Di Balik Kisah Si Jantung Hati Rakyat Aceh

Dia tak lagi muda usianya. Tahun ini saja usianya lima puluh lima tahun sudah, tepat tanggal 2 September. Sudah begitu panjang perjalanan yang dilaluinya. Namun ia tetap menjadi kecintaan Rakyat Aceh. Semangat keilmuan yang menjiwai pendiriannya tetap abadi hingga kini. Sudah banyak lahir tokoh bangsa dari rahimnya.

 

Sejarah Panjang Sang Jantung Hati

 

Pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda, kerajaan Islam Aceh telah menjadi salah satu pusat pengembangan ilmu pengetahuan yang terkenal. Tidak hanya dari kerajaan Aceh sendiri, mahasiswa dan staff pengajarnya ada yang berasal dari Turki, Iran, dan India. Nama Syiah Kuala, nama sang jantung hati, berasal dari seorang ulama hebat sal Nusantara kita bernama Tengku Abdur Rauf as Singkili yang hidup pada abad XVI serta menguasai banyak cabang ilmu, diantaranya ilmu hukum dan ilmu agama.

Ulama besar ini lahir di SIngkil, Aceh pada tahun 1615 M atau bertepatan dengan 1024H. ia memiliki pengaruh yang besar dalam penyebaran agama Islam di nusantara, khususnya di Sumatera. Ia digelari juga Tengku Syiah Kuala,  dari bahasa Aceh yang berarti Syekh Ulama di Kuala. Sedangkan nama lengkapnya adalah Amiruddin Abdul Rauf bin Ali Al Jawi Tsumal Fansuri as Singkili. Keluarganya konon berasal dari Persia atau Arabia yang menetap di Singkil sejak abad ke 13. Selain belajar pada ayahnya, ia juga belajar dari ilmuwan dan ulama-ulama dari Fansuri dan Banda Aceh. Dalam usia relative muda, ia pergi berhaji sekaligus mendalami ilmu agama di tanah suci.

Ia kembali ke Aceh sekitar tahun 1662 M, kemudian mengembangkan Tarekat Syattariah. Muridnya banyak, dan berasal dari berbagai daerah, diantaranya Syekh Burhanuddin Ulakan dari Pariaman, dan Syekh Abdul Muhyi Pamijahan dari Tasikmalaya.

Azyumardi Azra menyebut beberapa karya besar beliau, misalnya:

  1. Mir’at al Thullab fi Tasyil Mawa’iz al Badi’rifat al Ahkam al Syar’iyyah li Malik al Wahab, yang ditulis atas permintaan Sultanah Safiyatuddin, yang merupakan karya di bidang fikih.
  2. Mawa’iz al Badi’ yang berisi banyak nasehat penting dalam masalah akhlak.
  3. Tanbih al Masyi’, yang merupakan naskah tasawuf tentang martabat tujuh.
  4. Kifayat al Muhtajin ilaa Masyrah al Muwahhidin al Qaailin bi Wahdatil Wujud, yang merupakan penjelasan tentang konsep wahdatul wujud.
  5. Tarjuman al Mustafid, yang merupakan naskah pertama Tafsir Al Quran lengkap berbahasa Melayu.
  6. Terjemah Hadits Arbain an Nawawi karya Imam al Nawawi, ditulis atas permintaan Sultanah Zakiyyatuddin.
  7. Daqaaiq al Hurf, tentang tasawuf dan teologi.

 

Ulama kecintaan raja dan rakyatnya ini wafat di usia 73 tahun pada tahun 1693. Ia dimakamkan di samping masjid yang didirikannya di Kuala Aceh, desa Dayah Raya, kecamatan Kuala, sekitar 15 km dari Banda Aceh.

 

Nama dan karya besar ulama tersebut telah mengilhami semangat berdirinya Universitas Syiah Kuala yang dimulai dengan Kota Pelajar Mahasiswa Darussalam yang idenya sudah muncul dari para pemimpin Aceh ketika itu (termasuk gubernur A Hasjmy) pada tahun 1957. Kopelma Darussalam secara resmi dibuka oleh Bung Karno pada 2 September 1959. Tanggal ini kemudian ditetapkan sebagai Hari Pendidikan Daerah Aceh. Hari yang mengandung makna kebangkitan kembali pendidikan di Aceh.

unsyiah 2

unsyiah 3

 

Perjalanan terus bergulir dan Unsyiah kini sudah semakin lengkap, baik fakultas dan jurusan yang dimiliki, demikian juga sarana dan prasarana. Sejak dulu, dimana seluruh rakyat Aceh bahu membahu untuk mewujudkan Kopelma Darussalam dan Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), lembaga ini telah menjadi jantung hati rakyat Aceh yang sebenarnya. Dengan penuh kebanggaan, sambil terus mengenang jasa dan karya ulama Tengku Abdul Rauf as Singkili dan para pendiri Unsyiah, rakyat Aceh mempercayakan pendidikan terbaik bagi putra-putrinya di kampus bersejarah ini.

 

Selamat Ulang Tahun, Unsyiah, semoga tetap harum nama dan baktimu untuk pendidikan nasional kita, seharum nama Tengku Abdul Rauf as Singkili.

 

Referensi :

Wikipedia

Credit foto :

Google

unsyiah 1

Advertisements

About ifaavianty1

A wife, mom of 3 sons, writer and author of about 70 books. Loves books, music, movies, cook, art n craft, history, rain, mall, coffee, tea, and pasta. Oh, and every genius :))
This entry was posted in education, sejarah, Uncategorized and tagged , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Di Balik Kisah Si Jantung Hati Rakyat Aceh

  1. Ina Teri says:

    Pelopor dan pejuang di negeri ini kebanyakan ulama.
    Bagaimana kondisi saat ini di Aceh, adakah generasi penerusnya ya?
    trims

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s