{Cerpen} Perempuan yang Berpesta Bersama Hujan

 

 

 

Langit kembali membawa beban berat. Awan menggelantung seperti siap memuntahkan lautan. Aku terkesiap. Masihkah akan kuteruskan perjalanan ini? Kuhela nafas panjang. Masih sangat jauh jarak yang harus kutempuh. Namun sungguh ada yang kunanti setiap kali hujan akan turun, Aku seperti berpesta dengan alam. Aku memestakan tawa dan tangis bersama hujan dan semesta, tanpa ada yang tahu. Dari dulu hingga kini.
Kukerjapkan mataナ Tuhan aku rindu sungguhナ.ke dulu masa dimana semua belum serumit sekarangナ.

hujan

 

“Windiiiナ. Mau kemana kamu?”
Aku membulatkan mulut. Mama. Dia sudah ada di belakangku.
“Mmmナ mau ke warung koh Lung, Ma”. Mau beli apa ya? Cepat berpikir, Windi.
“Gerimis, sebentar lagi hujan deras. Mau beli apa kamu? Nanti suruh si Tile saja. Mama takut kamu pilek lagi kayak minggu kemarin”. Tuh kanナ
“Mau beliナgunting, Ma, untuk prakarya”.
“Enggak usah. Pakai gunting Mama saja.”
Aku tidak perlu gunting, as you know. Aku perlu hujan. Aku ingin bertemu peri hujan yang selalu membasuh air mataku. Yang selalu mau menangis dan tertawa bersamaku. Yang paling mengerti mengapa aku tak suka matematika dan lebih suka menggambar. Yang paling memahami mengapa aku tadi dimarahi pak guru karena nilai matematikaku hanya 5.
“Windi”.
Dan air mataku siap tumpah. Lihatlah hujan telah benar-benar menderas.
“Iya, Ma”. Akhirnya kuakhiri konflik dengan mengalah, entah apa yang harus kulakukan selanjutnya.
“Masuk, sana.” Tegas, khas Mama. Tanpa kompromi. Seperti sabda seorang ratu yang wajib ditaati semua punggawa dan dayang dayangnya.
Namun sekitar setengah jam kemudian, aku sudah berpesta dengan hujan dengan carakun sendiri, di belakang rumah. Dekat gudang, ada cucuran talang air yang jika hujan turun, airnya ikut menderas. Aku tengadahkan wajahku, membiarkan seluruh wajahku terpapar hujan, tak peduli basah seluruh tubuhku. Hal yang akhirnya menarik perhatian kucingku yang juga ikut berpesta hujan bersama.
Jika kepalaku sudah mulai terasa berat dan makin banyak bintang berputar di atas mataku, aku buru buru masuk ke gudang, mengganti bajuku dengan baju lain yang masih bersih, Lalu kupanggil Mbak Imah, pembantu rumah tangga kami, agar mau mencuci bajuku diam diam. Dan beres. Dan Mama yang kebanyakan anak pun tak tahu.
Masa ketika semuanya tidak serumit sekarangナ.

Masa SMP, SMA, dan Kuliah, adalah masa yang lebih membahagiakan bagiku. Mama tak lagi mengawalku setiap hujan tiba. Aku selalu berdalih belum pulang atau banyak tugas, dan masih banyak lagi. Ritual pesta hujan, adalah sesuatu yang amat kunantikan. Ritual dimana aku melebur bersama semesta. Ritual dimana aku bisa bebas menjadi diriku yang rindu curhat, sebab hanya sedikit sekali yang bisa memahamiku. Si gadis introvert yang nyaris tak punya teman. Si gadis aneh yang sukanya menggambar hujan, awan, dan pelangi.
Kulabuhkan tangis pada hujan, saat tak ada kawan laki-laki, seorangpun, yang datang padaku dan menyatakan isi hatinya padaku. Oh, ya ada. Tiap tahun. Orangnya berbeda-beda pula. Begini nihナ
“Jadi, Win, sebenarnya aku mau curhat nih. Aku sudah lama naksir teman sebangkumuナkarena diaナbla bla blah”.
Kenapa aku tidak jadi kodok sekalian, biar tidak usah jadi mak comblang?
“Win, lu kan anaknya baik dan pinter ya? Jujur nih, gue belum punya cewekナ”
Aku juga belum punya cowok.
“Win, lu tolongin gue deh ya”.
“OK. Maksudmu, kamu mau aku menjadi cewekmu gitu? Mari kupikirkanナ. Boleh lahナ
“Lu kenal si Andien yang juara kelas itu kan?”
Dan lututku mulai lemas.
“Lu kan dekat dengan dia, boleh dong gue juga lu dekatin sama diaナ.”
Tuh kan. Mau pingsan di sini boleh kan ya?

Demikian kehidupan selalu berulang kepadaku. Bayangkan, hingga aku akhirnya lulus S2 dan bekerja di sebuah perusahaan swasta, aku belum pernah bertemu seseorang yang, boro boro mengajakku membagi sisa hidupnya bersamaku, menyatakan perasaannya bahwa dia mencintaiku saja, belum pernah. Belum pernah. Sama sekali.
Makanya Mama heran.
“Kamu sih kurang bergaul, Win”.
“Kamu sih kerjaannya bacaaa dan gambaaar melulu. Mana ada laki laki yang tertarik?”
Terus, apa aku harus hobi ke mall, ke caf←, ke pantai, ke gunung, atau mungkin ke kuburan, biar ada laki-laki yang suka? Memangnya sudah pasti bahwa perempuan yang hobinya kemana-mana itu, jodohnya datang dengan cepat?
Bukankah jodoh itu tergantung takdir?
Bukankahナ
Bukanナ.
Bukanナ

Jodoh seringkali tergantung luck. Paling tidak, menurutku. Oh, okay, jangan mendebatku, Sejak dulu aku paling malas berdebat, bagiku hobi berdebat hanya akan membuatku jadi seperti para politikus yang hanya bicara tanpa kerja nyata. Ooopsss. No offense ya. Tidak semua politikus begitu kan?

Pada hujan aku berkesah. Pada hujan aku berkisah. Bahwa aku hanya seorang perempuan yang unlucky. Yang lagi lagi tidak terpilih sebagai salah satu mempelai perempuan hari ini, minggu ini, bulan ini, tahun iniナ.
Lalu aku pasrah. Pada hujan aku menangis, dan padanya aku tertawa ketika akhirnya aku menyadari, aku mungkin tak akan pernah menikah.
Dan hidup mulai rumit. Namun hujan tetap setia.

Hidup berjalan terlalu cepat, bahkan berlari. Meninggalkanku yang masih asyik dengan cerita hujan tanpa mau berhenti. Aku menikah dengan seorang laki laki yang datang lewat Mama. Cintakah aku? Entah. Aku bingung. Tak ada gegap gempita rasa atau semburat debar jantung setiap kami bertemu. Pendek kata, ia memintaku menikah dengannya. Anak-anak lahir berurutan hingga genap lima. Aku tenggelam menjadi seorang istri dan ibu yang bahkan tak peduli bahwa dia sebenarnya lulusan S2 Kepustakaan. Aku hilang bentuk.
Lagi-lagi hanya hujan yang setia. Aku menyamburnya dengan bahagia dan sedih yang sama, setiap kali ia turun. Sebab aku masih tak bisa bercerita kepada siapapun, juga kepada suamiku yang sibuk bekerja kian kemari. Aku hanya harus mendengar, mengerjakan, taat dan patuh. Tak ada ruang tersisa untuk diriku sendiri, hingga anakku jelang remaja.
Apa yang tak kusyukuri?
Suami sukses, anak anak pintar dan baik, akuナ.
Hampa. Kosong. Sepi.
Well, ralat. Aku HARUSNYA bahagia. Harus bahagia.

Aku bilang pada hujan, aku mau bahagia. Aku harus bahagia. Apapun yang terjadi.

Suamiku memintaku berpisah dengannya di tahun ke 17 pernikahan kami. Dia pergi untuk perempuan lain, yang lebih baik menurutnya. Aku terdiam. Kupaksa diri untuk menangis. Tak bisa. Sumpah. Aku saja merasa ada yang salah dari diriku sendiri. Bahkan menangsipun aku tak mampu.
Aku ini manusia atau bukan sih?
Bukan. Aku hanya patung atau robot.
Jadi aku tak punya perasaan.
Tak punya perasaan, ya tidak bisa menangis.

Kami bercerai. Aku membawa anak anak bersamaku. Perih. Luka. Ngilu. Tak bisa kunamai lagi. Bahkan saat shalatpun aku tak bisa menangis. Segala wirid dan zikir memenuhi setiap waktuku, jadi aku tak punya waktu mengasihani diriku sendiri, jadi aku tak punya waktu untuk ‘sekedar’ menangis.
Hanya saat hujan datang, aku bergegas menyambutnya. Padanya aku berkisah. Padanya aku berkesah. Padanya aku melabuhkan semua rasa. Aku menangis bersama seluruh tawaku. Aku tertawa bersama segenap tangisku. Hanya dalam hujan.

Dear hujan
Aku hanya seorang anak yang gagal membahagiakan Mamanya. Aku hanya seorang murid yang gagal membuat guruku bangga. Aku hanya seorang istri yang gagal. Ibu yang gagal. Tapi aku tak peduli. Sebab aku hanya manusia biasa. Yang boleh gagal, boleh tidak sesuai dengan apa yang dipikirkan orang lain terhadapku. Aku ナ
Aku lelah menuruti ini dan itu yang harus kukerjakan. Aku lelah dan sering berpikir bahwa aku tak kuat lagi.
Nyatanya, aku masih ada sekarang. Entah sampai kapan aku bertahan. Demi anak-anakkuナ

DHUARRRナ
Kilat dan petir berpadu, menyentakkan lamunanku. Telah basah seluruh tubuh dan bajuku. Terima kasih hujanナ.
DHUARRRナ.

Ada sesuatu yang tiba-tiba memasukiku. Sampai ke dasar dan pusat tubuhku. Aku meringan. Berubah wujud. Hilang. Tanpa bentuk lagi. Selamanya.
Hujan,
Ini pesta terbesarku.

masha

Foto ini entah dari internet yang sudah lamaa sekali saya saved. Maafkan saya…

 
Terima kasih, Hujan. Kausempurnakan hidupkuナ.

Advertisements

About ifaavianty1

A wife, mom of 3 sons, writer and author of about 70 books. Loves books, music, movies, cook, art n craft, history, rain, mall, coffee, tea, and pasta. Oh, and every genius :))
This entry was posted in fiksi, Uncategorized and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s