Life with XL : Mendadak Dapat Sinyal

Peristiwa ini terjadi beberapa tahun yang lalu, ketika saya dan keluarga dalam perjalanan kembali menuju ke Jakarta setelah mudik lebaran ke Semarang dan Jogjakarta. Kami biasanya menggunakan jalur mudik dan arus balik utara (melalui Pantura), namun tahun itu kami menggunakan jalur selatan untuk balik, karena sekalian searah dari Jogjakarta setelah menghabiskan sisa liburan lebaran.

Keluar dari Jogjakarta, sudah agak ramai, mungkin karena libur lebaran tahun itu sempit, kami berharap tidak terjadi kemacetan parah. Apalagi supir kami tahun itu juga tampaknya tidak terlalu faham medan daerah selatan. Ya sudahlah yang penting usaha dan berdoa, pikir saya. Semakin lama tingkat volume kendaraan makin ramai dan memadat di hampir setiap titik. Anak-anak mulai lapar dan untunglah persediaan logistic konsumsi masih cukup banyak tersedia. Selesai makan, satu persatu merekapun tertidur.

Menjelang sore dan magrib, macet makin parah dan kendaraan tidak bergerak. Anak-anak mulai rewel, terutama si bungsu yang saat itu baru berusia dua tahun. Saya sendiri sudah mulai bosan dan jenuh melihat kemacetan parah dan kendaraan yang masih di sini-sini juga. Keadaan diperparah dengan rasa kepingin ke toilet dan mulai lapar. Jadi, kami memutuskan untuk shalat maghrib dan isya dijama’ sekalian makan malam dan bergantian ke toilet.

Sampai bela-belain berdoa sehabis shalat, semoga macet segera terurai, kami kembali ke mobil dan melanjutkan perjalanan. Apa daya, tak ada kemajuan sedikitpun. Dalam pikiran saya, mungkinkah Sembilan puluh persen gerombolan mudik memang mengambil jalur selatan, sama seperti kami. Sampai di daerah sekitar Purworejo atau mana itu ya, saya itu kalau lagi kena macet suka males Tanya-tanya ini daerah mana, malah tambah bikin bête, jadi mendingan diam saja, kami diarahkan untuk mengambil jalan alternative oleh polisi yang menjaga di jalan. Sementara kepadatan di depan sana sudah menggila dan memang tak akan tertembus dalam waktu singkat.

Mengikuti arahan pak polisi, kami mengambil jalan alternative yang ternyata sama ramainya, meski tidak terlalu stuck seperti tadi. Alhamdulillah, semoga semakin lancar, doa saya saat itu. Saya kembali mengaktifkan smartphone setelah tadi saya matikan dengan alasan untuk menghemat batere. Maklumlah di mobil ada beberapa smartphone yang gentian minta di-charge di colokan di depan. Power bank juga terbatas dan beberapa malah kompakan ngadat alias tidak mau bekerja.

Alhamdulillah, smartphone yang Android yang menggunakan provider lain sinyalnya penuh. Blackberry yang menggunakan XL (sejak dua tahun sebelumnya saya menggunakan Blackberry dan mengambil paket XL, dan Alhamdulillah tidak pernah ada gangguan yang berarti, pokoknya puas deh), sinyalnya juga penuh.

Sementara itu, entah mengapa supir kami tiba-tiba mengikuti mobil depan yang agaknya mencari jalur alternative. Mungkin sih dia lebih tahu, jadi supir kami memutuskan mengikuti dia, saya berusaha berprasangka baik terhadap mobil di depan kami.

Eh…lho…lho, ini daerah mana sih? Kok makin sepi? Perumahan, kampung, kebun, dan entah apa lagi. Dan… ternyata mobil di depan kami malah masuk ke sebuah pekarangan rumah yang artinya…dia sih memang orang situ, mau pulang ke rumahnya. Lah terus bagaimana dengan nasib kami? Barangkali jika mobil saya bisa celingukan, dia sudah dari tadi melakukannya.

Kami mulai berdebat saling mencoba menunjukkan arah, mungkin dengan kadar sotoy yang sama; suami, saya, dan pak supir. Saya yakin itu sudah akan melewati daerah Majenang atau Cilacap, tapi enggak ada yang percaya ya sudahlah. Lagipula, yang aneh, saya merasa, dan jelas sekali, mobil sudah memutari lokasi ini tiga kali. Sebuah lokasi sepi, ada pekuburan, masjid, dan entah apa lagi. Saya mulai merasa tidak nyaman, merinding. Sinyal smartphone mati total, demikian juga blackberry. Waduh gimana mau komunikasi ini ya, saya makin cemas.

Saya dan supir masih berdebat soal lokasi aneh ini, dan ia dengan keukeuh membantah bahwa kita sudah melewati daerah ini tadi. Ya sudahlah, saya malas berdebat dengan orang yang kadar sotoy dan ngeyel-nya lebih tinggi dari saya. Saya biarkan saja dia meledek saya. Bodo amatlah, pikir saya. Anehnya, tidak lama kemudian, sinyal XL di Blackberry muncul kembali, sementara yang di Smartphone Android masih meninggal dunia. Alhamdulillah, saya senang sekali. Paling tidak saya memiliki jalur komunikasi jika diperlukan.

Ternyata perkiraan saya benar! Kami memang melewati Majenang, Cilacap (hampir melewati Teluk Penyu), Banjarnegara, dan Kawasan Macet Abadi pas Libur Lebaran yaitu Nagrek. Kami pasrah dan… ya mau bagaimana lagi, mencoba menikmati kemacetan sangat parah. Supir sotoy juga sudah mulai kehilangan energy untuk berdebat namun enggak mau mengakui. Ya sudahlah, daripada saya ribut terus sama dia.

Dan hebatnya, selama perjalanan yang panjang dan sangat melelahkan itu, tanpa saya sangka, hanya sinyal XL yang bertahan. Enggak ada matinya. Dengan itu pula, saya bisa saling mengirim BBM kepada teman yang kebetulan sudah lebih dulu melewati kawasan ini. Dari dia, saya mendapat informasi bahwa memang terjadi macet total. Di radio juga dikatakan bahwa kedua jalur saat itu, baik utara maupun selatan, sama sedang macet parah.

Betul deh, saya berterima kasih sekali sama XL, bahwa XL ternyata sangat bisa diandalkan dalam situasi seperti itu. Sinyalnya keren, bisa menembus daerah spooky, hutan, dan entah apa lagi, yang provider lain tidak bisa melakukan itu. Sampai sekarang sudah lebih dari empat tahun saya menggunakan XL dengan nomor yang sama untuk Blackberry saya yang juga masih setia, enggak pernah upgrade atau mati total itu. Enggak bakal pindah ke lain hati kok saya…

XL

Advertisements

About ifaavianty1

A wife, mom of 3 sons, writer and author of about 70 books. Loves books, music, movies, cook, art n craft, history, rain, mall, coffee, tea, and pasta. Oh, and every genius :))
This entry was posted in blackberry, gadget, halal, jalan raya, life, Life with XL, Lomba blog, smartphone and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

7 Responses to Life with XL : Mendadak Dapat Sinyal

  1. mysukmana says:

    Ulang Tahun ya XL.semangat dan selamat. Meskipun bukan pengguna XL..

  2. Vindy Putri says:

    Aku pelanggan XL juga Mbak, dan aku juga pernah, kena roaming pas perjalanan. Tapi hebatnya masih bisa internetan. Komunikasi jadi nggak putus. 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s