Bubun, Pada Suatu Hari Hujan

Bubun adalah perempuan istimewa dalam hidupku. Dia memang perempuan biasa, layaknya emak-emak lain, yang sering mengomel tak berhenti, yang sering lupa kalau memarkir mobil, bannya hanya masuk sebelah, yang satu lagi mencong keluar. Dia Mamah-mamah biasa, yang kadang karena terlalu terburu-buru dan sibuk banyak urusan, pergi keluar rumah hanya berbekal dompet, kunci mobil, dan hijab yang warnanya tidak matching dengan gamis dan kaus kaki. Dia Cuma Ummi-Ummi biasa, yang kadang kalau lelah, lebih suka beli nasi dan lauk pauk di warteg sebelah, dan tak lupa pulangnya bawa kucing untuk di-adopt atau di-foster di rumah kami, yang makin lama makin sempit karena terlalu banyak kucing temuannya.

Tapi dia satu-satunya perempuan yang paling berani yang pernah kukenal. Bukan berani melawan ular atau hewan mengerikan, namun berani menghadapi resiko seberat apapun demi kami, anak-anaknya, sementara sejak perpisahannya dengan bapak, dia berjuang seorang diri hanya dari pekerjaannya sebagai guru bimbel. Bapak? Meskipun belum menikah lagi, ia terlalu sibuk dengan pencitraan dirinya sebagai seorang tokoh politik. Sudahlah, Bubun berpesan kami tidak usah mengganggu bapak, sebab Tuhan Mahakaya dan Mahasayang, Dialah yang akan mencukupkan kasih sayang dan materi yang kami terima. Dan Bubun konsisten. Hingga kini.

“Bun, Afid mesti bayar uang sekolah buat UAN. Kalau enggak, Afid enggak bisa ikut UAN, Bun. Maaf ya…” Akhirnya jadi juga kucetuskan sesuatu yang menghambat di tenggorokan sejak tadi pulang sekokah, Kulihat wajahnya mendung sejenak. Ia sempat menghentikan kesibukannya meracik bumbu untuk lauk makan malam kami.

“Oh, ya, nanti Bubun usahakan. Nanti Bubun ke sekolah menghadap bu Isma”. Bu Isma itu kepala sekolah di SMP tempatku bersekolah. Sudah tak terhitung Bubun menghadap bu kepsek dalam rangka meminta penjadwalan kembali hutang kami pada sekolah yang jumlahnya banyak. Sepuluh juta selama tiga tahun bersekolah. Kalaulah tidak karena kenekadan Bubun datang menghadap dank arena kebijaksanaan bu Isma, oh tentu karena kasih sayang Tuhan, mungkin aku sudah DO dari tahun lalu. Namun akankah kali inipun berhasil? Aku menelan ludah yang terasa begitu pahit.

“Maafin Afid ya Bun”.

“Enggak apa-apa, Fid, sudah kewajiban Bubun…” Lalu senyap. Tak lama kemudian, kudengar ia kembali dengan ceria memanggil kucing-kucing kami untuk makan seadanya. Kedua adikku, Irfa dan Hilya, ikut meriung bersama hewan-hewan lucu itu. AKu memilih menyingkir, sebab perih hatiku yang tak tertahan.

Aku anak sulung. Dan belum bisa membantu Bubun banyak. Hanya bisa meminta dan meminta. Ingin menangis aku melihat Bubun yang kembali (berusaha) ceria bercanda dengan adik-adikku dan para kucing. Di luar hujan turun deras sekali, seolah menandakan alam mengizinkanku menangis bersama curahannya.

Hari itu UAN. Aku bisa ikut ujian yang menentukan kelulusanku itu. Bubun berhasil melunasi semua hutang kami, entah bagaimana caranya. Tak sabar aku ingin mendengar cerita Bubun tentang bagaimana ia mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu singkat. Tadi pagi ketika kutanya, ia hanya menjawab singkat, “Kasih sayang Tuhan semata. Syukuri ya Nak”.

Hujan menderas. Aku berlari menembusnya, tak sabar ingin pulang. Tuhan sayang sekali pada kami.

Di gang menuju rumah kami, aku tersentak. Sesosok perempuan yang begitu kukenal berbasah-basah pulang. Bubun. Mobil sedan tahun 88 kami mana? Aku tercekat.

ceritahujan2

ceritahujan1

Advertisements

About ifaavianty1

A wife, mom of 3 sons, writer and author of about 70 books. Loves books, music, movies, cook, art n craft, history, rain, mall, coffee, tea, and pasta. Oh, and every genius :))
This entry was posted in cerpen, fiksi, Uncategorized and tagged , , , . Bookmark the permalink.

7 Responses to Bubun, Pada Suatu Hari Hujan

  1. Agung Rangga says:

    Terima kasih sudah berpartisipasi. 🙂

  2. Pingback: Daftar Peserta Giveaway “Cerita Hujan” – Agung Rangga

  3. Pingback: Pemenang Giveaway “Cerita Hujan” – Agung Rangga

  4. Agung Rangga says:

    Halo, Bunda Ifa!
    Selamat ya, tulisan ini menang dalam Giveaway “Cerita Hujan”!
    https://agungrangga.com/2016/10/31/pemenang-giveaway-cerita-hujan/
    Silakan cek email dan balas email dari saya ya, ditunggu~ 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s