Ketika Gembul Bikin Ulah

Nama sebenarnya yang kami berikan adalah Kello Marcello, entahlah berapa usianya. DIa datang sendiri ke rumah kami sekitar bulan Februari lalu. Ia datang dengan gaya khas seekor kucing garong, yang punya semboyan pantang pulang sebelum padam, eh, sebelum kenyang. Tak peduli walaupun suami saya enggak suka sama dia, tak peduli dia beberapa kali diusir dengan semena-mena oleh supir saya, dan juga oleh supir tetangga sebelah. Warnanya putih kuning cokelat, ginger gitu deh. Badannya tinggi besar, potongan khas mantan raja kucing. Suaranya parau dan keras. Mukanya lebar dengan sorot mata tajam. Kayaknya dia cukup ganteng dan potensial jadi Prince Playboy waktu mudanya.

Bersama-sama dengan segerombolan kucing lain, dia kemudian menjadi kesayangan keluarga kami, terutama oleh ketiga putra kami, Akna, Ahya, dan Bebeb. Kello mulai memperlihatkan watak aslinya; gembul, pemalas, dan baperan. Kerjanya makan dan tidur, di singgasananya di sofa ruang keluarga. Habis kulit sofa dicakar-cakarnya. Dan ini sering mengundang kerusuhan karena terjadi perang kucing rebutan singgasana. Atau si Kello menatap singit sembari menggeram kepada kami yang berusaha menyingkirkannya dari singgasana. Kello juga baperan, enggak boleh dia melihat kucing lain kami sayang, dia langsung pergi diam-diam, sembunyi di kolong mobil atau di jok motor suami dan pak supir. Makanya saya punya panggilan khusus untuknya, Kello Mellow Yellow, kucing kuning yang baperan. Oh, dia juga penakut luar biasa, ternyata. Entahlah, mungkin dia hanya berani berkelahi dengan sesama kucing. Sama tikus, dia takut. Sama kecoak, dia bergidig ngeri. Sama semut, dia hanya berani melirik sekilas dan pura-pura enggak tahu, tidur lagi. Dia hanya menggeram jika diledek, ‘tua, gendut, pemalas, penakut’. Benar-benar jago kandang.

Makin lama dia menggendut dan terlihat enggak lincah lagi. Dari situ kami memanggilnya “Gembul, Mbul, Gembulelelele, Cimbul Cindut”. Dia perlahan menjelma menjadi kucing penurut, pengertian, meski masih baperan dan tentu saja pemalas. Dia tidak pernah marah jika sedikit dikerjain anak-anak, misalnya dicubiti perutnya karena gemes dia gendut, atau digusur tempat tidurnya. Dia enggak pernah pee atau poop di dalam, muntah juga di luar garasi. Paling dia bikin baret mobil dan motor dengan cakar-cakarnya, Dan ini bikin pak supir memandangnya sebagai musuh yang harus diperangi. Kello pun seperti mengerti. Tiap dia dengar pak supir datang, dia langsung sembunyi dan bertahan hingga pak supir pergi.

kucing 1

Kello Gembul

Berbeda dengan kucing-kucing kami lainnya, dia belum disteril. Ada saja halangan untuk pergi membawanya disteril. Tapi sungguh saya sudah ingiiiin sekali mensteril si Gembul ini. Tunggu dananya dulu deh, karena akhir-akhir ini pengeluaran besar sekali.

Suatu malam, si Gembul memaksa minta masuk rumah. Padahal peraturannya, setelah magrib, kucing-kucing tidak boleh masuk. Gembul mengeong lantang, dan langsung menerjang masuk, begitu Ahya buka pintu. Suami saya yang sudah jatuh sayang sama dia, juga enggak apa-apa. Saya pikir dia lapar, jadi saya kasih makan. Habis makan, dia saya keluarkan lagi. Tapi dia meronta. Dia enggak mau keluar dan kekeuh bertahan di dalam rumah.  Ternyata ada kucing hitam (stray) musuh bebuyutannya Kello, menunggu di atas pagar. Wah, berantem nih kayaknya. Dan…tumben si Gembul kami ketakutan. Baiklah, malam ini saja, ya Mbul.

Malam itu dia bobo di singgasananya dengan tenang dan sama sekali tidak bikin ulah hingga subuh. Dia makan lalu keluar.

Beberapa malam kemudian, peristiwa itu terulang. Kali ini Gembul menerjang masuk dengan buntutnya yang berdarah. Pasti gara-gara si kucing hitam itu lagi. Who else? Kembali malam itu Gembul bobo di dalam.

Paginya terjadi kehebohan. Suami saya dan Akna ngomel-ngomel. Gembul poop dan muntah di dapur. Ya ampuuun. Jadi lah Gembul diberi sangsi jam makan paginya ditunda. Setelah itu, Gembul jadi lebih agresif. Dia jadi pemarah, mudah mencakar dan menggigit. Kamipun kena jadi korbannya. Dia yang tadinya sudah baperan, kini malah nyolotan, gampang marah dan sedikit-sedikit menggeram. Dia juga pee dimana-mana di rumah kami, merepotkan kami yang harus rajin bersih-bersih.

Ahhh ini pasti Gembul sedang ingin kawin. Begitulah tanda-tanda kucing sedang ingin kawin, dari referensi perkucingan yang saya dapat. Lalu dengan siapa Gembul kami jodohkan? Keket dan Miwa sudah disteril. Alexandra dan Puspita jarang pulang. Dengan Naura, kucing sebelah? Majikannya yang enggak setuju. Naura itu kucing Persia, sedang Gembul kucing kampung yang diduga masih ada keturunan macan (hehehe). Terus anaknya? Yang pasti sih masih kucing juga. Tapi nyonya sebelah bilangnya, kucing ningrat enggak boleh kawin dengan rakyat jelata.

kucing 2

Mia alias Miwa, gadis manis penunggu perpustakaan kami

Lagipula, jika Gembul kami kawinkan…astagah, siapa yang telaten merawat anak kucing kinyis-kinyis? Anak kucing begitu lahir kan enggak hanya satu ekor, bisa sampai lima ekor lho. Terus, bagaimana perawatannya? Itu kucing-kucing kami kalau lengkap semua bisa sebelas ekor, ngasih makannya aja rempong sendiri, semua mengeong ngumpul di kaki. Belum kalau ada yang terinjak tanpa sengaja, habis kaki dicakar mereka.

Kami sayang kucing, tapi kami juga takut menzhalimi mereka, ketika kami tidak mampu memelihara mereka dengan baik. Itu sebabnya saya pro steril. Jika kucing dibiarkan beranak pinak, sementara jumlah kucing sekarang sudah over populated, kebayang kan berapa banyak kucing manis yang tersia-sia dan mendapat perlakuan kejam, tertabrak, mati karena sakit tak terobati, dan lain-lain? Aduh, membayangkannya saja tak tega rasanya.

Lagipula kucing jelas berbeda dengan manusia. Manusia punya naluri keibuan dan keayahan. Nah kucing? Boro-boro keayahan, baru kawin juga dia sudah cari ‘istri’ yang baru. Emak kucing mungkin punya naluri keibuan, tapi banyak juga yang ‘bingung bayi’. Itu si Naura kan tadinya punya anak dua. Yang pertama mati keinjak dia, yang kedua, mati karena dia menolak menyusui anaknya. Kata orang, kucing Persia memang agak dodol di naluri keibuan, tapi sepertinya belum ada penelitian khusus tentang ini. Yang jelas, pasca kematian kedua anaknya, si Naura jadi kucing stress. Yang hampir tiap dua jam sekali mengeong memilukan. Sedih sekali mendengarnya. Tapi lumayanlah, gara-gara si Naura, kami jadi enggak pernah kesiangan sahur pas bulan Ramadhan kemarin. Jam dua pagi dia sudah setia mengeong, mengalahkan himbauan bangun sahur dari masjid.

Saya dengan firasat mak comblang yang Alhamdulillah sudah berhasil menjodohkan beberapa (manusia) jomblo, menduga, sebenarnya Gembul ada hati sama Naura. Dibuktikan dengan Gembul sering membuntuti saya menyetrika dan mencuci di belakang, yang letaknya bersebelahan dengan kandang si Naura. Gembul dan Naura dengan leluasa punya akses saling memandang dan berbalas meongan. Peernah beberapa kali Gembul masuk ke rumah sebelah, dan berakhir dengan jeritan nyonya sebelah yang takutnya luar biasa sama si Gembul.

Puncak ulah si Gembul terjadi siang tadi. Ceritanya, suami ke kantor, Akna sekolah, saya dan si dua bocah homeschooling (Ahya dan Bebeb) mau pergi makan siang dan cari mainan bricks bongkar pasang. Gembul kami suruh keluar dan dia tiduran di kolong mobil. Pulang dari makan siang, kurang lebih satu setengah jam kemudian, kami mencium bau busuk menyebalkan di sekitar kamar anak-anak. Karena repot, saya hanya menduga itu bau bangkai cicak yang mungkin dimakan kucing sebagian, entah kucing yang mana.

Tak lama, Akna pulang dan dia mencium bau yang sama. Ternyata…. Ada poop kucing di kasur Ahya. Siapa lagi? Kucing yang lain sedang tidak ada, yang ada hanya si Gembul. Mungkin dia menerobos masuk lewat jendela depan atau jendela perpustakaan ketika kami pergi. Herannya lagi, pintu kamar ditutup. Terus dia masuk kamar lewat mana cobaa?

Yang jelas, ketiga anak bujang saling marah, berteriak dan kesal. Tapi kemudian mereka bahu membahu membersihkan bekas poop si Gembul. Lesson learnt. Dalam Homeschooling, tiap momen adalah pembelajaran dan mereka memang memetik banyak hal dari tiap peristiwa, every single and simple moment. Di sini mereka belajar menata emosi, memimpin dan dipimpin, belajar bekerja sama dalam tim, belajar saling memaafkan (juga memaafkan si Gembul, karena bagaimanapun juga Gembul bukan satu-satunya yang bersalah, kami juga salah karena menunda proses steril nya), belajar membersihkan kotoran, dan belajar tentang siklus dan proses kehidupan kucing.

Yang tak disangka lagi, si tengah, Ahya yang berusia 8 tahun mengirim Whatsapp kepada ayahnya, bercerita tentang Gembul yang poop. Ayahnya mengira itu pesan dari saya. Kami sama-sama terpana mengetahui itu pesan dari Ahya. Tata bahasanya, subhanallah, rapi. Tanpa penyingkatan, dan tanpa kesalahan ejaan. Satu lagi momen belajar, lewat peristiwa si Gembul bikin ulah.

Catatan penting banget lainnya adalah: Gembul wajib disteril. Enggak apa-apa nanti Gembul menjalani semacam operasi cesar. Kan dibius dan ada waktu recovery-nya. Saya sudah menjalani operasi cesar/section empat kali juga enggak apa-apa kok.

Jadi steril atau kebiri adalah proses pemandulan pada kucing, yang berarti membuang alat kelaminnya, yang jantan dibuang testikelnya, yang betina dibuang ovariumnya. Tentu proses ini dilakukan oleh dokter hewan, bukan dokter kandungan manusia. Eeeeaaa. Usia layak steril pada kucing minimal 8 minggu atau 6 bulan. Sudah tua kayak Gembul, Alexandra, dan Popop juga enggak apa-apa kok. Cuma, bagi kucing dewasa, meskipun sudah steril, dia masih bisa lho jejeritan memanggil betinanya.

Ada beberapa manfaat steril kucing yang bikin saya merasa wajib mensteril Gembul, yaitu :

  1. Mengurangi resiko kanker prostat, kanker testis dan hernia pada kucing jantan dan kanker rahim, indung telur dan oayudara pada kucing betina
  2. Mengurangi agresivitas kucing saat ia terkena heat cycle ketika sedang birahi.
  3. Menghilangkan suara tinggi nyebelin ala kucing kawin, ganggu banget nih, bawaannya pingin gigit tuh kucing, walaupun saya pecinta kucing juga.
  4. Kucing pasca steril biasanya lebih manja dan penurut. Cakep kan si Gembul, udah tua, pemalas, manja, …
  5. Kucing jantan enggak pee sembarangan lagi untuk menandai wilayah kekuasaannya. Siyap jenderal Mbul, tanpa kamu pee-pun, kita sudah tahu kok itu wilayah kekuasaanmu.
  6. Bisa lebih hemat biaya, kalau dihitung sama biaya perawatan segerombolan anak kucing. Ini saja, sekantung Whiskas/Friskies/Me-O Cuma bisa bertahan tiga hari. Mereka pada belagu, enggak mau makan tongkol cuwe soalnya. Paling-paling sisa chicken wings. Ampuuun dah. Kebayang kan kalau ditambah sekian ekor anak kucing? Bisa-bisa saya puasa tiap hari ini mah.
  7. Bisa ikut mengontrol populasi kucing, sehingga mengurangi resiko perlakuan semena-mena terhadap kucing, atau kucing yang tersia-sia. Enggak mungkin soalnya ada judul sinetron “Kucing yang tersia-sia” sebagai sambungan dari “Putri Yang Tertukar”. Kucing yang tertukar sih mendingan.
  8. Bisa mengurangi resiko kematian emak dan bayi kucing, Bayangkan deh, dalam setahun seekor kucing bisa beranak 3-4 kali dengan sekali brojol dua sampai lima ekor. Pernah sih kucing teman saya beranak enam ekor dan hidup semua. Jagoan bener tuh emak kucing.
  9. Bisa mengurangi resiko luka dan kematian kucing jantan karena ngelayap jauh mencari jodoh atau berantem rebutan cewek. Astagah…
  10. Bisa mengurangi resiko rabies.
  11. Bisa menggemukkan kucing kamu yang kurus. Kalau si Gembul? Bisa enggak dia disuruh diet atau OCD sekalian ya?

 

Jadi, para fans nya blog ini, mari sama-sama doakan dengan khusyuk agar saya menang lomba menulis Grup Sayang Kucing ini, yang hadiahnya steril gratis untuk kucing pemenang. Ya? Terima kasih lhooo sebelumnyaa…. Salam ketjup basah dari Gembul yaaa…. Meoooowww.

 

Referensi :

Satobandung.blogspot.co.id

Tipskucing.com

Bowiebloger.blogspot.co.id

 

Advertisements

About ifaavianty1

A wife, mom of 3 sons, writer and author of about 70 books. Loves books, music, movies, cook, art n craft, history, rain, mall, coffee, tea, and pasta. Oh, and every genius :))
This entry was posted in environment, Home Schooling, inspirasi, life, sikap and tagged , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s