Siang Itu di Kenitu

Minggu siang kemarin itu, tumben belum turun hujan pukul dua padahal biasanya langit sudah gelap sejak pukul satu. Pak suami pingin menunjukkan salah satu tempat makan yang sering terlihat ramai dan kita belum pernah coba. Tampaknya harganya terjangkau karena bentuknya bukan semacam resto, tapi semacam food court di tepi jalan.

kenitu7

kenitu8

kenitu10

kenitu11

kenitu12

Namanya Kenitu, entah apa artinya ya, letaknya di Jalan Kahfi 2 tidak jauh dari Stasiun Commline Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Konsep food court dengan aneka menu memang bikin ngiler segera, ditambah penataan bangunannya yang cozy dan banyak atmosfir terbukanya. Eh, ada mushalanya juga. Lumayan bersih kok.

kenitu9

Teruus, menunya macam-macam banget seperti saya ceritakan tadi. Ada ayam bakar, aneka mie, dari mie instan hingga mie Jowo, masakan Arab sejenis nasi Kebuli dan Shawarma, menu praktis kayak spaghetti dan sandwich, nasi bakar juga ada. Nano nano banget deh.

Disepakatilah pesanan kami masing-masing. Pak suami pesan ayam bakar, saya nasi bakar teri, si sulung Akna nasi goreng hijau yang ada telurnya seperti di foto display, dan Ahya serta Bebeb mie Jowo. Minumnya es teh manis (what else my favourite?), dan pak suami pesan es selasih hijau, pingin coba juga ah.

kenitu6

kenitu5

Enggak pakai lama menunya datang. Ayam bakar nilainya 7. Mie Jowo nilainya 8.5. Si Ahya sampai bilang mau ke sini lagi dan pesan menu ini lagi. Heuuhhh bocah mie. Tapi nasi goreng hijau pesanan Akna ternyata small portion dan enggak ada telurnya. Nasi thok, seharga 20 ribu. Mahal sih jadinya, Kan enggak ada telurnya. Pak suami langsung panggil waiter nya. Ditanyalah dia, “Mas, di foto ada telurnya, kok di sini enggak ada?”

“Oh iya, Pak, itu Cuma di gambar aja,” jawab sang waiter polos.

“Lah kok bisa gitu? Mana porsinya kecil pula?”

“Habis boss-nya suruh begitu, Pak. Telurnya hanya ada di gambar”.

Pak suami langsung ngomong dengan nada lembut tapi tegas ke si mas waiter, “Wah ndak boleh gitu, Mas. Itu namanya nipu. Haram hukumnya. Yam as?”

Si mas waiter jadi salah tingkah dan mati gaya. “I-iya, pak, maaf ya pak”.

“Iya, jangan begitu lagi ya. Sampaikan sama boss-nya”.

Si mas waiter mengangguk dan melipir pergi. Sementara kami jadi meletakkan poin yang agak kecil terhadap tempat ini. Padahal keseluruhan menu lumayan.

kenitu 1

kenitu2

kenitu4

Ah iyaaa. Nasi bakarku datang agak lama. Tapi enggak apa-apalah, karena dia dapat nilai 8. Enak dan terinya tersebar merata, dengan rasa pedas yang sedang. Sejak saya tidak boleh makan pedas lagi, saya jadi galau campur parno kalau lihat cabe. Hadeeuuuhh.

Satu lagi, es selasih hijau nya nilainya 7, soalnya enggak manis sama sekali meski sirupnya hejo pisan. Hahaha enggak apa-apa kok. Yang penting itu tadi, soal tipu menipu enggak dia ulangi lagi.

Kalau soal harga sih tidak mahal, ya terjangkau lah. Makan berlima sekitar seratus sekian ya memang segitu kan, kalau di Jakarta? Hehehe…

Jadi… gimana, masih mau makan di situ lagi? Yaa tergantung lah, Tergantung yang traktir, maksud saya… wkwkwkw….

Advertisements

About ifaavianty1

A wife, mom of 3 sons, writer and author of about 70 books. Loves books, music, movies, cook, art n craft, history, rain, mall, coffee, tea, and pasta. Oh, and every genius :))
This entry was posted in food, lifestyle, review and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

7 Responses to Siang Itu di Kenitu

  1. mysukmana says:

    daerah LA ya..lenteng Agung, wah segitu klo dijakarta udah murah, klo disolo kemahalan kak hehe..aku naksir yang di bungkus ijo daun pisang bakaran it apa ya..pepes?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s