Ketika Emak Lelah

Dulu pekerjaan yang paling tidak pernah saya bayangkan adalah menjadi seorang ibu rumah tangga. Saya tidak bisa dan tidak suka memasak, mencuci, menyetrika, apalagi mengepel dan menyapu. Saya tidak suka anak-anak dan kerusuhan yang mereka timbulkan, saya tidak suka mencuci piring, saya tidak suka berurusan dengan bawang dan cabe, apalagi dengan kompor. Cukup banyak alasan mengapa saya sangat tidak ingin menjadi ibu rumah tangga yang tetap tinggal di rumah. Apalagi saat itu saya punya karir yang membanggakan di media massa remaja dan perempuan nasional.

Setelah saya diamanahi tiga orang anak, semuanya seakan berubah. Saya seperti seorang perempuan yang terbangun dalam keadaan amnesia. Saya menjadi ibu rumah tangga yang tinggal di rumah, fulltime mom, dengan aktivitas menulis dan ngeblog yang tidak saya tinggalkan seratus persen. Saya hampir selalu bangun di pagi hari dan bersyukur bahwa saya tidak lagi terjebak macet dan harus berdiri di angkutan umum sepanjang perjalanan rumah-kantor. Saya tidak lagi harus berpacu dengan waktu untuk tiba di rumah sebelum gelap hanya untuk memastikan anak saya baik-baik saja.

Sekarang saya di sini, di rumah saya, yang dikelilingi keributan dan kerusuhan yang ditimbulkan oleh anak-anak (dua diantaranya menjalani Homeschooling, atas pilihan kami dan mereka sendiri), beberapa ekor kucing, satu orang supir bawel dan moody, dan setumpuk pekerjaan rumah yang tidak ada habisnya, oh…dan suami sibuk yang sering dinas luar baik urusan kantor maupun urusan ummat, hehehe…. Saya tidak punya asisten rumah tangga yang special mengurusi masak-cuci-setrika-beberes. Kenapa? Ya, dananya yang harus diprioritaskan. Saya bisa memasak, mencuci, menyetrika, meski enggak pakar-pakar amat. Tapi sampai tuapun saya tidak akan bisa menyetir mobil sendiri (jangankan mobil, motor, becak, sepeda dan otopet pun saya enggak bisaaa). Sementara itu, saya harus mobile antarjemput anak-anak dan untuk berbagai urusan saya. Jadi, saya putuskan mengalokasikan dana untuk menggaji supir, yang kalau sedang kumat menyebalkannya, ingin rasanya saya masukkan dia ke kardus dan saya paketkan ke Timbuktu. Sesegera mungkin, kalau bisa!

Demikianlah, saya menjadi seorang yang multiprofesi dan mendadak multitalented. Kadang jadi dokter, dukun (kalau obat apotik sudah enggak mempan, waktunya mempraktekkan ilmu herbal ditambah jampi-jampi ala saya, yang kebanyakan sih karangan sendiri), dan profesi tetap sebagai koki, tukang cuci piring, kuli cuci setrika, cat-nanny, tukang bayar, teller spesialis ATM (sampai hafal saya kode transfer antarbank di ATM Bersama), asisten mekanik (bantu-bantu pak supir dan tukang bengkel menangani masalah mobil), guru, teman main anak-anak, teman diskusi suami dan anak-anak, tukang jahit (yang sering diledek si sulung, katanya jahitan ibu suka menimbulkan efek semut berbaris yang agak kurang tertib. Maqsudnyahhh???), bus mom (mendampingi pak supir antarjemput si bocah-bocah homeschooling), buyer (khusus isi kulkas dan lemari cuci), PR dan HRD (berhubungan dengan kerjanya tukang sampah, tukang air, tukang listrik, tukang gas, tukang tipi kabel, tukang kebon, tukang genteng bocor, tukang majalah, tukang sayur, dan segala tukang lainnya). Ada lagi, kakak bimbel. Hehehe, ini spesialis kalau si sulung ujian. Secara kami enggak punya dana cukup untuk memasukkan anak-anak ke bimbel yang harganya bikin nyut-nyutan, saya menjadi kakak bimbel yang kadang sama kedernya dengan muridnya, untuk mencari jawaban soal-soal ujian dengan cara dan tempo yang sesingkat-singkatnya. Oh, jadi suku dinas kebersihan urusan makanan sisa bocah, dan ini jadi penyebab utama mengapa diet saya hanya sampai di bab niat. Forever and always. Kurus? Huhuhu, hanya tinggal impian yang indah.

Tenaang, saya masih punya profesi lain yang tak kalah membanggakan. Saya masih menulis untuk beberapa penerbit, ngeblog dan lebih sering jadi hantu lomba demi mengejar hadiahnya yang saya butuuuuh banget, dan membantu suami dalam pekerjaannya sebagai dosen (ikutan proyek penelitian). Menyenangkan bukan?

Keluarga dengan 3 anak, beberapa ekor kucing, dan sehelai eh seorang supir, yang hanya mengandalkan gaji suami yang seorang PNS dan dosen, tentu butuh dana besaaaaar sekali. Saking besarnya, sampai seringnya sih kami berhemat dan saya harus dengan kejamnya memangkas beberapa pos pengeluaran. Yang jelas terpangkas habis seringkali adalah biaya sosialisasi saya sebagai emak-emak, biaya ngopi-ngopi cantik, biaya akibat lapar mata pingin beli gamis dan hijab baru. Lupakan parfum the Body Shop, Elizabeth Arden, Burberry, Estee Lauder, Clinic, dan peralatan perawatan tubuh macam Bath and Body Works, bahkan Oriflame. Lupakan hijab cantik Sashmira, Rabbani, Elzatta dan sejenisnya. Moga-moga kita bisa bertemu lagi Lebaran tahun depan. Mari pakai parfum refill yang sebotol enam puluh ribuan, dan hijab entah tak bermerek. Prinsip saya sih, kalau yang memakainya cantik dan percaya diri, ya tetap saja cantik meskipun tidak bermerek. Iya tokh? *dilempar sandal sama pembaca.

Yang sama sekali tidak boleh dipangkas adalah biaya pemenuhan gizi anak-anak, dan kebutuhan pendidikan mereka. Syukurlah kami menjalankan program home schooling yang bisa kami atur dan siasati sendiri biayanya sesuai dengan kebutuhan anak dan ketersediaan dana. Kami bahkan bisa menggunakan barang-barang bekas sebagai sarana bermain dan belajar. Entahlah, sejak anak-anak menjalani homeschooling, agaknya saya jadi jatuh cinta pada kardus bekas.

Untuk masalah pemenuhan gizi, saya men-challenge diri saya untuk minimal memasak sekali dalam sehari. Kalau sarapan biasanya bagian suami saya yang masak. Nah makan siang, snack sore, dan makan malam, salah satu, salah dua, atau kesemuanya harus ada masakan saya. Kenapa? Biar saya bisa mempraktekkan ilmu dari buku dan tabloid resep yang banyaknya sudah lebih dari 4 lemari di rumah, belum lagi yang di netbook, di USB, di smartphone. Hadeuh. Tekad saya, sebelum mati, saya sudah kelar mempraktekkan semua resep itu. Alasan lainnya adalah biar lebih irit. Beli lauk di warteg buat makan saya dan tiga bocah saja bisa limapuluh ribu (bocah senang ayam dan udang, mahal ya bo sumpah). Apalagi belinya di restoran padang, fastfood, atau mall. Hadeuuuhhh.

Sementara itu, bocah juga saya ajarkan irit. Saya memberitahu mereka jika keadaan keuangan sedang tidak menyenangkan. Saya juga memberi mereka rewards jika mereka berhasil melakukan sesuatu yang dianggap baik dan hebat. Alhamdulillah, so far mereka mengerti.

Tapi apa cukup usaha begitu? Ya enggaklah. Kenaikan harga barang-barang sekarang nyaris tidak terkejar, kecuali oleh mereka yang berpendapatan 25 juta perbulan, dengan asumsi 3 anak dan hidup di kota yang biaya hidupnya ampun-ampunan kayak di Jakarta. Itu juga dengan catatan, enggak boleh terlalu ganjen bersosialisasi hampir tiap malam. Percuma kan jadi selebgram, hang out dimana-mana, tapi habis itu dikejar debt collector kartu kredit? Untunglah, saya tidak punya kartu kredit lagi, sehelaipun. Dan tidak akan pernah lagi, insha Allah.

Jadi, apa yang saya lakukan? Ya itu tadi, di sela-sela waktu dan badan yang hancur-hancuran ini, saya masih menulis, membantu riset suami saya, ngeblog dan menjadi hantu lomba. Hasilnya Alhamdulillah, meski mungkin tak seberapa orang bilang, bagi saya itu cukup berarti buat membantu suami. Suami menyuruh saya bekerja? Tidak. Dia menyerahkan semua keputusan kepada saya. Tapi saya yang enggak tega, saya enggak suka ‘menadah’ sementara saya pernah bisa menghasilkan uang sendiri. Saya enggak tega, suami saya dinas berturutan, disamping pengabdiannya ke ummat, belum lagi kalau dia sedang sakit.

kudo 1

kudo 2

Serunya jadi emaaakkk….. (foto credit by Google)

Maka, saya bersetia pada jalan yang telah saya pilih. Saya tetap menulis, dan sesekali menerima pesanan masakan (yang ini ingin saya kembangkan lagi sebenarnya). Saya tidak ingin kembali bekerja nine to five, apalagi saya telah menjadi fasilitator home schooling bagi anak-anak saya, dan ingin mengembangkan home schooling untuk anak-anak dari keluarga kurang mampu.

Agaknya saya juga mulai tertarik untuk jadi agen KUDO (Kios Untuk Dagang Online). Sebuah cara baru belanja dan berjualan online, dimana kita bisa berjualan ribuan produk tanpa modal, hanya memanfaatkan sosmed dan referral code kita.Penasaran kan? Makanya buka ya link yang tadi saya highlight. Terus registrasi pake kode referral saya. Jangan lupa download aplikasinya di Google Playstore.

 

Lalu, bahagiakah saya? Alhamdulillah. Ada doa dan wirid dalam setiap pekerjaan yang bisa saya panjatkan buat orang-orang tercinta itu. Sambil nyuci, menyetrika, masak, dan sambil menemani mereka belajar dan bermain. Sambil menulis, membuat pudding pesanan, dan sambil mengoptimalisasi sosial media demi pekerjaan.

Tapi saya juga manusia biasa, Yang kadang lelah, jenuh, dan berkurang keikhlasan. Kadang terlintas keinginan seperti ibu-ibu lain yang masih bisa ngopi-ngopi cantik di Café Bean (salah satu café favorit saya duluuu), yang masih bisa ngumpul-ngumpul haha hihi di mall, sementara saya bolak-balik menemani bocah sambil ngurus cucian. Yang masih bisa melakukan apa-apa yang dulu biasa saya lakukan, dan kini tidak bisa saya lakukan dengan pertimbangan berbagai skala prioritas,

 

Apalah lagi kalau sedang sakit. Ingin rasanya ada yang membantu memasak, mencuci, menyetrika dan membereskan rumah. Tapi memang pada prakteknya, seorang ibu enggak boleh sakit. Kalau sakit juga enggak boleh lama-lama.

 

Dan… yang paling menyakitkan adalah kata-kata, yang kadang datang dari orang dekat, yang menyebabkan baper tak tertahankan. Misalnya, “kerja ngurus anak doang kok capek”. Yuk mari, sini gantian. Atau, “Jadi istri kok memperkaya diri sendiri”. Hah? Belah mana saya memperkaya diri sendiri? Boro-boro beli perhiasan, parfum saja pakai yang refill kok. Kalau beli parfum refill juga dianggap memperkaya diri sendiri, ya sudah besok jangan salahkan saya ya kalau ketemu ente-ente semua saya bau badan. WKwkwkwkw… Atau, “Kita sih bisa kok ngurus semuanya tanpa ibu.” Oh, yuk mari. Buang aja ibunya yaaa. Cobaaa, saya mau lihaaat, benerrrrr enggak tuh beressss semua. Terus ini lagi, “Elu sih enak ya, di rumah jaga anak. Bisa nyantai. Nah gue di kantor, ngejar target, stress”. Tapi ngomongnya dengan ekspresi bangga yang kontradiktif gitu. Oh, tukeran yuk sini. Emangnya situ enggak stress melihat rumah yang baru dibereskan dalam hitungan detik kembali berantakan kayak Titanic karam? Emangnya situ enggak stress sudah capek-capek goreng ayam, eh ayamnya dimakan kucing?

 

Betul hidup itu adalah pilihan. Tapi kadang rasa lelah dan jemu datang tanpa diundang. Kenapa? Karena saya dan anda semua adalah manusia biasa. Yang imannya naik dan turun, begitu juga dengan keikhlasannya. Maka, mari hargai pilihan hidup masing-masing, jangan mencela dan merendahkan pilihan orang lain. Karena setiap kita pada dasarnya adalah pahlawan keluarga, pahlawan bagi orang-orang tercinta, maka jangan nodai niat dan sikap sebagai pahlawan keluarga itu dengan kalimat yang menusuk.

Gimana? Enggak usah baper? Situ kira-kira baper enggak kalau dibegitukan? Ya kali situ malaikat, saya sih manusia biasa. Hayati lelah, Bang. Sangat lelah.

 

Sumpah, saya juga enggak mengejar predikat pahlawan keluarga, sebab apa yang saya lakukan masih jauh dibanding dengan jerih payah suami saya, dan pengorbanan para ayah dan bunda lain di luar sana. Simply, saya hanya ingin melakukan semuanya dengan ringan, dengan kebahagiaan-kebahagiaan simpel. Percaya atau tidak, setiap kali saya lelah, yang saya ingat adalah sejumlah film yang saya tonton pada masa lalu, yang membentuk karakteristik seorang ibu dalam benak saya. Misalnya Ma Carolynn (Karen Grasle) dalam serial “Little House on The Prairie” atau tokoh ibu yang diperankan Donna Reed dalam “The Donna Reed Show”. Ibu yang bahagia, ibu yang menyejukkan. Hanya ibu yang bahagia yang bisa menularkan aura kebahagiaan yang sempurna pada keluarganya. Hanya itu. Sumpah saya hanya ingin jadi ibu yang begitu.

kudo 3

5-12-09 rec’d via email from Paul Petersen.I have the only “full color Stone Family photo” ever taken of the Donna Reed Show cast…including my little sister, Patti Petersen…from 1966.

Emak Donna yang cantik dan bahagia dikelilingi suami dan tiga anaknya dalam serial TV tahun 50-60an, “The Donna Reed Show”.

Yang ini opening scene serialnya. Enggak tahu deh saya rasanya pernah nonton, tapi kayaknya TVRI enggak pernah memutarkan serial ini ya.

 

kudo 4

Yang ini mak Carolynn yang cantik dan bahagia dikelilingi suami dan anak-anaknya. Ini dari serial TV tahun 1970-1980an, “little House on the Prairie” yang jadi tontonan wajib saya tiap minggu siang. Bela-belain enggak mau ikut pergi demi lihat serial ini.

Terus ini video opening scene yang damaiiii banget…

Dan yang ini…. *drum roll*

kudo 5

Mak Ipeh yang bahagia dan (agak) cantik (sedikit) dikelilingi suami dan anak-anaknya. Sama kan? Bedanya mak Ipeh belum pernah main film ajaaa….

 

Jadi, maafkan saya bila saya lelah, saya hanya ingin menyingkir sejenak, dari ruang ramai di rumah, dan dari ruang riuh di sosmed. Saya memilih menyendiri di kamar sambil sedikit wirid dan berzikir, atau sekedar membaca ayat-ayat yang membuat saya merasa sejuk. Atau sekedar menyimak kembali old playlist saya yang biasanya saya setel menandakan saya sedang lelah sangat, urutannya : “Home on The Range” (Gene Autry), “A Summer Place” (Andy Williams), “The Way We Were” (Bing Crosby), “For the Good Times” (Perry Como), “True Love Ways” (Sir Cliff Richard), “Three Stars Will Shine Tonight” (Richard Chamberlain), “Anyone at All” (Carole King), “Over You” (Anne Murray), dan beberapa lagu lain, yang umurnya lebih tua dari saya sendiri. Itu ‘upacara’ yang saya lakukan jika sedang lelah sangat. Lelah fisik dan psikis.

Ini lagunya opa Gene Autry tahun 1930-40an, yang selalu meninabobokkan saya kalau lagi lelah… menenangkan bangeeet….

 

Jangan usik saya di FB, twitter, dan semua medsos saya, termasuk WA, Telegram, BBM, dan sms. Percayalah, saya tidak akan membalas segera. Nanti jika saya sudah stabil kembali, saya akan membalasnya satu persatu.

Sebetulnya, panjang lebar saya cerita, intinya hanya satu, jangan remehkan posisi dan pengorbanan orang lain. Tanpa kamu tahu, dia adalah pahlawan keluarga bagi keluarganya, dan pahlawan bagi dirinya sendiri, sebab dia telah berusaha memenangkan hatinya untuk tetap ikhlas. Sebab tidak ada seorangpun yang senang diganggu keikhlasannya, bukan? Saya juga. Anda juga. Yuk sama-sama jadi pahlawan keluarga sekaligus pahlawan bagi diri kita sendiri.

Dan lagu ini yang selalu bikin saya menangis dan menyadari bahwa setiap ibu adalah pahlawan bagi keluarganya.

 

Advertisements

About ifaavianty1

A wife, mom of 3 sons, writer and author of about 70 books. Loves books, music, movies, cook, art n craft, history, rain, mall, coffee, tea, and pasta. Oh, and every genius :))
This entry was posted in life, muslimah, perempuan, psikologi, sikap and tagged , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Ketika Emak Lelah

  1. leylahana says:

    Waduh pasti puyeng mba kalo dua anak laki homeschooling, hebring banget Mbak Ifa. Makanya anak2ku sekolah full day semua, tinggal satu nih dua tahun lagi full daynya haha… Emaknya udah stres juga dgn seabrek pekerjaan. Tapi kok homeschooling masih anter jemput ya Mbak? Bukannya belajarnya di rumah?

    • ifaavianty1 says:

      Aku justru stress biayanya kalo fullday… Lagipula anak2ku emang ‘kurang nyaman’ sekolah formal. Apalagi yang bungsu :D. Antar jemput perlu bangeeet karena mereka ikut kegiatan2 di Komunitas HS KSuper di Beji dan kegiatan outing mandiri seperti ke museum, peternakan dll. Seru banget kok, mak Ella 🙂

  2. Munawarah says:

    Ibu ini bahasanya ringan banget, enak banget bacanya (emang kue). Suka suka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s