Kisah Pippin si Tikus Pengintip

#ceritaanak

 

Di sebuah bukit yang hijau, setiap malam terdengar suara seekor hewan bernyanyi. Suaranya merdu namun menyedihkan. Siapapun yang mendengar pasti akan ikut merasa sedih. Begini lagunya;

 

Kalau kamu takut pada gelapnya malam,

Maka bagaimanakah aku ini?

Sepanjang hari aku ada dalam gelap

Hanya kudengar suara-suara tapi tak ada bentuk

 

Kasihan, bukan?

Kalian bisa menebak, hewan yang menyanyikannya pasti seekor hewan buta, yang tak dapat melihat terangnya siang.

Hewan yang bernyanyi sedih itu ternyata seekor tikus berbulu abu-abu, bernama Pippin. Dia tinggal sendirian di sebuah liang di kaki bukit itu.

Dulu, Pippin tidak buta. Ia malah memiliki sepasang mata yang bersinar-sinar terang.

Tetapi Pippin mempunyai hobi yang aneh. Ya, ia suka sekali mengintip gudang persediaan makanan milik tetangga-tetangganya. Setelah mengintip, Pippin akan menemui para tetangga itu dan meminta makanan simpanan mereka. Pippin memang malas mencari makanan sendiri.

Satu dua kali, tetangga-tetangganya memberinya sedikit makanan dengan senang hati. Tapi Pippin terus dan terus mengintip lalu meminta-minta. Lama-lama tetangga-tetangganya menjadi jengkel. Pippin jadi tambah malas mencari makanan. Hari-harinya hanya diisi dengan mengintip dan meminta.

“Bu Ceri Curut, sepertinya kamu punya sepotong keju besar yang lezat ya di gudangmu?” Tanya Pippin suatu hari kepada tetangganya, bu Ceri Curut.

Bu Ceri memandang Pippin dengan wajah tidak suka.

“Kamu pasti habis mengintip isi gudangku ya?” tebak bu Ceri.

Pippin tersenyum dan menjawab, “Iya, bu, kulihat gudangmu penuh sekali. Ada sepotong besar keju yang kelihatan lezat di sana.”

“Kenapa sih kamu senang sekali mengintip, Pin?”

“Karena aku tak biasa mencari makanan sendiri. Kan ada kalian, tetangga-tetanggaku, jadi aku hanya tinggal melihat isi gudang kalian dan memintanya. Kalian pasti akan memberinya, bukan?”

Bu Ceri cemberut. “Tidak. Kamu pemalas. Lagipula kan tidak sopan, mengintipi gudang hewan lain. Kamu juga kalau diperlakukan seperti itu, pasti tidak suka”.

“Aku kan tidak punya gudang. Aku tikus paling miskin sedunia. Makanya, bagilah keju itu denganku, bu Ceri,” pinta Pippin.

“Tidak! Aku tak ingin membaginya dengan tikus malas dan tidak sopan sepertimu. Pergilah!” usir bu Ceri dengan kesal.

Dasar Pippin nakal sekali. Karena sangat ingin makan keju, lagi-lagi ia mengintip isi gudang bu Ceri.

Asyik sekali dia mengintip. Dia mulai berpikir untuk mencurinya saja sekalian. Tengah asyik, Pippin tidak menyadari kalau ada kayu pintu gudang yang jatuh.

Bruk! Kayu itu jatuh tepat di depannya. Untunglah, Pippin tidak kena. Tapi, ada paku-paku yang terlempar dari kayu itu.

Plop! Paku-paku itu mengenai kedua mata Pippin. Pippin langsung menjerit kesakitan. Matanya berdarah. Bu Ceri yang kaget mendengar teriakan Pippin langsung membawanya ke dokter.

Paku-paku itu memang bisa dikeluarkan dari bola mata Pippin. Tapi matanya tak bisa tertolong lagi. Sejak saat itu, Pippin yang malang hanya mengenal satu warna: hitam yang gelap.

Pippin menyesal sekali. Sejak saat itu ia menjadi pemurung dan tak lagi suka mengintip.

 

 

#30DEM

#30DaysEmakMendongeng

#day19

#temabebas

#fabel

Advertisements
Posted in fiksi, Uncategorized | Tagged , , , | Leave a comment

Libi Lebah Ingin ke Bulan

#ceritaanak

 

Libi Lebah yang tubuhnya kecil mungil dan berwarna kuning-hitam ini punya cita-cita besar. Ya, dia ingin pergi ke bulan. Seperti manusia yang sejak empat puluh tahun yang lalu sudah menginjakkan kakinya di bulan, Libi ingin sekali menjadi lebah pertama yang menginjakkan kakinya di bulan.

Libi suka sekali memandangi bulan yang tengah bersinar di malam yang gelap. Apalagi kalau bulan sedang bulat penuh, atau yang biasa kita sebut dengan bulan purnama. Saat itu seluruh alam tampak terang benderang, bahkan puncak-puncak gunung dan pohon kelihatan berwarna keperakan, seperti warna sinar bulan.

Kalau bulan sedang berbentuk lengkung, yang kita sebut bulan sabit, Libi juga suka. Alam tampak agak gelap, tetapi tidak gelap gulita. Di balik pepohonan, sinar bulan mengintip malu-malu.

Addduuuh, pokoknya Libi cinta sekali sama bulan, Ia tidak peduli kalau bulan sebenarnya tidak memiliki cahaya sendiri. Cahaya atau sinar yang selama ini kita lihat, kan, asalnya dari matahari  yang dipantulkan oleh permukaan bulan.

Untuk mewujudkan cita-citanya itu, Libi dari sekarang mempelajari sgala sesuatu tentang bulan. Ia mempunyai kliping tersendiri tentang bulan. Ia membuat gambar-gambar tentang astronot dan pesawat ruang angkasa. Tapi khusus buat lebah, lho.

Suatu malam Libi bermimpi. Dalam mimpinya ia bertemu dengan neil Armstrong, manusia pertama yang menginjakkan kakinya di bulan. Libi kagum sekali kepadanya. Berani ya, dia pergi ke bulan. Sementara di bulan kan tidak ada udara untuk bernafas, dan dia hanya dibekali tabung oksigen untuk keperluan bernafas.

Masih dalam mimpinya, ia diajak Neil Armstrong terbang ke bulan dengan pesawat ruang angkasa model baru yang super canggih. Di dalamnya banyak sekali alat-alat yang semuanya diatur dengan system computer. Aduuuh, Libi pusing sekali.

Ketika pesawat itu mulai  meninggalkan bumi, tiba-tiba Libi merasakan getaran yang hebat. Perutnya seperti dikocok-kocok. Oh, ia mual sekali. Apalagi ia ternyata lupa pipis. Aduuuh, Libi ingin pipis. Bagaimana kalau ia mengompol?

Getaran itu menghebat. Tetapi Neil Armstrong tampaknya biasa saja. Mungkin karena dia sudah pernah pergi ke luar bumi sebelumnya ya? Sementara Libi jungkir balik dan mengapung di dalam epsawat dengan perasaan tak karuan.

Sambil terus mengamati, Neil berkata bahwa getaran itu adalah akibat pergesekan antara badan pesawat dengan atmosfir (lapisan udarayang menyelubungi bumi kita). Libi dan neil mulai melayang, itu tandanya mereka sudah tidak lagi mengalami gaya tarik bumi (gravitasi).

Tapi sungguh deh, Libi mual dan ingin pipis!

“Di sini tidak ada toilet, Libi. Nggak apa-apa, nanti juga perasaan ingin pipismu akan hilang dengan sendirinya,” jelas neil dengan sabar.

Aduh, mana di luar gelap sekali, keluh Libi dalam hati sewaktu melongok dari kaca jendela pesawat. Bagaimana kalau nyasar?

Tentu saja tidak mungkin nyasar, karena semua sudah disiapkan sedemikian rapi. Libi hanya terlalu cemas dalam perjalanannya kali ini. Makulmlah ini adalah perjalanan pertamanya ke luar bumi.

Libi dan Neil akhirnya mendarat juga di bulan. Huaaaaa… kenapa aku tidak bisa menjejakkan kakiku di bulan? Keluh Libi dalam hati. Ia terus melayang-layang, dan berteriak-teriak panic, karena dirinya semakin menjauh dari permukaan bulan. Neil juga tampak panic menyadari  Libi tak mau kembali ke permukaan bulan.

Astaga, Libi menjauh dan makin jauh.

“Aaaaaaaaa….” Libi berteriak ngeri.

Masih sempat dilihatnya Neil panic mengejarnya, tapi tak sampai.

Libi melihat ke bawah… ia menutup matanya ngeri….

 

Bluk! Krekek!

Astaga! Libi terbangun. Badannya sakit semua. Ia melihat ke kiri dank e kanan.

Lho? Dimana dia sekarang?

Ternyata ia terjatuh dari sarangnya ke dahan pohon di bawahnya.

Libi merasa kepalanya pusing. Mimpinya tadi membuatnya lemas dan kaget. Itulah akibatnya jika banyak melamun dan lupa membaca doa sebelum tidur. Libi mengusap-usap punggungnya yang sakit sambil meringis.

Ia sadar, harusnya ia tidak hanya melamun. Untuk jadi astronot lebah, ia masih harus belajar sangat banyak dan sangat rajin. Libi yakin, kalau ia rajin belajar dan berdoa, pasti cita-citanya akan tercapai. Bukan hanya mimpi.

 

#30DEM

#30daysEmakMendongeng

#day18

#citacitaku

#fabel

Posted in fiksi, Uncategorized | Tagged , , , | Leave a comment

Beki Bebek Belajar Bernyanyi

#ceritaanak

 

 

Kalau ada lomba menyanyi antar hewan di hutan Cintadamai, maka pasti yang keluar sebagai pemenangnya adalah Nur si Burung Nuri. Suara Nur yang merdu itu sudah terkenal di seluruh pelosok hutan. Apalagi Nur juga pandai menyanyikan hamper semua jenis lagu dengan siulannya. Nur juga setia membangunkan para penghuni hutan di pagi hari dengan nyanyiannya yang merdu. Ia juga suka menyanyi diiringi oleh sekumpulan burung gereja.

Di hutan itu juga, tinggallah seekor bebek berwarna kuning bernama Beki. Ia tinggal di dekat danau, dimana Nur sering juga bermain ke situ.Beki dan Nur sudah lama bersahabat. Sstt… diam-diam Beki mengidolakan Nur lho. Karena itu, Beki ingin sekali bisa seperti idolanya itu. Beki ingin pandai menyanyi seperti Nur.

Kalau Nur bersuara sangat merdu, maka Beki adalah kebalikannya. Suaranya jauh sekali dari merdu. Cempreng dan berisik. Apalagi kalau Beki sedang mengomel. Waduuuh, seluruh penghuni hutan pasti akan protes karena merasa bising dan terganggu.

Sebenarnya, Beki juga senang benryanyi. Tapi setiap kali ia mulai bernyanyi,para penghuni hutan yang lain langsung menyuruhnya diam.

“Suaramu lebih buruk daripada Kimi Kucing kejepit kereta,” komentar Pipi Tapir.

“Yaa, sedikit lebih bagus lah daripada lolongan Dodog Anjing di tengah malam,” sambung Piggi Babi.

“Kalau aku mendengar suaramu, aku langsung pusing tujuh keliling,” kata Susi Sapi.

Mendengar hal itu, sedih hati Beki. Ia merasa minder, karena suaranya jauh dari sahabatnya sendiri.

Suatu hari, Beki menemui Nur. Ia minta diajarkan menyanyi oleh Nur. Tentu saja, sebagai sahabat, Nur senang sekali mengajari Beki. Sekarang mereka mulai berlatih.

“Doooo…” suara Nur, merdu sekali.

“Doooo-o-o-o… hek hek hek,” Beki menirukannya dengan suaranya yang cempreng. Aduuh, ternyata susah betul ya belajar benryanyi? Beki mengeluh dalam hati. Apalagi setelah terus berlatih, kok ya, suara Beki belum semerdu suara Nur? Masih tetap cempreng seperti biasanya.

Beki tetap berusaha semangat berlatih menyanyi. Hingga hamper habis suaranya, serak karena dipaksa bernyanyi. Hasilnya, suara Beki bukannya tambah merdu, tapi tambah hancur.

Akhirnya, Beki merasa bosan bernyanyi. Bahkan Nur pun tidak bisa lagi membujuknya. Beki jadi senang melamun di tepi danau. Gagal sudah cita-citanya ingin jadi penyanyi.

Sedihnya lagi, Pipi, Piggi, dan Susi kini makin sering meledeknya. Ditambah lagi dengan si Koko Kodok yang sama usilnya.

Hingga di suatu siang yang panas, keempat sekawan itu kembali meledeknya. Beki tidak menjawab dengan mengomel seperti biasanya. Ia hanya terdiam, karena suaranya sudah sangat serak. Hanya matanya saja yang menahan tangis.

Tiba-tiba, saking semangatnya meledeknya, Susi Sapi tercebur ke danau. Ketiga temannya hanya menjerit-jerit ketakutan. Bahkan Koko dan Pipi yang harusnya bisa berenang, malah buru-buru menyingkir. Apalagi Piggi yang takut air.

Sementara Beki langsung menceburkan dirinya ke danau untuk menolong Susi yang tak bisa berenang. Dengan susah payah, ditariknya badan Susi yang gemuk itu dengan paruhnya hingga ke tepi danau. Waduh, berat sekali badan Susi, keluh Beki dalam hati.

Alhamdulillah, Susi berhasil diselamatkan. Ketiga temannya langsung meminta maaf kepada Beki. Nur yang baru datang, berkata kepada Beki yang kelihatan capek,”Nah, Beki, semua hewan pasti punya kelebihan dan kekurangan. Kamu nggak perlu minder dengan suaramu itu. Kamu kan punya kelebihan, yaitu kamu pandai berenang dan… tulus menolong teman. Kelebihan yang tak dipunyai oleh setiap hewan.”

Beki dan semua hewan di situ mengangguk-angguk membenarkan perkataan Nur. Ya, mengapa pusing dengan kekurangan kita, sementara kita punya kelebihan yang lain? Allah memang Maha Adil ya.

 

 

#30DEM

#30DaysEmakMendongeng

#day17

#idolaku

#fabel

 

Posted in fiksi, Uncategorized | Tagged , , , | Leave a comment

Rubi Rubah dan Timbunan Makanannya

#ceritaanak

 

Musim dingin sebentar lagi datang. Para binatang bersiap-siap menghadapinya. Mereka beramai-ramai mencari dan mengumpulkan makanan. Selama musim dingin, seluruh hutan akan ditutupi salju yang cukup tebal. Sudah tentu, para binatang itu tidak akan dapat mencari makanan.

Tupi Tupai, Beri Beruang, Milo Monyet, dan Bevi Berang-berang mencari makanan beramai-ramai. Mereka suka menabung makanan. Tapi hebatnya, mereka tidak hanya mengumpulkan makanan untuk diri mereka sendiri. Mereka mendirikan ‘Pusat Bantuan Makanan’. Gunanya untuk menolong binatang-binatang yang kesulitan menemukan makanannya. Beramai-ramai mereka mendatangi tempat itu.

Tidak jauh dari tempat itu, Rubi Rubah buru-buru memasukkan timbunan makanan berupa daging dan kacang-kacangan ke dalam sarangnya. Ia kelihatan terburu-buru dan takut terlihat oleh binatang lain. Kenapa ya?

Oh, rupanya Rubi sudah lama dikenal sebagai binatang yang rakus dan pelit oleh teman-temannya. Ia tidak akan mau berbagi dengan binatang yang lain.

“Aku kan sudah susah-susah mencari makanan, masak harus bagi-bagi sih? Keenakan dong, mereka nanti malas mencari!” omelnya sewaktu ketahuan oleh Bevi Berang-berang. Bevi langsung meninggalkannya begitu Rubi meneruskan omelannya. Hih, dasar dia memang menyebalkan ya!

Satu hari menjelang musim dingin datang, Rubi bangun dengan terkejut. Ia kaget sekali mencium bau api dari gudang makanannya. Ia buru-buru menuju tempat itu.

Astagaaa! Ia berteriak kaget. Api sudah membakar gudangnya. Ia buru-buru memadamkan api itu sambil berteriak-teriak minta tolong. Teman-temannya segera berdatangan.

Tapi terlambat. Gudang itu sudah keburu hangus. Persediaan makanannya juga sudah jadi abu.

Rubi menangis sedih. Ia tidak punya persediaan makanan apapun lagi. Terbayang, ia akan mati kelaparan selama musim dingin yang panjang itu. Ia ingin meminta makanan dari teman-temannya, tapi ia malu. Selama ini dia kan pelit sama mereka.

Alhamdulillah, Beri Beruang berbaik hati. Ia menyumbangkan sebagian makanannya untuk Rubi. Teman-teman yang lain juga ikut menyumbang. Untunglah ia punya tabungan makanan.

Aduuuh, Rubi jadi malu dan menyesal sekali. Perbuatan jahatnya dibalas dengan perbuatan baik oleh teman-temannya. Ia berjanji tidak akan rakus dan pelit lagi…dan tentu saja rajin menabung makanan bukan hanya untuk dirinya sendiri.

 

#30DEM

#30DaysEmakMendongeng

#SukaMenabung

#day16

Posted in fiksi, Uncategorized | Tagged , , , | Leave a comment

Billa Berang-berang Menjaga Adik

Ibu Bevi Berang-berang baru beberapa hari yang lalu melahirkan anak keduanya. Namanya Bello. Bello adalah bayi berang-berang yang gendut dan lucu sekali. Dia suka sekali menyusu kepada ibunya.

Bello adalah anak kedua dari Bu Bevi dan pak Beno. Anak pertama mereka adalah seekor anak berang-berang perempuan yang cantik, bernama Billa. Billa senang sekali mempunya adik bayi. Ia suka membantu ibu menemani adik bayi tidur.

Setelah beberapa hari, Bello mulai belajar berjalan. Ia suka merayap dengan cepat dan mengejar-ngejar Billa. Belum lagi kesukaannya membuat mainan Billa berantakan. Pertama-tama, Billa membiarkan saja kelakuan adiknya. Tetapi lama-lama ia kesal juga. Adik bayi hanya bisa membuat semuanya berantakan, dan belum bisa membereskannya kembali. Jadinya, tugas Billa deh membereskan kembali semua yang berantakan itu. Kan capek juga, ya?

Suatu hari, ibu dan ayahnya hendak pergi menjual kayu yang sudah mereka kumpulkan ke kota. Billa mendapat tugas menjaga adiknya. Billa yakin ia bisa melakukan tugas itu dengan baik.

Awalnya, Bello mau menurut padanya. Mau bermain-main dan belajar membereskan setelahnya. Tetapi lama-lama Bello rewel. Mungkin ia mengantuk. Saatnya membuatkan susu, pikir Billa.Di luar awan membentuk gumpalan seperti pulau impian yang indah. Bergerak perlahan membuat Billa ingin ikut terbang bersamanya. Billa jadi ingin menangis. Oh, tapi ia masih harus membuatkan susu. “Tunggu aku, awan”, bisiknya.

Dengan cekatan, Billa membuat susu seperti yang ia ingat cara yang dilakukan ibu. Ia menuang susu bubuk dan baru air panasnya. Tapi… auwww! Aduuuduuuh… sakit sekali. Tangan Billa terpercik air panas. Billa mengusap-usap tangannya. Sementara itu, Bello menangis tak mau berhenti.

“Aduh, adik diam dong. Berisik sekali!” bentak Billa kepada adiknya. Bukannya diam, Bello terkejut dan menangis tambah keras.

Billa melotot kepada  Bello, sehingga Bello malah takut. Ia terus menangis membuat Billa makin kesal. Akibatnya, saat menuangkan air dari teko, airnya tumpah kemana-mana membasahi bajunya. Billa menjerit kesal, “Dasar bayi! Bisanya merepotkan saja!”

Sambil menangis, Bello akhirnya menyusu juga. Billa bernafas lega.

Selesai menyusu, Bello menangis lagi.

“Ada apa lagi, Adik?”Tanya Billa menahan kesal. Ia sedang asyik menonton film kartun di tivi soalnya.

Bello menangis keras. Ternyata setelah diperiksa, popoknya basah karena pipis. Bahkan alas tidurnyapun terkena juga.

Dengan kesal, Billa mengganti semua dengan yang bersih. Pakaian, popok, dan alas tidur yang kotor ia masukkan ke dalam keranjang pakaian bayi yang kotor.

Hmmm… Bello sudah mulai mengantuk. Mulut mungilnya menguap, lucu sekali. Billa menepuk-nepuk paha adiknya dengan sayang. Ia menyesal tadi marah-marah kepada adiknya itu. Sebenarnya ia sayang sekali kok, sama adiknya.

Tapi tak lama kemudian, Bello menangis lagi. Billa bingung sekali. Repot benar ya, mengurus bayi, sedikit sedikit menangis?

Ternyata Bello buang air besar!

Hiyyy… bauuu! Billa menutup hidungnya tak tahyan. Jijik ih… bagaimana ya cara menggantinya? Billa takut jijik.

Adududuh… Bello menangis makin keras. Billa tambah bingung.

Dengan panik, dia mengganti popok Bello bersama semua yang terkena kotorannya. Ia meletakkan semua yang kotor itu di sudut kamar mandinya. Ia tak tahu bagaimana membersihkannya.

Krek… krek… pinggang dan punggungnya berbunyi. Aduuuh, pegalnyaaa.

Billa berbaring di sisi Bello sambil berpikir, “Luar biasa sekali Ibu. Tugasnya begitu berat. Menjaga adik bayi bukan hal yang mudah. Padahal aku juga masih suka nakal. Malah aku sering tidak mau membantu menjaga adik…”

Di luar langit masih cerah. Ada deretan awan yang putiiih dan bergelembung seperti pipi adik bayi sehingga tampak makin indah. Billa teringat adiknya. Ah, Billa menyadari, hidupnya sekarang sebenarnya lebih indah, lebih berbahagia dengan adanya adiknya. Seharusnya ia bersyukur. Adiknya seperti gumpalan awan putih di dalam hidupnya.

Memikirkan itu, di samping Bello yang tertidur nyenyak, Billa jadi sadar. Ia seharusnya mulai belajar menjaga adik dan tidak dengan marah-marah. Ia dulu juga kan pernah jadi bayi, dan pasti sama merepotkannya dengan adik. Kasihan ibu ya? Dalam hatinya, Billa berjanji akan lebih sering membantu ibu menjaga adik. Tak lama kemudian, Billa tertidur kecapekan.

Sewaktu ibu dan ayah pulang, mereka terharu sekali karena Billa telah berusaha semampunya untuk menjaga adik. Billa mendapat hadiah sebatang coklat dari ayah dan ibu. Tak lama, ibu sudah kembali sibuk mencuci pakaian dan alas tidur Bello yang terkena pipis dan kotorannya.

Posted in fiksi, Uncategorized | Tagged , , , | Leave a comment

Neng dan Pasukan Kerajaan Air

Di sebuah daerah di Jakarta yang biasa berubah menjadi lautan ketika musim hujan tiba dan gundukan sampah di musim yang lainnya, ada seorang anak perempuan yang senang berkhayal. Setiap bangun pagi, ia berkhayal. Di sekolah, ia berkhayal. Kadang sambil makan, ia juga berkhayal. Bahkan mau tidurpun, ia menyempatkan diri berkhayal sejenak sebelum membaca doa tidur.

 

Macam-macam yang ia khayalkan. Paling sering tentang binatang. Ia misalnya pernah berkhayal tentang memiliki adik seekor kucing belang tiga. Lain waktu ia membayangkan menjadi peternak yang memiliki banyak sekali ayam dan bebek, hingga rumahnya penuh dengan kedua jenis unggas itu.

 

Namun yang paling ia sukai adalah hujan. Entah mengapa. Ia hanya suka hujan, sebab hujan membuat khayalannya menderas. Semakin deras hujan, maka semakin deras pula khayalannya.

 

Padahal biasanya ayah dan ibunya pasti punya kesibukan tambahan ketika hujan menderas. Ibunya, utamanya, sebab ayahnya lebih sering berdinas ke luar kota. Kesibukan yang justru membuat anak perempuan itu makin tenggelam dalam khayalannya yang seakan tak bertepi.

 

“Wah, hujan makin deras lagi” seru ibu sambil wara-wiri mengangkati jemuran dan menyiapkan ember, panci, baskom. Bocor akan segera meramaikan rumah mereka.

 

Dengarlah irama tetes air hujan itu. Juga yang beradu dengan dasar ember, panci, dan baskom. Tik tuk tik tuk. Seperti suara langkah kaki prajurit kerajaan dan genderangnya. Merdunyaaa… anak perempuan kecil iu tersenyum senang sambil mendekap Tini, bonekanya yang berkuncir dua.

 

Malam datang beriring hujan yang tak berhenti. Malah makin menderas seakan merobek langit, hujan melengkapkan kehadirannya. Lihatlah, air mulai memasuki rumah mereka. Selokan depan yang penuh sampah dan berwarna coklat pekat sudah meluap sejak magrib tadi. Ibu sibuk mengangkati perabot dan alat-alat rumah tangga ke atas meja dan kasur.

 

“Ayo, Neng, cepat naik ke atas tempat tidur. Ini banjir makin tinggi!” Seru Ibu panik. Digendongnya kedua anaknya yang masih kecil. Sementara itu si Neng, gadis pengkhayal itu, yang baru duduk di kelas satu SD tertawa senang. Ia menertawakan sandal jepit ibu yang baru kemarin dibeli di warung Mpok Sani, mengapung dan bergerak mengikuti arus air.

 

“Haha, sandal Ibu jadi perahuu…” Ia bertepuk tangan girang. Ibu menarik tangannya dan memaksanya naik ke atas tempat tidur.

 

“Ayo naik, cepat. Nanti kamu bisa hanyut kayak sandal ibu”, kata ibunya cemas.

“Moga-moga nanti ada pasukan kerajaan yang mengembalikan sandal ibu” jawab Neng sambil matanya tak lepas mengawasi sandal yang kini sudah keluar pintu dapur. Menuju kebun belakang, pasti.

“Ah, sudahlah. Lagi banjir kok sempat-sempatnya ingat dongeng Cinderella”, tukas ibu. “Lihat bajumu sudah basah. Ayo ganti sendiri ya? Itu ambil yang di kasur. Cepat nanti masuk angin” instruksinya lagi, panjang lebar.

 

Tapi Neng tetap asyik dengan khayalannya. Kerajaan air sudah kembali berdiri sekarang. Lihat, ada rak bumbu ibu yang terapung. Seperti istana kerajaan air. Ada mangkok plastik bekas ia makan siang tadi, kini menjelma kapal pesiar berbentuk bulat. Oopsss,… ada botol susu adik juga ikut berlayar. Waah mungkin nanti akan ada sepasukan tentara kerajaan air yang akan menolong menyelamatkan benda-benda itu dan mengembalikannya ke tempat semula.

 

Ibu sibuk menyelamatkan apapun yang bisa diselamatkan. Banjir sudah setinggi pinggang kini. Adik-adik Neng mulai kelaparan dan kehausan. Neng sendiri mulai merasa bosan. Ia mulai lelah dan ingin tidur. Pasukan kerajaan air belum datang juga. Neng sudah bosan berkhayal. Sedikitnya, ia mulai merasa cemas. Ia merasa bertanggung jawab menyelamatkan adik-adiknya.

 

“Kalau hujan tak juga berhenti, mungkin kita harus mengungsi ke teras masjid yang agak tinggi”, gumam ibu pada dirinya sendiri. Ayah sedang dinas ke Surabaya. Anak-anaknya, termasuk Neng, masih terlalu kecil untuk diajak bicara tentang banjir dan mengungsi.

 

Dan Neng benar-benar kecewa pada pasukan kerajaan air. Dengan marah dilemparkannya Tini, bonekanya satu-satunya, ke air.

 

Pergilah. Kamu harus menyusul pasukan itu segera. Suruh mereka menyelamatkan kami ya. Cepatlah. Ujarnya dalam hati.

 

Tini seakan menatapnya sedih dan tak rela. Neng menggeleng lesu. Sekarang ia kedinginan, kelelahan, mengantuk, haus dan lapar. Dan ia sungguh tak tahu sampai kapan ini akan berlangsung. Ibu sibuk menenangkan adik-adiknya rewel. Dan ia tak punya pilihan sama sekali. Kerajaan air tak juga menolongnya.

 

Ia kini tak peduli pada Tini. Ia seperti mendengar tangisan Tini yang sekarang hanyut bersama air bah ke tempat yang sama dengan sandal ibu. Entah Tini bisa balik atau tidak.

 

Neng bahkan tak peduli ibunya mengomel sebab ia melemparkan Tini ke air kotor. Neng ingin menjerit keras sekali. Namun ia tak cukup punya keberanian untuk itu. Dan tidak cukup tenaga, tentu.

 

 

Ia membalikkan tubuhnya menghadap dinding yang dilapisi plastik tebal untuk menahan lembab, saking seringnya kena bocor, tampias, dan banjir.

 

Matanya seketika membola. Akhirnya… pasukan kerajaan air datang juga. Itu lihat mereka datang berbaris-baris di balik plastik. Ada cacing, kecoak, kalajengking, lipan, dan entah apa lagi….

 

Oh, ayo keluarlah, Pasukanku… tolong selamatkan kami, serunya dalam hati. Jari jemari kecilnya mencoba mencongkeli plastik.

 

“Neng, astagaaaa, apa yang kamu lakukan?” Ibunya berteriak ngeri.

Tapi Neng tak peduli. Ia harus mencoba menolong pasukan kerajaan air agar mereka juga mau menolongnya.

 

Seekor kalajengking menatapnya. Neng tersenyum lebar… inilah harapannya…

 

“Neeeenggg, ya Allah, bocaaaah!” teriak ibu keras sekali disambung dengan berbagai seruan dalam bahasa Betawi yang tak sempat Neng dengarkan. Sebab ia merasa dunia di matanya kini hanya hitam dan perih…sakit sekali….

 

 

 

Posted in fiksi, Uncategorized | Tagged , , , | Leave a comment

Akram Tidak Takut Berenang Lagi

Akram suka olah raga, apa saja. Pokoknya badannya harus bergerak. Ia punya cita-cita jadi pemain futsal dan pendekar pencak silat. Tapi ada satu olah raga yang Akram ingin bisa….namun masih takut. Olah raga apa yooo?

 

Ya, betul. Olah raga renang. Akram suka main air. Tapi setiap kali masuk kolam renang, tubuhnya mendadak menggigil. Rasanya ngeri membayangkan kolam renang yang dalam itu. Apalagi Akram pernah nyaris tenggelam beberapa kali. Pertama sewaktu di kolam renang dekat sekolah Mas Akna, kakak sulungnya. Kedua, sewaktu berenang di hotel.

 

Sore ini, Akram dan kakaknya, Ahya, diajak ibu renang ke kolam renang yang agak jauh dari rumah. Kata ibu, sekali-kali ganti kolam renang. Mereka pergi berenang bersama dengan teman-teman mereka, yaitu Suhaib, Zubair, Izul, Faya, dan Zee. Begitu melihat air, semua langsung berlomba-lomba masuk ke kolam dengan berbagai gaya. Ada yang langsung terjun dari tepi kolam, ada yang meluncur lewat perosotan air, dan ada yang memilih memasukkan kakinya terlebih dulu, baru meluncur. Ibu dan tante Milla, ibunya Zul, Faya, dan Zee, juga ikut berenang. Tante Milla akan melahirkan. Olah raga renang baik untuk memperlancar kelahiran adik bayi.

 

Oh, hanya ada dua anak yang tak mau berenang. Mereka duduk di tepi kolam sambil memandang ngeri ke dalam air. Mereka adalah Akram dan Zee. Sudah berkali-kali kakak dan teman-teman mereka mengajak mereka menceburkan diri, tetapi mereka menolak. Keduanya bahkan hampir menangis karena bingung antara takut dan ingin berenang.

 

Namun kemudian, Ahya dan Faya mendekati adik-adik mereka. Dengan sabar mereka berusaha membujuk Akram dan Zee untuk turun berenang. Ibu dan tante Milla juga ikut memeluk anak-anak mereka dari belakang. Mula-mula Akram dan Zee tetap tidak mau turun.

“Ayo, Akram, gak akan tenggelam kok. Airnya dangkal”, bujuk Ahya.

“Nggak mau, airnya dalamnya 22 meter”, jawab Akram.

“Kata siapa? Ini Cuma 1 meter kok….” Kata Ahya lagi.

“Kata Faya, ini 22 meter….”

“Wowwww…..” Ahya menyoraki Faya. “Bukan 22 meter kali…. Emangnya laut…. Itu yang di sana, yang ada garis dari tali itu, hanya 2,2 meter. Bukan 22 meter”.

“Iyaaa…. Aku salah ngomong kaliii….” Jawab Faya geli.

“Di sini hanya 1 meter. Gak dalam. Yang dalam yang di situ”, tunjuk Izul sambil membawa papan pelampung warna merah. “Nih, pakai ini deh”.

“Gak mau, nanti kebalik”, jawab Ahya ngeri.

“Zee pake pelampung tangan aja….”

Zee ragu-ragu memasang ban pelampung pada kedua tangannya. Akhirnya ia memilih nemplok di perut ibunya yang sudah besar. Tante Milla menjerit kaget namun segera mengajak Zee meluncur.

 

“Ayo, Akram, pegangan sama aku. Nanti aku ajarin deh. Atau kamu pegang pinggir kolamnya”, bujuk Ahya sekali lagi.

Akram masih ragu. Ia ingin sekali berenang…tapi….

“Aku juga dulu begitu diajari mas Akna. Tadinya aku gak percaya, aku bisa renang. Tapi mas Akna sabaaar banget ngajarin aku. Nih, aku juga diajarin dia yang begini …” Syuttt, Ahya kemudian merentangkan kedua tangannya. Ia tidur di atas air kolam. Kayak orang mengapung sambil berbaring gitu.

“Hehehe,…. Enak banget lho begini….” Serunya gembira.

Aduh, Akram ingin sekali berenang. Sekarang hanya dia dan seorang ibu bertubuh gemuk yang masih ada di tepian kolam.

“Gak apa-apa, Akram. Aman kok. Aku jagain sini….”

Perlahan Akram memasuki kolam dengan bantuan Ahya. Dengan sabar dan penuh sayang, Ahya menuntun Akram berdiri di dalam kolam. Tuh lihat, hanya seleher Akram airnya. Akram mulai percaya diri.

Tak lama kemudian, Akram dan teman-temannya sudah asyik berenang, bahkan bermain bola dan lomba renang di sana. Dari kejauhan, Ibu dan Tante Milla ikut senang melihat tidak ada anak yang takut renang lagi. Lebih bahagia lagi, karena para kakak (Ahya, Izul, Faya) sayang sekali kepada adik-adiknya, Akram dan Zee. Kakak-kakak sabar mengajari adik-adiknya berenang. Wah, kalau begini, bakal gak ada yang mau udahan nih renangnya…

 

 

#30DEM

#30DaysEmakMendongeng

#Day15

Posted in fiksi, Uncategorized | Tagged , , , , , | Leave a comment

Ketika Akram Bermain Kasti

#ceritaanak

 

Akram senang sekali berolahraga. Hampir semua kegiatan olah raga ia ikuti. Dari mulai Futsal, Beksi (pencak silat asli Betawi), Renang, Memanah, Bersepeda, hmmm…apa lagi ya? Yang jelas, bagi Akram, tiada hari tanpa olah raga. Bahkan katanya, ia ingin menambah lagi kegiatan berolah raganya. Ia mau ikut bermain basket, volley, skateboard, berkuda, tenis, tenis meja, hingga menembak. Haduuuh, memangnya dia tidak capek ya?

 

Suatu hari, JCo dan Ilmi menjemputnya ke rumah dan mengajaknya menonton pertandingan kasti. Akram heran, apa itu kasti. Ia belum pernah mendengar nama permainan itu sebelumnya. Makanya, ia penasaran sekali.

 

“Bu, Akram mau pergi sama JCo dan Ilmi ya, ke lapangan dekat kantor RW”, pamitnya pada ibu yang sedang memasak.

“Ada apa di sana, Akram?”

“Ada yang main sakti, bu. Akram mau lihat”.

“Hahh? Main apa, Akram? Sakti? Semacam bela diri?” Ibu heran.

“JCo, Ilmi, main apa deh katanya? Ibuku Tanya….” Kata Akram memanggil kedua temannya.

“Kasti, Tante….” Jawab JCo dan Ilmi kompak.

“Oalaah… kasti kok jadi sakti”, ujar Ibu tertawa.

“Loh, ibu tahu permainan kasti juga?” Tanya Akram penasaran.

“Ohh, itu kan permainan anak zaman dulu, olah raga tradisional. Coba Akram Tanya tante Wanda dan Tante Hanny, pasti mereka tahu”, kata ibu. Tante Wanda adalah ibunya JCo, sedangkan tante Hanny adalah ibunya Ilmi.

“Mama bilang, aku disuruh lihat sendiri seperti apa permainan kasti itu, Tante”, kata Ilmi.

“Nah, baiklah, kalian boleh pergi menonton permainan kasti. Hati-hati ya, dan jangan lupa, sebelum magrib harus sudah pulang”, kata Ibu.

“Iya buu”. Akram mencium punggung tangan ibu dan berlarian bersama kedua temannya. Mereka semakin ingin tahu seperti apa sih permainan kasti itu.

 

Ketiga sahabat itu tiba di lapangan yang sudah cukup ramai berisi anak-anak yang sedikit lebih besar usianya dari mereka. Yaaa, sebesar mas Ahya, kakak Akram. Ada juga seorang pelatih yang usianya kira-kira sepantar mas Akna, kakak sulung Akram. Anak-anak yang bermain dibagi dua tim. Masing-masing tim mendapat giliran melempar bola. Teman satu timnya menangkap bola itu dengan sebuah pukulan. Kemudian bola itu ditangkap oleh tim lawan yang berusaha mengenai si penangkap yang sudah berlari. Kalau enggak salah, seperti itu cara mainnya. Entahlah, Akram juga kurang mengerti. Penonton bersorak-sorak gembira menyaksikan pertandingan.

 

Akram jadi ingin ikut bermain. Sayang ia bukan anggota tim. Waah, ia harus bilang pada paman Ari, pelatih futsalnya. Siapa tahu paman Ari bisa melatihnya serta teman-temannya bermain kasti. Seru sekali soalnya. Sayang sekali paman Ari besok tidak bisa melatih futsal karena ia sedang bertugas ke luar kota.

 

Sepanjang sore hingga malam, pikiran Akram dipenuhi dengan permainan kasti. Hingga tak sadar ia menggambar orang bermain kasti di buku gambarnya. Padahal seharusnya ia mengerjakan PR menggambar wajah bocah, sebagai tugas dari Paman Tono, guru menggambarnya.

 

….

….

 

Akram merasakan kepalanya pusing luar biasa. Sinar matahari yang terik membuat kepalanya panas dan berdenyut-denyut. Padahal gilirannya menangkap bola sudah tiba. Aduuh pusiiing…. Kemana bolanya?

 

Pandangannya berkunang-kunang. Ada bintang-bintang berputar di sekeliling matanya. Putih, kuning, gelap. Bola…mana bola?

 

Duk! Pukulannya meleset. Lari….lari, Akram larii….

“Akram, Akram, Akram…..” terdengar suara penonton menyemangatinya.

“Lari, Akram! LARIIII….” Terdengar di telinganya suara Athar, yang mendapat giliran setelahnya.

Akram berusaha lari, namun kepalanya terlalu pusing…..

DUK!!

Sebuah benturan keras mengenai punggungnya….

Sakittt….

Akram tak kuat lagi. Ia pingsan di tengah lapangan kasti….

 

….

….

 

“Ya ampuun, Akram, kamu kenapa? Jatuh dari tempat tidur ya?” Tanya Ahya sambil berusaha membangunkan Akram. Akram memegang kepalanya yang terasa nyut-nyutan. Ada benjolnya. Astaga….

“Mas Ahya…., aku mimpi main kasti….”

Ahya dan Akna yang ada di kamar itu jadi tertawa. Sementara Akram mau menangis memegang benjol di jidatnya.

 

 

#30DEM

#30DaysEmakMendongeng

#Days14

Posted in fiksi, Uncategorized | Tagged , , , , , | Leave a comment

Bintang dan Malaikat Raqib

#ceritaanak

 

Setiap minggu, Ahya dan Akram menunggu bintang jatuh. Apa sih bintang jatuh itu?

 

Bintang jatuh adalah hadiah hasil dari bintang yang diberikan ibu setiap kali Ahya dan Akram berbuat baik atau menunjukkan prestasi yang meningkat. Hadiah itu bisa berupa mainan, alat tulis, makanan, ataupun penambahan jatah bermain gawai atau bermain sepeda. Ahya dan Akram senang sekali berlomba mengumpulkan bintang agar di akhir minggu, mereka mendapatkan bintang jatuh. Oh iya bintang jatuh hanya diberikan kepada yang lebih banyak mendapatkan bintang. Bintang-bintang itu berupa kertas origami yang berbentuk bintang yang ditempel di papan khusus di ruang keluarga.

 

Terus, yang kalah sedih dong, enggak dapat hadiah?

Enggak juga. Karena ibu selalu memberikan hadiah yang bentuk atau jumlahnya lebih kecil. Jadi, meskipun lebih kecil, selalu ada hadiah untuk yang jadi juara kedua.

 

Minggu ini, ibu tidak memberi hadiah atau bintang jatuh kepada yang berhasil mengumpulkan bintang yang lebih banyak. Uang ibu dan ayah terpakai untuk membayar biaya studi kunjungan mas Akna ke Bali. Jadi ibu dan ayah sedang tidak punya uang minggu ini. Kebetulan yang seharusnya mendapatkan bintang jatuh adalah Akram.

 

Akram sedih sekali, karena sebenarnya ia ingin membeli kalung untuk kucingnya, si Ginger. Hanya Ginger yang tidak punya kalung diantara semua kucingnya. Maklumlah, Ginger adalah kucing yang baru ditemukan dan belum sempat dibelikan kalung. Akram sudah membayangkan ia akan membelikan Ginger kalung kucing warna merah yang ia lihat di toko peralatan kucing, Meong, yang terletak di dekat rumahnya. Ia berharap bintang jatuhnya nanti berupa kalung kucing atau uang yang akan ia belikan kalung untuk Ginger.

 

“Maaf ya, Akram. Kamu sedih ya, enggak ada bintang jatuh kali ini?” Tanya ibu sambil mendekati Akram yang sedang melamun. Matanya terus menatap Ginger yang sedang memanjat-manjat kandangnya dengan lincah.

Akram mengangguk pelan. Ya, mau bagaimana lagi? Maafkan aku, Ginger, katanya dalam hati.

“Ginger juga mengerti kok, dia saja enggak marah makanannya tidak yang seperti biasa….” Ujar ibu. Ginger mengeong seolah mengerti.

“Ngapain Akram berbuat baik kalau enggak dapat bintang jatuh?” Tanya Akram pelan. Jelas ia sangat kecewa.

“Kan ibu sudah bilang, ibu sedang tidak ada uang. Akram sabar ya, nanti kalau sudah ada uangnya, ibu belikan kalung untuk Ginger….”

Akram cemberut. Nanti …nanti…

“Lagipula, jika Akram berbuat baik hanya untuk dapat bintang jatuh berarti enggak ikhlas dong…”

Akram masih cemberut.

“Akram tahu enggak? Dapat atau enggak dapat bintang jatuh, semua perbuatan baik Akram dilihat oleh Allah, dicatat oleh Malaikat, sehingga nanti Allah pasti akan kasih balasan yang manis lho…”

“Akram maunya kalung untuk Ginger….”

“Malaikat tidak lupa mencatat, Allah tidak ingkar untuk memberi balasan… Akram mau apa saja, asal Akram rajin berbuat baik dan berdoa, Allah pasti akan kabulkan dalam waktu dan kesempatan yang tepat….”

“Mungkin malaikatnya kesal sama Akram karena Akram berbuat baiknya hanya buat dapat bintang jatuh ya, bu?”

“Ya enggaklah. Malaikat itu tidak pernah kesal, tidak pernah mengeluh. Memangnya kamu? Kesal, ngomel, ngambek….kayak gini nih…”

“Masih lama enggak bu, Allah mengabulkan doa Akram?”

“Itu rahasia Allah, Akram. Allah selalu akan berikan kejutan manis untuk anak saleh dan baik. Tuh kalau kamu enggak pernah bosan berbuat baik, malaikat akan mencatatnya. Dan Allah juga sudah menyiapkan balasan terbaik”.

“Malaikatnya rajin ya bu?”

“Iya dong, malaikat kan selalu patuh sama Allah”.

“Malaikatnya namanya siapa bu?”

“Akram belum kenal ya? Namanya malaikat Raqib. Dia selalu rajin mencatat amal kebaikan kita.”

“Oh iya, ingaat. Akram pernah diceritain bunda Mumun. Yang juga rajin mencatat amal buruk kita namanya… Atid ya kan, bu?”

“Betuuul, anak pintar. Tuh kamu ngambek barusan dicatat lho sama malaikat Atid…”

Akram jadi tersenyum malu. “Ahh ibuuu….” Ia menyurukkan kepalanya ke pangkuan ibu.

Tiba-tiba pintu kandang Ginger terbuka. Anak kucing itu berusaha meloloskan diri. Akram segera mengejarnya. Hup, ini dia.

“Hei, Ginger, kamu mau kabur ya? Gak boleh. Nanti kamu dicatat Malaikat Atid lho…. Ayo masuk. Sudah hampir magrib, kamu harus shalat. Nanti malaikat Raqib yang mencatat….” Ia memasukkan Ginger yang terus mengeong ke kandangnya. Ibu tertawa sambil menyalakan lampu. Hari sudah hampir magrib. Tiba waktunya anak-anak pergi ke mushala untuk shalat berjamaah.

 

#30DEM

#30daysEmakMendongeng

#day13

 

Posted in fiksi, Uncategorized | Tagged , , , | Leave a comment

Terima Kasih Ya Allah

#ceritaanak

 

Sudah beberapa hari ini Akram kesal sekali. Entah apa sebabnya, ia juga tidak mengerti. Adaaa saja yang salah. Kemarin ketika latihan futsal, ia lupa membawa kaus futsal, sehingga ia ditempatkan sebagai pemain cadangan. Lalu ketika English Club, dimana setiap anak diminta membawa buku cerita favorit, ia lupa dimana meletakkan bukunya. Jadi ia tidak bisa menemukan buku tersebut dan gagal ikut bercerita dalam bahasa Inggris. Hari ini ia lupa membawa lilin untuk percobaan wujud air di Klub Sains. Lalu hujan datang tiba-tiba membuat sandalnya yang lupa dimasukkan ke dalam rumah, menjadi basah kuyub. Ia juga lupa memasukkan kembali si Ginger, anak kucingnya yang berwarna kuning, sehingga Ginger kebasahan di luar dan menangis kedinginan. Untunglah Ibu dan pak Nasim segera memasangkan lampu kecil di kandang Ginger, sehingga anak kucing itu bisa merasa hangat.

 

“Akram sedang tidak beruntung ya bu?” tanyanya malam itu, ketika ibu akan mengajaknya membaca doa tidur.

“Lho kenapa Akram bertanya begitu?” ibu balik bertanya.

“Beberapa hari ini Akram sial melulu…. Adaaa saja yang salah….”

Ibu meletakkan telunjuknya di bibir Akram. “Sssst…anak saleh enggak boleh ngomong begitu. Dapat darimana kata ‘sial’, Nak?”

“Ehm… dari komik, bu…”

“Jangan diulangi ya, Nak. Kata seperti itu tidak baik. Alangkah baiknya jika kita mengucapkan… mmm…. Misalnya…. Oh hari ini aku sedang kena banyak ujian dari Allah. Itu tanda Allah sayang padaku”.

“Kok bisa Allah sayang padaku, tapi Dia kasih aku hal-hal yang buruk?”

“Akram, Allah sayang pada manusia, jadi Dia selalu kasih yang terbaik buat kita. Kalau ada yang buruk, itu kesalahan kita. Allah mengizinkan keburukan itu terjadi semata-mata karena Dia ingin kita memperbaiki kesalahan, enggak bikin kesalahan kayak gitu lagi”.

“Salah Akram apa ya? Mmm…”

“Akram sering lupa ya… lupa menyiapkan peralatannya sendiri, lupa menjaga si Ginger….lupaaa….lupa bersyukur….hayooo”.

Akram tersenyum malu. “Oh iya, waktu habis futsal, Akram ngomel sama pak Nasim karena AC mobilnya enggak dingin….Panas bener sih bu….”

“Nah itu dia. Akram lihat kan, banyak teman Akram yang tidak bisa merasakan naik mobil dengan AC…”

“Ah, si Hitam mobil kita memang AC-nya enggak dingin, bu. Betulin dong…”

“Eeehhh… coba kalau kamu kemana mana jalan kaki? Mau enggak? Panas kepanasan, dingin kedinginan…. Hayooo….”

Akram terdiam. Ia mulai berpikir. Ia ingat teman-temannya yang kemana-mana jalan kaki atau naik angkot.

“Akram, si Hitam memang mobil tua. Tapi ia masih nyaman kok dikendarai. AC nya kadang tidak dingin, tapi masih lumayan ketimbang kita harus membuka kaca jendelanya… Syukuri apa adanya. Si Hitam banyak jasanya lhoo…”

Tiba-tiba Akram merasa ia memang kurang bersyukur. Apa-apa digerutui. Apa-apa disalahkan. Akhirnya ia jadi sibuk menggerutu dan lupa mengerjakan apa yang harusnya jadi tugasnya. Aih….

“Yuk coba kita hitung lagi, 10 hal saja yang patut kita syukuri hari ini…” ajak ibu.

Perlahan ibu dan Akram menghitung ….

“Terima kasih ya Allah…. Untuk :

  1. Udara yang kami hirup hari ini.
  2. Air yang berkelimpahan yang kami minum
  3. Makanan halal, sehat, dan lezat yang kami makan hari ini.
  4. Kami bisa shalat tepat waktu
  5. Ayah dan ibu yang masih ada bersama kami
  6. Kakak-kakak yang sayang sama Akram
  7. Teman-teman yang baik dan lucu-lucu
  8. Kucing-kucing yang sehat dan lincah
  9. Si Hitam mobil tua yang setia dan nyaman
  10. Sepeda roda dua yang bannya kempes tapi masih bisa dipakai lomba… menang pula tadi sore….”

 

“Cuma sepuluh, bu? Enggak boleh lebih? Kan banyak bu….” Kata Akram.

“Nah, begitu banyak hal yang bisa kita syukuri sehari-hari. Jadi kenapa mesti mengeluh untuk hal-hal yang disebabkan kesalahan kita? Hayoooo….” Ujar ibu sambil menggelitiki kaki Akram.

“Hahaha…geli bu….”

“Alhamdulillah kamu masih bisa merasakan geli. Coba kalau kakimu mati rasa, gimana?”

“Ahahahaa… ya enggak maulah, bu…”

“Okeee…. Sekarang waktunya tidur…. Baca doa yuk….”

“Bismika Allahumma Ahya wa bismika amuut…”

 

 

#30DEM

#30DaysEmakMendongeng

#days 12

 

 

 

 

 

 

Posted in fiksi, Uncategorized | Tagged , , | Leave a comment