Waktu Berkualitas untuk Anak Homeschooler

Kedua anak kami, Ahya dan Bebeb, baru sekitar setengah tahun ini menjalani sistem Pendidikan Berbasis Rumah alias Homeschooling. Alhamdulillah banyak sekali kemajuan yang mereka capai. Meski awalnya serasa ‘terjun bebas’, namun kini saya makin merasa betah menjadi Mama Homeschooler bagi mereka. Berbeda dengan anak yang bersekolah di sekolah formal, yang memiliki waktu pertemuan terbatas dengan keluarganya di rumah, anak-anak Homeschooler atau anak-anak HS lebih memiliki banyak waktu dan tentunya ini juga menjadi tantangan bagi orangtua agar pandai-pandai memanfaatkan waktu yang banyak itu sehingga anak-anak mendapatkan hak utamanya, yaitu bermain, belajar, dan mengikatkan hubungan yang erat dengan keluarga dan lingkungannya.

Bagi saya sendiri, ini berarti keluar dari zona nyaman saya sebelumnya sebagai ibu rumah tangga dan penulis, yang banyak menghabiskan waktu untuk mengerjakan pekerjaan rumah dan menulis. Sekarang saya harus siap membaginya dengan anak-anak yang setiap saat ada bersama saya, kecuali ketika mereka sedang mengikuti kegiatan komunitas. Butuh kreativitas ekstra mengingat Ahya dan Bebeb termasuk anak-anak yang enggak bisa diam, baik secara kinestetik maupun verbal.  Butuh kesabaran karena menangani anak beda jauh dengan menangani bahan-bahan untuk memasak, misalnya.

So far Alhamdulillah cukup berhasil. Anak-anak menemukan banyak ilmu sambil bermain, ibunya juga ikut dapat ilmu. Pada prinsipnya, kegiatan homeschooling itu kan sama-sama belajar, ya anaknya, ya orangtuanya, ya asisten yang mendampingi. Semua ikut belajar. Di situ waktu berkualitas bagi keluarga Homeschooler sebenarnya.

Anak-anak memasak sambil belajar berhitung, bahasa Indonesia, bahas Inggris, ekosistem (biologi), fisika, kimia, dan bahkan ilmu sosial tentang bekerja sama. Anak-anak belajar berpuasa sambil belajar fikih, sejarah Nabi, berhitung, muamalat, bahasa Indonesia, bahasa Arab, psikologi, hingga fisika, dan kedokteran. Jika di sekolah mereka belajar secara akademis, maka di rumah mereka belajar tentang kehidupan.

Secara sederhana, waktu yang mereka dapatkan pun bisa lebih banyak di rumah. Di sekolah, satu jam pelajaran, guru menerangkan untuk 20-40 anak, sementara di rumah, satu jam pelajaran, orang tua atau fasilitator menerangkan atau belajar bersama dengan 1-5 anak (tergantung jumlah anak dalam keluarga tersebut). Jadi, waktu berkualitas bagi seorang anak seharusnya dia dapatkan di rumah. Itu sebabnya menurut saya, harusnya sih, meski anak-anak bersekolah di sekolah formal sekalipun, orang tua tidak boleh lepas tangan sama sekali. Karakter dan nilai-nilai yang akan mereka pakai dalam kehidupan justru dibentuk di rumah, bukan di tempat mereka bersekolah. Lembaga pendidikan hanya membantu mengemasnya dalam bentuk lain.

 

ahya ciliwung

Ahya (Kaus orange lengan panjang) bersama Komunitas K’Super Depok, dalam kegiatan susur Sungai Ciliwung.

bebeb sapi

Bebeb main sama sapi… moooo

Bagi keluarga kami sendiri, dengan adanya anak-anak menjadi anak-anak Homeschooler, kami menjadi memiliki lebih banyak waktu untuk membangun karakter anak. Setiap waktu jadi lebih berkualitas, enggak hanya pas ngumpul malam misalnya. Dan hasilnya mulai terlihat, anak yang memiliki lebih banyak waktu berkualitas dengan orang tuanya, tumbuh menjadi anak yang lebih merdeka, bebas dari stress, dan lebih kreatif dan ekspresif.

Biasanya sih jadwal umumnya Ahya dan Bebeb seperti ini. Pagi hingga siang, mereka belajar apa saja bersama saya, dari mulai membaca buku, mengerjakan latihan soal yang diformulasikan se-fun mungkin, art and craft, outing/field trip (dari warung seberang, hingga ke tempat yang cukup jauh),  ikut komunitas sesuai minat dan hobi, atau kadang hanya ngobrol santai sambil bermain-main dengan kucing-kucing kami; Gembul, Keket, Choki, dan Mia.  Setelah istirahat siang yang kadang mereka sambi dengan nonton TV atau main game atau (masih) main dengan kucing-kucing, di sore hari, mereka mengerjakan project snack sore (membantu saya memasak snack sore) atau sekedar menikmati cemilan ringan seperti Oatbits misalnya. Setelah maghrib, hingga waktu tidur biasanya diisi dengan mengaji dan muraja’ah (setor hafalan ayat-ayat Al Quran), latihan soal ringan, atau story telling.

Yang tidak boleh lupa adalah jadwal ibadah dan… makan. Makan, termasuk cemilan/snack siang/snack sore, wajib makanan sehat. Sesekali boleh makanan instan, tapi jangan terlalu sering. Makanan sehat dan halal tidak harus mahal. Tidak juga harus pakai ribet menyiapkannya. Beberapa jenis cemilan sehat yang disukai anak-anak sedapat mungkin selalu ada di rumah, baik bikin sendiri atau beli. Oatbits adalah salah satu contohnya.

oatbits 2

Oatbits sekardus segede gaban. Kardusnya bisa buat kreasi art and craft Ahya lho…

oatbits 3

My Best… Strawberry Yoghurt dan Vitafruit….

 

Kenapa Oatbits? Ya selain sehat, rasanya juga enak. Kres kres crunchy. Yang satu dus gede gini isinya 3 pack. Satu pack isinya beberapa biscuit. Ini satu dus ada yang rasa Raisin, Vitafruit (ada rasa-rasa jeruknya, seru), dan Strawberry Yoghurt. Best of the best buat saya sih ini nih yang Strawberry Yoghurt. Cocok banget buat nemenin anak-anak belajar sambil bermain. Oh ya, Oatbits juga enggak bikin gemuk, soalnya mengandung dietary fiber. Buat anak-anak tentu sehat karena mengandung high calcium dan vitamin B1, B2 dan B6. Buat Bebeb yang super aktif juga pas. Enggak bikin dia jadi  makin enggak bisa diam habis nyemil Oatbits. Soalnya ada juga kan snack yang bikin anak ‘superaktif’ jadi makin aktif, yang kadang bikin emaknya pingin jedotin kepala sendiri ke tembok dan ujung-ujungnya mengeluh “Hayati lelah, Bang…”

oatbits 1

Sekeluarga buka puasa pakai Oatbits; ya si sulung Akna, ayah, dan Ahya.

 

Intinya sih bagi keluarga Homeschooler kayak kami, setiap waktu harus kita jaga agar tetap jadi waktu yang berkualitas, waktu yang bermanfaat bagi anak dan merupakan investasi berharga untuk masa depan mereka, sembari tetap mengutamakan unsur ‘bersenang-senang, bermain, belajar, dan bahagia’. Seruuu banget kan jadi keluarga Homeschooler?

#EverydayIsHealthy

#OatbitsFamily

 

 

Advertisements

About ifaavianty1

A wife, mom of 3 sons, writer and author of about 70 books. Loves books, music, movies, cook, art n craft, history, rain, mall, coffee, tea, and pasta. Oh, and every genius :))
This entry was posted in education, food, Home Schooling, inspirasi, kuliner, life, lifestyle, Lomba blog, love, pangan, parentings, schooling, sikap, snack, Uncategorized and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Waktu Berkualitas untuk Anak Homeschooler

  1. Eni Martini says:

    seru bangeet,biskuitnya jg uenaaak. kesukaan mba lintang dan dek pendar
    oya, teteh asyik ya HS itu, pengen deh nyobain pendar HS yang TK’nya

  2. witriprasetyoaji says:

    Seru banget ya kegiatan homeschoolernya, bermain sambil belajar
    Emaknya juga bisa mengawasinya secara langsung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s