar malam-malam begini?” tanya Mama curiga.

Rafi jadi bingung mau menjawab apa. Soalnya sekarang dia sudah tidak ingin kabur lagi. Dan moga-moga tidak akan pernah ingin kabur lagi. Selamanya.

“Rafi?” Mama menunggunya.

“Ngg… Rafi mau main kemping-kempingan, Ma…”

Dan mata Mama menatapnya curiga. Mama tahu Rafi berbohong… O-owww…

 

#30DEM

#30DaysEmakMendongeng

#day25

#MarahItuTidakBaik

Posted in fiksi, Uncategorized | Tagged , , | Leave a comment

Ketika Kakek Hilang

#ceritaanak

 

“Zakiii…” Dari kejauhan terdengar suara ibu memanggil. Zaki yang sedang bermain basket di garasi depan menghentikan permainannya.

Pasti Kakek lagi deh.

“Ada apa, Bu?” Zaki menghampiri ibunya yang baru saja membuang nasi dan lauk pauk di piring Kakek.

“Kamu tadi ibu suruh apa?”

Zaki memutar bola matanya. Tuuu kan… Kakek!

“Menyuapi Kakek, bu?”

“Lah, kok Kakek malah makan sendiri? Begini jadinya nih!”

Rupanya Kakek yang sudah pikun itu menuang air cucian tangannya ke piring nasi. Padahal di piring itu juga sudah ada kuah sop. Jadilah banjir di piring itu. Tumpahannya mengenai baju dan sarung Kakek. Juga tumpah ke lantai.

Padahal juga baru saja Kakek disuruh ganti baju dan sarung oleh ibu karena Kakek mengompol.

Hih! Zaki paling malas berurusan dengan Kakek. Apalagi kalau sedang mengompol, atau makan dan minum. Seperti bayi saja. Kalau bayi sih masih mendingan, masih lucu dan imut-imut. Lha kalau Kakek?

Biasanya kalau sudah ngomel begini, ibu mengingatkan Zaki untuk istighfar. Astaghfirullahal azhim.

Bagaimanapun juga Kakek kan orang tua ibu. Kita harus hormat dan sayang pada orang tua. Dulu waktu kita kecil, orang tua yang berkorban habis-habisan untuk merawat dan membesarkan kita dengan penuh kasih sayang. Nah, sekarang saat orang tua sudah sangat tua dan pikun, tiba giliran kita untuk mengurusnya dengan penuh bakti. Begitu nasihat ibu pada Zaki. Namun Zaki sudah terlanjur kesal.

Kakek Zaki memang sudah tua sekali. Sudah delapan puluh tahun lebih usianya. Dulu dia adalah pejuang kemerdekaan dan pernah pula ikut menumpas komunis di Jawa Tengah. Pertama kali mendengar cerita Kakek, Zaki suka. Seru soalnya, ada perang-perangnya.

Tapi sekarang, sudah ratusan kali mungkin Kakek bercerita tentang hal yang sama. Bagian mana lagi yang serunya?

Zaki bahkan sudah hafal, siapa-siapa nama tentara Belanda dan Jepang musuh Kakek, juga nama anak buah Kakek.

Kata ayah dan ibu, memang begitulah orang yang sudah tua sekali. Sikapnya kembali seperti anak kecil. Bayi malah. Dia juga suka mengulang-ulang cerita dan sudah sangat pelupa.

Pernah Kakek pergi ke masjid dan pulang selepas ashar karena dia lupa jalan pulang ke rumah. Lain waktu Kakek lupa mematikan keran kamar mandi bekas beliau mandi sehingga hampir banjir. Sering pula Kakek lupa menutup jendela kamarnya ketika tidur malam. Paginya, beliau mengomel karena badannya habis digigiti nyamuk!

Yang menggelikan, Kakek sering memanggil Zaki dengan Doni. Padahal Doni adalah nama ayah. Tapi Kakek berkali-kali memanggil ayah, ‘Dinooo… Dinooo’. Hahaha, memangnya ayah dinosaurus?

Kakek suka memanggil ibu ‘Desiii… Desiii’. Padahal Desi adalah nama kakak tertua ibu yang tinggal di Bandung. Nama ibu adalah Ruri.

Tapi Kakek adalah orang yang paling membela Zaki. Jika Zaki dimarahi ibu, Kakek paling duluan memarahi balik ibu. Akhirnya mereka berdua yang ribut dan Zaki bebas dari omelan ibu.

Seperti waktu Zaki memecahkan kaca lemari dengan bola basketnya. Kakek berkacak pinggang mengomeli ibu yang baru saja memarahi Zaki.

“Desi, sudah bapak bilang, sama anak jangan galak-galak. Kasihan si Doni kamu marahi terus! Kamu contoh si Dino, dia sabar sekali sama anak!” kata Kakek yang kebetulan lagi lupa nama anak, menantu dan cucunya.

Ibu yang tadinya mau menjelaskan  kepada Kakek jadi bingung. Lho kok namanya salah semua?

Sementara itu, Zaki susah payah menahan tawa. Aduh, dosa ya Zaki?

Sabtu sore ini, Zaki pulang latihan taekwondo di sekolah. Ia paling suka bercerita sambil mempraktekkan gaya-gaya taekwondo kepada Kakek. Biasanya Kakek akan memperagakan gaya pencak silatnya. Kalau urusan pencak silat, herannya Kakek masih lumayan kuat dan masih ingat betul! Konon, semasa mudanya Kakek yang pensiunan tentara juga dikenal sebagai pendekar pencak silat.

Di ruang keluarga, ibu baru saja menutup telpon.

“Kakek mana, Bu?” tanya Zaki setelah mengucap salam dan mencium tangan ibu.

“Itulah, Ki. Kakekmu belum pulang dari tadi pagi…” Ibu menjawab dengan bingung, setelah menjawab salam Zaki.

“Hah? Kemana, Bu?”

“Aduh kamu ini! Ya, mana ibu tahu? Kalau ibu tahu kemana Kakekmu pergi, ibu nggak sebingung ini!”

Hih! Zaki menepuk jidatnya. Agaknya ia mulai ‘ketularan’ Kakek.

“Ki, kamu jangan mandi dulu deh. Tolong cari Kakek ya?” Ibu mencegatnya di pintu kamar.

Zaki menarik nafas panjang. Malas.

“Biar saja deh, Bu. Nanti juga balik sendiri. Dulu juga kan begitu”, jawab Zaki sambil membuka kulkas. Ia sibuk mencari minuman dinginnya. Kok nggak ada? Tadi pagi sebelum ke sekolah ada kok.

Ibu ikut melongokkan kepala di belakang Zaki. “Cari minuman dingin yang dua kotak itu ya?” tanyanya.

“Iya. Siapa yang minum, Bu?”

“Kakekmu. Tadi pagi habis sarapan dia bongkar-bongkar kulkas”.

“Hah? Kakek? MasyaAllah!”

“Dia minum, terus nggak lama katanya sakit perut. Habis dari kamar mandi terus pergi. Ibu tanya dia tidak jawab. Nah, sampai sekarang dia belum kembali…”

Zaki geli bercampur kesal. Iyalah, Kakek pasti sakit perut. Itu yoghurt rasa jeruk dan strawberi!

“Ki, cepat cari Kakek. Nanti keburu maghrib, gelap. Kakek bakal susah pulang…” Ibu membuntutinya terus.

“Hari terang juga Kakek susah pulang, apalagi gelap, bu. Sudah deh. Biar saja. Zaki pusing!” Zaki sudah mau masuk ke kamarnya.

“Justru itu! Kamu ini kok nggak sayang sama Kakek sih?” Ibu mulai jengkel. Ia menarik leher baju taekwondo Zaki dari belakang. Memaksa Zaki tidak jadi masuk kamar.

Karena pusing diomeli ibu, akhirnya Zaki pergi juga mencari Kakek. Ia mengendarai sepedanya setelah mengantongi telpon genggam ibu di tas pinggangnya.

“Bu, coba Kakek dibekali HP. Jadi kita nggak repot”, usul Zaki.

“Heh! Kamu ini! Bisa-bisa tiap hari dia kehilangan HP-nya. Sudah sana!” jawab ibu jengkel.

Zaki menyusuri jalanan kompleksnya, kompleks seberang jalan, kampung belakang. Juga ke masjid tempat Kakek biasa shalat bersama ayah, ke minimarket, warung bubur kacang ijo, tukang tambal ban, hingga tukang servis AC. Kakek nggak ada.

Hari mulai gelap ketika Zaki sampai di jalan menuju sekolahnya. Tiba-tiba Zaki merem sepedanya. Ada apa itu ramai-ramai?

Penasaran Zaki turun dari sepeda.

Ternyata ada orang tertabrak. Katanya korban tabrak lari. Mobil yang menabraknya lari. Zaki mendekat. Hiii… ngeri. Darah korban berceceran dimana-mana. Kerumunan orang menyulitkan Zaki melihat korban.

“Kasihan ya, Kakek-kakek begini jalan sendirian… Punya anak nggak sih?” terdengar seseorang berkata.

Zaki tersentak. KAKEEEK!

“Mayatnya ditutup kertas koran saja, Bang”, terdengar suara orang lain lagi.

Mayat? Kakek… meninggal tertabrak??

“Kakeeeek!” Zaki berteriak keras sambil menubruk kerumunan.

Tidak, Kakek jangan mati dulu! Zaki mau minta maaf. Zaki suka jengkel dan kasar pada Kakek.

Ya Allah, astaghfirullah, ampuni Zaki. Zaki minta, jangan ambil Kakek duluuuu.

Zaki menangis tak peduli pada kerumunan yang masih menghalanginya.

Kalau Kakek meninggal, siapa yang membela Zaki kalau diomeli ibu? Zaki terus menangis.

Aduh, mengapa kerumunan ini besar sekali? Terlalu banyak orang di sini!

“Doni… eh Dinooo! Dino cucukuuu!”

Tiba-tiba dari belakang, Zaki mendengar suara yang amat ia kenali. Segera Zaki berbalik. Kakek?

Itu Kakek dengan tawanya yang khas. Mata Kakek menatapnya penuh sayang. Kakek menariknya keluar dari kerumunan. Zaki langsung memeluk beliau.

“Kakek sedang apa di sini?” tanya Zaki sambil memegang tangan Kakek.

“Kakek jalan-jalan saja, Cu. Lalu Kakek ingat kamu latihan pencak silat kan? Kakek mau jemput kamu, Doni… eh Dino…”

Aduuuh… Kakek, mengapa jadi makin kacau begini? Zaki tersenyum geli.

Tiba-tiba pak Makmur, satpam sekolah, mendekati mereka.

“Oh, ini cucu Bapak? Ini mah namanya Zaki, Pak. Bukan Doni!” katanya sambil tertawa.

“Hah? Siapa bilang Doni? Doni nama bapaknya. Dia Dino. Iya kan, Cu?”

Aduuuh, pusing! Zaki hanya bengong sementara Pak Makmur geleng-geleng kepala.

Ya, sudahlah. Yang penting, Kakek sudah ketemu. Alhamdulillah. Zaki jadi terharu. Kakek ternyata ingin menjemputnya. Sayangnya Kakek lagi-lagi lupa namanya. Kenapa pula sekarang Zaki dipanggil Dino… saurus?

Senja makin merah. Azan maghrib mulai terdengar. Korban tabrak lari yang malang itu sudah dibawa ke Rumah Sakit. Zaki alias Dino tak akan membiarkan Kakek mengalami kejadian seperti itu. Bagaimanapun, ia sayang Kakek, meski ia dianggap dinosaurus sekalipun.

Sepasang kakek dan cucu itu meniti jalan sambil bergantian menuntun sepeda. Indahnya. Subhanallah…

 

#30DEM

#30DaysEmakMendongeng

#Day24

#AnakPemberani

Posted in fiksi, Uncategorized | Tagged , , | Leave a comment

Dunia Ikut Tertawa

#ceritaanak

 

Seperti biasa, Beby pulang sekolah sendirian. Ia tidak bergerombol bersama teman-teman lainnya. Beby memang bisa dibilang tidak punya teman akrab.

Mengapa?

Mungkin karena Beby terlalu pendiam dan pemalu. Beby jarang bicara kalau tidak ditanya. Tak heran, temannya mungkin hanya Ela, teman sebangkunya.

Jika Ela tidak masuk karena sakit seperti ini, Beby sendirian saja. Di kelas sendirian. Istirahat sendirian. Jalan ke mushala untuk shalat zuhur berjamaah juga sendiri. Pulang pun sendiri.

Mengapa Beby pemalu dan pendiam?

Mungkin karena Beby merasa dirinya bukan anak orang kaya. Berbeda dengan kebanyakan teman-teman sekolahnya, Papa Beby bekerja sebagai supir bajaj. Sementara papa teman-temannya kebanyakan bekerja sebagai pegawai di kantor.

Beby tak pernah diantar jemput naik motor atau mobil. Ia jalan kaki sendiri. Beby tak punya tas yang cukup bagus. Ia hanya punya tas bergambar kucing, bekas Sasa, kakaknya.

Beby juga tak secantik Intan dan Seila. Beby tak selincah Nena dan Rara. Beby terlalu sederhana dan seadanya. Itu juga menyebabkan Beby menjadi pemalu.

Sedang asik-asiknya berjalan, tiba-tiba sebuah mobil membunyikan klakson di belakang Beby. Tentu saja Beby terkejut dan menoleh ke belakang.

“Ayo, Beb, pulang bareng yuk. Rumahku kan searah dengan rumahmu. Ayo naiklah”, ajak Intan dari dalam mobil.

Beby kembali terkejut. Benarkah? Intan mengajaknya pulang bareng?Ragu-ragu Beby naik ke mobil Intan yang bagus dan mengilat itu. Bukankah selama ini Intan tak pernah menegurnya? Apalagi mengajaknya pulang bareng. Wah, apakah ia bermimpi?

Sepanjang perjalanan, Intan dengan ramah mengajaknya ngobrol. Beby hanya sesekali menjawab sambil malu-malu. Dalam hati, Beby mengomeli dirinya sendiri, kenapa sih penyakit malu ini nggak sembuh-sembuh juga?

Intan mengantar Beby hingga di mulut gang. Sebelum turun Intan bertanya, “Beby, kamu mau berteman denganku?”

Aduh, tentu saja. Beby gembira sekali. Selama ini kan Beby sebenarnya ingin sekali punya teman dekat. Bukan hanya dengan Ela saja.

“Te… tentu saja, In. Aku… aku senang sekali…” jawab Beby terbata-bata.

“Terima kasih ya, Beb”, Intan melambaikan tangan dari jendela mobil.

Hari ini Beby bahagia sekali. Akhirnya ia bisa menambah teman! Intan? Siapa yang tak kenal Intan di sekolah?

Intan cantik jelita, kaya raya, dan suka mentraktir teman-temannya jajan.

Tapi Beby berteman dengan Intan bukan karena itu. Ia hanya ingin berteman dengan siapa saja. Itu saja.

Kini Beby dan Intan terlihat seperti dua orang sahabat. Kemana-mana bareng. Makan di kantin, mengerjakan PR, bahkan sekarang Beby ikut ekskul Pramuka dan Menyanyi bersama Intan.

Perlahan Beby mulai menambah teman. Keceriaan dan keramahan Intan menular kepadanya. Beby mulai bisa tersenyum dan tertawa saat ada teman yang melucu. Beby mulai melupakan rasa malunya. Toh, tidak ada seorangpun temannya yang meledek Papanya yang supir bajaj itu.

 

Beby kini merasa hidupnya lengkap. Ia menyadari bahwa ia sebenarnya pintar. Beby kan selama ini selalu juara kelas. Namun ia penyendiri, jadi tak ada yang berani dekat-dekat dengannya.

Namun kembali Beby mendapat masalah. Intan ternyata suka menyontek PR dan ulangannya. Intan malas belajar dan mengerjakan PR.

Akibatnya, Beby yang menjadi korban. Intan selalu membujuknya memberi contekan. Kadang jika tidak diberi contekan, Intan ngambek dan mendiamkannya sepanjang hari. Ela yang sudah kembali masuk, sudah mengingatkan Beby untuk hati-hati pada Intan.

Puncaknya waktu ulangan matematika. Intan marah karena Beby tidak mau memberi contekan. Saat istirahat, Intan mendatangi meja Beby dan mengata-ngatai Beby.

“Dasar anak tukang bajaj. Sok pintar. Pelit lagi! Yeee… dasar sok. Anak tukang bajaj nggak ada temannya… Yeee!” begitu Intan mengata-ngatai Beby. Di sampingnya ada Seila, Nena, dan Lusi, sahabat-sahabat Intan yang juga ikut memandanginya dengan menghina.

“Selama ini juga aku berteman denganmu kan karena aku tahu kamu pintar. Tapi kalau kamu sok begini, aku malas. Apalagi kamu cuma anak tukang bajaj!” sambung Intan.

Beby sedih sekali. Saking sedihnya, ia tidak bisa berkata apa-apa. Perlahan air matanya mulai turun.

Ela, Iggi, dan Risma, sahabat-sahabat barunya, datang dari kantin dan melihat Beby menangis. Mereka tidak terima Beby dihina begitu. Ela dan Risma segera mendekati Beby. Sementara Iggi yang paling berani, memarahi Intan dan teman-temannya.

“Sudahlah, Beb. Untuk apa memaksakan tetap berteman dengan anak yang jelek sikapnya begitu?” hibur Ela.

“Iya, Beb. Kan ada kita-kita? Sahabat sejati kan nggak memandang kaya atau cantik atau pintar kan?” sambung Iggi.

Risma menepuk-nepuk pundak Beby yang masih menangis.

Alhamdulillah. Subhanallah. Engkau masih memberikan aku sahabat sejati. Aku tadinya menyangka sahabatku adalah Intan. Ternyata dia hanya teman yang tidak tulus. Beby sangat bersyukur memiliki sahabat-sahabat sebaik Ela, Iggi dan Risma.

Sahabat sejati tidak hanya ada ketika dia butuh kita. Dia ada dalam susah dan senang. Dia mau menerima kita apa adanya. Sekarang Beby, Ela, Iggi, dan Risma sering bermain bersama. Mereka tertawa-tawa bahagia dan duniapun ikut tertawa karena ketulusan persahabatan mereka.

 

#30DEM

#30DaysEmakMendongeng

#day23

#Hatiyanglemahlembut

Posted in fiksi, Uncategorized | Tagged , , | Leave a comment

Kain Perca Bunda Upit

#ceritaanak

 

Bukan salah Upit jika ia dilahirkan bukan sebagai anak orang kaya, meski juga bukan anak orang yang sangat miskin. Namun kadangkala timbul rasa rendah dirinya mengingat ia termasuk salah satu dari sedikit siswa di SD Putra Bangsa yang tidak diantar jemput oleh mobil.

Tiap pagi, Upit naik angkot ke sekolah dan begitu pula setiap pulang sekolah. Pernah sesekali Upit ingin bertanya pada Bundanya “Apakah tidak sebaiknya kita mulai menyicil membeli mobil saja, Bunda?”. Namun untunglah, hal itu urung ia tanyakan karena ia tak tega.

Ayah Upit seorang pegawai negeri biasa sementara ibunya seorang penulis. Untuk menambah penghasilan, ibu Upit yang biasa dipanggil ketiga anaknya dengan Bunda, menitip berjualan kue-kue atau masakan di kantin sekolah Upit. Karena Bunda pandai memasak, hampir semua murid dan guru suka pada kue dan masakannya. Bunda Upit juga menjual hasil jahitannya yang terbuat dari kain daur ulang.

Suatu hari, diumumkan oleh Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan bahwa setiap anak di SD Putra Bangsa wajib mengikuti minimal satu ekskul (ekstra kurikuler) dan nilainya akan dimasukkan ke rapor. Sebelumnya tidak ada kewajiban tentang ekskul ini.

Semua murid berbondong-bondong mendaftar masuk ekskul yang mereka minati. Apalagi di SD Putra Bangsa banyak sekali ekskul yang ada. Dari mulai olahraga hingga seni dan ketrampilan. Sayangnya biaya mengikuti ekskul itu tidaklah murah, sekitar 200 ribu rupiah per semester untuk tiap ekskul dan harus dibayar lunas di awal semester.

Upit sudah menghitung berapa banyak ekskul yang ia minati. Dari bidang olahraga, ia ingin ikut renang, dan salah satu bela diri apa saja, boleh silat, aikido, tae kwon do, wushu, ataupun karate. Dari bidang seni ia ingin ikut piano, paduan suara, melukis, dan menari. Dari bidang ketrampilan ia ingin ikut komputer, bahasa Inggris, drum band, dan baris berbaris. Upit memang termasuk siswa yang cerdas dan menaruh minat pada banyak hal. Namun saat mengingat biaya yang harus dikeluarkan ayah dan Bunda, Upit menjadi ciut sendiri.

Suatu siang, sepulang sekolah, Upit mendapati Bunda sedang menjahit di ruang kerjanya. Sesekali Bunda juga menerima pesanan jahitan.Bunda suka mendaur ulang kain-kain sisa, atau yang sering disebut juga kain perca. Kain perca itu dijahit dan disusun sedemikian rupa sehingga menjadi seprai, bed cover, sarung bantal, taplak meja, dan tutup aqua. Biasanya Bunda meminta dari tukang jahit, karena mereka banyak mempunyai kain sisa yang tak terpakai. Sayang daripada dibuang, kita daur ulang saja, begitu kata Bunda.

“Kamu sudah mendaftar ekskul, Pit?” tanya Bunda tiba-tiba setelah Upit membawa makan siangnya ke tempat Bunda menjahit.

“Belum, Bun” jawab Upit lesu.

“Kenapa?” tanya Bunda sambil menggunting benang yang tersisa.

“Nggak apa-apa kok, Bun”

“Nanti waktu pendaftaran keburu habis lho”

“Biar saja. Upit nggak apa-apa nggak ikut ekskul juga”

Bunda tersenyum.

“Serius nih? Setahu Bunda kamu malah ingin ikut banyak ya?”

Upit tentu saja terkejut. Dari mana Bunda tahu ya?

“Ah, betul kok, Upit kan sudah langganan juara kelas dari kelas satu sampai kelas tiga kemarin, jadi rasanya nilainya sudah cukup dan nggak harus ikutan ekskul segala” elak Upit tidak enak hati.

“Kamu yakin begitu? Memangnya kamu nggak ingin punya banyak ketrampilan dan pengalaman baru dengan ikut ekskul? Lagipula waktunya kan pulang sekolah dan hari sabtu, jadi Bunda pikir nggak ganggu belajarmu juga. Asal kamu tetap pandai mengatur waktu dan menjaga kesehatanmu, Bunda rasa bagus kok”

Upit makin terkejut. Dari mana Bunda tahu jalan pikirannya?

“Bunda…” Upit mau bertanya tapi ragu-ragu.

Dengan penuh sayang, Bunda membelai rambut Upit. “Upit lupa ya kalau Upit punya diary yang selalu Upit isi di sekolah dan tiap pulang sekolah harus dibaca orang tua? Maaf ya kalau Bunda terdengar lancang karena membacanya”

Oh iyaaa… Upit tersenyum malu sambil menepuk jidatnya. Ah betapa malunya terbuka rahasianya di depan Bunda.

“Iya sih, Bun, tapi kaaan…” Upit menggantung ucapannya, takut Bunda menjadi sedih.

“Jangan khawatir, Sayang. Kemarin Bunda sudah menghadap Bu Asti, Wakil Kepala Sekolahmu. Kata beliau, kamu boleh mendaftar semua ekskul yang kamu inginkan dengan syarat kamu lulus tes awalnya. Kamu boleh mencicil, bahkan gratis jika nilai tes awalmu tertinggi diantara teman-teman yang lain”

“Kok bisa gitu, Bun? Kan nggak ditulis di surat pengumumannya?” Upit heran sekali.

“Memang tidak ada, Pit. Tapi Bunda rasa tidak adil bukan jika ada anak yang berminat pada ekskul itu namun tidak punya biaya? Maka Bunda pikir harus ada kebijakan lain. Naaah, Bunda segera ketemu Bu Asti. Gimana? Oh ya, Bu Asti juga memborong banyak hasil jahitan Bunda lho. Lumayan buat tambah-tambahan membayar biaya sekolahmu.”

“Tapi kalau tes awalnya susah gimana, Bun?”

“Aih, masak sang juara kelas mudah putus asa begitu? Ayo Bunda ajari. Sedikit-sedikit Bunda juga bisa kok. Kamu ingat kan, dulu waktu sekolah Bunda ikut banyak ekskul juga? Lagipula kan Bunda sering mengajarimu sedikit demi sedikit toh?”

 

Maka selama beberapa hari, Upit berlatih beberapa bidang ekskul bersama Bunda yang ternyata mantan pelajar teladan semasa SD hingga SMA bahkan pada waktu kuliahnya. Upit berlatih dengan gigih agar bisa ikut semua ekskul yang ia minati.

Syukurlah ketika nilai tes awal diumumkan, Upit selalu masuk tiga besar. Maka Upit tentu saja berhak memperoleh fasilitas gratis pendaftaran ekskul. Betapa senangnya hati Upit. Ia sangat berterima kasih kepada Bundanya yang cerdas, pintar dan gigih.

 

#30DEM

#30DaysEmakMendongeng

#Day22

#daurUlang

 

 

 

 

Posted in fiksi, Uncategorized | Tagged , , | Leave a comment

Hewan Peliharaan Akna

 

 

Sudah sejak lama Akna ingin memelihara kura-kura. Iya, kura-kura Brazil kecil berwarna hijau seperti yang sering dilihatnya di buku dan film kartun Franklin. Setiap kali melewati pet shop (toko yang menjual hewan peliharaan) di mall atau tukang jual hewan yang sesekali ia temukan di tempat rekreasi, matanya tak bisa lepas dari mengamati hewan lucu bercangkang keras itu.

Setelah berkali-kali ia meminta kepada ibunya, dan ibunya hanya mengangguk-angguk saja tanpa membelikannya seekorpun, akhirnya Akna bertanya, “Sebenarnya bolehkah mas Akna memelihara kura-kura, Bu?”

Ibu malah balik bertanya, “Memangnya kamu serius?”

“Ya serius dong, Bu”

“Maksud ibu, apakah kamu mau mengurusi kura-kura itu? Bukan hanya untuk sekedar suka-suka saja. Kamu juga harus rajin memberinya makan, mengganti airnya, menjemurnya, bahkan menyikat cangkangnya jika mulai berlumut. Kamu siap?”

Akna berpikir keras. Wah repot juga ya? Tapi sesaat kemudian ia mengerling ke arah akuarium besar berisi kura-kura di pet shop itu. Aih lucunya si Franklin.

“Bagaimana, mas Akna?” Ibu menyentuh bahunya.

“Mau, Bu. Mas Akna serius kok. Janji deh!” Akna mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya dengan yakin.

Tak berapa lama, Akna sudah keluar dari pet shop itu menjinjing sebuah kandang berupa akuarium kecil berisi sepasang kura-kura Brazil. Betapa senangnya hati Akna. Tak sabar rasanya ia ingin segera sampai di rumah.

 

Beberapa hari kemudian, tampaklah kesibukan baru di rumah Akna. Setiap siang sepulang sekolah, Akna dan kedua sahabatnya, kakak beradik Vinda dan Vino, yang tinggal di rumah sebelah, asyik bermain balap Franklin. Kedua kura-kura kecil itu disuruh balap lari. Dasar kura-kura, mereka bukannya lari mengikuti lintasan, malah bersembunyi masuk ke balik keset kaki, atau bahkan menyelinap ke bebatuan.

“Ibuuu, kura-kuranya hilang. Mereka kabur!” lapor ketiga anak itu kepada ibu Akna yang baru pulang dari kantor pada suatu sore.

“Kabur? Kok bisa?” tanya Ibu heran.

Setelah mendengar cerita anak-anak, Ibu segera memerintahkan anak-anak mencari kura-kura yang malang itu sampai ketemu. Untunglah tak berapa lama, masing-masing kura-kura itu dapat ditemukan kembali. Yang satu ngumpet di bawah rak sepatu. Sementara yang satunya lagi ada di antara tanaman lili Paris di halaman.

 

Beberapa bulan berlalu. Kali ini Akna kembali ribut minta kura-kuranya ditambah. Konon menurut Akna, Vinda, dan Vino, kura-kuranya kesepian. Karena bosan mendengar permintaan yang itu-itu juga, akhirnya ibu membelikan sepasang lagi.

“Tidak ada kura-kura lagi setelah ini, ya?” kata ibu dengan agak jengkel.

“OK, Bu” Akna mengangguk senang dan buru-buru keluar dari pet shop sebelum ibu mengomel.

O ya, sejak kecil, Akna memang suka pada hewan. Tikus saja ia bilang lucu, sementara ibunya melihatnya saja sudah ketakutan. Tak heran Akna juga gemas dengan si kura-kura.

Tak berapa lama kemudian, Akna berulang tahun. Lucunya ia menerima beberapa hadiah berupa… hewan peliharaan. Ada tiga ekor ikan mas dengan akuarium kecilnya. Lalu ada sepasang kelinci, tiga ekor anak kucing, dan… sepasang kura-kura lagi!

Bukan main gembiranya Akna. Ia yang belum dikaruniai adik merasa senang bertambah temannya. Tinggallah ibu dan ayahnya yang geleng-geleng kepala. Hewan peliharaan sebanyak itu siapa yang mau mengurusnya?
Dan ternyata kekhawatiran ayah dan ibu terbukti. Lihatlah kesibukan di rumah Ahda setiap pagi. Ayah mengganti air di akuarium ikan dan kura-kura, lalu membuang kotoran kucing dan kelinci di bak pasir sebelum ke kantor. Ibu juga sibuk memberi makan hewan-hewan itu. Sementara Akna heboh sarapan sebelum pergi ke sekolah.

Dalam hati ibu mengeluh. Kalau begini, siapa sebenarnya yang harusnya mengurus hewan-hewan itu? (Sementara untuk memberikannya pada orang lain, ibu, ayah, dan terutama Akna juga sudah terlanjur sayang).

 

#30DEM

#30DaysEmakMendongeng

#day21

#hewanPeliharaan

 

 

 

 

Posted in fiksi, Uncategorized | Tagged , , | Leave a comment