Belajar Filosofi Tari Jawa dari Gusti Noeroel

Menari bagi putera-puteri Mangkunagaran adalah suatu kewajiban. Menari mempunyai makna yang sangat mendalam, dimana seseorang belajar tentang kesabaran, konsentrasi, dan kelenturan tubuh dalam mengikuti iringan music dari gamelan untuk menggerakkan anggota tubuh. Melakukannya harus dari hati. Dengan berlatih menari, seseorang belajar menata kepekaan dan nuraninya.
Demikian Gusti Noeroel, yang berlatih menari sejak usia 6 tahun. Beliau menganggap menari, khususnya menari Jawa Mangkunagaran, bukan sekedar olah tubuh atau melestarikan tradisi, namun juga seni mengolah jiwa. Sebuah filosofi yang amat dalam.

gusti noeroel

Gusti Noeroel, sang puteri keraton Mangkunegara, di masa muda, tahun 1930-1940an.

Gerakan tari Jawa yang lemah gemulai mengajarkan seseorang untuk bersabar, bertutur lembut, dan berkonsentrasi tinggi, memadukan gerakan dengan irama gending. Semua dilakukan bersamaan dengan menggunakan kepekaan hati. Dengan menari, bukan hanya hati yang lebih terasah dan peka, tubuhpun menjadi sehat , karena seluruh anggota tubuh bergerak, termasuk otot perut dan pernafasan. Menari mengeluarkan banyak energy.
Gusti Noeroel mengalami gemblengan yang panjang dalam latihan dan aneka pementasan tari Jawa. Beliau sempat menari untuk menjamu Raja Siam dan tampil di acara pernikahan Puteri Juliana dan Pangeran Bernhard dari Belanda. Penampilannya selalu mendapat pujian. Itu semua karena beliau berdisiplin, focus, dan sangat menghayati filosfi menari Jawa, bukan sekedar menggerakkan anggota tubuh.
Gusti Noeroel menguasai berbagai jenis tarian Jawa Mangkunegaran dan Jogjakarta, lengkap dengan berbagai tekniknya, termasuk ngleyang. Ngleyang adalah salah satu contoh gerakan dalam tari Jawa yang biasanya ditempatkan di akhir tarian, dan membutuhkan penguasaan tingkat tinggi. Ngleyang merupakan gerakan khas tarian Jawa klasik untuk puteri dimana posisi tubuh penari dalam keadaan duduk di atas kaki yang dilipat ke belakang dan tubuh sangat condong ke belakang dengan kepala mengikuti gerakan tubuh dan kedua tangan lurus ke depan melakukan gerakan lembut. Ini merupakan klimaks dari sebuah tarian dan harus dilakukan dengan lentur.

serimpi

Tari Serimpi, foto dari riaratnawati.wordpress.com

Goesti Noeroel yang masih tetap cantik hingga di hari tuanya ini juga tak berpangku tangan setelah tidak menari lagi. Ia meneruskan ilmunya kepada puteri-puterinya dan membagikannya juga kepada generasi muda lewat biografinya “Gusti Noeroel, Streven Naar geluk, Mengejar Kebahagiaan”, yang ditulis oleh Ully Hermono. Dalam biografinya, beliau bercerita lengkap dan runut tidak hanya tentang kehidupannya sebagai puteri keraton Mangkunagaran, dan istri seorang militer dan diplomat, namun juga mengulas banyak tentang kecintaannya pada seni budaya Jawa, khususnya tarian dan perawatan kecantikan.

mangkunagaran

Keraton Mangkunegara di Solo

Sebagai perempuan Indonesia modern, buku ini wajib kita baca. Banyak filosofi tentang seni budaya Jawa yang patut kita teladani dan masih selalu terpakai dalam kehidupan sehari-hari. Jangan sampai kelak, anak cucu kita tidak faham sama sekali seni budaya dan filosofi nenek moyangnya. Ketika ramai digaungkan cinta budaya Indonesia dan menjadikan Indonesia sebagai daerah tujuan wisata, termasuk jawa Tengah, namun generasi mudanya jauh dari filosofi budaya itu sendiri, gerakan itu hanya akan menjadi gerakan kosong semata, tanpa ruh. Pada akhirnya gerakan itu hanya akan berhenti sebagai trend yang bersifat musiman. Sayang sekali bukan?
Gusti Noeroel baru saja meninggalkan kita di usianya yang ke 94, namun warisan ilmunya tentang filosofi seni budaya Jawa, khususnya tari Jawa, seharusnya tidak boleh hilang.

6 Banner Nov

 

Advertisements

About ifaavianty1

A wife, mom of 3 sons, writer and author of about 70 books. Loves books, music, movies, cook, art n craft, history, rain, mall, coffee, tea, and pasta. Oh, and every genius :))
This entry was posted in culture, inspirasi, Lomba blog, Uncategorized and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Belajar Filosofi Tari Jawa dari Gusti Noeroel

  1. Rani R Tyas says:

    Wah mendalam sekali beliau soal penghayatan tarian, tidak semua orang mampu melakukan apa yang beliau lakukan. Jadi tertarik mencari bukunya. Ulasan yg bagus dan sukses buat lombanya, btw aku juga ikutan loh hihihi 😀

    • ifaavianty1 says:

      Bukunya juga daleeem banget, mbak Rani. Ada di Gramed. Tapi memang sejak kecil saya suka denger kisah beliau ini dari Mama dan sering baca juga. Jadi udah lama kagum. Sayang belum sempat bertemu, beliau sudah wafat. Suksees ya mbak Rani utk lombanya 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s