Kuliner Betawi Unik di Sudut Jakarta : Rumah Makan H. Nasun

November datang, Alhamdulillah, bersama hujan yang membasahi Jakarta. Saatnya berburu kuliner hangat sari-sari pedas. Makanan Manado? Masakan Padang? Wah, sepertinya masih terlalu pedas buat saya yang lagi disuruh dokter pantang makan yang pedas-pedas, setelah sebelumnya saya adalah jagonya makan pedas. Lagipula, siang itu saya lagi pingin makan sesuatu yang unik, yang belum pernah saya coba, dan rasanya akan terus tinggal dalam ingatan. Wah berat juga ya….

Melintasi jalan Muhammad Kahfi II Jagakarsa, pojok Jakarta Selatan, suami bilang pernah  dia berangkat menuju stasiun Lenteng Agung hendak ke kantor, dia melihat ada rumah makan Betawi yang tampak ramai dikunjungi orang. Masakan Betawi? Wah boleh juga, pikir saya. Asal jangan semur jengkol dan lalap pete, saya oke saja tuh. Maka kami mencari mana warung makan yang dimaksud.

nasun1

Daftar Menu. Terjangkau kok, makan berlima habis 125 ribu …

nasun2

Suasana rumah makannya

Di tepi jalan Muhammad Kahfi di sebelah kanan, kalau dari arah Depok, ada sebuah warung makan bercat biru dengan type khas masyarakat Betawi. Rumah makan H. Nasun namanya. Tempat parkirnya tidak terlalu besar, demikian juga ketika masuk ke dalam rumah makannya. Meja dan kursi khas Betawi ditata cukup apik dan memberikan ruang yang cukup lega untuk makan satu keluarga satu meja.

Melihat daftar menu yang tertempel di dinding, ada ikan gurame dan gabus yang dimasak pecak dan pucung. Penasaran deh sama Gabus Pucung yang memang merupakan masakan khas Betawi ini. Maka kami memesan menu nasi putih dan gabus pucung, ditambah gurame pecak. Saat itu jam sudah menunjukkan hampir adzan ashar, jadi menu sudah cukup banyak yang habis. Memang, menurut mpok yang melayani kami, rumah makan ini biasanya buka jam 9 pagi dan jam 2 siang sudah habis menunya, alias sudah tutup. Laris benerrr.

Pesanan makanan kami sudah datang, ditambah minuman es teh manis dan es jeruk. Dan… ternyata yaa…. Uenaaaaak benerrr. Habis tak bersisa dalam waktu kurang dari setengah jam. Kuah pecaknya memang agak pedas, tapi segar. Yang best choice-nya juara banget ya si Gabus Pucung, yang ternyata pucung itu adalah keluak. Jadi ini semacam rawon ikan deh gitu. Tapi kalau rawon kan kuahnya cenderung encer, nah ini agak pekat. Ya kayak semur ikan tapi dibumbui keluak dengan rasanya yang dominan. Segar dan bikin nagih.

nasun3

gabus pucung yang nagih itu…. 

Uniknya, makan di sini feels like home bangeeet…. Ibaratnya lagi capek-capek terus langsung masuk kamar di Hotel Grand Zuri BSD gituh… seperti di rumah sendiri. Nyaman. Ya, makan di Rumah Makan H. Nasun juga nyaman. Tidak hanya rasanya yang nagih, juga keramahan khas masyarakat Betawi yang bikin betah. Pemilik dan pekerjanya yang orang Betawi asli memang tidak segan-segan ngobrol sama kita, para tamu. Keramahan tulus yang menjadi keunikan di tengah atmosfir metropolitan sekarang ini. Salah satu keunikan Jakarta Corners alias sudut-sudut Jakarta yang masih memberi ruang bagi karakter asli penduduk Betawi yang tak lekang digerus zaman. Bagi saya pribadi, makan di sini serasa makan di rumah sendiri…

Selalu ada cerita di setiap sudut Jakarta, bukan hanya kemegahan kehidupan malam dan dinamisnya kehidupan warganya, namun juga sisi-sisi asli kehidupan dan karakter warga Betawi adalah warisan budaya yang tak boleh hilang. Yuk, jelajahi sudut lain Jakarta, siapa tahu ketemu yang unik-unik model H. Nasun ini. Betul-betul sarana refreshing dari kehidupan akhir minggu warga urban yang biasanya lekat dengan mall. Unforgettable place.

Yes, mungkin sama tak terlupakannya dengan kesan  menginap di Hotel Grand Zuri BSD dalam makna yang berbeda. Sayang banget saya kelewatan momen peluncuran Jakarta Corners di Hptel Grand Zuri BSD kemarin yaaa…. hikss…

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Blog Jakarta Corners yang disponsori oleh Hotel Grand Zuri BSD City

Advertisements

About ifaavianty1

A wife, mom of 3 sons, writer and author of about 70 books. Loves books, music, movies, cook, art n craft, history, rain, mall, coffee, tea, and pasta. Oh, and every genius :))
This entry was posted in culture, food, kuliner, lifestyle, Lomba blog and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s