Berbisnis Sambil Berbagi

Sejak dulu, pekerjaan saya berhubungan dengan kertas dan tulisan. Pekerjaan saya itu akhirnya menjadi bisnis saya. Ya, saya adalah seorang penulis. Dulu saya pernah bekerja di beberapa majalah nasional, kemudian memilih bekerja dari rumah untuk menjual tulisan karena saya ingin bisa bekerja sambil tetap mengurusi anak-anak saya. Maka saya tetap menulis, mengirim tulisan-tulisan saya dari rumah ke penerbit dan media massa. Lalu tulisan saya dimuat dan diterbitkan. Artinya saya berbisnis tulisan.

myrep 1

Buku Terbaru saya, “My Hijab” 2016

Zaman berubah. Masyarakat jadi makin akrab dengan dunia digital. Penjualan buku-buku dan majalah menurun. Banyak buku retur dengan cepat ke penerbit dari gudang toko buku, Banyak penulis lebih cepat menerima WO (write off) alias tanda selesainya penjualan buku-bukunya, dimana sejak saat WO ditandatangani penerbit, maka berakhir pulalah periode penerimaan royaltinya.

 

Matilah penulis!

Ya dan tidak. Ya jika penulis itu tidak mau beradaptasi. Tidak, jika penulis itu memilih ikut men-digitalisasi tulisan-tulisannya. Saya memilih opsi kedua, tentu saja, Mengapa? Sebab saya cinta pekerjaan ini. Sebab saya masih punya begitu banyak hal yang ingin saya bagi dan saya tulis untuk para pembaca saya. Sebab saya masih ingin mengembangkan bisnis tulisan saya dan membagikan manfaatnya bagi lebih banyak orang. Saya tak ingin mati bersama matinya era kertas.

 

Lalu apa yang saya lakukan?

Pertama, memanfaatkan sosial media sebagai sarana mengembangkan bisnis tulisan. Saya memanfaatkan Facebook, Twitter, Google Plus, LinkedIn, bahkan mencoba Path, Instagram, dan beberapa lagi untuk menjalin komunikasi dengan pembaca saya, penerbit, media massa cetak dan media online, dan beberapa penyedia portal yang membutuhkan jasa tulisan. Saya membuat branding tentang bisnis saya lewat status-status di media sosial. Intinya, jangan membuat status sampah, negative, menghujat, mengeluh, dan memalukan di media sosial, termasuk status di BBM, Whatsapp, Line, Telegram dsb (yang saya kategorikan sebagai media sosial sederhana yang menjalinkan komunikasi kepada banyak pihak).

Kedua, saya mengaktifkan blog saya. Bagi saya, menulis di blog bukan sekedar curhat, namun lebih seperti membuat majalah pribadi yang isinya harus dibuat semenarik mungkin. Isi blog bukan Cuma curhat, iklan, dan mengejar ranking SEO, Alexa, Page Rank, atau apapun namanya. Isi blog harus bermanfaat dan membuat pembaca betah membacanya, sehingga lain waktu ia akan kembali singgah di blog kita, bahkan siapa tahu ia follow blog kita, mem-bookmarked atau favorited blog kita. Jadi bagi saya, content is the king, content is the power.

Saya sendiri punya banyak blog, Ada yang ber-platform wordpress, blogspot, tumblr, weebly, kompasianan, blogdetik, viva, dan beberapa lagi. Kenapa bikin banyak blog, nanti cape mengurusnya dan terbengkalai, nyampah? Itu memang tantangan buat saya. Sampai sekarang saya masih mencoba rajin menulis di blog. Saya punya banyak blog sebenarnya lebih untuk mengatasi sifat saya yang pembosan. Jadi kalau bosan nulis di blog yang satu, bisa menulis di blog yang lain.

Mengapa blog gratisan dan tidak blog berbayar? Sebetulnya ingin juga ya saya punya blog berbayar seperti dotcom, dotnet, dotid, atau dotasia. Tapi ya nantilah, jika saya sudah benar-benar rapiiiii mengurusi blog-blog saya. Lagi-lagi, saya men-challenge diri saya untuk lebih rajin dan lebih rapi ngeblog.

Ketiga, ini juga masih jadi challenge buat saya, menulis di berbagai portal. Begitu banyak media dan portal online sekarang yang memungkinkan kita men-submit tulisan kita di sana. Setelah tulisan kita dibaca dan ditanggapi banyak pembaca, kita akan mendapatkan manfaatnya. Tentu selain berbagi kebaikan dari isi tulisan kita, kita juga akan semakin dikenal, dan dari situ aneka tawaran menulis datang.

Pernah dengar Wattpad? Nah, banyak penulis cerita di Wattpad, yang naskahnya dibaca banyak orang, akhirnya bisa menerbitkan tulisannya di penerbit mayor. Tantangan lagi nih buat saya.

myrep 2

Pesan Eyang Pram tentang penulis sebagai pendidik bangsa

Demikianlah yang saya lakukan dengan era digitalisasi ini. Digital Business Your Way as a Writer bagi saya, berarti saya menjual tulisan-tulisan saya secara langsung atau tidak langsung, dengan menggunakan platform-platform digital. Paling tidak, kini saya memiliki 6 profesi dalam bisnis digital saya, yaitu sebagai penulis, blogger, social media enthusiast (saya belum berani menyebut diri saya sebagai social media influencer), ghost writer, copywriter dan co writer. Oh iya, ghost writer itu adalah seorang penulis yang di-hire pihak lain untuk menulis dengan menggunakan nama pihak tersebut (bukan atas nama si penulis). Menurut saya ini boleh saja, sepanjang isi tulisan sesuai dengan interest, serta visi dan misi saya sebagai penulis. Sedangkan co writer adalah seorang penulis yang membantu penulis/pihak lain menulis sesuatu dengan tetap menyertakan namanya (penulis pendamping). Ini juga tentu harus sesuai dengan interest, serta visi dan misi saya (pendidikan, parentings, family, dan pemberdayaan perempuan).  Sedangkan copy writer adalah penulis yang menangani teks-teks advertorial dan iklan/promosi untuk pihak lain. Dalam kaitan profesi copy writer ini, saya sudah bekerja sama dengan beberapa instansi pemerintah dan swasta.

 

Semua hal dalam bisnis saya di era digital ini tentu sangat membutuhkan koneksi internet. Kebutuhan internet ultra cepat menjadi hal yang pokok. My Republic adalah salah satu solusinya, karena disamping layanan internet ultra cepat, My Republic juga melengkapinya dengan cable television yang menyajikan banyak channel pilihan dalam dan luar negeri, yang tentu sangat dibutuhkan pula oleh penulis era digital seperti saya. Penting bagi saya untuk tetap updated dengan perkembangan dunia terkini, misalnya dengan menyimak Channel News Asia yang ada di paket My Republic.

 

Lalu, apa yang akan saya lakukan ke depan untuk mengembangkan bisnis saya, jika saya mendapat dana bantuan wirausaha digital dari My Republic?

 

Ada satu cita-cita saya, disamping tetap menjalankan dan mengembangkan keenam profesi yang saya sebut tadi, yang ingin saya lakukan.

Saya ingin mengembangkan sebuah portal khusus penyedia sarana dan prasarana Home Schooling (Pendidikan Berbasis Rumah). Dua dari tiga putra saya menjalani program Home Schooling, dan saya telah melihat banyak kemajuan yang mereka capai. Saya ingin membagikan manfaat Home Schooling kepada lebih banyak keluarga di dunia ini. Mungkin sudah banyak portal serupa, namun yang juga mengarahkan bisnis dan hasilnya untuk keluarga tidak mampu tidak banyak. Saya tahu banyak keluarga tidak mampu memiliki anak yang berbakat, namun biaya sekolah yang tinggi membuat anak tersebut ‘tak tertangani’. Mereka membutuhkan Home Schooling penuh waktu atau paruh waktu, dengan biaya yang terjangkau.

myrep 3

myrep 4

Serunya Home Schooling, pendidikan berkualitas dan terjangkau untuk semua, ayo garap prject-nya, bisnis berbagi manfaat….

 

Portal saya kelak akan menjangkau mereka dengan cara donasi dan atau subsidi silang dari para klien yang memanfaatkan jasa penyedia sarana dan prasarana Home Schooling yang saya bangun. Insha Allah, program ini akan saya mulai awal tahun 2017, dan sudah saya rintis sejak beberapa waktu lalu.

Untuk ini saya akan bekerja sama dengan berbagai portal dan penyedia sarana pendidikan di berbagai belahan dunia, untuk berjejaring dan melakukan bisnis dengan mereka. Termasuk membeli dan melengkapi sarana pendidikan yang akan saya (dan kami, karena insha Allah, sudah ada beberapa ibu Home Schooler yang mau bergabung) share dengan klien-klien kami dari keluarga tidak mampu. Bagi saya, semua anak unik dan berbakat, karenanya mereka berhak mendapatkan pendidikan yang layak dan berkualitas demi masa depan mereka yang lebih baik, siapapun mereka.

Saya juga akan menulis berbagai hal, apa saja, tentang pendidikan anak, parentings, family sharing and tips, all about Home Schooling di portal tersebut. Sudah ada cukup banyak artikel tentang itu yang saya buat di blog saya dan di tulisan-tulisan saya tentang itu.

 

Bisnis ini berjalan secara online dan offline, seiring dengan bisnis menulis saya (yang melibatkan enam profesi tadi). Jelas saya sangat membutuhkan dukungan internet ultra cepat dan dana yang tidak sedikit. Bagi saya, menulis dan mendidik adalah dua hal yang beriringan, dan saya mencintai keduanya. Bisnis menulis dan pendidikan bukanlah sekedar mencari untung sebesar-besarnya, namun lebih utama adalah membagikan lebih banyak hal yang baik kepada lebih banyak orang di dunia ini. Berbisnis yang paling membahagiakan bukanlah yang membuat diri sendiri bisa menjadi kaya raya, namun yang bisa membuat banyak orang bahagia. Menulis adalah mendidik generasi. Sedangkan mendidik generasi seharusnya diiringi dengan menulis, sebab menulis akan mengabadikan hal-hal terbaik yang kita bagi dengan mereka.

 

Huppp, semangat yuk. Insha Allah dimudahkan jalannya. Yuk, berbisnis sambil berbagi, menulis dan mendidik generasi.

Advertisements

About ifaavianty1

A wife, mom of 3 sons, writer and author of about 70 books. Loves books, music, movies, cook, art n craft, history, rain, mall, coffee, tea, and pasta. Oh, and every genius :))
This entry was posted in bisnis, blog, buku, education, Home Schooling, inspirasi, menulis, schooling and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Berbisnis Sambil Berbagi

  1. Amir says:

    Kalau aku, aku jualan layangan, soalnya aku kan anak alay (bukan lebay ya ?) alay itu anak layangan (tapi nggak suka nongkrong di pinggir jalan) pokonya alaayyyy banget…hehehehehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s