Mengubur Mimpi Sebuah Beasiswa

Ini tentang sebuah kisah masa lalu dari seorang anak kelas 6 SD di sebuah pelosok Jakarta sekian puluh tahun lalu. Anak ini sekarang sudah berusia cukup matang dan mungkin sudah bisa melupakan kisah ini, sekaligus memaafkan siapapun yang terkait kisah ini. Kalaupun sekarang dia menceritakan kembali kisahnya yang sekian puluh tahun ia tutup, tak lebih tak kurang, ia hanya ingin membersihkan sampah hatinya. Ia juga ingin berterima kasih kepada semua yang terkait dengan kisah ini, sebab peristiwa ini telah mengantarkannya pada pelajaran bahwa mengalah bukan berarti kalah.

Anak itu, sebut saja si A, mungkin bukan anak terpandai di kelas atau sekolahnya. Gelar juara kelas bertahun-tahun tentu bukanlah ukuran pasti, sebab kecerdasan tidak mutlak diukur dari deret angka dan prestasi yang bertabur bintang. A tidak terlalu peduli dengan itu semua. Tapi ia tahu satu hal: ayahnya yang pegawai negeri biasa bekerja sangat keras agar ia dan ketiga adiknya bisa sekolah dan menikmati kehidupan yang wajar bagi sebuah keluarga menengah. Ia tahu ibunya yang berusaha menyediakan apa saja makanan di rumah agar ia dan adik-adiknya tidak jajan di luar yang berarti pemborosan. A juga belajar bahwa ia bisa mulai ‘bekerja’. Ia suka membantu tukang siomay di depan sekolah, memotong-motong siomay dan segala perlengkapannya demi mendapat sepotong dua potong siomay tambahan. Sesekali ia membantu bang Jali, tukang warung depan sekolah untuk mengambilkan permen bagi teman-temannya yang mau beli. Lumayan dia diimbali bang Jali permen gratis. Sungguh kecil dan mungkin tak berarti. Tapi dia senang melakukannya.

Suatu ketika, datang kesempatan yang sangat langka. Dia diajukan sekolah untuk mendapatkan beasiswa. ‘Saingan’nya adalah juara kelas dari kelas sebelah, sebut saja namanya B. B ini keponakan Kepsek dan ayahnya seorang pengusaha furnitur. A dan B berteman baik, meski bukan satu ‘geng’.

A senang sekali mendapat kesempatan ini. Semua hal ia persiapkan dengam baik. Kedua orang tuanya tak kurang bahagia dan senang. Penuh rasa syukur, mereka berharap yqng terbaik.

Namun sore menjelang pengajuan berkas, kepala sekolah datang ke rumah A. Ia meminta A mengalah untuk B. Penerima beasiswa hanya satu orang dari tiap sekolah. A dianggap lebih mampu dari B secara ekonomi. Orang tua A merasa kecewa. Tapi apa mau dikata? Sejak kapan anak pengusaha yang zaman itu (tahun 80an) ayahnya sudah bermobil dan punya showroom furnitur dianggap lebih ‘duafa’ ketimbang anak pegawai negeri yang kemana-mana naik vespa sekeluarga?

Ah tapi sudahlah. Mungkin memang belum takdirnya. A menggigit bibirnya perih. Ia kalah, dipaksa kalah, sebelum bertanding. Ia dipaksa gagal sebelum mencoba. Dan itu sangat menyakitkan baginya. Menahan tangis, A menyimpan kembali semua berkas bersama dengan mimpinya yang terpaksa ia matikan. Terlalu dini untuk gagal. Tapi sekali lagi, sudahlah.

Sejak saat itu, ia merasa selalu lebih baik mengalah dalam banyak hal, dalam kehidupannya. Peristiwa itu mengajarkan kepedihan yang selalu ia ingat dalam diam hingga bertahun-tahun kemudian. Hingga ia menyadari bahwa ada banyak hal lain yang harus tetap ia perjuangkan, sama banyaknya dengan hal yang harus ia lewatkan dengan ‘mengalah’. Satu hal yang ia yakini, Tuhan selalu memberinya HANYA yang terbaik. Itu yang harus terus ia cari… baginya ini adalah sebuah perjalanan mengalahkan waktu…. baik dengan terus berjuang ataupun dengan memberi jalan pada kesempatan yang berlalu dengan sabar.

#GA_PMW

image

http://fatihzam.com/give-away-perjalanan-mengalahkan-waktu-bersama-penerbit-mizan-dan-embrio-hardsystem/

Advertisements

About ifaavianty1

A wife, mom of 3 sons, writer and author of about 70 books. Loves books, music, movies, cook, art n craft, history, rain, mall, coffee, tea, and pasta. Oh, and every genius :))
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , . Bookmark the permalink.

8 Responses to Mengubur Mimpi Sebuah Beasiswa

  1. Mugniar says:

    Banyak kisah yang seperti ini Mak. Anak2 di pelosok negeri banyak yang mengalaminya. Banyak yang mengalah karena uang bermain di belakang mereka. Tapi mereka mampu belajar banyak. Salam kenal Mak, belum pernah menyapamu secara akrab. Pernah mencoba request friend tapi teman FB mak Ifa sudah terlalu banyak ๐Ÿ™‚

  2. kasian yaa, terpaksa harus mengalah,, >.<

  3. leyla hana says:

    A itu Mba Ifa? *kepo ๐Ÿ˜€

  4. Elzam says:

    Ehm, pasti sekarang si A udah jadi pemenang di hal yang lain

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s