Cirebon Kota Cerdas Sejak Dulu

Cirebon adalah salah satu daerah tujuan wisata yang sedang berkembang cukup pesat sekarang ini di Jawa Barat. Banyak objek wisatanya yang tengah populer seperti keraton Kasepuhan dan Kanoman, Cibulan dengan misteri Ikan Dewanya, Masjid Agung Cirebon dan masih banyak lagi. Kota Cirebon terus membenahi dan mempercantik dirinya dan sedang giat menuju Smart City, sebuah konsep yang menunjukkan dinamisasi pembangunan dan perkembangan kehidupan warganya. Namun tahukah anda bahwa sebenarnya sejak dulu Cirebon telah menunjukkan dirinya sebagai smart city, kota cerdas?

Pertama, di kota Cirebon terdapat dua keraton sekaligus, yaitu keraton Kanoman dan keraton Kasepuhan. Kedua keraton ini memiliki cirri khas bangunan arsitektur ala Belanda, Cina dan Islam sekaligus, dan menyatukannya dalam bentuk yang indah. Kedua keraton menghadap ke utara, selalu dikelilingi oleh masjid, pasar, alun-alun, dan patung macan yang melambangkan sosok Prabu Siliwangi yang merupakan tokoh sentral terbentuknya atau berdirinya kota Cirebon. Patung macan ini biasanya terletak di halaman depan atau di taman yang banyak dilewati masyarakat. Ciri khas lain adalah selalu adanya piring porselen Cina yang ditempel di dinding keraton, dan ada juga beberapa piring yang diperoleh dari Eropa ketika Cirebon pernah menjadi pusat perdagangan dengan Negara-negara Eropa di pulau Jawa.

Hal ini menunjukkan bahwa di masa lalu pernah ada dua kerajaan yang artinya dua pemerintahan yang memerintah di wilayah yang sangat berdekatan dengan damai dan tanoa perselisihan, kedua warganya hidup tentram tanpa saling berselisih. Artinya, di masa lalu kedua kepala pemerintahan di kota Cirebon sudah piawai mengatur warganya sehingga dapat hidup berdampingan dan bahkan bekerja sama mengusir penjajah. Ini menunjukkan kecerdasan kedua kepala pemerintahan tersebut.

Seperti zaman sekarangpun, warga masyarakat tentu amat bahagia dan nyaman dipimpin oleh pimpinan yang cerdas dan bijak menangani setiap permasalahan yang dialami masyarakat.

Keraton Kasepuhan

Keraton Kasepuhan adalah keraton yang merupakan pusat kesultanan Cirebon, dimana pernah bertahta para pendiri kota Cirebon. Keraton ini dikelilingi bata merah dan di dalamnya terdapat pendopo. Keraton ini memiliki sebuah museum yang berisi benda-benda pusaka dan lukisan-lukisan koleksi kesultanan. Juga di sini disimpan kereta Singa Barong yang merupakan kereta kencana Sunan Gunung Jati, yang sekarang tidak lagi dipergunakan dan hanya dikeluarkan pada saat upacara-upacara tertentu., misalnya pada tanggal 1 Syawal untuk dimandikan.

kasepuhan

Keraton Kanoman

Keraton Kanoman didirikan pada tahun 1678 oleh Pangeran Muhammad Badriddin atau Pangeran Kertawijaya yang bergelar Sultan Anom I. Keraton ini juga masih memegang tradisi dan pakem leluhur seperti Upacara Grebeg Syawal yang dilaksanakan seminggu setelah Idul Fitri dan berziarah ke makam leluhur, diantaranya ke Makam Sunan Gunung Jati di desa Astana, Cirebon Utara. Di keraton ini juga terdapat benda pusaka seperti dua kereta bernama Paksi Naga Liman dan Jempana yang berbentuk seperti Buraq yaitu hewan yang digunakan oleh Nabi Muhammad saw untuk melaksanakan perjalanan Isra Mi’raj.

kanoman

Sebenarnya masih ada satu keraton lagi, yaitu Keraton Kacirebonan, yang banyak menyimpan benda pusaka seperti Keris Wayang sebagai perlengkapan perang dan gamelan. Keraton ini berada di wilayah kelurahan Pulasaren, kecamatan Pekalipan, tepatnya 1 km sebelah barat daya keraton Kasepuhan dan kurang lebih 500 meter sebelah selatan keraton Kanoman.

Cirebon jelas merupakan kota yang sangat penting dalam perkembangan Islam di pulau Jawa, khususnya di Jawa Barat, dimana tokoh sentralnya yaitu Sunan Gunung Jati berdomisili. Kecerdasan dan kearifan Sunan Gunung Jati dalam menyiarkan agama Islam di Jawa Barat ini sudah seharusnya diwariskan dan diteruskan semangatnya oleh semua warga Cirebon hingga kini. Spirit ulama dan tokoh masyarakat seperti Sunan Gunung Jati harus selalu dilahirkan dalam setiap generasi dari kota ini.

Kedua, di Cirebon terdapat Taman Air Sunyaragi yang merupakan tempat pengaliran air dengan teknologi yang canggih pada masanya. Air mengalir diantara teras-teras tempat puteri raja bersolek, halaman rumput hijau tempat ksatria raja berlatih, dan menara serta kamar istimewa yang pintunya terbuat dari tirai air, menambah kesejukan.  Coba itu, zaman itu sudah terpikir teknologi pengaliran air yang menjangkau setiap wilayah kan keren banget.

Ketiga, di Cirebon terdapat masjid Agung Sang Cipta Rasa yang dibangun pada tahun 1498 oleh Wali Sanga atas prakarsa Sunan Gunung Jati. Pembangunannya dipimpin oleh Sunan Kalijaga dengan arsitek Raden Sepat (dari Majapahit) bersama dengan 200 orang pembantunya (tukang) yang berasal dari Demak. Mesjid ini dinamai Sang Cipta Rasa karena merupakan pengejawantahan dari rasa dan kepercayaan. Penduduk Cirebon pada masa itu menamai mesjid ini Mesjid Pakungwati karena dulu terletak dalam komplek Keraton Pakungwati. Sekarang mesjid ini terletak di depan komplek Keraton Kesepuhan. Menurut cerita rakyat, pembangunan mesjid ini hanya dalam tempo satu malam; pada waktu subuh keesokan harinya telah dipergunakan untuk shalat  Subuh.

masjid agung cirebon

Cobaaa itu, membangun keraton dalam waktu satu malam, pasti butuh kecerdasan dan kerjasama tim yang luar biasa.

Sebetulnya masih banyak lagi bukti bahwa Cirebon memang sudah menjadi kota atau wilayah cerdas pada zamannya, dimana pemimpinnya cerdas lagi bijak, warganya juga memiliki toleransi tinggi hingga bisa hidup berdampingan dengan kerajaan-kerajaan tetangga dengan aman dan damai.

Kinipun Cirebon tidak ketinggalan untuk menuju kota yang lebih cerdas lagi. Pembangunan dilaksanakan di hampir semua titik kota, termasuk pembangunan fisik yang menunjang kemajuan, termasuk kemajuan pariwisatanya. Diantaranya adalah Aston Hotel Cirebon yang megah dan bernuansa metropolis, yang siap menampung wisatawan dalam dan luar negeri yang ingin menikmati keindahan kota Cirebon dan jajak-jejak masa lalunya.

Selain itu, kota Cirebon juga terus meningkatkan sarana nonfisik-nya untuk menunjang sarana fisik seperti peningkatan akses telekomunikasi, dibuktikan dengan telah beroperasrinya jaringan 4G di kota udang ini. Eh, Smartfren 4G LTE sudah bisaaaa bangeeet diaktifkan dan digunakan di Cirebon, langsung dengan akses internet tanpa batasnya dan kecepatannya yang luar biasa, menembus batas. Jelas ini menambah semangat teman-teman Blogger Cirebon untuk lebih eksis mempromosikan kota Cirebon tercinta ke seluruh jagad perbloggeran.

Kayaknya Cirebon wajib jadi salah satu tujuan wisata nih tahun ini. Ehh… saya juga orang Cirebon lho, mama saya berasal dari sini. Jadi kalau ke Cirebon, ya saya bukan sekedar berwisata, tapi juga pulang kampung, menemukan kembali salah satu rumah dimana saya berasal.

Uhuyy banggaaa deh jadi salah satu keturunan Cirebon, the smart city since ages ago….

Referensi:

Wikipedia

http://weare-thomson.blogspot.co.id/2011/12/7-tempat-bersejarah-di-kota-cirebon.html (termasuk foto)

Cirebon Smart City 300

Advertisements

About ifaavianty1

A wife, mom of 3 sons, writer and author of about 70 books. Loves books, music, movies, cook, art n craft, history, rain, mall, coffee, tea, and pasta. Oh, and every genius :))
This entry was posted in culture, Lomba blog, sejarah, travelling and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

5 Responses to Cirebon Kota Cerdas Sejak Dulu

  1. mysukmana says:

    Keren ya.kyk bandung bondowoso..1 mlm.peninggalan sejarah ternyta bnyk ya..

  2. josatambunan says:

    keren, ga ada habisnya kalo bahas Cirebon. sayang potensinya tidak di maksimalkan

  3. Pingback: Peserta Lomba Blog 2015 “Cirebon Menuju Smart City” | RIZKI ABDILLAH

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s