Mengenal 3 produk Keuangan Syariah: Kredit Syariah, Kartu Kredit Syariah, dan Asuransi Syariah

Kita pasti sudah mulai akrab dengan produk-produk tabungan dari bank syariah. Bagaimana, lebih merasa aman dan nyaman kan menabung di bank syariah?

Nah, kalau kita ingin meminjam dari bank syariah untuk sebuah keperluan bisa enggak ya? Ada enggak produk kartu kredit syariah untuk menggantikan produk kartu kredit konvensional? Kalau untuk asuransi ada enggak?

Oke, berarti ada beberapa produk keuangan syariah yang masih harus kita kenali dan kita pelajari bareng. Yuk, kita kenali sama-sama.

Kredit Syariah

kredit syariah 

Kredit syariah mengacu pada dasar bahwa hutang piutang dalam Islam harus dikembalikan atau diterima dalam jumlah yang sama, tidak boleh lebih besar karena selisihnya mengandung bunga. Jadi layanan kredit untuk pembelian rumah atau kendaraan atau keperluan lainnya yang ditawarkan oleh bank syariah tidak berdasarkan konsep pinjam-meminjam, tetapi mengambil konsep Al Murabahah atau jual beli.

Ringkasnya, pihak bank membelikan benda yang dibutuhkan oleh nasabah kepada pihak ketiga, lalu menjualnya kembali kepada nasabah dengan margin keuntungan yang telah ditetapkan oleh bank. Karena ini merupakan jual beli, bank diperbolehkan mengambil untung secukupnya.

Ketika nasabah mengajukan pembelian dengan cara kredit, yang artinya pembayaran dilakukan dalam jangka waktu tertentu secara mencicil, angsurannya bersifat flat atau tetap sesuai dengan perjanjian awal. Jadi bank hanya mengambil keuntungan dari selisih harga jual beli, bukan dari bunga.

Selain system jual beli, ada juga system pemilikan bersama dimana nasabah mengajak bank untuk membeli benda tertentu dengan pembagian yang telah disepakati bersama. Misalnya kedua pihak bersepakat membeli sebuah rukan seharga 2M. pembagiannya adalah sebagai berikut : Bank Rp 1, 5 M dan sisanya nasabah sebanyak Rp 500 juta. Supaya mendapatkan pemasukan, rukan tersebut akan dikontrakkan. Tapi ternyata nasabah ingin menggunakan sendiri untuk keperluan bisnisnya, maka nasabah yang membayar sewa. Setelah itu pendapatan dari hasil sewa dibagi sama rata.

Setiap bulan, nasabah membeli kepemilikan rukan atas nama bank yang sebesar Rp 1.5M itu secara bertahap, yang lama kelamaan akan mengurangi porsi saham bank atas rukan tersebut, sementara saham nasabah semakin besar. Akhirnya rukan tersebut bisa dimiliki sepenuhnya oleh nasabah.

Hingga kini belum semua bank syariah menyediakan system pemilikan bersama. Lagipula karena harga property cenderung naik, yang mengakibatkan fluktuatifnya harga sewa property, bisa mengakibatkan cicilan perbulan naik. Jadi menurut saya sih, lebih baik system jual beli saja ya.

Kalau untuk modal usaha, bisa enggak ya?

kredit syariah 2

Tentu bisa. System kredit yang digunakan oleh bank syariah tidak berdasarkan bunga, tetapi merupakan bagi hasil yang didapat nasabah dari usahanya tersebut. Perhitungan tersebut bisa berdasarkan atas pendapatan usaha atau keuntungan usaha. Cara mana yang digunakan tentu tergantung perjanjian yang disepakati nasabah dan pihak bank.

Kalau usahanya ternyata rugi bagaimana?

Ada dua system yang digunakan oleh bank syariah, yaitu :

  1. Al Musyarakah, dimana resiko kerugian ditanggung bersama
  2. Al Mudharabah, dimana kerugian ditanggung oleh pihak bank, kecuali kerugian yang diakibatkan oleh kesalahan nasabah.

Pihak bank boleh mengawasi jalannya usaha tersebut, tapi tidak diperbolehkan turut campur. Penyerahan modal dilakukan secara tunai berupa uang atau barang yang seharga dengan jumlah pinjaman tersebut. Jika dilakukan secara bertahap juga harus dilakukan perjanjian yang disepakati kedua pihak. Adil, kan?

Kartu Kredit Syariah

 

kk syariah

Kartu kredit syariah yang diterbitkan oleh bank syariah jelas berbeda dengan kartu kredit yang diterbitkan bank konvensional. Kartu kredit syariah tidak menggunakan bunga, dan hanya menarik jasa pemakaian kartu biasanya berupa iuran keanggotaan (annual fee) dari si pemegang kartu.  Pembayarannya juga tidak ada batas minimum, jadi harus segera dilunasi segera setelah digunakan, karena tidak ada system cicilan yang menjadi bunga yang dibebankan kepada nasabah pemegang kartu.

Asuransi Syariah

asuransi syariah 

Menurut Dewan Syariah Nasional, pengertian asuransi syariah (Ta’mim, Takaful, atau Tadhamum) adalah usaha untuk saling melindungi atau tolong menolong diantara sejumlah orang melalui investasi dalam bentuk asset atau tabarru/ yang memberikan pola pengembalian untuk menghadapi resiko tertentu melalui sebuah perjanjian yang sesuai dengan syariah.

Menurut Ustadz Ahmad Sarwat Lc. ada beberapa kelemahan dalam asuransi konvensional, seperti

  1. Mengandung unsur-unsur yang tidak pasti, misalnya seorang peserta asuransi berharap akan mendapatkan nilai tertentu dari klaimnya ketika dia sakit, tapi bisa juga dia tidak mendapat apa-apa, karena masih tergantung dengan banyak situasi dan kondisi.
  2. Premi diputar dalam investasi dengan system ribawi.
  3. Termasuk jual beli atau tukar menukar mata uang nontunai
  4. Menjadikan hidup dan mati manusia sebagai objek bisnis.

Sementara itu, asuransi syariah memiliki cirri sebagai berikut:

  1. Akad asuransi syariah bersifat tabarru’, sehingga tidak mengenal premi, melainkan infaq atau sumbangan, dan ini tidak boleh ditarik kembali. Atau jika tidak dalam bentuk tabarru’, maka saham akan berupa tabungan yang akan diterima jika terjadi peristiwa, atau akan dapat diambil jika perjanjian berakhir, dengan jumlah dana yang pas, tidak kurang dan tidak lebih. Jika ada kelebihan, itu merupakan keuntungan hasil mudharabah bukan riba.
  2. Akad asuransi ini bukan perjanjian yang wajib dilaksanakan oleh kedua pihak. Karena pihak peserta ketika memberikan sumbangan tidak untuk mendapatkan imbalan, maka jika ada imbalan, itu didapat dengan izin seluruh peserta asuransi atau pengurus yang ditunjuk.
  3. Akad asuransi syariah bersih dari unsur-unsur riba, karena perusahaan menggunakan system syariah yaitu bagi hasil. Selain itu jenis usaha yang digunakan sebagai tempat investasi juga tidak boleh merupakan jenis usaha yang haram atau maksiat.
  4. Asuransi syariah bernuansa kekeluargaan yang kental.

Ini ada satu lagi, namanya KTA Syariah. Saya masih harus belajar lagi kalau menjelaskan yang ini. Insha Allah saya akan share kalau saya sudah cukup faham ya, temans?

kta syariah

Nah jelas kan, perbedaan antara produk-produk keuangan syariah dan konvensional? Menggunakan produk keuangan syariah selain aman dan menentramkan, juga selalu ada prinsip keadilan dan berbaginya. Insha Allah berkah dunia dan akhirat.

Referensi :

http://asuransihalal.wordpress.com

http://warnaislam.com/syariah/muamalat/2009/4/23/53280/Asuransi_Dibolehkan.htm

m.pesona.co.id/article/MobArticleDetail.aspx?mc=004&smc=003&ar=54

iB Blogger Competition

Advertisements

About ifaavianty1

A wife, mom of 3 sons, writer and author of about 70 books. Loves books, music, movies, cook, art n craft, history, rain, mall, coffee, tea, and pasta. Oh, and every genius :))
This entry was posted in islamic, lifestyle, Lomba blog, muslimah and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s