Menikmati Masa Sekolah dengan Bahagia

Zaman semakin modern, persaingan semakin susah di semua bidang kehidupan. Begitu sering kalimat ini kita dengar. Saking seringnya, kadang tanpa kita sadari, ini menjadi semacam ‘ideologi’ baru bagi kita. Ideologi ‘hidup adalah semata-mata bersaing’, yang kemudian melindas berbagai sisi lain dalam kehidupan kita. Oh, dan kehidupan anak-anak kita.
Kita cemas memikirkan mau jadi apa anak-anak kita, dan mungkin juga anak-anak murid kita, kelak, dalam dunia yang penuh persaingan ini jika mereka tak punya kemampuan akademik yang memadai? Lalu kita sibuk meminta mereka belajar ini dan itu, mengerjakan sekian pekerjaan rumah dan tugas yang memakan sekian banyak waktu bermain mereka. Kita sibuk menyemangati mereka untuk meraih ranking lima atau sepuluh besar dan merancang program eksel (kelas percepatan) untuk mereka. Bahkan bagi kita yang punya cukup dana, tak segan-segan kita menjejali mereka dengan aneka les yang kadang mereka sendiri tidak menikmatinya.
“Mama, aku capek. Terlalu banyak PR di sekolah”.
“Bu Guru, saya tidak mau ikut kelas eksel. Saya stress”.
“Ibu, aku tidak mau les matematika. Aku maunya les bikin robot. “
Itu keluhan yang kita dengar kemudian. Ada yang kurang tepat di sini. Lalu bagaimana, kita kan pinginnya anak-anak kita bisa bersaing di zamannya kelak?
Ada beberapa hal yang bisa kita evaluasi bersama di sini. Yaitu tentang : persaingan atau kompetisi, beban dan kemampuan akademik, dan tentang perasaan anak-anak atau murid-murid kita sendiri.

Tentang persaingan

Betul, bahwa sejak di awal penciptaannya, manusia selalu berhadapan dengan kompetisi, termasuk kompetisi antara hidup dan mati. Tapi perlu diingat pula, bahwa tidak semua kompetisi atau persaingan diselesaikan dengan cara berlomba. Ada kompetisi-kompetisi yang justru dimenangkan bersama dengan saling bekerja sama. Lupakah kita bahwa manusia adalah makhluk social yang sebenarnya selalu bisa beradaptasi dengan orang lain atau lingkungan sekitarnya?
Jadi, jika kita meyakini bahwa selalu ada ruang untuk saling bekerja sama dan bersosialisasi, mestinya kita tidak sedemikian cemasnya melihat kerasnya persaingan dunia. Ada sisi-sisi harmonis yang juga perlu kita kembangkan dalam diri anak-anak dan murid-murid kita.
Cedric pintar matematika, Ahya pintar menggambar, Dewi pintar memasak, Kania pintar berbahasa Inggris. Kelak Ahya akan merancang sebuah bangunan sekolah yang nyaman dan menyenangkan, Cedric yang menghitung biayanya, Dewi akan membuat sebuah kafetaria dengan menu yang sehat dan bergizi di sana, dan Kania akan merancang program pembelajaran bahasa asing yang fun. Sebuah bentuk kerjasama yang bisa saja sejak kecil kita tanamkan pada anak-anak kita. Soal besarnya nanti gimana, biarlah nanti mereka yang menjalaninya. Paling tidak, kita sudah membantu mereka menjalani masa sekolahnya dengan memberi gambaran masa depan yang harmonis dan menyenangkan.
Ingatkan mereka bahwa bersekolah bukanlah bersaing ‘main pinter-pinteran’. Yang juara adalah anak pintar dan menang. Yang nggak juara, nggak pintar dan kalah. Hati-hati yuk dengan kata ‘kalah’ yang bisa dimaknai sebagai ‘looser, pecundang’. Seorang anak yang sudah memiliki makna pecundang atau si kalah dalam dirinya, akan tumbuh menjadi anak yang minder, insecure, suka menyalahkan lingkungan dan lemah pendirian. Terbayang akan bagaimana kelak dia menghadapi masa depannya?

Beban dan Kemampuan Akademik

Padatnya muatan kurikulum pelajaran yang diterima anak-anak dan murid-murid kita seringkali membuat mereka harus mengorbankan sekian banyak waktu mereka yang seharusnya dapat mereka gunakan untuk bermain. Bermain adalah prioritas utama dalam kehidupan anak. Bermain adalah modal mereka untuk membangun karakter dan banyak kemampuan lain yang akan mereka butuhkan dalam kehidupan di masa dewasa mereka kelak. Bermain adalah ekspresi paling wajar dan alami, kondisi yang paling membahagiakan bagi anak. Kita yang sudah menjadi orang tua atau guru pun pasti tidak akan pernah lupa pengalaman bermain yang amat menyenangkan sewaktu kecil dan remaja.
Tuntutan berprestasi secara akademik, terlebih dengan adanya program kelas eksel/percepatan, les ini dan itu, kadang membuat anak terlatih disiplin dan mandiri. Tetapi tak jarang juga menyebabkan mereka stress dan kehilangan banyak momen membahagiakan dalam masa kecil mereka.
Kita juga sering lupa bahwa pintar secara akademik tidak selalu harus berarti dia pintar dalam semua bidang studi dan ilmu. Ada anak yang hanya ‘berbakat’ di satu atau beberapa bidang. Ada juga yang memang bisaaaa semua. Dan … pintar secara akademik tidaklah berarti dia selalu di posisi lima atau sepuluh besar. Dalam teori pendidikan, tidak ada anak yang bodoh. Yang ada adalah anak yang kurang/tidak mendapatkan ruang bagi kemampuan/kreativitasnya dalam merespon sebuah ilmu/mata pelajaran.
Akna tidak suka menghafal. Dia sebaliknya, sangat suka pelajaran yang berhubungan dengan angka, pemrograman, dan logika. Nilai hafalannya terlalu biasa, jika disejajarkan dengan nilai-nilai eksaknya yang cemerlang. Jadi mengapa saya sebagai ibunya memaksanya menghafal? Toh dia tidak harus pintar dan excellent dalam semua bidang studi. Mari ubah cara belajarnya. Ganti hafalan dengan diskusi tentang bidang studi tersebut. Kembalikan pada makna belajar sesungguhnya, bahwa belajar bukan semata bisa mengerjakan ujian dengan baik, lulus dengan nilai cantik, dan selesai. Ilmunya mah nggak dapet. Belajar adalah mengerti, memahami, dan membawanya dalam kehidupan sehari-hari, sekarang dan nanti.

Bahagiakah anak-anak kita?

Bahagia bukan semata pada yang tampak secara zahir, bersifat materi atau pencapaian tertentu. Bahagia adalah ketika kita melihat hidup sebagai sebuah berkah dan keindahan. Jika ada kesulitan, kita akan tetap memaknainya sebagai sebuah tantangan yang pasti bisa kita selesaikan dengan baik. Bahagia adalah ketika kita menghadapi hidup dengan perasaan ringan dan optimis.
Tentu kita juga percaya, inilah sebaik-baik kehidupan yang akan kita wariskan kepada anak-anak dan murid-murid kita. Kita ingin mereka bahagia. Bahagia yang bertanggung jawab dengan bekal pendidikan karakter yang telah kita tanamkan. Bahagia yang membuat mereka lebih siap dengan masa depan yang tidak mengkhawatirkan, karena mereka hidup dalam harmoni; kerja sama, saling berbagi dan menolong, empati dan simpati. Orang yang bahagia akan lebih mudah berbagi sebab dia tidak punya kekhawatiran yang berlebihan. Bahagia yang membuat anak-anak kita tidak khawatir, sebab mereka sudah faham kelebihan dan kekurangan mereka, tahu betul kemampuan dan cita-cita mereka, mengerti betul apa yang mereka inginkan dan harus lakukan agar mereka lebih baik.

Semua itu porosnya hanya di pendidikan berkarakter. Pendidikan yang bukan berbasis intelektualitas semata, namun juga pembangunan karakter dengan penanaman sikap-sikap positif dan optimis. Pendidikan berkarakter adalah pendidikan yang membahagiakan untuk semua; anak, guru, orangtua.
70 Tahun sudah Indonesia kita merdeka. Sudahkah kita membuat system pendidikan yang memerdekakan anak-anak kita dari perasaan tertekan, cemas, dan egoistic? Yuk, mulai dari anak-anak kita, kita rancang pendidikan berkarakter yang membahagiakan dan membentuk pribadi-pribadi terbaik calon pemimpin bangsa di masa depan. Anggaplah ini sebagai Catatan Anak Bangsa untuk bangsanya sendiri.
Mari terlibat langsung dengan menyediakan lebih banyak waktu berdiskusi, bermain dan berwisata murah meriah, menyediakan menu-menu sehat bergizi (sambil menciptakan suasana makan yang riang), mengajarkan esensi belajar-bermain-berbagi sambil mempraktekkan ‘this-is-life’ kepada anak-anak kita, mengenalkan teladan dalam segala hal pada mereka. Bukan hanya sebatas menyediakan sekolah, biaya pendidikan, atau sarana lain. Anak-anak yang berbahagia dan berhasil membentuk dirinya dengan konsep positif adalah anak-anak dengan serangkaian pengalaman positif yang menyenangkan semasa kecil dan remaja. Dan saya yakin sekali, SOS Children’s Villages sudah sejak lama menjalankan system pendidikan semacam ini. Sebab semua anak berhak berbahagia dan tumbuh dengan bahagia pula.

Advertisements

About ifaavianty1

A wife, mom of 3 sons, writer and author of about 70 books. Loves books, music, movies, cook, art n craft, history, rain, mall, coffee, tea, and pasta. Oh, and every genius :))
This entry was posted in education, Lomba blog, parentings, schooling and tagged , , , . Bookmark the permalink.

11 Responses to Menikmati Masa Sekolah dengan Bahagia

  1. Salman Faris says:

    Semua memang tergantung anaknya Mba, sesuaikan dengan bakat dan minatnya saja, kalau memang muncul sudah bakat2nya kita dukung 🙂

    • ifaavianty1 says:

      betul, pak Salman, saya sepenuhnya mendukung opini pak Salman :). mereka akan tumbuh bahagia jika bakat dan minatnya tersalur dengan baik, untuk kebaikan pula 🙂

  2. iya mbak.. pengalaman sy sendiri dulu bnyk main tp justru bikin seneng.. pljrn sekolah mlh lbh cpt terserap loh.. 🙂

  3. wah aku setuju sama mak tetty hihi, balance pokoknya main sama belajar mah 😀

  4. YogoBlog says:

    betul sekali mbak, adanya cuma persaingan terus menerus…

  5. Permainan tradisional, lari-larian naik sepeda dan yang lainnya itu lebih baik untuk anak-anak daripada gadjet yah.

  6. ranii says:

    segala sesuatunya kalau dinikmati hasilnya pasti lebih baik yah bu 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s