#BatikIndonesia Saksi Perjalanan Menembus Ruang dan Waktu

Membincang batik bagi saya adalah menyaksikan perpaduan antara tradisi dan inovasi. Bahwa seni batik adalah sebuah tradisi local khas Indonesia yang tak lekang dimakan waktu, namun juga terus berinovasi sesuai dengan perkembangan zaman. Paling tidak, inilah yang saya amati dari dua anggota keluarga saya, nenek saya dan suami saya sendiri.

 

Nenek saya, almarhumah ibu Siti Madjanengrum, adalah seorang ibu rumah tangga yang apik dan mewarisi keayuan khas perempuan Sunda pada umumnya, berkulit bersih dan nampak murah senyum. Saya sendiri tidak pernah bertemu langsung dengan beliau, karena beliau wafat jauh sebelum saya lahir, tahun 1962. Namun dari cerita-cerita ibu saya tentang beliau, beliau selalu menampilkan cirri khas ibu rumah tangga sunda yang ‘mapan’ ketika itu, yang focus kehidupannya adalah mengurusi suami dan anak beliau yang jika semuanya hidup, total jumlahnya 16 anak, serta merawat rumah yang besarnya luar biasa, meski dibantu oleh beberapa asisten rumah tangga. Sebagaimana ibu rumah tangga kelas menengah ke atas masa itu, dan yang dibesarkan oleh keluarga yang masih erat memegang tradisi, nenek saya gemar mengoleksi kain batik, terutama batik Cirebonan. Pada masa itu, kain batik jelas sudah termasuk seni budaya tinggi, yang tentu saja harganya tidak bisa dibilang murah. Nenek merawat kain batik itu dengan luar biasa telaten, bahkan dia membersihkan kain batik itu dengan klerak atau lerek. Soal buah yang satu ini, nanti saya ceritakan kemudian.

 

Setelah melahirkan putra bungsunya yang berarti anaknya yang keenam belas, nenek sakit-sakitan. Ia mengalami pendarahan tak henti, yang kalau dalam istilah kedokteran sekarang namanya post partum bleeding. Kondisi ini diperburuk dengan penyakit diabetes yang dideritanya, dan ini bahkan menyebabkan ia hanya bisa terbaring di tempat tidur tanpa daya selama kurang lebih dua tahun, dengan rambut yang rontok, hingga akhirnya beliau wafat. Sebelum beliau wafat, beliau mewariskan kepada anak-anak perempuannya, termasuk kepada ibu saya, beberapa lembar kain batik koleksi terbaiknya. Hingga kini, ibu saya masih menyimpan warisan dari mamanya itu.

 

 

Setiap kali ingat kisah ini, saya merinding. Bahwa koleksi kain batik bisa menjadi warisan berharga bagi anak cucu. Bukan semata masalah harganya, namun maknanya yang sangat dalam yang membuat saya terkesan. Makna melestarikan tradisi itulah yang membuat saya terinspirasi. Nenek saya (sayang saya tidak bisa menemukan kembali foto beliau yang dulu waktu saya kecil suka sekali saya pandangi), biasa berkain kebaya lengkap dengan sanggulnya, selalu tampil chic sebagai perempuan sunda yang bangga dengan tradisinya. Mengingat itu, saya merenung, berapa kali ya saya berkain kebaya dalam hidup saya? Apakah karena saya sering merasa itu ribet dan paciweuh? Betapa berbedanya saya dengan para perempuan masa dulu yang mungkin saja lebih repot dari saya, namun tetap bangga dengan pakaian tradisional…

 

Dan kisah tentang batik dan nenek melegenda dalam benak saya. Batik selalu berhasil membawa angan saya terbang melintasi zaman. And I miss her suddenly, even we hadn’t ever met before…

Batik adalah salah satu legenda dalam hidup saya. Jangan pikirkan videonya ya, tapi isi lagunya 🙂

 

Satu lagi kisah tentang batik dalam hidup saya. Kali ini dibawakan oleh suami saya, seorang pekerja biasa yang karena pekerjaannya bisa mengelilingi nusantara dalam kurun waktu sepuluh tahun belakangan. Suami saya tidak pernah melewatkan beberapa hal dalam traveling-nya; wisata kuliner, wisata religi serta sejarah, dan … membeli batik khas daerah tersebut untuk koleksi. Mendadak saya menyadari suatu saat ketika membuka lemari pakaiannya untuk membereskan baju setrikaan…waaa batiknya banyak juga. Macam-macam motif dari berbagai daerah, unik dan modern. Betapa batik sekarang sudah melewati berbagai tahap inovasi, sehingga bisa tampil lebih modern, dengan motif yang lebih kaya dan menampilkan cirri khas budaya local masing-masing daerah. Tiba-tiba saya menyadari bahwa dengan batik, seseorang jadi kelihatan lebih berkelas, classy gitu, berwibawa dan terlihat lebih gagah/cantik. Hahaha, iyaaa, suami saya jauh kelihatan lebih gagah dengan batik-batiknya, demikian pula sulung saya ketika wisuda SMP-nya mengenakan Batik Ternate.

Suamiku dan batik-batiknya…ehmm *abaikan orangnya, apalagi orang cantik yang bersamanya, mari fokus pada batiknya …

jibb4

Si sulung dan batik Ternate-nya

 

Batik bagi saya bukan hanya sebatas sebuah jenis kebudayaan. Dia adalah penghubung batin saya dengan zaman dimana nenek saya masih ada, dan penghubung batin saya dengan berbagai tempat di nusantara dimana sayapun suatu saat ingin menjejakinya, dan seperti suami saya, sayapun ingin mengoleksi setiap motif batik khas dari tiap daerah. Bagi saya batik adalah saksi sebuah perjalanan menembus ruang dan waktu, agar saya tetap bangga menjadi puteri nusantara.

Advertisements

About ifaavianty1

A wife, mom of 3 sons, writer and author of about 70 books. Loves books, music, movies, cook, art n craft, history, rain, mall, coffee, tea, and pasta. Oh, and every genius :))
This entry was posted in culture, fashion, inspirasi and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s