Balada Leha dan Helm AngryBird

foto dari http://www.ceriwis.com/forum/f232/1253805-helm-angry-bird-bekasi/

“Pokoknya Leha minta helm nyang gambar burung merah, Mak”

“Burung merah apaan sih, Leha? Emak kagak ngarti!” jawab emaknya tidak kalah keras dengan suara anak gadis ABG-nya barusan.

“Emak mah kagak kekinian orangnyaa. Burung merah ntuuu…. Angrybird, maaak”

“Ah au ah. Gua kata gua kagak ngarti. Tanya babeh lu sono!”

Ahahaha. Aku nyengir. Kalau sudah berurusan denganku, si Leha pasti tidak berani. Nyalinya langsung ciut. Bukan apa-apa, anak itu terlalu manja. Kesayangan emaknya alias istriku. Maklum kami harus menunggu sekian lama setelah menikah untuk mendapatkan anak. Ya si Leha itu. Kebetulan dulu waktu baru lahir, dia penyakitan sampai beberapa kali harus rawat inap. Istriku yang masih percaya sama dukun, bahkan sempat membawanya ke Mak Jenab, dukun sembur di kampung sebelah. Aku ingat, aku sampai meringis menahan geli dan mual ketika Leha yang masih bayi disembur mak Jenab yang mulutnya bau jengki alias jengkol. Aku sih memang putra Betawi asli, tapi enggak suka jengkol. Entahlah, mencium baunya dari jarak jauh saja sudah bisa membuatku mual tak terkira.

Balik lagi ke soal Leha. Beranjak SD barulah kesehatannya membaik. Kata dokter, ada vlek di paru-parunya. Mungkin karena pengaruh kipas angin yang sepanjang malam on di kamar kami. Ternyata juga Leha anak yang cukup pintar dan berbakat. Setiap tahun dia langganan juara kelas dan beberapa kali juara lomba macam-macam, dari lomba cerdas cermat, baca Quran, hingga balap karung. Tambahan pula, ia cukup cantik. Tidak seperti emaknya yang kulitnya tidak putih, Leha berkulit cerah dan bersih seperti emakku, neneknya.

Dan… ternyata Tuhan memang menakdirkan Leha adalah satu-satunya anak kami. Enggak heran, emaknya sayang sekali padanya. Semua permintaan Leha selalu diupayakan untuk dikabulkan, meski tak jarang mereka berdua berdebat enggak ada habisnya. Belum lagi debat dari malam hingga pagi antara aku dan istriku, biasanya kalau istriku melobi aku sehubungan dengan suatu keinginan anak tercintanya.

Bukan aku tidak sayang pada anakku semata wayang. Tapi aku hanya tidak mau ia tumbuh menjadi anak manja. Bagiku yang hanya bekerja sebagai supir pribadi ini, hidup adalah kerja keras. Tidak ada yang bisa didapat begitu saja, semua harus melalui perjuangan. Sementara istriku berpendapat, kami Cuma punya anak satu, nanti dia dibawa suaminya, mumpung masih tinggal bareng kami, dia harusnya menikmati fasilitas sebagai anak tunggal. Dia tidak boleh makan susah, putus istriku. Ya tapi mau enggak susah bagaimana caranya? Masa aku harus merampok bank dulu biar si Leha enggak hidup susah? Selain takut dosa, aku takut hidup kami malah tambah susah kalau aku dipenjara lantaran melakukan perbuatan jahat itu.

Itulah yang selalu jadi bahan pertengkaran tak berujung antara aku dan istriku. Dan entah apa yang dia omongkan pada si Leha, setiap kali anak itu punya keinginan dia tidak pernah berani mengungkapkannya langsung kepadaku.

Seperti soal helm AngryBird ini. Sebetulnya bukan semata masalah helm-nya. Berapa sih harga helm? Tapi di balik itu, ada keinginan terselubung dia yang bagiku jelas banget terlihat. Anehnya ini tidak terbaca oleh emaknya. Atau pura-pura tak terbaca? Enggak jelas deh nih.

Aku pernah secara tak sengaja menangkap pembicaraan Leha dengan sahabat-sahabatnya, sesama murid kelas 10 Aliyah tempatnya bersekolah, Elya, Ening, dan Ade. Ketiganya anak orang berada dan pergi ke sekolah bawa motor sendiri. Hanya Leha yang masih dibonceng emaknya, kadang naik angkot atau nebeng sama salah satu dari temannya itu.

“Emang gampang enggak sih, El, belajar motor?” Tanya Leha sewaktu ketiga temannya itu mengerjakan tugas sekolah di rumah. Ketika itu aku sedang istirahat karena kurang enak badan. Jadi aku kebetulan bisa mendengar suara mereka ngobrol dari balik dinding kamarku.

“Gampang banget tauuu. Lu mah bisa kali cepet”, jawab Elya.

“Ah gue malah sekali belajar langsung bisa” celetuk Ening.

“Iya, Ha, lu doang ini yang kagak bawa motor ke sekolahan. Geng nya si Erma tuh, si Echa, Icha, Tyas, sama Isna juga pada bawa motor. Tyas malah pernah bawa mobil babehnya”, Ade memanas-manasi.

Kupingku berdiri kayak kelinci. Enak aja tuh bocah. Keadaan dan kondisi tiap keluarga kan beda-beda. Boro-boro mobil. Motor saja kreditnya belum lunas….

“Lah Tyas mah kagak usah diomong. Pan dia mah orang kaya, De. Nah elu pada juga kan punya motor. Gue?”

“Ya lu minta beliin lah sama babeh lu”

Ini siapa ya yang ngomong? Belum pernah makan bakiak dari besi apa ya?

“Ssst… lu ngapa pake berteriak sih? Babeh gue ada. Lagi tiduran dari tadi pusing.”

“Hahaha. Sorry deh, Ha. Ya maksud gue lu bisa pinjem kali motor babeh apa enyak lu”

“Minjem? Lah kalau kagak dikasih?”

“Ah eluuu. Matematik aja jago, beginian lu tanyain. Ya elu usaha dong, jangan sampe gue yang turun tangan nih ngelobiin”.

Astaga. Anak sekarang lain ya sama anak zaman dulu. Emang siapa lu mau ngelobiin orang tua si Leha? Aku mendadak tambah pusing. Dari dapur kudengar istriku bersenandung fals “Pusing pala Berbie … pusing pala Berbie… ah ah ah….”

Dalam hatiku meledek sebal, elu mah bukan Berbie, tapi bebek.

Aku berpikir. Anak-anak rese ini mesti dikasih pelajaran. Belum tau dia siapa babehnya Leha? Jagoan beksi merangkap bekas preman pasar Cinere.

Melawan pusingku, kuikatkan sarung di pinggang sambil bangkit dari kasur. Kubuka gerendel pintu dan daun pintu yang sudah seret itu. Kreeekkkk.

“EHM…EHM…” Deham si Pitung kuperdengarkan.

Anak-anak rese itu saling berpandangan sebelum sama-sama mengangguk kompak dan berseru dengan kompak pula. Entah kapan mereka berlatih. “Eh babeeeh. Kirain tadi tidur, Beh”.

“Kagak. Pusing gue dengerin lu pada kayak bebek laper”, jawabku kalem tapi pedas.

Aku beringsut ke dapur meminta kopi pada istriku. Tak lama kudengar mereka rebutan pulang, Hahaha, bisa kutebak. Setelah itu Leha ngambek, mogok keluar kamar tapi tidak mogok makan. Mana tahan dia?

Malam ini aku kaget. Itu helm AngryBird tergeletak manis di meja depan tivi. Siapa ini yang membelikan? Dengan kesal kupelototi burung merah menyebalkan itu. Eh, dia sepertinya balas menertawakan aku. Babeh mah kagak kekinian, seakan kudengar dia meledek. Sekali lagi kupelototi dia. Kalau dia hidup pasti sudah kuslepet dia biar mati dan dagingnya kugoreng.

Aku segera memburu istriku yang sedang asyik menjahit di kamar.

“Nih, gue lagi jahitin baju lu. Kancingnya pada copot”, katanya tanpa diminta.

“Kagak nanya. Gue yang mau nanya, itu helm jelek siapa yang beliin? Elu? Kan gue kata kagak boleh”

“Et lu nanya apa nuduh sih? Tanya ama anak lu tuh. Si Ening yang beliin…”

“Bagus dah. Lumayan mahal harganya. Terus dia mau boncengan motor saban hari?”

“Enggak tau gue. Enggak nanya”

“Lah kok bisa lu enggak curiga? Jangan-jangan dia mau pinjam motor lu atau motor gue?”

“Lu jadi bapak curigaan mulu sama anak sendiri sih?’

Yaah, ngajak berantem dia. Dengan kesal kubanting pintu kamar. Aku mau tidur di mushala saja. Menemani marbot, bang Nasim dan bang Nur.

Dua hari aku tidak pulang, Majikanku meminta diantar ke Bandung. Lumayan padat acara mereka di sana, membuatku agak kurang istirahat. Sesampainya di rumah, aku ingin tidur agak lebih lama untuk mengembalikan stamina.

Tapi sampai di rumah, aku curiga. Kemana Vario-ku? Sementara itu, Mio istriku ada terparkir santai lengkap dengan hijab eh kerudungnya.

Di dapur ada istriku sedang memasak. Segera setelah dia mencium tanganku, aku bertanya, “Motor gue mana, Sar?”

Dalam keadaan serius aku memanggil nama istriku, Sarah. Sementara dalam percakapan sehari-hari aku cenderung tidak memanggil namanya.

Kulihat ada panik di wajahnya. “Ntu… ntu, Bang…”

“Ntu apa? Cepetan!”

Dia ragu-ragu menjawab, sebelum akhirnya keluar kalimat yang kutakutkan, “Di///dibawa Leha, Bang,… ke Ragunan….”

Astaga! Si Leha belum bisa bawa motor. Umurnya belum delapanbelas dan belum punya SIM. Kalau ada apa-apa sama dia bagaimana?

Rasanya sudah ingin kumaki istriku, namun aku terlalu lelah. Aku hanya membanting ulekan yang ada di depanku tanpa sadar. Untung tidak kena kakiku atau kaki istriku. Tak kupedulikan istriku menangis tersedu-sedu, kukunci pintu kamar. Aku lelah sekali.

Tepat adzan ashar, ketika aku bersiap shalat jamaah di mushala, ada telpon berdering. Segera kuangkat karena sejak tadi aku tak tenang. Aku khawatir ada apa-apa dengan Leha.

Di ujung sana, kudengar isak tangis yang kuhafal. Leha.

“Kenapa, Ha? Ada apaaa?”

“Beh, maafin Leha, Beh… Leha di kantor polisi”.

“Astaghfirullah… kenapa lu? Kena razia? Pan gue bilang, lu SIM kagak punya, bawa motor belum bisa, pake minta helm”.

“Beh, Leha nabrak anak orang….”

“Astaghfirullah…. Gimana ceritanya, Leha?’

Badanku lemas tak terkira ketika kudengar cerita lengkapnya. Ya Allah, gara-gara helm AngryBird. Tadi Leha pergi ke Ragunan bareng Elya, memakai motor masing-masing. Di Ragunan, helm Leha ketinggalan, sehingga dia memutuskan balik, sementara Elya terus pulang. Leha teringat dia tidak menggunakan helm dan takut ditilang polisi, apalagi dia tidak punya SIM. Selain itu dia memang sayang sekali pada helm AngryBird-nya.

Supaya cepat, Leha mengambil jalan pintas, yaitu mengendarai motornya berlawanan arah karena belum terlalu jauh dari Ragunan. Di sinilah akibat dari kecerobohannya, dia menabrak seorang anak SD yang sedang jalan kaki bersama ayahnya. Anak itu luka-luka tapi ayahnya tidak terima dan membawa perkara ke kantor polisi setelah si anak diobati di puskesmas terdekat.

Dan kini… aku yang harus berurusan dengan kantor polisi. Betul-betul mengesalkan! Gara-gara helm AngryBird, kami kena sial. Oh bukan. Gara-gara melanggar peraturan, sekarang aku yang harus mempertanggungjawabkan perbuatan anakku….

Sebelum meninggalkan mushala selesai ashar berjamaah, aku sempat berpesan kepada beberapa temanku,  “Jangan kasih anak di bawah umur bawa motor, emosinya belum stabil. Dia gampang sekali memutuskan untuk melanggar peraturan yang berakibat membahayakan nyawa orang, Untung si Leha kagak sampe bikin tuh bocah meninggal…”

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen ‘Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan.’ #SafetyFirst Diselenggarakan oleh Yayasan Astra-Hoda Motor dan Nulisbuku.com

Print

Advertisements

About ifaavianty1

A wife, mom of 3 sons, writer and author of about 70 books. Loves books, music, movies, cook, art n craft, history, rain, mall, coffee, tea, and pasta. Oh, and every genius :))
This entry was posted in cerpen, fiksi, lifestyle, Lomba blog and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s