Antri Doong….

Suatu hari di sebuah pusat perbelanjaan (ITC) besar di Jakarta. Saya dalam keadaan sangat ingin buang air kecil, mendapati antrianyang cukup panjang di WC perempuan yang juga nggakj hanya terdiri dari satu kamar. Kalau nggak salah sih tiga atau empat kamar gitu. Seperti biasa, saya langsung masuk ke barisan antri, dan akhirnya membagi menjadi tiga atau empat baris sesuai dengan banyak kamar.

Kebetulan, orang-orang di depan saya nggak lama-lama ‘ngendon’ di WC. Jadinya dalam waktu yang cukup singkat, saya sudah  sesaat lagi masuk ke WC.

kurio1Belajar disiplin sejak anak-anak, mau tanya saja harus antri, satu-satu, gak bisa barengan, bisa rusuh….

 

Lagi ‘enak-enaknya’ ngantri, tiba-tiba dua orang ABG yang kira-kira baru duduk di SMP, nyerobot tepat di depan saya. Tentu saja saya kaget. Namun saya amsih menyisakan rasa khusnuzhan saya, bahwa mereka adalah anak-anak yang mencari entah siapanya yang sedang di dalam kamar WC.

“Di sini aja, nih, kan tinggal dikit lagi” tiba-tiba salah seorang dari mereka berkata.

“Iya nih, gak bakal lama ngantrinya. Udah kebelet nihhh…” Jawab yang satunya.

Eh… wait, wait, apa maksudnya nih?

Refleks saya mencolek bahu salah seorang dari mereka.

“Mau ngantri ya, dik?” tanya saya.

Tanpa ragu-ragu mereka berdua mengangguk.

Eh… loh, kok jadi nggak punya pikiran gini sih? Batin saya  dongkol.

Dengan mengangkat wajah menandakan kesal, saya menjawab, “Antri, mbak”.

“Iya, kita antri di sini” keukeuh salah satu dari mereka yang bertank top dan hipster ketat, namun dari dandanan kok kayaknya bukan tampang’ anak sekolah’ .

“Ya kalau ngantri di belakang dong, jangan nyerobot begitu. Saya dan ibu ini (sambil menunjuk ibu di belakang saya yang menggandeng seorang bocah) sudah duluan” tukas saya jutek.

Kedua ABG itu saling berpandangan. Lalu salah seorang dari mereka, dengan wajah yang jutek, nyeletuk pula, “WC aja kok ribut!” sambil gegas menarik tangan temannya pindah ke belakang ibu tadi.

Sebab dia sewot, maka saya pandangi kedua ABG nggak tahu diri itu dengan mata saya. Sengaja. Tentu dengan pandangan tak kalah juteknya. Saya pikir, harus dikasih pelajaran nih orang.

Untunglah, orang yang sedang di dalam kamar WC segera keluar. Artinya, nggak guna bangetlah saya teruskan persewotan saya itu. Heheheh…

 

Itu baru satu contoh tentang situasi dan kondisi antrian di sini, di Jakarta, atau munmgkin pula di seluruh tanah air. Saling menyerobot dapat saja terjadi. Kadang juga saling sikut untuk hal yang sebenarnya nggak usah segitu ngototnya dehhh.

Dan parahnya, saya adalah makhluk yang paling nggak ingin menyerobot dan diserobot. Nah, sebab merasa nggak pernah merasa mengambil hak orang lain itulah, saya jengkel banget kalau hak saya (yang juga sudah merasa melaksanakan kewajiban mengantri dan menunggu dengan disiplin dan mencoba sabar) diserobot orang lain. Lain halnya jika berurusan dengan hidup dan mati. Tentu saja saya akan mengalah dengan sukarela.

Begitu juga halnya jika berurusan dnegan orang-orang yang karena kedudukannya akan didahulukan. Misalnya saat mobil saya harus distop sebab ada mobil pejabat yang akan lewat.  Buru-buru? Gimana kalau keadaannya gini: sang pejabat mau rapat dinas, sementara saya mau ngantar orang sakit misalnya. Sementara juga saya jelas-jelas sudah duluan beberapa ratus meter di depannya. Masak dia harus didahulukan hanya karena dia pejabat? Toh sama-sama penting, ya wis… ngantri dong, pak. Macet dikit ya nggak pa-pa, inilah kondisi realnya. Kesiangan? Kenapa nggak berangkat lebih pagi, pak?

Sedihnya, hal kayak gini juga terjadi di beberapa kesempatan. Dalam masalah penerbitan buku saja, kadang saya juga nggak ngerti. Buku saya yang sudah terjadwal akan terbit, tiba-tiba harus pending sebab ada buku lain ‘yang ekspress dan lebih penting’ harus segera terbit dulu. Mungkin untuk alasan marketing (misalnya ini buku seorang penulis yang lebih laku jual) saya akan mencoba ‘tahu diri’. Tapi kalau ini buku ‘karya; seorang pesohor misalnya, maka haruskah didahulukan?

Waaah… maaf, kalau kata saya itu nggak adil juga. Kenapa sih nggak sama-sama ngantri? Jika untuk kepentingan charity sih boleh saja. Tapi kalau hanya karena alasan penulis buku itu adalah owner? Huhuhu… betapa kasihannya nasib para penulis yang sudah rela mengantri di depannya, yang misalnya begitu butuh bukunya diterbitkan saat itu juga.

Yah, maaf, ini sih hanya pikiran saya saja. Yang mungkin juga kelewat berdisiplin dalam segala sesuatu. Apakah terdengar sangat egois?

Ya, terserah andalah. Yang pasti, apa sih yang ada dalam benak kita ketika kita menyerobot hak orang lain? Bukankah hak kita baru bisa kita dapat setelah kita melaksanakan hak kita?

Mungkin saya juga pernah dan sering tanpa sadar menyerobot  hak orang lain. Bagaimanapun saya juga manusia biasa.  Tapi paling tidak, saya sering sekali membayangkan. Andai semua orang punya rasa disiplin yang ‘lumayan’ baik, tentu nggak akan banyak terjadi kasus main serobot ya?

Jadi ingat nasihat Aa Gym, salah satu ustadz yang saya kagumi: Mulailah dari diri sendiri, mulailah dari hal yang kecil, dan mulailah sekarang juga. Subhanallah, kalau saja semua orang mau begitu yaaa? (Saya melamun dengan sedih…)

Advertisements

About ifaavianty1

A wife, mom of 3 sons, writer and author of about 70 books. Loves books, music, movies, cook, art n craft, history, rain, mall, coffee, tea, and pasta. Oh, and every genius :))
This entry was posted in inspirasi, life, Uncategorized and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Antri Doong….

  1. vivi erma says:

    “Kita hanya perlu melatih anak selama 3 bulan saja secara intensif untuk bisa Matematika, sementara kita perlu melatih anak hingga puluhan tahun tahun atau lebih untuk bisa mengantri dan selalu ingat pelajaran berharga di balik proses mengantri.” Ujar seorang pendidik di Australia, bersumber dari artikel yang saya baca.

    Soal pelajaran disiplin dan budi pekerti ini senada dengan tulisan saya ⤵

    https://catcheighteen.wordpress.com/2016/11/28/sorry-please-thank-you/?preview=true

    Dengan mengajarkan anak- anak hal yang baik, sebetulnya saya juga mengajarkan diri sendiri untuk konsisten menjadi baik.‎ Well, secara langsung memang tidak bisa kita rasakan manfaatnya, dan bahkan mungkin banyak orang yang tidak peduli. Tapi paling tidak, kita mau melakukan sesuatu yang baik dan menunjukkan kalau kita menghargai serta menghormati orang lain. Siapapun itu, apapun status sosialnya dan berapapun usianya. ‎Bayangkan jika setiap individu di negara ini bisa saling menghargai dan menghormati, ‎which leads to a better society. IMHO.‎

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s