Irit atau Pelit?

Irit atau Pelit?

Saya itu sebenarnya pelit sama diri sendiri. Sepatu dan tas kalo enggak karena sudah enggak bisa dipakai, ya enggak mau beli baru. Jilbab zaman kuliah saja ada yang masih dipakai sampai sekarang. Belum lagi hobi mengumpulkan uang receh yang sangat berguna untuk parkir atau naik angkot. Nah jadi saya sering susah membedakan antara hemat dan irit.

Tapi, Saya itu boros dalam beberapa hal, yaitu buku, film, dan musik. Itu kayak punya perpustakaan, koleksi buku, CD, VCD dan DVD, sudah banyak betul. Anehnya, ada yang hilang satu saja, saya pasti tahu. Berarti saya pelit kan sebenarnya, takut koleksi hilang, jadi kalau enggak kenal dekat, saya tegas enggak mau kasih pinjam. Buat saya, itu investasi berharga dalam profesi sebagai penulis.

Nah, jelas banget kan saya ini pelit enggak ketulungan. Wkwkwk.

Setelah kebutuhan hidup makin banyak, anak-anak makin besar dan butuh biaya yang tidak sedikit, saya mulai belajar menghubungkan sifat pelit saya dengan belajar berhemat, demikian juga sifat boros saya. Dari situ, saya dan keluarga kecil saya (suami dan ketiga jagoan kami), belajar melakukan beberapa upaya penghematan.

Yang Wajib Dihemat

Ini nih hal-hal yang wajib dihemat: listrik, air, telpon, pulsa dan kuota internet (kecuali urusan pekerjaan), gas (apalagi sejak dia naik menggila), bensin, odol, sabun, sampo. Pakai seperlunya, kalau enggak perlu ya jangan dipakai. Masih suka kebobolan juga sih. Tapi yaaa…. namanya juga usaha.

Kalau Masih Bisa Dipakai dan Dinikmati…ya Hayu Saja

Misalnya baju, jilbab, gadget, mainan hingga makanan. Saya masih juga pakai Samsung Galaxy Mini keluaran 4 tahun lalu, dan BB keluaran 3 tahun lalu. Ganti baru? Enggak ah. Masih bisa dipakai. Enggak apa-apa meski BB tiap dua jam mati sendiri tanpa sebab. Anak-anak saya juga kan laki-laki semua, Alhamdulillah, semua bisa diturunkan hingga ke si bungsu. Ada baju, buku, mainan, tas, sampai papan renang. Irit sampai mati …. wkwkwk.

Soal makanan juga begitu. Alhamdulillah kami hampir enggak pernah buang makanan. Sisa? Mari panaskan lagi, atau kreasikan hingga jadi menu baru. Akibatnya anak-anak juga enggak rewel makannya, apa saja dikunyah. Hihihi.

Boros buat Inventasi

Nah ini soal buku, musik, dan film. Tiap kali nambah koleksi, kami niatkan, ini untuk investasi. Terkait dengan profesi saya dan suami yang penulis, benda-benda itu kami gunakan untuk inspirasi dan referensi bahan tulisan kami. Tentu sekalian ini juga buat investasi ilmu dan wawasan anak-anak. Intinya sih, barang-barang itu harus jadi uang, ilmu, wawsan, dan amal saleh.

Maksimalkan potensi untuk ngirit

Bisa masak? Masaklah. Lumayan banget buat ngirit jajan. Bisa desain baju sendiri? Bisa ini itu? Alhamdulillah banget. Itu yang membuat kami bisa sedikit lebih irit karena apa-apa kami kerjakan sendiri. Bisa lebih irit dan potensial menambah pahala. Sumpah deh, kami sih merasa iriiit banget setelah enggak ada ART. Capek siiih… tapi kan dapat pahala? Pahalanya untuk kita, bukan untuk si mba.

Hmmm…. terus di rumah itu kan sampahnya banyak. Termasuk sampah botol dan plastik. Saya memang sudah mulai ikutan bank sampah di lingkungan, tapi niih mulai krpikiran buat setidaknya sedikit memanfaatkan botol-botol itu untuk dibuat semacam art and craft yang berguna. Lumayan bisa dibuat tempat pinsil misalnya. Kan jadi enggak perlu beli. Atau…bisa dijual kan? Aihhh sumber uangg.

Terus nih… dulu sih waktu sekolah dan kuliah, saya sih enggak pintar-pintar amat. Banyakan mainnya malah. Tapi pas sudah punya anak, keluar lagi deh tuh tabungan ilmu yang sedikit saya miliki. Kalau matematika, fisika, kimia, biologi, sejarah, geografi, dan bahasa-bahasa sih masih bisa saya pegang sendiri buat mengajari anak-anak. Ditambah art and craft. Suami mengajari mengaji dan hafalan Quran. Haha iriiit lagi, enggak perlu les deh anak-anak. Irit uang les, ongkos angkot untuk antar jemput les, uang buku les, dan uang jajan. Wkwkwk.

Oh, masalah kesehatan juga bisa diirit. Caranya? Jadilah dokter dan terapis untuk keluarga. Pelajari dengan baik semua jenis pertolongan pertama di rumah. Kuasai ketrampilan dasar obat tradisional, pijat, urut, refleksi (suami saya nih bagiannya). Sugestikan keluarga sehat tanpa dokter dan obat. Biasakan obat herbal. Dan biasakan makan yang sehat dan bergizi, tentu juga halal. Alhamdulillah anak-anak sangat jarang ke dokter. Obat panas saja enggak kepakai. Pokoknya kalau bocah demam dengan suhu di bawah 39 saya pastikan enggak satu obatpun masuk.

Ada lagi yang bisa diirit. Biaya rekreasi. Kalau masuk wahana wisata mahal alias mehong, kami biasa cari wahana yang murah atau gratis tapi kalau bisa menambah wawasan dan fun buat anak. Rekreasi di Monas atau Taman Suropati bisa jadi pilihan. Bisa ke museum dan masjid-masjid seputar jabodetabek. Ke mall juga boleh, kan enggak harus beli-beli. Biasanya makan dulu di food street atau warung-warung yang bersih dan murah, jadi di mall kita hanya nyemil atau minum yang murmer gitu.

So far, anak-anak enggak nyadar kalau emaknya pelit. Mereka sih mengira ini sekedar berhemat atau irit saja. Yang penting kan tetap happy. Ini kan sebetulnya ‘percampuran’ dari sifat pelit saya dan kebutuhan untuk irit tanpa meninggalkan unsur fun-nya bagi anak-anak. *ngeles modeON*

“Tulisan ini diikutsertakan pada Giveaway Irit tapi Bukan Pelit yang diadakan oleh Kakaakin”

image

image

image

Advertisements

About ifaavianty1

A wife, mom of 3 sons, writer and author of about 70 books. Loves books, music, movies, cook, art n craft, history, rain, mall, coffee, tea, and pasta. Oh, and every genius :))
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Irit atau Pelit?

  1. kakaakin says:

    Membeli barang, tapi juga memperhitungkan kemungkinann barang itu buat investasi? Hmm.. keren juga idenya nih, Mbak. Dari pada punya barang, numpuk, tapi nggak terlalu bermanfaat 🙂

    Terima kasih sudah ikutan GA Irit tapi Bukan Pelit. Sudah tercatat sebagai peserta 🙂

  2. apikecil says:

    Terima kasih sudah berbagi di giveaway irit tapi bukan pelit 🙂

    Salam,
    @apikecil

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s