Kejujuran Yang Mencekam

Saya sebetulnya dari dulu juga hanya orang biasa, sejak kecilpun saya hanya anak perempuan kecil biasa, enggak punya kelebihan apapun kecuali suka membaca apa saja, lalu jadi suka menulis dan menggambar apa saja. Saya sih pinter banget juga enggak, tapi cukup sering jadi juara kelas waktu SD. Hanya saya suka mikir, di kepala saya berkelebatan banyak hal, terlalu banyak hal, yang kadang saya juga taki mengerti. Kata-kata, gambar, adegan demi adegan bergerak cepat dan riuh di kepala. Itu yang sering bikin saya memohon sendiri, please berhenti sebentar dari berpikir. Hehehe, apa siiih, anak sekecil itu gitu lho.

 

Salah satu yang kadang bikin saya tidak habis pikir adalah masalah ruang dan waktu. Ah, ribet pisan euy. Nantilah kapan saya ceritakan. Yang jelas, saya semacam bisa melihat dan mendengar sesuatu yang tak terindra oleh anak-anak lain, bahkan oleh orang dewasa. Saat itu, saya hanya mikir, ini saya kebanyakan mengkhayal atau gimana. Tapi yang jelas, saya sih merasakan takut juga tidak terlalu besar, karena saya berpikir kan ruang dan waktunya berbeda, ya ngapain takut. Demikianlah, saya sebagai anak perempuan kecil sedikit terbiasa dengan ‘penampakan’ makhluk lain yang tidak semestinya nampak. Tidak selalu menakutkan sih, eh seringnya malah Cuma bikin saya merenung. Ih, kamu beda alam ya sama aku, kamu kok mukanya pucat banget, ya sebatas itu saja.

 

Saya tahu saya berbeda. Karena itu, saya enggak bisa sembarangan cerita ke orang lain, even itu ke orang tua, adik-adik, atau guru dan teman. Saya hanya suka semacam mengadu ke Allah, “Ya Allah, kok dia muncul gini hari sih. Siapa sih dia ya?” Atau kadang begini, “Ya Allah, mau ada apa sih kok ada yang datang?” Eeeaaaa….. mana saya tidurnya di kamar belakang pula. Sebelumnya saya tidur sama adik saya, yang bikin saya iri setengah mati dia kok bisa tidurnya cepat dan pulas gitu, sementara saya harus tersiksa melihat dan mendengar, kadang membaui, segala macam. Kalau adik saya sudah pulas, saya sering diam-diam menyelinap ke kamar mama dan papa, menyelinap ke selimut mama yang pas di bagian kaki beliau. Enggak tahu kenapa, yang jelas berdiam di kaki mama, membuat saya merasa nyaman dan enggak takut lagi.

 

Nah, waktu saya dipindahkan ke kamar belakang, karena ada kebijakan baru bahwa setiap anak harus tinggal di kamar terpisah karena sudah mulai besar, baru saya mulai berpikir untuk jujur. Ya, selama ini saya seperti menyembunyikan semua yang saya indera tentang makhluk lain itu. Tapi tidak bisa lagi, kali ini.

 

Jadi ceritanya, papa pulang dari luar negeri, saya lupa antara Cina dan Jepang maybe. Papa pulang membawa satu set teko dan cangkirnya dari tanah liat. Lucu dan vintage gitu. Saya senang memandang dan mengamatinya dari dekat. Namun, setiap malam selepas jam 10 dimana orang lain di rumah sudah tidur semua, mulailah dia berubah menjadi semacam poltergeist alias hantu berisik bagi saya. Aduhhh sekarang, puluhan tahun setelah peristiwa itu saja, saya masih merinding saat menuliskannya kembali. Iya, dia, si set teko ini, berbunyi ‘klutuk klutuk klutuk’, seperti ada yang sedang mengaduk teh di situ. Berisik sekali. Tapi anehnya, setiap saya memberanikan diri keluar dari kamar menuju dapur yang terletak di depan kamar saya, tempat si teko berada, tekonya diam. Blep, Diam tanpa suara. Dan saya bengong. Dan saya merinding. Astaga. Saya belum pernah bertemu poltergeist sebelumnya.

 

Kejadian itu berulang setiap malam, dan membuat saya makin tersiksa. Memangnya enak, tidur bersebelahan dengan tempat si Poltergeist bersarang? Dan sedihnya, ketika saya mengadu ke Mama dan Papa, juga adik-adik saya,  enggak ada yang percaya. Ya ampuuun, sampai saya pakai bersumpah segala. Nasiiibbb…. Apakah aku harus berkawan dengan si poltergeist sampai gede, demikian batin saya. Ya cakep kalau saya enggak keburu mati jantungan.

 

Si Poltergeist tetap mengganggu saya selama beberapa minggu setelahnya. Saya sudah nyaris putus asa, dan berpikir, ya sudahlah cuekin saja, pura-pura enggak dengar. Tapi mana bisa? Sampai akhirnya saya matur ke Allah, “Ya Allah, itu gimana ya caranya biar dia berhenti? Saya capek begini terus setiap malam”.

aaj

Foto by HDWallpapers.com

 

Malam berikutnya, saya pasrah. Begitu si Poltergeist berisik lagi, saya segera keluar kamar. Dan, percaya enggak apa yang saya lihat? Tekonya bergerak sendiri, tutup tekonya membuka dan menutup sendiri sehingga menghasilkan bunyi klutuk-klutuk. Saya terpaku diam. Enggak merinding tapi takjub. Belakangan setelah si teko berhenti berbunyi, saya baru merinding )telaaaat), dan langsung ngibrit masuk kamar, gemetaran sembunyi di balik selimut. Besok malamnya, saya beranikan keluar lagi, kembali si teko berisik dan bergerak-gerak. Dengan nekad, saya dekati dia, saya tarik tutupnya. Mungkin ada cicak yang terperangkap di dalamnya,

 

HAAAAA???? Kosong, asli kosong! Dan saya makin takut. Dalam hati saya memarahi diri sendiri, lagian lu sih sok berani. Paginya, tanpa menunggu, saya kembali bercerita kepada Mama dan kali ini beliau tampak percaya. Dari wajahnya terlihat ekspresi ngeri gitu.

 

Malamnya, Mama mencoba membuktikan sendiri. Saya tadinya agak pesimis sebab saya tahu Mama sebenarnya bisa mengindera juga hanya sudah lama tidak digunakan. Saya mencoba tidur dan tidak ikutan sotoy sok berani keluar kamar. Cukup dua malam saya menikmati tontonan mencekam dari si Poltergeist.

 

Paginya, Mama bercerita dengan wajah ngeri sehingga seisi rumah baru percaya. Kejujuran saya kemarin itu terbukti benar. Saya enggak bohong, mengkhayal, apalagi iseng mau menakut-nakuti seisi rumah, Saat itu juga si teko berhantu segera dienyahkan entah kemana. Tak peduli dia dibeli di luar negeri. Itu kejujuran saya yang saya anggap berdampak besar. Orang rumah jadi mulai percaya kalau saya ‘bisa’.

 

Di sisi lain, saya justru lebih berhati-hati mengungkapkan apa yang saya indera. Saya enggak mau bikin seisi rumah jadi tidak nyaman. Demikian pula ketika saat sudah bekerja jadi wartawati, saya sering pulang malam dan menemukan sesosok misterius sedang duduk di sofa ruang tamu yang temaram. Laki-laki, ganteng, tinggi, pucat, dan gloomy. Saya hanya menelan ludah dan berbisik mengucapkan salam selamat malam padanya. Kadang dia menatap saya dengan matanya yang dingin, lalu saya biasanya buru-buru mengangguk dan masuk kamar.

 

Percaya deh, bisa melihat yang begitu itu enggak nyaman kok. Apalagi untuk mengungkapkannya, Inginnya jujur, tapi tidak semua orang bisa menerima. Saya sendiri, bisa mengindera hingga usia kurang lebih 35. Setelah itu, saya memperbanyak wirid dan zikir, karena makin merasa tidak nyaman. Sekarang ini, paling sesekali saja saya bisa mengindera, itupun kadang berupa ‘orbs’… yang nantilah saya ceritakan. Yang jelas, sekarang saya merasa lebih nyaman tanpa dibayangi sosok, suara, dan bau-bauan yang menyeramkan. Anyway, sebagai orang beragama, saya percaya kok ada memang makhluk lain di luar ruang dan waktu kita.

 

Aihhh maafkan saya yang cerita spooky begini…. Maklumlah… kan aku anak jujur….Haissshhh.

 

I believe in ghosts, I believe in Frankenstein the monster

Even Halloween, the moon is cheesy green…  Kata Nikka Costa, penyanyi cilik bule tahun 80an.

 

 

 

Advertisements

About ifaavianty1

A wife, mom of 3 sons, writer and author of about 70 books. Loves books, music, movies, cook, art n craft, history, rain, mall, coffee, tea, and pasta. Oh, and every genius :))
This entry was posted in inspirasi, life and tagged , , . Bookmark the permalink.

20 Responses to Kejujuran Yang Mencekam

  1. Ngeri juga Mbaak Ifaa
    Saya sih belum pernah ngelihat, adik saya pernah dan waktu takut dan nangis keras waktu melihat banyak jin saya ikut merinding hii

  2. De pita says:

    Maaaaak serem binggoooo ceritanya… Hiy… Di tengah2 cerita sempet ngarep di endingnya ada tulisan “ini semua fiksi semata” ternyata nggak ya 😨😨😨

  3. raniyulianty123 says:

    Luar biasa pengalaman nya teh ifa

  4. Hanifah says:

    sudah pernah di-ruqyah mbak? Kalau boleh saran, sebaiknya mbak Ifa di-ruqyah sampai tuntas, sehingga sudah nggak bersisa lagi “ghost” nya..

  5. titintitan says:

    ini cerita pribadi ya, mba?
    sereem banget ><

  6. Family where life begins and love never ends says:

    Diruqyah mba itu salah satu gangguan jin jg, spt kakak sy dan sy sndr prnh cm beberapa kali, memang jin itu ada dan tujuan sama dg kita beribadah kpd Allah SWT. Tp g prlu takut jangan nantangin jg. Itu sdh betul dzikir, bnyk2 baca ayat kursi. Jumlah jin lbh bnyk dr kt manusia tp jumlah malaikat lbh bnyk dr jin so kt pertebal iman taqwa kpd Allah insya Allah akan dilindungi oleh balatentara malaikat, aamiin. Salam 🙂

  7. huwaaaa >.<
    Aku selalu bersyukur ngga bisa lihat mbaa, takuttt. Tapi sukaa dengan cerita gini dan selalu percaya, apalagi cerita mbaa ifaa 😀

  8. Susie Ncuss says:

    ngeri ya…
    dan kasian juga sama yang punya kemampuan “itu”, apalagi yang nggak bisa cerita ke keluarganya T>T

  9. misbahhanim22 says:

    Beda ma temenku, Mba. Dia jg ada ‘bakat’ gitu dr kecil. Dulu sih masih suka keturutan, maksudnya dituruti rasa penasarannya dengan hal2 gaib kayak gt. Dengan ‘menuntut ilmu’ kebal, dan semacam itu. Tetapi sejak rutin dzikir, udah dibuang semua ilmu2 tersebut. Karena dengan adanya ilmu2 tsb, artinya banyak makhluk gaib dalam hal ini jin yg mengikutinya. Sehingga menghalangi lidahnya utk menyebut ALLAH.
    Alhamdulillaah, sekarang sudah bisa menyebut Allah dengan sempurna. Hanya saja ‘kemampuannya’ melihat hal-hal gaib tsb tetap saja ada. Malah semacam bisa membaca isi hati. Yang ini pengalaman saya sendiri. Beberapa kali, dia mengungkapkan apa yang terlintas di hati saya, ke saya. Hadduuuhhh… >_<

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s