Liburan Si Kecil Tanpa Demam

Bebeb usianya baru lima tahun, namun ia sangat aktif dan enggak mau diam. Hobinya lebih banyak bersifat kinestetik dan outdoor. Anak bungsu kami ini paling aktif dibandingkan dengan kakak-kakaknya.

tempra1

Bebeb )kanan), si bungsu yang aktif dan ceria

 

Ketika usianya masih tiga sampai empat tahun, Bebeb sering kena demam. Badannya menghangat, kemudian jadi panas. Memang sih dia tidak rewel, namun dia jadi sangat lesu dan pendiam. Sepi sekali rumah tanpa ‘kicauan’ dan polahnya. Yang lebih bikin miris, kalau sudah demam, matanya jadi celong, dan berat badannya cepat menyusut. Dua hari saja dia sakit, kelihatan banget kurusnya. Tapi untunglah, setiap sakit demam, Bebeb tidak terlalu bermasalah soal selera makan. Dia tetap makan seadanya, meski tidak selahap biasanya. Yang jelas, dia enggak pernah mogok makan meskipun sedang sakit.

 

Pernah suatu kali, kami berencana pergi ke Serang, Banten. Waktu itu ayahnya mengisi acara di salah satu tempat di Serang. Kami dengan riang gembira ikut dong, sekalian jalan-jalan alias traveling. Meski tidak menginap, ada beberapa tempat yang rencananya akan kami kunjungi, seperti pelabuhan Karang Hantu, museum Purbakala, dan keraton Serang serta benteng peninggalan zaman Belanda. Semua persiapan sudah dilakukan, dan pak supirpun sudah siap janjian berangkat esok pagi.

 

Sorenya, menjelang berangkat keesokan harinya, Bebeb tiba-tiba panas dan menunjukkan gejala demam. Dia lesu dan tumben pakai acara rewel. Secara kilat, saya berikan dia parutan bawang dicampur minyak kelapa, dioleskan di ubun-ubun kepalanya. Entah apa penyebabnya, yang jelas, panasnya tidak turun, bahkan naik. Pernah kejadian seperti ini, saya mintakan air rebusan cacing ke pak supir. Sumpah sebenarnya saya geli membayangkan si cacing ini. Tapi apa boleh buat, sebagai salah satu ikhtiar. Menurut pak Supir, obat yang satu ini manjur sekali. Bismillah, saya meminumkan si air cacing ke Bebeb tanpa saya lihat, apalagi saya beritahu ke Bebeb. Ternyata memang tidak lama kemudian panasnya turun dan kembali normal. Tapi dalam hati saya berdoa, semoga ini terakhir kali saya berurusan dengan si cacing. Membayangkannya saja, saya mual duluan.

 

Nah, apakah kali ini saya harus kembali berurusan dengan cacing? Glek!! Saya sibuk berdoa agar kisah itu tak lagi saya alami. Sementara thermometer digital menunjukkan angka 38, 4. Tinggi sekali ya. Biasanya kalau setinggi ini berarti penyebabnya virus. Bawa ke dokter? Aduh, kalau bisa ditangani sendiri, jangan buru-buru ke rumah sakit lah. Itu prinsip saya.

 

Lalu teringatlah saya kepada kisah si sulung Akna, yang juga cukup sering terkena demam di masa kecilnya. Biasanya bila demamnya di atas 38 derajat, saya kasih obat penurun panas yang mengandung Paracetamol. Favoritnya Akna dulu Tempra rasa strawberry. Kenapa tidak saya coba untuk Bebeb?

 

Ternyata di apotik hanya ada Tempra rasa anggur. Enggak apa-aoa deh, semoga Bebeb suka. Kan anggur juga rasanya enak, dan enggak kayak obat lainnya yang rasanya obat bangeeeet. Kadang kalau anaknya rewel, sering malah bikin si anak muntah.  Bismillah. Saya beri Bebeb obat Tempra.

 

kenapa harus Tempra? karena Tempra terbukti cepat menurunkan demam, cepat bekerja langsung di pusat panas, aman karena tidak menimbulkan iritasi lambung, dan telah dipercaya dan direkomendasikan secara turun temurun.

Sementara itu, saya juga mengompres dahinya dengan air hangat, saya pakaikan dia baju yang tipis dan menyerap keringat. Saya juga memberinya banyak minum dan sedikit oralit untuk mencegah dehidrasi. Disamping itu, saya masakkan untuknya sop kaldu yang banyak kuahnya. Tidak lupa, saya mengamati perilakunya, sebab khawatir juga dia mengalami kejang demam dan penurunan kesadaran.

 

Alhamdulillah, selepas isya, kondisi tubuhnya berangsur normal. Walaupun masih hangat, ia sudah tidak terlalu gelisah dan murung. Jam sepuluh malam, ia sangat mengantuk dan tertidur, badannya sudah berkeringat. Saya ukur kembali suhu tubuhnya sudah normal. Malam itu, kami bisa tidur dengan cukup tenang, sambil berjaga untuk kondisi esok hari, jika Bebeb kembali demam, kami memutuskan tidak ikut ayahnya ke Serang.

 

Paginya, Bebeb sudah benar-benar sehat. Ia malah ribut mau ikut pergi. Syukurlah, berarti acara liburan ke Serang jadi deh. Bebeb di mobil sudah kembali ceria dan menggoda kedua kakaknya serta pak supir. Sempat-sempatnya dia bilang, “Bu, obatnya enak kayak permen. Mau lagi dong”. Aisshhh, itu mah obat, Beb, bukan minuman biasa.

tempra4

Bebeb dan Ahya di Serang

 

Jadi, sekarang kalau  Bebeb demam, saya enggak usah panic. Ya demam pada batas tertentu memang tidak membahayakan, jadi jangan panic. Berikan obat sesuai anjuran, termasuk Tempra yang tidak mengandung alcohol dan halal. Amati terus kondisi anak, dan jangan lupa tetap berdoa. Bisa juga sambil mengompres atau memberi obat, bacakan shalawat nabi ya Bun.

 

One thing, bye bye cacinggg…. Hehehe….

 

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba Blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Taisho.

Advertisements

About ifaavianty1

A wife, mom of 3 sons, writer and author of about 70 books. Loves books, music, movies, cook, art n craft, history, rain, mall, coffee, tea, and pasta. Oh, and every genius :))
This entry was posted in kesehatan and tagged , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s