7 Alasan Mengapa Anak Indonesia Wajib Nonton “Jembatan Pensil”

JP3

 

Akhir-akhir ini dunia film Indonesia tampaknya dikuasai film bergenre komedi, romantis, dan…horror. Sampai bosan rasanya mengamati poster film-film yang tayang tiap harinya di bioskop. Padahal saya, selaku emak-emak homeschooling, butuh sekali film anak yang mampu membantu membangun karakter positif anak, menyemangati anak untuk belajar dimana saja, dan sekaligus mengajarkan mereka banyak hal tentang kehidupan berkebangsaan. Hitungan saya, sepanjang tahun 2017 ini baru ada dua film anak yang saya anggap layak tonton bagi anak-anak usia SD, seperti kedua anak saya yang menjalani homeschooling.

Beruntung saya baru-baru ini ditawari seorang sahabat untuk ikut hadir di Gala Premier sebuah film anak (semua usia sih kayaknya) yang berjudul “Jembatan Pensil”. Sebelumnya sudah lihat iklan eh trailer film ini saat menonton sebuah film Indonesia di Plaza Depok XXI. Waktu itu saya membatin, kayaknya nih film wajib deh ditonton. Eh, Alhamdulillah malah dikasih kesempatan ikutan Gala Premier-nya di Gandaria City XXI, minggu 3 September 2017.

Ternyata, film yang dibintangi beberapa debutan cilik dan remaja yang sangat berbakat ini, memang enggak salah jadi wishlist tontonan. Berlokasi di Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara (yang belum pernah diangkat di film manapun lho), settingnya sudah bikin jatuh cinta. Pemandangan alam yang indah, perpaduan antara laut (pantai), perbukitan, dan kota kecil serta pedesaan, membuat film ini indah dipandang. Kekayaan budaya asli lewat pekerjaan penduduknya, seperti bertenun, nelayan, dan peternak sapi, digambarkan dengan cukup jelas.

 

 

 

Terus ceritanya bagaimana ?

 

Perjuangan anak-anak usia SD di Kabupaten Muna, yang diwakili oleh Ondeng, Inal, Yanti, Nia, dan Aska, untuk terus mendapatkan pendidikan, meski lewat sebuah sekolah Gratis yang sederhana, yang dibangun oleh Pak Guru, harus selalu diawali dengan ujian yang cukup berat, yaitu melewati sebuah jembatan yang sudah rapuh dan nyaris rubuh, sehingga cukup membahayakan nyawa mereka. Terlebih, diantara mereka sendiri, ada Ondeng yang memiliki ‘keterbelakangan’ dan Inal yang tuna netra, serta kondisi keluarga mereka yang di bawah garis kemiskinan. Namun demikian, mereka tetap menjalaninya dengan gembira dan memaknai persahabatan dengan ketulusan. Mereka semakin senang, karena anak perempuan pak guru yang baru lulus sarjana, Aida, datang dari Jakarta untuk membantu mengajari mereka.

Persahabatan mereka terus berjalan, meski Ondeng sering diganggu Attar yang jahil. Ondeng tetap tidak mendendam, malah ia selalu bersikap baik pada teman-temannya. Di balik kekurangannya, Ondeng memiliki kemampuan menggambar sketsa. Semua yang menarik perhatiannya dituangkannya dalam sketsa, termasuk kehidupan ayahnya sebagai nelayan, dan cita-citanya untuk membangun sebuah jembatan untuk teman-temannya.

Ondeng sangat terpukul ketika ayahnya wafat saat mendapat musibah di laut. Untunglah ada Gading, nelayan muda pembelajar yang juga yatim piatu, yang selalu ikut ayah Ondeng melaut. Gading kemudian berjanji menjaga dan menyayangi Ondeng seperti saudaranya sendiri.

Jembatan itu akhirnya rubuh saat keempat sahabat itu sedang menyeberang, Namun semangat mereka dan Ondeng tidak surut, dengan bantuan Gading mereka terus berjuang dalam berangkat dan pulang sekolah. Sementara itu, Ondeng terus merancang jembatan yang dicita-citakannya dalam bentuk sketsa dan menabung uang pemberian ayahnya untuk membangun jembatan itu.

Aida dan Gading mengajari anak-anak untuk tidak hanya belajar di dalam kelas, namun juga belajar dari alam. Anak-anak yang sudah sedari dulu dekat dengan alam tentu saja sangat senang dengan pengalaman barunya. Oh yaaa, satu saja kekurangan film ini, sosok Gading digambarkan cukup terpelajar, namun nyaris tidak ada satu scene-pun yang menceritakan bagaimana sekilas kehidupannya sebelum ketemu dengan ayahnya Ondeng. Oopss. maafken saya sok tau.

Ondeng sangat kehilangan ayahnya, dan seringkali ketakutan serta merasa sendirian. Dalam ketakutan dan kekalutannya, Ondeng melarikan diri ke laut dengan perahu. Bagaimana nasib Ondeng? Berhasilkah dia menggapai mimpinya membangun jembatan untuk teman-temannya?

 

Tuh kaan, filmnya dramatis bangeeet. Tapi enggak mellow yellow gitu kok. Film ini membalut kesedihan demi kesedihan di dalamnya dengan perpaduan tawa ceria anak-anak yang polos dan pemandangan indah yang tersaji. Jadi, habis nonton film ini rasanya optimis dan happy, meski tetap sedih.

Itu yaaa, para pemainnya keren banget deh. Jempol banget buat Didi Mulya yang sukses bermain sebagai Ondeng, Angger Bayu sebagai Inal, Deden Bagaskara sebagai Pak Mone (ayahnya Ondeng), Kevin Julio (Gading), Andi Bersama (Pak Guru), Alisia Rininta (Aida), dan tentu saja Mbak Mer alias Meriam Bellina (Ibu Farida, ibunya Aida).belum lagi permainan Azka Marzuqi (aska), Permata Jingga (Yanti), Nayla D Purnama (Nia), Vickram Priyono (Attar).

Film yang disutradarai oleh Hasto Broto dan naskahnya ditulis oleh Exan Zen ini memang enggak boleh dilewatkan deh.

 

Jaaadi, menurut saya, paling tidak, ada 7 alasan mengapa anak Indonesia wajib nonton film Jembatan Pensil ini.

  1. Settingnya Indonesia banget, jadi mengajak anak-anak mengenal dan lebih mencintai tanah airnya sendiri.
  2. Mengangkat daerah yang punya potensi wisata alam besar, yaitu Kabupaten Muna. Jadi anak-anak bisa lho merancang daerah ini sebagai tujuan wisata liburan.
  3. Film ini mengajarkan tentang kekurangan yang dimilki tidak harus jadi penghambat cita-cita, dan focus pada kelebihan.
  4. Banyak diajarkan di sini nilai-nilai persahabatan dan ketulusan.
  5. Anak-anak diajak kenal beberapa jenis profesi : petenun, nelayan, peternak sapi, guru.
  6. Sikap Ondeng cs yang tidak minder meski banyak keterbatasan, bisa jadi contoh yang baik bagi anak-anak.
  7. Hubungan ayah-anak yang lekat, seperti hubungan Pak Mone dan Ondeng, serta pak Guru dan Aida, bisa jadi contoh baik untuk ayah-ayah dan anak-anaknya.

 

 

Yuk, atur jadwal buat bisa nonton film bagus ini. Mulai 7 September 2017 sudah tayang di bioskop seluruh Indonesia lho.

Advertisements
Posted in film, Home Schooling, inspirasi, life, Uncategorized | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Wakaf Untuk Kawula Muda (3) : Lebih Dalam tentang Wakaf

Nah, sekarang kita mulai sedikit lebih dalam membahas tentang wakaf ini. Biar nggak pusing, kita bahas sedikit demi sedikit dulu.

Macam-macam wakaf

Bila ditinjau dari segi peruntukan, wakaf dibagi atas dua:
1. Wakaf Ahli
Yaitu wakaf yang ditujukan kepada orang-orang tertentu, satu orang atau lebih, keluarga si waqif atau bukan.
Dalilnya secara hukum Islam dibenarkan berdasarkan Hadits Nabi saw yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, dari Anas bin Malik ra tentang adanya wakaf keluarga Abu Thalhah terhadap kaum kerabatnya.
Di ujung hadits tersebut dinyatakan sebagai berikut:
Aku telah mendengar ucapanmu tentang hal tersebut. Saya berpendapat sebaiknya kamu memberikannya kepada keluarga terdekat. Maka Abu Thalhah membagikannya untuk para keluarganya dan anak-anak pamannya.
Pada perkembangannya, wakaf ahli dinilai kurang bisa dirasakan manfaatnya oleh umum. Apalagi kadang suka muncul pertentangan antar keluarga. Di Mesir, Turki, Maroko dan Aljazair, wakaf jenis ini telah dihapuskan. Menurut pertimbangan dari berbagai segi, wakaf dalam bentuk ini dinilai tidak produktif.

2. Wakaf Khairi
Wakaf yang peruntukkannya secara tegas untuk keagamaan dan kepentingan masyarakat luas. Seperti wakaf yang diserahkan untuk kepentingan pembangunan masjid, sekolah, jembatan, rumah sakit, panti asuhan yatim piatu, dan lain sebagainya.

Syarat dan Rukun Wakaf

Wakaf dinyatakan sah bila telah dipenuhi rukun dan syaratnya. Rukun wakaf adalah:
1. Waqif (orang yang mewakafkan harta)
2. Mauquf Bih (Barang atau harta yang diwakafkan)
3. Mauquf ‘Alaih (Pihak yang diberi wakaf/peruntukan wakaf)
4. Shighat (pernyataan atau ikrar waqif untuk mewakafkan sebagian hartanya).

Syarat Waqif

Orang yang mewakafkan disyaratkan memiliki kecakapan hukum dalam membelanjakan hartanya. Hal ini mencakup 4 kriteria:
a. Merdeka, bukan budak
b. Berakal sehat
c. Dewasa/baligh
d. Tidak berada dalam pengampuan (boros/tabarru’).

Syarat Mauquf Bih

Di sini akan berkaitan dengan dua hal, yaitu syarat sahnya harta yang diwakafkan, dan kadar benda yang diwakafkan.

Syarat sahnya harta yang diwakafkan:
1. Mutaqawwam (segala sesuatu yang dapat disimpan dan halal digunakan dalam keadaan normal/bukan dalam keadaan darurat).
2. Diketahui dengan yakin ketika diwakafkan, sehingga tidak menimbulkan sengketa atau kebingungan. Misalnya jangan mewakafkan sebagian tanah (sebagian yang mana?).
3. Milik waqif.
4. Terpisah, bukan milik bersama.

Kadar Benda yang diwakafkan:
Benda wakaf tak bergerak:
a. tanah
b. bangunan
c. pohon untuk diambil buah/hasilnya
d. sumur untuk diambil airnya.

Benda wakaf bergerak:
a. hewan
Dalilnya dari Hadits yang diceritakan Abu Hurairah ra, “Orang yang menahan (mewakafkan) kuda di jalan Allah, karena imannya kepada Allah dan mengharapkan pahalanya dari Allah, maka makanannya, kotorannya, dan kencingnya dalam penilaian Allah yang mengandung kebaikan-kebaikan” (HR Bukhari).
b. perlengkapan rumah ibadah
c. senjata
d. pakaian
e. buku
f. mushaf
g. uang, saham, atau surat berharga lainnya. Ini yang sekarang dikenal dengan wakaf tunai.

Berhubungan dengan wakaf tunai, ada beberapa pendapat yang bisa kita ambil.
1. Imam Bukhari menyebutkan bahwa Imam Azh Zhuhri (wafat 124H) berpendapat boleh mewakafkan dinar dan dirham. Caranya ialah menjadikan dinar dan dirham tersebut sebagai modal usaha, kemudian menyalurkan keuntungannya sebagai wakaf.
2. Dr. Az Zuhaili juga menyebutkan memperbolehkannya sebagai pengecualian karena sudah banyak dilakukan masyarakat, sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud ra, yang berbunyi, “Apa yang dipandang kaum muslimin itu baik, dipandang baik juga oleh Allah”.

Syarat Mauquf ‘Alaih (Penerima Wakaf)

Wakaf harus dimanfaatkan dalam batas-batas yang sesuai dan diperbolehkan syariat Islam. Pada dasarnya, wakaf adalah amal kebaikan yang mendekatkan diri manusia kepada Tuhannya. Karena itu mauquf ‘alaih haruslah pihak yang berbuat kebajikan. Para ulama fikih sependapat bahwa infaq kepada pihak yang berbuat kebajikan inilah yang membuat wakaf menjadi ibadah yang mendekatkan manusia kepada Tuhannya.

Pentingnya Nazhir Wakaf

Nazhir adalah pihak yang diberi kepercayaan mengelola harta wakaf. Para ulama sepakat bahwa waqif harus menunjuk nazhir, baik perseorangan atau lembaga. Tujuannya agar harta wakaf tetap terjaga dan terurus, sehingga harta itu tidak sia-sia. Kalau nazhir nggak mampu melaksanakan tugasnya, maka pemerintah wajib menggantinya dengan tetap menjelaskan alasan-alasannya.

Syarat moral Nazhir
1. Faham tentang hukum wakaf dan ZIS
2. Jujur, amanah dan adil
3. Tahan godaan, terutama menyangkut perkembangan usaha
4. Pilihan, sungguh-sungguh dan suka tantangan
5. Cerdas spiritual dan emosional.

Syarat manajemen:
1. Punya jiwa leadership yang OK
2. Visioner
3. Cerdas intelektual, sosial dan pemberdayaan
4. Profesional dalam bidang pengelolaan harta.

Syarat bisnis:
1. Mempunyai keinginan
2. Mempunyai pengalaman dan atau siap untuk magang
3. Punya ketajaman untuk melihat peluang usaha seperti seorang enterpreneur.

Hmm… kira-kira siap nggak ya jadi waqif atau nazhir?

Posted in islamic, life, lifestyle, syariah, Uncategorized | Tagged , , , , , | Leave a comment

Wakaf Untuk Kawula Muda (2) : Sejarah Wakaf

Masa Rasulullah saw

Wakaf disyariatkan setelah Rasulullah saw hijrah ke Madinah yaitu pada tahun 2 Hijriyah. Ada dua pendapat fuqaha tentang siapa yang pertama kali melaksanakan wakaf.
Sebagian ulama mengatakan yang pertama melaksanakan wakaf adalah Rasulullah saw yang mewakafkan tanahnya untuk dibangun masjid. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Umar bin Syabah dari ‘Amr bin Saad bin Muad.
Ia berkata, kami bertanya tentang mula-mula wakaf dalam Islam. Orang Muhajirin mengatakan adalah wakaf Umar, sedangkan orang-orang Anshar mengatakan adalah wakaf Rasulullah saw (Asy Syaukani, 129).

Rasulullah saw pada tahun 3H pernah mewakafkan tujuh kebun kurma di Madinah, diantaranya adalah kebun A’raf, Shafiyah, Dalal, Barqah dan beberapa kebun lainnya.
Sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa yang pertama kali melaksanakan syariat wakaf adalah Umar bin Khattab ra, sesuai dengan hadits yang sudah kita bahas sebelumnya.
Setelah Umar, syariat wakaf dilakukan oleh Abu Thalhah yang mewakafkan kebun kurma kesayangannya yang diberi nama Bairaha. Selanjutnya disusul Abu Bakar yang mewakafkan tanahnya di Mekkah. Utsman menyedekahkan hartanya di Khaibar. Ali bin Abi Thalib mewakafkan tanahnya yang subur. Mu’adz bin Jabal mewakafkan rumahnya yang disebut Dar al Anshar. Wakaf juga dilaksanakan oleh Anas bin Malik, Abdullah bin Umar, Zubair bin Awwam, dan Aisyah istri Rasulullah saw.
Tuh kan, para sahabat dan keluarga Nabi juga tidak segan-segan mewakafkan harta kesayangannya.

Masa Dinasti-dinasti Islam

Praktek wakaf semakin berkembang pada masa dinasti Umayyah dan Abbasiyah. Semua orang berduyun-duyun melaksanakan wakaf. Wakaf tidak hanya untuk fakir miskin saja, tetapi wakaf menjadi modal untuk membangun lembaga pendidikan, perpustakaan, membayar gaji para guru dan staffnya, serta memberi beasiswa bagi para siswa dan mahasiswanya. Semangat masyarakat melaksanakan wakaf telah menarik perhatian negara sehingga negara mau mengelolanya secara profesional, untuk membangun solidaritas sosial dan ekonomi masyarakat.
Wakaf pada awalnya hanyalah keinginan seseorang untuk berbuat baik dengan kekayaannya dan dikelola secara individu tanpa ada aturan yang pasti. Namun setelah masyarakat Islam merasakan manfaatnya lembaga wakaf, maka timbullah keinginan untuk mengatur perwakafan dengan baik. Kemudian dibentuk lembaga yang mengatur wakaf untuk mengelola, memelihara dan menggunakan harta wakaf, baik secara umum seperti masjid, atau secara individu dan keluarga.
Pada masa dinasti Umayyah yang menjadi hakim Mesir adalah Taubah bin Ghar al Hadhramiy, pada masa khalifah Hisyam bin Abdul Malik. Ia sangat perhatian dan tertarik dengan pengembangan wakaf, sehingga membentuk lembaga wakaf tersendiri sebagaimana lembaga lainnya dibawah lembaga pengawasan hakim.
Lembaga wakaf inilah yang pertama kali dilakukan dalam administrasi wakaf di Mesir, bahkan di seluruh dunia Islam. Pada saat itu juga hakim Taubah mendirikan lembaga wakaf di Basrah. Sejak saat itu, pengelolaan lembaga wakaf di bawah Departemen Kehakiman dikelola dengan baik dan hasilnya disalurkan kepada yang membutuhkan dan yang berhak.
Pada masa dinasti Abbasiyah terdapat lembaga wakaf yang disebut dengan Shadr al Wuquuf yang mengurus administrasi dan memilih staff pengelola wakaf. Lembaga wakaf berkembang searah makin teraturnya administrasi.
Pada masa dinasti Ayyubiyah di Mesir, perkembangan wakaf juga cukup menggembirakan, dimana hampir semua tanah pertanian menjadi tanah wakaf. Semuanya dikelola dan menjadi milik negara (baitul mal).
Ketika Shalahuddin Al Ayyubi memerintah Mesir, ia bermaksud mewakafkan tanah-tanah milik negara, diserahkan kepada yayasan-yayasan keagamaan dan yayasan sosial, sebagaimana yang dilakukan oleh dinasti Fathimiyah sebelumnya. Sebenarnya dalam hukum fikih Islam, masih terdapat perbedaan pendapat dalam mewakafkan harta baitul mal.
Orang pertama kali yang mewakafkan tanah milik negara (baitul mal) adalah Raja Nuruddin asy Syahid dengan ketegasan fatwa yang dikeluarkan seorang ulama pada masa itu, Ibnu ‘Ishrun dan didukung ulama lainnya, bahwa mewakafkan harta milik negara hukumnya boleh (jawaz). Argumentasinya adalah menjaga dan memelihara harta milik negara, sebab dasar hukumnya sebenarnya tidak boleh.
Shalahuddin al Ayyubi banyak mewakafkan harta milik negara untuk keperluan pendidikan, seperti mewakafkan beberapa desa (qaryah) untuk pengembangan madrasah madzhab Asy Syafi’iyah, Malikiyah dan Hanafiyah. Dana didapat dengan model mewakafkan kebun dan tanah pertanian. Pembangunan madrasah madzhab Syafi’i dibangun di samping makam Imam Syafi’i, dengan cara mewakafkan kebun pertanian dan pulau Al Fil.
Dalam rangka kesejahteraan ulama dan pengembangan misi Sunni, Shalahuddin Al Ayyubi menetapkan kebijakan bagi orang Kristen yang datang dari Iskandariah untuk berdagang wajib membayar bea cukai. Hasilnya dikumpulkan dan diwakafkan kepada para fuqaha dan keturunannya.
Perkembangan wakaf pada masa dinasti Mamluk sangat pesat dan berkembang. Apapun yang dapat diambil manfaatnya boleh diwakafkan. Yang paling banyak diwakafkan adalah tanah pertanian dan gedung-gedung, seperti perkantoran, penginapan dan sekolah. Pada masa itu juga terdapat hamba-hamba sahaya yang diwakafkan untuk merawat lembaga-lembaga agama. Seperti mewakafkan budak/pelayan untuk mengurus masjid dan madrasah. Hal ini pertama kali dilakukan oleh penguasa dinasti Utsmani ketika menaklukkan Mesir, Sulaiman Basya yang mewakafkan budaknya untuk merawat masjid.
Manfaat wakaf pada masa dinasti Mamluk digunakan sebagaimana tujuannya. Wakaf keluarga untuk kepentingan keluarga, wakaf umum untuk kepentingan sosial, membangun tempat pengurusan jenazah dan membantu fakir miskin.
Ada juga wakaf untuk sarana di Mekkah dan Madinah (Haramain), seperti kain Ka’bah (Kiswatul Ka’bah). Raja Shaleh bin Al Nasir membeli desa Bisus lalu diwakafkan untuk membeli kiswah Ka’bah setiap tahunnya dan mengganti kain kuburan Nabi saw dan mimbarnya setiap lima tahun sekali.
Perundang-undangan wakaf pada dinasti Mamluk telah dimulai sejak Raja Al Dzahir Bibers al Bandaq (1260-1277 M) dimana dengan undang-undang tersebut Raja Al Dzahir Bibers memilih hakim dari masing-masing empat madzhab Sunni. Pada masa ini wakaf dibagi 3 kategori:
1. Pendapatan negara dari hasil wakaf yang diberikan oleh penguasa kepada orang-orang yang dianggap berjasa
2. Wakaf untuk membantu Haramain
3. Wakaf untuk kepentingan masyarakat umum.

Sejak abad kelima belas, kerajaan Turki Utsmani dapat memperluas wilayah kekuasaannya, sehingga meliputi sebagian besar wilayah Arab. Hal ini tentu saja mempermudah untuk menerapkan Syariat Islam, termasuk wakaf. Diantaranya adalah dibuatnya peraturan tentang pembukuan pelaksanaan wakaf yang dikeluarkan pada tanggal 19 Jumadil Akhir 1280 H. Undang-undang tersebut mengatur tentang pencatatan wakaf, sertifikasi wakaf, cara pengelolaan wakaf, cara pencapaian tujuan wakaf, dan melembagakan wakaf.
Pada tahun 1287H dikeluarkan undang-undang yang menjelaskan tentang kedudukan tanah-tanah kekuasaan Turki Utsmani dan tanah-tanah wakaf produktif. Itu sebabnya sampai sekarang di wilayah Arab masih banyak tanah berstatus wakaf.
Demikianlah wakaf masih dilaksanakan dari waktu ke waktu dan berkembang ke semua negara muslim, termasuk Indonesia. Bahkan lembaga wakaf itu telah meresap menjadi hukum adat bangsa Indonesia. Disamping di Indonesia juga banyak terdapat harta wakaf, baik berupa benda bergerak maupun tidak bergerak.
Di negara-negara muslim lain, wakaf juga mendapat perhatian serius sehingga menjadi amal sosial yang memberi manfaat bagi masyarakat banyak. Dalam sejarahnya, wakaf terus berkembang dengan inovasi yang sesuai dengan pergerakan zaman, seperti adanya bentuk wakaf tunai (uang), wakaf HAKI dll. Di Indonesia, saat ini wakaf juga mendapat perhatian yang lebih serius dengan dikeluarkannya Undang-Undang Wakaf sebagai upaya penyatuan terhadap beberapa peraturan perundang-undangan wakaf yang terpisah-pisah.

Posted in islamic, life, lifestyle, syariah, Uncategorized | Tagged , , , , , , , , | Leave a comment

Wakaf untuk Kawula Muda (1): Apa Itu Wakaf?

Mungkin diantara kamu ada yang belum faham, apa sih sebenarnya wakaf itu dan bagaimana penggunaannyaDalam istilah syara’ secara umum, wakaf adalah sejenis pemberian yang pelaksanaannya dilakukan dengan jalan menahan (pemilikan) asal (tahbisul ashli), lalu menjadikan manfaatnya berlaku umum. Yang dimaksud tahbisul ashli ialah menahan barang yang diwakafkan itu agar tidak diwariskan, dijual, dihibahkan, digadaikan, disewakan, dan sejenisnya. Sedangkan cara pemanfaatannya adalah digunakan sesuai dengan kehendak pemberi wakaf (waqif) tanpa imbalan.

Namun para ahli fikih dalam tataran pengertian wakaf yang lebih rinci saling bersilang pendapat. Biar kamu nggak bingung, kita bahas sedikit sedikit ya.

 

  1. Imam Abu Hanifah

 

Wakaf adalah menahan suatu benda yang menurut hukum tetap milik si waqif dalam rangka mempergunakan manfaatnya untuk kebajikan. Pemilikan harta wakaf tidak lepas dari si waqif, malah dia boleh menariknya kembali. Jika si waqif meninggal dunia, harta wakaf diwariskan kepada ahli warisnya. Jadi efek dari wakaf hanyalah ‘menyumbangkan manfaatnya’.

 

  1. Imam Malik

 

Wakaf tetap menjadi milik waqif, tetapi si waqif tidak boleh melakukan sesuatu yang menyebabkan kepemilikannya atas harta itu lepas, dan ia nggak boleh menarik kembali wakafnya, serta ia wajib menyedekahkan manfaat wakaf tersebut.

Wakaf dilakukan dengan mengucapkan lafadz wakaf untuk waktu tertentu, jadi tidak ada wakaf selamanya (kekal).

Dengan kata lain, pemilik harta menahan benda itu dari penggunaan secara pemilikan, tetapi membolehkan pemanfaatan hasilnya untuk tujuan kebaikan, sedang benda itu tetap jadi milik si waqif.

 

  1. Imam Syafii dan Imam Ahmad bin Hambal

 

Wakaf adalah melepaskan harta yang diwakafkan dari kepemilikan wakaf, setelah sempurna prosedur perwakafan. Waqif tidak boleh lagi melakukan apapun terhadap harta yang diwakafkan. Waqif menyalurkan manfaat harta yang diwakafkannya kepada mauquf alaih (yang diberi wakaf) sebagai sedekah yang mengikat, dimana waqif tidak dapat melarang penyaluran sumbangannya tersebut.

 

  1. Madzhab Imamiyah

 

Benda yang diwakafkan menjadi milik mauquf alaih, namun tidak boleh menghibahkan dan menjualnya.

 

Keabadian Benda Wakaf

 

Para imam madzhab, kecuali Imam Maliki, berpendapat bahwa wakaf terjadi jika benda itu diwakafkan selama-lamanya atau terus menerus. Itu sebabnya wakaf disebut sebagai shadaqah jariyyah.

Sementara pendapat Maliki, wakaf ada jangka waktunya, setelah itu kembali kepada pemiliknya. Hal ini cukup relevan dengan kondisi saat ini, seperti kita kenal dalam hukum agraria ada istilah HGB (Hak Guna Bangunan), Hak Pakai, atau sistem kontrak.

 

Penjualan Benda Wakaf

 

Nggak terlalu banyak perbedaan di kalangan ulama tentang masalah ini. Ada yang sama sekali melarang menjualnya dan ada pula yang nggak berpendapat.

Secara umum, ketentuannya adalah:

  1. Masjid

Semua sepakat tidak boleh menjual masjid. Namun Imam Hambali berpendapat bahwa masjid boleh dijual ketika nggak ada jemaahnya yang shalat di situ lagi, atau karena masjid itu sudah tidak bisa dimanfaatkan lagi kecuali dengan cara dijual. Jadi terpaksa banget…

 

Kekayaan masjid seperti toko, tanah untuk digarap dll

Sebagian ulama membolehkan menjualnya atau mengambil manfaatnya sebagai upah bagi yang mengurusnya.

 

Wakaf Non Masjid

 

Sebagian ulama, kecuali Syafii membolehkan menjual wakaf non masjid dengan alasan:

  1. Bila benda wakaf itu sudah tidak memberi manfaat lagi sesuai dengan peruntukkannya
  2. Bila hanya bisa dimanfaatkan dengan menjualnya
  3. Bila benda itu sudah rusak atau ambruk
  4. Bila disyaratkan atau diizinkan oleh waqif
  5. Bila ada sengketa antara pengurus wakaf
  6. Bila benda wakaf itu dijual sehingga hasilnya bisa dipakai untuk memperbaiki bagian lainnya
  7. Bila masjidnya ambruk, barang-barang seperti batu bata, papan, pintu, kaca dll penjualannya dilihat dari kemaslahatannya yang dipandang oleh para pengurus.

 

Dasar Hukum Wakaf

 

Tidak ada ayat Al Quran yang secara tegas memerintahkan wakaf. Namun ada ayat yang difahami berkaitan dengan wakaf sebagai amal kebaikan, misalnya: QS Al Hajj 77, Ali Imran 92, dan Al Baqarah 261.

Selain itu ada beberapa hadits Nabi saw:

 

Dari Abu Hurairah ra, sesungguhnya Rasulullah saw bersabda: Apabila anak Adam (manusia) meninggal dunia, maka putuslah amalnya, kecuali tiga perkara: shadaqah jariyyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang mendoakan orang tuanya (HR Muslim).

 

Hadits tersebut dikemukakan dalam bab wakaf, karena para ulama menafsirkan shadaqah jariyyah dengan wakaf (Imam Muhammad Ismail al Kahlani, tt. 87).

 

Dari Ibnu Umar ra berkata, bahwa sahabat Umar ra memperoleh sebidang tanah di Khaibar, kemudian menghadap kepada Rasulullah saw untuk memohon petunjuk. Umar berkata, “Ya Rasulullah, saya mendapatkan sebidang tanah di Khaibar, saya belum pernah mendapatkan harta sebaik itu, maka apakah yang engkau perintahkan kepadaku?”

Rasulullah saw menjawab, “Bila kamu suka, kamu tahan pokoknya (tanahnya) dan kamu sedekahkan hasilnya”.

Kemudian Umar melakukan shadaqah, tidak dijual, tidak juga dihibahkan dan tidak juga diwariskan.

Berkata Ibnu Umar, Umar menyedekahkannya kepada orang-orang fakir, kaum kerabat, budak belian, sabilillah, ibnu sabil dan tamu. Dan tidak mengapa atau tidak dilarang bagi yang menguasai tanah wakaf itu (pengurusnya) makan dari hasilnya dengan cara baik (sepantasnya) atau makan dengan tidak bermaksud menumpuk harta (HR Muslim).

 

Dari Ibnu Umar ra. ia berkata, Umar mengatakan kepada Nabi saw, saya mempunyai seratus dirham saham di Khaibar. Saya belum pernah mendapat harta yang paling saya kagumi seperti itu. Tetapi saya ingin menyedekahkannya. Nabi saw mengatakan kepada Umar, “Tahanlah (jangan jual, hibahkan atau wariskan) asalnya (modal pokok) dan jadikan buahnya sedekah untuk sabilillah” (HR Bukhari dan Muslim).

 

Jadi kalau melihat hukumnya, wakaf termasuk dalam kategori muamalah sunnah yang segala ketentuannya bersifat ijtihadi, artinya sesuai dengan hasil penggalian hukum-hukum oleh para ahli fikih. Sehingga hal itu sifatnya fleksibel.

Jelas deh kalau wakaf itu potensinya cukup besar untuk bisa dikembangkan sesuai kebutuhan zaman, terutama dalam pengembangan ekonomi lemah.

Beda dengan zakat. Kalau zakat kan hukumnya wajib dikeluarkan dengan batas nishab yang ditentukan. Ayat-ayat Al Quran yang membahas zakat diantaranya adalah QS At Taubah 60 dan At Taubah 103.

Posted in islamic, life, lifestyle, syariah, Uncategorized | Tagged , , , , , , , , | Leave a comment

Antri Doong….

Suatu hari di sebuah pusat perbelanjaan (ITC) besar di Jakarta. Saya dalam keadaan sangat ingin buang air kecil, mendapati antrianyang cukup panjang di WC perempuan yang juga nggakj hanya terdiri dari satu kamar. Kalau nggak salah sih tiga atau empat kamar gitu. Seperti biasa, saya langsung masuk ke barisan antri, dan akhirnya membagi menjadi tiga atau empat baris sesuai dengan banyak kamar.

Kebetulan, orang-orang di depan saya nggak lama-lama ‘ngendon’ di WC. Jadinya dalam waktu yang cukup singkat, saya sudah  sesaat lagi masuk ke WC.

kurio1Belajar disiplin sejak anak-anak, mau tanya saja harus antri, satu-satu, gak bisa barengan, bisa rusuh….

 

Lagi ‘enak-enaknya’ ngantri, tiba-tiba dua orang ABG yang kira-kira baru duduk di SMP, nyerobot tepat di depan saya. Tentu saja saya kaget. Namun saya amsih menyisakan rasa khusnuzhan saya, bahwa mereka adalah anak-anak yang mencari entah siapanya yang sedang di dalam kamar WC.

“Di sini aja, nih, kan tinggal dikit lagi” tiba-tiba salah seorang dari mereka berkata.

“Iya nih, gak bakal lama ngantrinya. Udah kebelet nihhh…” Jawab yang satunya.

Eh… wait, wait, apa maksudnya nih?

Refleks saya mencolek bahu salah seorang dari mereka.

“Mau ngantri ya, dik?” tanya saya.

Tanpa ragu-ragu mereka berdua mengangguk.

Eh… loh, kok jadi nggak punya pikiran gini sih? Batin saya  dongkol.

Dengan mengangkat wajah menandakan kesal, saya menjawab, “Antri, mbak”.

“Iya, kita antri di sini” keukeuh salah satu dari mereka yang bertank top dan hipster ketat, namun dari dandanan kok kayaknya bukan tampang’ anak sekolah’ .

“Ya kalau ngantri di belakang dong, jangan nyerobot begitu. Saya dan ibu ini (sambil menunjuk ibu di belakang saya yang menggandeng seorang bocah) sudah duluan” tukas saya jutek.

Kedua ABG itu saling berpandangan. Lalu salah seorang dari mereka, dengan wajah yang jutek, nyeletuk pula, “WC aja kok ribut!” sambil gegas menarik tangan temannya pindah ke belakang ibu tadi.

Sebab dia sewot, maka saya pandangi kedua ABG nggak tahu diri itu dengan mata saya. Sengaja. Tentu dengan pandangan tak kalah juteknya. Saya pikir, harus dikasih pelajaran nih orang.

Untunglah, orang yang sedang di dalam kamar WC segera keluar. Artinya, nggak guna bangetlah saya teruskan persewotan saya itu. Heheheh…

 

Itu baru satu contoh tentang situasi dan kondisi antrian di sini, di Jakarta, atau munmgkin pula di seluruh tanah air. Saling menyerobot dapat saja terjadi. Kadang juga saling sikut untuk hal yang sebenarnya nggak usah segitu ngototnya dehhh.

Dan parahnya, saya adalah makhluk yang paling nggak ingin menyerobot dan diserobot. Nah, sebab merasa nggak pernah merasa mengambil hak orang lain itulah, saya jengkel banget kalau hak saya (yang juga sudah merasa melaksanakan kewajiban mengantri dan menunggu dengan disiplin dan mencoba sabar) diserobot orang lain. Lain halnya jika berurusan dengan hidup dan mati. Tentu saja saya akan mengalah dengan sukarela.

Begitu juga halnya jika berurusan dnegan orang-orang yang karena kedudukannya akan didahulukan. Misalnya saat mobil saya harus distop sebab ada mobil pejabat yang akan lewat.  Buru-buru? Gimana kalau keadaannya gini: sang pejabat mau rapat dinas, sementara saya mau ngantar orang sakit misalnya. Sementara juga saya jelas-jelas sudah duluan beberapa ratus meter di depannya. Masak dia harus didahulukan hanya karena dia pejabat? Toh sama-sama penting, ya wis… ngantri dong, pak. Macet dikit ya nggak pa-pa, inilah kondisi realnya. Kesiangan? Kenapa nggak berangkat lebih pagi, pak?

Sedihnya, hal kayak gini juga terjadi di beberapa kesempatan. Dalam masalah penerbitan buku saja, kadang saya juga nggak ngerti. Buku saya yang sudah terjadwal akan terbit, tiba-tiba harus pending sebab ada buku lain ‘yang ekspress dan lebih penting’ harus segera terbit dulu. Mungkin untuk alasan marketing (misalnya ini buku seorang penulis yang lebih laku jual) saya akan mencoba ‘tahu diri’. Tapi kalau ini buku ‘karya; seorang pesohor misalnya, maka haruskah didahulukan?

Waaah… maaf, kalau kata saya itu nggak adil juga. Kenapa sih nggak sama-sama ngantri? Jika untuk kepentingan charity sih boleh saja. Tapi kalau hanya karena alasan penulis buku itu adalah owner? Huhuhu… betapa kasihannya nasib para penulis yang sudah rela mengantri di depannya, yang misalnya begitu butuh bukunya diterbitkan saat itu juga.

Yah, maaf, ini sih hanya pikiran saya saja. Yang mungkin juga kelewat berdisiplin dalam segala sesuatu. Apakah terdengar sangat egois?

Ya, terserah andalah. Yang pasti, apa sih yang ada dalam benak kita ketika kita menyerobot hak orang lain? Bukankah hak kita baru bisa kita dapat setelah kita melaksanakan hak kita?

Mungkin saya juga pernah dan sering tanpa sadar menyerobot  hak orang lain. Bagaimanapun saya juga manusia biasa.  Tapi paling tidak, saya sering sekali membayangkan. Andai semua orang punya rasa disiplin yang ‘lumayan’ baik, tentu nggak akan banyak terjadi kasus main serobot ya?

Jadi ingat nasihat Aa Gym, salah satu ustadz yang saya kagumi: Mulailah dari diri sendiri, mulailah dari hal yang kecil, dan mulailah sekarang juga. Subhanallah, kalau saja semua orang mau begitu yaaa? (Saya melamun dengan sedih…)

Posted in inspirasi, life, Uncategorized | Tagged , , , , | 1 Comment

{Cerpen} Perempuan yang Berpesta Bersama Hujan

 

 

 

Langit kembali membawa beban berat. Awan menggelantung seperti siap memuntahkan lautan. Aku terkesiap. Masihkah akan kuteruskan perjalanan ini? Kuhela nafas panjang. Masih sangat jauh jarak yang harus kutempuh. Namun sungguh ada yang kunanti setiap kali hujan akan turun, Aku seperti berpesta dengan alam. Aku memestakan tawa dan tangis bersama hujan dan semesta, tanpa ada yang tahu. Dari dulu hingga kini.
Kukerjapkan mataナ Tuhan aku rindu sungguhナ.ke dulu masa dimana semua belum serumit sekarangナ.

hujan

 

“Windiiiナ. Mau kemana kamu?”
Aku membulatkan mulut. Mama. Dia sudah ada di belakangku.
“Mmmナ mau ke warung koh Lung, Ma”. Mau beli apa ya? Cepat berpikir, Windi.
“Gerimis, sebentar lagi hujan deras. Mau beli apa kamu? Nanti suruh si Tile saja. Mama takut kamu pilek lagi kayak minggu kemarin”. Tuh kanナ
“Mau beliナgunting, Ma, untuk prakarya”.
“Enggak usah. Pakai gunting Mama saja.”
Aku tidak perlu gunting, as you know. Aku perlu hujan. Aku ingin bertemu peri hujan yang selalu membasuh air mataku. Yang selalu mau menangis dan tertawa bersamaku. Yang paling mengerti mengapa aku tak suka matematika dan lebih suka menggambar. Yang paling memahami mengapa aku tadi dimarahi pak guru karena nilai matematikaku hanya 5.
“Windi”.
Dan air mataku siap tumpah. Lihatlah hujan telah benar-benar menderas.
“Iya, Ma”. Akhirnya kuakhiri konflik dengan mengalah, entah apa yang harus kulakukan selanjutnya.
“Masuk, sana.” Tegas, khas Mama. Tanpa kompromi. Seperti sabda seorang ratu yang wajib ditaati semua punggawa dan dayang dayangnya.
Namun sekitar setengah jam kemudian, aku sudah berpesta dengan hujan dengan carakun sendiri, di belakang rumah. Dekat gudang, ada cucuran talang air yang jika hujan turun, airnya ikut menderas. Aku tengadahkan wajahku, membiarkan seluruh wajahku terpapar hujan, tak peduli basah seluruh tubuhku. Hal yang akhirnya menarik perhatian kucingku yang juga ikut berpesta hujan bersama.
Jika kepalaku sudah mulai terasa berat dan makin banyak bintang berputar di atas mataku, aku buru buru masuk ke gudang, mengganti bajuku dengan baju lain yang masih bersih, Lalu kupanggil Mbak Imah, pembantu rumah tangga kami, agar mau mencuci bajuku diam diam. Dan beres. Dan Mama yang kebanyakan anak pun tak tahu.
Masa ketika semuanya tidak serumit sekarangナ.

Masa SMP, SMA, dan Kuliah, adalah masa yang lebih membahagiakan bagiku. Mama tak lagi mengawalku setiap hujan tiba. Aku selalu berdalih belum pulang atau banyak tugas, dan masih banyak lagi. Ritual pesta hujan, adalah sesuatu yang amat kunantikan. Ritual dimana aku melebur bersama semesta. Ritual dimana aku bisa bebas menjadi diriku yang rindu curhat, sebab hanya sedikit sekali yang bisa memahamiku. Si gadis introvert yang nyaris tak punya teman. Si gadis aneh yang sukanya menggambar hujan, awan, dan pelangi.
Kulabuhkan tangis pada hujan, saat tak ada kawan laki-laki, seorangpun, yang datang padaku dan menyatakan isi hatinya padaku. Oh, ya ada. Tiap tahun. Orangnya berbeda-beda pula. Begini nihナ
“Jadi, Win, sebenarnya aku mau curhat nih. Aku sudah lama naksir teman sebangkumuナkarena diaナbla bla blah”.
Kenapa aku tidak jadi kodok sekalian, biar tidak usah jadi mak comblang?
“Win, lu kan anaknya baik dan pinter ya? Jujur nih, gue belum punya cewekナ”
Aku juga belum punya cowok.
“Win, lu tolongin gue deh ya”.
“OK. Maksudmu, kamu mau aku menjadi cewekmu gitu? Mari kupikirkanナ. Boleh lahナ
“Lu kenal si Andien yang juara kelas itu kan?”
Dan lututku mulai lemas.
“Lu kan dekat dengan dia, boleh dong gue juga lu dekatin sama diaナ.”
Tuh kan. Mau pingsan di sini boleh kan ya?

Demikian kehidupan selalu berulang kepadaku. Bayangkan, hingga aku akhirnya lulus S2 dan bekerja di sebuah perusahaan swasta, aku belum pernah bertemu seseorang yang, boro boro mengajakku membagi sisa hidupnya bersamaku, menyatakan perasaannya bahwa dia mencintaiku saja, belum pernah. Belum pernah. Sama sekali.
Makanya Mama heran.
“Kamu sih kurang bergaul, Win”.
“Kamu sih kerjaannya bacaaa dan gambaaar melulu. Mana ada laki laki yang tertarik?”
Terus, apa aku harus hobi ke mall, ke caf←, ke pantai, ke gunung, atau mungkin ke kuburan, biar ada laki-laki yang suka? Memangnya sudah pasti bahwa perempuan yang hobinya kemana-mana itu, jodohnya datang dengan cepat?
Bukankah jodoh itu tergantung takdir?
Bukankahナ
Bukanナ.
Bukanナ

Jodoh seringkali tergantung luck. Paling tidak, menurutku. Oh, okay, jangan mendebatku, Sejak dulu aku paling malas berdebat, bagiku hobi berdebat hanya akan membuatku jadi seperti para politikus yang hanya bicara tanpa kerja nyata. Ooopsss. No offense ya. Tidak semua politikus begitu kan?

Pada hujan aku berkesah. Pada hujan aku berkisah. Bahwa aku hanya seorang perempuan yang unlucky. Yang lagi lagi tidak terpilih sebagai salah satu mempelai perempuan hari ini, minggu ini, bulan ini, tahun iniナ.
Lalu aku pasrah. Pada hujan aku menangis, dan padanya aku tertawa ketika akhirnya aku menyadari, aku mungkin tak akan pernah menikah.
Dan hidup mulai rumit. Namun hujan tetap setia.

Hidup berjalan terlalu cepat, bahkan berlari. Meninggalkanku yang masih asyik dengan cerita hujan tanpa mau berhenti. Aku menikah dengan seorang laki laki yang datang lewat Mama. Cintakah aku? Entah. Aku bingung. Tak ada gegap gempita rasa atau semburat debar jantung setiap kami bertemu. Pendek kata, ia memintaku menikah dengannya. Anak-anak lahir berurutan hingga genap lima. Aku tenggelam menjadi seorang istri dan ibu yang bahkan tak peduli bahwa dia sebenarnya lulusan S2 Kepustakaan. Aku hilang bentuk.
Lagi-lagi hanya hujan yang setia. Aku menyamburnya dengan bahagia dan sedih yang sama, setiap kali ia turun. Sebab aku masih tak bisa bercerita kepada siapapun, juga kepada suamiku yang sibuk bekerja kian kemari. Aku hanya harus mendengar, mengerjakan, taat dan patuh. Tak ada ruang tersisa untuk diriku sendiri, hingga anakku jelang remaja.
Apa yang tak kusyukuri?
Suami sukses, anak anak pintar dan baik, akuナ.
Hampa. Kosong. Sepi.
Well, ralat. Aku HARUSNYA bahagia. Harus bahagia.

Aku bilang pada hujan, aku mau bahagia. Aku harus bahagia. Apapun yang terjadi.

Suamiku memintaku berpisah dengannya di tahun ke 17 pernikahan kami. Dia pergi untuk perempuan lain, yang lebih baik menurutnya. Aku terdiam. Kupaksa diri untuk menangis. Tak bisa. Sumpah. Aku saja merasa ada yang salah dari diriku sendiri. Bahkan menangsipun aku tak mampu.
Aku ini manusia atau bukan sih?
Bukan. Aku hanya patung atau robot.
Jadi aku tak punya perasaan.
Tak punya perasaan, ya tidak bisa menangis.

Kami bercerai. Aku membawa anak anak bersamaku. Perih. Luka. Ngilu. Tak bisa kunamai lagi. Bahkan saat shalatpun aku tak bisa menangis. Segala wirid dan zikir memenuhi setiap waktuku, jadi aku tak punya waktu mengasihani diriku sendiri, jadi aku tak punya waktu untuk ‘sekedar’ menangis.
Hanya saat hujan datang, aku bergegas menyambutnya. Padanya aku berkisah. Padanya aku berkesah. Padanya aku melabuhkan semua rasa. Aku menangis bersama seluruh tawaku. Aku tertawa bersama segenap tangisku. Hanya dalam hujan.

Dear hujan
Aku hanya seorang anak yang gagal membahagiakan Mamanya. Aku hanya seorang murid yang gagal membuat guruku bangga. Aku hanya seorang istri yang gagal. Ibu yang gagal. Tapi aku tak peduli. Sebab aku hanya manusia biasa. Yang boleh gagal, boleh tidak sesuai dengan apa yang dipikirkan orang lain terhadapku. Aku ナ
Aku lelah menuruti ini dan itu yang harus kukerjakan. Aku lelah dan sering berpikir bahwa aku tak kuat lagi.
Nyatanya, aku masih ada sekarang. Entah sampai kapan aku bertahan. Demi anak-anakkuナ

DHUARRRナ
Kilat dan petir berpadu, menyentakkan lamunanku. Telah basah seluruh tubuh dan bajuku. Terima kasih hujanナ.
DHUARRRナ.

Ada sesuatu yang tiba-tiba memasukiku. Sampai ke dasar dan pusat tubuhku. Aku meringan. Berubah wujud. Hilang. Tanpa bentuk lagi. Selamanya.
Hujan,
Ini pesta terbesarku.

masha

Foto ini entah dari internet yang sudah lamaa sekali saya saved. Maafkan saya…

 
Terima kasih, Hujan. Kausempurnakan hidupkuナ.

Posted in fiksi, Uncategorized | Tagged , , , , | Leave a comment

Ikhtiar Terbaik untuk Hasil Terbaik

Badan lagi sakit itu enggak enak. Mau apa-apa jadi ‘terhalang’ kondisi tubuh. Apa lagi yang bisa dilakukan selain menunda semua pekerjaan dan sabar? Ada salah satu hadits Nabi saw yang mengatakan apabila kita sedang sakit dan bersabar, maka Allah akan menggugurkan dosa-dosa kita. Aamiin… alangkah senangnya. Tuh, betapa Allah selalu memberikan yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya. Lalu bagaimana dengan kita?

Kita, eh saya sih, manusia biasa, yang kadang banyak malasnya, banyak magernya, banyak alasannya untuk menunda sebuah atau beberapa pekerjaan. Hasilnya? Pekerjaan-pekerjaan itu tak jarang tertunda karena sakit, tertimpa jadwal lain yang lebih urgent, atau ya keburu deadline. Jangan Tanya hasil akhir, semua yang dikerjakan dengan terburu-buru kadang hasilnya kurang maksimal.

Contoh urusan seterikaan yang menggunung. Jika dikerjakan di awal hari atau pada hari itu juga, hasilnya enggak akan sebanyak jika ditunda dua atau tiga hari. Bikin mau menangis saja melihatnya. Belum lagi karena kesal, menyeterika dilakukan terburu-buru yang hasilnya tidak rapi, hijab bolong karena disterika terlalu panas, lipatan celana panjang suami dan si sulung jadi kayak wiron kain batik karena berlapis-lapis, dan masih banyak lagi kekecewaan melihat hasilnya.

Padahal kalau mau diteliti lagi, mendapatkan hasil terbaik, bukan hanya harus dilihat waktu mengerjakannya ya. Ada paling tidak dua factor lagi yang harusnya diperhatikan ketika menginginkan hasil yang terbaik. Apa tuuuh?

Pertama, Niat atau the reason. Bagi saya sendiri, niat menghasilkan yang terbaik untuk orang-orang atau makhluk Allah terkasih, akan berbeda banget hasilnya dengan niat untuk ngetop misalnya. Pernah niat bikin semacam Vlog gitu, niatnya biar banyak subscriber Youtube channel saya. Ya untuk dakwah sih sebenernya. Tapi niat buat dapat banyak subscriber itu kemudian lebih berisik ketimbang yang lain. Jadi ya sudahlah tidak jadi. Ngeri saya. Mundur sebelum siap mengerjakannya. Setelah itu saya malah bersyukur karena ternyata saya memiliki sifat enggak pede yang lebih dominan, dan takut dicap songong, sombong, dan sejenisnya. Hahaha ya sudahlah. Mari lupakan.

Terasa berbeda dengan ketika kita menulis untuk mendapatkan uang demi biaya pendidikan anak-anak, demi kelangsungan hidup kucing-kucing di cat-shelter-ku, dan demi berbagi dengan banyak orang yang membutuhkan. Aiih, semangatnyaaa…tak terbendung. Misalnya lho. Eh, sejujurnya bagi saya sih ini lebih pentingggg, ketimbang sekedar mau ngetop. Duluuu….. sih sempat sedikit kepikiran, tapi ya reda sendiri. Sekarang Alhamdulillah, sudah enggak kepikiran.

best2

one of my reason, my son.

best3

my other reason, my cats.

 

Kedua, cara melakukan ikhtiar tersebut sehingga mendapatkan hasil yang terbaik. Dulu saya percaya bahwa dengan kerja keras dan kerja cerdas saja, kita sudah bisa mendapatkan hasil terbaik. Ternyata salah lho, enggak begitu urusannya. Sekarang, siapa yang pegang hasil final kerjaan kita? Kita, boss kita, atau Allah?

Nah. Allah.

Ikhtiarnya harus ditambah. Ikhtiar menurut semua cara yang Allah kasih. Ada ibadah berupa amalan wajib dan sunnah, doa, wirid, zikir, yang tidak putus. Ada berusaha menjauhi apa yang dilarang dan mengerjakan apa yang diperintahkan dan disunnahkan. Ada berbagi, mencoba bertanggung jawab atas urusan orang-orang di sekitar kita yang membutuhkan dan urusan makhluk ciptaan Alla yang lainnya. Termasuk kucinggg tentu saja.

Kata beberapa ustadz, Allah dulu, Allah lagi, Allah terus. Sediakan waktu khusus untuk Allah, maka Dia akan menyegerakan semua permohonan dan keperluan kita.  Ini kerja ikhlas namanya.

best1

Allah… My One and Only…

best4

Salah satu amanah Allah …

 

Jaaadiii…. Ya gitu deh, ini menurut saya lho. Saya juga lagi belajar, tertatih tatih melakukan ikhtiar untuk mendapatkan hasil terbaik, untuk semesta kita, semesta di sekitar kita. Mau belajar bareng? Yuuuk….

Posted in inspirasi, life, love, sikap | Tagged , , | 2 Comments

Friendship, Lost and Found

 

 

Sepanjang tahun 2016, Allah sedang banyak menguji saya. Hal itu buat saya adalah penanda besarnya kasih sayang Allah kepada saya yang kecil dan bukan siapa-siapa ini. Bagi saya, ujian demi ujian juga membuat saya menemukan hikmah lain, yaitu tentang persahabatan. Persahabatan yang ternyata bukan semata ditandai dengan banyaknya menghabiskan waktu bersama, namun lebih kepada ikatan hati yang bersifat ‘tidak terlihat namun terasa’.

 

Selama masa ujian yang panjang itu, saya akhirnya menemukan bahwa persahabatan adalah kesetiaan. Kesetiaan untuk mendoakan dan berharap kebaikan bagi dirinya dan sahabatnya, dimanapun berada, terpisah jarak sejauh apapun. Kesetiaan untuk tidak berprasangka buruk bahkan…setia untuk tidak menceritakan prasangka itu dan keburukan sang sahabat kepada orang lain, atau sahabatnya yang lain. Nah. Ini sama sekali tidak gampang.

 

Makna sahabat juga berarti tidak saling menuntut. Menuntut untuk sering bersama, sering menyediakan waktu dan hal-hal lain yang mungkin karena satu dan lain hal, tidak lagi bisa dilakukan bersama. Dan tidak ngambek jika sahabat tidak lagi bisa menghabiskan waktu bersama, atau banyak menolongnya lagi, bahkan mentraktirnya ini dan itu. Jika kita masih kesal terhadap hal-hal begitu, berarti kita sebenarnya hanya mencari kesenangan dengan menjadi sahabatnya, giliran dia lagi susah, kita menuntut macam-macam dan jelas tidak terpenuhi, maka kitapun kecewa.

 

Sahabat bukanlah dia yang selalu berkata manis, namun dia yang berani berkata pahit, menunjukkan kesalahan kita. Bukan berkata pahit menumpahkan kekecewaannya ketika kita tidak lagi bisa menjadi seperti yang dia lihat dulu, sebelum ujian menimpa.

friend1

Persahabatan bukanlah ‘sama selalu’, namun ‘selalu mencoba menyatukan hati’.

 

Dalam masa ujian ini, akhirnya saya menemukan, sahabat bercahaya seperti pendar bintang di langit, tak selalu terang, tak selalu dekat, namun ada dan terasa. Terasa ada di hati. Jika hati kita sensitif, keberadaannya terasa sekali. Thanks for being a friend, a best friend, buat teman hidup saya dan ada juga seseorang yang telah mengenal saya lama. Tak selalu dekat, tak selalu rukun, namun selalu ada, dalam doa dan saling menguatkan. Dia adalah seorang ibu rumah tangga biasa, dengan 4 anak, tinggal dekat dengan rumah saya, teman menangis dan tertawa. Terima kasih, Mama Ihsan. Setiap kali mendoakanmu, mata saya basah oleh semua pahit-manis yang kita lalui bersama, lima belas tahun belakangan ini.

friend2

Persahabatan adalah proses saling menguatkan

 

Dan, saya punya beberapa sahabat lain, yang saya tahu, cukup membuat saya sedikit kecewa selama masa ujian ini. Dan saya sempat merasa kehilangan mereka, sangat kehilangan. Sebenarnya, kalian tetap sahabat saya, tetap sahabat dari hati. Terima kasih untuk semua yang kalian lakukan selama saya menghadapi ujian. I knew something happened, that you thought that I didn’t know what you did to me. You know, I still be there. I am still here. Kalian tetap sahabat saya.  Ini adalah cara saya memaafkan kalian, in silence.

 

Bagaimana cara saya memaafkan kalian? Saya menjauh sejenak dari kalian, dan berusaha semakin mendekat kepada Sang Maha Dekat. Sejak kecil, Dialah Sahabat Terdekat saya. Tak tergantikan. Dari Dialah, saya mendapatkan kekuatan memaafkan kalian. Dari Dialah, saya diberi kesadaran, bahwa kalian tidak sepenuhnya bersalah. Saya juga bersalah, sebab saya juga hanya manusia biasa. Semoga kalian berkenan memaafkan saya sepenuh hati.

Beberapa kutipan indah tentang persahabatan. Foto dari berbagai sumber.

 

Demikianlah, seperti semua hal di dunia ini, tidak ada yang abadi. Persahabatan, kedekatan, demikian juga kesalahan demi kesalahan, akan pergi bersama waktu. Yuk, sama-sama ikhlaskan. Mari menjadi lebih baik bagi semua orang yang kita kenal. Sebab semua hal di dunia ini, hanya sesaat. Semua akan berlalu, kecuali ketulusan memberi yang terbaik dan memaafkan….

friend13

 

 

This too, pass shall…. Love, friendship, life, and the world….

(Sebuah curhat yang lama ditahan-tahan)

 

Posted in inspirasi, life | Tagged , , , , | 8 Comments

Rumah Tangga Kena Resesi Ekonomi? Ini yang Bisa Mama Lakukan

Harga-harga naik bersamaan, enggak ada yang turun. Sementara pendapatan tetap dari tahun ke tahun. Anak-anak makin besar, jelas pengeluaran bertambah. Apa ya yang harus kita lakukan sebagai mama cantik dan cerdas? Enggak mungkin kita mengompori suami untuk melakukan perbuatan tercela, dimusuhi Negara dan dilarang agama. Sementara kita juga sudah lama berprofesi sebagai mama full time. Terus gimana? Mau melamar kerjaan juga sudah kepentok umur dan bingung gimana pengasuhan anak-anak, karena sejauh ini anak-anak sudah terbiasa ketemu mamanya all day all day, watch them all around… halaah kok jadi nyanyi lagu 90an.

 

Nah, kalau mama mengalami hal seperti itu akhir-akhir ini, pasti pusying dan stress ya Ma? Jangan dulu jedutin kepala ke tembok, Ma. Itu sama sekali enggak menyelesaikan masalah, malah nambah masalah. Iya, kalau langsung rest in peace misalnya. Kalau Mama malah dirawat di rumah sakit dan merepotkan semua orang, apa bukannya nambah masalah?

 

Coba deh, Mama melakukan hal-hal di bawah ini. Ditanggung pas buat solusi menghadapi resesi ekonomi di rumah tangga kita.

  1. Harga-harga kebutuhan naik semua, yuk naikkan pendapatan dengan mencari pendapatan tambahan. Coba gali hobi, bakat dan minat mama. Pasti ketemu. Syaratnya sih Cuma jangan menyerah dan jangan gengsian (makan tuh gengsi, emang dengan gengsi bisa beli makan dan bayar sekolah anak-anak?)

resesi1

Jualan Cilor yuk, Ma?

2.Mencoba mengirit pengeluaran, misalnya dengan menghemat listrik, telpon, air dan kuota internet. Juga memangkas pos beli baju di Olshop, memangkas anggaran ngopi-ngopi syantik jika enggak berhubungan dengan kerjaan Mama. Buat skala prioritas mana keinginan dan kebutuhan. Mana kebutuhan pokok mana yang bisa ditunda.

3.Mencoba melakukan swasembada, sebisa mungkin. Sama aja sih dengan menghemat sebenarnya, tapi ini sedikit ‘lebih ekstrim’. Misalnya mencoba membuat nugget sendiri, membuat baju sendiri, menanam tanaman bumbu sendiri. Ya tapi ketika harga gas naik, enggak mungkin juga menambang gas alam sendiri. Ya kaliii….

4. Mencoba mengurangi anggaran buat asisten. Bisa masak, nyuci, nyetrika, ngurus kucing sendiri? Bagus, berarti sebenarnya Mama enggak butuh asisten rumah tangga. Bisa nyetir atau bawa motor/mobil sendiri? Berarti enggak perlu supir. Bagus juga kalau motor/mobilnya diikutkan transportasi online. Hehehe nambah penghasilan tuh, meski juga sekaligus nambahin kerjaan.

resesi3

Ngurus kucing sambil belajar…dan tepar….

5. Yuk kreatif mendaur ulang semua yang bisa didaur ulang. Baju lama? Bisa diupgrade jadi baju kekinian. Punya tumpukan botol plastic? Bisa dimanfaatkan jadi macam-macam kreasi.

6. Mengurangi les buat anak-anak. Percuma mama lulusan perguruan tinggi, teknik pula, kalau enggak bisa ngajarin anak-anak matematika, kimia, fisika, dan bahasa Inggirs. Mama sudah khatam Quran berapa kali? Enggak kehitung kan? Yuk, ajari anak-anak ngaji tanpa harus memanggil guru les.

mama-papa2

Bebeb ngaji sama ayah dan ibu, enggak usah panggil guru les.

7. Perbanyak silaturahim. Silaturahim memanjangkan rezeki, menambah kesehatan dan masih banyak faedah lain. Ingat jangan terlarut menjadi ajang gossip, pamer, dan malah saling bertukar aura negative.

8. Minta doa orang tua dan perbaiki hubungan dengannya. Insha Allah rezeki akan deras mengalir dan berkah. Manjur banget doa orang tua.

9.Berbagi dengan alam semesta. Misalnya dengan sesama manusia yang membutuhkan, atau ikut gerakan melestarikan alam, atau…memelihara hewan. Insha Allah berkah. Apalagi jika kita ikhlas, insha Allah jadi doa dari semesta untuk kita

resesi2

Doa si Skippy Coco untuk yang menyayanginya sepenuh hati. Ya kan, Skip-skip?

10 .Perbanyak ibadah, terutama ibadah khusus. Bagi Mama yang beragama Islam, mama bisa menambahkan ibadah wajib dengan shalat sunnah, puasa sunnah, memperbanyak wirid dan zikir khusus dan umum, menambah jumlah halaman membaca Quran dan menambah kualitas dan kuantitas hafalan. Insha Allah ya Ma.

11. Mostly, selalu bersyukur dan bersabar, dan…makin bersahabat dengan Tuhan. Ini nih. Yuk berusaha bareeeng.

 

Jadi jangan keburu baper karena boro-boro bisa nabung, ikut asuransi de el el, Ma, karena uangnya selalu habis duluan untuk kebutuhan sehari-hari. Yuk nabung kebaikan saja, Ma. Kita tidak pernah tahu mana kebaikan yang akan mengantarkan kita kepada terkabulnya cita-cita kita. Kita tidak pernah tahu dimana rezeki kita, tapi Tuhan sendirilah yang akan menggerakkan rezeki itu ke kita, ketika kita memantaskan diri untuknya. Setuju Ma? Yukkk semangaaat.

Posted in inspirasi, life, lifestyle | Tagged , , , , , | 8 Comments

Sebuah Tempat Pulang

ira3

At home…safe and warm with you….

Saya adalah makhluk dengan banyak kampung halaman. Sesuai dengan darah ‘blasteran’ yang mengalir di tubuh saya, kampung halaman saya lebih dari satu. Ayah saya keturunan Pontianak-Melayu, dengan banyak saudara yang juga orang Betawi ‘kota’ alias Betawi Menteng. Ibu saya adalah perempuan Sunda-Cirebon-Kadipaten-Majalengka. Suami saya asli Grobogan, Semarang. Saya lahir di Jakarta, di Manggarai tepatnya. Sejak punya anak, saya tinggal di Cinere dan sudah membaur dengan masyarakat Betawi Cinere-Gandul-Limo-Krukut. Orang tua saya hingga sekarang bermukim di daerah Cipete, Jakarta Selatan. Jadi, mana kampung halaman saya sebenarnya? Entahlah.

Definisi kampung halaman bagi saya, dengan segala keribetan ini, jelas menjadi ‘bukan tempat lahir’ karena saya lahir di Manggarai dan sekarang tempatnya kayaknya sudah jadi Mall deh. Enggak mungkin, saya lebaran pulang ke sono. Buat sekedar jalan-jalan dan ngopi-ngopi cantik sih mungkin ya. Saya juga enggak mungkin pulang ke salah satu kampung halaman orang tua saya, sebab orang tua saya malah mukim di Jakarta. Hahaha, jadi sedemikian kusyutnya kampung halaman di benak saya.

Akhirnya, kampung halaman saya adalah sebuah tempat dimana saya selalu merindukannya di ujung hari, terutama setelah saya bepergian wara wiri kesana kemari. Kampung halaman saya adalah rumah yang saya diami sekarang bersama suami, ketiga anak lelaki saya, dan kelima kucing saya. Sebuah rumah sederhana yang sudah lumayan tua, cukup banyak masalahnya (dari mulai bocor, pintunya rusak, catnya terkelupas, hingga rayap yang nyaris merusak foto keluarga, dan…pohon kersen yang tetiba menyeruak tanpa izin di pagar tembok belakang… dan kami sedang berusaha sedikit demi sedikit untuk menyelesaikan masalah demi masalah tersebut), namun selalu membuat saya merasa tercukupi dan terberkati di sini.

kampung1

Home…(bukan rumah saya lhoo ini). Photo from Ray Pompilio, Through My Digital Eye

Setiap ujung hari, rasa syukur saya membuncah menemukan seluruh anggota keluarga lengkap ada di dalam rumah kami. Suami, ketiga anak, dan kelima kucing. Satu saja belum ada, saya akan mencarinya terus dan mendoakannya agar segera tiba dengan selamat. Sebuah kampung halaman kecil bernama rumah, rumah dalam konteks fisik dan spirit yang membuat kami merasa aman dan nyaman di dalamnya. Kalau sudah begini, rasanya enggak perlu rumah segede gaban yang ada tangganya, yang ada pemanas airnya, dan yang ada home teaternya (((home teaterrr))) ….aaaaaa…jadi ingat seseorang yang begitu memaksanya membeli perangkat ini, padahal…aaah sudahlah….

Cukuplah bagi saya, kampung halaman ini berisi kasih sayang, saling mendukung, dan suara ayat-ayat Allah. Cukup bagi saya di dalamnya selalu ada semangat saling berlomba dalam kebaikan dan ketaatan. Cukup bagi saya, di dalamnya ada semangat mencintai ilmu. Kampung halaman yang penuh dengan buku dimana saya begitu mencintai membaui wangi kertas dan buku.

kampung2

Books, coffee or tea…heavenly…. Photo from clipzine.me

Kalau sudah begini…sejauh kaki melangkah, ujungnya selalu ada kerinduan untuk segera kembali padanya….. Home. My place in the sun, moon, and the universe…

Posted in inspirasi, life | Tagged , , , , | 9 Comments