Friendship, Lost and Found

 

 

Sepanjang tahun 2016, Allah sedang banyak menguji saya. Hal itu buat saya adalah penanda besarnya kasih sayang Allah kepada saya yang kecil dan bukan siapa-siapa ini. Bagi saya, ujian demi ujian juga membuat saya menemukan hikmah lain, yaitu tentang persahabatan. Persahabatan yang ternyata bukan semata ditandai dengan banyaknya menghabiskan waktu bersama, namun lebih kepada ikatan hati yang bersifat ‘tidak terlihat namun terasa’.

 

Selama masa ujian yang panjang itu, saya akhirnya menemukan bahwa persahabatan adalah kesetiaan. Kesetiaan untuk mendoakan dan berharap kebaikan bagi dirinya dan sahabatnya, dimanapun berada, terpisah jarak sejauh apapun. Kesetiaan untuk tidak berprasangka buruk bahkan…setia untuk tidak menceritakan prasangka itu dan keburukan sang sahabat kepada orang lain, atau sahabatnya yang lain. Nah. Ini sama sekali tidak gampang.

 

Makna sahabat juga berarti tidak saling menuntut. Menuntut untuk sering bersama, sering menyediakan waktu dan hal-hal lain yang mungkin karena satu dan lain hal, tidak lagi bisa dilakukan bersama. Dan tidak ngambek jika sahabat tidak lagi bisa menghabiskan waktu bersama, atau banyak menolongnya lagi, bahkan mentraktirnya ini dan itu. Jika kita masih kesal terhadap hal-hal begitu, berarti kita sebenarnya hanya mencari kesenangan dengan menjadi sahabatnya, giliran dia lagi susah, kita menuntut macam-macam dan jelas tidak terpenuhi, maka kitapun kecewa.

 

Sahabat bukanlah dia yang selalu berkata manis, namun dia yang berani berkata pahit, menunjukkan kesalahan kita. Bukan berkata pahit menumpahkan kekecewaannya ketika kita tidak lagi bisa menjadi seperti yang dia lihat dulu, sebelum ujian menimpa.

friend1

Persahabatan bukanlah ‘sama selalu’, namun ‘selalu mencoba menyatukan hati’.

 

Dalam masa ujian ini, akhirnya saya menemukan, sahabat bercahaya seperti pendar bintang di langit, tak selalu terang, tak selalu dekat, namun ada dan terasa. Terasa ada di hati. Jika hati kita sensitif, keberadaannya terasa sekali. Thanks for being a friend, a best friend, buat teman hidup saya dan ada juga seseorang yang telah mengenal saya lama. Tak selalu dekat, tak selalu rukun, namun selalu ada, dalam doa dan saling menguatkan. Dia adalah seorang ibu rumah tangga biasa, dengan 4 anak, tinggal dekat dengan rumah saya, teman menangis dan tertawa. Terima kasih, Mama Ihsan. Setiap kali mendoakanmu, mata saya basah oleh semua pahit-manis yang kita lalui bersama, lima belas tahun belakangan ini.

friend2

Persahabatan adalah proses saling menguatkan

 

Dan, saya punya beberapa sahabat lain, yang saya tahu, cukup membuat saya sedikit kecewa selama masa ujian ini. Dan saya sempat merasa kehilangan mereka, sangat kehilangan. Sebenarnya, kalian tetap sahabat saya, tetap sahabat dari hati. Terima kasih untuk semua yang kalian lakukan selama saya menghadapi ujian. I knew something happened, that you thought that I didn’t know what you did to me. You know, I still be there. I am still here. Kalian tetap sahabat saya.  Ini adalah cara saya memaafkan kalian, in silence.

 

Bagaimana cara saya memaafkan kalian? Saya menjauh sejenak dari kalian, dan berusaha semakin mendekat kepada Sang Maha Dekat. Sejak kecil, Dialah Sahabat Terdekat saya. Tak tergantikan. Dari Dialah, saya mendapatkan kekuatan memaafkan kalian. Dari Dialah, saya diberi kesadaran, bahwa kalian tidak sepenuhnya bersalah. Saya juga bersalah, sebab saya juga hanya manusia biasa. Semoga kalian berkenan memaafkan saya sepenuh hati.

Beberapa kutipan indah tentang persahabatan. Foto dari berbagai sumber.

 

Demikianlah, seperti semua hal di dunia ini, tidak ada yang abadi. Persahabatan, kedekatan, demikian juga kesalahan demi kesalahan, akan pergi bersama waktu. Yuk, sama-sama ikhlaskan. Mari menjadi lebih baik bagi semua orang yang kita kenal. Sebab semua hal di dunia ini, hanya sesaat. Semua akan berlalu, kecuali ketulusan memberi yang terbaik dan memaafkan….

friend13

 

 

This too, pass shall…. Love, friendship, life, and the world….

(Sebuah curhat yang lama ditahan-tahan)

 

Advertisements

About ifaavianty1

A wife, mom of 3 sons, writer and author of about 70 books. Loves books, music, movies, cook, art n craft, history, rain, mall, coffee, tea, and pasta. Oh, and every genius :))
This entry was posted in inspirasi, life and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

8 Responses to Friendship, Lost and Found

  1. Keep istiqomah wa hamasah to all best friend
    Keep smiling.. Keep shining.. Spt lagu diatas

  2. Eni Martini says:

    Baca ini..ternyata yang kita rasakan sama, saat itu aku kehilangan teteh. Bingung mau main, takut salah, menyapa takut salah (setelah beberapa kali kusapa teteh mengira aku memaksa ngajak main atau ketemuan)..akhirnya aku memberi jeda buatku, biarlah mungkin teteh mau sendiri, entah kenapa. Karena setiap WA selalu baik-baik saja tapi aku merasa kehilangan teteh yang dulu.

    Mungkin jika bisa berkata, aku seperti merasa dicurangi, disaat dikau sedih…tak ada sedikit pun cela aku bisa masuk. Jeda adalah obat paling baik hehehe…jeda untuk mendoakan, untuk meminta agar selalu dijaga oleh Allah…aamiin

  3. Eni Martini says:

    dan..tetep miss u, Teh…teman terlucu yang hatinya luas. Maafin kalau ada salah-salahku yaaa, teeeeh.

  4. bunda ghee says:

    Hmm… untung ilustrasi lagunya bukan “Persahabatan Bagai Kedondong”, eh Kepompong :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s