Pilihan Tricia

Coba2 nulis cerpen remaja lagi…

Pilihan Tricia

“Kamu serius dengan pilihanmu itu?”
Aku yang sedang sibuk memfotokopi berkas-berkas ijazah dan surat keterangan lulus, seketika menoleh ke asal suara. Suara yang lembut namun tegas itu milik sahabat terdekatku, Fe.
“Ya seriuslah. Memangnya kapan aku pernah main-main gitu?” Jawabku sambil kembali sibuk memilah-milah hasil fotokopian. Mas Didin, tukang foto kopi di Koperasi Sekolah SMA-ku ini memang paling malas kalau disuruh menyusun dan merapikan hasil fotokopian. Biasanya dia membiarkan para pemesan yang menyusunnya kembali.
“Papamu setuju?”
Aku mengeluh. Kenapa sih dia tidak membiarkanku sebentar saja dengan kesibukanku ini?
“Tris…”
“Ya enggaklah. Kalau dia setuju, pasti mukaku nggak sekusut ini”.
“Terus kamu lanjut?”
“Ya masak berhenti? Sudah terlanjur, Fe.”
“Kak Nata?” Nah, sekarang dia membawa-bawa nama kakakku satu-satunya. Laki-laki dan cenderung otoriter. Aku paling malas berdebat dengannya. Dulu sewaktu Mama masih hidup, aku masih bisa minta pembelaan dari Mama kalau kak Nata mulai dengan sikap otoriternya itu. Mentang-mentang dia anak sulung. Sekarang, Fe pula membuatku terpaksa harus mengingat manusia satu itu.
“Penting ya dia harus setuju? Yang mau kuliah kan aku, bukan dia”, sentakku judes.
“Tapi dia kan satu suara sama Papamu”.
“Biar! Aku tetap lanjut kok”.
“Jadi, rencanamu?”
Huaaaa, kadang-kadang ibu peri yang satu ini mengganggu juga ya. Mau kuketusi lagi, aku yang tidak tega. Dia terlalu lembut sekaligus terlalu berwibawa untuk kuperlakukan ‘semena-mena’.
Kubereskan semua berkasku masuk ke dalam clear folder. Selesai sudah urusanku dengan mas Didin.  “Terima kasih, Mas Didin”, ujarku pada si Mas yang tersenyum genit padaku sambil mengedipkan mata.
Huh, menyebalkan! Sudah punya istri, masih genit sama anak SMA, batinku. Tanpa bisa kucergah, bibirku mencibir. Mengantisipasi hal-hal selanjutnya, Fe buru-buru menarik lenganku menjauh dari lokasi foto kopi.
“Kamu masih menunggu jawabanku, ya, Fe?” tanyaku dengan nada menodongnya.
Haha, lihatlah dia tersipu. Ada semburat merah jambu yang tipis membayang di pipinya. Sebenarnya sahabatku ini cantik kok. Hanya saja dia terlalu sederhana. Malas berdandan. Sementara bagiku, sadar penampilan itu hal yang wajib meski kita masih berseragam putih abu-abu begini.
“Ya itu juga kalau kamu nggak keberatan membeberkan rencanamu sama aku”, jawabnya sok santai.
“Nanti deh aku kasih bocorannya sama kamu. Nggak sekarang, Fe”.
“Tapi nggak pakai acara kabur dari rumah kan?”
Aku tertawa. “Ya enggaklah. Kamu kira aku anak kurang perhitungan kayak si Pita!” seruku.
Jadi, Pita itu salah satu sahabat kami juga. Anak kelas sebelah. Banyak gaya-nya sih sama denganku. Tapi dia lebih pintar dariku. Sedikit. Nilai-nilai IPA-nya cemerlang, tapi lebih suka masuk jurusan IPS. Sementara aku hanya cemerlang di urusan karang-mengarang, gambar-menggambar, nyanyi-menyanyi, dan… menghayal. Oh, olah raga juga. Tapi secara umum nilai-nilai kami tidak jauh beda jika dirata-rata.
Tapi si Pita ini anaknya kurang perhitungan, meskipun dia jago matematika, dan sanggup menghitung koma-komaan di luar kepala. Dia ini kalau ribut sedikit dengan orang tuanya, pasti langsung kabur. Dan dodolnya, lokasi kaburnya selalu tertebak oleh orang tuanya dan kakak sulungnya, Kak Belinda. Pita itu kan kaburnya nggak bisa jauh-jauh dari kami, para sahabatnya  ini. Mbok ya kalau kabur tuh jauhan sedikit. Misalnya ke luar kota, ke luar pulau, atau ke luar negeri sekalian.
“Jadi, gimana, Tris?” desak Fe yang tampak mulai curiga melihatku yang malah senyum-senyum sendiri.
“Lihat saja nanti kaliii!” elakku sambil melambaikan tangan pada Claudine, alias Odin. Ini salah satu sahabat kami juga, yang kali ini memegang kunci dari strategiku kali ini.
Strategi apa?
Ya, sabar dong. Kan tadi juga kubilang, belum saatnya aku bicara sekarang. Hehehe…

Ini sudah kampus ke… sebentar, biar kuhitung dulu…
Aduh, keberapa ya? Tuh kan, aku memang hancur deh kalau urusan hitung-menghitung, Aku malah curiga, kalau saja jari-jariku lebih dari sepuluh, aku tidak akan sadar kalau salah satunya menghilang.
Pertama, Gunadarma jurusan Teknik Komputer. Kedua, Universitas Pancasila jurusan Ekonomi Manajemen. Ketiga, ITI jurusan Teknik Arsitektur. Keempat, STAN. Kelima, IPB. Keenam, ya ini dia, Trisakti jurusan Akuntansi. Wuihhh, sudah banyak ya, kampus yang ‘kusinggahi’.
Ya, kusinggahi untuk sekedar daftar, ikut tes seleksi ujian masuk, dan… gagal dengan sukses. Oh, dan dengan bahagia.
Lho, kok, gagal malah bahagia?
Ya. Sebab aku tidak pernah berminat memasuki jurusan-jurusan atau fakultas yang kusinggahi itu.
Terus, kenapa daftar ke sana jika tidak berminat?
Coba, tanyakan saja pada Papa dan kak Nata. Yuk, kalau nggak percaya.

“Kamu gagal lagi, Tris? Astagaaa. Kamu kan anak IPA, masak semua tes masuk kamu gagal gara-gara nilai matematika kamu rendah. Jangan-jangan di bawah standar pula? Bagaimana ini? Ayahmu kan guru matematika!” berondong Papa begitu kukabari tentang kegagalan yang membahagiakan bagiku itu.
Aku sibuk menahan senyum. Asyiiik, moga-moga aku tidak disuruhnya lagi beli formulir dan ikut ujian di universitas yang lain lagi.
“Dan aku anak MIPA, Matematika lagi! Masak kamu nggak bisa?”
Ah, ini lagi, si pengacau. Kak Nata yang selaluuuu saja mau ikut campur, tiba-tiba muncul dengan semangkuk mie ayam bakso yang mengepul. Harumnya menguar, membuatku makin kesal. Dia ini pelit luar biasa. Pasti aku tak akan diberinya barang sedikit.
“Memangnya satu keluarga harus jadi ahli matematika semua?” gugatku kesal. Lebih kesal lagi melihat si Pelit satu itu asyik makan tanpa menawariku sedikitpun. Awas dia!
“Bukan begitu, Tris. Kamu boleh masuk jurusan apaaaa saja. Asal jurusan itu kelak memudahkanmu untuk mencari kerja, selulus kuliah nanti”, ujar Papa. Kelihatan sekali dia berusaha menahan sabar menghadapiku.
“Masalah kerja itu nggak tergantung jurusan waktu kuliah, kali, Pa”, jawabku mencoba berargumen.
“Ya iya dong. Memangnya mau kerja apa kamu, lulus fakultas drama gitu? Mau main sinetron? Paling-paling kamu jadi ibu tiri bawel atau Nenek Lampir!”  serobot kak Nata. Menyebalkan.
Sungguh, aku siap menumpahkan mangkuk di tangannya yang masih panas itu, ke pangkuannya, sekarang juga.
“Nata, sudahlah. Kamu teruskan saja makanmu. Adikmu biar Papa yang urus” perintah Papa berwibawa, sebelum pecah perang saudara rutin diantara kami berdua.
“Lagian, Papa juga sih, Dia dodol begitu disuruh tes dimana-mana, buang-buang uang pendaftaran saja!” Anak itu masih juga cari perkara ya. Lagipula, ih kayak dia saja yang membiayai sekolahku? Cih.
“Nata, kamu juga suka ikut campur sih”.
Bagus, Pa, marahi saja dia tuh. Asyiiik. Dengan lincah, aku segera menyelinap ke kamar. Menjauh dari kemungkinan berlanjutnya serangan babak dua.
Aduh, kapan sih pengumuman penerimaan Mahasiswa Baru Gelombang Kedua IKJ? Tak sabar rasanya.
Lalu, kalau aku juga tidak diterima di situ, bagaimana?
Mau kuliah dimana aku? Tes masuk UI dan ITB, aku kan menolak ikut waktu itu, sampai Papa dan kak Nata kompak memarahiku dua hari dua malam tanpa henti.
Gelisah aku membolak-balik kalender meja di kamarku.
Sekejap kemudian, aku sudah memutar sebuah nomor yang cukup kuhafal dengan baik.
“Halo, Odin?”
Terdengar suara anak kecil ribut di ujung sana. Oh, si Odin pasti sedang membantu menjaga anak kakak sulungnya.
“Iye, kenapa?”
“Lho kok kenapa. Din, kalau aku nggak diterima di IKJ bagaimana?”
“Sekarang aku tanya kamu, Tris. “
Bagaimana sih dia? Kan aku yang mau bertanya, kenapa dia malah duluan bertanya sih?
“Cita-citamu apa?”
Ih. Kayak guru saja. Tapi baiklah. “Artis sekaligus sutradara hebat, kayak Om Deddy Mizwar, atau kayak Lola Amaria, … kenapa memangnya, Din?”
“Harus nggak, kuliah di jurusan Drama?”
Ah, ribet. Pusing tanya jawab sama orang terlalu pintar model dia ini. Salah aku. Harusnya bukan dia yang kuajak ngomong. Pita mungkin… lebih hancur lagi. Haduuuh.
“Yaa haruslah, Din. Kan biar dapat ilmunya sekalian.”
“Hanung Bramantyo kan sutradara hebat. Dia bukan lulusan IKJ ya? Teruss… Atiqah Hasiholan kan aktris hebat juga tuh, kayaknya dia bukan lulusan sekolah drama dan sebangsanya gitu ya?”
“Nah, kamu juga kan mau jadi penari, Claudine-ku sayang. Kenapa kamu masuk IKJ juga, padahal kamu kan bisa saja kuliah di Teknik Pertambangan ITB sambil kursus menari, bukan?”
“Bukan. Eh, maksudku, bisa. Tapiii… kita kan punya pilihan-pilihan. Ngerti nggak maksudku, Tris?”
Susah memang bicara dengan anak kepinteran kayak si Odin ini. Semua orang dianggapnya tidak mengerti arah maksud omongan dia. Eh, tapi maksud dia dengan omongannya barusan, apa ya? Nah lho.
Kak Nata ternyata benar. Aku ini dodol. Agaknya aku harus siap gagal pula masuk IKJ…
“Gini, Tris. Pilihan pertama dalam hidup aku, ya mencoba daftar ke IKJ jurusan seni Tari. Kalau berhasil, ya syukur alhamdulillah. Kalau gagal? Aku harus siap ke minatku yang berikut, Pendidikan Anak Usia Dini. Kalau gagal juga? Aku suka mendesain interior rumah. Jadi, masuk Fakultas  Desain Interior itu pilihan ketigaku. Dan jangan lupa, aku masih bisa mengulang mencoba daftar kembali di pilihan pertamaku tahun depan…. Iya kan? Iya kan?”
Heuhhh. Tapi minatku yang kedua, adalah jadi penyiar radio. Ini juga ditentang kedua orang tercinta itu. Minatku yang ketiga? Menjahit baju dan merangkai bunga. Nah. Coba kira-kira sendiri, apa reaksi mereka jika aku akhirnya masuk ke pilihan ketiga itu.
“Ah, sudah deh, Din, ngomong sama kamu nggak menyelesaikan masalah. Yang penting, kamu ingat janji kamu ya, mau melobi Papa? Papa kan percaya benar sama kamu”, rajukku kemudian.
“Iyaaa, aku masih ingat, Tris. Tenang saja. Yang paling penting sih, sebetulnya, adalah bagaimana kita ini jadi orang yang terbaik di bidang kita. Apapun itu. Sebaik yang kita mampu. Ingat kan, kita mau jadi orang Indonesia yang bisa membawa nama baik negeri kita ke seluruh dunia dengan prestasi kita?”
Oh, yang itu tentu akan kuingat, Odin. Itu janji kami ketika terpilih sebagai Tim Pasukan Pengibar Bendera Pusaka tingkat nasional. Mengingat itu, ada semacam tekad di hariku, bahwa aku harus bisa membuktikan bahwa aku bisa mencapai cita-citaku dan berkarya sebaik-baiknya, Agar Papa bangga. Agar Indonesia-ku bangga. InsyaAllah.
Tapi, bagaimana nasibku jika aku gagal masuk IKJ atau malah berhasil tapi tidak diizinkan Papa?
Tuhan, tolong Tricia yaaa…

Aku mengerut di pojok kursi ruang keluarga sekarang, Papa menatapku tajam. Dan aku hanya bisa menunduk pasrah. Mau apa lagi? Untungnya, kak Nata sudah disuruh menyingkir sejak tadi oleh Papa.
Ya Tuhan, aku sudah cukup sedih dengan kenyataan yang harus kuterima. Aku tahu, mungkin ini bukan atau belum yang terbaik bagiku. Tapi tolong, jangan tambah lagi ujian ini bagiku. Aku tak kuat, ya Allah.
“Jadi, kamu gagal lagi, Tris? Bahkan di jurusan yang kamu minati? Astagaaa, ada apa sebenarnya dengan kamu, Tris? Bukankah kamu tidak bodoh?”
Astaga. Sabaaar … sabar…
“Itu tetangga kita, si Odin, sahabat kamu juga, kan lulus masuk IKJ. Kamu sama dia kan sama pintarnya….”
Aduuuh, si Odin pakai acara lulus sih…
“Jadi kamu mau kuliah dimana kalau begini?”
Itu dia. Aku pusing jadinya….
“Kamu coba lagi, daftar apa kek. Papa nggak mau anak Papa tidak kuliah sama sekali atau nganggur, meski cuma setahun!”
“Kalau… daftar ke jurusan Broadcasting boleh, Pa?” tanyaku hati-hati, tak berani mengangkat wajah.
Satu dua menit. Papa diam. Hingga sepuluh menit masih diam. Aduh, Tuhan, ayolah, ada keputusan-Mu yang terbaik untukku….
“Ya sudah. Harus lulus ya, Papa malu punya anak yang dimana-mana tak lulus ujian….”
Hah? Akhirnyaaaa….
Tak percaya aku mendengarnya. Tapi ini adalah jalanku. Mungkin tahun depan akan kucoba lagi mendaftar di IKJ jurusan Drama. Namun satu hal, aku janji, Tak akan lagi kukecewakan Papa.
Sungguh, aku tak ingin lagi mengulangi kesalahanku, Ya, di kampus-kampus sebelumnya, aku sengaja tidak mengisi dengan benar lembar jawabanku. Sengaja kubuat nilaiku seburuk mungkin sehingga aku tidak lulus. Mungkin Tuhan akhirnya menegurku dengan kenyataan bahwa aku tidak lulus di jurusan yang kuinginkan, meski aku yakin nilaiku bagus.
Tuhan, maafkan Tris. Papa, kak Nata, maaf…
Sungguh, Tris janji…tak ingin sekonyol ini lagi…

Advertisements

About ifaavianty1

A wife, mom of 3 sons, writer and author of about 70 books. Loves books, music, movies, cook, art n craft, history, rain, mall, coffee, tea, and pasta. Oh, and every genius :))
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , . Bookmark the permalink.

7 Responses to Pilihan Tricia

  1. titintitan says:

    Mba, tricia itu kan juga tokoh di hmm… salah satu novel mb iva yah..
    my avilla bukan? duududu… lupa 😀

  2. leyla hana says:

    Huaaah… mana berani aku dulu seperti Trisia.. *terpaksa makan bangku ekonomi 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s