Antri Doong….

Suatu hari di sebuah pusat perbelanjaan (ITC) besar di Jakarta. Saya dalam keadaan sangat ingin buang air kecil, mendapati antrianyang cukup panjang di WC perempuan yang juga nggakj hanya terdiri dari satu kamar. Kalau nggak salah sih tiga atau empat kamar gitu. Seperti biasa, saya langsung masuk ke barisan antri, dan akhirnya membagi menjadi tiga atau empat baris sesuai dengan banyak kamar.

Kebetulan, orang-orang di depan saya nggak lama-lama ‘ngendon’ di WC. Jadinya dalam waktu yang cukup singkat, saya sudah  sesaat lagi masuk ke WC.

kurio1Belajar disiplin sejak anak-anak, mau tanya saja harus antri, satu-satu, gak bisa barengan, bisa rusuh….

 

Lagi ‘enak-enaknya’ ngantri, tiba-tiba dua orang ABG yang kira-kira baru duduk di SMP, nyerobot tepat di depan saya. Tentu saja saya kaget. Namun saya amsih menyisakan rasa khusnuzhan saya, bahwa mereka adalah anak-anak yang mencari entah siapanya yang sedang di dalam kamar WC.

“Di sini aja, nih, kan tinggal dikit lagi” tiba-tiba salah seorang dari mereka berkata.

“Iya nih, gak bakal lama ngantrinya. Udah kebelet nihhh…” Jawab yang satunya.

Eh… wait, wait, apa maksudnya nih?

Refleks saya mencolek bahu salah seorang dari mereka.

“Mau ngantri ya, dik?” tanya saya.

Tanpa ragu-ragu mereka berdua mengangguk.

Eh… loh, kok jadi nggak punya pikiran gini sih? Batin saya  dongkol.

Dengan mengangkat wajah menandakan kesal, saya menjawab, “Antri, mbak”.

“Iya, kita antri di sini” keukeuh salah satu dari mereka yang bertank top dan hipster ketat, namun dari dandanan kok kayaknya bukan tampang’ anak sekolah’ .

“Ya kalau ngantri di belakang dong, jangan nyerobot begitu. Saya dan ibu ini (sambil menunjuk ibu di belakang saya yang menggandeng seorang bocah) sudah duluan” tukas saya jutek.

Kedua ABG itu saling berpandangan. Lalu salah seorang dari mereka, dengan wajah yang jutek, nyeletuk pula, “WC aja kok ribut!” sambil gegas menarik tangan temannya pindah ke belakang ibu tadi.

Sebab dia sewot, maka saya pandangi kedua ABG nggak tahu diri itu dengan mata saya. Sengaja. Tentu dengan pandangan tak kalah juteknya. Saya pikir, harus dikasih pelajaran nih orang.

Untunglah, orang yang sedang di dalam kamar WC segera keluar. Artinya, nggak guna bangetlah saya teruskan persewotan saya itu. Heheheh…

 

Itu baru satu contoh tentang situasi dan kondisi antrian di sini, di Jakarta, atau munmgkin pula di seluruh tanah air. Saling menyerobot dapat saja terjadi. Kadang juga saling sikut untuk hal yang sebenarnya nggak usah segitu ngototnya dehhh.

Dan parahnya, saya adalah makhluk yang paling nggak ingin menyerobot dan diserobot. Nah, sebab merasa nggak pernah merasa mengambil hak orang lain itulah, saya jengkel banget kalau hak saya (yang juga sudah merasa melaksanakan kewajiban mengantri dan menunggu dengan disiplin dan mencoba sabar) diserobot orang lain. Lain halnya jika berurusan dengan hidup dan mati. Tentu saja saya akan mengalah dengan sukarela.

Begitu juga halnya jika berurusan dnegan orang-orang yang karena kedudukannya akan didahulukan. Misalnya saat mobil saya harus distop sebab ada mobil pejabat yang akan lewat.  Buru-buru? Gimana kalau keadaannya gini: sang pejabat mau rapat dinas, sementara saya mau ngantar orang sakit misalnya. Sementara juga saya jelas-jelas sudah duluan beberapa ratus meter di depannya. Masak dia harus didahulukan hanya karena dia pejabat? Toh sama-sama penting, ya wis… ngantri dong, pak. Macet dikit ya nggak pa-pa, inilah kondisi realnya. Kesiangan? Kenapa nggak berangkat lebih pagi, pak?

Sedihnya, hal kayak gini juga terjadi di beberapa kesempatan. Dalam masalah penerbitan buku saja, kadang saya juga nggak ngerti. Buku saya yang sudah terjadwal akan terbit, tiba-tiba harus pending sebab ada buku lain ‘yang ekspress dan lebih penting’ harus segera terbit dulu. Mungkin untuk alasan marketing (misalnya ini buku seorang penulis yang lebih laku jual) saya akan mencoba ‘tahu diri’. Tapi kalau ini buku ‘karya; seorang pesohor misalnya, maka haruskah didahulukan?

Waaah… maaf, kalau kata saya itu nggak adil juga. Kenapa sih nggak sama-sama ngantri? Jika untuk kepentingan charity sih boleh saja. Tapi kalau hanya karena alasan penulis buku itu adalah owner? Huhuhu… betapa kasihannya nasib para penulis yang sudah rela mengantri di depannya, yang misalnya begitu butuh bukunya diterbitkan saat itu juga.

Yah, maaf, ini sih hanya pikiran saya saja. Yang mungkin juga kelewat berdisiplin dalam segala sesuatu. Apakah terdengar sangat egois?

Ya, terserah andalah. Yang pasti, apa sih yang ada dalam benak kita ketika kita menyerobot hak orang lain? Bukankah hak kita baru bisa kita dapat setelah kita melaksanakan hak kita?

Mungkin saya juga pernah dan sering tanpa sadar menyerobot  hak orang lain. Bagaimanapun saya juga manusia biasa.  Tapi paling tidak, saya sering sekali membayangkan. Andai semua orang punya rasa disiplin yang ‘lumayan’ baik, tentu nggak akan banyak terjadi kasus main serobot ya?

Jadi ingat nasihat Aa Gym, salah satu ustadz yang saya kagumi: Mulailah dari diri sendiri, mulailah dari hal yang kecil, dan mulailah sekarang juga. Subhanallah, kalau saja semua orang mau begitu yaaa? (Saya melamun dengan sedih…)

Posted in inspirasi, life, Uncategorized | Tagged , , , , | 1 Comment

{Cerpen} Perempuan yang Berpesta Bersama Hujan

 

 

 

Langit kembali membawa beban berat. Awan menggelantung seperti siap memuntahkan lautan. Aku terkesiap. Masihkah akan kuteruskan perjalanan ini? Kuhela nafas panjang. Masih sangat jauh jarak yang harus kutempuh. Namun sungguh ada yang kunanti setiap kali hujan akan turun, Aku seperti berpesta dengan alam. Aku memestakan tawa dan tangis bersama hujan dan semesta, tanpa ada yang tahu. Dari dulu hingga kini.
Kukerjapkan mataナ Tuhan aku rindu sungguhナ.ke dulu masa dimana semua belum serumit sekarangナ.

hujan

 

“Windiiiナ. Mau kemana kamu?”
Aku membulatkan mulut. Mama. Dia sudah ada di belakangku.
“Mmmナ mau ke warung koh Lung, Ma”. Mau beli apa ya? Cepat berpikir, Windi.
“Gerimis, sebentar lagi hujan deras. Mau beli apa kamu? Nanti suruh si Tile saja. Mama takut kamu pilek lagi kayak minggu kemarin”. Tuh kanナ
“Mau beliナgunting, Ma, untuk prakarya”.
“Enggak usah. Pakai gunting Mama saja.”
Aku tidak perlu gunting, as you know. Aku perlu hujan. Aku ingin bertemu peri hujan yang selalu membasuh air mataku. Yang selalu mau menangis dan tertawa bersamaku. Yang paling mengerti mengapa aku tak suka matematika dan lebih suka menggambar. Yang paling memahami mengapa aku tadi dimarahi pak guru karena nilai matematikaku hanya 5.
“Windi”.
Dan air mataku siap tumpah. Lihatlah hujan telah benar-benar menderas.
“Iya, Ma”. Akhirnya kuakhiri konflik dengan mengalah, entah apa yang harus kulakukan selanjutnya.
“Masuk, sana.” Tegas, khas Mama. Tanpa kompromi. Seperti sabda seorang ratu yang wajib ditaati semua punggawa dan dayang dayangnya.
Namun sekitar setengah jam kemudian, aku sudah berpesta dengan hujan dengan carakun sendiri, di belakang rumah. Dekat gudang, ada cucuran talang air yang jika hujan turun, airnya ikut menderas. Aku tengadahkan wajahku, membiarkan seluruh wajahku terpapar hujan, tak peduli basah seluruh tubuhku. Hal yang akhirnya menarik perhatian kucingku yang juga ikut berpesta hujan bersama.
Jika kepalaku sudah mulai terasa berat dan makin banyak bintang berputar di atas mataku, aku buru buru masuk ke gudang, mengganti bajuku dengan baju lain yang masih bersih, Lalu kupanggil Mbak Imah, pembantu rumah tangga kami, agar mau mencuci bajuku diam diam. Dan beres. Dan Mama yang kebanyakan anak pun tak tahu.
Masa ketika semuanya tidak serumit sekarangナ.

Masa SMP, SMA, dan Kuliah, adalah masa yang lebih membahagiakan bagiku. Mama tak lagi mengawalku setiap hujan tiba. Aku selalu berdalih belum pulang atau banyak tugas, dan masih banyak lagi. Ritual pesta hujan, adalah sesuatu yang amat kunantikan. Ritual dimana aku melebur bersama semesta. Ritual dimana aku bisa bebas menjadi diriku yang rindu curhat, sebab hanya sedikit sekali yang bisa memahamiku. Si gadis introvert yang nyaris tak punya teman. Si gadis aneh yang sukanya menggambar hujan, awan, dan pelangi.
Kulabuhkan tangis pada hujan, saat tak ada kawan laki-laki, seorangpun, yang datang padaku dan menyatakan isi hatinya padaku. Oh, ya ada. Tiap tahun. Orangnya berbeda-beda pula. Begini nihナ
“Jadi, Win, sebenarnya aku mau curhat nih. Aku sudah lama naksir teman sebangkumuナkarena diaナbla bla blah”.
Kenapa aku tidak jadi kodok sekalian, biar tidak usah jadi mak comblang?
“Win, lu kan anaknya baik dan pinter ya? Jujur nih, gue belum punya cewekナ”
Aku juga belum punya cowok.
“Win, lu tolongin gue deh ya”.
“OK. Maksudmu, kamu mau aku menjadi cewekmu gitu? Mari kupikirkanナ. Boleh lahナ
“Lu kenal si Andien yang juara kelas itu kan?”
Dan lututku mulai lemas.
“Lu kan dekat dengan dia, boleh dong gue juga lu dekatin sama diaナ.”
Tuh kan. Mau pingsan di sini boleh kan ya?

Demikian kehidupan selalu berulang kepadaku. Bayangkan, hingga aku akhirnya lulus S2 dan bekerja di sebuah perusahaan swasta, aku belum pernah bertemu seseorang yang, boro boro mengajakku membagi sisa hidupnya bersamaku, menyatakan perasaannya bahwa dia mencintaiku saja, belum pernah. Belum pernah. Sama sekali.
Makanya Mama heran.
“Kamu sih kurang bergaul, Win”.
“Kamu sih kerjaannya bacaaa dan gambaaar melulu. Mana ada laki laki yang tertarik?”
Terus, apa aku harus hobi ke mall, ke caf←, ke pantai, ke gunung, atau mungkin ke kuburan, biar ada laki-laki yang suka? Memangnya sudah pasti bahwa perempuan yang hobinya kemana-mana itu, jodohnya datang dengan cepat?
Bukankah jodoh itu tergantung takdir?
Bukankahナ
Bukanナ.
Bukanナ

Jodoh seringkali tergantung luck. Paling tidak, menurutku. Oh, okay, jangan mendebatku, Sejak dulu aku paling malas berdebat, bagiku hobi berdebat hanya akan membuatku jadi seperti para politikus yang hanya bicara tanpa kerja nyata. Ooopsss. No offense ya. Tidak semua politikus begitu kan?

Pada hujan aku berkesah. Pada hujan aku berkisah. Bahwa aku hanya seorang perempuan yang unlucky. Yang lagi lagi tidak terpilih sebagai salah satu mempelai perempuan hari ini, minggu ini, bulan ini, tahun iniナ.
Lalu aku pasrah. Pada hujan aku menangis, dan padanya aku tertawa ketika akhirnya aku menyadari, aku mungkin tak akan pernah menikah.
Dan hidup mulai rumit. Namun hujan tetap setia.

Hidup berjalan terlalu cepat, bahkan berlari. Meninggalkanku yang masih asyik dengan cerita hujan tanpa mau berhenti. Aku menikah dengan seorang laki laki yang datang lewat Mama. Cintakah aku? Entah. Aku bingung. Tak ada gegap gempita rasa atau semburat debar jantung setiap kami bertemu. Pendek kata, ia memintaku menikah dengannya. Anak-anak lahir berurutan hingga genap lima. Aku tenggelam menjadi seorang istri dan ibu yang bahkan tak peduli bahwa dia sebenarnya lulusan S2 Kepustakaan. Aku hilang bentuk.
Lagi-lagi hanya hujan yang setia. Aku menyamburnya dengan bahagia dan sedih yang sama, setiap kali ia turun. Sebab aku masih tak bisa bercerita kepada siapapun, juga kepada suamiku yang sibuk bekerja kian kemari. Aku hanya harus mendengar, mengerjakan, taat dan patuh. Tak ada ruang tersisa untuk diriku sendiri, hingga anakku jelang remaja.
Apa yang tak kusyukuri?
Suami sukses, anak anak pintar dan baik, akuナ.
Hampa. Kosong. Sepi.
Well, ralat. Aku HARUSNYA bahagia. Harus bahagia.

Aku bilang pada hujan, aku mau bahagia. Aku harus bahagia. Apapun yang terjadi.

Suamiku memintaku berpisah dengannya di tahun ke 17 pernikahan kami. Dia pergi untuk perempuan lain, yang lebih baik menurutnya. Aku terdiam. Kupaksa diri untuk menangis. Tak bisa. Sumpah. Aku saja merasa ada yang salah dari diriku sendiri. Bahkan menangsipun aku tak mampu.
Aku ini manusia atau bukan sih?
Bukan. Aku hanya patung atau robot.
Jadi aku tak punya perasaan.
Tak punya perasaan, ya tidak bisa menangis.

Kami bercerai. Aku membawa anak anak bersamaku. Perih. Luka. Ngilu. Tak bisa kunamai lagi. Bahkan saat shalatpun aku tak bisa menangis. Segala wirid dan zikir memenuhi setiap waktuku, jadi aku tak punya waktu mengasihani diriku sendiri, jadi aku tak punya waktu untuk ‘sekedar’ menangis.
Hanya saat hujan datang, aku bergegas menyambutnya. Padanya aku berkisah. Padanya aku berkesah. Padanya aku melabuhkan semua rasa. Aku menangis bersama seluruh tawaku. Aku tertawa bersama segenap tangisku. Hanya dalam hujan.

Dear hujan
Aku hanya seorang anak yang gagal membahagiakan Mamanya. Aku hanya seorang murid yang gagal membuat guruku bangga. Aku hanya seorang istri yang gagal. Ibu yang gagal. Tapi aku tak peduli. Sebab aku hanya manusia biasa. Yang boleh gagal, boleh tidak sesuai dengan apa yang dipikirkan orang lain terhadapku. Aku ナ
Aku lelah menuruti ini dan itu yang harus kukerjakan. Aku lelah dan sering berpikir bahwa aku tak kuat lagi.
Nyatanya, aku masih ada sekarang. Entah sampai kapan aku bertahan. Demi anak-anakkuナ

DHUARRRナ
Kilat dan petir berpadu, menyentakkan lamunanku. Telah basah seluruh tubuh dan bajuku. Terima kasih hujanナ.
DHUARRRナ.

Ada sesuatu yang tiba-tiba memasukiku. Sampai ke dasar dan pusat tubuhku. Aku meringan. Berubah wujud. Hilang. Tanpa bentuk lagi. Selamanya.
Hujan,
Ini pesta terbesarku.

masha

Foto ini entah dari internet yang sudah lamaa sekali saya saved. Maafkan saya…

 
Terima kasih, Hujan. Kausempurnakan hidupkuナ.

Posted in fiksi, Uncategorized | Tagged , , , , | Leave a comment

Ikhtiar Terbaik untuk Hasil Terbaik

Badan lagi sakit itu enggak enak. Mau apa-apa jadi ‘terhalang’ kondisi tubuh. Apa lagi yang bisa dilakukan selain menunda semua pekerjaan dan sabar? Ada salah satu hadits Nabi saw yang mengatakan apabila kita sedang sakit dan bersabar, maka Allah akan menggugurkan dosa-dosa kita. Aamiin… alangkah senangnya. Tuh, betapa Allah selalu memberikan yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya. Lalu bagaimana dengan kita?

Kita, eh saya sih, manusia biasa, yang kadang banyak malasnya, banyak magernya, banyak alasannya untuk menunda sebuah atau beberapa pekerjaan. Hasilnya? Pekerjaan-pekerjaan itu tak jarang tertunda karena sakit, tertimpa jadwal lain yang lebih urgent, atau ya keburu deadline. Jangan Tanya hasil akhir, semua yang dikerjakan dengan terburu-buru kadang hasilnya kurang maksimal.

Contoh urusan seterikaan yang menggunung. Jika dikerjakan di awal hari atau pada hari itu juga, hasilnya enggak akan sebanyak jika ditunda dua atau tiga hari. Bikin mau menangis saja melihatnya. Belum lagi karena kesal, menyeterika dilakukan terburu-buru yang hasilnya tidak rapi, hijab bolong karena disterika terlalu panas, lipatan celana panjang suami dan si sulung jadi kayak wiron kain batik karena berlapis-lapis, dan masih banyak lagi kekecewaan melihat hasilnya.

Padahal kalau mau diteliti lagi, mendapatkan hasil terbaik, bukan hanya harus dilihat waktu mengerjakannya ya. Ada paling tidak dua factor lagi yang harusnya diperhatikan ketika menginginkan hasil yang terbaik. Apa tuuuh?

Pertama, Niat atau the reason. Bagi saya sendiri, niat menghasilkan yang terbaik untuk orang-orang atau makhluk Allah terkasih, akan berbeda banget hasilnya dengan niat untuk ngetop misalnya. Pernah niat bikin semacam Vlog gitu, niatnya biar banyak subscriber Youtube channel saya. Ya untuk dakwah sih sebenernya. Tapi niat buat dapat banyak subscriber itu kemudian lebih berisik ketimbang yang lain. Jadi ya sudahlah tidak jadi. Ngeri saya. Mundur sebelum siap mengerjakannya. Setelah itu saya malah bersyukur karena ternyata saya memiliki sifat enggak pede yang lebih dominan, dan takut dicap songong, sombong, dan sejenisnya. Hahaha ya sudahlah. Mari lupakan.

Terasa berbeda dengan ketika kita menulis untuk mendapatkan uang demi biaya pendidikan anak-anak, demi kelangsungan hidup kucing-kucing di cat-shelter-ku, dan demi berbagi dengan banyak orang yang membutuhkan. Aiih, semangatnyaaa…tak terbendung. Misalnya lho. Eh, sejujurnya bagi saya sih ini lebih pentingggg, ketimbang sekedar mau ngetop. Duluuu….. sih sempat sedikit kepikiran, tapi ya reda sendiri. Sekarang Alhamdulillah, sudah enggak kepikiran.

best2

one of my reason, my son.

best3

my other reason, my cats.

 

Kedua, cara melakukan ikhtiar tersebut sehingga mendapatkan hasil yang terbaik. Dulu saya percaya bahwa dengan kerja keras dan kerja cerdas saja, kita sudah bisa mendapatkan hasil terbaik. Ternyata salah lho, enggak begitu urusannya. Sekarang, siapa yang pegang hasil final kerjaan kita? Kita, boss kita, atau Allah?

Nah. Allah.

Ikhtiarnya harus ditambah. Ikhtiar menurut semua cara yang Allah kasih. Ada ibadah berupa amalan wajib dan sunnah, doa, wirid, zikir, yang tidak putus. Ada berusaha menjauhi apa yang dilarang dan mengerjakan apa yang diperintahkan dan disunnahkan. Ada berbagi, mencoba bertanggung jawab atas urusan orang-orang di sekitar kita yang membutuhkan dan urusan makhluk ciptaan Alla yang lainnya. Termasuk kucinggg tentu saja.

Kata beberapa ustadz, Allah dulu, Allah lagi, Allah terus. Sediakan waktu khusus untuk Allah, maka Dia akan menyegerakan semua permohonan dan keperluan kita.  Ini kerja ikhlas namanya.

best1

Allah… My One and Only…

best4

Salah satu amanah Allah …

 

Jaaadiii…. Ya gitu deh, ini menurut saya lho. Saya juga lagi belajar, tertatih tatih melakukan ikhtiar untuk mendapatkan hasil terbaik, untuk semesta kita, semesta di sekitar kita. Mau belajar bareng? Yuuuk….

Posted in inspirasi, life, love, sikap | Tagged , , | 2 Comments

Friendship, Lost and Found

 

 

Sepanjang tahun 2016, Allah sedang banyak menguji saya. Hal itu buat saya adalah penanda besarnya kasih sayang Allah kepada saya yang kecil dan bukan siapa-siapa ini. Bagi saya, ujian demi ujian juga membuat saya menemukan hikmah lain, yaitu tentang persahabatan. Persahabatan yang ternyata bukan semata ditandai dengan banyaknya menghabiskan waktu bersama, namun lebih kepada ikatan hati yang bersifat ‘tidak terlihat namun terasa’.

 

Selama masa ujian yang panjang itu, saya akhirnya menemukan bahwa persahabatan adalah kesetiaan. Kesetiaan untuk mendoakan dan berharap kebaikan bagi dirinya dan sahabatnya, dimanapun berada, terpisah jarak sejauh apapun. Kesetiaan untuk tidak berprasangka buruk bahkan…setia untuk tidak menceritakan prasangka itu dan keburukan sang sahabat kepada orang lain, atau sahabatnya yang lain. Nah. Ini sama sekali tidak gampang.

 

Makna sahabat juga berarti tidak saling menuntut. Menuntut untuk sering bersama, sering menyediakan waktu dan hal-hal lain yang mungkin karena satu dan lain hal, tidak lagi bisa dilakukan bersama. Dan tidak ngambek jika sahabat tidak lagi bisa menghabiskan waktu bersama, atau banyak menolongnya lagi, bahkan mentraktirnya ini dan itu. Jika kita masih kesal terhadap hal-hal begitu, berarti kita sebenarnya hanya mencari kesenangan dengan menjadi sahabatnya, giliran dia lagi susah, kita menuntut macam-macam dan jelas tidak terpenuhi, maka kitapun kecewa.

 

Sahabat bukanlah dia yang selalu berkata manis, namun dia yang berani berkata pahit, menunjukkan kesalahan kita. Bukan berkata pahit menumpahkan kekecewaannya ketika kita tidak lagi bisa menjadi seperti yang dia lihat dulu, sebelum ujian menimpa.

friend1

Persahabatan bukanlah ‘sama selalu’, namun ‘selalu mencoba menyatukan hati’.

 

Dalam masa ujian ini, akhirnya saya menemukan, sahabat bercahaya seperti pendar bintang di langit, tak selalu terang, tak selalu dekat, namun ada dan terasa. Terasa ada di hati. Jika hati kita sensitif, keberadaannya terasa sekali. Thanks for being a friend, a best friend, buat teman hidup saya dan ada juga seseorang yang telah mengenal saya lama. Tak selalu dekat, tak selalu rukun, namun selalu ada, dalam doa dan saling menguatkan. Dia adalah seorang ibu rumah tangga biasa, dengan 4 anak, tinggal dekat dengan rumah saya, teman menangis dan tertawa. Terima kasih, Mama Ihsan. Setiap kali mendoakanmu, mata saya basah oleh semua pahit-manis yang kita lalui bersama, lima belas tahun belakangan ini.

friend2

Persahabatan adalah proses saling menguatkan

 

Dan, saya punya beberapa sahabat lain, yang saya tahu, cukup membuat saya sedikit kecewa selama masa ujian ini. Dan saya sempat merasa kehilangan mereka, sangat kehilangan. Sebenarnya, kalian tetap sahabat saya, tetap sahabat dari hati. Terima kasih untuk semua yang kalian lakukan selama saya menghadapi ujian. I knew something happened, that you thought that I didn’t know what you did to me. You know, I still be there. I am still here. Kalian tetap sahabat saya.  Ini adalah cara saya memaafkan kalian, in silence.

 

Bagaimana cara saya memaafkan kalian? Saya menjauh sejenak dari kalian, dan berusaha semakin mendekat kepada Sang Maha Dekat. Sejak kecil, Dialah Sahabat Terdekat saya. Tak tergantikan. Dari Dialah, saya mendapatkan kekuatan memaafkan kalian. Dari Dialah, saya diberi kesadaran, bahwa kalian tidak sepenuhnya bersalah. Saya juga bersalah, sebab saya juga hanya manusia biasa. Semoga kalian berkenan memaafkan saya sepenuh hati.

Beberapa kutipan indah tentang persahabatan. Foto dari berbagai sumber.

 

Demikianlah, seperti semua hal di dunia ini, tidak ada yang abadi. Persahabatan, kedekatan, demikian juga kesalahan demi kesalahan, akan pergi bersama waktu. Yuk, sama-sama ikhlaskan. Mari menjadi lebih baik bagi semua orang yang kita kenal. Sebab semua hal di dunia ini, hanya sesaat. Semua akan berlalu, kecuali ketulusan memberi yang terbaik dan memaafkan….

friend13

 

 

This too, pass shall…. Love, friendship, life, and the world….

(Sebuah curhat yang lama ditahan-tahan)

 

Posted in inspirasi, life | Tagged , , , , | 8 Comments

Rumah Tangga Kena Resesi Ekonomi? Ini yang Bisa Mama Lakukan

Harga-harga naik bersamaan, enggak ada yang turun. Sementara pendapatan tetap dari tahun ke tahun. Anak-anak makin besar, jelas pengeluaran bertambah. Apa ya yang harus kita lakukan sebagai mama cantik dan cerdas? Enggak mungkin kita mengompori suami untuk melakukan perbuatan tercela, dimusuhi Negara dan dilarang agama. Sementara kita juga sudah lama berprofesi sebagai mama full time. Terus gimana? Mau melamar kerjaan juga sudah kepentok umur dan bingung gimana pengasuhan anak-anak, karena sejauh ini anak-anak sudah terbiasa ketemu mamanya all day all day, watch them all around… halaah kok jadi nyanyi lagu 90an.

 

Nah, kalau mama mengalami hal seperti itu akhir-akhir ini, pasti pusying dan stress ya Ma? Jangan dulu jedutin kepala ke tembok, Ma. Itu sama sekali enggak menyelesaikan masalah, malah nambah masalah. Iya, kalau langsung rest in peace misalnya. Kalau Mama malah dirawat di rumah sakit dan merepotkan semua orang, apa bukannya nambah masalah?

 

Coba deh, Mama melakukan hal-hal di bawah ini. Ditanggung pas buat solusi menghadapi resesi ekonomi di rumah tangga kita.

  1. Harga-harga kebutuhan naik semua, yuk naikkan pendapatan dengan mencari pendapatan tambahan. Coba gali hobi, bakat dan minat mama. Pasti ketemu. Syaratnya sih Cuma jangan menyerah dan jangan gengsian (makan tuh gengsi, emang dengan gengsi bisa beli makan dan bayar sekolah anak-anak?)

resesi1

Jualan Cilor yuk, Ma?

2.Mencoba mengirit pengeluaran, misalnya dengan menghemat listrik, telpon, air dan kuota internet. Juga memangkas pos beli baju di Olshop, memangkas anggaran ngopi-ngopi syantik jika enggak berhubungan dengan kerjaan Mama. Buat skala prioritas mana keinginan dan kebutuhan. Mana kebutuhan pokok mana yang bisa ditunda.

3.Mencoba melakukan swasembada, sebisa mungkin. Sama aja sih dengan menghemat sebenarnya, tapi ini sedikit ‘lebih ekstrim’. Misalnya mencoba membuat nugget sendiri, membuat baju sendiri, menanam tanaman bumbu sendiri. Ya tapi ketika harga gas naik, enggak mungkin juga menambang gas alam sendiri. Ya kaliii….

4. Mencoba mengurangi anggaran buat asisten. Bisa masak, nyuci, nyetrika, ngurus kucing sendiri? Bagus, berarti sebenarnya Mama enggak butuh asisten rumah tangga. Bisa nyetir atau bawa motor/mobil sendiri? Berarti enggak perlu supir. Bagus juga kalau motor/mobilnya diikutkan transportasi online. Hehehe nambah penghasilan tuh, meski juga sekaligus nambahin kerjaan.

resesi3

Ngurus kucing sambil belajar…dan tepar….

5. Yuk kreatif mendaur ulang semua yang bisa didaur ulang. Baju lama? Bisa diupgrade jadi baju kekinian. Punya tumpukan botol plastic? Bisa dimanfaatkan jadi macam-macam kreasi.

6. Mengurangi les buat anak-anak. Percuma mama lulusan perguruan tinggi, teknik pula, kalau enggak bisa ngajarin anak-anak matematika, kimia, fisika, dan bahasa Inggirs. Mama sudah khatam Quran berapa kali? Enggak kehitung kan? Yuk, ajari anak-anak ngaji tanpa harus memanggil guru les.

mama-papa2

Bebeb ngaji sama ayah dan ibu, enggak usah panggil guru les.

7. Perbanyak silaturahim. Silaturahim memanjangkan rezeki, menambah kesehatan dan masih banyak faedah lain. Ingat jangan terlarut menjadi ajang gossip, pamer, dan malah saling bertukar aura negative.

8. Minta doa orang tua dan perbaiki hubungan dengannya. Insha Allah rezeki akan deras mengalir dan berkah. Manjur banget doa orang tua.

9.Berbagi dengan alam semesta. Misalnya dengan sesama manusia yang membutuhkan, atau ikut gerakan melestarikan alam, atau…memelihara hewan. Insha Allah berkah. Apalagi jika kita ikhlas, insha Allah jadi doa dari semesta untuk kita

resesi2

Doa si Skippy Coco untuk yang menyayanginya sepenuh hati. Ya kan, Skip-skip?

10 .Perbanyak ibadah, terutama ibadah khusus. Bagi Mama yang beragama Islam, mama bisa menambahkan ibadah wajib dengan shalat sunnah, puasa sunnah, memperbanyak wirid dan zikir khusus dan umum, menambah jumlah halaman membaca Quran dan menambah kualitas dan kuantitas hafalan. Insha Allah ya Ma.

11. Mostly, selalu bersyukur dan bersabar, dan…makin bersahabat dengan Tuhan. Ini nih. Yuk berusaha bareeeng.

 

Jadi jangan keburu baper karena boro-boro bisa nabung, ikut asuransi de el el, Ma, karena uangnya selalu habis duluan untuk kebutuhan sehari-hari. Yuk nabung kebaikan saja, Ma. Kita tidak pernah tahu mana kebaikan yang akan mengantarkan kita kepada terkabulnya cita-cita kita. Kita tidak pernah tahu dimana rezeki kita, tapi Tuhan sendirilah yang akan menggerakkan rezeki itu ke kita, ketika kita memantaskan diri untuknya. Setuju Ma? Yukkk semangaaat.

Posted in inspirasi, life, lifestyle | Tagged , , , , , | 8 Comments

Sebuah Tempat Pulang

ira3

At home…safe and warm with you….

Saya adalah makhluk dengan banyak kampung halaman. Sesuai dengan darah ‘blasteran’ yang mengalir di tubuh saya, kampung halaman saya lebih dari satu. Ayah saya keturunan Pontianak-Melayu, dengan banyak saudara yang juga orang Betawi ‘kota’ alias Betawi Menteng. Ibu saya adalah perempuan Sunda-Cirebon-Kadipaten-Majalengka. Suami saya asli Grobogan, Semarang. Saya lahir di Jakarta, di Manggarai tepatnya. Sejak punya anak, saya tinggal di Cinere dan sudah membaur dengan masyarakat Betawi Cinere-Gandul-Limo-Krukut. Orang tua saya hingga sekarang bermukim di daerah Cipete, Jakarta Selatan. Jadi, mana kampung halaman saya sebenarnya? Entahlah.

Definisi kampung halaman bagi saya, dengan segala keribetan ini, jelas menjadi ‘bukan tempat lahir’ karena saya lahir di Manggarai dan sekarang tempatnya kayaknya sudah jadi Mall deh. Enggak mungkin, saya lebaran pulang ke sono. Buat sekedar jalan-jalan dan ngopi-ngopi cantik sih mungkin ya. Saya juga enggak mungkin pulang ke salah satu kampung halaman orang tua saya, sebab orang tua saya malah mukim di Jakarta. Hahaha, jadi sedemikian kusyutnya kampung halaman di benak saya.

Akhirnya, kampung halaman saya adalah sebuah tempat dimana saya selalu merindukannya di ujung hari, terutama setelah saya bepergian wara wiri kesana kemari. Kampung halaman saya adalah rumah yang saya diami sekarang bersama suami, ketiga anak lelaki saya, dan kelima kucing saya. Sebuah rumah sederhana yang sudah lumayan tua, cukup banyak masalahnya (dari mulai bocor, pintunya rusak, catnya terkelupas, hingga rayap yang nyaris merusak foto keluarga, dan…pohon kersen yang tetiba menyeruak tanpa izin di pagar tembok belakang… dan kami sedang berusaha sedikit demi sedikit untuk menyelesaikan masalah demi masalah tersebut), namun selalu membuat saya merasa tercukupi dan terberkati di sini.

kampung1

Home…(bukan rumah saya lhoo ini). Photo from Ray Pompilio, Through My Digital Eye

Setiap ujung hari, rasa syukur saya membuncah menemukan seluruh anggota keluarga lengkap ada di dalam rumah kami. Suami, ketiga anak, dan kelima kucing. Satu saja belum ada, saya akan mencarinya terus dan mendoakannya agar segera tiba dengan selamat. Sebuah kampung halaman kecil bernama rumah, rumah dalam konteks fisik dan spirit yang membuat kami merasa aman dan nyaman di dalamnya. Kalau sudah begini, rasanya enggak perlu rumah segede gaban yang ada tangganya, yang ada pemanas airnya, dan yang ada home teaternya (((home teaterrr))) ….aaaaaa…jadi ingat seseorang yang begitu memaksanya membeli perangkat ini, padahal…aaah sudahlah….

Cukuplah bagi saya, kampung halaman ini berisi kasih sayang, saling mendukung, dan suara ayat-ayat Allah. Cukup bagi saya di dalamnya selalu ada semangat saling berlomba dalam kebaikan dan ketaatan. Cukup bagi saya, di dalamnya ada semangat mencintai ilmu. Kampung halaman yang penuh dengan buku dimana saya begitu mencintai membaui wangi kertas dan buku.

kampung2

Books, coffee or tea…heavenly…. Photo from clipzine.me

Kalau sudah begini…sejauh kaki melangkah, ujungnya selalu ada kerinduan untuk segera kembali padanya….. Home. My place in the sun, moon, and the universe…

Posted in inspirasi, life | Tagged , , , , | 9 Comments

Hijaber Sukses, Hijaber Pembelajar

myrep-1

 

Hijaber Sukses, Hijaber Pembelajar

 (Diambil dari buku saya, “My Hijab”, Pastelbooks, 2016)

Manusia pembelajar adalah mereka yang selalu belajar, terus berusaha mempelajari segala sesuatu setiap saat dalam hidupnya, berusaha memperoleh dan menghasilkan hal-hal baru setiap hari dalam hidupnya. Seorang profesional yang ingin sukses juga harus mempunyai mental manusia pembelajar. Dia tidak boleh bosan belajar dan senang mencoba hal-hal baru.

Dalam sejarah kenabian telah dicontohkan bahwa semua Nabi dan Rasul, para sahabat, bahkan hingga anak-anak mereka adalah pembelajar sejati. Anak-anak mereka bahkan sejak dini telah ditanamkan kecintaan belajar. Sebagai contoh, pada masa Nabi saw tak jarang ditemukan para penghafal Quran berusia muda. Iklim belajar itu nyaris merata di semua kalangan, dari para pemimpin hingga anak-anak kecil.

Sahabat Zaid bin Tsabit ra adalah salah satu contohnya. Selain menguasai berbagai bahasa, beliau juga merupakan seorang ilmuwan yang cerdas dan teliti. Ia adalah orang yang berperan dalam pencatatan dan perangkaian ayat-ayat Al Quran sehingga menjadi sebuah buku seperti sekarang.

Berbagai ilmu terus berkembang pada masa kejayaan Islam, sampai sekarang, seperti ilmu astrologi, ilmu kimia, ilmu ekonomi dan ilmu matematika. Pada masa itu lahirlah ilmuwan-ilmuwan yang nama dan karyanya abadi hingga kini, seperti Al Khawarizmi, Ibnu Sina, dll.

Mereka terbiasa belajar sedari kecil. Imam Syafii sebagai contoh, beliau telah hafal seluruh ayat dalam Al Quran di usia 7 tahun. Usamah bin Zaid telah diamanahi memimpin sebuah perang besar di usia 17 tahun. Padahal pada saat itu belum berdiri sekolah dan universitas seperti sekarang. Mereka semua belajar otodidak.

Para tokoh terkemuka di luar Islam juga demikian. HC Andersen adalah seorang penulis kisah-kisah dongeng klasik terkenal. Ia membuat puisi, dongeng, dan drama tanpa ada yang mengajari. Ia hanya belajar dari apa yang ia baca dan ia lihat. Sewaktu kecil, ia senang menjelajahi hutan dan kebun bunga. Terpesona dengan keindahan alam, ia membiarkan imajinasinya berkembang. Kemudian ia menuliskannya menjadi bentuk-bentuk karya sastra yang indah. Karya puisi dan lagunya sudah sangat dikenal kaum bangsawan Swedia sejak ia berusia remaja.

Thomas Alva Edison tidak pernah menerima pendidikan formal. Ia memang sempat bersekolah selama 3 bulan, sebelum akhirnya dikeluarkan. Selanjutnya, ibunya, seorang mantan guru, yang langsung mengajarinya berbagai hal. Selain itu, Edison hanya belajar dari buku-buku. Edison senang mempraktikkan apa yang ia baca, termasuk mempraktikkan percobaan ilmu kimia. Ia tidak putus asa meski seringkali percobaannya gagal, bahkan beberapa kali laboratorium yang ia buat sendiri ikut terbakar.

Ia tidak pernah belajar dari seorang ahli. Boleh dikatakan, satu-satunya ahli yang pernah menjadi tempat ia belajar adalah seorang ahli telegraf.  Ia belajar bagaimana cara menjadi seorang petugas operator telegram. Edison telah melakukan berbagai percobaan dan berhasil menciptakan kurang lebih 120 penemuan. Ia berhasil membumikan teori Newton tentang listrik dan menterjemahkannya menjadi bola lampu listrik yang sangat berguna bagi kehidupan manusia moderen.

Walt Disney juga tidak pernah menerima pendidikan formal dalam bidang menggambar dan animasi. Hanya berbekal pengalaman bekerjanya di biro iklan dan perusahaan film-lah, ia bisa menjadi seorang perintis dalam bidang animasi studio.

Galileo Galilei juga sama sekali tidak pernah bersekolah tinggi. Tetapi ia telah menemukan sebuah teori yang pada saat itu tak terpikirkan oleh ilmuwan lain, bahkan bertentangan dengan faham masyarakat umum saat itu. Galileo berhasil membuktikan faham heliosentris lewat serangkaian percobaan yang ia lakukan secara mandiri. Ia memang seorang pencinta ilmu.

Demikian pula untuk menjadi seorang hijaber profesional yang sukses, tidak selalu dibutuhkan seorang sarjana lulusan Fakultas Ekonomi atau Ekonomi Syariah, atau Fakultas Manajemen. Lulusan manapun dan sekolah apapun bisa, asal ia memiliki kemauan untuk selalu belajar.

Dunia sekarang ini, terlebih di zaman dimana ekonomi syariah berkembang pesat ini, selalu penuh dengan tantangan baru yang menjanjikan. Selalu ada ilmu dan wawasan baru yang menanti untuk dikuasai oleh para hijaber. Dengan rajin mengikuti training, seminar, pelatihan, dan menghadiri forum diskusi dan kajian tentang ilmu yang berhubungan dengan karir dan mknatnya, seorang hijaber akan selalu terpacu untuk belajar dan terus mengembangkan serta menambah ilmunya.

Sebagai seorang profesional, seorang hijaber tidak boleh puas dengan ilmu yang dimiliki. Ia harus mencari dan menggali terus ilmu dan wawasan yang dapat mengantarkannya mencapai tujuan wakaf.

Seorang manusia pembelajar akan memiliki sebagian besar karakteristik di bawah ini:

  1. Selalu berusaha untuk belajar setiap waktu
  2. Bisa belajar dimana saja dan kapan saja
  3. Otaknya selalu aktif mengolah informasi yang dilihat/didengarnya
  4. Selalu tertarik pada banyak hal, terutama hal-hal unik dan baru
  5. Terbuka kepada berbagai pengalaman
  6. Selalu memiliki berbagai pertanyaan
  7. Memiliki penjelasan untuk setiap hal yang dilakukannya
  8. Kreatif dan trampil
  9. Produktif, banyak menghasilkan karya atau gagasan yang orisinil
  10. Memiliki pemikiran dan wawasan yang luas
  11. Luwes dalam berpikir, memiliki berbagai sudut pandang dalam melihat suatu masalah
  12. Merasa tertantang dalam menyelesaikan masalah yang kompleks
  13. Sanggup menjelaskan masalah yang sulit sehingga menjadi mudah difahami
  14. Tertarik untuk mengeksplorasi banyak lingkungan baru
  15. Tidak membatasi diri, selalu tertarik meluaskan pandangan, pengalaman, dan ketrampilannya
  16. Selalu berusaha fokus, memiliki daya konsentrasi tinggi
  17. Memiliki imajinasi yang tinggi
  18. Mampu menguasai suatu masalah dan menanganinya dengan cepat dan tepat
  19. Bisa mengambil kesimpulan secara cepat dan tepat
  20. Jeli dan hati-hati dalam melihat sebuah persoalan
  21. Bisa bertahan berada dalam lingkungan belajar yang tidak nyaman
  22. Memiliki daya tahan belajar yang tinggi
  23. Mampu menyesuaikan diri dengan cepat pada lingkungan baru
  24. Memulai belajar dari yang mudah, terus berlanjut menuju yang sulit
  25. Mencari jawaban yang orisinil untuks etiap hal yang dihadapi
  26. Mandiri dalam belajar
  27. Selalu bisa keluar dari masalah yang sulit sekalipun
  28. Menganggap kesulitan sebagai tantangan dan bukan hambatan.

Sangat banyak karakter yang menandakan seorang manusia pembelajar. Tentunya seorang hijaber yang baik akan berusaha memenuhi standar-standar karakter tersebut untuk meningkatkan perannya dalam mengelola amanah benda wakaf sehingga bisa tercapai tujuannya.

 

Ketika Perubahan Sulit Terjadi : Tantangan bagi Hijaber Profesional

 

Sebelum kita memulai berbicara tentang perubahan yang dimaksud, ada sebuah ilustrasi tentang perilaku makan yang tidak rasional.

Pada suatu hari Sabtu di tahun 2000, sejumlah pengunjung bioskop yang tak menaruh curiga sedikitpun datang ke sebuah bioskop di Chicago untuk menonton sebuah film. Mereka masing-masing memperoleh sebotol minuman ringan dan sekotak popcorn gratis. Mereka diminta untuk tidak langsung pulang seusai pertunjukan, dan diminta menjawab beberapa pertanyaan tentang makanan yang disajikan saat itu.

Ternyata popcorn itu rasanya sangat tidak enak. Sebenarnya, popcorn itu sengaja disajikan dalam rasa yang sudah tidak enak. Popcorn itu dibuat lima hari sebelumnya, sehingga sudah bau dan rasanya juga sudah tidak renyah lagi. Salah seorang penonton belakangan membandingkannya dengan styrofoam, dan dan dua lainnya lupa kalau mereka menerima popcorn itu gratis, meminta uang mereka dikembalikan.

Sebagian penonton menerima popcorn gratis dalam ember kertas berukuran sedang, sementara sisanya menerimanya dalam ember yang berukuran sangat besar, hampir sebesar ember yang digunakan untuk menimba air dari sumur di pedesaan. Setiap penonton mendapatkan bagiannya masing-masing, sehingga tidak perlu berbagi. Peneliti di balik studi itu ingin mendapatkan jawaban: apakah orang yang mendapatkan wadah makanan lebih besar makan lebih banyak?

Ternyata kedua wadah tersebut begitu besar, sehingga tak seorang penontonpun mampu menghabiskan jatah mereka. Maka pertanyaan dalam penelitian itu menjadi lebih spesifik: apakah penerima popcorn dalam ember besar makan lebih banyak daripada penonton yang menerima dalam ember sedang?

Wadah-wadah itu telah ditimbang oleh para peneliti, sebelum dan sesudah popcorn-nya dimakan. Hasilnya sangat mengejutkan: orang yang menerima wadah ember besar makan 53% popcorn lebih banyak daripada penonton yang menerima wadah ember sedang. Ini setara dengan kira-kira 173 kalori dan 21 kali mengambil popcorn lebih banyak.

Brian Wansink, pemrakarsa studi itu, pemimpin Food and Brand Lab di Cornell University, menguraikan hasilnya dalam bukunya “Mindless Eating”, sebagai berikut, “Kami telah menyelenggarakan studi popcorn yang lain, dan hasilnya selalu sama, bagaimanapun cara kami mengubah detailnya. Tidak peduli penonton film itu ada di Pennsylvania, Illinois, atau Iowa, dan tidak peduli film apapun yang sedang diputar, semua studi popcorn kami mengantar kepada kesimpulan yang sama. Orang makan lebih banyak ketika anda memberi mereka wadah yang lebih besar. Titik”.

Tidak ada teori lain yang bisa menjelaskan alasan perilaku ini. Mereka tidak makan untuk mencari kesenangan, sebab popcornnya tidak enak. Mereka juga tidak tergerak oleh hasrat untuk menghabiskan popcornnya, karena wadahnya sama-sama terlalu besar. Hasil; juga tidak berubah apakah ketika mereka sudah kenyang atau sedang lapar. Jawabnnya tetap tidak berubah: wadah besar = makan lebih banyak.

Semua orang menolak hasil kesimpulan percobaan tersebut. Mereka menolak dengan ebrkata, “Hal seperti itu tidak berpengaruh pada diri saya”, atau “Saya tahu kapan saya merasa kenyang”.

Bayangkan, jika ada orang yang menunjukkan kepada kita data studi di atas tanpa menyebutkan ukuran wadah yang berbeda itu. Kita dapat membaca hasilnya dengan cepat setelah melihat begitu banyaknya popcorn yang dimakan oleh sebagian orang, dan sisanya hanya makan sedikit. Dengan mudah pula kita dapat menarik sebuah kesimpulan: sebagian makan dengan sewajarnya, dan sebagian lagi makan dengan rakus.

Seorang pakar kesehatan masayarakat setelah membaca data itu, kemungkinan sekali akan segera merasa cemas soal si Rakus. Kita perlu memotivasi orang–orang ini agar menerapkan kebiasaan makan lebih sehat! Mari kita berupaya untuk menunjukkan kepada mereka bahayanya makan terlalu banyak bagi kesehatan!

Tapi jika anda ingin orang makan popcorn lebih sedikit, jawabannya sebenarnya sederhana sekali. Berikan saja mereka wadah yang lebih kecil. Anda tidak perlu cemas tentang pengetahuan mereka atau kebiasaan makan mereka.

Dapat kita lihat, betapa mudah mengubah masalah perubahan yang sederhana (mengecilkan wadah) menjadi masalah perubahan yang sulit (membujuk orang berpikir secara berbeda). Ini adalah kejutan pertama tentang sebuah perubahan: Yang tampak sebagai masalah pada manusia (people problem) sesungguhnya adalah masalah pada situasi (situation problem).

Ada banyak perubahan dalam kehidupan setiap manusia. Ada perubahan yang besar, ada perubahan yang kecil. Ada perubahan yang sulit dilakukan, ada yang mudah. Tidak semua perubahan besar, sulit dilakukan, demikian juga tidak semua perubahan kecil mudah dilakukan. Masalahnya terkadang bukan terletak pada manusianya yang tidak mau berubah saja, tetapi pada kondisi yang tidak membuat manusia mau berubah.

Sebagai contoh dalam masyarakat tradisional, peruntukan tanah wakaf biasanya berkisar antara dibangunkan masjid, makam, yayasan yatim piatu, atau sekolah. Sebenarnya bisa saja di atas tanah tersebut, dibangunkan masjid yang memiliki ruko-ruko atau aula yang dapat disewakan untuk hajatan. Masalahnya, banyak wakif dan nazhir yang pemikirannya tidak ke sana, mengingat fungsi wakaf sebagai salah satu model pemberdayaan ekonomi masih belum bergaung di masa lalu. Tetapi ketika mereka dikondisikan untuk berpikir ke sana, misalnya dengan mengadakan banyak pelatihan, seminar, dan kursus peningkatan wawasan bagi nazhir, pasti ada beberapa orang nazhir yang akan tergerak. Jadi bukan nazhirnya yang tidak mau berubah. Adakalanya ini dipicu oleh kondisi yang tidak membuat mereka berpikir ke arah perubahan yang lebih baik.

Lalu bagaimana merubah situasi dan kondisi yang tidak mau berubah?

Ini yang akan kita bahas lebih lanjut. Tapi sebelumnya, ada kejutan lagi dari sebuah perubahan. Di bawah ini ada sebuah ilustrasi.

Seorang mahasiswa MIT yang bernama Gauri Nanda telah menemukan sebuah jam yang unik, yang diberi nama Clocky. Jam beker ini mempunyai roda. Jika anda menyetel alarm Clocky pada malam hari, ia akan berbunyi pada pagi hari dan menggelinding ke sana kemari. Ini akan memaksa anda turun dari tempat tidur dan berusaha mengejar Clocky untuk mematikan suara alarm-nya yang ribut. Dengan ini anda akan dibawa sejauh mungkin dari tempat tidur. Unik, bukan?

Hasilnya, 35.000 unit telah terjual dengan harga 50 dollar per buah, hanya dalam dua tahun pertama pemasaran Clocky, itupun tanpa melakukan pemasaran yang maksimal.

Kesuksesan temuan ini mengungkapkan banyak hal seputar psikologi manusia. Intinya adalah sebenarnya kita mengidap skizofrenia. Sebagian dari diri kita, yaitu sisi rasional kita, ingin bangun lebih pagi agar kita mempunyai banyak waktu untuk banyak hal yang bisa kita lakukan sebelum sibuk dengan rutinitas sehari-hari. Sebagian yang lain, yaitu sisi emosional kita, yang ketika terbangun di pagi hari, masih ingin bergelung di dalam selimut dan tidur lagi selama beberapa menit. Jika anda termasuk orang yang mempunyai sisi emosional yang lebih dominan, maka anda adalah calon pembeli potensial jam beker unik tersebut. Mengapa? Sebab alat tersebut sangat membantu anda dalam mengalahkan sisi emosional anda yang dominan, yang seringkali membuat anda terlibat dalam masalah kesiangan, misalnya. Hampir tidak mungkin, anda akan tetap tidur lagi ketika jam beker itu berisik dan menggelinding kesana kemari di dalam kamar anda.

Lain halnya jika anda termasuk orang yang sangat rasional. Dengan mudah anda akan memiliki alarm sendiri di dalam diri anda, sehingga tidak perlu membeli Clocky.

Kadang kita tidak berpikir sejauh ini. Tapi pada dasarnya setiap manusia punya kecenderungan yang tidak hanya satu. Kadang sisi rasionalnya sangat dominan, sementara di lain waktu sisi emosional mengambil alih kendali atas dirinya. Ada sisi yang dominan sekali dalam diri kita, tetapi itu bisa segera tergantikan ketika situasinya mendukung.

Kejutan kedua: pikiran dalam otak manusia tidak hanya satu.

Inilah sebabnya mengapa manusia bisa berubah, atau sebaliknya tidak mau berubah sama sekali. Kadang kedua sisi kepribadian itu saling bertentangan, kadang malah saling menguatkan. Lebih sering mereka memang saling bertentangan.

Pertentangan ini digambarkan dengan sangat jelas dengan analogi yang digunakan oleh Jonathan Haidt, seorang psikolog dari University of Virginia, dalam bukunya “The Happiness Hypothesis”. Haidt mengumpamakan sisi emosional kita adalah Gajah (elephant) dan sisi rasional kita sebagai Pawang (rider). Pawang bisa mengendalikan dan memimpin gajah, tetapi kadang Gajah bisa mempergunakan kekuatannya sehingga pawang terpaksa harus mengalah.

Masalah akan timbul ketika pawang dan gajahnya tidak menemukan kata sepakat. Harus ada yang dikorbankan atau mengalah.

Ada sebuah ilustrasi lagi untuk hal ini, dan akan membuat kita menemukan kejutan ketiga dari sebuah perubahan.

Sekelompok mahasiswa diikutsertakan dalam sebuah percobaan tentang persepsi terhadap makanan. Mereka diminta untuk tidak makan, setidaknya tiga jam sebelum percobaan. Setelah itu mereka melapor kepada laboratorium bahwa mereka agak lapar. Mereka lalu dibawa ke sebuah ruangan yang begitu harum aroma kue coklat yang baru saja selesai dipanggang. Di meja ada dua mangkok, yang satu berisi kue coklat yang begitu menggoda, dan yang satu lagi berisi lobak merah, makanan kelinci.

Setengah dari peserta diminta makan 2-3 potong kue coklat dan permen, sementara sisanya hanya boleh makan lobak merah. Sementara mereka makan, para peneliti meninggalkan ruangan dengan maksud agar mereka tergoda. Para peneliti itu ingin agar para pemakan lobak tergoda oleh kue coklat. Tapi hingga selesai, tak ada seorang pemakan lobakpun yang berusaha meminta kue coklat. Ini contoh ketika tekad sedang bekerja.

Tak lama setelah itu, datang beberapa peneliti lain, yang tampaknya tidak berhubungan dengan para peneliti pertama. Mereka meminta mahasiswa-mahasiswa tersebut memecahkan sebuah teka-teki sulit tentang bangun geometris yang membuat mereka harus berkali-kali mengulang mengerjakannya. Mereka diberi kertas yang banyak sekali agar mereka bisa terus mencobanya. Teka-teki tersebut ternyata memang dirancang untuk tidak bisa dipecahkan. Para peneliti ingin mengetahui, berapa lama para mahasiswa itu bertahan dalam mengerjakan soal yang sulit dan menyebalkan itu sebelum akhirnya menyerah.

Hasilnya adalah sebagai berikut:

Mahasiswa yang makan kue coklat mengerjakan soal tersebut selaam 19 menit melalui 34 kali upaya coba-coba. Dan, mahasiswa pemakan lobak menyerah hanya dalam 8 menit menxoba dengan mengulang sebanyak 19 kali. Mengapa mahasiswa pemakan lobak ternyata lebih mudah menyerah?

Jawabannya sangat mengejutkan; mereka kehilangan kendali diri. Dalam studi-studi seperti ini, psikolog menemukan bahwa kendali diri adalah sumber yang bisa habis. Mahasiswa pemakan lobak telah menggunakan sebagian besar kendali diri untuk menahan godaan terhadap kue coklat. Jadi ketika dihadapkan pada soal yang sulit tersebut, gajah-gajah dalam diri mereka sudah lelah dan mengomel karena merasa soal itu terlalu sulit. Akibatnya pawang-pawang juga tidak memiliki kendali untuk gajah-gajahnya lebih dari 8 menit. Sementara itu, mahasiswa yang makan kue coklat memiliki pawang-pawang yang masih segar sehingga masih bisa mengendalikan gajah-gajah mereka selama 19 menit.

Ini memang bukan kejutan dalam sebuah perubahan, tetapi sebuah poin penting: kendali diri adalah sumber yang bisa habis.

Ini juga yang menjadi sebab mengapa dalam melakukan sebuah perubahan, atua dalam proses mencapai keinginan untuk merubah sebuah kondisi, seorang manusia dituntut untuk menyeimbangkan gajah dan pawangnya. Mengatur strategi agar tak kehabisan kendali diri sementara jalan masih panjang adalah sebuah ketrampilan yang harus dikuasai oleh seorang profesional yang ingin melakukan banyak perubahan ke arah yang lebih baik.

Masih ada satu ilustrasi lagi yang semoga akan memperkaya daya analogi kita sebagai nazhir dalam merancang sebuah perubahan.

Dua orang peneliti bidang kesehatan, Steve Booth-Butterfield dan Bill Reger, yang juga merupakan guru-guru besar di West Virginia University, sedang memikrkan cara untuk membujuk orang agar mau makan makanan yang lebih menyehatkan. Dari penelitian sebelumnya, mereka tahu kalau orang lebih mungkin berubah ketika mereka merasa sangat jelas dan faham tentang perilaku baru yang diharapkan terhadap diri mereka. Tetapi sayangnya, ini tidak berlaku untuk soal makanan sehat.

Ada beberapa pertanyaan sehubungan dengan hal ini. Dari mana kita harus mulai? Makanan apa yang tidak boleh lagi atau malah harus mulai dimakan sekarang? Haruskah mereka mengubah kebiasaan makan waktu sarapan, makan siang, dan makan malam? Di rumah atau di restoran?

Begitu banyak cara tentang makan makanan yang sehat, apalagi bila meneliti kebiasaan makan orang Amerika. Rata-rata orang Amerika suka sekali minum susu. Seperti diketahui, susu adalah sumber kalsium yang besar, sekaligus merupakan sumber lemak jenuh. Kemudian, perhitungan-perhitungan membuat kesimpulan yang luar biasa: andai saja orang Amerika beralih dari susu fulkrim (whole milk) ke susu skim atau susu 1%, maka pola makan mereka rata-rata akan langsung memenuhi kadar lemak jenuh yang dianjurkan oleh USDA.

Lalu bagaimana anda bisa mengajak warga Amerika mulai minum susu rendah lemak? Anda harus mengusahakan agar susu tersebut berada paling depan dalam kulkas mereka. Mengapa? Karena orang cenderung memakan atau meminum apa saja yang ada tepat di depan mereka! Seluruh keluarag akan meminum susu rendah lemak tersebut sebanyak dan secepat mereka menghabiskan susu fulkrim.

Jadi, anda tidak perlu mengubah kebiasaan minum. Yang justru harus diubah adalah : kebiasaan belanja. Tiba-tiba intervensi menjadi alat yang sangat penting di sini. Ketika kita ingin konsumen membeli susu 1%, , maka lakukanlah intervensi agar mereka membelinya saat mereka berbelanja bahan makanan.

Kedua guru besar tersebut menyusun strategi. Mereka meluncurkan kampanye di dua komunitas warga di West Virginia, dengan menampilkan iklan-iklan singkat di semua media lokal selama dua minggu. Kampanye susu 1% dibuat sangat tegas dan spesifik, tidak malu-malu seperti pengumuman merokok dapat menyebabkan kanker di iklan rokok, misalnya. Salah satu iklan menyebarluaskan fakta bahwa satu gelas susu fulkrim memiliki kandungan lemak jenuh setara dengan lima kerat daging babi. Dalam sebuah konferensi pers, para peneliti itu menunjukkan kepada para wartawan setempat, sebuah tabung penuh lemak yang setara dengan kadar lemak dalam dua liter susu fulkrim. Reaksi para gajah di kepala para wartawan, mereka cenderung terkejut dan berkata, “Wah, banyak sekali!”

Kedua peneliti itu kemudian memantau data penjualan susu di delapan toko di kawasan intervensi tersebut. Sebelum kampanye, pangsa pasar susu rendah lemak 18%, sesudah kampanye meroket menjadi 41%, dan enam bulan setelahnya stabil di angka 35%.

Ini mengantar kita ke bagian akhir pola yang mencirikan sebuah perubahan yang sukses: jika ingin orang berubah, anda harus memberikan arahan yang jelas. Jika misalnya, anda menghimbau orang agar hidup lebih sehat, akan banyak tafsiran yang dapat dibuat untuk itu. Misalnya, mana yang harus saya dahulukan; berolahraga untuk mengimbangi kebiasaan saya minum es krim ataukah mengurangi minum es krimnya dulu? Jadi, jika anda ingin orang hidup lebih sehat, jangan hanya katakan “jalanilah kehidupan yang sehat”, tapi anda bisa mengatakan secara lebih jelas, “Kalau belanja makanan, beli susu 1%, dan anda akan lebih sehat”. Ini adalah kejutan dalam perubahan: Yang tampak sebagai hambatan seringkali merupakan ketidakjelasan.

 

Dalam hal ini, setelah melihat ketiga ilustrasi tadi, dapat disimpulkan ada tiga kerangka kerja yang perlu diperhatikan seorang profesional yang ingin melakukan berbagai perubahan, demi peningkatan hasil. Ketiga kerangka tersebut adalah:

  1. Mengarahkan sang pawang. Yang tampak sebagai hambatan, seringkali merupakan ketidakjelasan. Ingat ilustrasi tentang kampanye susu 1% tadi. Jadi, berilah arah sejelas-jelasnya tentang apa yang anda inginkan dan dengan cara apa. Mulailah dengan menemukan titik terang yang berkaitan dengan faktor-faktor yang telah ada sebelumnya, misalnya kebiasaan masyarakat setempat, fakta-fakta ilmiah dll. Setelah itu uraikan langkah-langkah kritis, misalnya dengan melakukan pendekatan perorang atau kampanye melalui media lokal. Terakhir tunjukkan kemana arah yang dituju, bersama dengan upaya mengurai langkah-langkah kritis yang dilakukan. Hal ini dapat dilakukan pada masyarakat di wilayah yang belum faham terhadap wakaf produktif, misalnya. Untuk ini diperlukan pula gerakan melalui media dan menarik perhatian masyarakat melalui tokoh-tokohnya. Jangan lupa gunakan pesan yang sejelas mungkin.
  2. Memotivasi Sang Gajah. Yang tampak sebagai kemalasan, seringkali merupakan bentuk ketidakberdayaan. Ingat tentang eksperimen kue coklat dan lobak. Yang paling penting di sini adalah menggugah perasaan orang lain, misalnya dengan menyentuh sisi kemanusiaan masyarakat untuk berwakaf bagi peningkatan ekonomi rakyat miskin. Lalu sederhanakan perubahan, misalnya dengan menyediakan loket/gerai khusus bagi mereka yang akan ikut berwakaf. Terakhir adalah dengan mengembangkan personil baik kuantitas maupun kualitas, sehingga akan memperbaiki mutu pelayanan bagi yang akan berwakaf.
  3. Melicinkan jalan. Yang tampak sebagai masalah pada manusia sesungguhnya seringkali merupakan masalah pada situasi yang sedang mereka hadapi. Ingat kasus popcorn basi pada penonton bioskop. Ini bisa dilakukan dengan mengotak-atik lingkungan sekitar anda, lalu membangun kebiasaan yang baru, dan menggiring kawanan obyek untuk menempuh ‘jalan yang baru’.

 

Profesi apapun sangat memungkinkan anda untuk berada dalam situasi yang sulit dirubah, meskipun anda sangat ingin melakukannya. Mulailah dengan kreativitas anda yang tak terbatas untuk melakukan 3 hal ini serempak atau secara bertahap. Profesionalisme anda diuji untuk menghadapi hal-hal seperti ini dalam hampir setiap situasi dan apapun profesi anda. Dan, masyarakat masih memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap seorang hijaber.

Posted in buku, inspirasi, life, muslimah, perempuan, Uncategorized | Tagged , , , , , , , , | Leave a comment

Malam Minggu Bersama Olahan Ikan Tuna Karya Ayah

gizi1

 

Anak-anak saya selalu menantikan saat ayahnya libur kantor. Bukan hanya karena bisa bermain dan jalan-jalan bersama ayah, namun juga karena ayah pintar memasak. Selalu ada saja kreasi resep karya ayah yang diluncurkan pada malam minggu atau malam senin, dan langsung jadi hidangan favorit seluruh keluarga. Berbeda dengan saya yang kalau memasak harus ada patokan resep tertentu, ayahnya anak-anak lebih kreatif. Tinggal melongok isi kulkas, dan taraaa…jadilah kreasi masakan karya chef Ayah.

Seperti kreasinya kali ini yang diilhami oleh sekaleng ikan tuna olahan yang dikemas di dalam kaleng bermerek Isabella. Isabella adalaaah kisah cintaaa…. Astagah, kenapa malah nyanyi? Si Isabella ini didapat ayah sewaktu berdinas ke Minahasa beberapa waktu yang lalu. Dia adalah pecinta ikan, demikian pula saya dan anak-anak. Maka dia membeli beberapa kaleng Isabella dan dibawa sebagai oleh-oleh untuk kami di rumah.

Oh ya, ayah bercerita kalau di Minahasa dan daerah-daerah tepi pantai yang dia kunjungi selama berdinas, banyak memiliki kekayaan kuliner hasil laut yang enaknya luar biasa. Tidak hanya ikan, tapi juga udang, lobster, dan aneka siput atau kerang. Ayah tidak suka kerang, sebaliknya dengan saya, pecinta kerang garis keras. Sampai-sampai mbak warteg sebelah hafal banget kesukaan saya itu.

Baiklah, kita kembali kepada Isabella. Jadi si Isabella yang isinya ikan tuna ini dicampur di dalam minyak dan air serta bumbu, baru dikemas di dalam kaleng sebesar kaleng sarden. Nah, ayah mengolahnya dengan mengeringkan minyaknya, baru kemudian ikan tuna yang sudah setengah suwiran itu diolah untuk berbagai kreasi makanan.

Kali inipun dia mengolahnya dengan menambahkan dua buah tahu kuning dan tiga butir telur. Tahunya dia potong halus, jangan dihancurkan. Telur dikocok lepas. Kemudian tahu, telur, ikan tuna, dan boleh juga diberi irisan selederi dan daun bawang, dibumbui seperti bumbu telur dadar, yaitu bawang putih, garam, lada dan pala. Semua dicampur rata dan kemudian didadar di Happycall.

Hasilnya? Luar biasaaaa. Ikan tuna nya memberi rasa gurih di telur dadar tahu. Kata ayah, biar tambah enak, tunggu sampai pinggir-pinggir telurnya kering dan kayak ada selaput tipis. Praktis dan mudah banget kan caranya? Cocok sekali untuk sarapan. Tapi kali ini kami menyantapnya pada makan malam, ditemani cah kangkung terung sosis yang juga kreasi ayah. Chef ayah memang keren deh.

 

Kreasi lain dari dadar tuna Isabella tadi, bisa juga tahu diganti dengan mie, atau macaroni, atau pernah juga spaghetti. Untuk penyuka pedas, bisa tambahkan irisan cabe ke dalam adonan. Penyuka sayur bisa menambahkan aneka sayuran seperti cincangan brokoli, atau irisan halus bayam ke dalam adonan. Proses memasaknya juga tidak harus pakai Happycall, dikukus dengan kukusan juga bisa. Tapi nanti hasilnya ya enggak kayak telur dadar, tapi lebih menyerupai skotel.

Syukurlah anak-anak kami bukan anak picky eater. Semua mereka suka dan Alhamdulillah nafsu makannya kayak naga, makanya kami suka menjuluki keluarga kami sebagai keluarga naga. Ikan termasuk salah satu menu favorit kami. Ikan air tawar seperti ikan mas biasanya dipepes. Kadang kami membeli pecel lele, ikan bumbu kuning dan pepes teri saat makan di luar. Untuk ikan laut, kami penyuka gulai kepala ikan kakap, ikan salmon yang diformulasikan di dalam sushi, seperti salmon makki, salmon sushi roll, rainbow sushi dan sejenisnya. Ikan dori yang digoreng tepung atau dibumbui lada hitam juga favorit kami. Cumi padang, cumi isi tahu adalah menu kesukaan saya, sementara anak-anak lebih suka cumi goreng tepung atau calamari. Kalau ayahnya anak-anak, sudah tidak boleh makan cumi dan udang. Ehm…saya juga sih sebenarnya.

Kembali pada ikan tuna yang disukai semua anggota keluarga di rumah (termasuk lima ekor kucing saya), ternyata memiliki nilai gizi dan nutrisi yang sangat tinggi. Ikan tuna yang berwarna putih memiliki kandungan protein yang lebih tinggi dari ikan tuna yang berwarna merah. Ikan tuna yang paling banyak mengandung gizi dan nutrisi terdapat pada ikan tuna jenis Skyjack yang banyak terdapat di perairan Indonesia. Ikan tuna tergolong jenis scombrid yang sangat aktif dan menyebar di perairan oseanik hingga ke dekat pantai. Migrasi kelompok ikan tuna di perairan Indonesia mencakup wilayah perairan pantai, territorial dan Zona Eksklusif Ekonomi (ZEE) Indonesia.

Ikan tuna termasuk ke dalam warga Thunus, terdiri dari macam-macam jenis yaitu Mandidihang (Thunus albacores), Mata Besar (Thunus obesus), Abu-abu (Thunus tonggol), Tongkol (Euthinnus afinis), Albakora (Thunus allalunga), dan sirip biru (Thunus thymus). Ikan tuna adalah perenang cepat , bisa mencapai kecepatan 70 km/jam dan termasuk hewan berdarah panas.

Daging ikan tuna terdiri dari bagian yang putih dan yang merah. Daging merah yang menempati 1/6 bagian tubuh ikan tuna mempunyai kandungan mioglobin yang tinggi, yang diimbangi dengan banyaknya jaringan pengikat dan pembuluh darah. Sementara daging putih mengandung berbagai jenis protein berkualitas tinggi.

 

 

Salah satu cirri ikan keluarga scambroidea yaitu memilki kandungan asam amino bebas histidin yang tinggi. Pada saat penangkapan jika tidak ditangani dengan tepat, maka histidin akan diubah menjadi senyawa toksik yang disebut histamine, yang dalam jumlah tertentu dapat menyebabkan semacam alergi.

Tuna kalengan banyak dianjurkan untuk diet karena mengandung protein tinggi dan mudah disiapkan (tepuk tangan yang meriah untuk…Isabella adalaaah… hissshh). Tuna merupakan ikan yang berminyak dan karena itu mengandung vitamin D yang tinggi. Minyak tuna kalengan (Isabellaaa…. Ya ibu tiriiii…. Apaaan sih???), mengandung Adequate Intake (AI) vitamin D untuk bayi, anak-anak, laki-laki dan perempuan berusia 19050 tahun sebanyak 200 UI. Tuna kalengan juga dapat menjadi sumber yang baik dari asam lemak omega 3 yang kadang berisi lebih dari 300 mg persajian.

Ada beberapa manfaat ikan tuna bagi kesehatan, yaitu :
1. Merupakan sumber protein yang baik bagi tubuh
2. Mencegah stroke
3. Membantu mencegah tekanan darah tinggi
4. Menurunkan kadar trigliserida
5. Baik untuk kesehatan jantung
6. Mencegah atau mengurangi obesitas
7. Memperbaiki sistem imunitas tubuh
8. Merupakan sumber vitamin B
9. Mencegah kanker.

Hebat banget ya manfaat ikan tuna bagi kesehatan kita. Dan bersyukurnya kita karena ikan tuna banyak sekali terdapat di perairan Indonesia. Itu sebabnya saya ingin sekali mengenal lebih jauh keragaman dan khasiat kekayaan laut Indonesia dalam program Jelajah Gizi. Program Nutrisi untuk Bangsa dari Sarihusada kali ini memang pas banget mengangkat Jelajah Gizi Minahasa yang kaya dengan hasil laut, termasuk ikan tuna. Nanti pingin borong Isabella lagi ah… Aamiin…

Referensi :
Indonesia-mania.blogspot.co.id
Gizinutrisi.blogspot.co,id
Manfaat.co.id/manfaat-ikan-tuna

gizi7

 

Posted in food, kesehatan, kuliner, pangan | Tagged , , , , , , , , , , , , , | 4 Comments

Girl Power dalam Buku-Buku Saya

Bagi saya, perempuan adalah makhluk ciptaan Tuhan yang indah dan kuat. Bukan hanya kuat secara fisik sebab ia dikaruniai tugas mulia, yaitu mengandung, melahirkan, sekaligus merawat anaknya, yang kelak menjadi penentu peradaban. Untuk melengkapi tugasnya itu, perempuan juga diberi kekuatan secara psikologis sehingga mampu menerima beban yang simultan dalam perannya yang banyak itu. Luar biasa kan jadi perempuan itu?

 

Itu sebabnya dalam setiap buku saya, yang sampai saat ini, baru berjumlah 43 buku, dimana 22 diantaranya novel, banyak berkisah tentang perempuan-perempuan tangguh, the Lady who has a girl power, bukan powerpuff girl lho ya. Secara konsisten, saya berkisah tentang bagaimana perempuan dengan segala feminitasnya mampu melakukan hal-hal yang amazing. Dalam novel terbaru saya, Cinta dalam Semangkuk Sop Kaki Kambing, saya bercerita tentang Stephanie yang berani memilih jalan hidupnya sendiri, meski dia dihadapkan pada keinginan orang tuanya yang sulit ia tentang. Secara terselip, saya juga berkisah tentang Enyaknya Awy, seorang perempuan Betawi keturunan Arab, yang sekolahnya tidak tinggi, namun mampu menjadi penyeimbang bagi kekerasan watak sang suami, sekaligus mampu menjembatani kekakuan suaminya terhadap anak-anak dan saudaranya. Ada juga tokoh Grace yang berani memilih menjadi isteri seorang pejuang meski sebenarnya ia dibesarkan dalam keluarga ningrat yang kaya raya.

 

Novel saya yang ditulis duet dengan seorang penulis senior, Eni Martini, yang berjudul “Sunyi” menggambarkan tiga perempuan yang kuat menahan beban kehidupan yang menempatkan mereka pada situasi yang bukan jadi pilihan awal mereka. Ada Mala yang berani menolak dijadikan isteri kedua, Melati yang berani bertahan dalam kesunyian rumah tangganya, dan Soraya yang dalam kelemahlembutannya memilih bersikap ketika suaminya hendak menikah lagi. Ada lagi novel saya yang pernah memenangkan award sebagai Novel Terbaik 2014 versi UNSA Award, judulnya “Home”, menngisahkan Truly, sang istri dan menantu riang gembira, ceria dan suka menolong, berhasil mencairkan hubungan kaku antara suami dan ayah mertuanya. Truly dengan ketulusan dan kepolosannya justru menguatkan orang-orang di sekelilingnya ketika hidup menjadi getir. Ada lagi sebuah buku saya, nonfiksi motivasi, judulnya “My Hijab” yang berusaha menjabarkan hijab dalam sudut pandang saya, yang bukan sebatas trend fashion, namun lebih dari itu merupakan sebuah sikap dan ketegasan pandang terhadap cara beragama dan cara menjalani kehidupan.

 

Mengapa saya konsisten menulis tentang Girl Power? Sebab saya perempuan. Sejatinya, seorang perempuan, adalah dirinya yang satu, yang hanya dimiliki Tuhannya dan dirinya sendiri. Dia ada untuk menguatkan dan juga, pada waktunya, dikuatkan oleh orang-orang sekitarnya. Dia adalah sama dengan laki-laki, hamba Tuhan yang punya kewajiban melakukan yang terbaik untuk dunia dan afterlife-nya kelak. Perempuan selalu punya kekuatan untuk menjadi lebih baik. Kekuatan itu ada dalam dirinya, Maka tidak salah ketika Tuhan menitahkan para perempuan mengambil demikian banyak peran. Sebab ia mampu, sebab ia punya kekuatan dari dalam dirinya.

 

So, Ladies, keep smart, keep being tough, keep shine… coz you are amazingly and beautifully strong enough to be your best.

 

Terus, setelah ini, apakah saya masih akan tetap setia menulis tentang perempuan dan The Girl Power-nya? Tentu saja, insha Allah.

 

And please meet ms. Primadita, seorang sister yang menginspirasi muslimah muda Indonesia dengan kiprahnya yang sebagian pemikirannya bisa kamu baca di sini nih.

Posted in beauty, buku, inspirasi, life, menulis, muslimah, perempuan | Tagged , , , , , , , | 5 Comments

#MudaBikinBangga Sebab Berani Beda

Masih ingat enggak, waktu kecil dulu kalau ditanya cita-cita? Jawaban paling favorit adalah dokter, guru, pilot, insinyur, polisi dan tentara. Meski enggak tahu-tahu amat detailnya profesi tersebut, namun tetap saja sebagian besar dari kita menyebutnya sebagai cita-cita. Artinya memang itu mindset yang mainstream bagi anak-anak zaman dulu yang dibesarkan di iklim sosial masyarakat, bahwa yang namanya profesi itu ya yang bekerja di tempat tertentu dan digaji tetap. Dokter bekerja di rumah sakit dan digaji setiap bulan. Guru mengajar di sekolah dan diberi gaji setiap bulan. That’s all. Jadi kalau ada anak-anak yang cita-citanya antimainstream dianggapnya aneh. Dulu cita-cita saya jadi penyiar radio biar bisa dengar music sepanjang hari, habis saya ditertawakan dan dianggap aneh oleh sebagian besar teman. Keluarga sayapun demikian.

 

Perjalanan hidup mengantarkan saya dan dua dari tiga anak saya menjadi anggota komunitas Homeschooling. Di sini kami belajar bahwa hidup itu sendiri adalah sumber ilmu, bahwa belajar bisa dimana saja dan kapan saja, oh juga tentang apa saja. Dan… kita bebas menjadi apa sepanjang itu membawa kemanfaatan dan kita happy menjalaninya. Wow.

 

Bertemulah saya dengan anak-anak istimewa. Pemuda pemudi cilik yang berani speak up tentang cara belajar mereka yang antimainstream dan mau jadi apa mereka kelak. Saya juga bertemu Bunda-bunda juga Panda-panda mereka yang berusaha membebaskan pikiran mereka dari keberbedaan anak-anaknya dari mereka. Maklumlah, sama seperti saya, mereka juga adalah produk pendidikan konvergen dimana yang mainstream berarti yang baik dan benar. Perlu keluasan pandangan untuk menerima kenyataan bahwa zaman telah berubah dan anak-anak menjadi produk zaman yang mencengangkan.

 

Bersama mereka, saya menemukan keajaiban para pemuda pemudi cilik yang membanggakan itu. Saya kebetulan menjadi coach mereka untuk Club Menulis. Wow… saya selalu takjub. Ini adalah kelas menulis paling ajaib dan mencengangkan yang pernah saya pegang. Hanya dalam hitungan hari, mereka membuat blog. Dan mereka konsisten untuk mengisinya. Mereka bercerita tentang banyak hal, dari keseharian dan kegiatan favorit, seperti melakukan eksperimen sains mandiri, memelihara kucing, membuat bolu goreng, hingga yang filosofis seperti tentang makna sujud. Ada juga yang sangat psikologis seperti perasaannya ketika adiknya sempat hilang di sebuah acara, dan kerinduan kepada ayahnya yang sedang melanjutkan studi jauh di seberang benua.

Serunya Komunitas #MudaBikinBangga anak-anak Homeschooling KSuper Depok

 

Yang sangat menakjubkan juga adalah ketika mereka bicara tentang cita-cita. Benar-benar yang #MudaBikinBangga. Ada yang bercita-cita menjadi chef, movie maker, pemilik homeschooling alam, homesteader, dan masih banyak lagi. Ada yang sekarang sudah merintis belajar tentang homesteading, menghafal Quran, dan bahkan ada yang sudah serius menekuni astronomi dan bird-watching. Padahal usia mereka baru berkisar antara 7-13 tahun. Luar biasa. Dengan metode homeschooling, mereka tidak hanya asal menyebut cita-cita, tapi serius belajar untuk mewujudkannya.

 

Anak-anak homeschooling itu yang #MudaBikinBangga, berani berbeda demi cita-cita unik mereka di masa depan. Berani menempuh sistem belajar yang berbeda, berani dianggap aneh oleh anak-anak lain sebab dikira ‘tidak sekolah’, berani jalan terus demi cita-cita yang mungkin hari ini dianggap aneh, namun di masa depan, inilah profesi yang bisa mengukir nama harum anak bangsa Indonesia di mata dunia.

 

Tiba-tiba saya merenung, andaikan saya ada di zaman sekarang dalam usia sebelia mereka, pasti cita-cita saya jadi penyiar radio dan penulis tidak jadi bahan tertawaan. Dan tiba-tiba saya bangga sekali pada mereka; Karin, Alia, Liv, Suhaib, Wafa, Asiah, Maryam, Ceca, Syabil, Atala, Nofail, Naufal, Pia, Haqi, Mumtazah, Kayfa, Ikhwan, Aziz, Fathi, Kayla, Nayla, Belva, Cheraman, Babalou, Ahya, dan semuanya. Tetap jadi homeschoolers yang kelak bisa memimpin Indonesia dengan kreativitas dan kebaikan akhlak ya Nak. Jangan lupa terus update dengan semua perkembangan dunia, termasuk ilmu pengetahuan dan teknologi. Kita sekarang bisa dengan mudah mengupdate semua itu lewat satu aplikasi, namanya Kurio, aplikasi berita terkini yang bisa langsung diunduh di Playstore. Sesuai semboyannya ‘selalu lebih tau’, Kurio akan membantu kita lebih siap menghadapi perkembangan terkini dunia.

 

Posted in education, Home Schooling, inspirasi, life | Tagged , , , , , , , | 4 Comments