Travelling Noni dan Oma (Jakarta Around the Clock)

Kukerjap-kerjapkan mataku tak percaya. Aku sedang tidak bermimpi. Buktinya, barusan kucubit tanganku, dan ouchhh! Tapi sosok ini mengingatkanku pada sesuatu yang bukan berada di ruang dan waktuku kini. Seorang perempuan setengah baya yang masih menampakkan sisa-sisa kecantikan masa mudanya, dengan konde cepol dan kebaya encim putih panjang, dilengkapo kain motif Betawi berwarna dasar coklat kopi, dan sepasang selop putih. Wajahnya lebih dekat ke Bule ketimbang Cina atau Arab.

“Nonon, kamu masih ingat sewaktu kecil kamu sering main ke rumahku di Pasar Baru?” sapanya halus. Panggilan ‘Nonon’ atau ‘Noni’ mengingatkanku pada masa kecil dimana aku merupakan cucu kesayangan para nenek dan kakekku. Katanya aku mirip noni-noni Belanda.

“I-iya… euh… maaf sudah lama saya tidak kesana”.

“Tidak apa, lagipula, rumahnya sudah dijadikan tempat usaha. Aku juga tidak mengerti, padahal itu kan warisan sejarah”.

“La-lalu…”

“Besok kamu ikut aku. Kita jalan keliling Jakarta dalam 24 jam, agar kamu mengerti darimana kamu berasal”.

“Ta-tapi…”

“Kamu harus, Nonon. Kamu sekarang sudah tidak bangga lagi dengan asal muasalmu…”

Haduuh, perempuan antik ini tahu darimana lagi kalau aku sedang enggan mengaku sebagai puteri Betawi?

“Harus gitu?”

“Harus, kalau tidak kampung besar ini akan lenyap perlahan… karena tidak ada lagi yang peduli padanya.”

Entah sihir apa yang menguasaiku, yang pasti pagi esoknya selesai shalat subuh, aku sudah menjajari perempuan itu sambil setengah ngantuk. Pertama kali, kami pergi ke tempat yang tidak jauh dari rumahku, Pasar Minggu. Kami sarapan pagi di situ sambil mengamati para tukang sayur dan tukang buah yang sedang berjualan. Ini merupakan sebuah kampung tua di wilayah Jakarta Selatan, dan dulunya (sebelum tahun 1920) terletak di dekat Kali Ciliwung. Pada zaman itu, pasar yang ramai yang diadakan pada hari Minggu. Selain menjual macam-macam, termasuk pakaian, pasar yang buka setiap pukul 7 hingga 10 pagi ini juga jadi pusat judi dadu koprok dan pangkalan ronggeng yang bernama Doger. Setelah tahun 1921, jalannya diaspal dan mulai ramai kendaraan.

“Di sini dulu Nek Nonon yang juga nama panggilannya sama dengan namamu, tinggal. Nek Nonon dulu kembang kampung ini”. No wonder, dari foto yang kuingat, beliau memang cantik.

pasar minggu

Setelah matahari mulai terbit kami melanjutkan perjalanan dengan metro mini menuju kawasan Kebayoran Baru. Di sinilah dulu aku menghabiskan masa kecil dengan kedua orangtuaku yang sekarang menepi di Cinere. Di sini kami membeli seuntai kalung di sebuah toko emas di Blok M Square yang dulu merupakan pusat perbelanjaan Aldiron Plaza dan PD Pasar Jaya. Belum puas di situ, kami melanjutkan perjalanan ke Pasar Mayestik yang kini sudah sangat berubah. Perempuan itu membeli beberapa cetakan kue termasuk cetakan kue cubit dan kue ape, kue khas Betawi. Oh, juga beberapa perlengkapan menyulam. Aku? Menjahit jelujur saja kusut.

blok m aquare

mayestik

Satu-satunya yang kuingat di sini adalah Warung Sate Padang yang enak itu. Kemana ya dia pindah sekarang? Perempuan itu menolak ketika kuajak mencari, sebab dia tidak suka sate padang. Ah, payah deh.

Puas memutari Mayestik, dan sempat shalat zuhur di masjid SMA 70 tempat aku sekolah dulu, kami lanjut menuju kawasan Jakarta Pusat. Oma-oma ini masih semangat saja rupanya. Ia mengajakku pergi ke sebuah pemakaman di daerah Tanah Abang, yang bernama Museum Prasasti. Ini dulunya merupakan Taman Pemakaman Umum orang Belanda di Batavia, yang kebanyakan bangsawan Belanda.

“Salah seorang nenek moyang kita beristirahat dengan tenang di sini”, kata Oma ini.

Aku sudah lapar dan tidak terlalu konsen memikirkan mana sih makam nenek moyang kami itu dan siapa pula dia.

museum prasasti

Setengah memaksa, aku mengajak Oma makan di Thamrin City, ada foodcourt-nya lumayan enak dan murah. Ternyata Oma suka dan malah mentraktirku makan es potong. Setelah kenyang, rupanya dia tertarik dengan aneka busana muslim yang dijual di sini. Aku sibuk berdoa semoga ia teringat aku yang entah siapanya ini, dan membelikanku satu dua lembar hijab panjang. Dan…yippieee…. Doaku terkabul. Dasar cucu/cicit/canggah yang matreee!

thamrin city

Kami masih melanjutkan perjalanan setelah menjinjing dua plastic belanjaan. Mungkin dulu masa mudanya Oma ini juga terkenal sebagai Miss Jinjing voor de Oorlog.

Tujuan selanjutnya adalah Museum Husni Thamrin di Jalan Kenari II no 15. Terus terang aku baru kali ini ke sini. Unik dan penuh dengan jejak-jejak perjuangan pahlawan MH Thamrin. “Engkong Thamrin adalah salah satu engkongmu, meski hubungan kekerabatannya agak jauh” jelas Oma mengejutkanku. Jadi… aku masih keturunan pahlawan besar ini?

Engkong Thamrin pastilah pintar, berwibawa dan berani. Beda banget ya sama aku? Di sini aku merasa sedih dan malu.

masjid sunda kelapa

Hari mulai sore, ketika kami memutuskan shalat ashar di masjid Sunda Kelapa dan aku minta jajan somay yang enak itu. Oma bengong melihat selera makanku yang seperti anak naga kelaparan.

Oma terlihat mulai lelah. Aku apalagi. Akhirnya kami memutuskan pergi ke Kampus UI Salemba dan menunggu shalat maghrib di Masjid Arif Rahman Hakim. “Dulu ini kampus STOVIA, dan salah seorang kakekmu pernah kuliah di sini tahun 50an”. Ya ampuuun.

kampus ui salemba

Selepas magrib, kami menyusuri sepanjang jalan daerah Menteng yang ditumbuhi pohon-pohon besar. Oma bilang, sebagian besar keluarganya dulu tinggal di situ, makanya kami disebut Betawi Menteng. Betawi  keturunan Belanda banyak yang tinggal di sana, hingga akhir 70an. Kemudian mereka pindah ke pinggir kota mencari kediaman yang lebih kecil dan murah.

Selepas shalat isya di Masjid Tjut Mutiah Menteng Raya, aku sudah kembali lapar. Aku mengajak Oma makan nasi goreng Menteng yang terkenal enak itu. Astaga, si Oma nambah dua kali. Giliran aku yang terheran-heran.

masjid cut mutiah

nasgor menteng

Menutup perjalanan kami, Oma mengajak aku menginap di Hotel Sari Pan Pasific yang sudah cukup berumur. Kata Oma, salah satu tanteku pernah bekerja di situ di bagian Food and Beverage.

hotel pacific

Setengah mengantuk, kudengar Oma berkata, “Nonon, itu tadi hanya sedikit yang bisa kutunjukkan tentang asal muasal dirimu. Banggalah, kamu berasal dari keluarga Betawi asli yang juga masih keturunan Belanda. Banyak keluarga kita yang ikut berjuang mencapai kemerdekaan dan mengisi kemerdekaan. Kalau bukan kamu yang ikuti jejak mereka, siapa lagi?”

Aku mengangguk dan tercenung.

“Jangan jadi generasi tanpa kampung halaman, Nonon….” Pesan terakhirnya.

Aku bangun esok subuhnya, dan menemukan sehelai uban halus di bantal yang semalam ditiduri Oma. Perlahan aku mengingat kembali sosoknya. Dia adalah Nek Mumu, uwak dari ayahku, yang sudah meninggal dunia ketika aku SMP dua puluh tahun lalu….

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog “Blog Competition #TravelNBlog 4 : Jakarta 24 Jam” yang diselenggarakan oleh @TravelNBlogID

Advertisements

About ifaavianty1

A wife, mom of 3 sons, writer and author of about 70 books. Loves books, music, movies, cook, art n craft, history, rain, mall, coffee, tea, and pasta. Oh, and every genius :))
This entry was posted in culture, kuliner, lifestyle, Lomba blog, mall and tagged , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

8 Responses to Travelling Noni dan Oma (Jakarta Around the Clock)

  1. mysukmana says:

    Semoga menang travel n blognya di jekardah

  2. Sayang jakarta sekarang lagi macet banget ya, 24 jam gak akan cukup muter-muter. Habis di jalan. 😆

  3. Firsta says:

    Sukses bikin pingin main ke Pasar Mayestik dan makan nasi goreng di Menteng. Itu nasi goreng gila bukan sih namanya? 🙂 Dulu sering makan di situ pas SMA. Hihihihi..

  4. kalau di masjid Sunda Kelapa, saya gak bisa melewatkan tongseng kambingnya. Enak banget 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s