Tentang ‘Maaf’ dan ‘Terima Kasih’ itu

(Terima Kasih Ibu)

image

Mamah dan Papah dikelilingi cucu-cucunya 🙂

Jika seorang ibu senang menasehati anaknya, saya rasa itu adalah sebuah bentuk kasih sayang kepada anaknya. Semua ibu pasti punya kebiasaan ini. Saya juga. Sebagai ibu dari tiga bocah laki-laki yang kadar keaktifannya melebihi tiga naga penguasa kerajaan, saya rasanya enggak pernah berhenti untuk menasehati, dan seringnya sih sambil ngomel, tentang ini dan itu kepada mereka. Tanpa peduli didengar atau tidak, saya lalu menjadi sering mengulang-ulang nasehat atau omelan yang sama, di lain waktu dan kesempatan. Tak jarang pula anak-anak saya menjawab bahwa nasehat itu sudah pernah mereka dengar sebelumnya. Haha, pasti mereka bosan dengan rentetan nasehat dan omelan saya.

Ibu saya, yang saya panggil Mamah, juga demikian. Beliau juga sering berulang memberikan nasehat ini dan itu. Bahkan sejak saya kecil. Dulu saya pasti berkata seperti anak-anak saya kepada saya. Tapi sekarang, saya mulai merubah cara pandang saya. Sebab Mamah bukan hanya sekedar menasehati. Sebab saya menemukan sesuatu yang istimewa dari Mamah…

“Maaf lahir batin ya, Ceu… barangkali ada yang enggak enak yang Mamah omongkan tadi ke Ceuceu”, kata Mamah setiap kali menyudahi pembicaraan di telpon atau mengakhiri pertemuan kami.

Oh iya, Ceuceu itu adalah panggilan terhadap kakak perempuan dalam kultur Sunda. Seperti Teteh begitu. Saya dipanggil Ceuceu di keluarga besar karena saya anak sulung.

“Tetap saling mengingatkan ya, Ceu. Seneng Mamah kalau kita habis telponan terus saling mengingatkan begini”.

Nah tuh. Jarang-jarang ada tipe ibu yang seperti ini kan? Menerima masukan dari anaknya, bahkan mencatat semuanya dengan baik. Lalu membiasakan diri meminta maaf setiap selesai bicara atau memberikan nasehat. Menurut saya pribadi, itu menandakan ada kaitannya dengan pribadi Mamah sendiri.

Pertama, beliau termasuk perempuan yang cerdas dan berwawasan luas pada zamannya. Beliau dan Papah yang pertama kali memperkenalkan saya pada buku dan majalah, termasuk yang berbahasa asing, termasuk yang berbahasa selain Inggris. Beliau juga punya referensi selera musik, film, dan fashion yang bagus, dan ini diberikan kepada saya sebagai ilmu dan wawasan yang berguna bagi kehidupan saya. Kecerdasan dan wawasan Mamah yang luas itulah yang membuatnya open minded dan senang belajar, meski sudah berusia lanjut. Jadi setiap momen percakapan kami beliau anggap sebagai momen belajar dan menambah wawasan.

Kedua, beliau termasuk orang yang ‘enggak enakeun’, takut menyinggung perasaan orang lain, sekalipun itu anaknya sendiri. Dan itu dibuktikan dengan beliau selalu mengucapkan kata terima kasih dan maaf kepada anak-anaknya dalam banyak hal.

Tanpa saya sadari, karakter Mamah yang demikian itu membekas dalam diri saya. Dalam banyak hal, saya mengambilnya dalam pola hubungan dengan orang-orang di sekitar saya, terutama dengan suami dan anak-anak. Alhamdulillah, Tuhan memang sayang sama saya yang pada dasarnya punya karakter keras dan agak belagu ini. Diberi-Nya pula saya seorang suami yang karakternya hampir sama dengan Mamah. Wah, pas deh.

Karakter Mamah dan suami saya itulah yang kemudian coba saya terapkan dalam model hubungan saya dengan ketiga anak saya. Duh…. ternyata berat ya meminta maaf kepada anak setelah memarahi mereka. Duh ternyata enggak gampang ya melawan gengsi untuk mengucapkan terima kasih setelah ditolong anak dalam suatu pekerjaan.

Tapi alhamdulillah, saya terus belajar. Salah lagi. Lupa lagi. Belajar lagi. Alhamdulillah, Mamah dan juga suami saya, terus memberi contoh. Bukan hanya dengan untaian nasehat dan kritik, namun utamanya dengan sikap, dengan praktik langsung. They walk the talk. Dan sungguh itu membuat saya jadi terbimbing untuk terus belajar untuk bisa seperti mereka.

So far, saya merasa lebih nyaman. Bukan saja dalam membina hubungan yang lebih baik lagi dengan Mamah, suami, dan anak-anak, juga dengan diri saya sendiri. Betapa nyamannya hidup dengan jiwa yang lapang, banyak berterima kasih, dan selalu siap memberi serta meminta maaf.

Terima kasih, Mamah…. untuk mengajarkan saya memiliki jiwa yang lebih lapang.

“Sebentar, Ceu, Mamah catat dulu. Jadi puasa sunnahnya tiga hari ya, mulai besok?”

“Ceu, itu ada berita tawuran pelajar sudah sampai Depok. Tolong ingatkan Akna hati-hati kalau pulang sekolah ya?”

“Terima kasih ya, Ceu, sudah ingatkan Mamah. Nanti mau coba ah baca Qurannya sehari satu halaman”.

“Maaf ya, Ceu, takutnya ada yang salah di kata-kata Mamah tadi”.

Duh, saya masih harus banyak belajar dari Mamah…. Terima kasih, Ibu, Mamahku….

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Sejuta Cinta untuk Ibu dari Perempuan.com

Advertisements

About ifaavianty1

A wife, mom of 3 sons, writer and author of about 70 books. Loves books, music, movies, cook, art n craft, history, rain, mall, coffee, tea, and pasta. Oh, and every genius :))
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s