Honor Pertama Sang Penulis Remaja

penulis

Saya senang menulis dari kelas tiga SD. Zaman itu masih percaya diri banget nulis pakai tulisan tangan di buku tulis bergaris cap AA atau Bola Dunia. Pakai gambar hasil karya sendiri, dan dilengkapi dengan semacam quotes juga bikinan sendiri. Eh, banyak yang suka lho. Meski ceritanya juga cinta-cintaan gaje dan nulisnya juga enggak pakai ilmu. Jadi mungkin sih enggak jelas juga konflik, alur dan segala macam unsur yang harus ada di dalam sebuah cerpen.

Duduk di SMP , saya mulai mengerti bahwa hobi ini bisa menghasilkan uang, Yes, uang sudah mulai menjadi hal penting bagi anak matre kayak saya, yang jajannya banyak tapi seringnya enggak punya duit. Jadilah saya mulai menerima upah dijajanin di kantin setiap kali ada teman yang minta dibikinkan cerpen, puisi atau sekedar gambar ala anak Alay masa itu.

Saya juga berlangganan majalah HAI yang waktu itu memuat cerpen dan serial remaja. Tiba-tiba saja kepikiran, bisa enggak ya saya menulis dan dimuat di majalah itu? Pasti keren abis ya dan honornya juga lumayan bangeeet. Maka mulai giatlah saya menulis dan mengirimkannya lewat pos ke majalah Hai. Zaman itu, tahun 85an, internet dan email belum ada bayangannya di sini. Kayaknya sih teknologi faksimili juga belum ada deh. Jadi pos merupakan sarana satu-satunya untuk mengirim dokumen. Ngetiknya juga masih pakai mesin tik manual yang jegrek-jegrek dan hurupnya suka pada loncat atau menghilang sendiri. Saya sih lebih parah lagi, pakai tulisan tangan.

Singkat cerita, enggak terlalu lama menunggu, naskah cerpen saya yang pertama dimuat di Hai. Senangnyaaa….tuh di siniii….  Tapi yang enggak dibayangkan adalah reaksi teman-teman saya yang jumlahnya kalau dikumpulkan bisa menghabiskan jatah honor saya hanya untuk mentraktir mereka sekedar makan bakso di kantin. Tapi tanpa dukungan merekapun, apalah artinya saya… Da saya mah apaaa atuuh.

Pada hari yang dijanjikan honor akan cair, berangkatlah saya seorang diri ke kantor majalah tersebut di daerah Palmerah. Naik bus tentu saja. Saya bilang teman-teman enggak usah sok kompak pada ikutan. Bukan apa-apa, saya hanya mikir gimana nasib saya kalau mereka juga pada minta ditraktir ongkos pulang pergi.

Alhamdulillah, ternyata honor yang saya dapat saat itu adalah 15.000 rupiah, dan ini termasuk lumayan buat krucil kruwel segede saya yang biasanya jajan di bawah seribu rupiah.  Dengan hati yang berbunga-bunga saya menerima amplop itu dari mbak bagian keuangan majalah.

Sebelum pulang, saya sempatkan dulu menghitung ulang gerombolan teman saya, supporter setia yang mungkin saat ini sudah menunggu saya dengan wajah siap menerima japrem alias jatah preman. Mendadak tubuh saya lemessss…. Ketika hasil akhir perhitungan saya mengatakan bahwa jatah traktir ternyata melebihi honor yang saya dapat. Ampuuun…. Sementara untuk menolak mereka kan enggak mungkin, nanti saya dikira medit atau pilih kasih. Nasib punya teman segudang…. Hihi…

Akhirnya saya putuskan saat itu, demi mentraktir semua yang minta traktir, kurelakan honor pertamaku, dan…. Saya jalan kaki pulang dari Palmerah ke Cipete, rumah orang tua saya. Really jalan kaki. Mana panas, mana haus, mana enggak punya duit. Nasib… nasib. Perjalanan itu kalau saya enggak salah ingat ditempuh dalam waktu sekitar dua atau tiga jam saja. Kaki rasanya sudah mau copot dan lari sendiri sendiri. Saya hanya menyabarkan hati dengan menyemangati, “Tenang, ntar lagi juga nyampe rumah. Udah deket, Jangan pingsan dulu, Ntar repot lho enggak ada yang nolongin”.

Alhamdulillah, saya sampai di rumah dengan selamat, Kaki saya enggak jadi copot dan melarikan diri. Tapi yang saya tuju pertama kali adalah kulkas dan tempat tidur.

“Sukses dong dapat honornya?” Tanya ibu saya.

“Iya kali…” jawab saya sembari melayang dalam arti sesungguhnya.

“Kok kayak abis dikejar anjing sih? Capek bener?”

Ya elaaah. Lebih dari sekedar dikejar anjing ini mah. “HIyaaa…..” zzzzz….grok grok grok…

Dan sang penulis remaja tertidur memeluk mimpi membawa uang honornya selamat dari japrem teman-temannya….

Tulisan ini diikutsertakan dalam GiveAway Pengalaman Masa Remaja yang Berkesan by Listeninda

listeninda

Advertisements

About ifaavianty1

A wife, mom of 3 sons, writer and author of about 70 books. Loves books, music, movies, cook, art n craft, history, rain, mall, coffee, tea, and pasta. Oh, and every genius :))
This entry was posted in Lomba blog, menulis, remaja and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Honor Pertama Sang Penulis Remaja

  1. hahhaaa… sy baru ngeh klo nulis itu bisa dapet duit pas udah kuliah 😀

    ah, si mak ifa curi start dalam mengenal honor 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s