Sepasang Mata Yang Melembut

Alhamdulillah, terlalu banyak momen yang tak terlupakan dalam hidup saya, sepanjang usia. Namun ini tentang momen khusus di suatu siang yang tak disangka akan menjadi awal jatuh cintanya kami padanya.

 

Siang itu, saya harus menyelesaikan agak banyak pekerjaan dan hampir tidak sempat menyentuh dapur. Kalau sedang overload begini, biasanya bahkan makan siangpun saya malas. Kalau tidak memikirkan ada dua anak yang harus tetap makan siang, serepot apapun ibunya, barangkali saya memilih puasa saja. Jam dua belas siang, pertanda saya harus istirahat, shalat zuhur dan makan siang. Anak-anak sudah mulai rusuh, sebagai alarm bagi ibunya bahwa mereka sudah mulai lapar.

 

Cuaca panas semakin membuat saya mager alias malas gerak mencari menu santap suang, bahkan sekedar ke Warung Soto Mas Bejo dekat masjid yang jarajnya hanya sekitar 300 meter dan biasa saya jalan kaki ke sana. Terpikir mencari menu santap di warteg sebelah material yang jaraknya hanya 50 meter kurang, dari rumah saya. Tapi bosaaan, menunya itu-itu juga, dan biasanya di jam-jam siang seperti ini, banyak bapak-bapak karyawan toko bahan bangunan dan kuli-kuli yang sedang mengerjakan proyek bangunan perumahan, di sebelah rumah saya, yang makan siang di sana. Sungkan saja gitu. Lagipula sebenarnya saya sedang ingin minum es teh manis yang es batunya kecil-kecil kaya di warung Barakah, sebelah warung mas Bejo. Hahaha, keren ya saya, sampai hafal gitu perwarungan di sekitar rumah.

 

Tapi ya sudahlah, daripada rewel banyak maunya tapi mager, warteg sebelah jadi pilihan. Moga-moga enggak rame bapak-bapak yang makan di situ. Moga-moga menunya masih lengkap, mungkin saya bisa memesan kikilnya yang lumayan enak dan pedasnya cukup nampol.

ira1

Foto dari Pixabay

 

Setibanya di warteg, tuh bener kaaan, rame banget. Agak buru-buru saya pesan ini dan itu pada si mbaknya yang jaga. Bau asap rokok dan aroma pekerja bikin saya enggak betah dan pingin segera berlalu dari situ. Namun tunggu… ada sesuatu yang sibuk mengelilingi kaki saya. Makhluk kecil itu bahkan mencoba menarik ujung gamis saya, seolah mencari perhatian. Dengan ributnya ia mengeong seperti menangis.

 

Saya menemukannya di ujung sepatu. Seekor bayi kucing berwarna putih dan sedikit hitam di telinga, punggung dan buntutnya. Oh ya, kepalanya besar melebihi badannya, dan buntutnya panjaang seperti buntut tikus. Warna putih pada bulunya terlihat kusam. Sejenak mata kami bertemu. Ya Allah, kasihan banget ya dia. Saya tersenyum dan sejenak sepasang mata itu melembut dan meongannya mengecil.

ira2

Pokijan waktu baru ‘bergabung’

 

“Ibu senang kucing ya?” Tanya si mbak warteg sambil menyerahkan sekantung lauk pauk kepada saya.

“Iya. Ini kucing di sini?” saya balik bertanya.

“Enggak sih bu. Ibunya dia tadinya di sini, terus lebaran kemarin pergi enggak balik. Ya ini bayinya jadi rese, mengeong terus nyari emaknya.”

Lah, dikata saya emaknya kucing kali ya, si bayi ini mengeong terus kepada saya.

“Bawa aja bu. Kita memanggilnya si Mancung. Cerewet banget bu, dianya”.

Aihhh, lucu banget kamu, Mancung. Saya segera mengambilnya dengan tangan kiri. Anehnya dia menurut dan langsung menatap saya dengan sepasang matanya yang minta disayang.

“Kamu mau ikut MamaCat, Pus?” Tanya saya pelan. Kalau keras-keras, ntar disangka kurang waras sama bapak-bapak yang lagi makan.

Meooong…. Aduh, sayaaang…. Love at first sight deh kayaknya saya sama dia.

“Mbak, saya minta kresek, buat bungkus dia nih. Saya mau bawa pulang, Rumah saya kan dekat, ntar saya lari deh, takut dia kehabisan nafas di kantong”.

 

Dan, serius lho, saat itu saya bawa dua kantong kresek, di kanan membawa lauk pauk dan es teh, serta yang di kiri bawa anak kucing yang terus ribut mengeong. Asli, saya lari menuju rumah.

 

Sesampainya di rumah, kedua bocah saya yang tadinya lapar mendadak kenyang, karena keasyikan main dengan si Mancung yang kini kami beri nama Pou, kependekan dari nama lengkapnya Pokijan. Pou lahap minum susu dan makan makanan kucing yang selalu kami sediakan untuk kucing kami, Jenderal Gembul. Pou juga langsung lincah berlari kesana kemari. Jenderal Gembul mula-mula menggeram melihatnya, namun dalam waktu beberapa jam saja dia sudah mulai menerima ‘keponakan baru’nya.  Malam hari ketika kucing-kucing harus tidur di luar, Pou menangis sepanjang malam membuat kami tidak bisa tidur.

ira3

Pokijan dan Ahya

 

Sekarang sudah hampir dua bulan, Pou bersama kami. Ia tumbuh menjadi anak kucing yang sehat, gemuk, bersih, dan lincah. Ia menjadi kucing kesayangan kami, dan setia membangunkan Bebeb dan Ahya di pagi hari. Ia biasa menyelusup ke pelukan anak-anak yang sedang tidur, dan menggosok-gosokkan tubuhnya atau hidungnya ke anak-anak, sehingga anak-anak langsung bangun dan memeluknya. Pou (dan Ilsa yang  datang kemudian) yang setia menemani saya menulis sambil duduk atau tidur di sekitar netbook. Kadang kalau mereka masih mau disayang-sayang, netbook saya diduduki mereka.

 

Entah kenapa momen pertemuan saya dengan Pou selalu teringat, bahkan setiap kali saya marah padanya ketika dia terlalu nakal. Momen yang mengikatkan cinta saya dengannya, lewat sepasang matanya yang melembut.

 

ira4

 

Tulisan ini diikutkan dalam Irawati Hamid First Giveaway “Momen Yang Paling Berkesan dan Tak Terlupakan”.

Advertisements

About ifaavianty1

A wife, mom of 3 sons, writer and author of about 70 books. Loves books, music, movies, cook, art n craft, history, rain, mall, coffee, tea, and pasta. Oh, and every genius :))
This entry was posted in inspirasi, life, love and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

6 Responses to Sepasang Mata Yang Melembut

  1. Hwahh… nama pusyinya lucu bingit mbak.. Pou Pou…
    Knapa kok ga dipanggil mancung, mbak. Etapi gemes banget klo liat ato nyentuh idungnya kucing. xixixixi apalagi imut2 gitu

  2. Kucing memang makhluk paling imut n mudah disayang ya.. salam kenal mba Ifa 🙂

    • ifaavianty1 says:

      Salam kenal juga mbak Astrid. Iya mbaak, kucing dan juga kelinci, marmut, serta hamster itu very cute… loveable. Tapi gak semua orang sabar ya menghadapi ‘kenakalan’ mereka

  3. waah Mba sekeluarga suka kucing yah, kami juga sama Mba 🙂

    terimakasih sudah berpartisipasi di GA saya yah :*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s