Sayangi Orang Utan dan Gajah, Stop Makan Gorengan!

Ini siapaaa yang nulis blog post kayak gini? Kok ya enggak ada hubungannya? Apa coba hubungannya sayang orang utan dan gajah sama makan gorengan?

Jangan nggrundhel dulu. Ngomel, menggerutu, bikin vibrasi negative yang muncul. Yuk kita Tanya dulu sama ibu cantik pemilik blog ini, apa maksudnya dia bikin judul blog posting seperti ini? Mungkinkah dia sedang sakit panas dalam sehingga menghentikan dulu makan cemilan kesukaannya yaitu gorengan?

Oh, ternyata ibu Naga cantik sang pemilik blog ini mengeluarkan pernyataannya yang ditulis di blognya sebagai berikut.

Sungguh, saya serius dengan judul blog post ini. Sebab saya sayang orang utan dan gajah, sama seperti saya sayang kucing, kelinci, kambing, sapi, bebek, dan semua hewan yang ada di muka bumi, kecuali kecoak, lalat, nyamuk, kutu dan sebangsanya. Saya prihatin sekali bahwa keberadaan mereka di muka bumi ini, terutama di hutan-hutan Indonesia kini terancam. Terancam oleh siapa?

Terancam oleh tukang gorengan dan para pecinta gorengan garis keras seperti saya, diantaranya. Lohh kok? Padahal sumpah deh, saya tidak pernah segitu garis kerasnya membunuhi gajah dan orang utan karena takut mereka merebut jatah gorengan saya. Bukan itu maksudnya….

Sekarang saya Tanya, kita menggoreng tahu, ubi, singkong, tempe, dll itu pakai apa? Pakai penggorengan, sutil, dan minyak goreng, bu. Pinterrr. Minyaknya dari mana? Ya yang umum minyak goreng dibuat dari kelapa sawit bu. Nah. Nah. Nah.

Dari mana datangnya cinta kelapa sawit? Sama sekali bukan dari mata turun ke hati, apalagi dari senyum turun ke kantong. Mari kita perhatikan data berikut ini.

Minyak kelapa sawit ternyata adalah minyak yang paling laris diantara semua minyak vegetables. Yang tadinya pada tahun 2000 Cuma 20% demand terhadap minyak kelapa sawit, meningkat jadi 65% di tahun 2006. Sekarang? Ya pasti lebih meningkat lagi. Apalagi makin banyak saja penggunaan minyak kelapa sawit. Enggak Cuma buat menggoreng tahu isi yang isinya tahu, tapi juga untuk tambahan ingredients dalam lipstick, shampoo, es krim, dan sekarang ada lho biofuel dari minyak kelapa sawit.

Parahnya, untuk memenuhi permintaan pasar yang segitu banyaknya, para industrialis melakukan ekspansi kemana, coba? Yes. Ke hutan-hutan tropis yang dianggap potensial. Ini terjadi di Indonesia, Malaysia, beberapa Negara Asia lainnya, juga di Amerika Latin dan Amerika Selatan. Haduuuh.

Indonesia merupakan produsen terbesar minyak sawit dan turunannya. Pada 2008 saja laba dari penjualan 17,4 juta ton minyak sawit mencapai 6,8 juta dollar US. Sektor perkebunan sawit juga sukses menyumbang 8 milyar dolar US dari total nilai ekspor Indonesia dan mempekerjakan 3 juta orang pada 2007.

Berdasarkan data dari Indonesia Palm Oil Advocacy Team tahun 2010, ada 10 juta hektare lahan di Kalimantan yang merupakan “rumah” bagi orangutan telah berubah menjadi perkebunan kelapa sawit.

Orangutan, baik spesies Sumatera maupun Kalimantan, berada dalam status konservasi yang sangat terancam. Berdasarkan status yang diberikan oleh Lembaga Konservasi Satwa Internasional IUCN, Orangutan Kalimantan dikategorikan spesies genting (endangered),sedangkan Orangutan Sumatera lebih terancam lagi karena masuk kategori kritis (critically endangered). Kedua spesies tersebut juga terdaftar dalam Apendiks l dari CITES (Convention on International Trade in Endangerd of Wild Species of Fauna and Flora) atau Konvensi Perdagangan Internasional  Satwa dan Tumbuhan Liar Terancam Punah. Artinya, orangutan–termasuk bagian tubuhnya–tidak boleh diperdagangkan di mana pun di dunia.

Pada 1993 diperkirakan jumlah orangutan di Indonesia dan Malaysia turun 30-50 persen dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir, sementara habitatnya menyusut 80 persen dalam kurun waktu 20 tahun terakhir. Menurut para pakar orangutan, saat ini diperkirakan populasi mereka di Indonesia hanya tersisa 60.000 individu yang tersebar di Kalimantan dan Sumatera. Untuk Orangutan Sumatera, diperkirakan populasi yang ada tinggal sekitar 7.000- 11.000 individu.

Sementara itu 70% kematian gajah disebabkan diracun oleh pemilik kebun sawit, gajah-gajah ini dianggap hama karena memakan umbut (ujung) dari pohon sawit. Terlebih jika sawit ini sudah memasuki tahap panen? Terbayang kerugian yang dialami oleh petani sawit. Pastinya mereka mengambil jalan mudah dengan cara meracun gajah, bukan mengusir.

Habitat dan populasi Gajah Sumatera (Elephas maximus) mengalami penurunan drastis. Sekitar 70% habitatnya hilang atau rusak hanya dalam satu generasi (25 tahun) sejak 1985. Sebanyak 23 kantong populasi gajah pun mengalami kepunahan lokal pada periode tersebut, yang sebagian besar berada di Lampung dan Riau.

Pada periode itu juga, penurunan populasi paling drastis terjadi di Riau, terdokumentasi lebih dari 80%. Perhitungan terakhir untuk seluruh Sumatera dari perkiraan beberapa pegiat konservasi baik dari anggota Forum Konservasi Gajah Indonesia dan staf pemerintah dari instansi terkait dalam sebuah lokakarya awal 2014, diperoleh angka sekitar 1.700 ekor gajah yang tersisa di seantero Sumatera. Jumlah ini, bahkan dianggap over-estimate atau berlebih, sehingga perlu pengecekan lapangan. Padahal, perkiraan pada 2007, populasinya masih berkisar 2.400 – 2.800 individu.

Jadi bagaimana dong, masa enggak boleh makan gorengan sama sekali karena kasihan sama orang utan dan gajah? Tenaaang, di sinilah perlu adanya kesadaran untuk Beli Yang Baik. Apa tuh Beli Yang Baik?

Semua yang kita beli dan konsumsi berpengaruh banget terhadap diri kita dan lingkungan. Jadi kalau kita membeli produk-produk yang dihasilkan tanpa merusak atau membahayakan lingkungan, berarti kita juga telah membantu menjaga keselamatan bumi serta seisinya, juga keselamatan dan kebaikan kita serta anak cucu kita kelak.

Salah satu Caranya, dengan membeli produk sawit berlogo RSPO, atau sawit yang sudah mendapat sertifikasi “halal” dari pembantaian orangutan. Minyak sawit yang sudah mendapat sertifikasi RSPO ini mengatur segala hal, termasuk jika di dalam kebun industrinya ada populasi orangutan maka harus diadakan penelitian terlebih dahulu terhadap “kantong-kantong” orangutan dan membentuk HCV (High Conservation Value Forest), atau hutan dengan nilai konservasi tinggi. HCV akan menghindari hutan dikonversi menjadi perkebunan.

RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil), yaitu merupakan asosiasi nirlaba yang menyatukan para pemangku kepentingan dari tujuh sektor industri minyak sawit – produsen kelapa sawit, pemroses atau pedagang kelapa sawit, produsen barang-barang konsumen, pengecer, bank dan investor, LSM baik LSM pelestarian lingkungan atau konservasi alam, maupun sosial.

Dengan adanya logo ini, dijamin produk-produk minyak sawit yang keluar dari produsen yang sudah memegang sertifikasi RSPO ini aman dari pembunuhan gajah.

Yuk, dimakan gorengannya, sudah pakai minyak kelapa sawit RSPO kok. Sertakan doa juga untuk kelestarian hidup orang utan dan gajah ya, dan semua hewan di hutan…

Referensi tulisan:
http://www.beliyangbaik.org/
http://www.rspo.org/consumers/about-sustainable-palm-oil
http://www.wwf.or.id/?41042/Berikan-Orangutan-Kemerdekaan-dari-Kebun-Sawit-Tak-Lestari
http://www.wwf.or.id/?40922/Suka-Makan-Gorengan-vs-Pelestarian-Gajah
http://wwf.panda.org/what_we_do/footprint/agriculture/palm_oil/
http://wwf.panda.org/what_we_do/footprint/agriculture/palm_oil/solutions/roundtable_on_sustainable_palm_oil/

Advertisements

About ifaavianty1

A wife, mom of 3 sons, writer and author of about 70 books. Loves books, music, movies, cook, art n craft, history, rain, mall, coffee, tea, and pasta. Oh, and every genius :))
This entry was posted in life, Lomba blog and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Sayangi Orang Utan dan Gajah, Stop Makan Gorengan!

  1. jtxtop1 says:

    saya sudah melakukan tips poin 2 dan 3 untuk point 1 menyusul ,

  2. bbksdasu says:

    Reblogged this on bbksdasu_news.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s