What a Competition, that’s Life

Pada dasarnya hidup adalah kompetisi. Dalam hal apapun kita selalu berkompetisi. Termasuk juga dalam pekerjaan dan karir. Seorang teman penulis pernah berkata dalam twitternya, “If you say you can’t, believe me, there are people out there who say we can. Don’t be mad if they steal your job, they get your dream!”. Benar adanya. Dalam profesi apapun di dunia kerja, hal seperti ini sangat terasa. Kita menyebutnya kompetisi dunia kerja.

Seorang teman yang lain mengisahkan dalam BBM-nya ke sebuah grup alumni kampus beberapa waktu lalu. Ada dua orang pegawai bernama Joni dan Asep. Keduanya sama bekerja sebagai sales di sebuah perusahaan. Lama mereka bekerja juga sama. Tetapi pada kenyataannya, Asep lebih dulu naik jabatan sebagai sales supervisor dan kemudian manager, sementara karir Joni berjalan di tempat. Akhirnya Joni ingin mengajukan resign kepada pimpinannya dan sebelumnya protes karena pimpinannya hanya melihat prestasi Asep yang dianggapnya hanya pintar cari muka. Sementara di sisi lain, baik Joni maupun Asep adalah pekerja keras.

Dengan tenang, sang pimpinan menyuruh Joni mengecek tukang semangka yang berjualan di kios dekat kantor. Tak lama Joni datang dan melaporkan,”Ya, Pak, ada satu kios penjual semangka di dekat sini.”

“Berapa harga semangka satu kilo di situ?” tanya sang pimpinan.

“Sebentar, Pak, saya tanya dulu”, jawab Joni lalu bergegas pergi.

Tak lama, Joni kembali sambil melaporkan, “Seribu rupiah, Pak.”

“Oh”, sang pimpinan manggut-manggut. “Let’s see, saya akan tugaskan hal yang sama kepada Asep”.

Dengan waktu yang sama singkatnya, Asep kembali pada sang pimpinan dan melaporkan, “Ada satu kios semangka di dekat sini, Pak. Tempatnya lumayan bersih dan mereka hanya menjual semangka dan melon. Harganya seribu rupiah sekilo, tapi jika kita membeli di atas sepuluh kilo, harganya delapan ratus rupiah. Semangkanya didapat dari Indramayu dan dibawa ke tempat itu dua hari sekali. Buah semangkanya berrwarna hijau segar dan dagingnya merah lembut. Saya sudah coba tadi, rasanya manis dan segar. Oh ya, mereka punya stok dua puluh kilo, dan hanya mendisplay sekitar dua kilo saja.”

“See”, sang pimpinan berkata kepada Joni, “Itu alasan mengapa karir Asep lebih maju daripada kamu.”

Joni manggut-manggut. Dia urung resign dan ingin belajar pada Joni.

Sehubungan dengan kualitas pegawai, konversasi di atas jelas menunjukkan salah satu contoh pegawai yang bukan hanya pekerja keras, tapi juga cerdas dan punya inisiatif. Karakter seperti inilah yang akan digali dalam proses diklat dan training, salah satunya.

Secara singkat, karakter yang ingin didapat adalah karakter bintang. Bagaimana karakter bintang itu sebenarnya?

Afifah Afra dalam bukunya “…And the Star is Me” (Afra Publishing, Surakarta, 2007) merangkumnya dalam beberapa kriteria:

Yang terdekat yang menang

Matahari memang bukan bintang yang terbesar dalam jagad raya. Ia hanya bintang sedang dengan ukuran 1,989 x 10 pangkat 30 kg. Di jagad raya ada bintang yang ukurannya 150 kali matahari dengan cahaya yang berjuta-juta kali lebih terang. Tetapi mengapa matahari yang sinarnya sampai ke bumi, bahkan hingga malampun dia masih bisa ‘menitipkan cahayanya’ kepada bulan? Tentu saja karena matahari adalah bintang yang terdekat dengan bumi.

Seorang profesional yang memiliki kualitas tertentu akan dapat menafaatkan kualitasnya itu jika ia dekat dengan obyek yang membutuhkannya. Istilahnya the right man on the right place. Proses pendekatannya ini yang membutuhkan ketrampilan. Diantaranya melalui tampilan portfolio yang sebaik mungkin dan … penguasaan social media.

Bintang itu Penting

Bintang adalah sumber energi, contohnya matahari. Bintang, seperti matahari, adalah pusat sebuah sistem tata surya. Dalam kasus potensi pegawai, pegawai yang seperti bintang adalah dia yang ‘penting’. Dia punya kemampuan yang penting, yang bisa memberikan manfaat bagi instansi dimana dia bekerja. Dalam dunia profesional, dia juga trendsetter bukan follower. Artinya, dia kreatif dan inovatif, bukan pengekor. Orang seperti ini biasanya berbakat sebagai konseptor. Dalam kasus Joni dan Asep tadi, Asep adalah pegawai yang kreatif karena dia bisa mengembangkan sebuah perintah menjadi beberapa input yang memuaskan pimpinan.

Semua orang bisa menjadi bintang, karena semua manusia dilahirkan unik. Tapi ada banyak orang yang gagal menjadikan dirinya luarbiasa, karena banyak faktor. Salah satunya adalah lingkungan pekerjaan yang tidak mendukung, atau pekerjaan yang tidak sesuai passion.

Sebagai tambahan, karakter pemenang biasanya bersifat  inovatif, yaitu sebuah sikap yang selalu dapat melahirkan sesuatu yang baru (inovasi). Inovasi adalah proses kreativitas yang menghasilkan perubahan sehingga terjadi penambahan nilai dari sebuah produk/jasa (Sebastian, 2010).

Contoh adalah sistem waralaba yang pertama kali diadopsi oleh restoran terbesar, McDonald’s. Roy Kroc membeli Mc Donald’s Corporation tahun 1955 dan sukses mengembangkannya menjadi resto cepat saji terbesar di dunia. Rahasianya adalah dengan menerapkan sistem franchise. Konsepnya sederhana, dimana Kroc memberi kesempatan bagi masyarakat luas untuk memilki gerai McD dengan modal relatif murah dan risiko yang relatif kecil. Mereka tinggal menyediakan tempat dan mendesainnya sesuai dengan konsep McD, lalu menjalankannya dengan SOP dari manajemen McD. Sementara tim manajemen McD lah yang mensuplai bahan baku, mengadakan diklat untuk pegawai, melakukan riset dan pemasaran. Selanjutnya karena branding sudah ada, pembeli akan datang sendiri.

Sekarang, McD telah mempunyai ribuan gerai di lebih dari 65 negara. Mereka tetap terbuka terhadap inovasi baru. Pihak McD di Amerika Serikat misalnya, sangat menyambut inovasi dari McD Indonesia yang berinisiatif menyediakan menu ayam goreng (fried chicken) selain burger. Sekarang McD berhasil menyaingi KFC dan CFC yang sejak dulu menjadikan fried chicken sebagai menu utamanya.

“The world leaders in innovation and creativity will also be world leaders in everything else” (Harold R McAlindon).

FB_20150312_07_07_40_Saved_Picture

Pertanyaannya, apakah kita termasuk karakter bintang yang dimaksud? Kalau ya, berarti kita tinggal beberapa langkah menuju kemenangan. Semangaaat….

 

kalau anda senang membaca tulisan saya, mari lihat tulisan saya tentang Boneka Horta saya yang lucu di SINI

Advertisements

About ifaavianty1

A wife, mom of 3 sons, writer and author of about 70 books. Loves books, music, movies, cook, art n craft, history, rain, mall, coffee, tea, and pasta. Oh, and every genius :))
This entry was posted in inspirasi, life, psikologi, Uncategorized and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

16 Responses to What a Competition, that’s Life

  1. Moco Cerpen says:

    benar banget tuh,,hampir dalam segala sisi kehidupan pasti ada persaingan. hal itu dilakukan mungkin karena untuk meningkatkan kualitas kemampuan yang dimilikinya.

  2. PutriKPM says:

    Yes, setuju sama kutipannya. Emang sih, kadang kita ngelakuin apa keliatannya berhasil aja udah bangga banget. Padahal banyak orang lain yang jauh lebih berhasil tapi mereka diem – diem aja karena pandai mengamati dan cepat memahami. Suka sama tulisannya :’)

  3. “Pada dasarnya hidup adalah kompetisi. Dalam hal apapun kita selalu berkompetisi”
    yup, setuju banget sama kalimat di atas mbak,,

  4. Pemenang mengalahkan ego sendiri.

    Nice artikel, Mak. Inspirstif

  5. miyosi says:

    Kerennnn, Mbaaakkk 🙂

  6. miyosi says:

    kereennn, mbaa
    makasihhh ilmunyaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s