Tentang Nenek Moyang

REpost yes

 

Masih ingat lagu “Nenek Moyangku Orang Pelaut”?

Nenek moyangku orang pelaut

            Gemar mengarung luas samudera

            Menempuh ombak tiada takut

            Menempuh badai sudah biasa…

 

            Meskipun saya bukan keturunan pelaut secara langsung, tapi frasa ‘nenek moyang’ tentu berhubungan dengan seseorang atau beberapa orang ‘perintis’ dari bangsa ini, dan dari keluarga besar saya. Maksudnya, titik tekan ‘nenek moyang’ itu adalah tentang sebuah sejarah. Sejarah bangsa ini, dan sejarah keluarga saya, keluarga suami, dan keluarga kami. Terbayangkah bagaimana menjelaskan sejarah pada anak-anak kita?

Nah, ini yang mau saya ceritakan.

Sejak dari anak pertama kami lahir, saya dan suami punya cita-cita luhur agar anak-anak kami kelak tumbuh menjadi manusia yang cinta pada agamanya, tanah airnya, dan keluarganya. OK, semua orang tua pasti bercita-cita demikian. Dan, secara ideal, kami menganggap itu bukanlah hal yang sulit. Apalagi, kami cukup faham dengan sejarah keluarga besar kami masing-masing. Sampai di sini, kami yakin semua bisa berjalan dengan cukup mulus. Anak-anak kami kelak akan menjadi manusia yang taat pada agamanya, nasionalis, patriotis, dan tak akan lupa pulang ke tanah air dan keluarganya, sejauh apapun mereka terbang kelak.

Akna, putra pertama kami, bersekolah di sebuah Taman Kanak-kanak yang berada di bawah Yayasan Hang Tuah, milik Angkatan Laut. Jadi, lagu “Nenek Moyangku Orang Pelaut” menjadi semacam lagu yang terhafalkan dengan sendirinya di benak anak-anak, termasuk Akna.

Suatu siang, sepulang sekolah, dia bertanya pada saya, “Bu, arti nenek moyang itu apa sih?”

Saya teertegun. Oh, ini pasti soal lagu Nenek Moyang itu deh.

“Nenek moyang itu adalah orang yang mula-mulanya mendirikan negara ini, negara Indonesia tempat kita tinggal sekarang. Nenek moyang juga bisa berarti orang yang mendirikan keluarga ini”. Sampai di sini, saya mulai ‘kusut’ sendiri. Apakah bahasa yang saya gunakan dapat ditangkap dengan baik oleh Akna? Sementara saya juga teringat kembali konsep pendidikan kami untuk mengenalkan anak-anak pada nenek moyang bangsa dan keluarganya. Haduh, bagaimana ini? Sudah tepatkah cara saya menerangkan?

“Yang bikin negara ini? Yang bikin keluarga kita?”

Tuuh kaaan….

“Errr… yyaaa begitulah, Mas”.

“Mereka semuanya pelaut?”

Grgrrrrr… saya mulai pusing. Siapa sih yang mulai memasukkan doktrin bahwa nenek moyang kita pelaut saja, dan bukan petani atau pemburu atau pengembara atau apalah. Bukankah kelompok manusia pertama adalah manusia pemburu? Oh, jadi nenek moyang kita adalah pemburu? Wah, salah juga nanti jadinya. Kusut, bukan?

“Yaaa, bukan semuanya pelaut kali, Mas. Nenek moyang kita itu… ada petani, pemburu, pedagang, ustadz, peternak…”

“Banyak dong, Bu?”

Saya menepuk dahi bingung. “Yyaaa … begitulah”.

Sulung saya yang pintar itu terlihat tidak puas dengan jawaban saya yang lebih seperti orang bingung. Ternyata susah bukan, memahamkan sejarah pada anak sekecil itu?

“Jadi, lagu Nenek Moyangku itu salah dong, Bu?”

Haaa?

Saya jelas lupa bahwa anak-anak kadang dengan gampangnya menarik kesimpulan di tengah kekacauan informasi yang mereka terima. Tugas kitalah yang meluruskan semuanya hingga tidak jadi memori yang salah yang menempel di otak mereka.

 

Agar tak lagi terjebak kebingungan dalam menerangkan sejarah pada anak-anak, saya dan suami kemudian bersepakat melaksanakan program “Jalan-jalan ke Musium”. Musium apa saja, yang penting kan informasinya.  Saya jelas sangat gembira menjalankan program ini, sebab saya adalah manusia pencinta sejarah dan tergila-gila pada semua yang berhubungan dengan ‘masa lalu’ (Oh, tapi saya juga selalu antusiasi terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan masa kini dan masa depan. Berarti, saya memang ‘aneh’. Mari abaikan pernyataan ini).

Tak tanggung-tanggung, museum pertama yang kami kunjungi adalah Museum Nasional yang terletak di Jalan Medan Merdeka Barat. Museum yang disebut juga Museum Gajah atau Gedung Gajah ini memuat koleksi yang cukup lengkap tentang perjalanan bangsa Indonesia dari zaman prasejarah hingga zaman Orde Lama. Ada beberapa koleksi yang sudah rusak digerus zaman, seperti beberapa arca yang sudah ‘somplak’ di bagian-bagiannya. Ada juga yang masih terpelihara rapi.

Senangnya saya, di situ juga saya dan Akna menemukan benda-benda yang berhubungan dengan sejarah bahari. Dengan lancar, saya menerangkan pada Akna tentang makna lagu Nenek Moyangku Orang Pelaut itu.

Tapi entah mengapa, bagian paling favorit bagi saya adalah tempat tidur Raja Mataram dan segala sesuatu yang berhubungan dengan peninggalan para Raja atau Sultan, dan para tokoh pemimpin negara ini di masa lalu. Saya seakan melihat sebuah ‘kehidupan’ di balik benda-benda mati yang usianya sudah jauh lebih tua dari saya.

Kami tak puas hanya sampai di situ. Berbahagialah kami, sebab kami tinggal di Jakarta yang juga bisa disebut sebagai Kota Seribu Museum. Pada kesempatan yang lain, kami mengunjungi Museum Satria Mandala, Museum Monumen Nasional (di sini kami sempat naik ke atas lho, sayang saya alergi ketinggian atau altophobia, jadi rasanya saya pinginnya menjatuhkan diri ke bawah terus. Mengerikan! ), Museum dan Monumen Pancasila Sakti Lubang Buaya, Museum Graha Purna Bhakti TMII, Museum Fatahillah yang terdapat penjara bawah tanah yang membuat saya merinding, Museum Bank Indonesia, Museum Bank Mandiri, dan Museum POLRI.

WP_20150301_16_27_13_Pro

Gedung Juang 45, foto koleksi pribadi

Untuk mengenalkan sisi-sisi seni dan kebudayaan, serta teknologi nenek moyang kita yang memang sangat tinggi, kami mengunjungi Museum Layang-Layang dan Museum Gamelan di daerah Pondok Labu, serta sekumpulan Museum di Taman Mini Indonesia Indah seperti Museum Transportasi, Museum Teknologi, Museum Telekomunikasi, Museum Listrik dan Energi Baru, dan Museum Minyak dan Gas Bumi.

Tak boleh juga dilupakan kunjungan wisata religi, mengenal sisi lain dari nenek moyang kita dan para tokoh besar negara ini, yaitu ke masjid-masjid bersejarah seperti Masjid Istiqlal, Masjid Sunda Kelapa, dan Masjid UI Arief Rahman Hakim Salemba.

Siapa bilang jalan-jalan ke Museum itu membosankan?

Kami bilang, sangat menyenangkan. Bahkan kadang lebih menyenangkan ketimbang hanya jalan-jalan menghabiskan uang di mall. Pulang-pulang capek dan mengomel pula karena anak-anak maunya jajan terus. Sementara ke museum, kami mendapat banyak hal. Kami jadi bertambah ilmu, wawasan, dan kecintaan pada tanah air dan bangsa Indonesia.

Hingga kami sudah memiliki tiga putra sekarang ini, acara jalan-jalan mengunjungi Nenek Moyang tetap kami laksanakan. Bahkan sudah sampai ke luar kota. Bogor misalnya, hampir semua sudut Kebun Raya sudah kami jelajahi termasuk Museum-museum yang ada di dalamnya. Saya sendiri selalu punya acara tetap jika berkunjung ke situ, yaitu lewat, ya betul, hanya melewati saja, kuburan Belanda dan makam Ratu Galuh Pakuan. Di kuburan Belanda itu konon dimakamkan, salah satunya, putri Gubernur Jenderal Hindia Belanda, van den Bosch, yang bernama Adriana van den Bosch.

makam belanda

Makam Belanda di KRB dilukis oleh Raden Saleh, sumber dari kaskus

 

Pernah suatu kali kami sampai di area Kuburan Belanda itu sudah hampir magrib. Suasana sepi ditingkahi suara burung-burung yang beranjak pulang terasa membangkitkan bulu roma. Saya sempat ragu, namun suami saya dan Akna menyemangati.

“Ayo, Bu, katanya mau ziarah ke Adriana van den Bosch”.

“Katanya Adriana-Adriana ini nenek moyang Ibu”.

Beuh, siapa lagi yang bilang kalau Adriana van den Bosch itu nenek moyang saya? Dia orang Belanda, sementara saya orang Pontianak-Sunda. Nenek moyang dari sebelah mana? Saya sih mau-mau saja mengakui sebagai keturunan Oma Adriana ini. Tapi apa si Oma Adriana juga mau? Hii, nanti salah-salah dia murka pada saya. Kabuuurrr….

“Hayuu Bu, tuh ditanyain sama Adriana …”

Hiiih, suami saya ini suka menakut-nakuti saya deh.

Hmm, baiklah. Saya coba mendekat ke area kuburan. Sebelumnya saya sudah pinjam HP suami yang kameranya memiliki resolusi yang cukup bagus.

Aduh, itu kenapa ya kuburannya seperti tidak terawat? Dikelilingi ilalang yang tinggi, membuat area kuburan itu seperti menyendiri, tak pernah dikunjungi orang, dan….

Huaaa…. saya merinding.

Ini nih, dampak terlalu tergila-gila pada sejarah. Sambil menyelam minum air. Tapi kalau airnya kebanyakan kan bisa tersedak. Sambil mengenalkan anak-anak pada nenek moyangnya, sambil saya mengasah terus rasa cinta pada kehidupan manusia di masa lalu. Nah ini akibatnya. Mau mundur, pasti diledek suami dan Akna. Mau maju terus, kok ya, merinding.

Itu kabut darimana datangnya ya?

Mengapa seperti….

Suara burung malam mengoak. Oh, mungkin mereka sudah bersiap-siap hendak terbang mencari makan.

Iya, kalau benar itu burung malam. Kalau…

Heuh, bagaimana ini?

Hati saya sibuk merapal doa demi doa. Tapi kok susah sekali ya? Padahal jika dalam keadaan normal, mudah sekali menyebutnya.

Saya mulai celingak-celinguk. Astaga, saya benar-benar sendirian.

Tuhaaan, saya balik atau tetap maju?

Nanti kalau saya hilang di sini bagaimana?

Aihh, siapa pula yang mau menculik saya? Hantupun enggan barangkali.

Saya tidak mau ambil resiko. Aduh, Oma Adriana, maafkan saya. Jika benar saya adalah keturunanmu yang kesekian juta, maafkan saya jika saya urung menziarahimu. Saya sepertinya lebih baik pulang saja. Biarlah nanti kuceritakan saja pada anak-anak tentangmu yang konon pro pada perjuangan rakyat, berbeda dengan ayahmu yang kejam itu.

Tampaknya saya makin kacau.

Sambil menghitung maju, saya balik badan, menegakkan kepala, dan berjalan ala tentara berbaris. Langkah tegap majuuu …jalan! Tentu sambil merapal semua doa yang saya tahu.

Akhirnya saya tiba juga di mobil, dimana suami dan anak-anak sudah menunggu. Ya Allah, terima kasih. Alhamdulillah. Saya bahkan masih gemetar dan bisa dengan jelas mendengar detak jantung saya sendiri.

“Jadi, ketemu Adriana-nya, Bu?” tanya suami. Dengan kesal, saya meliriknya. Lihat, raut mukanya iseng begitu. Pasti dia akan meledek saya. Huh!

Mestinya saya membual saja, saya ceritakan bagaimana saya duduk di tepi makam Oma Adriana sambil berfoto-foto narsis dan cantik. Tapi kalau dia mau melihat hasil foto-foto itu bagaimana?

Atau, saya terus terang saja? Tapi saya harus menerima resiko habis-habisan diledek suami dan Akna. Katanya pencinta sejarah, tapi ke makam nenek moyangnya saja takut? Hah!

Sambil menelan ludah, saya paksakan menjawab, “Nggak jadi, Yah… ibu ngeri…”

“Kenapa ngeri? Takut ada hantunya?”

“Hmmm….”

“Emang ibu lihat hantunya?” Ini si Akna suka penasaran kalau mendengar kisah-kisah yang agak ‘horor’. Tampaknya dia juga mewarisi ketertarikan saya pada sejarah nenek moyang sekaligus kadar penakut yang jumlahnya kadang lebih besar.

“Yaaa, nggak juga sih… tapi merinding saja…” Saat itu saya melihat Akna jadi ketakutan. Aduh, salah deh saya.

Refleks, saya celingukan. Sekian menit kemudian, “Pulang yuk, Yah, sudah mau maghrib”. Saya merasa harus meninggalkan tempat ini secepatnya. Tapi, dasar saya yang memang aneh, ketika mobil mulai bergerak meninggalkan tempat itu, sempat-sempatnya saya membatin dengan sedih, entah pada siapa. ‘Maaf ya, saya harus pergi sekarang’.

Sekarang kalau saya pikir lagi, mengapa saya mesti pamit pada ‘mereka’, para nenek moyang atau siapapun yang ada di situ?

 

Namun sejak itu saya memahami bahwa yang disebut dengan nenek moyang, siapapun mereka, bukan hanya berupa benda peninggalan mereka yang harus kita perkenalkan pada keturunan kita, tapi juga ‘jiwa dan spirit’ mereka. Misalnya, tentang nenek moyang keluarga ibu saya yang berasal dari Tanah Parahiyangan, tentang nenek moyang keluarga ayah saya yang berasal dari Pontianak, yang selama ini saya dengar kisah-kisah tentang mereka secara turun temurun.  Ketika saya ingin mengisahkan kembali kepada anak-anak saya tentang mereka, saya harus memiliki ‘jiwa dan spirit’ yang sama dengan mereka, jadi mereka bisa ‘hidup’ di dalam diri anak-anak saya. Yang dimaksud hidup di sini adalah, semangat dan nilai-nilai positif yang ada pada nenek moyang tersebut. Jika saya hanya bercerita saja, tanpa ruh, anak-anak saya hanya akan menyerap cerita tersebut seperti mereka menyerap pelajaran sekolah.

Padahal bagi saya dan suami, mengenal nenek moyang itu penting. Nenek moyang keluarga, bangsa dan tanah air, bangsa-bangsa di dunia, hingga nenek moyang para nabi. Tanpa mengenal nenek moyang berikut sejarah dan semangatnya, anak-anak dan generasi muda hanya akan menjadi sebuah generasi tanpa kampung halaman. Ini mengutip pernyataan Ibu Miranda Risang Ayu dalam tulisannya di Rubrik “Resonansi” di harian Republika, beberapa tahun yang lalu.

Sejak saat itu, saya selalu bercerita tentang para nenek moyang itu dengan lebih memasukkan spirit nilai-nilai positif pada anak-anak. Saya ingin mereka bukan sekedar tahu dan memahami sejarah, tapi juga meniru semua kebaikan para pendahulu.

Sementara itu, kami masih setia dengan program wisata sejarah dan religi hingga kini. Kota-kota Bandung, Semarang, Solo, Jogjakarta, dan Pontianak, sudah kami jelajahi sedikit demi sedikit. Terlalu banyak tempat wisata sejarah dan religi yang menarik di Indonesia,  terlepas dari segala kekurangannya, yang belum kami kunjungi dan jelajahi. Warna-warni sejarah panjang bangsa ini terlalu sayang untuk dilupakan begitu saja, tanpa diambil spirit kebaikannya.

Jika ada ‘yang berbau mistis’, yaaa bagi kami, itu adalah warna-warni khas setiap bangsa di dunia, termasuk Indonesia. Kadang hal itu memperkaya wawasan kebudayaan lokal, meski tetap harus selektif menuturkannya kembali kepada anak-anak agar tak ‘meracuni’ pikiran mereka, jadi kontradiktif nantinya.

Seperti kami percaya, bahwa pada setiap jengkal tempat selalu terdapat ‘sesuatu dari dimensi lain’, baik itu yang berasal dari ruang dan waktu yang berbeda dengan kita, atau dari manapun dia datang, yang penting adalah meyakinkan anak-anak bahwa menghayati nilai-nilai sejarah selalu lebih penting daripada hanya berputar-putar di soal yang ghaib ini.

Jangan pernah takut mengajak anak-anak yang masih kecil untuk berwisata sejarah. Takut kemasukan, takut ketemu jin, takut diculik makhluk gaib dan sebagainya, itu dimulai dari perasaan yang ada pada orang tuanya.  Kalau orang tuanya takut, seperti saya di kisah Kuburan Belanda tadi, ya anak-anaknya akan punya perasaan yang sama.

Ayolah, Indonesia ini kaya dengan tempat-tempat bersejarah, dari berbagai ruang dan masa, dari berbagai budaya dan agama. Bahkan bisa jadi lebih banyak dari negara-negara lain di Asia Tenggara. Sudah waktunya anak-anak kita diperkenalkan dengan sejarah nenek moyangnya.

Eh, tapi siap-siap ya dengan pertanyaan-pertanyaan seperti ini.

“Bu, nenek moyang kita sudah jadi hantu ya semuanya?”

“Aku jadi bingung, nenek moyang kita kok banyak sekali ya? Kok bisa?” Please, jangan hanya dijawab; ya bisa-lah!

“Bu, aku takut sama nenek moyang. Bisa nggak mereka meninggal tapi nggak jadi hantu?” Memangnya siapa yang bilang ya, kalau orang meninggal itu lalu menjadi hantu?

 

Haha, intinya sebenarnya, kalau mau memperkenalkan sejarah nenek moyang kepada anak-anak kita itu orang tuanya harus berani dulu. Bukan hanya wawasan dan ilmu tentang sejarah yang dibutuhkan, tapi juga kepandaian memisahkan antara mitos dan fakta. Jadi bukan sekedar belajar sejarah biasa, dan bukan juga akhirnya terjebak membahas segala jin dan hantu nenek moyang. Bagaimana, para ayah dan ibu?

 

Salah satu bentuk pengenalan yang penting tentang sejarah adalah sejarah para Nabi,  termasuk Nabi Idris as. Yuk baca postingan saya tentang Nabi Idris yang keren itu ada di SINI

Advertisements

About ifaavianty1

A wife, mom of 3 sons, writer and author of about 70 books. Loves books, music, movies, cook, art n craft, history, rain, mall, coffee, tea, and pasta. Oh, and every genius :))
This entry was posted in culture, education, inspirasi, life, sejarah, sikap, Uncategorized and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

5 Responses to Tentang Nenek Moyang

  1. sistalisius says:

    Gak nyangka, dari sebuah pertanyaan “arti nenek moyang itu apa?” urusannya jadi panjang kaya gitu, ternyata juga bisa bikin kita kewalahan. Banyak yang masih perlu dipelajari, sebagai orang tua ternyata.
    Makasih udah share 😀

  2. Berasa wisata sejarah baca ini.

    Dulu wkt abg sering latihan ke gedung juang

  3. Anne Adzkia says:

    Akna ih, makin cerdas aja. Sempet nanya gini gak, “Nenenk moyang itu beneran nenek-nenek?” Hehehe

  4. *OOT Lomba blog yang udah selesai, banner-nya diturunin aja, Mba. 🙂

  5. Susi says:

    Sudah baca serius… Endingnya maj jleger! Ngakak keras.
    Memangnya orang yg meninggal jadi hantu, ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s