Lampung – The Treasure of Sumatera

lampung1

Kayaknya lagi musim jalan-jalan nih. Mungkin karena kebanyakan pekerjaan yang harus diselesaikan dengan deadline yang bertumpuk, saya jadi pingin jalan-jalan melulu. Kali ini yang ingin banget saya kunjungi adalah tempat yang jaraknya enggak terlalu jauh dengan Jakarta dan Banten, nyebrang sedikit. Ya, ini dia Provinsi Lampung, yang dikenal juga dengan The Treasure of Sumatera. Kenapa saya pingin ke Lampung?

 

Paling tidak, ada sekitar lima alasan mengapa Lampung menjadi salah satu destinasi jalan jalan saya dalam waktu dekat ini…

 

Anak Krakatau Island

lampung22

Anak Krakatau adalah pulau termuda di Indonesia, dan merupakan puiau volkanik yang kecillll banget, terletak diantara Pulau Rakata Kecil dan Pulau Sertung. Dia muncul tahun 1928 untuk pertama kali, terus tenggelam tahun 1929. Eh sekitar tahun 1930an dia muncul lagi bersamaan dengan erupsi volkanik Gunung Krakatau.

Pemandangannya keren banget di sini. Gunung yang mengepulkan asap kelihatan jelas sekali. Eh ada satu fun fact yang merupakan keajaiban pulau kecil ini, setelah erupsi tahun 1959, pulau ini bertambah tinggi setiap tahunnya sekitar 7-9 meter. Coba hitung berapa kira-kira tinggi pulau ini pada satu abad kemerdekaan Indonesia… (hadoooh gini hari disuruh menghitung pulaaa…dasar emak guru homeschooling!)

 

Makam Kuno Pangeran Jiwa Kesuma

Saya itu penggila sejarah, bahkan kalau diurutkan tempat wisata favorit saya adalah: tempat bersejarah, tempat religious, pantai, baru gunung. Nah, di Lampung ada sebuah tempat wisata bersejarah yang terletak di wilayah Wonosobo, sekitar 7 kilometer dari Kota Agung, Namanya makam kuno Pangeran Jiwa Kesuma.

Siapa sih pangeran Jiwa Kesuma ini? Jadi pangeran Jiwa Kesuma ini dan keluarganya hidup di zaman peralihan antara budaya Hindu dan Islam. Pastinya sih, mereka adalah keluarga penguasa atau bangsawan pada masa itu.

 

Gisting dan Batu Keramat

lampung4

Dataran tinggi Gisting dan Batu Keramat ini juga keren banget pemandangannya. Ada air terjun yang sejuk banget, yang airnya bisa langsung kita minum. Selain itu, dari ketinggiannya kita bisa menyaksikan kesibukan di Teluk Semangka dan Pelabuhan Kota Agung. Udaranya gimana? Yang pasti, sejuuuk banget dan view-nya juga seru buat foto-foto selfie atau wefie. Letaknya enggak jauh dari Tanggamus.

 

Wisata Kuliner Khas Lampung

Ya ampuuuun seru seruuu seruuu. Mata saya yang lagi mengantuk langsung terbuka lebar begitu browsing tentang kuliner Lampung. Banyaaak banget yang wajib dikunjungi. Diantaranya Kedai Mie Khodon yang menyajikan macam-macam mie khas Lampung, Tempatnya sih sederhana tapi enggak pernah sepi pengunjung. Mie kuahnya konon recommended bangeet.

Selain itu yang ngehitz banget juga adalah Kedai Mie Ayam dan Bakso Son Haji-Sony. Pusatnya di Wolter Monginsidi. Saking ramenya, kudu sabar dan setia menanti. Tapi sebanding bangeet kok sama rasanya. Masih banyak destinasi wisata kuliner di Lampung yang enggak kalah seru, misalnya lagi ada Sate Cak Umar yang ngetop dengan sop kambingnya yang enggak berbau kambing sama sekali. Ada Pempek 123 yang cepat banget sold outnya. Jangan datang sore-sore katanya. Eh iya, itu kuah cukanya ditaruh di meja, jadi kita bebas meracik sendiri. Terus ada Jumbo Kakap yang merupakan restoran sea food favorit karena selain rasanya yang mantap, juga tempatnya cukup bersih dan sejuk. Oh iya dia juga letaknya berdekatan dengan Toko Oleh-Oleh Yen Yen. Kalau mau sekalian mampir ke sini kan asyik tuh, sekalian beli Keripik Pisang khas Lampung, yang rasanya enggak ada yang menyamai.

Sudah dulu deh ya membahas kulinernya. Bikin lapar, mana malam-malam begini pula. Nasib… nasib…

 

Lampung Krakatau Festival

lampung5

Menandai momen meletusnya Gunung Krakatau pada tanggal 27 Agustus 1883 yang banyak menelan korban itu, digelar sebuah Festival Akbar dengan serangkaian acara yang seru dan sayang banget untuk dilewatkan. Konsep pemerintah Provinsi Lampung adalah menjadikan festival ini perhelatan akbar kebudayaan dengan tujuan menjadikan Lampung sebagai tujuan wisata dan pusat kebudayaan di Sumatera.

Festival yang sudah diadakan untuk ke 26 kalinya ini menyajikan berbagai acara, diantaranya: Jelajah Pasar Seni (24-28 Agustus) di Mall Boemi Kedaton, Jelajah Layang-Layang (25-26 Agustus) di PKOR Way Halim, Jelajah Rasa alias Pesta Kuliner (26-28 Agustus) di Lapangan Saburai, Jelajah Krakatau (27 Agustus 2016) di Gunung Anak Krakatau, Jelajah Semarak Budaya-Parade (28 Agustus) di Tugu Adipura, dan Jelajah Semarak Budaya-Investor Summit (28 Agustus) di Hotel Novotel. Demikian rangkaian acara Jelajah Pesona Krakatau, Lampung Krakatau Festival 2016.

 

Nah, pasti pada pingin ke Lampung ya …. Samaaa…. Yuk berdoa dan berusaha. Salah satunya ikut Lomba Blog ini. Wish me luck yaa…

 

 

Referensi :

Indonesia-tourism.com

Jalanjajanhemat.com

Lampungkrakataufest.com

 

Foto:

Indonesia-tourism.com

Posted in culture, event, kuliner, travelling | Tagged , , , , , , , , | 1 Comment

Indonesia Is Me versi Synthesis Development dan Keluarga Saya

Jika ditanya, apakah nilai-nilai Indonesia yang melekat dalam dirimu, tentu masing-masing kita punya jawaban yang khas. Boleh jadi, jawaban itu tidak akan sama dengan jawaban orang lain. Demikian pula saya, suami, dan ketiga anak saya. Tapi yang menjadi benang merahnya adalah, filosofi nilai-nilai ke-Indonesiaan itu yang harus selalu kami tanamkan ke dalam diri ketiga putra kami.

Filosofi ke-Indonesiaan mencakup semua bagian kehidupan; sandang, pangan, papan, seni budaya, dan nilai-nilai sosial kemasyarakatan, yang seharusnya menyatu di dalam diri kita. Untuk itulah, pada peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-71, Synthesis Development, sebuah grup pengembang property yang mengusung ciri khas ke-Indonesiaan, menggelar rangkaian acara Indonesia Is Me yang berlangsung dalam empat rangkaian acara, yaitu :

  1. Pada tanggal 6 Agustus 2016 di Synthesis Residence Kemang dengan tema “Traditional Cullinary”
  2. Pada tanggal 13 Agustus 2016 di Samara Suites Synthesis Square Gatot Subroto bertema “The Art of Living”.
  3. Pada tanggal 20 Agustus 2016 di Mall Bassura City Jakarta Timur dengan tema “Pusaka Prajawangsa
  4. Pada tanggal 21 Agustus 2016 di Synthesis Square Gatot Subroto Synthesis Merdeka Ride.

 

Berhubung beberapa acara berbenturan waktunya, saya hanya bisa hadir di Bassura saja. Itupun jadi lain ceritanya nih…

 

Yang pasti, konsep keempat acara tersebut sangat kental dengan nilai-nilai ke-Indonesiaan. Seperti misalnya acara Traditional Cullinary sarat dengan aneka lomba yang berhubungan dengan kuliner, seperti lomba menghias kue untuk anak-anak dan lomba membuat nasi goreng untuk ibu-ibu.

Acara ini dirangkaikan pula dengan peresmian Apartemen Synthesis Residence Kemang yang sangat diinspirasikan dari budaya Jawa, lengkap dengan rumah joglo dan tiga tower yang namanya diambil dari tokoh pewayangan; Arjuna, Nakula dan Sadewa.

Sedangkan acara yang di Synthesis Square Gatot Subroto yang bertema “The Art of Living”, lebih mengedepankan konsep tempat tinggal bagi masyarakat urban yang butuh kedekatan jarak antara tempat tinggal dan tempat bekerja. Sedangkan Synthesis Square sendiri menggabungkan konsep perkantoran dan apartemen. Berlokasi di pusat bisnis Jakarta, apartemen ini diharapkan mampu menjawab kebutuhan masyarakat urban yang membutuhkan kepraktisan dan simplisitas pulang pergi tempat tinggal dan tempat pekerjaan.

Acaranya terdiri dari talkshow tentang art, beauty and health. Juga ada demo menyulam dan membuat kipas. Seru ya padahal.

Setelah itu acara berlanjut ke Mall Bassura City, dimana digelar acara Traditional Dance Flash Mob, dimana para penari tradisional serentak menari berbagai tarian tradisional di beberapa tempat di mall tersebut. Aduh ini juga pasti keren dan seru.

Sabtu tanggal 20 Agustus kembali acara digelar di Mall Bassura City. Kali ini acaranya adalah pemutaran film pendek tentang Pusaka Prajawangsa. Tentang apa sih itu? Nanti saya bahas sedikit ya. Yang jelas filosofi dari Pusaka Prajawangsa ini yang digunakan Synthesis Development untuk membangun proyek superblocknya yang kedua. Yang pertama kan yang ini nih, Bassura City yang terletak di dekat pasar Jatinegara. Yang kedua, Pusaka Prajawangsa yang rencananya terletak di daerah Cijantung. Ada juga talkshow bareng Alexander Thian alias @aMrazing, yang sudah menulis beberapa buku. Eh, saya suka lho baca tulisannya Koh aMrazing ini. Gaya bahasanya lincah dan kadang nonjok bangettt…

Puncak acara adalah pada tanggal 21 Agustus jam 8 pagi, start lomba bersepeda dimulai dari Synthesis Square Gatot Subroto, lalu ke Bassura City, Pusaka Prajawangsa Cijantung, Synthesis Residence Kemang, dan finish kembali ke Synthesis Square dengan total jarak tempuh 71 Km. Acara yang bertema Synthesis Merdeka Ride ini merupakan penutup dari rangkaian acara Indonesia is Me.

Sebagian foto-foto di Superblock Prajawangsa City (credit foto by Prajawangsa)

 

Pusaka Prajawangsa, sebuah legenda

 

Prajawangsa adalah nama seorang pahlawan local dari daerah CIjantung yang berjuang melawan penjajah Hindia Belanda. Filosofi perjuangannya adalah dua nilai yang menjadi nadi bagi Synthesis Development, yaitu passion dan kepercayaan. Menyerap inspirasi Prajawangsa, Synthesis percaya bahwa karya yang baik lahir dari kepercayaan.

Kepercayaan tidak hanya datang dari luar diri kita, namun juga dari dalam diri kita, yang yakin bahwa kita mampu menciptakan karya. Inilah yang menjadi nilai dasar dari Prajawangsa City, sebuah superblock di kawasan Cijantung.

Untuk menghidupkan kembali kisah Prajawangsa, Synthesis Development bersama dengan para creator muda, membuat film pendek berjudul “Pusaka Prajawangsa”, yang skripnya ditulis oleh Alexander Thian, dan ide ceritanya diracik tiga penulis muda, yaitu Windy Ariestanty, Valiant Budi, dan Hanny Kusumawati. Sedangkan untuk fashion director adalah Lulu Lutfi Labibi yang terkenal dengan karya luriknya.

 

So the story goes….

 

Jadi saya bela-belain datang ke Bassura City yang terletak tidak terlalu jauh dari Pasar Gembrong, the famous pasar tempat jual mainan murah meriah itu, adalah demi ingin menyaksikan film pendek Pusaka Prajawangsa, dan menyaksikan talkshow Kong aMrazing itu. Tetapiii, masalah bagi emak rempong dengan tiga anak yang mana si sulung juga punya acara sendiri dan kedua adiknya ada-ada saja masalahnya, adalah tidak bisa berangkat tepat waktu.

 

Dan… terlambatlah saya sampai di Bassura. Huaaa…. Letaknya yang cukup jauh dari rumah kami di Cinere dan macetnya kondisi sebagian besar jalan di hari Sabtu, plus memutar dulu mengantar si sulung ke Terminal Transjakarta Ragunan, menambah deretan alasan mengapa akhirnya saya enggak dapat apa-apa di sana.

 

Menyesalkah saya?

Ya tentu saja. Tapi selalu ada kebahagiaan usai kesedihan, bukan?

Anak-anak segera menyerbu Foodcourt Eat and Eat yang ternyataaa… menunya sebagian besar Indonesiaaa banget dan enaaaak banget. Kami memesan roti cane kari kambing, ayam penyet, dan es selendang mayang (ini yang saya rindukan sekali), dan tentu saja es teh (khusus untuk saya yang banyak es batunya). Kami makan dengan lahap dan puas, tentu saja.

Setelah itu, anak-anak ribut minta main robot-robotan di lantai bawah. Hadeuuh susah deh berhentinya kalau gini…

 

Ya tapi tidak apa-apa kok. Yang penting, anak-anak happy, dan saya juga tetap bahagia karena ketemu es selendang mayang. Jadi…kesimpulannya, Indonesia is Me versi keluarga kami adalah, makan kuliner Indonesia di mall yang Indonesia banget, karena pas saat itu, backsound-nya lagu-lagu tradisional dengan music angklung. Keren kok mall-nya, enggak terlalu hectic, luas, banyak jajanan, harganya sedang, dan tentu saja terintegrasi dengan superblock Bassura City. Bagi para pecinta mall, wajib deh kayaknya datang ke mall ini. Sekalian lihat-lihat superblock-nya ya. Hitung-hitung investasi. Ingat lho, harga tanah dan bangunan tiap tahun naik. Boleeeh lho, Bunda, Kakak….

 

Referensi :

Mbak Ety Budiharjo, terima kasih banyak ya mbak, obrolannya waktu di GIIAS.

prajawangsa.id

 

 

Posted in culture, event, kuliner, mall | Tagged , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Dari BJ Habibie untuk Saya dan Anak Negeri

Akhirnyaaa…. Ya akhirnya saya menemukan kesempatan untuk menulis sedikit tentang figure kebanggaan tanah air, sekaligus salah satu inspirator anak bangsa, termasuk saya. Dan…salah satu cita-cita saya adalah menulis tentang tokoh yang saya kagumi ini, eyang Bacharuddin Jusuf Habibie, Presiden ketiga Negara ini.

Saya enggak mau bikin posting riwayat hidup beliau, yang mungkin sudah terlalu mainstream ditulis, apalagi pada momen peringatan hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia, sekaligus memeringati momen ulang tahun (milad) beliau ke 80. Beliau sendiri, lahir tidak di bulan kemerdekaan, melainkan pada tanggal 25 Juni 1936 di Parepare, Sulawesi Tenggara, sebagai anak keempat dari Sembilan bersaudara, permata hati keluarga Bapak Alwi Abdul Jalil Habibie dan ibu RA Tuti Marini Puspowardoyo. Hanya setahun kuliah di ITB, Rudy, demikian nama kecilnya, berangkat ke Aachen pada tahun 1955, untuk belajar di Rhenisch Wesfalische Technische Hichschule, atas permintaan ibundanya yang faham betul minatnya pada teknik pembuatan pesawat terbang,

Rudy menikah dengan dokter Hasri Ainun Besari pada tanggal 12 Mei 1962, dikaruniai dua orang putra. Meniti karir di Jerman, hingga puncaknya pada tahun 1978, menjabat sebagai Presiden Senior bidang teknologi untuk Dewan Direktur MBB GmbH, Hamburg. Dalam prestasi akademik, prestasi cemerlang bahkan diperolehnya sejak di Jerman, dimana ia berhasil lulus Cum Laude dari Fakultas Teknik Mesin jurusan Desain dan Konstruksi Pesawat Terbang. Ia terus mencatatkan prestasi gemilang, semasa meraih gelar Doctor Ingenieur juga mendapat predikat summa cum laude. Sementara di tanah airnya, pada tahun 1977, ia mendapat gelar Profesor dari ITB lewat orasi ilmiah mengenai konstruksi pesawat terbang.

Pada tahun 1974, ia kembali ke tanah air untuk mengabdikan dirinya lewat ilmu yang telah diperoleh. Jabatan Menteri Riset dan Teknologi diemban dari tahun 1978 hingga 11 Maret 1998, sekaligus sebagai Ketua Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) yang dirintisnya, dan sebagai ketua Dewan Riset Nasional. Pada tanggal 11 Maret itulah ia dilantik sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia, yang kemudian mengantarnya kepada jabatan tertinggi sebagai Presiden ketiga Republik Indonesia, menggantikan HM Soeharto pada 21 mei 1998.

Baiklah, kalau diperinci  tentu akan panjang sekali deret pengabdian Eyang Rudy, kepada tanah air, dan kepada pengembangan ilmu desain dan konstruksi pesawat terbang. Jelas ini saja sudah merupakan bulir-bulir inspirasi tersendiri bagi saya, dan bagi sebagian besar anak bangsa. Apalagi, saya juga anak Teknik, meskipun pada akhirnya saya tidak mengabdikan diri di bidang keteknikan. Hehehe, sampai di sini, siapa yang Tanya gituloh.

Tapi yang jelas dalam ingatan saya, sebagai anak yang tumbuh dan kemudian mengalami masa remaja, antara tahun 1980-1990an, nama BJ Habibie kayaknya pasti banget masuk ke dalam daftar idola. Dalam pekerjaan saya kemudian sebagai wartawan, saya bahkan mencita-citakan melakukan wawancara terhadap beliau dan ibu Ainun.

 

Secara persona, karakter eyang Rudy merupakan tokoh yang menarik untuk digali. Pribadinya yang terbuka dan cenderung berpikir bebas, melewati tokoh-tokoh sezamannya, sehingga kerap mengundang pro dan kontra. Dalam salah satu bukunya, “Detik-Detik Yang Menentukan”, ia mengakui, sedikit banyaknya ini dipengaruhi oleh lama pendidikannya di Barat. Ia bilang, ia yang putranya orang Jawa dan suami dari orang Jawa, hampir enggak ada jawa-jawanya, dan ia baru belajar lebih dalam untuk menjadi orang Jawa, dalam arti mengenali falsafah njawani, dari Bapak Soeharto, Makanya tak heran jika ia menyebut pak Harto sebagai salah satu guru kehidupan baginya. Mengenang kepribadiannya, saya menilainya sebagai tokoh eksentrik, berani berbeda dari yang lainnya, dan apa adanya. Atau memang eksentrik ini cirri-cirinya orang jenius ya? Coba deh, Steve Jobs, Bill Gates, Hawkins, Lennon, Galileo, Da Vinci, termasuk juga Gus Dur, Ibu Sri Mulyani, dan beberapa tokoh lain. Mereka eksentrik, nyentrik, dan berani berbeda. Ehm…

 

Oopss… nah sebelum kita kemana-mana, maka sepertinya saya harus segera memaparkan paling tidak lima inspirasi dari Eyang Rudy terhadap anak bangsa, khususnya terhadap saya. Ini disarikan dari beberapa buku tentang beliau yang pernah saya baca, dan saya sajikan seolah-olah sedang mewawancarai beliau langsung (duh, inginnya sayaa….aamiin….).

 

Mencari setiap jawaban dari pertanyaannya

 

bjh1 

Sewaktu kecil, saya senang main pasir di pantai. Saya senang melakukan eksperimen kecil-kecilan. Sementara anak-anak lain menyingkir ketakutan ketika ombak datang, saya sibuk mengamati mengapa istana pasir saya hancur terkena air. Bertahun-tahun kemudian, saya menemukan jawabannya.

Demikian pula, ketika saya terbang pertama kali naik KLM, saya terkejut ketika ada api di baling-baling pesawat. Saya sibuk berteriak-teriak panic kepada pramugari yang kemudian menjelaskan kepada saya, mengapa itu terjadi. Dia dan seluruh penumpang pasti mengetahui bahwa itu karena saya baru pertama kali naik pesawat. Dan…bertahun-tahun kemudian saya menemukan jawabannya. Jadi, setialah untuk mencari jawaban dari setiap pertanyaan, cari ilmunya.

 

Menghargai peran orang tuanya dalam mengantarnya menuju cita-cita

 

Dalam pandangan saya sewaktu kecil, keluarga adalah rumah bagi saya. Ada Papi dan Mami yang mengerti betul apa maunya saya. Keluarga kami besar, bukan hanya karena Papi dan Mami punya banyak anak, tapi karena ada banyak anak-anak lain yang ikut keluarga kami. Itu sebabnya, masa kecil saya bahagia sekali, saya enggak pernah kekurangan teman main. Do samping itu di rumah banyak buku, juga di perpustakaan sekolah. Itu kawan saya yang paling setia. Saya melihat dunia pertama kali lewat buku.

Mami saya yang orang Jawa mengerti betul minat saya terhadap ilmu alam dan teknik. Dia juga yang kemudian memerintahkan saya berangkat ke Aachen untuk meneruskan kuliah desain dan konstruksi pesawat.

Sayangnya, perang dunia mengubah segalanya. Dalam bayangan saya, pesawat terbang yang asyik dan seru itu, sekonyong-konyong berubah menjadi sosok mengerikan. Bayangkan, dari pesawat itu dijatuhkan bom yang mematikan dan menghancurkan. Itu sebabnya kemudian, sempat saya tidak menyukai pesawat. Saya lebih menyukai jembatan ketimbang pesawat. Namun ibu saya ternyata tahu minat saya yang sesungguhnya. Untuk itu, saya berterima kasih kepada Mami dan Papi, yang telah membukakan jalan menuju cita-cita saya. Mami dan Papi menjadi refleksi keterbukaan pikiran bagi kami, anak-anaknya.

 

Terus mencari Tuhan dan menemukan jawaban keikhlasan

 

Kesedihan yang pertama kali saya alami luar biasa itu tahun 1946. Waktu itu adik saya, Ali Buntarman, meninggal dunia. Saya baru berumur sepuluh tahun. Saya terus bertanya kepada orang-orang dewasa di sekitar saya, kemana Ali pergi setelah dimakamkan. Kenapa Ali meninggal? Kemana Ali jika dia memang bersama Allah, sekarang? Dimana surga?

Sejatinya, pertanyaan demi pertanyaan itu tidak pernah benar-benar meninggalkan benak saya, bahkan ketika istri saya meninggal dunia jauh setelahnya, keikhlasan itu datang membersamai pemahaman tentang kehidupan dan kematian.

 

Memosisikan Istri sebagai teman sejalan, sahabat sejiwa (Ehm… di balik suami hebat, pasti ada istri yang sama hebatnya, ya kan, Eyang?)

 

bjh2

Waktu saya kuliah di Jerman, istri saya sedang mengandung tujuh bulan dan keadaannya parah. Menurut ibu mertua saya, begitulah pula dulu keadaan dia ketika mengandung Ainun. Tapi seberat-beratnya keadaan yang dialami istri saya, dia tidak mengeluh. Dia lebih disibukkan dengan mendorong saya yang sedang down karena pengujian saya menghadapi masalah, Dia dengan kalimat-kalimat sederhananya mampu menyejukkan hati dan pikiran saya, sehingga mampu membuat semangat saya bangkit kembali.

Dengan itu, saya semakin yakin bahwa Ainun memang dikirimkan Tuhan untuk saya, agar saya menjadikannya teman sejalan, sahabat sejiwa dalam membangun keluarga sakinah, dalam mengarungi kehidupan. Ketika Ainun mendahului saya pergi kembali kepada Tuhan, saya merasa bahwa saya kehilangan sebelah jiwa. Bagaimana tidak? Selama ini, Ainun yang selama ini mendampingi saya, mendidik kedua anak saya, dengan tangannya sendiri, melepaskan karir cemerlangnya sebagai Dokter Ainun untuk menjadi Nyonya Habibie. Ainun adalah sebelah jiwa saya, tanpanya saya tak lengkap.

 

Tidak takut dikritik, jika yakin pendapatnya benar

 

bjh4

Misalnya terhadap salah satu kasus semasa saya menjabat presiden. Ini di dalam UUD 1945 kan dikatakan bahwa presiden dalam melaksanakan pembangunan dibantu oleh Bank Indonesia, yang menurut pemahaman kedua presiden terdahulu, ya karena pembantu presiden, maka Gubernur BI harus duduk di dalam Kabinet. Menurut saya enggak begitu. Gubernur BI itu dalam tugasnya membantu presiden harus dapat bertindak objektif dan professional. Maka saya lalu berpendapat bahwa Gubernur BI seharusnya tidak duduk dalam kabinet.

Jelaslah, pendapat saya dianggap sebagai kontroversi. Saya ditakut-takuti dan dianggap melanggar UUD 1945. Ya biar saja. Saya enggak takut, saya bilang, kalau saya dianggap salah, ya silakan tuntut saya nanti di Sidang Istimewa.

Demikian pula, ketika saya menolak untuk dicalonkan sebagai Presiden periode berikutnya, Saya tenang saja, bahkan media juga menulis, wajah saya berseri-seri, ya soalnya saya baru saja habis mandi saat itu. Malah katanya, ada banyak ibu-ibu yang terharu dan sedih.

Saya ini warga Negara biasa, ya kembali sebagai warga Negara yang sama seperti semua rakyat Indonesia, jadi mengapa harus sedih?

 

bjh3

Nah, itu tuh… bulir-bulir inspirasi yang bisa saya petik dari Eyang Rudy. Sebenarnya masih banyak lagi, kepingin saya tulis semuanya. Tapi yang lima itu saja sudah bisa menggambarkan sedikit banyaknya, betapa luar biasanya kepribadian dan karakter seorang BJ Habibie. Dia bukan hanya seorang putra terbaik bangsa yang cemerlang akal intelektualitasnya, namun juga memiliki kebeningan jiwa dan kebijaksanaan yang dalam.

 

Selamat ulang tahun, Eyang Rudy. Barakallahu fi umrik. Semoga kesehatan dan keberkahan selalu terlimpah kepadamu.

 

Oh iya, jangan lupa ya ikut memeriahkan Peringatan Hari Ulang Tahun BJ Habibie ke 80 yang dimeriahkan dengan Pameran Foto Habibie dan gelar aneka lomba yang diselenggarakan berbagai komunitas yang tergabung dalam Friends of Mandiri Museum. Pameran ini dibuka untuk umum mulai 24 Juli 2016 hingga 21 Agustus 2016 di Museum Bank Mandiri, Kota Tua-Jakarta Barat.

 

Referensi dan Credit Foto

“Detik-Detik yang Menentukan”, BJ Habibie, THCMandiri, 2006.

“Habibie dan Ainun”, BJ Habibie, THCMandiri, 2010.

“Rudy, Kisah Masa Muda Sang Visioner”, Gina S Noer, Bentang, PlotPoint dan THCMandiri, 2016.

 

Posted in inspirasi, sejarah | Tagged , , , , , , , , , , , | 1 Comment

Ketika si Pus Terancam

Hampir di setiap tempat yang kita lalui, kita pasti akan menemukan hewan yang satu ini. Wajahnya lucu dan imut seringkali membuat kita jatuh sayang kepadanya. Namun sayangnya, tak semua orang memerhatikan lebih jauh bahwa sebenarnya hewan imut yang bernama kucing ini sedang dalam bahaya.

Tidak, dia tidak sedang terancam punah, seperti halnya saudara jauhnya yaitu harimau sumatera. Justru kucing sedang ada di dalam keadaan bahaya, karena jumlah mereka yang sudah sangat banyak. Terlalu banyak, bahkan. Over populated. Tidak heran, hampir di setiap tempat, mereka berkembang biak dan terus bertambah jumlahnya tanpa ada yang bisa menghentikannya. Akibatnya, tak jarang kita mendengar atau menemukan kisah kucing yang terlantar atau bahkan diperlakukan secara semena-mena oleh manusia. Tak sedikit kucing yang dipukuli, disiram air, bahkan disiram air panas, disiksa, karena mereka mencuri makanan. Atau kucing yang mati tertabrak tanpa ada yang mengurusi, atau tercebur ke sungai atau ke kali. Singkatnya, nasib kucing seringkali tak selucu wajahnya.

Menyayangi hewan, termasuk kucing, adalah bagian dari menyayangi dan memelihara alam semesta. Alam semesta adalah sebuah titipan Tuhan yang diamanahkan kepada kita, manusia, untuk dijaga dan dipelihara sedemikian rupa, sehingga bisa digunakan untuk keberlangsungan hidup kita. Jadi, memikirkan nasib kucing yang terlantar juga merupakan bagian dari menyayangi dan memelihara semesta.

Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk para kucing yang sudah overpopulasi ini?

Ada beberapa hal yang menurut saya, bisa kita lakukan bersama untuk merawat dan menyayangi kucing-kucing yang terlantar ini.

toyota1

toyota2

Dua kucing yang ada di ‘shelter kecil’ di rumah kami, Gembul dan Pou. Lucu ya?

 

Pertama, yang paling mudah tentu saja mencegah semua perilaku kejam danmena-mena terhadap hewan terlantar, termasuk kucing-kucing liar. Kita bisa melakukan berbagai upaya, misalnya mengajak orang-orang terdekat untuk mulai menyayangi mereka, jika tidak suka, bukan berarti boleh menyiksa mereka. Bisa juga kita melakukan kampanye gerakan sayangi hewan terlantar.

Kedua, jika tidak bisa memelihara mereka, bisa bergabung dengan Gerakan atau Komunitas Penyayang Hewan Terlantar. Banyak hal yang bisa dilakukan untuk hewan-hewan malang itu dengan berjejaring.

Ketiga, bisa juga dengan selalu memberi mereka makanan tanpa harus memelihara mereka. Misalnya dengan rutin memberi makanan pada kucing jalanan, atau dengan meletakkan wadah-wadah berisi makanan kucing di depan rumah.

Keempat, dengan menyediakan atau membangunkan shelter atau rumah singgah untuk mereka. Bisa di rumah kita jika memungkinkan. Namun ini tentu membutuhkan pendanaan dan perhatian serta waktu yang tidak sedikit.

 

Kucing-kucing yang sudah ada di shelter itu pertama kali datang harus divaksin dan diberi macam-macam obat khusus, misalnya obat cacing, obat kutu dan lain-lain. Tentu membawa mereka ke dokter hewan adalah langkah yang tepat. Bila kondisi mereka memungkinkan, bisa langsung dilakukan proses steril. Bila tidak, bisa dilakukan segera setelah kondisi mereka membaik.

Jadi steril atau kebiri adalah proses pemandulan pada kucing, yang berarti membuang alat kelaminnya, yang jantan dibuang testikelnya, yang betina dibuang ovariumnya. Tentu proses ini dilakukan oleh dokter hewan. Usia layak steril pada kucing minimal 8 minggu atau 6 bulan. Bagi kucing dewasa, meskipun sudah steril, dia masih bisa menjerit-jerit memanggil betinanya.

Ada beberapa manfaat steril kucing yang manfaatnya bisa dirasakan juga oleh kita :

  1. Mengurangi resiko kanker prostat, kanker testis dan hernia pada kucing jantan dan kanker rahim, indung telur dan payudara pada kucing betina
  2. Mengurangi agresivitas kucing saat ia terkena heat cycle ketika sedang birahi.
  3. Menghilangkan suara tinggi kucing, yang mengganggu kenyamanan kita.
  4. Kucing pasca steril biasanya lebih manja dan penurut.
  5. Kucing jantan tidak buang air kecil sembarangan lagi untuk menandai wilayah kekuasaannya.
  6. Bisa lebih menghemat biaya, kalau dihitung dengan biaya perawatan segerombolan anak kucing.
  7. Bisa ikut mengontrol populasi kucing, sehingga mengurangi resiko perlakuan semena-mena terhadap kucing, atau kucing yang tersia-sia.
  8. Bisa mengurangi resiko kematian ibu dan bayi kucing, Bayangkan, dalam setahun seekor kucing bisa beranak 3-4 kali dengan sekali melahirkan dua sampai lima ekor.
  9. Bisa mengurangi resiko luka dan kematian kucing jantan karena pergi jauh mencari jodoh atau berkelahi berebut kucing betina.
  10. Bisa mengurangi resiko rabies.
  11. Bisa menggemukkan kucing yang kurus.

 

Penanganan pangan dan kandang mereka juga harus diperhatikan secara khusus, sehingga tidak menimbulkan masalah baru.

 

Cukup banyak bukan, hal yang bisa dan harus kita lakukan untuk menjaga keseimbangan semesta, dimulai dengan menyayangi hewan seperti kucing terlantar. Sebagai balasannya, semesta tidak pernah ingkar janji. Iapun akan menyayangi kita sebagai wakil Tuhan di muka bumi yang telah membantu merawat mereka. Semestalah yang akan membantu melangitkan setiap doa, keinginan, dan cita-cita kita untuk lebih baik dan menjadikan bumi ini sebagai tempat hidup seluruh makhluk yang lebih baik lagi.

Dan keberkahan dari Tuhan akan turun untuk kita.

 

toyota3

 

Posted in culture, environment, inspirasi, sikap | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Es Carica Dan Es Dawetnya, Kakak…

Memang benar apa yang dikatakan Koes Plus di salah satu lagu lamanya, “Tanah kita ini tanah surga, tongkat dan batu jadi tanaman…” Haisshhh, serem amat ya, bisa berubah gitu tongkat dan batu jadi tanaman pisang dan papaya, misalnya. Mengerikan… Tapi maksud tersiratnya adalah apapun yang ditanam di tanah air kita, kemungkinan besar pasti tumbuh subur. Kenapa? Ya karena tanahnya subur itu.

Itu pula sebabnya di tiap daerah di tanah air kita pasti punya tanaman khas yang bisa diolah menjadi berbagai penganan dan minuman khas daerah tersebut. Ini yang kemudian menjadi salah satu pesona dan daya tarik bagi kaum wisatawan untuk datang berkunjung, baik itu wisatawan local maupun mancanegara. Apalagi wisatawan yang sedikit sedikit lapar dan haus, kayak saya ini.

Salah satu daerah di Provinsi Jawa Tengah, yang terkenal akan wisata Dataran Tinggi Dieng-nya adalah Kabupaten Banjarnegara. Kebayang ya, daerah Dieng yang termasuk salah satu dataran tinggi yang menawarkan pemandangan indah itu, pasti enaaak banget kalau berwisata ke situ sambil mencicipi kuliner khasnya.

Sebetulnya banyaaak ya, kuliner khas Kabupaten Banjarnegara, yang unforgettable alias enggak bisa dilupakan. Sebut saja Dawet Ayu Banjarnegara, Es Carica Dieng, Purwaceng, Soto Krandengan, Jipang, Buntil, Jenang Salak, Aneka Macam Keripik, Aneka Manisan, dan Mendoan khas Banjarnegara. Tapi yang mau saya angkat kali ini dua diantaranya, yaitu minuman segar es Dawet Ayu Banjarnegara dan Es Carica Dieng. Eh iya, buah Carica ini hanya mau tumbuh di dataran tinggi Dieng lho, enggak ada dimana-mana. Coba cari deh, buahnya di pasar-pasar di Jakarta, enggak bakal ketemu. Jadi ya, mesti dinikmati di tempat asalnya tumbuh, langsung.

Ini dia nih, buahnya. Lucu ya, mirip nangka, paprika kuning, belimbing, atau kedondong? Kalau kedondong mah berduri-duri gitu buahnya. Ini mirip nangka ya. Ahh, mirip papaya, tapi ukurannya lebih kecil. Daging buahnya agak keras, enggak seempuk papaya kalau sudah matang. Buah ini juga cocok diolah menjadi manisan. Salah satu ciri khasnya adalah buah carica memiliki getah yang cukup banyak. Jadi kalau kamu sempat bawa pulang carica ke Jakarta, kalau mau mengupasnya pakai sarung tangan karet atau plastik ya.

bng1

Membuat es caricanya sih gampang banget ya. Buah caricanya yang sudah matang, dipotong-potong, dikupas, terus dicuci di air mengalir, kasih gula, air dan es batu. Tuh, sudah bisa langsung dinikmati. Segaaarrr diminum ketika cuaca sedang panas terik.

bng2

Minuman ini bisa tahan disimpan dalam keadaan dingin (di kulkas) selama lebih dari satu bulan lho. Tapi dengan catatan, enggak ada yang menghabiskan duluan.

Sedangkan es dawet ayu, bahan utamanya menggunakan tepung hunkwee, daun suji, daun pandan, gula merah, dan santan. Wanginya khas dengan kesegaran santan yang cocok dinikmati di segala cuaca. Terutama kalau lagi panas terik juga sih.

bng3

Kedua minuman khas Banjarnegara ini bisa kamu temui di setiap pelosok di Kabupaten Banjarnegara, meskipun bisa juga sih kamu bikin sendiri di rumah. Tapi menurut saya, kekhasan dan ciri unik sebuah kuliner kadang hilang atau kurang terasa jika tidak dinikmati langsung di daerah asalnya.

Jadi? Ayo wisata ke Banjarnegara sekalian mencicipi Es Carica Dieng dan Es Dawet Ayu Banjarnegara. Jangan lupa upload foto-fotonya di Instagram, perlihatkan dengan bangga bahwa tanah air kita tercinta memang layak disebut sebagai surganya kulineran enak, murah, halal, dan sehat.

 

Referensi :

Budparbanjarnegara.com

Areahalal.blogspot.co.id

Dawetayubng.blogspot.co.id

 

Credit foto:

Banjarnegarakab.go,id

Indotour.com

Pergidulu.com

 

Posted in food, halal, kuliner, travelling, wisata | Tagged , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Rumah Idaman Keluarga Pecinta Buku dan Kucing

Rumah atau papan termasuk kebutuhan pokok manusia. Fungsi rumah selain sebagai tempat berteduh keluarga, juga merupakan pusat aktivitas keluarga, tempat keluarga berkumpul dan pulang setelah selesai melakukan aktivitas di luar. Oleh karena itu, syarat aman dan nyaman merupakan syarat wajib bagi sebuah rumah keluarga. Tidak perlu besar dan megah, yang penting disesuaikan dengan kebutuhan dan kecenderungan anggota keluarga tersebut. Misalnya keluarga saya yang terdiri dari suami, saya, tiga anak laki-laki yang usianya 14, 8, dan 5 tahun, beberapa ekor kucing, dan sehelai eh seorang supir (yang pulang pergi tapi kadang harus stand by, sehingga dia membutuhkan sebuah ruang tempat istirahat sejenak). Nah, rumah idaman yang cocok bagi keluarga saya, tentu kalau bisa ya, jangan yang tipe 4L alias lu lagi-lu lagi. Harus ada ruang yang cukup untuk privasi tiap anggota keluarga, selain tetap harus ada ruang public tempat seluruh anggota keluarga berkumpul atau menerima tamu.

Selain itu, kecenderungan keluarga kami adalah buku dan buku. Artinya kalau bisa ada ruang khusus untuk dijadikan semacam perpustakaan keluarga. Di rumah yang sekarang kami tempati, saking banyaknya buku koleksi kami, ada sekitar empat atau lima ruang yang kami alokasikan sebagai tempat buku. Dua ruang perpustakaan khusus, dan tiga lainnya menyebar bersama dengan ruang tamu, ruang makan, dan ruang pengajian. Itu belum termasuk tumpukan buku-buku yang ada di kamar saya dan suami, serta kamar anak-anak. Mungkin kalau di mobil boleh untuk menyimpan buku, bisa saja kami menyimpan buku-buku di mobil, dan…di kandang kucing, saking banyaknya buku. Larangan keras adalah membawa buku, apalagi menyimpannya, ke kamar mandi.

wiraland2

Perpustakaan idaman di rumah. Foto by rumahkecilminimalis.com

Kami juga menikmati kegiatan shalat berjamaah sebagai salah satu kesempatan menikmati waktu berkualitas, berkumpul seluruh anggota keluarga. Kami juga menjalankan program pendidikan agama dengan cara diskusi dan presentasi buku atau kitab tertentu, bersama kedua anak kami (yang bungsu belum ikutan, sebab baru sampai pada pelajaran Iqra 2). Rumah impian kami hendaknya punya ruang mushala khusus yang sejuk dan nyaman sebagai tempat shalat berjamaah, mengaji bersama, menghafal Al Quran, dan berdiskusi tentang agama.

wiraland1

Mushala idaman di rumah. Foto by mbtech.info.

Di rumah yang sekarang keberadaan ruang mushala khusus belum dimungkinkan mengingat semua ruang sudah terpakai. Ada ruang pengajian, tapi lebih sering dipakai untuk pengajian umum bersama beberapa teman. Letaknya yang kurang strategis di dalam rumah, disamping sering sekali kena bocor, menyebabkan ruangan tersebut kurang nyaman dipakai sebagai mushala keluarga.

Ini bukan saya tidak mensyukuri keberadaan rumah yang sekarang, tapi boleh kan, memiliki sekedar cita-cita untuk lebih baik. Saya ingin punya rumah yang sesuai dengan kebutuhan keluarga kecil kami yang terus bertumbuh, serta sesuai dengan kecenderungan minat kami sekeluarga. Terutama dengan terus membengkaknya koleksi buku-buku kami. Ya sudah, bikin perpustakaan umum saja, bu. Hehehe…nantilaaah kalau sudah kuayaaa rayaaa. Aaamiiin… Oh, juga karena kami punya beberapa kucing rumah (Domestic Short Hair alias kucing kampung), yang membutuhkan ruang lega untuk bebas bergerak, pingin juga punya rumah yang halaman belakangnya cukup luas.

Ini jadi alasan mengapa saya sekarang rajin survey mencari rumah yang sedikit lebih lega. Alhamdulillah ketemu beberapa. Ada juga yang cocok sekali, baik modelnya, maupun harganya yang tidak terlalu melangit… tapi letaknya jauh … rumah murah di Medan, proyeknya Wiraland Property. Ya Allah, modelnya cantik-cantik nian. Ini empat diantaranya yang membuat saya termimpi-mimpi. Indah sekali bukan?

wiraland3

wiraland4

wiraland5

wiraland6

Duhai cantiknyaaa….. sampai saya screenshoot nih. Oh ya langsung lihat webnya di http://www.wiraland.com

Teman-teman yang tinggal di Medan dan sekitarnya, jangan lewatkan Wiraland ya kalau cari rumah murah di Medan. Recommended sekali.

Saya langsung membayangkan di rumah itu, ada mushala, perpustakaan, kamar mandi bath tub dan shower yang cozy, dapur yang smart-minimalis, dan halaman belakang yang cukup lega, bisa untuk bermain si Gembul, Pou, Keket, dan teman-temannya.

Sayang sekali ya, bukan di Jakarta. Tapi siapa tahu Wiraland kelak akan mengembangkan proyek rumah murah di Jakarta juga. Moga-moga yaaa….

Seperti yang selalu saya sugestikan ke dalam diri saya, kita memang harus berani bermimpi dan jangan takut untuk bangun dan mewujudkannya.

wiraland7

WIRALAND PROPERTY GROUP WIRALAND BLOG COMPETITION 

Posted in lifestyle | Tagged , , , , , | Leave a comment

Ketika Emak Lelah

Dulu pekerjaan yang paling tidak pernah saya bayangkan adalah menjadi seorang ibu rumah tangga. Saya tidak bisa dan tidak suka memasak, mencuci, menyetrika, apalagi mengepel dan menyapu. Saya tidak suka anak-anak dan kerusuhan yang mereka timbulkan, saya tidak suka mencuci piring, saya tidak suka berurusan dengan bawang dan cabe, apalagi dengan kompor. Cukup banyak alasan mengapa saya sangat tidak ingin menjadi ibu rumah tangga yang tetap tinggal di rumah. Apalagi saat itu saya punya karir yang membanggakan di media massa remaja dan perempuan nasional.

Setelah saya diamanahi tiga orang anak, semuanya seakan berubah. Saya seperti seorang perempuan yang terbangun dalam keadaan amnesia. Saya menjadi ibu rumah tangga yang tinggal di rumah, fulltime mom, dengan aktivitas menulis dan ngeblog yang tidak saya tinggalkan seratus persen. Saya hampir selalu bangun di pagi hari dan bersyukur bahwa saya tidak lagi terjebak macet dan harus berdiri di angkutan umum sepanjang perjalanan rumah-kantor. Saya tidak lagi harus berpacu dengan waktu untuk tiba di rumah sebelum gelap hanya untuk memastikan anak saya baik-baik saja.

Sekarang saya di sini, di rumah saya, yang dikelilingi keributan dan kerusuhan yang ditimbulkan oleh anak-anak (dua diantaranya menjalani Homeschooling, atas pilihan kami dan mereka sendiri), beberapa ekor kucing, satu orang supir bawel dan moody, dan setumpuk pekerjaan rumah yang tidak ada habisnya, oh…dan suami sibuk yang sering dinas luar baik urusan kantor maupun urusan ummat, hehehe…. Saya tidak punya asisten rumah tangga yang special mengurusi masak-cuci-setrika-beberes. Kenapa? Ya, dananya yang harus diprioritaskan. Saya bisa memasak, mencuci, menyetrika, meski enggak pakar-pakar amat. Tapi sampai tuapun saya tidak akan bisa menyetir mobil sendiri (jangankan mobil, motor, becak, sepeda dan otopet pun saya enggak bisaaa). Sementara itu, saya harus mobile antarjemput anak-anak dan untuk berbagai urusan saya. Jadi, saya putuskan mengalokasikan dana untuk menggaji supir, yang kalau sedang kumat menyebalkannya, ingin rasanya saya masukkan dia ke kardus dan saya paketkan ke Timbuktu. Sesegera mungkin, kalau bisa!

Demikianlah, saya menjadi seorang yang multiprofesi dan mendadak multitalented. Kadang jadi dokter, dukun (kalau obat apotik sudah enggak mempan, waktunya mempraktekkan ilmu herbal ditambah jampi-jampi ala saya, yang kebanyakan sih karangan sendiri), dan profesi tetap sebagai koki, tukang cuci piring, kuli cuci setrika, cat-nanny, tukang bayar, teller spesialis ATM (sampai hafal saya kode transfer antarbank di ATM Bersama), asisten mekanik (bantu-bantu pak supir dan tukang bengkel menangani masalah mobil), guru, teman main anak-anak, teman diskusi suami dan anak-anak, tukang jahit (yang sering diledek si sulung, katanya jahitan ibu suka menimbulkan efek semut berbaris yang agak kurang tertib. Maqsudnyahhh???), bus mom (mendampingi pak supir antarjemput si bocah-bocah homeschooling), buyer (khusus isi kulkas dan lemari cuci), PR dan HRD (berhubungan dengan kerjanya tukang sampah, tukang air, tukang listrik, tukang gas, tukang tipi kabel, tukang kebon, tukang genteng bocor, tukang majalah, tukang sayur, dan segala tukang lainnya). Ada lagi, kakak bimbel. Hehehe, ini spesialis kalau si sulung ujian. Secara kami enggak punya dana cukup untuk memasukkan anak-anak ke bimbel yang harganya bikin nyut-nyutan, saya menjadi kakak bimbel yang kadang sama kedernya dengan muridnya, untuk mencari jawaban soal-soal ujian dengan cara dan tempo yang sesingkat-singkatnya. Oh, jadi suku dinas kebersihan urusan makanan sisa bocah, dan ini jadi penyebab utama mengapa diet saya hanya sampai di bab niat. Forever and always. Kurus? Huhuhu, hanya tinggal impian yang indah.

Tenaang, saya masih punya profesi lain yang tak kalah membanggakan. Saya masih menulis untuk beberapa penerbit, ngeblog dan lebih sering jadi hantu lomba demi mengejar hadiahnya yang saya butuuuuh banget, dan membantu suami dalam pekerjaannya sebagai dosen (ikutan proyek penelitian). Menyenangkan bukan?

Keluarga dengan 3 anak, beberapa ekor kucing, dan sehelai eh seorang supir, yang hanya mengandalkan gaji suami yang seorang PNS dan dosen, tentu butuh dana besaaaaar sekali. Saking besarnya, sampai seringnya sih kami berhemat dan saya harus dengan kejamnya memangkas beberapa pos pengeluaran. Yang jelas terpangkas habis seringkali adalah biaya sosialisasi saya sebagai emak-emak, biaya ngopi-ngopi cantik, biaya akibat lapar mata pingin beli gamis dan hijab baru. Lupakan parfum the Body Shop, Elizabeth Arden, Burberry, Estee Lauder, Clinic, dan peralatan perawatan tubuh macam Bath and Body Works, bahkan Oriflame. Lupakan hijab cantik Sashmira, Rabbani, Elzatta dan sejenisnya. Moga-moga kita bisa bertemu lagi Lebaran tahun depan. Mari pakai parfum refill yang sebotol enam puluh ribuan, dan hijab entah tak bermerek. Prinsip saya sih, kalau yang memakainya cantik dan percaya diri, ya tetap saja cantik meskipun tidak bermerek. Iya tokh? *dilempar sandal sama pembaca.

Yang sama sekali tidak boleh dipangkas adalah biaya pemenuhan gizi anak-anak, dan kebutuhan pendidikan mereka. Syukurlah kami menjalankan program home schooling yang bisa kami atur dan siasati sendiri biayanya sesuai dengan kebutuhan anak dan ketersediaan dana. Kami bahkan bisa menggunakan barang-barang bekas sebagai sarana bermain dan belajar. Entahlah, sejak anak-anak menjalani homeschooling, agaknya saya jadi jatuh cinta pada kardus bekas.

Untuk masalah pemenuhan gizi, saya men-challenge diri saya untuk minimal memasak sekali dalam sehari. Kalau sarapan biasanya bagian suami saya yang masak. Nah makan siang, snack sore, dan makan malam, salah satu, salah dua, atau kesemuanya harus ada masakan saya. Kenapa? Biar saya bisa mempraktekkan ilmu dari buku dan tabloid resep yang banyaknya sudah lebih dari 4 lemari di rumah, belum lagi yang di netbook, di USB, di smartphone. Hadeuh. Tekad saya, sebelum mati, saya sudah kelar mempraktekkan semua resep itu. Alasan lainnya adalah biar lebih irit. Beli lauk di warteg buat makan saya dan tiga bocah saja bisa limapuluh ribu (bocah senang ayam dan udang, mahal ya bo sumpah). Apalagi belinya di restoran padang, fastfood, atau mall. Hadeuuuhhh.

Sementara itu, bocah juga saya ajarkan irit. Saya memberitahu mereka jika keadaan keuangan sedang tidak menyenangkan. Saya juga memberi mereka rewards jika mereka berhasil melakukan sesuatu yang dianggap baik dan hebat. Alhamdulillah, so far mereka mengerti.

Tapi apa cukup usaha begitu? Ya enggaklah. Kenaikan harga barang-barang sekarang nyaris tidak terkejar, kecuali oleh mereka yang berpendapatan 25 juta perbulan, dengan asumsi 3 anak dan hidup di kota yang biaya hidupnya ampun-ampunan kayak di Jakarta. Itu juga dengan catatan, enggak boleh terlalu ganjen bersosialisasi hampir tiap malam. Percuma kan jadi selebgram, hang out dimana-mana, tapi habis itu dikejar debt collector kartu kredit? Untunglah, saya tidak punya kartu kredit lagi, sehelaipun. Dan tidak akan pernah lagi, insha Allah.

Jadi, apa yang saya lakukan? Ya itu tadi, di sela-sela waktu dan badan yang hancur-hancuran ini, saya masih menulis, membantu riset suami saya, ngeblog dan menjadi hantu lomba. Hasilnya Alhamdulillah, meski mungkin tak seberapa orang bilang, bagi saya itu cukup berarti buat membantu suami. Suami menyuruh saya bekerja? Tidak. Dia menyerahkan semua keputusan kepada saya. Tapi saya yang enggak tega, saya enggak suka ‘menadah’ sementara saya pernah bisa menghasilkan uang sendiri. Saya enggak tega, suami saya dinas berturutan, disamping pengabdiannya ke ummat, belum lagi kalau dia sedang sakit.

kudo 1

kudo 2

Serunya jadi emaaakkk….. (foto credit by Google)

Maka, saya bersetia pada jalan yang telah saya pilih. Saya tetap menulis, dan sesekali menerima pesanan masakan (yang ini ingin saya kembangkan lagi sebenarnya). Saya tidak ingin kembali bekerja nine to five, apalagi saya telah menjadi fasilitator home schooling bagi anak-anak saya, dan ingin mengembangkan home schooling untuk anak-anak dari keluarga kurang mampu.

Agaknya saya juga mulai tertarik untuk jadi agen KUDO (Kios Untuk Dagang Online). Sebuah cara baru belanja dan berjualan online, dimana kita bisa berjualan ribuan produk tanpa modal, hanya memanfaatkan sosmed dan referral code kita.Penasaran kan? Makanya buka ya link yang tadi saya highlight. Terus registrasi pake kode referral saya. Jangan lupa download aplikasinya di Google Playstore.

 

Lalu, bahagiakah saya? Alhamdulillah. Ada doa dan wirid dalam setiap pekerjaan yang bisa saya panjatkan buat orang-orang tercinta itu. Sambil nyuci, menyetrika, masak, dan sambil menemani mereka belajar dan bermain. Sambil menulis, membuat pudding pesanan, dan sambil mengoptimalisasi sosial media demi pekerjaan.

Tapi saya juga manusia biasa, Yang kadang lelah, jenuh, dan berkurang keikhlasan. Kadang terlintas keinginan seperti ibu-ibu lain yang masih bisa ngopi-ngopi cantik di Café Bean (salah satu café favorit saya duluuu), yang masih bisa ngumpul-ngumpul haha hihi di mall, sementara saya bolak-balik menemani bocah sambil ngurus cucian. Yang masih bisa melakukan apa-apa yang dulu biasa saya lakukan, dan kini tidak bisa saya lakukan dengan pertimbangan berbagai skala prioritas,

 

Apalah lagi kalau sedang sakit. Ingin rasanya ada yang membantu memasak, mencuci, menyetrika dan membereskan rumah. Tapi memang pada prakteknya, seorang ibu enggak boleh sakit. Kalau sakit juga enggak boleh lama-lama.

 

Dan… yang paling menyakitkan adalah kata-kata, yang kadang datang dari orang dekat, yang menyebabkan baper tak tertahankan. Misalnya, “kerja ngurus anak doang kok capek”. Yuk mari, sini gantian. Atau, “Jadi istri kok memperkaya diri sendiri”. Hah? Belah mana saya memperkaya diri sendiri? Boro-boro beli perhiasan, parfum saja pakai yang refill kok. Kalau beli parfum refill juga dianggap memperkaya diri sendiri, ya sudah besok jangan salahkan saya ya kalau ketemu ente-ente semua saya bau badan. WKwkwkwkw… Atau, “Kita sih bisa kok ngurus semuanya tanpa ibu.” Oh, yuk mari. Buang aja ibunya yaaa. Cobaaa, saya mau lihaaat, benerrrrr enggak tuh beressss semua. Terus ini lagi, “Elu sih enak ya, di rumah jaga anak. Bisa nyantai. Nah gue di kantor, ngejar target, stress”. Tapi ngomongnya dengan ekspresi bangga yang kontradiktif gitu. Oh, tukeran yuk sini. Emangnya situ enggak stress melihat rumah yang baru dibereskan dalam hitungan detik kembali berantakan kayak Titanic karam? Emangnya situ enggak stress sudah capek-capek goreng ayam, eh ayamnya dimakan kucing?

 

Betul hidup itu adalah pilihan. Tapi kadang rasa lelah dan jemu datang tanpa diundang. Kenapa? Karena saya dan anda semua adalah manusia biasa. Yang imannya naik dan turun, begitu juga dengan keikhlasannya. Maka, mari hargai pilihan hidup masing-masing, jangan mencela dan merendahkan pilihan orang lain. Karena setiap kita pada dasarnya adalah pahlawan keluarga, pahlawan bagi orang-orang tercinta, maka jangan nodai niat dan sikap sebagai pahlawan keluarga itu dengan kalimat yang menusuk.

Gimana? Enggak usah baper? Situ kira-kira baper enggak kalau dibegitukan? Ya kali situ malaikat, saya sih manusia biasa. Hayati lelah, Bang. Sangat lelah.

 

Sumpah, saya juga enggak mengejar predikat pahlawan keluarga, sebab apa yang saya lakukan masih jauh dibanding dengan jerih payah suami saya, dan pengorbanan para ayah dan bunda lain di luar sana. Simply, saya hanya ingin melakukan semuanya dengan ringan, dengan kebahagiaan-kebahagiaan simpel. Percaya atau tidak, setiap kali saya lelah, yang saya ingat adalah sejumlah film yang saya tonton pada masa lalu, yang membentuk karakteristik seorang ibu dalam benak saya. Misalnya Ma Carolynn (Karen Grasle) dalam serial “Little House on The Prairie” atau tokoh ibu yang diperankan Donna Reed dalam “The Donna Reed Show”. Ibu yang bahagia, ibu yang menyejukkan. Hanya ibu yang bahagia yang bisa menularkan aura kebahagiaan yang sempurna pada keluarganya. Hanya itu. Sumpah saya hanya ingin jadi ibu yang begitu.

kudo 3

5-12-09 rec’d via email from Paul Petersen.I have the only “full color Stone Family photo” ever taken of the Donna Reed Show cast…including my little sister, Patti Petersen…from 1966.

Emak Donna yang cantik dan bahagia dikelilingi suami dan tiga anaknya dalam serial TV tahun 50-60an, “The Donna Reed Show”.

Yang ini opening scene serialnya. Enggak tahu deh saya rasanya pernah nonton, tapi kayaknya TVRI enggak pernah memutarkan serial ini ya.

 

kudo 4

Yang ini mak Carolynn yang cantik dan bahagia dikelilingi suami dan anak-anaknya. Ini dari serial TV tahun 1970-1980an, “little House on the Prairie” yang jadi tontonan wajib saya tiap minggu siang. Bela-belain enggak mau ikut pergi demi lihat serial ini.

Terus ini video opening scene yang damaiiii banget…

Dan yang ini…. *drum roll*

kudo 5

Mak Ipeh yang bahagia dan (agak) cantik (sedikit) dikelilingi suami dan anak-anaknya. Sama kan? Bedanya mak Ipeh belum pernah main film ajaaa….

 

Jadi, maafkan saya bila saya lelah, saya hanya ingin menyingkir sejenak, dari ruang ramai di rumah, dan dari ruang riuh di sosmed. Saya memilih menyendiri di kamar sambil sedikit wirid dan berzikir, atau sekedar membaca ayat-ayat yang membuat saya merasa sejuk. Atau sekedar menyimak kembali old playlist saya yang biasanya saya setel menandakan saya sedang lelah sangat, urutannya : “Home on The Range” (Gene Autry), “A Summer Place” (Andy Williams), “The Way We Were” (Bing Crosby), “For the Good Times” (Perry Como), “True Love Ways” (Sir Cliff Richard), “Three Stars Will Shine Tonight” (Richard Chamberlain), “Anyone at All” (Carole King), “Over You” (Anne Murray), dan beberapa lagu lain, yang umurnya lebih tua dari saya sendiri. Itu ‘upacara’ yang saya lakukan jika sedang lelah sangat. Lelah fisik dan psikis.

Ini lagunya opa Gene Autry tahun 1930-40an, yang selalu meninabobokkan saya kalau lagi lelah… menenangkan bangeeet….

 

Jangan usik saya di FB, twitter, dan semua medsos saya, termasuk WA, Telegram, BBM, dan sms. Percayalah, saya tidak akan membalas segera. Nanti jika saya sudah stabil kembali, saya akan membalasnya satu persatu.

Sebetulnya, panjang lebar saya cerita, intinya hanya satu, jangan remehkan posisi dan pengorbanan orang lain. Tanpa kamu tahu, dia adalah pahlawan keluarga bagi keluarganya, dan pahlawan bagi dirinya sendiri, sebab dia telah berusaha memenangkan hatinya untuk tetap ikhlas. Sebab tidak ada seorangpun yang senang diganggu keikhlasannya, bukan? Saya juga. Anda juga. Yuk sama-sama jadi pahlawan keluarga sekaligus pahlawan bagi diri kita sendiri.

Dan lagu ini yang selalu bikin saya menangis dan menyadari bahwa setiap ibu adalah pahlawan bagi keluarganya.

 

Posted in life, muslimah, perempuan, psikologi, sikap | Tagged , , , , , , , , , , , , | 2 Comments

Makna Di Balik Fashion Muslim untuk Keluarga

Dulu sekali, beberapa tahun yang lalu, setiap lebaran tiba saya selalu ingin memakai baju keluarga yang kompak dengan suami dan anak (waktu itu masih punya anak satu). Lihat di majalah wanita muslim, kok bagus-bagus ya, keren gitu, sekelurga pakai baju yang warna dan coraknya sama. Pasti cakep ya kalau difoto. Tapi pas memikirkan harganya, kayaknya kok mahal ya. Enggak sesuai sama isi kantong. Itu waktu saya baru resign dari kantor. Padahal sebelumnya waktu masih ngantor, entah kenapa kok malah enggak terpikir mau kompakan berbusana sewarna dan sama corak dengan suami dan si kecil. Pas sudah resign baru terpikir. Alhasil, berbaju kompak di hari raya hanya bisa jadi cita-cita saja.

 

Alhamdulillah, semakin lama, saya semakin mengerti makna berlebaran bersama suami dan anak-anak, yang kini jagoan kecil saya sudah berjumlah tiga orang. Bahwa selain makna hakiki berlebaran adalah saling membuka diri untuk meminta dan memberi maaf, lebaran juga mengandung arti saling memberi kebahagiaan dan momen untuk menemukan kembali arti keluarga dan persahabatan. Salah satunya dengan membahagiakan keluarga kecil lewat baju yang sederhana namun bagus dan pantas dipakai bersilaturahmi, tak perlu mahal, dan sesuai dengan kaidah fashion muslim. Dengan dana yang seadanya, saya memesan baju untuk saya, suami, dan ketiga bocah, kepada seorang sahabat yang juga penjahit  fashion muslim. Tahun itu kami pertama kali kompak berbaju lebaran. Rasanya? Alhamdulillah, bersyukur banget, pas lihat foto kami sekeluarga, rasanya ada kebahagiaan dan kenangan tersendiri pada lebaran kali ini, bersama suami dan anak-anak. Kekompakan, kebersamaan, dan kesederhanaan adalah poin terpenting dari makna sebuah baju keluarga, sesederhana apapun itu.

ethica 1

Bersama keluarga besar, in white n blue

 

Tahun-tahun berikutnya, berbaju lebaran kompak, adalah sebuah momen yang cukup kami pentingkan. Sekali lagi, busana yang kami cari tidak harus mahal, namun nyaman, bahannya enak dipakai, modelnya juga cukup sesuai dengan trend fashion muslim saat itu dan sesuai syariah. Sebagai seorang hijabers, saya tentu sangat memikirkan kaidah syar’I dari busana yang kami kenakan. Misalnya untuk busana saya, tidak boleh membentuk tubuh, tidak terlalu tipis (dan juga enggak terlalu tebal, karena hareudang alias panassss kata orang Sunda mah), tidak menyerupai busana laki-laki, dan tidak berlebihan baik dari segi model dan harganya. Demikian pula untuk busana suami dan anak-anak, suami saya sangat menekankan untuk tidak berbusana mewah dan berlebihan. Suami dan anak-anak sama-sama merasa nyaman dengan baju koko lengan pendek atau kalaupun lengannya panjang, tidak banyak detail dan ornament, serta bahannya tidak terlalu tebal dan tidak berbulu.

Sebetulnya juga, tidak harus beli di tempat yang sama, yang penting warnanya senada dan coraknya hampir sama. Belinya juga kadang beda-beda, sesuai harga dan dapatnya dimana.

ethica 2

Dressed in blue

 

Namun, saya melihat satu brand yang sebetulnya sudah cukup lama saya kenal. Ethica. Ternyata ya, baju keluarganya bagus-bagus, pilihan warna, model, corak dan bahannya. Harganya juga cukup terjangkau. Apalagi koleksinya yang namanya Hafa alias Happy Family. Aduh betul-betul cocok menggambarkan sebuah keluarga bahagia yang bersyukur menyambut lebaran dengan kegembiraan. Filosofinya ‘dapet’ banget deh. Coba lihat deh nih, ada beberapa model yang cocok bagi keluarga kami.

ethica 3

ethica 4

ethica 5

ethica 6

ethica 7

 

Oh ya, berpikir tentang Happy Family, saya kok mendadak dapat ide. Kan yang namanya kebahagiaan itu harus dibagi ya. Biar makin bahagia, bersyukur, dan makin berkah. Bagaimana jika tahun depan, kita sisihkan sebagian rezeki kita untuk berbagi kebahagiaan membelikan set baju keluarga Ethica untuk saudara-saudara, tetangga, atau asisten rumah tangga kita, untuk dipakai berlebaran bersama keluarga? Semoga semakin berkah kebahagiaan yang kita terima dan juga berkah bagi Ethica sebagai brand Fashion Muslim untuk keluarga.

Posted in fashion, halal, islamic, lifestyle, muslimah, syariah | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

11 Makanan Wajib Coba Wisata Kuliner Sumbawa

Ini dia bagian terlezaaat dari empat seri postingan saya tentang Tanah Samawa. Kulineraaan… yang enggak boleh dilewatkan jika kita berwisata ke Sumbawa. Bagi fans nya ikan garis keras, siap-siap ya pulang dari Sumbawa, perutnya tambah gendut, karena yang namanya ikan-ikanan itu termasuk primadona hidangan khasnya Sumbawa. Penasaran kan?

Nah, ini dia sebelas makanan wajib dicoba kalau sedang berwisata di Sumbawa.

 

Singang

kulsum 1

Ini adalah makanan khas Sumbawa yang berbahan dasar ikan segar. Ikannya sih boleh ikan apa saja, namun disarankan ikan bandeng dan kakap. Kenapa ya? Ya mungkin lebih gurih saja gitu kali ya. Kuahnya kekuningan dipadu dengan merahnya cabe (eh pakai cabe rawit juga), dan hijau segarnya daun kemangi. Kebayang deh, pasti pedas, segar, dan wangi. Apalagi dimakannya panas-panas di warung yang banyak terdapat di Sumbawa.

 

Sepat

kulsum 2

Ini juga makanan ikan berkuah khas Sumbawa. Jadi ini ikannya dibakar terus dimakan bersama dengan nasi putih panas, sambal tomat dan irisan mentimun. Biasanya ikan yang digunakan adalah ikan kakap atau baronang berukuran sedang. Kuah sepatnya yang nanti dicelupkan ikan bakar, adalah terong, mangga muda, daun aru, belimbing wuluh, tomat, kemiri, dan asam Sumbawa. Uihhhh segerrr…asem-asem manis gimana gitu.

 

Gecok

kulsum 3

Kalau tadi berbahan dasar ikan, ini berbahan dasar daging dan jeroan sapi. Daging, hati, dan jeroannya digoreng kemudian dimasukkan ke dalam tumisan bumbu yang khas banget deh pakai belimbing wuluh. Kebayang ya, gorengan pakai semacam serundeng, dibumbui tumisan segar asam. Pasti enggak bisa kalau enggak tambah lagi dan lagi.

 

Bubur Palopo

Dalam bahasa Sumbawa, bubur palopo artinya bubur kerbau. Ya bubur ini menggunakan susu segar kerbau sebagai pengganti santan. Tambahan lainnya adalah gula merah dan air rebusan terong kuning, Jadi enggak pakai daging kerbau sama sekali sih. Jangan khawatir ya buat yang enggak suka daging kerbau. Bubur ini enak lho, gurih-gurih manis. Enggak ada citarasa kerbaunya sama sekali.

 

Manjareal

Ini adalah jajanan asli Sumbawa yang berbahan dasar kacang tanah yang diberi bumbu, dan dibungkus dengan daun lontar. Aromanya harum dan unik. Enak banget dinikmati sambil minum teh atau kopi panas. Yuhuuu.

 

Palumara

kulsum 4

Mirip dengan masakan khas Bugis, yang juga berbahan dasar ikan, hidangan Sumbawa ini menggunakan ikan tongkol, cakalang, atau kakap, dan berkuah santan. Yang paling populer adalah palumara dari kepala ikan yang berukuran besar. Mungkin karena lemak dan tulang muda di bagian kepala ikan, membuat kuahnya yang encer menjadi berlemak atau lengket. Rasanya asam segar karena ada tomat merah dan belimbing wuluh.

 

Uta Londe Puru

Ikan bandeng bakar berukuran besar yang dibiarkan saja isinya, hanya dibuang jeroannya, dibakar setelah dibumbui garam. Rasanya gurih dan manis, terutama jika ikannya segar dan baru ditangkap. Dihidangkan bersama sambal kecap dan potongan jeruk lemon cui.

 

Uta Janga Puru

Mirip dengan ayam taliwang, ayam yang besarnya sedang, tidak dipotong-potong tapi dibuat bekakak. Setelah dibumbui, ayam kemudian dibakar, dan dimakan panas-panas dengan sambal sambal bawang, dan jika suka rasa manis, bisa minta pakai madu sebelum dipanggang.

 

Uta Maju Puru

Pernah makan daging rusa? Nah ini salah satu kuliner Sumbawa yang bahan dasarnya daging rusa. Hanya dibumbui garam, daging rusa kemudian dipanggang di atas bara api, setelah melewati proses pengeringan. Rasanya? Konon sih, gurih dan manis. Saya sendiri terus terang enggak tega membayangkan rusanya kan cantik dan lucu ya, kok dimakan ya? Hihihi.

 

Uta Mbeca Ro’o Parongge

Ini nih…. Sayur bening daun kelor, hampir sama dengan sayur daun kelor ala orang Betawi. Lengkap dengan temu kuncinya, namun sayuran yang ditambahkan ke dalamnya, selain daun kelor, adalah kangkung dan toge. Saya selaku pecinta sayuran, jadi penasaran deh, kira-kira gimana ya kolaborasi sayur mayur yang kayaknya enggak temenan ini…pasti enaaak.

 

Tumi Sepi Sambal Parado

Ini temannya si sayur daun kelor, yaitu tumis udang rebon. Bisa juga untuk teman makan sayur asam. Rasanya pasti bikin terus tambah nasi dan lauk.

 

Tuh, betul kan? Jangan salahkan saya ya, selaku tukang review, kalau pulang dari Sumbawa, banyak yang mengeluhkan masalah timbangan berat badan….

Referensi dan Credit Foto:

sumbawakab.go.id

femina.co.id

lombok.panduanwisata.id

banner sumbawa

 

 

 

Posted in food, kuliner, travelling, Uncategorized, wisata | Tagged , , , , , , | Leave a comment

Sekilas Dua Putra Terbaik Sumbawa

Berbicara mengenai Tanah Samawa, ternyata belum banyak yang mengenal tokoh-tokoh yang merupakan putra-putra terbaiknya. Padahal cukup banyak sumbangsih putra-putra Sumbawa yang telah mengharumkan nama bangsa ini dan memberikan kontribusi terbaik bagi tanah air Indonesia.

Kali ini saya hanya akan memperkenalkan dua dari sekian banyak tokoh putra-putra terbaik tanah Samawa. Keduanya lahir dalam zaman yang berbeda, namun keduanya telah mampu mengukir prestasi yang membanggakan bagi tanah kelahirannya.

 

pemuda sumbawa 1

Yang pertama adalah Laksamana Madya TNI H Lalu Manambai Abdulkadir. Beliau lahir di Sumbawa Besar, 28 November 1928 sebagai putra dari keluarga Adipati Kesultanan Sumbawa, H. Lalu Tunruang. Sejak kecil Manambai telah menunjukkan jiwa kepemimpinan yang menonjol diantara anak-anak seusianya. Sejak usia 6 tahun, Anam (nama panggilannya) telah dikirim orang tuanya bersekolah di Bima, yang pada masa itu perjalanan antara Sumbawa-Bima bisa ditempuh dalam 7-8 hari perjalanan dengan mengendarai kuda. Setelah menempuh pendidikan di HIS/ELS di Bima Mataram, Anam melanjutkan pendidikannya ke Surabaya untuk setingkat SMP.

Di kota inilah, ia bersentuhan dengan semangat perjuangan. Ia bergabung dalam TRIP atau Tentara Pelajar pimpinan Mas Isman tahun 1941-1944. Demikian pula ketika ia melanjutkan SMA ke Jogja, dimana ia kemudian menjadi Komandan Gerilyawan Republik Indonesia Pangkalan  III Cirebon. Sejak zaman kemerdekaan, Ambai meneruskan karirnya di militer di Angkatan Laut hingga menjalani purna tugas di tahun 1983 dengan pangkat terakhir sebagai Laksamana Madya TNI AL (bintang tiga).

Selama dalam perjalanan karirnya yang panjang, Ia telah menempati berbagai posisi strategis sesuai dengan keahlian dan ketrampilannya, seperti Komandan Komando Kapal Selam (Dankojenkasel), Panglima Armada Laut RI, hingga Deputi Kasal. Peristiwa yang cukup momental dilaluinya ketika sebagai Komodor Laut (Bintang Satu), ia ditugaskan dalam OPerasi Mandala dalam rangka pembebasan Irian Barat, mendampingi Komodor Yos Sudarso. Yos SUdarso kemudian gugur di Laut Arafuru. Saat itu Ambai bertugas sebagai Komandan Komando Satgas Kapal Selam Armada Laut RI. Tugas penting lainnya adalah ketika Bung Karno menugaskannya untuk menjemput kapal selam dari Soviet dan Polandia tahun 1958, yang mengantarkannya sebagai putra Indonesia pertama yang mendapatkan Sertifikasi Kualifikasi Pendidikan Kapal Selam dan Pelatihan Persenjataan Bawah Laut dengan predikat Summa Cumlaude. Pengakuan yang sama ia dapatkan dari Angkatan Laut Amerika Serikat pada tahun 1968.

Ia yang dijuluki Bung Karno sebagai Koboi dari Sumbawa ini pernah beberapa kali juga ditugaskan sebagai perwakilan Negara, baik dalam rangka tugas militer maupun diplomatic. Ia memperoleh 23 bintang Tanda Jasa dan Kehormatan dari pemerintah.

Beliau wafat pada usia 66 tahun di Jakarta 16 Februari 1995 dan dimakamkan di TMP Kalibata. Anambai meninggalkan seorang istri, Hj. Felisitas, dan 6 anak.

 

pemuda sumbawa 2

Masih berhubungan dengan kisah perang, Perang yang ini berlangsung dalam bentuk film. Namanya Perang Sapugara, Ini merupakan sebuah film yang disutradarai sekaligus diperankan oleh Adi Pranajaya, yang merupakan juga salah satu putra terbaik tanah Samawa. Berbeda zaman dengan Anambai, Adi membuat fim ini pada tahun 1994, dengan menceritakan perjuangan rakyat Sumbawa tempo dulu. Dengan durasi 90 menit, film ini cukup intens menggambarkan sisi perjuangan rakyat Sumbawa dan bisa menjadi salah satu bahan sejarah untuk generasi muda yang akan datang.

Adi yang kelahiran Sumbawa ini seorang pembelajar dan pekerja keras. Ia pernah berguru soal film kepada Teguh Karya dan Arifin C Noer. Dari hasil pembelajaran dan kerja kerasnya yang tiada henti, ia sudah menghasilkan lebih dari 50 naskah film, beberapa judul buku, dan karya-karya pertunjukan lainnya. Dimanapun ia selalu mengingatkan agar para pekerja seni selalu membawa ruh tradisi dalam menciptakan karya-karyanya, agar karya seni yang dihasilkan tak sekedar seni saja, namun memiliki banyak nilai yang berharga untuk diberikan kepada para penonton.

 

Dua sosok yang saya perkenalkan ini adalah mutiara yang terlahir di Sumbawa, bersama dengan banyak mutiara lainnya. Masih terlalu sedikit yang saya ketahui tentang mereka, dan ini membuat saya merasa ingin menggali lebih banyak lagi tentang tokoh-tokoh yang merupakan putra terbaik kelahiran tanah Samawa.

 

Cuplikan film Perang Sapugara

 

Referensi dan foto:

Bangmek.wordpress.com

Lsmboang.wordpress.com

Suarasumbawa.com

 

banner sumbawa

Posted in culture, film, pemuda, sejarah, Uncategorized | Tagged , , , , , , , , | Leave a comment