(Un)perfect to be the real perfection

Saya berteman dengan beberapa survivor kanker. Kanker apa saja. Terbanyak adalah kanker payudara, kanker rahim, dan kanker getah bening. Dari mereka saya belajar banyak sekali. Dan pelajaran itu bukan tentang kesedihan. Justru pelajaran tentang kehidupan, kekuatan, dan kebahagiaan yang saya dapatkan. Dari mereka, saya belajar bahwa kesempurnaan seorang perempuan bukanlah dari lahiriahnya semata, namun kekuatan menerima segala bentuk ketidaksempurnaan itu yang menjadikan perempuan begitu sempurna.

Mungkin sudah banyak teman-teman blogger yang berkisah tentang pengalamannya sebagai survivor kanker, terutama kanker payudara, dan saya di sini hanya mencoba melengkapi beberapa hikmah dari teman-teman saya, para survivor kanker payudara, yang moga-moga bisa diambil sarinya untuk kita resapkan di dalam hati dan kehidupan kita.

Dengan kanker payudara, saya menemukan sahabat sejati

Ini kisah Alvi, seorang perempuan dengan payudara tunggal setelah pengangkatan organ itu beberapa tahun lalu. Ia memang berasal dari keluarga yang dititipi gen kanker. Neneknya meninggal karena kanker serviks setelah melahirkan anak ke sepuluh. Alvi sendiri sempat shock dan down begitu mengetahui dirinya terkena kanker payudara. Namun ujiannya memang tidak berhenti di situ. Dia bercerai dengan suaminya yang kemudian menikah lagi dengan perempuan lain, dan tak lama kemudian ibunya meninggal dunia. Tak punya seorangpun sebagai tempat curhatnya, Alvi justru menemukan kedekatan dengan Tuhan. Ia pergi umrah dan pulang dengan jiwa yang lebih fresh. Ia siap menghadapi kenyataan bahwa payudaranya harus diangkat.

Meski hari-harinya kemudian, tak seindah yang dia bayangkan bahwa dia bisa tegar dan lebih mandiri, Alvi berusaha keras men-sugesti dirinya bahwa Tuhan sayang padanya dalam banyak cara yang kadang dia sendiri tak faham. Maka dia memang memutuskan untuk menjemput setiap kasih sayang Tuhan dengan jalan bersedekah. Tanpa dia sangka, dalam keadaan seperti itu, dia menemukan sahabat sejati yang setia men-support-nya, meski Alvi kini sudah jauh berbeda dengan masa lalu. Alvi kini jauh lebih kurus, ringkih, dan terpuruk secara ekonomi karena uang dan hartanya habis digunakan berobat. Sahabat setianya adalah para asisten rumah tangganya yaitu pembantu dan supirnya. Mereka berdualah yang menemani Alvi dalam ups and downs selama pengobatan, merekalah yang menerima dan membantu merawat Alvi, mereka yang menerima Alvi apa adanya. Sementara kedua anak Alvi masih kecil dan berada dalam asuhannya.

Bersama kedua sahabat sejatinya, Alvi menikmati kehidupannya yang baru, yang jauh lebih sederhana, jauh lebih sehat (setelah dia beralih ke terapi herbal), jauh lebih hangat dan nyaman. Dia sudah tidak peduli lagi bagaimana kehidupan mantan suaminya, kerabat dan teman-temannya yang pergi menjauh setelah dia divonis kanker dan mengalami kebangkrutan. Dalam syukurnya, Alvi menyebut bahwa salah satu hikmah kanker yang ia dapatkan adalah teman sejati yang tidak disangka-sangka.

cancer1

Ilustrasi dari http://uploads2.wikiart.org/images/william-merritt-chase/portrait-of-a-lady-in-pink-aka-lady-in-pink-portrait-of-mrs-leslie-cotton.jpg

Kanker Payudara membuat saya makin dekat dengan Tuhan

Yang ini kisah Aisyah, sebut saja demikian, yang juga sudah menjalani operasi pengangkatan payudara. Aisyah sebelumnya menjalani kehidupan yang tak sereligius namanya. Bahkan menurutnya, ia bisa shalat satu kali dalam sehari saja sudah bagus. Ia larut dalam kesuksesannya di dunia karir dan menikmati hidup melajang hingga usia di atas 30an.

Suatu kali, ibunya memintanya mempertimbangkan lamaran seorang laki-laki yang masih kerabat jauh.  Seorang duda yang ditinggal meninggal oleh istrinya, penderita kanker payudara. Karena ngeri mendengar cerita si calon suami, Aisyah jadi teringat sesuatu yang selama ini kurang ia perhatikan. Ia sering merasa nyeri di payudara kanannya. Dia menjadi panic ketika saat melakukan Sadari, ia menemukan benjolan kecil yang tak biasa di sana.

Tanpa membuang waktu, esoknya Aisyah segera periksa ke rumah sakit langganannya. Dan hasil dari serangkaian pemeriksaan yang dijalaninya adalah, benar, ada kanker di payudara kanannya. Stadium 1. Namun sudah cukup membuatnya lemas dan shock. Kondisi ini sekalgs membuatnya drop secara mental. Dalam kelemahannya, ia justru sering curhat kepada Tuhan, yang selama ini sudah cukup jauh ditinggalkannya.

“Kenapa saya, Tuhan? Kenapa saya yang justru akan menikah ini?”

“Tuhan, saya mungkin enggak kuat dengan ini semua. Tolong sudahi saja semuanya”.

“Tuhan, saya tidak tahu harus bagaimana lagi…”

Curhat intens-nya dengan Tuhan, stadium kankernya yang terus meningkat, ternyata mendekatkan dirinya pada dimensi lain kehidupannya. Dia kembali melaksanakan shalat wajib, bahkan ditambah dengan shalat sunnahnya sekalian. Ia mencoba puasa sunnah semampunya.

Allah tidak tidur. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, sang calon suami melamarnya dan menikahinya sebulan kemudian. Bersama sang suami, ia menjadi lebih kuat. Sang suami juga yang menyemangatinya untuk menjalani pengangkatan payudara. Mereka berdua kemudian travelling ke beberapa tempat untuk membantu menaikkan semangat Aisyah. Perlahan, Aisyah bisa menerima kenyataan bahwa dirinya kini hanya punya satu payudara, tapi berkat kedekatannya dengan Tuhan dan semangat dari suaminya, ia merasa terlahir kembali sebagai seorang traveler yang menemukan banyak kebesaran Tuhan di tempat-tempat yang ia kunjungi.

cancer2

Ilustrasi dari http://cdn2.hellogiggles.com/wp-content/uploads/2013/12/30/shutterstock_123462682-500x375c.jpg

Sebetulnya masih banyak lagi kisah yang ingin saya bagi, tapi nantinya khawatir terlalu panjang dan jadi buku tersendiri deh. Dua hikmah ini saja sudah cukup bagi kita untuk sama-sama meyakini, kanker payudara bukanlah akhir kehidupan, bukanlah ujung dari ketidaksempurnaan seorang perempuan. Justru dari sanalah, seorang perempuan baru terlahir kembali. Seorang perempuan yang telah menjalani metamorfosa kehidupan untuk menjadi lebih sempurna dalam kekuatan dan ketabahannya. Semangaaaat!

#finishthefight #goPink #breastcancerawareness

finish the fight REV

Advertisements

About ifaavianty1

A wife, mom of 3 sons, writer and author of about 70 books. Loves books, music, movies, cook, art n craft, history, rain, mall, coffee, tea, and pasta. Oh, and every genius :))
This entry was posted in life, Lomba blog, love, perempuan, sikap and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to (Un)perfect to be the real perfection

  1. Ada begitu banyak kisah insipiratif yang mudah-mudahan bisa membantu kita mendapat manfaat dan belajar lebih banyak lagi mengenai hidup ini. Memang seringkali penyakit yang kita derita menjadi start awal untuk hidup yang lebih baik.

    Thanks for joining my GA #finishthefight #gopink #breastcancerawereness

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s