Surat untuk Stiletto Book

Surat untuk Stiletto Book

Dear Stiletto Book,
(Maukah untuk selanjutnya kau kupanggil Stily?)

Aku tidak terlalu terbiasa menulis surat, meskipun aku seorang penulis. Aku selalu bingung bagaimana harus mengawali sebuah surat. Apalagi surat cinta wkwkwk. Mungkin ada baiknya kuperkenalkan dulu diriku padamu. Aihhh bahasaku jadi baku begini ya.

Stily, aku ini pembaca buku yang rakus. Sama rakusnya seperti ketika aku sedang makan sushi atau minum es teh dengan es batu yang banyaaak sekali. Aku bisa melahap lebih dari lima buku dalam seminggu. Terutama jenis novel romance dan sejarah. Kolaksi bukuku bisa mencapai lebih dari 2000 buku dari berbagai jenis di perpuatakaan pribadiku yang aksesnya terbatas itu. Ya, sejak beberapa koleksiku pindah tangan tanpa izin, aku semakin ketat menjaga perpustku.

Selain itu, aku ini sedikit kacau. Oopps, … kamu pasti ketawa membaca kalimat barusan. Kalau enggak percaya, boleh tanya deh sama teman-temanku. Bagaimana enggak kacau? Sekilas penampilanku rada tomboy dengan ransel besar di punggung, jalanku yang cenderung cepat, dan kombinasi outfit-ku yang cuek. Aku juga tergolong manusia serius, geek kayak si Athaya di novel “Geek in High Heels” karya temanku, Octaviani NH, yang jadi best seller terbitanmu itu. Nah, tapi aku juga pencinta romance sejati. Suka dengan nuansa feminin yang jadi ciri khas dan wajib ada pada setiap kisah romance. Suka dengan warna-warna lembut khas cewek, seperti yang selalu ada pada cover novel-novel dan buku terbitanmu.

Jadi begitu melihat tampilan buku-bukumu aku langsung jatuh cinta. “Don’t Worry to be a Mommy” karya dokter Meta Hanindita adalah buku pertama yang kubeli berlabel Stiletto Book. Menyusul kemudian “Geek in High Heels” karya Octaviani NH dan “Pre Wedding Rush” karya Okke ‘Sepatumerah’.

Tampilan cover-mu khas banget. Sumpah. Paling tidak, dari ketiga buku itu ada nuansa pinkies yang dominan. Cewek bangeeet, feminine. Dan menurutku, itulah kelebihanmu. Warna-warna feminin bukan melambangkan cewek lemah, cuma jago dandan, dan semacamnya. Justru warna-warna itu melambangkan kekuatan cewek. Girl Power kayak the Powerpuff Girls. Hehehe…

Lalu tentang isi. Lagi-lagi aku jatuh cinta. Isinya ceweeek banget. Yang bukunya dokter Meta itu akuuuu banget. Apalagi pas galau-galaunya jadi ibu baru tuh. Ya, serasa nostalgia deh baca buku itu. Kalau sekarang anakku sudah tiga, yang sulung sudah duduk di bangku SMP, dan yang bungsu sudah hampir tiga tahun. Tapi tetap saja buku karya dokter Meta itu berhasil menghangatkan sudut hatiku sebagai ibu. Rasa syukurku bertambah bahwa profesi ibu adalah jenjang karir yang tinggi dan penuh dengan pengalaman yang menakjubkan. Buku itu sukses membuatku jatuh cinta.

Buku kedua yang kubaca adalah “Geek in High Heels” , dan ini juga bikin aku pingin kasih buket bunga buat si Athaya, the geeky girl, yang spontan dan betul-betul gambaran cewek masa kini yang smart tapi teteup ‘rempong’ urusan fashion. Lah buktinya dia tetap cinta mati sama high heels-nya, juga cat kuku-nya. Kepikiran aja gitu menyesuaikan high heels dengan kuteks. Hihihi. Sosok Kelana juga bikin jatuh cinta dengan tampilan seriusnya. Pokoknya ini novel cewek banget ya. Tema kisahnya yang klise enggak bikin jenuh, karena penulisnya pintar memainkan alur dan konflik di tiap bagiannya. Novel ini sungguh bikin aku terus lanjut ingin membacanya hingga halaman terakhir. Istilahnya, novel ini bertenaga.

Terus, yang ketiga, “Pre Wedding Rush”. Aku sudah lebih dulu kenal karya-karya Okke terdahulu. Selalu bertenaga dan memuat pesan-pesan implisit yang cukup dalam. Aku suka dan tak pernah melewatkan untuk membeli dan membaca karyanya. Di buku yang kamu terbitkan, Stily, lagi-lagi Okke berhasil membuatku juga ingin menghadiahinya buket bunga. Lewat kisah ini, Okke menitipkan pesan untuk berani memilih kehidupan kita sendiri. Kisah Nina yang akhirnya memilih yang terbaik antara Lanang dan Dewo, dengan latar gempa Jogjakarta, membuatku berulangkali menarik nafas. Tidak semua perempuan bisa berpikir dan bersikap seperti Nina. Harusnya sih, bisa, tentu saja.

Nah, terbukti kan, Stily, aku suka buku-buku terbitanmu? Teruslah melangkah, Stily, jangan pernah berhenti untuk menginspirasi kaum perempuan Indonesia dengan ciri khas ke-Indonesia-an yang tak boleh hilang. Perempuan selalu butuh bacaan yang cerdas dan mencerahkan.

Oh ya, Stily, bila suatu saat akupun ingin bergabung menulis untukmu, apakah bisa? (Ooohhh, yang ini jawabannya harus ‘bisa’ ya, Stil? Wkwkwk).

Sekarang, aku mau mulai mencari ide. Hmm…kira-kira apaa ya yang akan kutulis untukmu?

image

image

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Surat untuk Stiletto Book kategori Loyal Readers.

Nama :Ifa Avianty
Email : ifa.avianty@gmail.com

Advertisements

About ifaavianty1

A wife, mom of 3 sons, writer and author of about 70 books. Loves books, music, movies, cook, art n craft, history, rain, mall, coffee, tea, and pasta. Oh, and every genius :))
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , . Bookmark the permalink.

10 Responses to Surat untuk Stiletto Book

  1. Shinta Ries says:

    Pasti boleh banget mak ifa bergabung di Stily ^^
    gudluck πŸ™‚

  2. rodamemn says:

    lanjuttt mak πŸ™‚

  3. yantist says:

    Ihiy… Nunggu buku Mbak Ifa yang diterbitkan Stilletto πŸ˜‰

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s