Suatu Hari dalam Hidup Ze

Duduuuuul!

Saya manyun sambil menahan tangis. Hiks, hiks, hiks. Awas ya, gua bilangin sama si Zai luh, biar dikempesin ban angkotnyaaa! Saya mengomel seperti bebek lapar. Hanya dalam hati saja.

Dasar supir angkot tak punya perasaan sediikitpun.

Saya kembali menyeka keringat yang berleleran di dahi dengan lengan baju saya, yang entah kenapa, apes amat ya, warnanya putih. Ohoho, lihatlah noda coklat di sana sini, bak polkadot nggak penting dan nggak diundang. Sudah pasti Emak saya akan marah-marah. Sudah gadis hampir lulus SMA, masih jorok aja sih, Ze!

Saya kemudian memutuskan untuk tidak peduli apapun reaksi Mamah saya yang suka berteriak seperti The Drama Queen di Channel Vision Drama yang banyak menayangkan serial telenovela itu. Lebay abis.  Mata saya malah melotot seperti mata kodok bangkong dingdang sesaat menemukan buku piano saya, yang harganya lumayan mahal itu, tergeletak sembarangan di depan saya. Tergeletak pasrah di jalan. Huhuhuhu!

Dasar supir angkot dudullll!

Sebelah hati saya kembali ribut, kali ini yang berwarna putih, the angel’s side, sudahlah, Ze, jangan mengomel terus. Masih untung hanya buku piano kamu yang jatuh. Gimana kalau pianonya, coba?

Oh iya ya. Piano kan jauuuuh lebih mahal daripada bukunya.

Sambil menyusuri jalan menuju kompleks rumah saya, maksudnya rumah almarhum bapak saya dimana tinggal pula mamah dan kedua adik saya yang anehnya kurang lebih sama dengan saya plus beberapa penghuni (bukan hantu) kost-kost-an yang disewakan mamah, saya merenungi betapa apesnya nasib saya. Masih untung saya nggak ngusruk tadi. Huh!

Betapa sering dalam hidup saya, saya mengalami hal seperti ini. Kayaknya apa mungkin sedari lahir, di jidat saya sudah ada stempel: hanya bisa memberi, nggak boleh menerima. Ah, masak iya sih?

Soalnya sering sekali, saya hanya harus memberikan kewajiban saya, terus menerima haknya mah … kapan-kapan… kita bertemu lagi. Mungkin lusaaaa atau di lain hariiii. Idih, malah nyanyi!

Sambil mendekap buku piano saya yang berdebu, tiba-tiba saya merasa ada suara lagu yang saya kenal.

Aduh, itu ‘Perhaps Love’ nya John Denver duet sama Luciano Pavarotti. Eleuh, kapan yah saya bisa mengiringi kedua maestro itu berduet?

In your dream, Ze. Bukannya dua-duanya sudah meninggal?

Ya ampuuun, kenapa dia bunyi melulu sih?

Ih, itu kan message tone hp saya.

Igi Supigi.

“Jeje, si Alma kayaknya ngambek lagi. Bagaimana ini, kan perhatian saya udah cukup? Tulung, plizzzh”.

Ini lagi nih, penyakit kronis satu nih. Kenapa pacarnya ngambek mesti mengadu ke sini?.

Tapi tiba-tiba, separuh hati saya malah dengan sedih dan mellow-nya menyenandungkan ‘Skyscrapper’ nya Demi Lovato. Separuh hati saya itu menangis dengan sukarela, tanpa saya minta.

Kenapa yang ngambek itu Alma, bukan saya?

Wake up, Ze, si Alma itu PACARNYA IGI.

Iyaaaa, ngertiiiii. Maksudnya, kenapa yang jadi pacarnya Igi itu BUKAN SAYA?

Oh, stop, Ze. Kamu kan sudah janji tidak akan menangisi kekonyolan hubungan rumitmu dengan si Igi Supigi Luigi itu. Dan itulah takdir. Kalian hanya bersahabat, bukan berjodoh. Jadi inilah jalan takdir yang berikutnya.

Terus takdir saya mana?

Stop, Ze. Just stop.

Saya menendang sebuah kerikil di depan pintu pagar rumah. Seekor kucing, kucingnya si Zai yang namanya Dudut mengeong terkena batu itu di tubuhnya. Oh, plizzz deh. Saya suka kucing dan punya dua ekor kucing, Rex dan Nat. Tapi tidak suka Dudut. Bukan apa-apa, dia terlalu manja dan cuek seperti tuannya. Bisanya hanya  mencakar kaki saya kalau tidak diperhatikan. Beda dengan Rex dan Nat yang rapi, bersih, dan tidak manja apalagi galak. Maka saya hanya menjeling saja ketika Dudut menatap saya dengan marah.

Serampangan saya membalas sms si igi.

Emg guah pikirin?

Saya mendadak berpikir.

Terus terang, saya ngeri berkonflik dengan siapapun sebenarnya. Apalagi dengan Igi, sahabat saya selama berpuluh-puluh tahun.

Hapus.

Cb baikin aja dulu, Gi J

Benak saya melukis gambar seorang ibu peri atau Nymph (bidadari kecil yang hidup di hutan, pepohonan, dan tempat-tempat yang sejuk) sedang memetik harpa sambil bernyanyi merdu.

D’ya know who the angel is, ACTUALLY?

Make the standing applause,… here’s the angel and the nymph herself… Miss Zerlita. Yay!

Saya memutar masuk lewat samping, begitu melihat Kharisma si Zai sudah bertengger di carport berdampingan dengan Kijang Kapsul milik mamah. Malas saja ketemu si Zai. Ketemu dia mah sama aja bikin tambah rusak hari saya yang sudah rusak dari tadi. Kadang saya suka menyesali nasib, kenapa harus punya adik serese dia? Emangnya nggak ada stok lain selain dia?

Sialnya, di dapur saya menemukan Zai, adik saya, sedang membuka tutup tudung saji dengan ekspresi nggak makan tujuh hari. Huh! Pasti dia rese lagi. Kenyang saja rese, gimana kalau lapar?

“Udah pulang?”

Saya melengak. “Ya iyalah. Kan gua juga udah ada di sini. Emang gua hantu, apa?”

“Nyolot! Knapa? PMS?”

“Rese! Minggir. Gua mau bikin es kopi.”

Dia menjajari saya, dan melongok-longok dari belakang bahu saya. Please deh, jangan saja dia juga ikutan. Saya haus dan hanya ingin minum serta tidak mau amal saleh membuatkan dia minum juga.

“Bikinin satu ya?”

Saya mencibir. Tuh, kan, apa juga saya bilang tadi? “Bikin aja sendiri!”

“Lagian bukannya kamu hanya lapar dan tidak haus? Kenapa nyuruh-nyuruh bikin kopi juga?”

“Gue haus dan lapar, nona galak!”

“Tuh, makan dan minum sama si Dudut sana. Sekalian, gantiin whiskas-nya si Nat sama si Rex yang dihabisin sama Dudut. Dudut aja dikasih whiskas. Dia mah ikan cuek aja cukup!”

Zai menggerutu dengan gayanya yang menyebalkan. ”Udah galak, belagu, cerewet, tulalit, miskin, pelit pula! Pantesan gak ada yang mau sama teteh. Kang Igi aja ngabur, jadian sama cewek lain! Gue sih emang ilfil kalau sama orang model Teteh begini! Gak bisa dibanggakan!”

Apa? Coba ulangi Zai, KALAU BERANI…Tiba-tiba ada yang memalu kepala saya dengan godam sebesar rumah. Kepala saya hancur berkeping-keping. Juga hati saya. Berdarah dan bahkan hancur tak berbentuk.

Is it true?

Saya perlahan menghitung mundur, menunggu hati saya benar-benar mati dalam arti sebenarnya. Period.

Akibatnya, saya jadi urung membuat kopi. Saya hanya membalikkan badan dalam diam, dan berlalu dari hadapan Zai. Biar saja dia berpesta kemenangannya setelah menghancurkan hati saya.

“Teh… teteh…”

No. saya sedang tidak bisa diajak bicara. Apalagi oleh dia.

Sudah tahu kan, saya hanya galak di permukaan sama si Zai. Kalau dia membalikkan omongan saya hingga terdengar amat menyakitkan, saya tak akan pernah membalas. Saya adalah manusia dengan manajemen konflik yang sangat lemah.

Sumpah saya nggak percaya sama konsep inner beauty. Saya udah setengah mati membangun inner beauty saya, berharap ada satu oraaaang aja yang nyangkut dalam hidup saya. Hasilnya?

Not bad. Hanya Rex dan Nat yang hingga saat ini setia menjadi fans saya.

Coba hitung, berapa kali saya jatuh cinta.

Saya terdiam sejenak. Soalnya nama-nama mereka udah melegenda dalam hidup saya. Udah kayak hafalan sila-sila Pancasila. Kayak mantra. Kalo lagi bete, saya nyebutin, maksudnya ngabsenin, mereka satu satu. Masih hidup atau sudah anumerta?

Hup… tiga puluh kali jatuh cinta dan tiga puluh kali DIPERDAYA oleh mereka. Kok bisa? Bodoh kali kau! Kata si Yolla, sahabat saya, sesama guru piano, berteman dari kecil, waktu masih sama-sama suka ngabur manjat pohon belimbing  buat menghindari les piano.

Ya bodoh kali aku nih.

Saya jatuh cinta sampai mati sama mereka. Mereka malah menganggap saya sahabat, adik ketemu gede, atau ada juga yang menganggap saya sparring partner berantem. Memangnya saya ini petinju?

Dan sialnya, 90 persen dari my exes itu (holoooh) sekarang sudah jadian dengan pilihannya masing-masing yang nggak-gue-banget segala-galanya. Bagaikan mereka puteri raja, nah saya keset kakinya! Bageusss!

Apa saya, ya, yang ketinggian menerapkan standar kriteria ‘calon jodoh’ saya?

Ah, nggak ah. Average aja kok.

Taat agamanya (buat mengintakan saya bangun subuh, cakep/ganteng/enak dilihat, pinter, wangi (nggak bau keringat, yikes!), tinggi (soalnya saya too shorty, kasian kalo ntar suami saya pendek juga, ntar anaknya kayak kurcaci lagi), sudah bekerja (minimal bisa menghidupi saya dan anak-anak kami kelak) dan tidak melarang saya bekerja kelak, tidak gila balapan (saya benci Zai, salah satunya karena terobsesi menjadi pembalap apa saja, dari balap mobil, motor, bakiak, hingga balap karung!), dan satu lagi; kalau bisa music freak juga kayak saya.

Emangnya nggak ada, ya, satuuu aja, laki-laki yang memenuhi criteria itu di dunia ini yang juga MAU SAMA SAYA?

Saya masih saja si Ze yang kalau lagi bete berat gini, terus buka-buka file di si Leppie. Maap ya, ini rahasia, antar kita aja. Bukan apa-apa, itu file isinya gambar dan data cowok-cowok paling cakep sedunia, menurut saya, tentu saja. Mereka rata-rata public figure legendaries kok. Jangan pada ngeres ya. Saya hanya bengong aja menatap tu foto manusia-manusia keren bin charming.

Saya baru menyadari, kalau si Leppie masih dipinjam teman. Jadi? Ampuuuun!

Atau benarkah, sebab saya jutek dan payah, maka saya selalu sial begini?

Namun sesaat kemudian, mata saya melotot melihat sebuah amplop tergeletak manis di meja belajar. Amplop berwarna putih dengan kop salah satu lembaga pemberi beasiswa sekolah musik… Canada Music School.

Gegas saya membukanya. Ini impian saya sejak lama. Dan… saya memang tidak bisa berkata apapun, ketika…. saya tahu-tahu serasa terbang di langit ketujuh. Saya… DITERIMA KULIAH di sana. Di Canada. Beasiswa. menjemput masa depan….

Seketika saya tersungkur sujud. Runtuh dalam sesal dan bahagia. Maafkan saya, Tuhan. Maaf sebab saya selalu merutuki kesialan demi kesialan…. yang ternyata Kau membalasnya dengan ini….  rezeki-Mu selalu datang pada ruang dan waktu yang tepat….

Ilustrasi dari http://dearcats.blogspot.com

 

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen “Pilih Mana: Cinta Atau Uang?” #KeputusanCerdas yang diselenggarakan oleh www.cekaja.com danNulisbuku.com

Advertisements

About ifaavianty1

A wife, mom of 3 sons, writer and author of about 70 books. Loves books, music, movies, cook, art n craft, history, rain, mall, coffee, tea, and pasta. Oh, and every genius :))
This entry was posted in cerpen, fiksi, karya saya, Lomba blog, love, menulis and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

5 Responses to Suatu Hari dalam Hidup Ze

  1. yantist says:

    Mbak Ifaaaaa…. Kangen Ghina… Huhuhu… Si Zai masih rese aja.. 😀

  2. Gesang Sari Mawarni says:

    Wow…ciri tulisan Mba Ifa selalu metropop

  3. Gesang Sari Mawarni says:

    Bagus mbak, tulisanmu spesialis metropop ya…!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s