Kearifan Lokal Masyarakat Samin Bojonegoro Sebagai Guru Kehidupan Masa Kini

Banyaknya nilai-nilai kehidupan masa kini yang dianggap telah jauh dari akar tradisi dan kearifan local, seringkali dibarengi dengan kekhawatiran terkikisnya karakter bangsa secara umum. Seperti budaya gotong royong yang kini tidak lagi populer di masyarakat urban yang sudah banyak bersikap individualistic, meski tidak semua. Belum lagi nilai-nilai kejujuran, menghormati orang yang lebih tua, dan sikap berani menegakkan kebenaran.

Sesekali ada kalanya kita perlu mencari lebih dalam nilai-nilai kearifan local itu dari masyarakat yang masih belum banyak tersentuh gaya hidup modern. Seperti masyarakat Samin misalnya. Masyarakat Samin tinggal di dusun Jepang, salah satu dari 9 dusun di desa Margomulyo yang berada di kawasan hutan seluas 74,733 Ha. Dengan kendaraan, lama perjalanan dari ibu kota Kabupaten Brojonegoro adalah sekitar 2 hingga 2,5 jam.

Masyarakat Samin terdiri dari kebanyakan orang-orang tua yang gigih berjuang melawan pemerintah colonial Belanda. Dulu ada gerakan yang dikenal dengan nama Gerakan Saminisme yang dipelopori oleh Ki Samin Surosentiko. Mereka menolak membayar pajak kepada pemerintah Belanda, tidak mau bekerja sama, dan tidak mau menjual serta memberikan hasil bumi kepada pemerintah penjajah.

Prinsip dasar gerakan ini adalah sami-sami amin (bersama-sama) yang dilandasi oleh kekuatan, kejujuran, kebersamaan, dan kederhanaan. Sampai kinipun, sikap hidup tersebut berhasil diwariskan kepada keturunan mereka. Hal ini tercermin dari gaya hidup yang sederhana, bekerja keras, rajin berdoa, berpuasa, dan berderma kepada sesama. Mereka senantiasa diajarkan untuk seiring dalam sikap lahir dan batin, sabar, nrimo, rilo (rela) dan trokal (kerja keras). Sikap tidak mau merugikan orang lain diungkapkan dengan sepi ing pamrih, rame ing gawe. Mereka juga menanamkan sikap berhati-hati dalam berbicara yang dituangkan dalam ajaran ojo waton ngomong, ning ngomong kang maton.

Sekarang, dusun Jepang dianggap memiliki prospek sebagai Objek Wisata Budaya, melalui paket Wisata Homestay. Dalam paket ini, wisatawan bisa mengikuti dan menikmati suasana dan gaya hidup masyarakat Samin.

Asal Mula Samin

 

samin3

Foto by Kompasiana.com

Keturunan Ki Samin yang masih hidup bernama Mbah Hardjo Kardi, yang hidup bersama istri dan tujuh anaknya. Ia merupakan cicit dari R Surontiko yang bergelar R. Suryowijoyo. Kini Mbah Hardjo Kardi-lah yang dianggap masyarakat Dusun Jepang sebagai pemimpin. Mbah Hardjo menuturkan asal muasal Samin bermula dari masa R. Surontiko.

Surontiko alias R. Suryowijoyo, sejak kecil dididik oleh orang tuanya, RMA Brotoningrat yang masih keturunan raja, untuk mengenal lingkungan kerajaan. Ia merasa prihatin melihat penderitaan rakyat yang dijajah Belanda. Dalam hatinya ia ingin sekali meninggalkan kerajaan dan berbaur dengan rakyat jelata untuk berjuang melawan penjajah. Setelah dirasa cukup waktunya, ia benar-benar pergi meninggalkan semua kemewahan kerajaan.

Ia memulai gerakannya dengan merampok harta orang-orang kaya untuk dibagikan kepada rakyat miskin. Mirip kisah legenda Robin Hood di sini. Pada tahun 1840, ia mendirikan perkumpulan pergerakan pemuda yang dinamai Tiyang Sami Amin, yang artinya bersama-sama membela Negara. Di dalam pergerakan ini, anggotanya diajari sikap luhur yang kemudian terus diwariskan kepada seluruh keturunannya.

Suryowijoyo memperluas daerah kekuasaannya hingga ke perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah sekarang, yaitu desa Ploso kabupaten Blora. Di Blora ini pergerakan dipimpin oleh putranya yaitu Ki Samin Anom.

Ajaran inti Ki Samin mengandung 5 saran yaitu:

  1. Kehendak yang didasari usaha pengendalian diri.
  2. Dalam beribadah kepada yang Maha Kuasa, harus menghormati sesama makhluk.
  3. Selalu mawas diri, melihat ke dalam batin dan menyelaraskan dengan lingkungan.
  4. Sikap dalam menghadapi bahaya atau bencana adalah yakin bahwa itu merupakan cobaan dari Yang Maha Kuasa.
  5. Berpegang kepada budi pekerti.

Ki Samin Anom memiliki seorang putri bernama Paniyah yang dinikahkan dengan Suro Kidin. Mereka memiliki 9 putra, salah satunya bernama Ki Suro Kamidin, yang memiliki 4 anak, yang salah satunya adalah Mbah Hardjo Kardi.

Hingga tahun 1970, masyarakat Samin hidup terisolasi dan bahkan mereka baru tahu kalau Indonesia sudah merdeka. Mereka sendiri lebih suka disebut wong sikep, karena samin kadang memiliki konotasi negative. Di luar masyarakatnya, mereka dikenal sebagai orang-orang yang polos, jujur, dan menolak pajak, sayangnya pula, mereka sering dijadikan bahan lelucon.

Masyarakat Samin kini

samin1 

Foto by Boombastic.com

Pada umumnya masyarakat Samin tidak mewajibkan sekolah, mereka tidak memakai peci, hanya memakai iket seperti semacam kain yang diikatkan di kepala, mengenakan celana selutut, tidak mau berdagang (karena mereka menilai berdagang masih memiliki unsur ketidakjujuran), tidak mau mencatatkan nikahnya di KUA dan tidak berpoligami, perempuannya mengenakan kebaya lengan panjang dengan sarung hingga betis atau mata kaki, dan mereka anti terhadap segala bentuk kapitalisme.

Menurut orang Samin, agama adalah senjata atau pegangan hidup. Mereka tidak membenci agama apapun, karena yang penting bagi mereka adalah tabiat atau sikap. Mereka juga yakin jika orang yang sudah meninggal itu tidak meninggal, hanya sekedar ganti baju saja. Dalam mata pencaharian, mereka menolak berdagang karena ada unsur ketidakjujuran, sama seperti halnya mereka juga menolak menerima sumbangan dalam bentuk uang. Mereka juga memiliki ‘kitab suci’ yang bernama Serat Jamus Kalimasada yang isinya adalah petuah dalam bentuk puisi dalam bahasa Jawa.

Orang Samin tidak mengenal tingkatan bahasa seperti masyarakat Jawa pada umumnya, mereka hanya menggunakan bahasa ngoko. Namun seperti halnya masyarakat tradisional Indonesia, masyarakat Samin sangat senang saling berkunjung meskipun letak rumahnya berjauhan. Menurut mereka, pernikahan dianggap sah meski yang menikahkan hanya orang tua pengantin.

Dalam mata pencarian bertani, mereka memanfaatkan alam, seperti kayu, secukupnya saja. Mereka menganggap tanah sebagai ibu mereka, yang memberi mereka penghidupan dan kehidupan. Mereka mengolah lahan berdasarkan musim yang ada.

Pemukiman mereka berada dalam deretan rumah-rumah yang terbuat dari kayu jati dan bamboo, dengan luas yang relative besar berbentuk joglo atau limasan. Ruang tamu menempati porsi yang luas, sementara kamar mandi dan sumur terletak agak jauh dan biasanya digunakan untuk beberapa keluarga. Penempatan hewan ternak di luar atau di samping rumah.

Mereka biasa melakukan upacara nyadran (bersih desa) yang dilakukan sekaligus dengan menguras sumber air pada sebuah sumur tua. Masyarakat Samin juga sudah mulai tersentuh perkembangan zaman, yang ditandai dengan mulai menggunakan pupuk kimia, dan peralatan rumah tangga dari plastic dan logam.

Demikian dapat kita amati banyak nilai kearifan local yang perlu kita pelajari dan teladani dari orang Samin. Cara terbaik adalah dengan ikut menikmati kehidupan bersama mereka selama beberapa waktu. Diharapkan setelah itu, nilai-nilai dan alam kehidupan mereka mampu me-refresh pikiran dan jiwa kita sehingga kita lebih tercerahkan lagi.

Perlu kiranya pemerintah kabupaten Bojonegoro dan pemerintah provinsi Jawa Timur melakukan upaya-upaya yang lebih giat lagi dalam menjadikan Dusun Jepang sebagai objek wisata budaya unggulan. Disamping itu perlu pula melakukan pendekatan lebih intens dengan masyarakat Samin sebagai ‘tuan rumah’. Semoga manfaat adanya objek wisata ini dapat dirasakan dengan baik oleh semua pihak.

Kita? Yuk, rame-rame datang ke Dusun Jepang. Saya juga mauuu.

Referensi :

Id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Bojonegoro

Id.wikipedia.org/wiki/Ajaran_Samin

http://ayokjalan2.blogspot.co.id/2014/01/masyarakat_samin_bojonegoro_jawa_timur.html?m=1

Lomba Ngeblog Bojonegoro 2014

Advertisements

About ifaavianty1

A wife, mom of 3 sons, writer and author of about 70 books. Loves books, music, movies, cook, art n craft, history, rain, mall, coffee, tea, and pasta. Oh, and every genius :))
This entry was posted in culture, inspirasi, life, Lomba blog, sejarah and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s