Suatu Pagi Ketika Kita Tak Lagi Muda

Dear My Life-Partner

Sudah pagi lagi. Sudah hari baru lagi. Berarti sudah…. berapa puluh ribu hari yang kita lewati bersama …

Sejak suatu pagi yang merubah hidup kita, tiga belas tahun yang lalu. Penanda masa lewat ucap ijab qabul antara ayahku dan engkau. Atas nama Tuhan, kita disatukan dalam perjanjian yang teramat kuat. Lalu kita belajar melangkah bersama. Bukan memaksa menyamakan langkah, sebab tak mungkin bisa. Kita hanyalah dua pribadi yang belajar memahami bahwa menjadi satu bukanlah selalu sama.

Kita tetap jadi diri kita masing-masing. Namun kita selalu ada dalam pasang surut kehidupan pasangan kita. Saling membersamai dalam suka dan duka. Saling menguatkan, saling mendoakan, saling percaya. Namun bukan hanya itu, ada yang mengikat kita lebih erat dan makin erat seiring dengan berjalannya waktu. Aku menamainya ikatan ruhuyah dan intelektual. Dengannya, bukan sekedar cinta yang bisa mekar dan layu, tapi juga kita berkembang menjadi pribadi-pribadi yang lebih dewasa.

Bagiku, itu makna terindah membersamaimu sebagai jodoh yang dipikihkan Tuhan. Kita menjadi sepasang pribadi yang bertambah dewasa, growing old sih sebenarnya, yang menikmati hubungan spiritual dan intelektual seperti menikmati hangatnya suasana pagi dan teduhnya suasana senja. Mungkin berbeda dengan sepasang pengantin muda yang masih dalam lingkaran cinta yang membara.

Seperti sepasang sahabat, kita berdiskusi, berjalan beriringan atau duduk berdua, tentang banyak hal. Tentang Tuhan, diri kita, ketiga buah hati kita, cita-cita, harapan, kehidupan, bahkan kematian. Tentang kedalaman ilmu dari filsafat, sains, hingga sekedar ecek-ecek mengapa tikus bisa menerobos masuk lewat bawah pintu. Tentang tangis dan tawa, tentang amarah dan memaafkan. Saling tertawa, lalu kembali merenung. Betapa nyamannya. Pada akhirnya, kita selalu sampai pada kesimpulan, kita telah menjelma jiwa yang satu.

Dan suatu pagi ketika kita tak lagi muda, seusai kita saling meledek tentang gejala menjelang ‘tua’ yang sebenarnya masih lumayan jauh, satu hal kita sadari: kita tak ingin pergi kemana-mana lagi. Kita hanya ingin melewati sisa usia bersama separuh jiwa. Unseparable.

Sepasang manusia itu saling menggenggam tangan. Kita. Sampai nanti. Selamanya.

Sebuah catatan kecil tentang hubungan yang hangat dan tak terpisahkan. Bonne anniversaire, 14 Januari 2001-2014.

Tulisan ini juga diikutsertakan dalam lomba menulis Giveaway “Kusebut Namamu dalam Ijab dan Qabul” mba Aida MA dan mba Elita Duatnofa

image

image

image

Advertisements

About ifaavianty1

A wife, mom of 3 sons, writer and author of about 70 books. Loves books, music, movies, cook, art n craft, history, rain, mall, coffee, tea, and pasta. Oh, and every genius :))
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Suatu Pagi Ketika Kita Tak Lagi Muda

  1. aida says:

    ahhh teteh…happy wedd anniversary. Moga kami juga bisa langgeng seperti teteh dan suami. Thanks udah ikutan GA Kusebut Namamu Dalam Ijab dan Qabul.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s