Icut, Hutan ini milik anak cucu kita

Review Izin untuk Penataan Perizinan

Dear Icut, Sahabatku nun jauh di Tanah Aceh sana

 

Apa kabar, Cut? Lama aku tak mendapat kabar apapun darimu. Terakhir ada kau kabarkan kau hendak pergi melanjutkan kuliahmu di bidang Teknologi Hutan. Bagus sekali itu, Cut. Tanahmu, sekarang ini tengah membutuhkan orang-orang dengan kapasitas ilmu seperti itu. Bukan untuk membuka dan membabat hutan-hutan, namun justru untuk tetap membiarkannya seperti semula.

aceh 1

Ah, kau tentu heran, Cut. Tak biasa aku berkirim email padamu untuk membahas masalah berat seperti ini. Tak apalah. Bukankah sahabat adalah keluarga yang kita pilih sendiri, yang dengannya kita bisa berbagi hal apapun, berat maupun ringan. Eh, tapi jangan kau habiskan waktumu hanya untuk membaca email panjangku ini, ya, Cut. Kau sudah harus mulai mempersiapkan tesismu, kan? Tentang apa tesis-mu? Adakah kau menyinggung soal hutan di Aceh yang sudah rusak parah?

 

Tentunya kau tahu, seperti juga yang sudah kudengar, bahwa hutan di Aceh rusak selama kurun waktu Sembilan tahun belakangan ini sebanyak 290 ribu hektar. Bukan main! Penyebabnya, kau tahu kan, karena buruknya tata kelola hutan serta banyaknya aktivitas illegal logging. Ditengarai laju deforestasi di Aceh mencapai 32 ribu hektar pertahun. Menurut catatan yayasan Hutan Alam dan Lingkungan Aceh (HAkA), luas hutan Aceh pada tahun 2006 seluas 3,34 juta hektar, dan sekarang hanya tersisa seluas 3050 juta hektar.

aceh 2

Yang lebih sedihnya pula, Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) juga mengalami penyusutan akibat konsesi hutan menjadi perkebunan dan praktik merusak lainnya. Ditemukan ada sekitar 200 ribu hektar luas tutupan hutan alam di dalam Areal Penggunaan Lain (APL). Dari luas tersebut ada 69 ribu hektar hutan alam yang berada di KEL. Luas tutupan hutan alam di KEL per-Mei 2016 mencapai 1.8 juta hektar atau sekitar 79 persen dari total area.

 

Lalu bagaimana dengan masa setelah kita? Bagaimana kehidupan anak dan cucu kita tanpa hutan?

 

Icut, aku tahu pemerintah pun tidak tinggal diam. Baru-baru ini Kementerian Lingkunga Hidup dan Kehutanan (KLH) memasang tanda penyegelan pada konsesi sawit PT ABN di Aceh Timur, terkait operasi pembukaan lahan (land cleaning) yang dilakukan PT. ABN tanpa izin. Tindakan penyegelan ini dilakukan sebagai uoaya mendisiplinkan operasi perkebunan kelapa sawit, terutama yang berada di dalam Kawasan Ekosistem Leuser. Penyegelan yang dilakukan itu merupakan instrument legal untuk memproteksi KEL. Gubernur Aceh segera melakukan tindakan moratorium land cleaning untuk seluruh kawasan KEL, termasuk menghentikan kegiatan land cleaning pada konsesi PT. ABN, hingga terbitnya inpres tentang moratorium ekspansi sawit dan selesainya review izin eksisting di tingkat nasional.

 

Sebagai tindak lanjut, pemerintah Aceh menerbitkan Surat Edaran Nomor 522.12/2686-III yang ditujukan kepada seluruh Pemegang hak Guna Usaha/Izin Usaha Perkebunan (HGU/IUP) dalam KEL, dan dinyatakan bahwa seluruh kegiatan pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit di seluruh KEL agar dihentikan, sambil menunggu keluarnya kebijakan pemerintah.

 

Begitulah, Cut. Kurasa kau lebih faham apa yang terjadi. Aku hanya sedih bahwa penegakan hukum kasus-kasus korupsi kehutanan masih sangat minim. Penegak hukum terkesan enggan menggunakan pasal-pasal yang bisa menjerat pelaku dengan hukuman lebih berat. Padahal obral perizinan pemanfaatan kawasan hutan masih marak.

 

Icut, ibu pertiwi adalah tempat kita hidup, keadaannya demikian menyedihkan saat ini. Kita sebagai perempuan yang juga ibu bangsa, ibu dari anak-anak kita, tentu tidak bisa diam begitu saja. Kita, kaum perempuan, sangat rentan terhadap perubahan iklim karena sebagian besar mata pencaharian kita bergantung pada sumber daya alam, termasuk hutan. Kita juga bertanggung jawab untuk mengamankan air, makanan, dan bahan bakar untuk keberlangsungan hidup keluarga dan komunitas kita. Tetapi yang kita alami selama ini adalah masih adanya ketimpangan akses, control, dan proses pengambilan keputusan untuk pengelolaan sumber daya alam.

aceh 3

Itulah, Cut, kupikir seharusnya makin banyak perempuan terdidik, tidak hanya dari Aceh, sepertimu, yang peduli tentang hal ini. Peduli yang melahirkan aksi. Bukan hanya sekedar peduli omong-omong di café macam kebanyakan orang itu. Kitalah yang harus menyadarkan banyak orang di sekitar kita bahwa review izin untuk penataan perizinan usaha perkebunan kelapa sawit jelas memiliki manfaat positif, yaitu mengurangi resiko bertambah rusaknya hutan di Aceh, termasuk di KEL. Selanjutnya ini tentu berdampak kepada  ketersediaan Sumber Daya Alam bagi kita dan generasi sesudah kita. Dengan ini pula, kita telah membantu melestarikan ekosistem seluruh makhluk hidup di Aceh, dan memperbaiki kualitas iklim di Aceh yang tentu berdampak juga pada iklim nasional. Jelas dampak positif ini juga dapat kita rasakan sebagai kaum perempuan. Kita bisa hidup lebih seimbang, bahagia, menyatu dengan alam, dan dapat terus membantu kualitas hidup keturunan kita kelak. Bersyukurlah kita, Cut.

 

Aaah, mungkin kita dan kelompok-kelompok perempuan, baik di Aceh, maupun di luar Aceh, bisa ikut berpartisipasi mendorong perbaikan tata kelola hutan dan lahan di sini. Banyak yang bisa kita lakukan, misalnya terus mendorong pemerintah Aceh untuk terus melakukan review izin usaha perkebunan kelapa sawit , sebagai bagian dari penataan perizinan di Aceh. Kita dapat melakukan kampanye di berbagai media, termasuk media online dan media social. Iya bukan, daripada kita sibuk selfie di medsos dan lupa pada tanggung jawab sebagai ibu anak bangsa? Ahahah, maafkan aku, Cut, aku menyindir hobimu yang satu itu.

 

Kita juga bisa menggandeng Lembaga Swadaya Masyarakat yang independen dan kredibel seperti Masyarakat Transparansi Aceh untuk membantu mengawasi kebijakan dan pelaksanaannya oleh pemerintah. Sementara itu, pemerintah dapat terus melakukan upaya penyelidikan, pengawasan, pembinaan, dan penyadaran kepada semua pihak, bekerja sama dengan seluruh elemen masyarakat, seiring dengan terus melakukan review izin usaha perkebunan kelapa sawit.

 

Ah, kau tahu, Cut, lega rasanya aku menuliskan ini padamu. Meskipun andainya kau sudah tahu, paling tidak aku sudah mengingatkanmu untuk bersama bergerak. Itu gunanya sahabat kan?

 

Baiklah, Cut, aku sudah mulai mengantuk. Mungkin aku akan bermimpi tentang kita berjalan jalan di KEL yang sejuk dan indah. Esok aku bangun, aku akan memeriksa minyak goreng yang kupakai selama ini. Dari perkebunan kelapa sawit mana dia berasal, apakah dia ikut andil merusak hutanku? Harus begitu. Biar kita ikut menjaga hutan kita.

 

Okelah, Cut, sekarang aku sudah benar-benar ingin tidur. Semoga esok lebih baik, dan kuliah kau cepat kelar. Jangan lupa kirim undangan jika kau sudah kelar, habis kau dapat ijazah, kau ijab sah kan?

 

Wassalam

Sahabat lamamu sejak SD

(credit foto dari Google)

Referensi : http://blog.mataaceh.org

 

 

 

Advertisements

About ifaavianty1

A wife, mom of 3 sons, writer and author of about 70 books. Loves books, music, movies, cook, art n craft, history, rain, mall, coffee, tea, and pasta. Oh, and every genius :))
This entry was posted in environment, inspirasi, life, sikap, Uncategorized and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s