Hijab Nyaman di Hati itu aman di Mata dan aman di Kantong

Saya mengenakan hijab sejak tahun 1989, tepatnya tanggal 5 Agustus 1989. Hari pertama kuliah di Universitas Indonesia. Kepinginnya sih sudah dari tahun 1986, waktu baru masuk SMA. Tapi zaman itu kan, belum banyak siswi sekolah umum yang berhijab, jadi belum diizinkan secara resmi. Di kampus-kampus juga saat itu belum banyak yang berhijab dan kadang-kadang jadi sasaran tindakan kurang menyenangkan.

Saya termasuk salah satu yang pernah mengalami. Waktu kasus jilbab beracun, setiap pulang dan pergi kuliah ada saja yang mencemooh di angkot atau bis. Ada yang pura-pura Tanya jam, ujung-ujungnya bilang gini, “Oh saya kira mbaknya bawa racun buat ditaburin di beras”. Astaghfirullahal azhim. Pernah juga lagi duduk-duduk menunggu angkot di depan halte UI , ada yang tiba-tiba nyamperin saya dan ngomong gini, “Dasar jilbaban kayak monyet!” Pernah juga di angkot, ujung jilbab saya diikatkan ke pintu angkot, jadi pas mau turun ketarik, untung ada kakak tingkat yang kasih tahu, jadi saya enggak ketarik angkot pas turun. Sering diledekin, berjilbab untuk nutupin *maaf* penyakit kuping, enggak punya kuping, dan masih banyak lagi hal-hal yang bikin ngenesss…. Syakitnyaaa tuh di syiniii…. Hehehe…

ifa6

Tapi enggak apa-apa, sudah biasaaa. Zaman itu memang belum semua masyarakat menerima kehadiran muslimah berhijab di ruang public. Dalam hati suka berdoa, semoga suatu saat nanti pemandangan muslimah berhijab akan jadi sesuatu yang umum, jadi enggak ada lagi yang mengalami kejadian kayak kami ini.

Saya sendiri sejak awal berhijab, lebih nyaman menggunakan hijab yang panjang. Minimal menutup dada, dan terbuat dari bahan yang tidak terlalu tebal tapi juga tidak terlalu tipis. Kalau terlalu tebal gerah, kalau terlalu tipis takut menerawang dan sering terbang kena angin. Biasanya sih pakai hijab segiempat ukuran 1.15, kadang pakai yang 1.20., 1.30., pernah juga pakai yang 1.50. Kalau yang 1.50 ini di saya bisa menutupi sampai ke betis. Enak sih, dingin, kayak bawa selimut kemana-mana, tapi agak kurang praktis, sering ketinggalan buntutnya kalau mau turun dari angkot atau bis umum. Oh, juga karena saya dulu kuliah di teknik, banyak praktikum yang menggunakan zat-zat kimia atau berhubungan dengan panas, ada beberapa jilbab saya yang bolong jadi korban.

Kenapa memilih hijab yang panjang? Ya enak aja. Adem, sejuk. Kayak bawa selimut, menutup seluruh tubuh. Bukan supaya biar dikata shalehah atau apaaa gitu, Hehehe, saya kuliah di Teknik yang banyakan anak cowok ketimbang anak ceweknya, jadi rada tomboy gitu kan. Sampai ada kakak tingkat cowok bilang gini, “Ngomong sama si Ifa sih sama kayak ngomong ke ikhwan (cowok), bukan ke akhwat (cewek)”. Jadi? Jadi? Apakah maksudnya saya adalah sejenis cewek jejadian? Hiksss….

Tapi ya sudahlah. Saya berhijab panjang memang beneran bukan biar dibilang akhwat beneran (dan memang saya bukan akhwat jejadian), bukan biar dibilang anggun, cantik, atau apaaa. Memang seneng aja. Saya enggak terlalu pusing memikirkan kalau muslimah berhijab panjang itu sebaiknya suka music-musik religi sejenis nasyid dan shalawatan, sementara saya masih suka denger heavy metal, music klasik, atau music apa gitu. Saya enggak terlalu pusing kalau dikatakan akhwat berhijab panjang harusnya rajin kuliah dan bukannya rajin nongkrong di kantin. Lah, saya ini gampang lapar dan haus, gimana coba? Apalagi saya sering lupa bikin PR, dan di kantinlah tempat saya berburu dan mengerjakan PR dengan aman dan nyaman. Halahh.

ifa1

Jadi saya tetap menjadi diri saya yang tetap berusaha memperbaiki semuanya, dengan menggunakan hijab panjang dan mencoba rajin kuliah dan mengaji. Berhasilkah? Ya ndak tahu. Tanya aja temen-temen kuliah saya. Hehehehe…

ifa8

Bertahun tahun kemudian, setelah lulus, bekerja, menikah, dan beranak pinak (berkembang biak?), saya tetap setia dengan hijab aman dan nyaman versi saya, panjang dan sederhana. Bahkan ketika musim hijab instan, saya tetap memilih model yang ituu ituuu juga. Konvensional. Biaaar. Saya menyebutnya sebagai eternal classy style. Wkwkwkw….

ifa2

Sependek-pendeknya hijab yang saya kenakan, saya usahakan menutup dada dan punggung. Enggak nyaman saja kalau tidak tertutup hijab. Begitulah style hijab yang nyaman di hati saya. Dia harus aman di mata, di mata orang lain maksudnya. Jangan sampai orang lain enggak nyaman melihat bentuk tubuh saya yang memanglah tidak elok dipandang. Jangan sampai orang lain melihat kombinasi hijab dengan gamis atau rok and blouse yang saya kenakan menjadi tidak nyaman. Misalnya kombinasinya seperti bendera karnaval; merah kuning hijau di langit yang biru.  Terus harus aman pula di mata saya, maksudnya enggak bikin saya jengkel gituloh. Saya itu orang yang cepat jengkel sama keribetan-keribetan yang enggak perlu. Pakai hijab mah yang simpel-simpel ajaaa….enggak usah diubet-ubet, iket sana iket sini, gulung sini gulung sono. Ah lama amat mau pakai hijab buat antar jemput bocah aja. Makan waktu, kan sayang waktunya bisa digunakan untuk hal-hal lain yang lebih bermanfaat, misalnya mengedit tulisan, atau merapikan bekal makanan si bocah. Jadi aman di mata saya itu berarti simpel, praktis tapi tetap memerhatikan keindahan dan kerapian. Begitchuuu….

ifa3

ifa4

Oh, hijab yang nyaman buat saya juga harus berarti aman di kantong. Untuk tampil cantik dan menarik tidak perlu mahal, sampai tus tus atau jut jut. Bahkan kalau kita rapi menyimpannya, hijab yang sudah laamaaa enggak dipakai bisa digunakan lagi lho. Saya punya banyak hijab zaman kuliah dan belum menikah yang masih bisa dan sering saya pakai sampai sekarang. Asal rapi cara mencuci, menyetrika, dan menyimpannya, bisa kok.

ifa7

ifa5

Nah, itu diaa hijab yang nyaman menurut saya. Itu baru sebatas makna hijab sebagai sesuatu yang dikenakan di kepala untuk menutupi aurat kita. Cakepnya lagi hijab kepala seharusnya sih diiringi dengan hijab hati, dimana pemakainya belajar terus memperbaiki diri sehingga bisa ber-Islam dengan bijak, damai, dan memberi banyak manfaat bagi diri dan sekitarnya. Misalnya, masa sudah berhijab masih seneng menggosip atau menyebarkan berita buruk tentang temannya, masa sudah berhijab masih suka mengomeli asisten di muka umum, atau sudah berhijab tapi bauuuu….  Cantik hijab kita, secantik akhlak dan ilmu kita… aamiin… Yuk ah… Mau nyetrika hijab duyu….

Tulisan ini diikutsertakan di GiveAway Hijab Nyaman di Hati

Advertisements

About ifaavianty1

A wife, mom of 3 sons, writer and author of about 70 books. Loves books, music, movies, cook, art n craft, history, rain, mall, coffee, tea, and pasta. Oh, and every genius :))
This entry was posted in beauty, fashion, inspirasi, life, lifestyle, muslimah and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Hijab Nyaman di Hati itu aman di Mata dan aman di Kantong

  1. ruli retno says:

    Setuju mba.. hijab nyaman itu nyaman di badan, di hati, di kantong… hehehehe

  2. ruli retno says:

    setuju banget mba.. saya dan temen2 saya di GPL (gerakan peduli lansia) menerima donasi khimar syari (menutup dada dan punggung) untuk nenek2 lansia mba… kpn2 kalau ada boleh di titip ke saya ya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s