Please Adopt Don’t Shop

Saya adalah pecinta kucing, yang sayangnya, dari dulu sampai sekarang tidak bisa memelihara kucing di rumah. Selalu ada saja penyebabnya. Terutama karena saya alergi bulu kucing. Sayang banget kan? Makanya saya selalu terharu dan sekaligus iri pada teman-teman yang memelihara kucing di rumahnya dan sekaligus menyayangi makhluk lucu itu sepenuh hati.
Banyak teman saya yang memelihara kucing setelah membelinya dengan harga yang cukup mahal di petshop. Biasanya ini jenis kucing ras tertentu. Tapi tidak kurang pula banyaknya yang memelihara kucing karena rumahnya sering didatangi kucing liar yang merasa feel like home di rumah itu karena sang empunya begitu tulus rasa sayangnya kepada kucing-kucing itu.

Jeng-Nad1
Yang jarang adalah yang memelihara kucing dengan setulus hati, sekaligus menyediakan rumahnya sebagai tempat untuk merawat kucing-kucing terlantar yang sakit atau yang menjadi korban kekejaman manusia atau hewan lain. Ini yang dilakukan seorang ibu rumah tangga yang juga berbisnis MLM dari rumah, yang berhati mulia. Ibu Nadia Meutia, namanya. Ibu Nad memelihara banyak kucing ‘kampung’ di rumahnya, dan semuanya diperlakukan dengan sangat baik. Dikasih nama lucu-lucu kayak Rosie Pope, Tequilla Pope, Moku-Moku Pope, Mountain Dew Pope, Bimbim alias Bima Sakti Pope (yang baru saja pergi untuk selamanya karena sakit), dan masih banyak lagi. Beberapa diantara kucing-kucing tersebut ditemukan Ibu Nad (atau yang biasa menyebut dirinya Mama Nad di depan kucing-kucingnya) atau temannya, dalam keadaan sakit parah. Seperti kasus Bimbim yang ditemukan dengan luka-luka mengerikan di kaki dan wajahnya akibat tumor dan semacam penyakit kucing. Beberapa waktu yang lalu, ibu Nad juga menemukan seekor kucing yang merupakan korban tabrakan yang menyebabkan kaki kucing itu pincang.
Hebatnya lagi, ibu Nad menyediakan dana dan anggaran untuk kucing-kucing itu, termasuk dana untuk mereka cek ke dokter hewan (vet), untuk makannya, dan perawatan lainnya. Enggak heran, kucing-kucing yang tadinya tak terurus itu, setelah tinggal di rumah ibu Nad, berangsur sehat dan cantik.

kucing bu nad
Dan…kucing itu hewan yang tahu balas budi. Mereka juga sangat menyayangi Mama Nad-nya dan dengan bahagia melibatkan diri dalam aktivitas sehari-hari Mama Nad. Saya sih melihatnya sebagai hubungan saling menyayangi setulus hati antara manusia dan hewan. Dan ini… unconditional love lho.
Bagi saya, sosok Ibu Nad adalah salah satu contoh local hero yang mengabdikan dirinya untuk kelangsungan hidup kucing. Mungkin kita sering menyaksikan di TV kabel siaran tentang grooming the pet atau program-program khusus tentang menolong dan merawat hewan di luar negeri. Di Indonesia ternyata ada, salah satunya Ibu Nad.
Kayanya keren deh kalau My Republic mengetengahkan program Made for Minds dengan mengangkat sosok bu Nad dengan kucing-kucingnya. Konsep Smart TV tentu saja tidak hanya mengedepankan hiburan, berita, dan hiburan yang sehat dan cerdas, namun juga mengangkat sosok-sosok yang bisa mencerahkan jiwa penontonnya. “Please adopt, don’t shop”, begitu pesan beliau, sebab kucing bukan untuk diperjualbelikan secara tidak manusiawi.
Bagi yang ingin melihat lebih jauh sosok Bu Nad bisa jalan-jalan ke sini yaaa…

Advertisements

About ifaavianty1

A wife, mom of 3 sons, writer and author of about 70 books. Loves books, music, movies, cook, art n craft, history, rain, mall, coffee, tea, and pasta. Oh, and every genius :))
This entry was posted in life, Lomba blog, love and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Please Adopt Don’t Shop

  1. Vindy Putri says:

    baru saja saya sayang-sayangan sama puspus. Tapi kalau saya kudu 1 atau paling banyak pelihara 2. Kalau banyak, saya takut gak bisa ngerawat. Jadi kasihan mereka. Lebih baik dihibahkan ke temen yg sanggup. Meski punya kucing hanya satu, sekitar rumah ya banyak yang mampir rumah. Jadi berasa punya banyak hahaa.. bedanya mereka keluyuran.

  2. anneadzkia says:

    Anak-anak pecinta kucing, tapi emaknya takut kucing. Akhirnya demi anak si emak sedang menyembuhkan diri sendiri supaya bisa menerima kucing. Karena si anak-anak gak sabar pgn segera punya kucing ;-).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s