Kudus Membangun Karakter Masyarakat Lewat Wisata Sejarah dan Religi

Menyebut kota Kudus rasanya tidak lengkap tanpa menyebut objek wisata sejarah dan religi yang banyak terdapat di dalamnya, sebut saja makam Sunan Kudus, makam Sunan Muria, makam Sunan Telingsing, dan masjid Menara Kudus. Tidaklah mengherankan, sebab Kudus memang dikenal sebagai kota Wali, dimana para wali berkumpul untuk membangun Negara dan berdakwah mensyiarkan Islam di tanah Jawa. Adakah kira-kira nilai yang dapat diambil dari aiarah ke tempat-tempat tersebut?

Makam Sunan Kudus

Sunan Kudus dilahirkan dengan nama Jaffar Shadiq, merupakan putra dari Sunan Ngudung yang berasal dari Palestina, yang pernah menjabat sebagai panglima perang kesultanan Demak Bintoro dan Syarifah Dewi Rahil yang merupakan adik dari Sunan Bonang. Seperti juga ayahnya, Sunan Kudus pernah menjadi panglima perang Kesultanan Demak, dan pada masa pemerintahan Sunan Prawoto, ia menjadi penasehat Arya Penangsang. Beliau juga pernah menjadi hakim Kesultanan Demak.

Beliau melaksanakan dakwahnya salah satunya dengan sapi. Beliau mewasiatkan untuk mengganti kurban sapi dengan kerbau, untuk menghormati masyarakat Hindu. Dengan ini beliau mengajarkan masyarakat untuk menghargai pemeluk agama lain. Ia juga terkenal sebagai ulama yang sangat mencintai ilmu dan mau turun langsung melihat kondisi umat. Ia juga merupakan arsitek dari menara Kudus yang merupakan gabungan corak bangunan Islam dan Hindu, dan juga dilengkapi oleh Masjid Menara Kudus. Selain itu beliau juga dikenal memiliki kemampuan seni yang tinggi, seperti menggubah gending jawa “Mijil” dan “Maskumambang” serta berbagai cerita rakyat yang mengandung pesan ketauhidan dan pesan kearifan moral yang tinggi.

Puncak keramaian di makam Sunan terjadi pada tanggal 10 Syuro yang dikenal dengan upacara Luwur, yaitu upacara penggantian kain penutup makam. Peziarah yang hadir bisa mencapai ribuan orang, yang ditandai juga dengan pembagian nasi berbungkus daun jati dan lauk pauk daging kambing dan kerbau kepada masyarakat.

Foto dari https://ririsatria40.files.wordpress.com/2013/08/sunan14.jpg

Makam Sunan Muria

Nama aslinya adalah Raden Umar Said alias Raden Prawoto, merupakan putra dari Sunan Kalijaga dan Dewi Sarah. Berbeda dengan ayahnya yang banyak bertugas di daerah abangan, Sunan Muria lebih banyak bertugas di daerah Kudus. Beliau mendirikan pesantren di daerah utara, atau lereng gunung Muria. Beliau memilih berdakwah di daerah terpencil karena menganggap hidup di kota lebih banyak cobaannya. Tapi beliau justru menemukan tantangan dakwah tersendiri di daerah Muria.

Metode dakwah yang beliau laksanakan adalah memberikan kursus mendalami agama Islam kepada berbagai kalangan pekerja (petani, nelayan), dan rakyat jelata. Selain itu beliau juga mengajarkan banyak ketrampilan kepada murid-muridnya ini, sehingga mereka tidak hanya mendapatkan ilmu agama, tetapi juga ketrampilan. Beliau juga menggubah tembang jawa “Sinom” dan “Kinanthi”. Salah satu cara dakwahnya yang lain adalah, dengan memasukkan dan menggantikan mantra-mantra yang digunakan dalam upacara-upacara tradisional dengan ayat-ayat Al Quran dan shalawat Nabi serta doa dan zikir yang sesuai dengan ajaran Islam. Dengan cara penyampaian yang bijak, ini dapat diterima oleh masyarakat tanpa perselisihan.

Foto dari https://ifaavianty1.files.wordpress.com/2015/11/5400d-img_1511.jpg  http://ristantosumarsono.blogspot.co.id/2012/11/tour-de-walisongo-menuju-makam-sunan.html

Makam Sunan Telingsing

Sunan Telingsing biasa dikenal sebagai Kyai Telingsing, merupakan guru dari Sunan Kudus. Masyarakat meyakini bahwa Sunan Telingsing datang lebih dulu ke Kudus daripada Sunan Kudus. Makamnya terletak 2 kilometer dari masjid Menara Kudus, tepatnya di daerah Sunggingan. Di sini dimakamkan juga istri dan putra beliau.

Sunan Telingsing adalah putra dari Sunan Sungging, seorang ulama Arab yang berdakwah di Cina. Ialah yang menyarankan Sunan Telingsing untuk berdakwah di Jawa khususnya di Kudus. Di kota inilah ia kemudian bertemu dengan Sunan Kudus dan berdakwah bersama-sama. Ia juga yang memberikan ide pada Sunan Kudus untuk menggantikan kurban sapi dengan kerbau. Jika ada kesulitan dalam masalah dakwah, Sunan Kudus biasa berkonsultasi dengan Sunan Telingsing. Ciri khas dakwah beliau adalah dakwah penuh kasih sayang yang merangkul semua kalangan, tanpa kekerasan.

Karakter arif dan bijaksana milik para Sunan inilah yang sejatinya dapat diwariskan kepada seluruh masyarakat Kudus dan pengunjung objek wisata tersebut, sehingga dapat membentuk dan membangung karakternya sehingga menjadi manusia yang lebih arif dan cinta perdamaian. Kudus membangun, bukan hanya sarana fisiknya saja, namun juga membangun karakter masyarakatnya dengan mengambil kearifan local dari ketiga tokoh mulia tersebut.

referensi

Ulung, Gagas, “Wisata Ziarah”, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2013

Arif, Masykur, “Sejarah lengkap Wali Sanga”, Dipta, Jogjakarta, 2013.

#KudusMembangun

Advertisements

About ifaavianty1

A wife, mom of 3 sons, writer and author of about 70 books. Loves books, music, movies, cook, art n craft, history, rain, mall, coffee, tea, and pasta. Oh, and every genius :))
This entry was posted in islamic, Lomba blog, sejarah, travelling and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s