Destiny

image

Tentang laki-laki kurus berperut naga

Ini adalah kisah tentang anggota sebuah keluarga besar yang ternyata sangat besar. Mereka bukan keluarga teristimewa alias creme de la creme di Jakarta ini, namun mereka memiliki semua yang diimpikan oleh sebuah dinasti. Mereka punya kualitas ‘darah murni’ terbaik, yang berdampak pada kualitas fisik dan kecerdasan para anggotanya, dan itu tentu memungkinkan mereka mendapatkan fasilitas hidup yang kadang lebih baik dari kebanyakan orang. Istimewanya, mereka bukanlah orang-orang yang suka menonjolkan diri dalam momen-momen gemilau yang biasa dipenuhi orang-orang yang sekelas dengan mereka. Mereka adalah keluarga yang sangat ingin terlihat biasa.

Sayangnya, sebagaimana takdir tak selalu sama, tak semua dari mereka bernasib gemilau. Hanya darah yang sama mereka warisi, namun harta tak selalu sama jumlahnya. Namun perbedaan garis nasib ini tak membuat mereka surut untuk saling mengikatkan diri lewat keturunan-keturunan mereka, dengan maksud menjaga kemurnian garis darah alias silsilah tadi. Dan sayangnya pula, ketika zaman berganti, tak semua dari mereka menginginkan hal yang sama.

Itu termasuk aku, Sandy Larissa Laksamana. Bukan hanya zaman yang sudah berbeda, tapi perasaanku juga tak bisa disamakan. Bagaimana bisa, aku harus menikahi saudara sepupuku, yang meskipun jauh, ada kemungkinan aku sudah sering atau minimal pernah bertemu dan bermain dengan mereka, apalagi waktu bayi atau anak-anak? Betapa menggelikannya. Oh, keluarga besar kami memang tidak mengizinkan pernikahan antar saudara yang garisnya dekat. Secara medispun tidak boleh, bukan? Namun, keluarga besar kami yang ternyata besaaar sekali ini, cukup giat melangsungkan acara kumpul keluarga. Baik itu acara pernikahan, ulang tahun, khitanan, lebaran, tahun baru, sampai selamatan mau pergi haji alias walimatus safar. Jadi, meskipun hanya sepupu jauh, tapi karena sering ketemu, bisa jadi terasa dekat. Uh, betapa malasnya membayangkan menikahi seseorang yang ‘dekat padahal jauh’ seperti itu, bukan?

Mungkin kalian berkata, enak ya, keluarganya guyub, kompak, rame. Ya, itu betul. Saking kompaknya, aku sudah tak peduli lagi dia sepupu dari mana, ponakan dari sebelah mana, atau bahkan tinggalnya dimana. Bahkan, kadang aku merasa tanpa harus punya teman di luar lingkungan keluarga besar, hidupku sudah cukup ramai dan rusuh oleh keluarga besarku itu. Eh, bahkan banyak pula diantara kami yang tadinya berteman atau bersahabat, ternyata saudara. Huhuhu, sesuai benar dengan semboyan negara kita, Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tapi tetap satu… keluarga besar.

Lucunya, sebagian besar dari kami, menikah karena dijodohkan keluarga. Zaman gini hari? Yes. Dan so far, belum pernah terjadi skandal perceraian di keluarga besar ini. Sekalipun. Bagus dong. Ya, bagus. Kalau yang menjalani perjodohan itu suka sama suka. Kalau nggak suka sama nggak suka, bagaimana?

Ya seperti aku ini. Please, pernikahan ala Cinderella yang too good to be true tidak ada sama sekali dalam kamusku. Apalagi dengan orang itu. Hohoho never in a million years.

Mengapa?

Pertama, aku sudah sangat mengenal dia. Luar dalam. Dia itu geng-nya kakakku, kang Erry, yang hobinya belajar tak kenal waktu dan tempat. Sejak SD. Mereka adalah sekelompok laki-laki yang telah menikahi gadget-nya lebih dulu ketimbang melihat di luar sana begitu banyak cewek cantik dan menarik. Sementara aku adalah juga pengguna gadget yang setia, terutama android-ku ini, … untuk main game, especially Dragon Story. Dan geng kang Erry ini tak bosan-bosan meledekku atas hobiku yang satu ini. Mereka bilang, aku adalah sejenis perempuan culun yang hobinya aneh, menikah-nikahkan naga. Biarlah. Mungkin ini sifat turunan dari keluarga besar kami yang sukanya menjodoh-jodohkan orang. Nah, aku menjodohkan naga-nagaku sajalah.

Kedua, aku tidak suka laki-laki kurus tapi selera makannya seperti naga. Oh, bukan. Seperti bison. Dia itu kurus tinggi kayak penyanyi 80-an, David Bowie, tapi selera makannya seperti tukang becak sehabis bekerja keras. Paling tidak, itu yang kutahu dari kang Erry dan saudara-saudaraku yang lain. Bagiku, dia seperti… emmm, manusia penderita penyakit cacingan. Hahaha, naga yang cacingan, kuralat lagi. Kalau bison tidak cocok dengan tubuhnya yang terlalu ramping itu.

Ketiga, aku tidak suka laki-laki berewokan.  Kesannya kumal dan tidak rapi. Nah dia itu sejak kuliah di Perancis, bukannya malah rapi, malah kumis dan janggutnya dipelihara jadi lebat begitu. Pantas, dia kelihatan lebih tua dari umur sebenarnya. Membayangkan berjalan dengannya seperti berjalan dengan kakek-kakek. Menggelikan dan menjijikkan, bukan?

Keempat, dan ini yang paling penting, aku tidak mencintainya. Tidak sedikitpun. Kang Erry juga tahu ini. Tapi mengapa dia malah ikutan semangat dalam hal jodoh-jodohan ini sih?

Sungguh, empat alasan itu sudah menjadi dasarku untuk menolak perjodohan ini. Selamanya. Apapun bentuk dan caranya. Untuk itu, aku akan melakukan segala cara. Toh ada beberapa sepupuku yang berhasil juga memberontak. Akhirnya pernikahan mereka disetujui juga kok. So, apa salahnya aku memberontak?

Tentang gadis tukang kue berotak naga itu

Sejak kecil, ayah dan ibu selalu mendidikku dan keempat adikku untuk hidup sederhana dan bekerja keras. Kami menjadi terbiasa menghargai para pekerja keras. Ayahku berasal dari keluarga besar yang sangat besar dan dikaruniai harta yang cukup berlimpah. Namun ia memilih bekerja sebagai pegawai negeri di sebuah bagian yang tergolong kering. Berkat prestasi kerja dan kejujurannyalah, ia kemudian memperoleh kedudukan yang cukup baik. Tetapi itu tak pernah mengurangi kesederhanaan dan sifat kerja kerasnya. Ibuku berasal dari keluarga menengah dan juga pekerja keras. Sejak masa mudanya, ibu bekerja sebagai pekerja sosial. Setelah menikah, ia masih bekerja keras. Ia bekerja apa saja untuk membantu ayah mencukupi kebutuhan keluarga. Kebetulan ia pandai mengerjakan berbagai kerajinan tangan. Tanpa malu, ia menawarkan hasil-hasil karyanya berupa sarung bantal, seprai, bed cover, hingga apron ke mana-mana. Dari hasil kerja keras merekalah, aku dan adik-adikku bisa menikmati pendidikan dan fasilitas hidup yang baik.

Itu sebabnya, dari dulupun, aku selalu salut pada orang-orang seusiaku yang sudah mau bekerja keras untuk kehidupan yang lebih baik. Salah satunya sahabatku, Erry. Ia berasal dari keluarga menengah yang masih saudara lumayan jauh dengan keluargaku dari pihak ayah. Ayahnya seorang guru dan ibunya seorang pengusaha kuliner. Aku bersahabat dengan Erry sejak kami masih SD dan Mama Falli, begitu kami memanggil Mamanya si Erry, masih suka menitip siomay buatannya ke kantin sekolah. Sungguh aku kagum pada Erry yang tak malu-malu mengantarkan penganan buatan Mamanya itu ke kantin, sekaligus mengambil sisanya dan uang hasil penjualannya sepulang sekolah. Akulah yang dengan setia menungguinya selesai melakukan transaksi dengan Mpok Minah, sang pemilik kantin. Senangnya jika ada sisa siomay, Mama Falli mengizinkan kami bertiga untuk memakannya.

Bertiga?

Ya, kami nyaris selalu bertiga saat itu. Aku, Erry, dan adiknya yang kelasnya satu tingkat di bawah kami, namanya Sandy. Anak perempuan yang biasa dipanggil Neng di keluarganya itu sudah kuanggap adikku sendiri. Seperti kakaknya, dia juga pintar dan senang bekerja keras. Anak sekecil itu, waktu aku baru dekat dengan kakaknya, kelas 4 SD sudah rajin membantu Mamanya membuat masakan dan kue-kue. Dia juga tak malu untuk menjajakan kue-kue itu tidak hanya di kantin, tapi juga kepada teman-temannya sekelas.

Ketika kami mulai besar, Neng mulai jarang bergabung denganku dan Erry. Dia sudah memiliki geng-nya sendiri. Geng anak cewek yang bukan cewek-cewek ngetop di sekolah. Neng memang bukan termasuk jajaran cewek ngetop di sekolah, dari SD hingga SMA. Meski cantik dan terlihat sedikit modis, ia terlalu sederhana untuk bisa ‘masuk jajaran model sekolahan’ saat itu. Neng juga bukan aktivis sekolah. Tapi dia selalu masuk peringkat 10 besar di sekolah, sama seperti Abangnya dan aku. Neng hanya satu dari sekian banyak gadis di sekolah kami yang pesonanya tersembunyi diantara begitu banyak gadis cantik dan berkilau. Dia tergolong nerdy girl, dan julukannya sebagai tukang kue membuatnya tidak populer di mata anak-anak laki-laki.

Tapi kutahu pasti, Neng tidak berkeberatan. Itu dia yang membuatnya menjadi istimewa. Dia unik. Dia tetap tenang dengan posisi jomblowati-nya yang dia pertahankan hingga lulus Master, bahkan,  sementara teman-temannya sudah beberapa kali ganti pacar sejak SMP. Neng asyik dengan dunianya sendiri. Dunia masak-memasak, kerajinan tangan (seperti halnya ibuku), buku, musik, dan… naga. Sejak kecil, dia pecinta hewan imajiner itu. Semua buku tulisnya dia gambari naga dalam berbagai bentuk dan warna. Seringkali dia bercerita bahwa dia membayangkan menjadi puteri naga yang menguasai kerajaan berisi naga aneka warna dan bentuk itu. Setelah era pemakaian smartphone, dia bahkan mengoleksi berbagai game naga di ponselnya. Sebut saja Dragon Story, Dragonvale, Dragon Village, dan Little Dragon. Di jejaring sosial Facebook, sementara orang lain asyik menambah teman, dia asyik saja dengan game Dragon City-nya. Benar-benar tukang kue berotak naga dia itu.

Pernah sekali waktu, Erry iseng. Salah satu naga milik Neng di Dragon Story dijualnya. Saat itu Erry sedang meminjam HP Neng. Akibatnya begitu gadis itu tahu, salah satu naganya hilang, dia langsung mendatangi Erry yang sedang ngopi minggu pagi di Starbucks Citos sambil marah besar. Saking marahnya dia sampai mau menangis. Erry sendiri jadi kaget, tidak menyangka adiknya sebegitu murka. Aku yang melihat jadi ikut shock.

“Akang jahat! Benar-benar jahat! Kenapa sih lancang banget ikut main naga Neng?” omelnya diantara sedu sedan tangis yang nyaris tumpah. Aku dan Erry spontan menggelengkan kepala. Childish sekali sih dia.

Erry jadi pusing. Sudah berkali-kali dia minta maaf, bahkan dengan sogokan segala, tapi tetap saja adiknya itu nyaris menangis dan marah-marah.

“Maaf, Neng, Akang kan tidak bermaksud begitu. Akang hanya penasaran, kok bisa segitu asyiknya Neng nge-game…”

“Bodo! Neng kan sayang sama si Azur, eh malah Akang jual lagi!”

Imbisil. Keduanya sudah lulus master tapi masih culun begini. Bagaimana bisa gadis seculun ini menikah dengan seorang laki-laki jika dia masih saja cinta mati kepada naga-naganya itu?

Aku berdeham sejenak. Pasangan kakak beradik culun ini mesti dipisah.

Keduanya menoleh padaku. Sinar mata Neng menyorot tajam. Sejak dia beranjak dewasa, aku sering membayangkan matanya itu. Sipit namun bercerita. Hidup dan lucu. Tapi jangan bayangkan aku berusaha menyatakan perasaanku itu. Huh. Aku yakin, tak akan bisa.

“Ry, biar gue yang tanganin adik lu”, ujarku.

Erry menoleh lagi pada Neng.

“Emang nih. Anaknya lebay. Males gue. Urusan naga aja jadi panjang begini!” omelnya.

“Ya makanya Akang jangan rese!” balas sang adik tak mau kalah.

“Neng, coba saya lihat game-nya”, pintaku kemudian.

“Mau ngapain lagi? Jangan-jangan mau nge-hack ya?” sembur Neng tak percaya padaku.

Aku tertawa tanpa suara. Benar-benar kekanakan. Kontras sekali dengan ketangguhannya jual kue kesana kemari.

“Yee, buruk sangka aja! Sana, kasih si Gilang HP kamunya!” sela Erry jengkel.

Masih sambil cemberut, dia menyerahkan HP Android-nya padaku. HP cewek. Wangi dengan casing baby pastel dan home lock serta screen lock bergambar bunga sakura di musim semi. Romantis.

“Game-nya apa?” tanyaku tanpa menoleh.

“Dragon Story, Kang”, jawabnya sambil mendekatkan kursinya ke kursi yang kududuki. Wangi lembut parfum sejenis Burberry London, seperti yang dipakai adikku yang perempuan, menguar membuat hidungku sedikit bereaksi. Syaraf inderaku berkata, aku suka wangi ini. Sangat feminin.

Segera kulihat fitur game naga tersebut.

“Mana yang dirusak si Erry?” tanyaku, masih tanpa menoleh.

“Ini, anak naga Poison yang namanya Azur dijual sama Kang Erry. Nih dia dikarungin trus di sell, ini nih.”

Astaga… benar-benar kayak bocah TK ternyata.

“Terus sekarang?”

“Ya saya maunya Azur balik. Gimana kek caranya!” Dia setengah membentakku. Astaga…kelewatan!

“Ry,” panggilku pada Erry yang duduk di seberangku dan sedang asyik dengan HP nya juga. “Gimana cara nih lu bisa balikin si Azur?”

Erry menoleh dengan pandangan jengkel. “Tau ah. Gitu aja rese!”

“Ya makanya jangan sotoy!” Neng membalas sengit.

Waduh, sepertinya mereka bisa bunuh-bunuhan hanya karena game.

“Kayaknya kudu dikawinin ulang, Neng, naga-naganya…” usulku kemudian setelah dengan kilat mempelajari fiitur game tersebut.

“Lama, Kang, bisa 24 jam.”

“Ya nggak apa-apa. Yang penting kamu dapat Azur lagi”.

“Tuh kan jadi ngulang deh kawinnnya…”

“Nggak apa-apa kali, Neng. Naganya aja seneng kok dikawinin…”

Spontan Neng tersipu. Ada rona merah jambu di pipinya yang putih dan sedikit chubby.

“Ih, Kang Gilang jorok ngomongnya!” serunya spontan.

Astaga. Lagi-lagi astaga. Kok ada ya perempuan sepolos dia zaman sekarang?

“Lah, yang pertama ngomong soal ngawinin naga kan kamu?” Tiba-tiba muncul niatku menggodanya.

“Ih Kang Gilang juga! Sini HP saya!” tanpa izin, dia mengambil kembali HP-nya dari tanganku. Sebentar kemudian dia sudah asyik kembali dengan naga-naga tersayangnya.

Iseng aku mengintip dari balik bahunya.

“Yang mana yang dikawinin, Neng?” tanyaku.

“Ini yang forest dragon sama yang magic dragon”, jawabnya tanpa menoleh.

Ck ck ck. Konsultan perkawinan naga.

“Emang hasilnya nanti sudah pasti Azur?”

“Ya nggak tentu juga. Tapi biasanya kalau forest kawin sama magic, hasilnya besar kemungkinan poison, jenisnya sama kayak Azur dulu itu”.

Oalah. Penting banget ya, naga dalam kehidupan gadis Master of Arts ini.

Tanpa sadar, mataku melembut melihat bagaimana asyik dan damainya dia dengan naga-naganya itu. Sebuah pemandangan yang menjelma indah di mataku. Pertama kalinya, aku melihat Neng dalam siluet yang lain. Belum pernah aku menemukannya seindah ini dalam pandanganku. Memang dia sudah indah dari dulu, tapi kali ini lain. Aku baru tersadar ketika gadis itu menoleh padaku dan heran menemukanku terpaku menatapnya.

Tertangkap sedang memerhatikannya, aku jadi sedikit kaget. Ada yang sama-sama urung hendak kami ucapkan. Namun aku tak mau kehilangan ekspresi indah ini.

“Sorry…” Dia terlihat gugup dan menggigit bibir bawahnya. Buru-buru dia menunduk kembali asyik dengan game-nya.

Tanpa sadar aku menghela nafas. Bagaimana bisa? Bagaimana bisa aku yang beberapa jam sebelumnya dengan sadar berkata bahwa aku tak sedang jatuh cinta dengannya, sekejap kemudian merasakan derasnya pesona yang dia pancarkan?

Sebuah pesan whatsapp masuk di HP-ku.

“Go for her, Bro. Gue dukung!”

Erry. Spontan kupandang dia di seberang mejaku. Masih tampak tak peduli. Asyik dengan HP-nya. Kukulum senyum rahasia ke arahnya.

Tentang keluargaku yang seperti keluarga naga

Terlalu banyak kejadian yang membuatku serasa ingin mati lemas akhir-akhir ini. Atau mungkin sudah waktunya bagiku untuk hidup lebih serius lagi? Lalu, memangnya siapa yang bilang hidupku selama ini tidak pernah serius?

Aku justru merasa sejak lahir, hidupku sudah sangat serius. Sejak SD aku sudah biasa membantu Mama berjualan kue-kue dan masakan. Sebelum berangkat sekolah, aku dan Kang Erry, dua anak tertua Mama dan Papa, berkeliling naik sepeda menitipkan aneka kue dan masakan ke berbagai kantin dan warung. Sungguh itu bukan paksaan. Mama tak pernah memaksa kami. Kami hanya senang membantunya. Perempuan tercinta bermata mentari yang tak pernah bosan bekerja keras itu adalah perempuan yang paling kucintai seumur hidupku. Untuknya, aku rela melakukan apapun, sebab iapun merelakan seluruh hidupnya untuk kami, anak-anaknya yang berjumlah lima orang. Dengan gaji Papa yang guru SD Negeri pada zaman orde baru, tentulah Mama harus berupaya keras memutar otak agar biaya kehidupan kami sekeluarga dapat teratasi. Beruntung ia memiliki banyak keahlian, salah satunya memasak dan membuat kue.

Kami tak pernah minder meski bersekolah di sebuah Yayasan Sekolah unggulan yang isinya adalah anak-anak orang kaya atau anak pintar, atau keduanya.  Kami bukan anak orang kaya, tapi kami selalu masuk dalam 10 Besar. Kami bukan aktivis, namun guru-guru semua mengenal kami. Itu saja sudah membuat kami bahagia sebagai anak-anak dan remaja.

Kami tak pernah kekurangan teman. Kami punya keluarga besar yang amat besar. Kembali kepada keluarga besarku. Keluarga besar ini kompak luar biasa. Saking kompaknya, yang hubungan darahnya jauh juga jadi dekat. Itu sebabnya kami memang tak pernah kekurangan teman. Kami tak peduli meski anak terkaya di sekolah tak mau berteman dengan kami, toh kami masih punya segerobak saudara sepupu, atau malah tante, om, dan keponakan yang dekat maupun jauh, yang bersekolah di Yayasan yang sama.

Hingga lulus SMA, kami bahkan seperti tak peduli bahwa orang-orang tua kami punya kebiasaan menjodoh-jodohkan anak-anaknya dengan sepupu jauh atau jauh sekali. Biasanya ketemu silsilahnya di buyut atau di eyang buyut entah. Kami hanya tertawa ketika beberapa kakak sepupu senior kami menikah dengan kakak sepupu jauh yang juga sudah cukup kami kenal, atau dengan yang baru kami tahu ternyata itu sepupu. Ah rumit betul dunia keluarga besar kami ternyata.

Tapi aku tak terlalu pusing. Kepalaku masih belum terisi ide-ide tentang pernikahan. Aku juga belum pernah jatuh cinta secara serius. Kebanyakan kisah cintaku hanya semacam cinta tak berbalas. Hahaha, mana ada sih laki-laki yang tertarik pada perempuan serius yang nyambi jadi tukang kue? Aku menjadi terbiasa patah hati karenanya.

Kala itu, bahkan sampai aku lulus kuliah, setiapkali patah hati, aku bisa langsung curhat kepada kang Erry, kakakku yang sangat dekat dan sayang padaku. Oopss, nggak jarang lho ada orang yang belum kenal mengira kami adalah sepasang kekasih. Kalau sedang sial, seringkali ada perempuan yang tengah disukai kang Erry jadi mundur gara-gara kedekatan kami. Tak urung kang Erry sering menyuruhku ‘jauh-jauh’ dari dirinya kalau sudah begitu.

Akan halnya, kang Gilang adalah sahabat terdekat kakakku itu. Dari dulu aku agak malas bercerita apapun pada dia. Entahlah. Mungkin semacam rasa segan menangkap aura pendiamnya yang kadang terlalu kuat mengepungku jika sedang bersamanya. Aku hanya suka melihat betapa pintarnya dia. Dia itu kerjanya main game sama nonton bola, nggak pernah belajar. Tapi nilainya selalu saingan sama kang Erry yang juga sebenarnya sama malasnya. Nah, sekalinya mereka kumat rajin belajar, bisa seharian nggak keluar kamar. Dua manusia yang aneh, menurutku.

Padahal menurut teman-teman mainku, kang Gilang termasuk jenis laki-laki tampan. Yaaa mungkin. Mungkin dulu, waktu dia belum brewokan seperti sekarang. Tapi dulupun, aku tak berani menatapnya lama-lama. Ya untuk apa pula, coba? Jangan-jangan nanti dia GR dan mengira aku juga suka sama dia. Huh, tak sudi rasanya membayangkan hal itu.

Lalu waktu dia pergi ke Sorbonne untuk kuliah Hukum, aku juga tak merasa kehilangan apa-apa. Kang Erry masih kuliah di sini, di UI. Jadi, yang penting aku tak kehilangan kang Erry. Aku tak peduli waktu kata Kang Erry,  Papa, dan Mama, kang Gilang sudah punya pacar, namanya Alivia, seorang model Indonesia yang sedang kuliah di Perugia, Italia. Bodo amat lah.

Selulus aku kuliah, aku mencari beasiswa untuk kuliah Master. Nasib membawaku mendapatkan beasiswa di Straabourg, di negara yang sama dengan kang Gilang. Tadinya aku ingin kuliah di Canada, tapi Mama dan Papa mengusulkan aku mencoba juga mendaftar yang di Perancis. Yang diterima malah yang di Perancis. Sementara itu, kang Erry malah mendapatkan beasiswa Masternya di Mesir. Huhu jauh sekali. Itu pertama kalinya aku merasa sangat kehilangan kakakku yang usil, jail, tapi penyayang itu.

Kurasa suasana kehilangan itu yang kemudian ‘mendekatkan’ aku dengan dia. Ditambah lagi kami sama-sama jauh dari keluarga dan tanah air, berada di satu negara asing yang sama. Tapi kami juga tak pernah sekalipun bicara tentang hati. Kami hanya sering menghabiskan waktu akhir pekan bersama. Duduk di cafe kecil yang tersebar di sepanjang jalan kota Paris, jalan-jalan di sekitar Champs D’Elysees sambil makan es krim atau au gratin. Atau kadang hanya duduk nonton TV di salah satu apartemen kami.Aku menganggapnya seperri kakak, pengganti kang Erry. Dia juga menganggapku adik.

Dia juga jarang sekali bertemu kak Via, begitu aku menyebut kekasihnya yang ternyata cantik sekali itu. Hanya sesekali mereka bertemu. Tapi aku merasa, kak Via seperti cemburu melihat kedekatan kami. Setahun setelah aku di sana, dia dan kak Via putus. Dasar manusia datar, dia sama sekali tidak kelihatan sedih atau apalah setelah itu.

Tak lama, adik perempuannya, Alix, menyusul. Alix kuliah di tempat yang sama denganku. Aku segera cocok dengan gadis periang dan lucu itu. Bertiga kami sengaja menabung untuk bisa jalan-jalan setiap liburan tiba. Aku bekerja sebagai barista di sebuah kafe kecil di kotaku, Alix sebagai babysitter, dan kang Gilang sudah bekerja sebagai asisten dosen di kampusnya. Dan kami memang berhasil backpacking ke hampir seluruh penjuru dunia selama kuliah itu. Keren kan?

Dan anehnya, perasaan yang ada di dalam diriku hanyalah merasa dekat dengannya. Hanya dekat. Dia adalah pengganti kakakku yang sedang jauh. Itu saja. Aku tak peduli teman-teman kami menganggap kami seperti sepasang kekasih. Begitu juga keluarga-keluarga kami yang tinggal di sana. 

Tapi jika aku harus merubah perasaanlu secepat kilat itu…. sungguh aku tak siap. Bagiku perasaan nyaman jika ada di dekatnya itu satu hal. Perasaan cinta adalah hal lainnya. Berbeda. Tak sama. Maka ini tak bisa kubiarkan….

Ringkasnya, aku tak mau menikah dengan kang Gilang…. Aku hanya ingin menikah dengan seseorang yang mampu menggetarkan hatiku di malam pergantian tahun. Ok, terdengar kacau. Dan aku yakin pasti tak ada. Tambah kacau kan? Tapi aku punya alasan untuk itu.

Aku lahir tepat pada malam pergantian tahun. Dimana malam itu nyaris semua manusia berpesta kembang api dan petasan, ibuku meregang nyawa demi aku, si bayi 4.5 kilo yang diharapkannya lahir perempuan, di sebuah Rumah Sakit di bilangan Jakarta Pusat, yang konon banyak hantunya.

Beberapa menit sebelum melahirkan, sebelum puncak rasa sakit menerjang perempuan tercinta itu, oma yang sudah lama meninggal datang. Dia tersenyum manis pada ibuku dan berkata lembut, “Putrimu ini cantik hati dan budinya. Dia akn bertemu jodohnya pada hari dia dilahirkan”.

Dan anehnya, ibuku yang taat beragama itu ternyata percaya dan sangat percaya. Bertahun-tahun ia memelihara hal itu. Sebaliknya, aku tidak. Bagiku, itu tak logis. Sudah cukup aku dirusuhi soal-soal perjodohan di keluarga besarku, masak masih pula harua ditambah yang satu ini?

Maka kali ini, aku bertaruh dengan ibuku. Malam tahun baru ini.

Jakarta Night Festival, New Year’s Eve….

Suara musik dari atas panggung ditimpa keriuhan di sana-sini. Langit cerah berhiaskan kembang api melukis aneka bentuk. Indah dan semarak. Tukang jualan aneka makanan tersebar sepanjang lokasi keramaian ini, Sudirman-Thamrin. Panggung di dekatku berdiri sedang menampilkan atraksi gambang kromong khas Jakarta. Barusan di panggung yang lain diumumkan akan ada duet maut antara Bang Haji Rhoma Irama dan Pak Jokowi, gubernur Jakarta. Malas ah. Aku enggak ngefans sama bang Haji. Kang Gilang tuh yang ngefans. Ihhhh kok jadi dia sih?

Di sebelah sana ada kerumunan. Tukang kerak telor. Aaaaaa… ini dia. Dari tadi kucari-cari, tapi aku selalu belum beruntung. Selalu ada antrian panjang pembeli penganan khas Betawi yang sudah mulai langka itu. Parahnya, aku paling takut pada kerumunan. Inipun, aku agak menepi. Aku mudah sesak nafas bila ada di kerumunan padat. Aku punya penyakit asma akut.

Lihatlah, lagi-lagi tukang kerak telor itu dikerubuti massa penggemarnya. Aduuuh, aku pingiiin sekaliii…. Tuhan, belum pernah aku sepingin ini…. Liurku pasti telah siap menetes. Sebut aku norak. Tapi memang beginilah aku. Bocah yang terperangkap dalam sosok perempuan dewasa.

Teringat lagi, tadi ibuku tercinta alias Mama, begitu khawatir padaku. Dia yang sejak semula tak setuju ide taruhan itu melarangku pergi. Namun aku berkeras. Aku hanya ingin membuktikan bahwa keyakinan anehnya tentang caraku menemukan jodoh itu salah besar. Namun jika memang aku benar-benar bisa jatuh cinta pada seseorang malam ini dan dia langsung melamarku…. dengan besar hati aku akan patuh. Aku kalah, berarti. Dan itu sudah menjadi komitmen yang kuucapkan pada Mama, di depan kang Erry pula, saking aku pusing dengan ketidaklogisan soal jodoh ini.

Akibatnya, Mama bela-belain menungguku, anak gadis kesayangannya yang keras kepala tapi manja dan penyakitan, di lobi Hotel Crown Plaza, yang tak terlalu jauh dari lokasiku sekarang ini.

“Malam, Neng”.
Astaga. Hampir mati kaget aku. Tiba-tiba sosok yang paling tak kuharapkan muncul malam ini, ada di sebelahku. Dengan jaket kulit yang agak kedodoran dan cambangnya yang brewokan, membuatnya terlihat seperti tukang ojek ketimbang geeky man.

“Ngapain kang Gilang di sini?” Tanyaku curiga.

Dia tersenyum padaku dengan bibir dan matanya. “Nunggu bang Haji muncul bentar lagi. Mau join?”

Aku menjeling malas. “Ih tidak ya. Terima kasih.”

“Tapi nggak ada Aa Yovie and Friends di sini”.

“Enggak nyari juga”. Aduh kenapa aku jadi judes gini ya?

Ya ampuuun, itu yang merubungi tukang kerak telor kenapa enggak berkurang juga ya? Malah tambah rame.

“Kalau ini, mau enggak?”
Aku melirik dia sekilas, namun dia telah lebih dulu mengangsurkan sesuatu ke tanganku. Awww panasss.
Mendadak mataku membola.

“Kerak telor?” Tanyaku tak percaya.

“Buat saya?” Tanyaku lagi.

“Ya. Buat kamu, saya tahu kamu suka kerak telor”.

Ya Tuhan, dengan mata berbinar kutatap berganti-ganti dia dan kerak telor itu. Dia. Apa dia laki-laki yang dikirimkan Tuhan untuk menjawab ‘taruhan dodol’-ku dengan Mama? Lah kenapa dia? Kemana-kemana arahnya ke dia juga?

Tuhan, ini firasat atau akunya saja yang ngaco?

Mendadak ada desir halus di hatiku. Desir yang tak pernah kurasa, atau mungkin tak pernah kupedulikan….

Ikan bawal diasinin/eh bulan Syawal dikawinin….

Aduh, itu gambang kromong lagunya jlebb sekali yaaa.

“Kok bengong, Neng? Malah liatin saya lagi… Dimakan ntar keburu dingin…”

Astaga….

“Neng, jangan kemana-mana ya. Di sini saja. Bang Haji sudah mau muncul. Saya mau nonton dulu sebentar. Nanti saya kesini lagi. Sekalian si Erry juga mau nyusul. Kita pulang bareng”.

Aku masih bengong hingga dia menghilang di balik kerumunan. Jadi benar dia orangnya, Tuhan? Oh toloooong….

Advertisements

About ifaavianty1

A wife, mom of 3 sons, writer and author of about 70 books. Loves books, music, movies, cook, art n craft, history, rain, mall, coffee, tea, and pasta. Oh, and every genius :))
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

2 Responses to Destiny

  1. annisa dinar says:

    mbak ifaaaa…lagi2 yaaaa….ceritanya bikin terhanyut.ini bakalan jadi buku gak.mbak?seru kalo dilanjutin….hehehehe….pengen liat kang gilang and neng sandy pas udah nikah…hehehehe…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s