Dari BJ Habibie untuk Saya dan Anak Negeri

Akhirnyaaa…. Ya akhirnya saya menemukan kesempatan untuk menulis sedikit tentang figure kebanggaan tanah air, sekaligus salah satu inspirator anak bangsa, termasuk saya. Dan…salah satu cita-cita saya adalah menulis tentang tokoh yang saya kagumi ini, eyang Bacharuddin Jusuf Habibie, Presiden ketiga Negara ini.

Saya enggak mau bikin posting riwayat hidup beliau, yang mungkin sudah terlalu mainstream ditulis, apalagi pada momen peringatan hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia, sekaligus memeringati momen ulang tahun (milad) beliau ke 80. Beliau sendiri, lahir tidak di bulan kemerdekaan, melainkan pada tanggal 25 Juni 1936 di Parepare, Sulawesi Tenggara, sebagai anak keempat dari Sembilan bersaudara, permata hati keluarga Bapak Alwi Abdul Jalil Habibie dan ibu RA Tuti Marini Puspowardoyo. Hanya setahun kuliah di ITB, Rudy, demikian nama kecilnya, berangkat ke Aachen pada tahun 1955, untuk belajar di Rhenisch Wesfalische Technische Hichschule, atas permintaan ibundanya yang faham betul minatnya pada teknik pembuatan pesawat terbang,

Rudy menikah dengan dokter Hasri Ainun Besari pada tanggal 12 Mei 1962, dikaruniai dua orang putra. Meniti karir di Jerman, hingga puncaknya pada tahun 1978, menjabat sebagai Presiden Senior bidang teknologi untuk Dewan Direktur MBB GmbH, Hamburg. Dalam prestasi akademik, prestasi cemerlang bahkan diperolehnya sejak di Jerman, dimana ia berhasil lulus Cum Laude dari Fakultas Teknik Mesin jurusan Desain dan Konstruksi Pesawat Terbang. Ia terus mencatatkan prestasi gemilang, semasa meraih gelar Doctor Ingenieur juga mendapat predikat summa cum laude. Sementara di tanah airnya, pada tahun 1977, ia mendapat gelar Profesor dari ITB lewat orasi ilmiah mengenai konstruksi pesawat terbang.

Pada tahun 1974, ia kembali ke tanah air untuk mengabdikan dirinya lewat ilmu yang telah diperoleh. Jabatan Menteri Riset dan Teknologi diemban dari tahun 1978 hingga 11 Maret 1998, sekaligus sebagai Ketua Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) yang dirintisnya, dan sebagai ketua Dewan Riset Nasional. Pada tanggal 11 Maret itulah ia dilantik sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia, yang kemudian mengantarnya kepada jabatan tertinggi sebagai Presiden ketiga Republik Indonesia, menggantikan HM Soeharto pada 21 mei 1998.

Baiklah, kalau diperinci  tentu akan panjang sekali deret pengabdian Eyang Rudy, kepada tanah air, dan kepada pengembangan ilmu desain dan konstruksi pesawat terbang. Jelas ini saja sudah merupakan bulir-bulir inspirasi tersendiri bagi saya, dan bagi sebagian besar anak bangsa. Apalagi, saya juga anak Teknik, meskipun pada akhirnya saya tidak mengabdikan diri di bidang keteknikan. Hehehe, sampai di sini, siapa yang Tanya gituloh.

Tapi yang jelas dalam ingatan saya, sebagai anak yang tumbuh dan kemudian mengalami masa remaja, antara tahun 1980-1990an, nama BJ Habibie kayaknya pasti banget masuk ke dalam daftar idola. Dalam pekerjaan saya kemudian sebagai wartawan, saya bahkan mencita-citakan melakukan wawancara terhadap beliau dan ibu Ainun.

 

Secara persona, karakter eyang Rudy merupakan tokoh yang menarik untuk digali. Pribadinya yang terbuka dan cenderung berpikir bebas, melewati tokoh-tokoh sezamannya, sehingga kerap mengundang pro dan kontra. Dalam salah satu bukunya, “Detik-Detik Yang Menentukan”, ia mengakui, sedikit banyaknya ini dipengaruhi oleh lama pendidikannya di Barat. Ia bilang, ia yang putranya orang Jawa dan suami dari orang Jawa, hampir enggak ada jawa-jawanya, dan ia baru belajar lebih dalam untuk menjadi orang Jawa, dalam arti mengenali falsafah njawani, dari Bapak Soeharto, Makanya tak heran jika ia menyebut pak Harto sebagai salah satu guru kehidupan baginya. Mengenang kepribadiannya, saya menilainya sebagai tokoh eksentrik, berani berbeda dari yang lainnya, dan apa adanya. Atau memang eksentrik ini cirri-cirinya orang jenius ya? Coba deh, Steve Jobs, Bill Gates, Hawkins, Lennon, Galileo, Da Vinci, termasuk juga Gus Dur, Ibu Sri Mulyani, dan beberapa tokoh lain. Mereka eksentrik, nyentrik, dan berani berbeda. Ehm…

 

Oopss… nah sebelum kita kemana-mana, maka sepertinya saya harus segera memaparkan paling tidak lima inspirasi dari Eyang Rudy terhadap anak bangsa, khususnya terhadap saya. Ini disarikan dari beberapa buku tentang beliau yang pernah saya baca, dan saya sajikan seolah-olah sedang mewawancarai beliau langsung (duh, inginnya sayaa….aamiin….).

 

Mencari setiap jawaban dari pertanyaannya

 

bjh1 

Sewaktu kecil, saya senang main pasir di pantai. Saya senang melakukan eksperimen kecil-kecilan. Sementara anak-anak lain menyingkir ketakutan ketika ombak datang, saya sibuk mengamati mengapa istana pasir saya hancur terkena air. Bertahun-tahun kemudian, saya menemukan jawabannya.

Demikian pula, ketika saya terbang pertama kali naik KLM, saya terkejut ketika ada api di baling-baling pesawat. Saya sibuk berteriak-teriak panic kepada pramugari yang kemudian menjelaskan kepada saya, mengapa itu terjadi. Dia dan seluruh penumpang pasti mengetahui bahwa itu karena saya baru pertama kali naik pesawat. Dan…bertahun-tahun kemudian saya menemukan jawabannya. Jadi, setialah untuk mencari jawaban dari setiap pertanyaan, cari ilmunya.

 

Menghargai peran orang tuanya dalam mengantarnya menuju cita-cita

 

Dalam pandangan saya sewaktu kecil, keluarga adalah rumah bagi saya. Ada Papi dan Mami yang mengerti betul apa maunya saya. Keluarga kami besar, bukan hanya karena Papi dan Mami punya banyak anak, tapi karena ada banyak anak-anak lain yang ikut keluarga kami. Itu sebabnya, masa kecil saya bahagia sekali, saya enggak pernah kekurangan teman main. Do samping itu di rumah banyak buku, juga di perpustakaan sekolah. Itu kawan saya yang paling setia. Saya melihat dunia pertama kali lewat buku.

Mami saya yang orang Jawa mengerti betul minat saya terhadap ilmu alam dan teknik. Dia juga yang kemudian memerintahkan saya berangkat ke Aachen untuk meneruskan kuliah desain dan konstruksi pesawat.

Sayangnya, perang dunia mengubah segalanya. Dalam bayangan saya, pesawat terbang yang asyik dan seru itu, sekonyong-konyong berubah menjadi sosok mengerikan. Bayangkan, dari pesawat itu dijatuhkan bom yang mematikan dan menghancurkan. Itu sebabnya kemudian, sempat saya tidak menyukai pesawat. Saya lebih menyukai jembatan ketimbang pesawat. Namun ibu saya ternyata tahu minat saya yang sesungguhnya. Untuk itu, saya berterima kasih kepada Mami dan Papi, yang telah membukakan jalan menuju cita-cita saya. Mami dan Papi menjadi refleksi keterbukaan pikiran bagi kami, anak-anaknya.

 

Terus mencari Tuhan dan menemukan jawaban keikhlasan

 

Kesedihan yang pertama kali saya alami luar biasa itu tahun 1946. Waktu itu adik saya, Ali Buntarman, meninggal dunia. Saya baru berumur sepuluh tahun. Saya terus bertanya kepada orang-orang dewasa di sekitar saya, kemana Ali pergi setelah dimakamkan. Kenapa Ali meninggal? Kemana Ali jika dia memang bersama Allah, sekarang? Dimana surga?

Sejatinya, pertanyaan demi pertanyaan itu tidak pernah benar-benar meninggalkan benak saya, bahkan ketika istri saya meninggal dunia jauh setelahnya, keikhlasan itu datang membersamai pemahaman tentang kehidupan dan kematian.

 

Memosisikan Istri sebagai teman sejalan, sahabat sejiwa (Ehm… di balik suami hebat, pasti ada istri yang sama hebatnya, ya kan, Eyang?)

 

bjh2

Waktu saya kuliah di Jerman, istri saya sedang mengandung tujuh bulan dan keadaannya parah. Menurut ibu mertua saya, begitulah pula dulu keadaan dia ketika mengandung Ainun. Tapi seberat-beratnya keadaan yang dialami istri saya, dia tidak mengeluh. Dia lebih disibukkan dengan mendorong saya yang sedang down karena pengujian saya menghadapi masalah, Dia dengan kalimat-kalimat sederhananya mampu menyejukkan hati dan pikiran saya, sehingga mampu membuat semangat saya bangkit kembali.

Dengan itu, saya semakin yakin bahwa Ainun memang dikirimkan Tuhan untuk saya, agar saya menjadikannya teman sejalan, sahabat sejiwa dalam membangun keluarga sakinah, dalam mengarungi kehidupan. Ketika Ainun mendahului saya pergi kembali kepada Tuhan, saya merasa bahwa saya kehilangan sebelah jiwa. Bagaimana tidak? Selama ini, Ainun yang selama ini mendampingi saya, mendidik kedua anak saya, dengan tangannya sendiri, melepaskan karir cemerlangnya sebagai Dokter Ainun untuk menjadi Nyonya Habibie. Ainun adalah sebelah jiwa saya, tanpanya saya tak lengkap.

 

Tidak takut dikritik, jika yakin pendapatnya benar

 

bjh4

Misalnya terhadap salah satu kasus semasa saya menjabat presiden. Ini di dalam UUD 1945 kan dikatakan bahwa presiden dalam melaksanakan pembangunan dibantu oleh Bank Indonesia, yang menurut pemahaman kedua presiden terdahulu, ya karena pembantu presiden, maka Gubernur BI harus duduk di dalam Kabinet. Menurut saya enggak begitu. Gubernur BI itu dalam tugasnya membantu presiden harus dapat bertindak objektif dan professional. Maka saya lalu berpendapat bahwa Gubernur BI seharusnya tidak duduk dalam kabinet.

Jelaslah, pendapat saya dianggap sebagai kontroversi. Saya ditakut-takuti dan dianggap melanggar UUD 1945. Ya biar saja. Saya enggak takut, saya bilang, kalau saya dianggap salah, ya silakan tuntut saya nanti di Sidang Istimewa.

Demikian pula, ketika saya menolak untuk dicalonkan sebagai Presiden periode berikutnya, Saya tenang saja, bahkan media juga menulis, wajah saya berseri-seri, ya soalnya saya baru saja habis mandi saat itu. Malah katanya, ada banyak ibu-ibu yang terharu dan sedih.

Saya ini warga Negara biasa, ya kembali sebagai warga Negara yang sama seperti semua rakyat Indonesia, jadi mengapa harus sedih?

 

bjh3

Nah, itu tuh… bulir-bulir inspirasi yang bisa saya petik dari Eyang Rudy. Sebenarnya masih banyak lagi, kepingin saya tulis semuanya. Tapi yang lima itu saja sudah bisa menggambarkan sedikit banyaknya, betapa luar biasanya kepribadian dan karakter seorang BJ Habibie. Dia bukan hanya seorang putra terbaik bangsa yang cemerlang akal intelektualitasnya, namun juga memiliki kebeningan jiwa dan kebijaksanaan yang dalam.

 

Selamat ulang tahun, Eyang Rudy. Barakallahu fi umrik. Semoga kesehatan dan keberkahan selalu terlimpah kepadamu.

 

Oh iya, jangan lupa ya ikut memeriahkan Peringatan Hari Ulang Tahun BJ Habibie ke 80 yang dimeriahkan dengan Pameran Foto Habibie dan gelar aneka lomba yang diselenggarakan berbagai komunitas yang tergabung dalam Friends of Mandiri Museum. Pameran ini dibuka untuk umum mulai 24 Juli 2016 hingga 21 Agustus 2016 di Museum Bank Mandiri, Kota Tua-Jakarta Barat.

 

Referensi dan Credit Foto

“Detik-Detik yang Menentukan”, BJ Habibie, THCMandiri, 2006.

“Habibie dan Ainun”, BJ Habibie, THCMandiri, 2010.

“Rudy, Kisah Masa Muda Sang Visioner”, Gina S Noer, Bentang, PlotPoint dan THCMandiri, 2016.

 

Advertisements

About ifaavianty1

A wife, mom of 3 sons, writer and author of about 70 books. Loves books, music, movies, cook, art n craft, history, rain, mall, coffee, tea, and pasta. Oh, and every genius :))
This entry was posted in inspirasi, sejarah and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Dari BJ Habibie untuk Saya dan Anak Negeri

  1. Koko Nata says:

    Semoga semakin banyak sosok inspiratif seperti beliau

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s