Hijaber Sukses, Hijaber Pembelajar

myrep-1

 

Hijaber Sukses, Hijaber Pembelajar

 (Diambil dari buku saya, “My Hijab”, Pastelbooks, 2016)

Manusia pembelajar adalah mereka yang selalu belajar, terus berusaha mempelajari segala sesuatu setiap saat dalam hidupnya, berusaha memperoleh dan menghasilkan hal-hal baru setiap hari dalam hidupnya. Seorang profesional yang ingin sukses juga harus mempunyai mental manusia pembelajar. Dia tidak boleh bosan belajar dan senang mencoba hal-hal baru.

Dalam sejarah kenabian telah dicontohkan bahwa semua Nabi dan Rasul, para sahabat, bahkan hingga anak-anak mereka adalah pembelajar sejati. Anak-anak mereka bahkan sejak dini telah ditanamkan kecintaan belajar. Sebagai contoh, pada masa Nabi saw tak jarang ditemukan para penghafal Quran berusia muda. Iklim belajar itu nyaris merata di semua kalangan, dari para pemimpin hingga anak-anak kecil.

Sahabat Zaid bin Tsabit ra adalah salah satu contohnya. Selain menguasai berbagai bahasa, beliau juga merupakan seorang ilmuwan yang cerdas dan teliti. Ia adalah orang yang berperan dalam pencatatan dan perangkaian ayat-ayat Al Quran sehingga menjadi sebuah buku seperti sekarang.

Berbagai ilmu terus berkembang pada masa kejayaan Islam, sampai sekarang, seperti ilmu astrologi, ilmu kimia, ilmu ekonomi dan ilmu matematika. Pada masa itu lahirlah ilmuwan-ilmuwan yang nama dan karyanya abadi hingga kini, seperti Al Khawarizmi, Ibnu Sina, dll.

Mereka terbiasa belajar sedari kecil. Imam Syafii sebagai contoh, beliau telah hafal seluruh ayat dalam Al Quran di usia 7 tahun. Usamah bin Zaid telah diamanahi memimpin sebuah perang besar di usia 17 tahun. Padahal pada saat itu belum berdiri sekolah dan universitas seperti sekarang. Mereka semua belajar otodidak.

Para tokoh terkemuka di luar Islam juga demikian. HC Andersen adalah seorang penulis kisah-kisah dongeng klasik terkenal. Ia membuat puisi, dongeng, dan drama tanpa ada yang mengajari. Ia hanya belajar dari apa yang ia baca dan ia lihat. Sewaktu kecil, ia senang menjelajahi hutan dan kebun bunga. Terpesona dengan keindahan alam, ia membiarkan imajinasinya berkembang. Kemudian ia menuliskannya menjadi bentuk-bentuk karya sastra yang indah. Karya puisi dan lagunya sudah sangat dikenal kaum bangsawan Swedia sejak ia berusia remaja.

Thomas Alva Edison tidak pernah menerima pendidikan formal. Ia memang sempat bersekolah selama 3 bulan, sebelum akhirnya dikeluarkan. Selanjutnya, ibunya, seorang mantan guru, yang langsung mengajarinya berbagai hal. Selain itu, Edison hanya belajar dari buku-buku. Edison senang mempraktikkan apa yang ia baca, termasuk mempraktikkan percobaan ilmu kimia. Ia tidak putus asa meski seringkali percobaannya gagal, bahkan beberapa kali laboratorium yang ia buat sendiri ikut terbakar.

Ia tidak pernah belajar dari seorang ahli. Boleh dikatakan, satu-satunya ahli yang pernah menjadi tempat ia belajar adalah seorang ahli telegraf.  Ia belajar bagaimana cara menjadi seorang petugas operator telegram. Edison telah melakukan berbagai percobaan dan berhasil menciptakan kurang lebih 120 penemuan. Ia berhasil membumikan teori Newton tentang listrik dan menterjemahkannya menjadi bola lampu listrik yang sangat berguna bagi kehidupan manusia moderen.

Walt Disney juga tidak pernah menerima pendidikan formal dalam bidang menggambar dan animasi. Hanya berbekal pengalaman bekerjanya di biro iklan dan perusahaan film-lah, ia bisa menjadi seorang perintis dalam bidang animasi studio.

Galileo Galilei juga sama sekali tidak pernah bersekolah tinggi. Tetapi ia telah menemukan sebuah teori yang pada saat itu tak terpikirkan oleh ilmuwan lain, bahkan bertentangan dengan faham masyarakat umum saat itu. Galileo berhasil membuktikan faham heliosentris lewat serangkaian percobaan yang ia lakukan secara mandiri. Ia memang seorang pencinta ilmu.

Demikian pula untuk menjadi seorang hijaber profesional yang sukses, tidak selalu dibutuhkan seorang sarjana lulusan Fakultas Ekonomi atau Ekonomi Syariah, atau Fakultas Manajemen. Lulusan manapun dan sekolah apapun bisa, asal ia memiliki kemauan untuk selalu belajar.

Dunia sekarang ini, terlebih di zaman dimana ekonomi syariah berkembang pesat ini, selalu penuh dengan tantangan baru yang menjanjikan. Selalu ada ilmu dan wawasan baru yang menanti untuk dikuasai oleh para hijaber. Dengan rajin mengikuti training, seminar, pelatihan, dan menghadiri forum diskusi dan kajian tentang ilmu yang berhubungan dengan karir dan mknatnya, seorang hijaber akan selalu terpacu untuk belajar dan terus mengembangkan serta menambah ilmunya.

Sebagai seorang profesional, seorang hijaber tidak boleh puas dengan ilmu yang dimiliki. Ia harus mencari dan menggali terus ilmu dan wawasan yang dapat mengantarkannya mencapai tujuan wakaf.

Seorang manusia pembelajar akan memiliki sebagian besar karakteristik di bawah ini:

  1. Selalu berusaha untuk belajar setiap waktu
  2. Bisa belajar dimana saja dan kapan saja
  3. Otaknya selalu aktif mengolah informasi yang dilihat/didengarnya
  4. Selalu tertarik pada banyak hal, terutama hal-hal unik dan baru
  5. Terbuka kepada berbagai pengalaman
  6. Selalu memiliki berbagai pertanyaan
  7. Memiliki penjelasan untuk setiap hal yang dilakukannya
  8. Kreatif dan trampil
  9. Produktif, banyak menghasilkan karya atau gagasan yang orisinil
  10. Memiliki pemikiran dan wawasan yang luas
  11. Luwes dalam berpikir, memiliki berbagai sudut pandang dalam melihat suatu masalah
  12. Merasa tertantang dalam menyelesaikan masalah yang kompleks
  13. Sanggup menjelaskan masalah yang sulit sehingga menjadi mudah difahami
  14. Tertarik untuk mengeksplorasi banyak lingkungan baru
  15. Tidak membatasi diri, selalu tertarik meluaskan pandangan, pengalaman, dan ketrampilannya
  16. Selalu berusaha fokus, memiliki daya konsentrasi tinggi
  17. Memiliki imajinasi yang tinggi
  18. Mampu menguasai suatu masalah dan menanganinya dengan cepat dan tepat
  19. Bisa mengambil kesimpulan secara cepat dan tepat
  20. Jeli dan hati-hati dalam melihat sebuah persoalan
  21. Bisa bertahan berada dalam lingkungan belajar yang tidak nyaman
  22. Memiliki daya tahan belajar yang tinggi
  23. Mampu menyesuaikan diri dengan cepat pada lingkungan baru
  24. Memulai belajar dari yang mudah, terus berlanjut menuju yang sulit
  25. Mencari jawaban yang orisinil untuks etiap hal yang dihadapi
  26. Mandiri dalam belajar
  27. Selalu bisa keluar dari masalah yang sulit sekalipun
  28. Menganggap kesulitan sebagai tantangan dan bukan hambatan.

Sangat banyak karakter yang menandakan seorang manusia pembelajar. Tentunya seorang hijaber yang baik akan berusaha memenuhi standar-standar karakter tersebut untuk meningkatkan perannya dalam mengelola amanah benda wakaf sehingga bisa tercapai tujuannya.

 

Ketika Perubahan Sulit Terjadi : Tantangan bagi Hijaber Profesional

 

Sebelum kita memulai berbicara tentang perubahan yang dimaksud, ada sebuah ilustrasi tentang perilaku makan yang tidak rasional.

Pada suatu hari Sabtu di tahun 2000, sejumlah pengunjung bioskop yang tak menaruh curiga sedikitpun datang ke sebuah bioskop di Chicago untuk menonton sebuah film. Mereka masing-masing memperoleh sebotol minuman ringan dan sekotak popcorn gratis. Mereka diminta untuk tidak langsung pulang seusai pertunjukan, dan diminta menjawab beberapa pertanyaan tentang makanan yang disajikan saat itu.

Ternyata popcorn itu rasanya sangat tidak enak. Sebenarnya, popcorn itu sengaja disajikan dalam rasa yang sudah tidak enak. Popcorn itu dibuat lima hari sebelumnya, sehingga sudah bau dan rasanya juga sudah tidak renyah lagi. Salah seorang penonton belakangan membandingkannya dengan styrofoam, dan dan dua lainnya lupa kalau mereka menerima popcorn itu gratis, meminta uang mereka dikembalikan.

Sebagian penonton menerima popcorn gratis dalam ember kertas berukuran sedang, sementara sisanya menerimanya dalam ember yang berukuran sangat besar, hampir sebesar ember yang digunakan untuk menimba air dari sumur di pedesaan. Setiap penonton mendapatkan bagiannya masing-masing, sehingga tidak perlu berbagi. Peneliti di balik studi itu ingin mendapatkan jawaban: apakah orang yang mendapatkan wadah makanan lebih besar makan lebih banyak?

Ternyata kedua wadah tersebut begitu besar, sehingga tak seorang penontonpun mampu menghabiskan jatah mereka. Maka pertanyaan dalam penelitian itu menjadi lebih spesifik: apakah penerima popcorn dalam ember besar makan lebih banyak daripada penonton yang menerima dalam ember sedang?

Wadah-wadah itu telah ditimbang oleh para peneliti, sebelum dan sesudah popcorn-nya dimakan. Hasilnya sangat mengejutkan: orang yang menerima wadah ember besar makan 53% popcorn lebih banyak daripada penonton yang menerima wadah ember sedang. Ini setara dengan kira-kira 173 kalori dan 21 kali mengambil popcorn lebih banyak.

Brian Wansink, pemrakarsa studi itu, pemimpin Food and Brand Lab di Cornell University, menguraikan hasilnya dalam bukunya “Mindless Eating”, sebagai berikut, “Kami telah menyelenggarakan studi popcorn yang lain, dan hasilnya selalu sama, bagaimanapun cara kami mengubah detailnya. Tidak peduli penonton film itu ada di Pennsylvania, Illinois, atau Iowa, dan tidak peduli film apapun yang sedang diputar, semua studi popcorn kami mengantar kepada kesimpulan yang sama. Orang makan lebih banyak ketika anda memberi mereka wadah yang lebih besar. Titik”.

Tidak ada teori lain yang bisa menjelaskan alasan perilaku ini. Mereka tidak makan untuk mencari kesenangan, sebab popcornnya tidak enak. Mereka juga tidak tergerak oleh hasrat untuk menghabiskan popcornnya, karena wadahnya sama-sama terlalu besar. Hasil; juga tidak berubah apakah ketika mereka sudah kenyang atau sedang lapar. Jawabnnya tetap tidak berubah: wadah besar = makan lebih banyak.

Semua orang menolak hasil kesimpulan percobaan tersebut. Mereka menolak dengan ebrkata, “Hal seperti itu tidak berpengaruh pada diri saya”, atau “Saya tahu kapan saya merasa kenyang”.

Bayangkan, jika ada orang yang menunjukkan kepada kita data studi di atas tanpa menyebutkan ukuran wadah yang berbeda itu. Kita dapat membaca hasilnya dengan cepat setelah melihat begitu banyaknya popcorn yang dimakan oleh sebagian orang, dan sisanya hanya makan sedikit. Dengan mudah pula kita dapat menarik sebuah kesimpulan: sebagian makan dengan sewajarnya, dan sebagian lagi makan dengan rakus.

Seorang pakar kesehatan masayarakat setelah membaca data itu, kemungkinan sekali akan segera merasa cemas soal si Rakus. Kita perlu memotivasi orang–orang ini agar menerapkan kebiasaan makan lebih sehat! Mari kita berupaya untuk menunjukkan kepada mereka bahayanya makan terlalu banyak bagi kesehatan!

Tapi jika anda ingin orang makan popcorn lebih sedikit, jawabannya sebenarnya sederhana sekali. Berikan saja mereka wadah yang lebih kecil. Anda tidak perlu cemas tentang pengetahuan mereka atau kebiasaan makan mereka.

Dapat kita lihat, betapa mudah mengubah masalah perubahan yang sederhana (mengecilkan wadah) menjadi masalah perubahan yang sulit (membujuk orang berpikir secara berbeda). Ini adalah kejutan pertama tentang sebuah perubahan: Yang tampak sebagai masalah pada manusia (people problem) sesungguhnya adalah masalah pada situasi (situation problem).

Ada banyak perubahan dalam kehidupan setiap manusia. Ada perubahan yang besar, ada perubahan yang kecil. Ada perubahan yang sulit dilakukan, ada yang mudah. Tidak semua perubahan besar, sulit dilakukan, demikian juga tidak semua perubahan kecil mudah dilakukan. Masalahnya terkadang bukan terletak pada manusianya yang tidak mau berubah saja, tetapi pada kondisi yang tidak membuat manusia mau berubah.

Sebagai contoh dalam masyarakat tradisional, peruntukan tanah wakaf biasanya berkisar antara dibangunkan masjid, makam, yayasan yatim piatu, atau sekolah. Sebenarnya bisa saja di atas tanah tersebut, dibangunkan masjid yang memiliki ruko-ruko atau aula yang dapat disewakan untuk hajatan. Masalahnya, banyak wakif dan nazhir yang pemikirannya tidak ke sana, mengingat fungsi wakaf sebagai salah satu model pemberdayaan ekonomi masih belum bergaung di masa lalu. Tetapi ketika mereka dikondisikan untuk berpikir ke sana, misalnya dengan mengadakan banyak pelatihan, seminar, dan kursus peningkatan wawasan bagi nazhir, pasti ada beberapa orang nazhir yang akan tergerak. Jadi bukan nazhirnya yang tidak mau berubah. Adakalanya ini dipicu oleh kondisi yang tidak membuat mereka berpikir ke arah perubahan yang lebih baik.

Lalu bagaimana merubah situasi dan kondisi yang tidak mau berubah?

Ini yang akan kita bahas lebih lanjut. Tapi sebelumnya, ada kejutan lagi dari sebuah perubahan. Di bawah ini ada sebuah ilustrasi.

Seorang mahasiswa MIT yang bernama Gauri Nanda telah menemukan sebuah jam yang unik, yang diberi nama Clocky. Jam beker ini mempunyai roda. Jika anda menyetel alarm Clocky pada malam hari, ia akan berbunyi pada pagi hari dan menggelinding ke sana kemari. Ini akan memaksa anda turun dari tempat tidur dan berusaha mengejar Clocky untuk mematikan suara alarm-nya yang ribut. Dengan ini anda akan dibawa sejauh mungkin dari tempat tidur. Unik, bukan?

Hasilnya, 35.000 unit telah terjual dengan harga 50 dollar per buah, hanya dalam dua tahun pertama pemasaran Clocky, itupun tanpa melakukan pemasaran yang maksimal.

Kesuksesan temuan ini mengungkapkan banyak hal seputar psikologi manusia. Intinya adalah sebenarnya kita mengidap skizofrenia. Sebagian dari diri kita, yaitu sisi rasional kita, ingin bangun lebih pagi agar kita mempunyai banyak waktu untuk banyak hal yang bisa kita lakukan sebelum sibuk dengan rutinitas sehari-hari. Sebagian yang lain, yaitu sisi emosional kita, yang ketika terbangun di pagi hari, masih ingin bergelung di dalam selimut dan tidur lagi selama beberapa menit. Jika anda termasuk orang yang mempunyai sisi emosional yang lebih dominan, maka anda adalah calon pembeli potensial jam beker unik tersebut. Mengapa? Sebab alat tersebut sangat membantu anda dalam mengalahkan sisi emosional anda yang dominan, yang seringkali membuat anda terlibat dalam masalah kesiangan, misalnya. Hampir tidak mungkin, anda akan tetap tidur lagi ketika jam beker itu berisik dan menggelinding kesana kemari di dalam kamar anda.

Lain halnya jika anda termasuk orang yang sangat rasional. Dengan mudah anda akan memiliki alarm sendiri di dalam diri anda, sehingga tidak perlu membeli Clocky.

Kadang kita tidak berpikir sejauh ini. Tapi pada dasarnya setiap manusia punya kecenderungan yang tidak hanya satu. Kadang sisi rasionalnya sangat dominan, sementara di lain waktu sisi emosional mengambil alih kendali atas dirinya. Ada sisi yang dominan sekali dalam diri kita, tetapi itu bisa segera tergantikan ketika situasinya mendukung.

Kejutan kedua: pikiran dalam otak manusia tidak hanya satu.

Inilah sebabnya mengapa manusia bisa berubah, atau sebaliknya tidak mau berubah sama sekali. Kadang kedua sisi kepribadian itu saling bertentangan, kadang malah saling menguatkan. Lebih sering mereka memang saling bertentangan.

Pertentangan ini digambarkan dengan sangat jelas dengan analogi yang digunakan oleh Jonathan Haidt, seorang psikolog dari University of Virginia, dalam bukunya “The Happiness Hypothesis”. Haidt mengumpamakan sisi emosional kita adalah Gajah (elephant) dan sisi rasional kita sebagai Pawang (rider). Pawang bisa mengendalikan dan memimpin gajah, tetapi kadang Gajah bisa mempergunakan kekuatannya sehingga pawang terpaksa harus mengalah.

Masalah akan timbul ketika pawang dan gajahnya tidak menemukan kata sepakat. Harus ada yang dikorbankan atau mengalah.

Ada sebuah ilustrasi lagi untuk hal ini, dan akan membuat kita menemukan kejutan ketiga dari sebuah perubahan.

Sekelompok mahasiswa diikutsertakan dalam sebuah percobaan tentang persepsi terhadap makanan. Mereka diminta untuk tidak makan, setidaknya tiga jam sebelum percobaan. Setelah itu mereka melapor kepada laboratorium bahwa mereka agak lapar. Mereka lalu dibawa ke sebuah ruangan yang begitu harum aroma kue coklat yang baru saja selesai dipanggang. Di meja ada dua mangkok, yang satu berisi kue coklat yang begitu menggoda, dan yang satu lagi berisi lobak merah, makanan kelinci.

Setengah dari peserta diminta makan 2-3 potong kue coklat dan permen, sementara sisanya hanya boleh makan lobak merah. Sementara mereka makan, para peneliti meninggalkan ruangan dengan maksud agar mereka tergoda. Para peneliti itu ingin agar para pemakan lobak tergoda oleh kue coklat. Tapi hingga selesai, tak ada seorang pemakan lobakpun yang berusaha meminta kue coklat. Ini contoh ketika tekad sedang bekerja.

Tak lama setelah itu, datang beberapa peneliti lain, yang tampaknya tidak berhubungan dengan para peneliti pertama. Mereka meminta mahasiswa-mahasiswa tersebut memecahkan sebuah teka-teki sulit tentang bangun geometris yang membuat mereka harus berkali-kali mengulang mengerjakannya. Mereka diberi kertas yang banyak sekali agar mereka bisa terus mencobanya. Teka-teki tersebut ternyata memang dirancang untuk tidak bisa dipecahkan. Para peneliti ingin mengetahui, berapa lama para mahasiswa itu bertahan dalam mengerjakan soal yang sulit dan menyebalkan itu sebelum akhirnya menyerah.

Hasilnya adalah sebagai berikut:

Mahasiswa yang makan kue coklat mengerjakan soal tersebut selaam 19 menit melalui 34 kali upaya coba-coba. Dan, mahasiswa pemakan lobak menyerah hanya dalam 8 menit menxoba dengan mengulang sebanyak 19 kali. Mengapa mahasiswa pemakan lobak ternyata lebih mudah menyerah?

Jawabannya sangat mengejutkan; mereka kehilangan kendali diri. Dalam studi-studi seperti ini, psikolog menemukan bahwa kendali diri adalah sumber yang bisa habis. Mahasiswa pemakan lobak telah menggunakan sebagian besar kendali diri untuk menahan godaan terhadap kue coklat. Jadi ketika dihadapkan pada soal yang sulit tersebut, gajah-gajah dalam diri mereka sudah lelah dan mengomel karena merasa soal itu terlalu sulit. Akibatnya pawang-pawang juga tidak memiliki kendali untuk gajah-gajahnya lebih dari 8 menit. Sementara itu, mahasiswa yang makan kue coklat memiliki pawang-pawang yang masih segar sehingga masih bisa mengendalikan gajah-gajah mereka selama 19 menit.

Ini memang bukan kejutan dalam sebuah perubahan, tetapi sebuah poin penting: kendali diri adalah sumber yang bisa habis.

Ini juga yang menjadi sebab mengapa dalam melakukan sebuah perubahan, atua dalam proses mencapai keinginan untuk merubah sebuah kondisi, seorang manusia dituntut untuk menyeimbangkan gajah dan pawangnya. Mengatur strategi agar tak kehabisan kendali diri sementara jalan masih panjang adalah sebuah ketrampilan yang harus dikuasai oleh seorang profesional yang ingin melakukan banyak perubahan ke arah yang lebih baik.

Masih ada satu ilustrasi lagi yang semoga akan memperkaya daya analogi kita sebagai nazhir dalam merancang sebuah perubahan.

Dua orang peneliti bidang kesehatan, Steve Booth-Butterfield dan Bill Reger, yang juga merupakan guru-guru besar di West Virginia University, sedang memikrkan cara untuk membujuk orang agar mau makan makanan yang lebih menyehatkan. Dari penelitian sebelumnya, mereka tahu kalau orang lebih mungkin berubah ketika mereka merasa sangat jelas dan faham tentang perilaku baru yang diharapkan terhadap diri mereka. Tetapi sayangnya, ini tidak berlaku untuk soal makanan sehat.

Ada beberapa pertanyaan sehubungan dengan hal ini. Dari mana kita harus mulai? Makanan apa yang tidak boleh lagi atau malah harus mulai dimakan sekarang? Haruskah mereka mengubah kebiasaan makan waktu sarapan, makan siang, dan makan malam? Di rumah atau di restoran?

Begitu banyak cara tentang makan makanan yang sehat, apalagi bila meneliti kebiasaan makan orang Amerika. Rata-rata orang Amerika suka sekali minum susu. Seperti diketahui, susu adalah sumber kalsium yang besar, sekaligus merupakan sumber lemak jenuh. Kemudian, perhitungan-perhitungan membuat kesimpulan yang luar biasa: andai saja orang Amerika beralih dari susu fulkrim (whole milk) ke susu skim atau susu 1%, maka pola makan mereka rata-rata akan langsung memenuhi kadar lemak jenuh yang dianjurkan oleh USDA.

Lalu bagaimana anda bisa mengajak warga Amerika mulai minum susu rendah lemak? Anda harus mengusahakan agar susu tersebut berada paling depan dalam kulkas mereka. Mengapa? Karena orang cenderung memakan atau meminum apa saja yang ada tepat di depan mereka! Seluruh keluarag akan meminum susu rendah lemak tersebut sebanyak dan secepat mereka menghabiskan susu fulkrim.

Jadi, anda tidak perlu mengubah kebiasaan minum. Yang justru harus diubah adalah : kebiasaan belanja. Tiba-tiba intervensi menjadi alat yang sangat penting di sini. Ketika kita ingin konsumen membeli susu 1%, , maka lakukanlah intervensi agar mereka membelinya saat mereka berbelanja bahan makanan.

Kedua guru besar tersebut menyusun strategi. Mereka meluncurkan kampanye di dua komunitas warga di West Virginia, dengan menampilkan iklan-iklan singkat di semua media lokal selama dua minggu. Kampanye susu 1% dibuat sangat tegas dan spesifik, tidak malu-malu seperti pengumuman merokok dapat menyebabkan kanker di iklan rokok, misalnya. Salah satu iklan menyebarluaskan fakta bahwa satu gelas susu fulkrim memiliki kandungan lemak jenuh setara dengan lima kerat daging babi. Dalam sebuah konferensi pers, para peneliti itu menunjukkan kepada para wartawan setempat, sebuah tabung penuh lemak yang setara dengan kadar lemak dalam dua liter susu fulkrim. Reaksi para gajah di kepala para wartawan, mereka cenderung terkejut dan berkata, “Wah, banyak sekali!”

Kedua peneliti itu kemudian memantau data penjualan susu di delapan toko di kawasan intervensi tersebut. Sebelum kampanye, pangsa pasar susu rendah lemak 18%, sesudah kampanye meroket menjadi 41%, dan enam bulan setelahnya stabil di angka 35%.

Ini mengantar kita ke bagian akhir pola yang mencirikan sebuah perubahan yang sukses: jika ingin orang berubah, anda harus memberikan arahan yang jelas. Jika misalnya, anda menghimbau orang agar hidup lebih sehat, akan banyak tafsiran yang dapat dibuat untuk itu. Misalnya, mana yang harus saya dahulukan; berolahraga untuk mengimbangi kebiasaan saya minum es krim ataukah mengurangi minum es krimnya dulu? Jadi, jika anda ingin orang hidup lebih sehat, jangan hanya katakan “jalanilah kehidupan yang sehat”, tapi anda bisa mengatakan secara lebih jelas, “Kalau belanja makanan, beli susu 1%, dan anda akan lebih sehat”. Ini adalah kejutan dalam perubahan: Yang tampak sebagai hambatan seringkali merupakan ketidakjelasan.

 

Dalam hal ini, setelah melihat ketiga ilustrasi tadi, dapat disimpulkan ada tiga kerangka kerja yang perlu diperhatikan seorang profesional yang ingin melakukan berbagai perubahan, demi peningkatan hasil. Ketiga kerangka tersebut adalah:

  1. Mengarahkan sang pawang. Yang tampak sebagai hambatan, seringkali merupakan ketidakjelasan. Ingat ilustrasi tentang kampanye susu 1% tadi. Jadi, berilah arah sejelas-jelasnya tentang apa yang anda inginkan dan dengan cara apa. Mulailah dengan menemukan titik terang yang berkaitan dengan faktor-faktor yang telah ada sebelumnya, misalnya kebiasaan masyarakat setempat, fakta-fakta ilmiah dll. Setelah itu uraikan langkah-langkah kritis, misalnya dengan melakukan pendekatan perorang atau kampanye melalui media lokal. Terakhir tunjukkan kemana arah yang dituju, bersama dengan upaya mengurai langkah-langkah kritis yang dilakukan. Hal ini dapat dilakukan pada masyarakat di wilayah yang belum faham terhadap wakaf produktif, misalnya. Untuk ini diperlukan pula gerakan melalui media dan menarik perhatian masyarakat melalui tokoh-tokohnya. Jangan lupa gunakan pesan yang sejelas mungkin.
  2. Memotivasi Sang Gajah. Yang tampak sebagai kemalasan, seringkali merupakan bentuk ketidakberdayaan. Ingat tentang eksperimen kue coklat dan lobak. Yang paling penting di sini adalah menggugah perasaan orang lain, misalnya dengan menyentuh sisi kemanusiaan masyarakat untuk berwakaf bagi peningkatan ekonomi rakyat miskin. Lalu sederhanakan perubahan, misalnya dengan menyediakan loket/gerai khusus bagi mereka yang akan ikut berwakaf. Terakhir adalah dengan mengembangkan personil baik kuantitas maupun kualitas, sehingga akan memperbaiki mutu pelayanan bagi yang akan berwakaf.
  3. Melicinkan jalan. Yang tampak sebagai masalah pada manusia sesungguhnya seringkali merupakan masalah pada situasi yang sedang mereka hadapi. Ingat kasus popcorn basi pada penonton bioskop. Ini bisa dilakukan dengan mengotak-atik lingkungan sekitar anda, lalu membangun kebiasaan yang baru, dan menggiring kawanan obyek untuk menempuh ‘jalan yang baru’.

 

Profesi apapun sangat memungkinkan anda untuk berada dalam situasi yang sulit dirubah, meskipun anda sangat ingin melakukannya. Mulailah dengan kreativitas anda yang tak terbatas untuk melakukan 3 hal ini serempak atau secara bertahap. Profesionalisme anda diuji untuk menghadapi hal-hal seperti ini dalam hampir setiap situasi dan apapun profesi anda. Dan, masyarakat masih memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap seorang hijaber.

Advertisements

About ifaavianty1

A wife, mom of 3 sons, writer and author of about 70 books. Loves books, music, movies, cook, art n craft, history, rain, mall, coffee, tea, and pasta. Oh, and every genius :))
This entry was posted in buku, inspirasi, life, muslimah, perempuan, Uncategorized and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s