Dicari: Pemimpin yang Menolak Lupa

image

Indonesia dengan jumlah penduduk muslim terbanyak di dunia memang memiliki kultur sosial budaya dan keberagamaan yang unik. Rawan konflik namun juga sangat potensial menjadi pusat peradaban bagi muslim sedunia. Untuk itu, yang diperlukan Indonesia sebetulnya bukan sumber daya manusia, karena pasti banyak terdapat tokoh-tokoh pemimpin yang bisa mengarahkan masyarakat Indonesia menuju masyarakat madani dengan pola kepemimpinan yang islami dan universal.

Sejak zaman dahulupun, telah banyak lahir pemimpin dengan pola kepemimpinan islami di tanah air Indonesia. Dengan menyebut beberapa nama saja, kita sudah dapat dengan mudah mengenali mereka, misalnya Pangeran Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol, sepasang sejoli Teuku Umar dan bunda Cut Nyak Dien, Panglima Besar Soedirman, Bung Hatta, KH Ahmad Dahlan, KH Hasyim Asyhari, Bung Tomo, dan masih banyak lagi.

image

image

image

image

image

image

image

Dari mana mereka mengambil teladan pola-pola kepemimpinan Islami?
Tentu saja dari banyak tokoh lainnya, baik para pendahulu mereka, maupun yang sezaman dengan mereka. Terutama dari para nabi dan rasul.

Para nabi dan rasul adalah manusia biasa, sama seperti kita, seperti para tokoh besar yang saya sebutkan tadi. Jadi bisa kita contoh dan kita tiru semua kebaikan yang ada pada mereka. Bedanya, para nabi dan rasul mendapat keistimewaan mendapatkan ‘tarbiyah langsung’ dari Allah swt. Tapi hasil tarbiyah tersebut telah disampaikan dengan begitu cerdasnya kepada kita, sehingga dapat kita ikuti sesuai konteks ruang dan waktu.

Setiap nabi dan rasul memiliki keistimewaan tersendiri, termasuk dalam hal kepemimpinan islami ini. Sebagai contoh, Nabi Adam as mencontohkan perlakuan adil kepada anak-anaknya serta pemberian tanggung jawab kepada mereka dalam menyelesaikan persoalan masing-masing. Nabi Nuh as mencontohkan ketegasan dalam memerintahkan para pengikutnya untuk naik ke dalam bahtera. Kaum pengikutnyapun telah mencontohkan pada kita sikap yakin dan percaya pada Allah dan pada pimpinan, tsiqah billah wa tsiqah bil qiyadah. Nabi Luth as mencontohkan pada kita ketegasan seorang pemimpin yang berani menyatakan yang hak dan yang bathil, meski mayoritas penduduk negerinya memilih kebathilan. Nabi Ibrahim as mencontohkan diantaranya kesediaan berkorban yang sangat besar, meski menyangkut darah dagingnya sendiri. Nabi Muhammad saw begitu juga. Baginda Rasulullah saw mencontohkan empat sikap yang wajib dimiliki seorang pemimpin, yaitu shiddiq, amanah, tabligh, dan fathanah.

Jadi sebetulnya modal keteladanan sudah ada dan banyak. Para nabi dan rasul, demikian juga para sahabat, tabi’in, tabittabi’in, para salafussaleh dan para ulama, para pemimpin, adalah kemilau keteladanan yang siap kita petik hal-hal terbaik yang mereka miliki. Bahkan banyak juga keteladanan yang bisa kita petik dari tokoh-tokoh di luar Islam, tentang hal-hal terbaik yang ada dalam diri mereka.
Jadi jika dikatakan pemimpin sekarang krisis keteladanan, menurut saya tidak tepat. Yang terjadi adalah para pemimpin atau calon pemimpin kurang mau belajar sejarah. Yang kurang itu adalah pemimpin pembelajar. Pemimpin yang mau selalu belajar, yang selalu menolak lupa pada sejarah. Pemimpin yang selalu rindu pada keteladanan para pendahulunya.

Andakah pemimpin yang dicari itu?

Advertisements

About ifaavianty1

A wife, mom of 3 sons, writer and author of about 70 books. Loves books, music, movies, cook, art n craft, history, rain, mall, coffee, tea, and pasta. Oh, and every genius :))
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s