Wakaf Untuk Kawula Muda (3) : Lebih Dalam tentang Wakaf

Nah, sekarang kita mulai sedikit lebih dalam membahas tentang wakaf ini. Biar nggak pusing, kita bahas sedikit demi sedikit dulu.

Macam-macam wakaf

Bila ditinjau dari segi peruntukan, wakaf dibagi atas dua:
1. Wakaf Ahli
Yaitu wakaf yang ditujukan kepada orang-orang tertentu, satu orang atau lebih, keluarga si waqif atau bukan.
Dalilnya secara hukum Islam dibenarkan berdasarkan Hadits Nabi saw yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, dari Anas bin Malik ra tentang adanya wakaf keluarga Abu Thalhah terhadap kaum kerabatnya.
Di ujung hadits tersebut dinyatakan sebagai berikut:
Aku telah mendengar ucapanmu tentang hal tersebut. Saya berpendapat sebaiknya kamu memberikannya kepada keluarga terdekat. Maka Abu Thalhah membagikannya untuk para keluarganya dan anak-anak pamannya.
Pada perkembangannya, wakaf ahli dinilai kurang bisa dirasakan manfaatnya oleh umum. Apalagi kadang suka muncul pertentangan antar keluarga. Di Mesir, Turki, Maroko dan Aljazair, wakaf jenis ini telah dihapuskan. Menurut pertimbangan dari berbagai segi, wakaf dalam bentuk ini dinilai tidak produktif.

2. Wakaf Khairi
Wakaf yang peruntukkannya secara tegas untuk keagamaan dan kepentingan masyarakat luas. Seperti wakaf yang diserahkan untuk kepentingan pembangunan masjid, sekolah, jembatan, rumah sakit, panti asuhan yatim piatu, dan lain sebagainya.

Syarat dan Rukun Wakaf

Wakaf dinyatakan sah bila telah dipenuhi rukun dan syaratnya. Rukun wakaf adalah:
1. Waqif (orang yang mewakafkan harta)
2. Mauquf Bih (Barang atau harta yang diwakafkan)
3. Mauquf ‘Alaih (Pihak yang diberi wakaf/peruntukan wakaf)
4. Shighat (pernyataan atau ikrar waqif untuk mewakafkan sebagian hartanya).

Syarat Waqif

Orang yang mewakafkan disyaratkan memiliki kecakapan hukum dalam membelanjakan hartanya. Hal ini mencakup 4 kriteria:
a. Merdeka, bukan budak
b. Berakal sehat
c. Dewasa/baligh
d. Tidak berada dalam pengampuan (boros/tabarru’).

Syarat Mauquf Bih

Di sini akan berkaitan dengan dua hal, yaitu syarat sahnya harta yang diwakafkan, dan kadar benda yang diwakafkan.

Syarat sahnya harta yang diwakafkan:
1. Mutaqawwam (segala sesuatu yang dapat disimpan dan halal digunakan dalam keadaan normal/bukan dalam keadaan darurat).
2. Diketahui dengan yakin ketika diwakafkan, sehingga tidak menimbulkan sengketa atau kebingungan. Misalnya jangan mewakafkan sebagian tanah (sebagian yang mana?).
3. Milik waqif.
4. Terpisah, bukan milik bersama.

Kadar Benda yang diwakafkan:
Benda wakaf tak bergerak:
a. tanah
b. bangunan
c. pohon untuk diambil buah/hasilnya
d. sumur untuk diambil airnya.

Benda wakaf bergerak:
a. hewan
Dalilnya dari Hadits yang diceritakan Abu Hurairah ra, “Orang yang menahan (mewakafkan) kuda di jalan Allah, karena imannya kepada Allah dan mengharapkan pahalanya dari Allah, maka makanannya, kotorannya, dan kencingnya dalam penilaian Allah yang mengandung kebaikan-kebaikan” (HR Bukhari).
b. perlengkapan rumah ibadah
c. senjata
d. pakaian
e. buku
f. mushaf
g. uang, saham, atau surat berharga lainnya. Ini yang sekarang dikenal dengan wakaf tunai.

Berhubungan dengan wakaf tunai, ada beberapa pendapat yang bisa kita ambil.
1. Imam Bukhari menyebutkan bahwa Imam Azh Zhuhri (wafat 124H) berpendapat boleh mewakafkan dinar dan dirham. Caranya ialah menjadikan dinar dan dirham tersebut sebagai modal usaha, kemudian menyalurkan keuntungannya sebagai wakaf.
2. Dr. Az Zuhaili juga menyebutkan memperbolehkannya sebagai pengecualian karena sudah banyak dilakukan masyarakat, sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud ra, yang berbunyi, “Apa yang dipandang kaum muslimin itu baik, dipandang baik juga oleh Allah”.

Syarat Mauquf ‘Alaih (Penerima Wakaf)

Wakaf harus dimanfaatkan dalam batas-batas yang sesuai dan diperbolehkan syariat Islam. Pada dasarnya, wakaf adalah amal kebaikan yang mendekatkan diri manusia kepada Tuhannya. Karena itu mauquf ‘alaih haruslah pihak yang berbuat kebajikan. Para ulama fikih sependapat bahwa infaq kepada pihak yang berbuat kebajikan inilah yang membuat wakaf menjadi ibadah yang mendekatkan manusia kepada Tuhannya.

Pentingnya Nazhir Wakaf

Nazhir adalah pihak yang diberi kepercayaan mengelola harta wakaf. Para ulama sepakat bahwa waqif harus menunjuk nazhir, baik perseorangan atau lembaga. Tujuannya agar harta wakaf tetap terjaga dan terurus, sehingga harta itu tidak sia-sia. Kalau nazhir nggak mampu melaksanakan tugasnya, maka pemerintah wajib menggantinya dengan tetap menjelaskan alasan-alasannya.

Syarat moral Nazhir
1. Faham tentang hukum wakaf dan ZIS
2. Jujur, amanah dan adil
3. Tahan godaan, terutama menyangkut perkembangan usaha
4. Pilihan, sungguh-sungguh dan suka tantangan
5. Cerdas spiritual dan emosional.

Syarat manajemen:
1. Punya jiwa leadership yang OK
2. Visioner
3. Cerdas intelektual, sosial dan pemberdayaan
4. Profesional dalam bidang pengelolaan harta.

Syarat bisnis:
1. Mempunyai keinginan
2. Mempunyai pengalaman dan atau siap untuk magang
3. Punya ketajaman untuk melihat peluang usaha seperti seorang enterpreneur.

Hmm… kira-kira siap nggak ya jadi waqif atau nazhir?

Advertisements

About ifaavianty1

A wife, mom of 3 sons, writer and author of about 70 books. Loves books, music, movies, cook, art n craft, history, rain, mall, coffee, tea, and pasta. Oh, and every genius :))
This entry was posted in islamic, life, lifestyle, syariah, Uncategorized and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s