Wakaf Untuk Kawula Muda (2) : Sejarah Wakaf

Masa Rasulullah saw

Wakaf disyariatkan setelah Rasulullah saw hijrah ke Madinah yaitu pada tahun 2 Hijriyah. Ada dua pendapat fuqaha tentang siapa yang pertama kali melaksanakan wakaf.
Sebagian ulama mengatakan yang pertama melaksanakan wakaf adalah Rasulullah saw yang mewakafkan tanahnya untuk dibangun masjid. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Umar bin Syabah dari ‘Amr bin Saad bin Muad.
Ia berkata, kami bertanya tentang mula-mula wakaf dalam Islam. Orang Muhajirin mengatakan adalah wakaf Umar, sedangkan orang-orang Anshar mengatakan adalah wakaf Rasulullah saw (Asy Syaukani, 129).

Rasulullah saw pada tahun 3H pernah mewakafkan tujuh kebun kurma di Madinah, diantaranya adalah kebun A’raf, Shafiyah, Dalal, Barqah dan beberapa kebun lainnya.
Sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa yang pertama kali melaksanakan syariat wakaf adalah Umar bin Khattab ra, sesuai dengan hadits yang sudah kita bahas sebelumnya.
Setelah Umar, syariat wakaf dilakukan oleh Abu Thalhah yang mewakafkan kebun kurma kesayangannya yang diberi nama Bairaha. Selanjutnya disusul Abu Bakar yang mewakafkan tanahnya di Mekkah. Utsman menyedekahkan hartanya di Khaibar. Ali bin Abi Thalib mewakafkan tanahnya yang subur. Mu’adz bin Jabal mewakafkan rumahnya yang disebut Dar al Anshar. Wakaf juga dilaksanakan oleh Anas bin Malik, Abdullah bin Umar, Zubair bin Awwam, dan Aisyah istri Rasulullah saw.
Tuh kan, para sahabat dan keluarga Nabi juga tidak segan-segan mewakafkan harta kesayangannya.

Masa Dinasti-dinasti Islam

Praktek wakaf semakin berkembang pada masa dinasti Umayyah dan Abbasiyah. Semua orang berduyun-duyun melaksanakan wakaf. Wakaf tidak hanya untuk fakir miskin saja, tetapi wakaf menjadi modal untuk membangun lembaga pendidikan, perpustakaan, membayar gaji para guru dan staffnya, serta memberi beasiswa bagi para siswa dan mahasiswanya. Semangat masyarakat melaksanakan wakaf telah menarik perhatian negara sehingga negara mau mengelolanya secara profesional, untuk membangun solidaritas sosial dan ekonomi masyarakat.
Wakaf pada awalnya hanyalah keinginan seseorang untuk berbuat baik dengan kekayaannya dan dikelola secara individu tanpa ada aturan yang pasti. Namun setelah masyarakat Islam merasakan manfaatnya lembaga wakaf, maka timbullah keinginan untuk mengatur perwakafan dengan baik. Kemudian dibentuk lembaga yang mengatur wakaf untuk mengelola, memelihara dan menggunakan harta wakaf, baik secara umum seperti masjid, atau secara individu dan keluarga.
Pada masa dinasti Umayyah yang menjadi hakim Mesir adalah Taubah bin Ghar al Hadhramiy, pada masa khalifah Hisyam bin Abdul Malik. Ia sangat perhatian dan tertarik dengan pengembangan wakaf, sehingga membentuk lembaga wakaf tersendiri sebagaimana lembaga lainnya dibawah lembaga pengawasan hakim.
Lembaga wakaf inilah yang pertama kali dilakukan dalam administrasi wakaf di Mesir, bahkan di seluruh dunia Islam. Pada saat itu juga hakim Taubah mendirikan lembaga wakaf di Basrah. Sejak saat itu, pengelolaan lembaga wakaf di bawah Departemen Kehakiman dikelola dengan baik dan hasilnya disalurkan kepada yang membutuhkan dan yang berhak.
Pada masa dinasti Abbasiyah terdapat lembaga wakaf yang disebut dengan Shadr al Wuquuf yang mengurus administrasi dan memilih staff pengelola wakaf. Lembaga wakaf berkembang searah makin teraturnya administrasi.
Pada masa dinasti Ayyubiyah di Mesir, perkembangan wakaf juga cukup menggembirakan, dimana hampir semua tanah pertanian menjadi tanah wakaf. Semuanya dikelola dan menjadi milik negara (baitul mal).
Ketika Shalahuddin Al Ayyubi memerintah Mesir, ia bermaksud mewakafkan tanah-tanah milik negara, diserahkan kepada yayasan-yayasan keagamaan dan yayasan sosial, sebagaimana yang dilakukan oleh dinasti Fathimiyah sebelumnya. Sebenarnya dalam hukum fikih Islam, masih terdapat perbedaan pendapat dalam mewakafkan harta baitul mal.
Orang pertama kali yang mewakafkan tanah milik negara (baitul mal) adalah Raja Nuruddin asy Syahid dengan ketegasan fatwa yang dikeluarkan seorang ulama pada masa itu, Ibnu ‘Ishrun dan didukung ulama lainnya, bahwa mewakafkan harta milik negara hukumnya boleh (jawaz). Argumentasinya adalah menjaga dan memelihara harta milik negara, sebab dasar hukumnya sebenarnya tidak boleh.
Shalahuddin al Ayyubi banyak mewakafkan harta milik negara untuk keperluan pendidikan, seperti mewakafkan beberapa desa (qaryah) untuk pengembangan madrasah madzhab Asy Syafi’iyah, Malikiyah dan Hanafiyah. Dana didapat dengan model mewakafkan kebun dan tanah pertanian. Pembangunan madrasah madzhab Syafi’i dibangun di samping makam Imam Syafi’i, dengan cara mewakafkan kebun pertanian dan pulau Al Fil.
Dalam rangka kesejahteraan ulama dan pengembangan misi Sunni, Shalahuddin Al Ayyubi menetapkan kebijakan bagi orang Kristen yang datang dari Iskandariah untuk berdagang wajib membayar bea cukai. Hasilnya dikumpulkan dan diwakafkan kepada para fuqaha dan keturunannya.
Perkembangan wakaf pada masa dinasti Mamluk sangat pesat dan berkembang. Apapun yang dapat diambil manfaatnya boleh diwakafkan. Yang paling banyak diwakafkan adalah tanah pertanian dan gedung-gedung, seperti perkantoran, penginapan dan sekolah. Pada masa itu juga terdapat hamba-hamba sahaya yang diwakafkan untuk merawat lembaga-lembaga agama. Seperti mewakafkan budak/pelayan untuk mengurus masjid dan madrasah. Hal ini pertama kali dilakukan oleh penguasa dinasti Utsmani ketika menaklukkan Mesir, Sulaiman Basya yang mewakafkan budaknya untuk merawat masjid.
Manfaat wakaf pada masa dinasti Mamluk digunakan sebagaimana tujuannya. Wakaf keluarga untuk kepentingan keluarga, wakaf umum untuk kepentingan sosial, membangun tempat pengurusan jenazah dan membantu fakir miskin.
Ada juga wakaf untuk sarana di Mekkah dan Madinah (Haramain), seperti kain Ka’bah (Kiswatul Ka’bah). Raja Shaleh bin Al Nasir membeli desa Bisus lalu diwakafkan untuk membeli kiswah Ka’bah setiap tahunnya dan mengganti kain kuburan Nabi saw dan mimbarnya setiap lima tahun sekali.
Perundang-undangan wakaf pada dinasti Mamluk telah dimulai sejak Raja Al Dzahir Bibers al Bandaq (1260-1277 M) dimana dengan undang-undang tersebut Raja Al Dzahir Bibers memilih hakim dari masing-masing empat madzhab Sunni. Pada masa ini wakaf dibagi 3 kategori:
1. Pendapatan negara dari hasil wakaf yang diberikan oleh penguasa kepada orang-orang yang dianggap berjasa
2. Wakaf untuk membantu Haramain
3. Wakaf untuk kepentingan masyarakat umum.

Sejak abad kelima belas, kerajaan Turki Utsmani dapat memperluas wilayah kekuasaannya, sehingga meliputi sebagian besar wilayah Arab. Hal ini tentu saja mempermudah untuk menerapkan Syariat Islam, termasuk wakaf. Diantaranya adalah dibuatnya peraturan tentang pembukuan pelaksanaan wakaf yang dikeluarkan pada tanggal 19 Jumadil Akhir 1280 H. Undang-undang tersebut mengatur tentang pencatatan wakaf, sertifikasi wakaf, cara pengelolaan wakaf, cara pencapaian tujuan wakaf, dan melembagakan wakaf.
Pada tahun 1287H dikeluarkan undang-undang yang menjelaskan tentang kedudukan tanah-tanah kekuasaan Turki Utsmani dan tanah-tanah wakaf produktif. Itu sebabnya sampai sekarang di wilayah Arab masih banyak tanah berstatus wakaf.
Demikianlah wakaf masih dilaksanakan dari waktu ke waktu dan berkembang ke semua negara muslim, termasuk Indonesia. Bahkan lembaga wakaf itu telah meresap menjadi hukum adat bangsa Indonesia. Disamping di Indonesia juga banyak terdapat harta wakaf, baik berupa benda bergerak maupun tidak bergerak.
Di negara-negara muslim lain, wakaf juga mendapat perhatian serius sehingga menjadi amal sosial yang memberi manfaat bagi masyarakat banyak. Dalam sejarahnya, wakaf terus berkembang dengan inovasi yang sesuai dengan pergerakan zaman, seperti adanya bentuk wakaf tunai (uang), wakaf HAKI dll. Di Indonesia, saat ini wakaf juga mendapat perhatian yang lebih serius dengan dikeluarkannya Undang-Undang Wakaf sebagai upaya penyatuan terhadap beberapa peraturan perundang-undangan wakaf yang terpisah-pisah.

Advertisements

About ifaavianty1

A wife, mom of 3 sons, writer and author of about 70 books. Loves books, music, movies, cook, art n craft, history, rain, mall, coffee, tea, and pasta. Oh, and every genius :))
This entry was posted in islamic, life, lifestyle, syariah, Uncategorized and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s