Indonesia Is Me versi Synthesis Development dan Keluarga Saya

Jika ditanya, apakah nilai-nilai Indonesia yang melekat dalam dirimu, tentu masing-masing kita punya jawaban yang khas. Boleh jadi, jawaban itu tidak akan sama dengan jawaban orang lain. Demikian pula saya, suami, dan ketiga anak saya. Tapi yang menjadi benang merahnya adalah, filosofi nilai-nilai ke-Indonesiaan itu yang harus selalu kami tanamkan ke dalam diri ketiga putra kami.

Filosofi ke-Indonesiaan mencakup semua bagian kehidupan; sandang, pangan, papan, seni budaya, dan nilai-nilai sosial kemasyarakatan, yang seharusnya menyatu di dalam diri kita. Untuk itulah, pada peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-71, Synthesis Development, sebuah grup pengembang property yang mengusung ciri khas ke-Indonesiaan, menggelar rangkaian acara Indonesia Is Me yang berlangsung dalam empat rangkaian acara, yaitu :

  1. Pada tanggal 6 Agustus 2016 di Synthesis Residence Kemang dengan tema “Traditional Cullinary”
  2. Pada tanggal 13 Agustus 2016 di Samara Suites Synthesis Square Gatot Subroto bertema “The Art of Living”.
  3. Pada tanggal 20 Agustus 2016 di Mall Bassura City Jakarta Timur dengan tema “Pusaka Prajawangsa
  4. Pada tanggal 21 Agustus 2016 di Synthesis Square Gatot Subroto Synthesis Merdeka Ride.

 

Berhubung beberapa acara berbenturan waktunya, saya hanya bisa hadir di Bassura saja. Itupun jadi lain ceritanya nih…

 

Yang pasti, konsep keempat acara tersebut sangat kental dengan nilai-nilai ke-Indonesiaan. Seperti misalnya acara Traditional Cullinary sarat dengan aneka lomba yang berhubungan dengan kuliner, seperti lomba menghias kue untuk anak-anak dan lomba membuat nasi goreng untuk ibu-ibu.

Acara ini dirangkaikan pula dengan peresmian Apartemen Synthesis Residence Kemang yang sangat diinspirasikan dari budaya Jawa, lengkap dengan rumah joglo dan tiga tower yang namanya diambil dari tokoh pewayangan; Arjuna, Nakula dan Sadewa.

Sedangkan acara yang di Synthesis Square Gatot Subroto yang bertema “The Art of Living”, lebih mengedepankan konsep tempat tinggal bagi masyarakat urban yang butuh kedekatan jarak antara tempat tinggal dan tempat bekerja. Sedangkan Synthesis Square sendiri menggabungkan konsep perkantoran dan apartemen. Berlokasi di pusat bisnis Jakarta, apartemen ini diharapkan mampu menjawab kebutuhan masyarakat urban yang membutuhkan kepraktisan dan simplisitas pulang pergi tempat tinggal dan tempat pekerjaan.

Acaranya terdiri dari talkshow tentang art, beauty and health. Juga ada demo menyulam dan membuat kipas. Seru ya padahal.

Setelah itu acara berlanjut ke Mall Bassura City, dimana digelar acara Traditional Dance Flash Mob, dimana para penari tradisional serentak menari berbagai tarian tradisional di beberapa tempat di mall tersebut. Aduh ini juga pasti keren dan seru.

Sabtu tanggal 20 Agustus kembali acara digelar di Mall Bassura City. Kali ini acaranya adalah pemutaran film pendek tentang Pusaka Prajawangsa. Tentang apa sih itu? Nanti saya bahas sedikit ya. Yang jelas filosofi dari Pusaka Prajawangsa ini yang digunakan Synthesis Development untuk membangun proyek superblocknya yang kedua. Yang pertama kan yang ini nih, Bassura City yang terletak di dekat pasar Jatinegara. Yang kedua, Pusaka Prajawangsa yang rencananya terletak di daerah Cijantung. Ada juga talkshow bareng Alexander Thian alias @aMrazing, yang sudah menulis beberapa buku. Eh, saya suka lho baca tulisannya Koh aMrazing ini. Gaya bahasanya lincah dan kadang nonjok bangettt…

Puncak acara adalah pada tanggal 21 Agustus jam 8 pagi, start lomba bersepeda dimulai dari Synthesis Square Gatot Subroto, lalu ke Bassura City, Pusaka Prajawangsa Cijantung, Synthesis Residence Kemang, dan finish kembali ke Synthesis Square dengan total jarak tempuh 71 Km. Acara yang bertema Synthesis Merdeka Ride ini merupakan penutup dari rangkaian acara Indonesia is Me.

Sebagian foto-foto di Superblock Prajawangsa City (credit foto by Prajawangsa)

 

Pusaka Prajawangsa, sebuah legenda

 

Prajawangsa adalah nama seorang pahlawan local dari daerah CIjantung yang berjuang melawan penjajah Hindia Belanda. Filosofi perjuangannya adalah dua nilai yang menjadi nadi bagi Synthesis Development, yaitu passion dan kepercayaan. Menyerap inspirasi Prajawangsa, Synthesis percaya bahwa karya yang baik lahir dari kepercayaan.

Kepercayaan tidak hanya datang dari luar diri kita, namun juga dari dalam diri kita, yang yakin bahwa kita mampu menciptakan karya. Inilah yang menjadi nilai dasar dari Prajawangsa City, sebuah superblock di kawasan Cijantung.

Untuk menghidupkan kembali kisah Prajawangsa, Synthesis Development bersama dengan para creator muda, membuat film pendek berjudul “Pusaka Prajawangsa”, yang skripnya ditulis oleh Alexander Thian, dan ide ceritanya diracik tiga penulis muda, yaitu Windy Ariestanty, Valiant Budi, dan Hanny Kusumawati. Sedangkan untuk fashion director adalah Lulu Lutfi Labibi yang terkenal dengan karya luriknya.

 

So the story goes….

 

Jadi saya bela-belain datang ke Bassura City yang terletak tidak terlalu jauh dari Pasar Gembrong, the famous pasar tempat jual mainan murah meriah itu, adalah demi ingin menyaksikan film pendek Pusaka Prajawangsa, dan menyaksikan talkshow Kong aMrazing itu. Tetapiii, masalah bagi emak rempong dengan tiga anak yang mana si sulung juga punya acara sendiri dan kedua adiknya ada-ada saja masalahnya, adalah tidak bisa berangkat tepat waktu.

 

Dan… terlambatlah saya sampai di Bassura. Huaaa…. Letaknya yang cukup jauh dari rumah kami di Cinere dan macetnya kondisi sebagian besar jalan di hari Sabtu, plus memutar dulu mengantar si sulung ke Terminal Transjakarta Ragunan, menambah deretan alasan mengapa akhirnya saya enggak dapat apa-apa di sana.

 

Menyesalkah saya?

Ya tentu saja. Tapi selalu ada kebahagiaan usai kesedihan, bukan?

Anak-anak segera menyerbu Foodcourt Eat and Eat yang ternyataaa… menunya sebagian besar Indonesiaaa banget dan enaaaak banget. Kami memesan roti cane kari kambing, ayam penyet, dan es selendang mayang (ini yang saya rindukan sekali), dan tentu saja es teh (khusus untuk saya yang banyak es batunya). Kami makan dengan lahap dan puas, tentu saja.

Setelah itu, anak-anak ribut minta main robot-robotan di lantai bawah. Hadeuuh susah deh berhentinya kalau gini…

 

Ya tapi tidak apa-apa kok. Yang penting, anak-anak happy, dan saya juga tetap bahagia karena ketemu es selendang mayang. Jadi…kesimpulannya, Indonesia is Me versi keluarga kami adalah, makan kuliner Indonesia di mall yang Indonesia banget, karena pas saat itu, backsound-nya lagu-lagu tradisional dengan music angklung. Keren kok mall-nya, enggak terlalu hectic, luas, banyak jajanan, harganya sedang, dan tentu saja terintegrasi dengan superblock Bassura City. Bagi para pecinta mall, wajib deh kayaknya datang ke mall ini. Sekalian lihat-lihat superblock-nya ya. Hitung-hitung investasi. Ingat lho, harga tanah dan bangunan tiap tahun naik. Boleeeh lho, Bunda, Kakak….

 

Referensi :

Mbak Ety Budiharjo, terima kasih banyak ya mbak, obrolannya waktu di GIIAS.

prajawangsa.id

 

 

Advertisements

About ifaavianty1

A wife, mom of 3 sons, writer and author of about 70 books. Loves books, music, movies, cook, art n craft, history, rain, mall, coffee, tea, and pasta. Oh, and every genius :))
This entry was posted in culture, event, kuliner, mall and tagged , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s