Smaradahana

Smaradahana

Merry : Kenangan yang Tak Mau Pergi

Aku suka menari. Barangkali jika dibandingkan antara makan dan menari, aku akan langsung menjawab bahwa aku lebih suka menari. Bagiku, menari adalah seperti nafas dalam jiwaku. Aliran dalam pembuluh darahku. Dia adalah sebab mengapa jantungku berdegup cepat dan mengapa hatiku begitu bahagia. Duluuu…. sewaktu kecil, aku dengan berani mengatakan bahwa aku ingin menjadi penari.
“Hanya menjadi penari?” tanya tanteku, tante Dien, yang pejabat tinggi salah satu Bank Nasional.
“Ya, Tante” jawabku mantap. Tante mengerenyitkan keningnya. Tentu saja dia heran, mengapa anak kelas 3 SD sepertiku sudah mantap memilih cita-cita sebagai penari dan bukan yang lainnya.
“Namanya juga anak kecil, Ni, besok juga dia berubah lagi” kata ayahku yang tampaknya segan membahas masalah cita-cita di meja makan seperti saat itu.
“Kamu ndak ingin jadi dokter, hakim, insinyur, pengacara, atau kepala sekolah, atau kerja di bank seperti Tante, Mer?” Lagi-lagi tante Dien mencecarku dengan semangat.
Aku menggeleng. Tetap dengan tegas. Sempat kukerling Ayah dengan sudut mataku, minta dukungan. Aku tahu ayah akan selalu mendukungku. Tapi untuk berdebat dengan kakak perempuan satu-satunya itu, dia agak malas. Masalahnya tante Dien selalu akan menyangkutpautkan cita-citaku itu dengan profesi Bundaku yang dulu seorang penari sekaligus penyanyi keroncong.
Sedikit tentang Bunda, dia cantik, ayu, dan gerak geriknya lincah namun tetap anggun. Perempuan Jawa, Solo tepatnya, yang begitu mencintai tari dan lagu keroncong seperti mencintai udara dalam hidupnya, sama seperti ia mencintai Ayah dan anak-anaknya. Kalau engkau pernah mengenal penyanyi keroncong era 80-an yang sering muncul di TVRI, Sundari Sukotjo, nah kurang lebih seperti itu ayu dan penampilannya Bunda.
Dalam pikiran kanak-kanakku ketika itu, aku hanya tak bisa mengerti mengapa Tante Dien tak suka pada penari, termasuk kepada Bunda.
“Bagaimana anakmu ini, Ruslan? Masak dia pingin seperti Bundanya yang penari?” Tante Dien, please, …
Sekelebat kutangkap bayangan tubuh Bunda yang mendekati meja makan tempat kami sedang berbincang itu, namun ia urung. Ah, Bunda yang sabar.
“Memang kenapa kalau seperti Bunda, Tan?” tanyaku tanpa bisa kucegah. Kudengar ayah berdeham. Ayah tak suka berdebat.
Tante Dien memalingkan wajahnya. “Penari biasanya berjodoh dengan seniman. Mau hidup seperti apa anakmu nanti? Bagus si Dewi dapat kau, yang pegawai negeri. Coba kalau dia dapatnya seniman, apa bisa dia hidup seperti keluarga kita?”
Astaga. Apa sih ini? Aku bengong.
Ayah tak berkata apa-apa lagi. Dia bangkit dari kursi makan dan meninggalkan tante Dien berdua denganku. Ah, aku jadi malas juga bersama tante yang cerewet itu. Tanpa menunggu lagi, aku menyusul Ayah. Tak mau lagi kulihat wajah cantik tante Dien.
Tapi satu hal yang ‘nyangkut’ di otak bocahku, apa benar semua penari itu hidupnya susah? Berusaha kuenyahkan pertanyaan itu berhari-hari kemudian. Sok tahu betul sih si Tante, batinku kemudian. Sudahlah.

“Jadi, dasar tari Bali itu ada tiga, yaitu agem, tandang, dan tangkep. Nah, Kakak jelaskan dulu satu persatu ya. Ini akan diperagakan oleh dua kakak tingkat kalian, yaitu kak Ferdian dan kak Uty. Siap ya, kak Fedi dan kak Uty?” Pak Kadek, guru tari Bali-ku memulai menerangkan dasar-dasar Tari Bali. Aku baru kelas 5 SD waktu itu, dan masih sering teringat omongan Tante Dien, yang herannya, sampai sekarang masih juga benci pada penari. Tapi sudah kuputuskan untuk bersikap masa bodoh. Aku suka menari. Nasib seseorang jadi kaya atau miskin, susah atau senang, itu tergantung usahanya dan takdir Tuhan, itu yang kupelajari dari guru mengajiku. Dan, keduanya adalah hal yang berbeda.
Kembali kupusatkan perhatianku pada pak Kadek dan dua asistennya di depan.
“Agem adalah sikap pokok dalam tari Bali yang tidak berubah-ubah. Agem ada dua, yaitu agem kiri dan agem kanan. Agem perempuan dan laki-laki juga berbeda ya. Coba Uty peragakan agem kanan perempuan”, pak Kadek memanggil kak Uty yang sore itu tampak cantik dengan kaus putih dan kain bali-nya.
“Kaki kiri di depan kaki kanan dengan posisi ke pojok. Jarak antara kaki kiri dengan kaki kanan sebanyak satu kepal. Jari kaki kiri diangkat. Lutut ditekuk, posisi ini disebut ngood. Tangan kanan sirang atau sejajar mata, ya bagus. Tangan kiri sirang dengan dada. Telapak tangan menghadap ke depan. Sledet ke kanan, dan berat badan bertumpu di kaki kanan. OK, faham?”
Aku terbengong. Indah sekali. Aku pingin mencobanya segera.
“Nanti kita coba semua ya. Ok, terima kasih, Uty. Sekarang Fedi, coba sini, Fed. Peragakan agem kanan untuk laki-laki. Ya, kamu yang baju coklat, cowok, jangan ngobrol sendiri ya, sama yang kaus belang-belang kayak gerombolan si Berat!”
Ahahaha, kami semua langsung menengok ke arah para oknum yang dimaksud pak Kadek. Alih-alih malu, keduanya malah ikut tertawa bersama kami. Ah, menyenangkan tampaknya les tari Bali ini. Jauh lebih menyenangkan daripada les Ballet yang gurunya tegas sekali itu.
“Ayo, Fed, kita kemon!” Hahaha, pak Kadek ini suka humor juga rupanya.
Mataku kini beralih memerhatikan asisten pak Kadek yang memeragakan agem untuk laki-laki. Cakep juga. Tinggi tegap, berkulit putih, dan tidak seperti kak Bayu yang agak feminin, dia ini, kak Fedi, tampak ‘laki-laki’. Sorot matanya tegas dan kelihatan agak ‘ketus’. Hahaha, mungkin benar kata teman-teman sekolahku, di usia segini, kami mulai suka memerhatikan lawan jenis. Puber ya namanya? Aihh.
“Nah, ini agem kanan untuk laki-laki. Ya, posisi kaki kiri di depan kaki kanan. Jarak antara kaki kiri dan kaki kanan adalah satu telapak kaki. OK, bagus, Fed. Posisi badan tegak lurus. Berat badan bertumpu di kanan. Telapak tangan ke depan. Posisi tangan sejajar pundak. Sledet ke kiri, agak diangkat melihat ujung alis. OK, bagus, Fedi. Terima kasih”.
Waw, waw, bagus, keren. Aku jadi makin jatuh cinta kepada tarian Bali. Dinamis, dan seperti ada unsur olah raganya. Kak Fedi mengangguk dan tersenyum tipis kepada kami, para adik tingkatnya. Haha, cakep, sumpah. Hatiku ribut berseru-seru. Masih kecil saja sudah ganjen begini, sebelah hatiku merutuk mengomeli diriku sendiri. Ah, biarlah. Kan aku hanya menyimpannya dalam hati, takkan berani aku bergenit-genit di depan anak laki-laki. Lagipula di sekolah, aku terkenal sebagai anak judes yang malas bergaul dengan anak laki-laki.
“Kita lanjutkan ya, sebelum praktek. Tandang adalah cara memindahkan satu gerakan pokok ke gerakan pokok lainnya, sehingga menjadi satu kesatuan gerak yang berkesinambungan. Sedangkan Tangkep adalah ekspresi yang timbul melalui pancaran wajah. Ingat ya, ketiga dasar itu harus ada dalam sebuah tarian Bali. Tanpa ketiganya, tarian yang kalian mainkan nggak hidup. Faham?”
Haaam… eh faham, Pak, gumamku. Sekejap mataku dan kak Fedi bertemu. Hanya sepersekian detik. Aku memaksakan diri tersenyum, dan dia hanya mengangguk untuk kemudian menunduk. Haduh, kenapa mesti menunduk sih?
Hanya itu. Tapi paling tidak, aku sudah mulai bersemangat ikut les tari Bali. Pak Kadek lucu, tari Bali-nya juga indah dan dinamis, dan… ada yang selalu membuatku riang gembira jika akan pergi les. Hahaha.

Jadi, ya, Saudara-saudara, yang namanya kak Fedi itu ternyata orang Sunda asli. Eh, nggak, nggak, ada Jawanya juga. Kok bisa ganteng ya? Ya bisalah. Mungkin saja diturunkan dari bapaknya. Hahaha. Dia kelas 2 SMP dan belum punya pacar. Catat baik-baik itu, Merry! Dia ikut sanggar tarinya mas Guruh, yang namanya GSP itu. Eh, apa Swara Mahardhika ya? Ya gitu deh, pokoknya dia sama denganku, menganggap tari adalah nafas hidup. Dia juga aktivis ekstra kurikuler Dance di sekolahnya. Ohoho…. mengapa jadi begini, Merry, kamu jatuh hati pada sesama penari juga? Ingat lho, apa yang tante Dien bilang dulu itu.
Aku tersenyum geli membaca catatan harianku. Mengapa harus kupikirkan terus ocehan tanteku itu sih? Lagipula aku masih kecil, belum berpikir terlalu jauh kan harusnya.
Yang jelas, tanpa kusadari, aku sudah mulai akrab dengan kak Fedi, yang kemudian kupanggil Aa sebab dia orang Sunda dan agak malas dipanggil Kakak. Ya, hanya dekat, tak lebih. Mungkin seperti kakak adik yang sama-sama suka menari.
Berbeda dengan saat pertama kulihat dia waktu memeragakan agem itu, kini aku tak lagi menemukan getar-getar aneh dan istimewa setiap kali sedang bersamanya. Biasa, seperti sahabat-sahabatku yang lain. Ya, seperti sosok seorang kakak yang tak kupunya.  Diapun menganggapku seperti adik perempuan. Dia juga anak sulung, namun kedua adiknya laki-laki, sementara aku punya dua adik yang semuanya perempuan.
Komunikasi kami lancar, bahkan teramat lancar. Padahal kami berbeda sekolah. Kami kemudian sering berlatih tari berdua. Bersamanya aku nyaman mempraktikkan tarian apa saja, baik yang tradisional seperti aneka tarian Bali, Jawa, Sunda, Minang, atau Melayu. Demikian juga dengan tarian moderen yang berasal dari aneka belahan dunia, baik yang berbasis Ballet, Dansa atau tari pergaulan. Kami menciptakan tarian bersama, yang sering kami praktekkan di ekskul menari di sekolahku. Oh ya, sewaktu aku duduk di SMA, dia menjadi pembina ekskul tersebut atas usulanku pada pihak sekolah.
Banyak sahabatku yang bilang, mungkin saja dia punya hati padaku. Aku hanya tertawa. Jatuh cintanya mungkin sudah lewat. Sekarang tinggal hubungan kakak adik saja, Begitu juga ketika banyak yang berpendapat, bahwa setiap kali kami menari berpasangan, kami tampak terlalu menjiwai. Oh iyakah? Bagaimana bisa, sementara aku kadang tak sadar.
Mungkin ini karena terlalu seringnya kami berlatih bersama, mengurus ekskul menari bersama, hingga pentas tari bersama kemana-mana. Tentu saja banyak waktu yang kami lewatkan bersama di luar urusan tari-menari itu. Kami biasa makan bareng, nonton sesekali, atau hanya makan es krim di abang-abang es krim yang lewat di muka rumahku. Hanya itu. Mungkin terlalu sederhana jika disimpulkan sebagai hubungan sepasang kekasih.
Tapi aku terbiasa. Aku hilang tanpanya.  Setiap hari seakan aku harus menemukannya di sekelilingku. Aku tak tahu bagaimana dia. Dia tak pernah bicara hal-hal remeh temeh seperti itu padaku.
“Aa, Merry ada PR Fisika. Susah ih. Bisa ke rumah nanti sore?” Dia jago Fisika, kuliahnya saja di Jurusan Teknik Mesin.
“Aa, kemarin motor bebek Merry keserempet Bajaj. Temani cari bengkel ya”.
“Aa, temenin nonton film horor ya. Katanya seru, tapi Aa kan tahu Merry penakutnya luar biasa. Mau ya, A? Habis Aa midtest deh nggak apa-apa”.
Dan dia selalu ada untukku, itu kesalahan terbesarnya, barangkali. Aku seperti terbiasa dengan kemudahan yang dia sediakan untukku yang selalu banyak meminta ini dan itu darinya. Dia memanjakanku dan membuatku tergantung padanya.

Hingga dia bilang dia harus pergi. Lama dan jauh. Ke seberang benua. Ke Uppsala, Swedia, dimana dia mendapat beasiswa untuk mengambil masternya di sana. Aku hanya terlongong pasrah ketika akhirnya dia bilang dia akan mengambil beasiswa itu.
“Nggak apa-apa, Mer, saya pergi?” tanyanya sore itu, sewaktu aku baru pulang midtest di kampus.
Msasak aku larang dia pergi? Aku toh bukan apa-apanya dia.  Aku hanya mengeluh tanpa suara.
“Ya sudah, nggak apa-apa kali, A’”. Di luar jendela kulihat hujan mulai turun, biasa menjelang akhir tahun.
“Tapi kamu narinya bagaimana nanti?”
Mengapa dia malah bertanya tentang kegiatan menariku dan bukan perasaanku? Sampai di sini, aku ingin menangis keras-keras seperti anak kecil yang akan ditinggal ibunya pergi jauh.
“Nggak tahu”. Hanya itu yang bisa kukatakan padanya.
“Kok nggak tahu? Sayang lho, kamu kan karir menarinya bagus. Kamu bisa makin sering pentas kalau nggak berhenti. Bahkan kamu bisa memperkenalkan kebudayaan Indonesia ke luar negeri”.
I know.
“Itu cita-cita kamu dulu kan, Mer”.
Aku menoleh ke arahnya yang sedang menatap hujan. “Cita-cita kita, Aa”, jawabku kering. Aku butuh minum kalau begini.
“Saya harus melanjutkan kuliah, Mer. Itu cita-cita saya juga. Apalagi saya dapat beasiswa. Saya nggak bisa mengecewakan pak Hasrul, dosen pembimbing saya, sekaligus dekan saya”.
Iya, tapi kamu mengecewakan saya. 
Apakah orang ini tahu, bahwa aku sudah terlanjur nyaman bersamanya? Bahkan menaripun, jika berpasangan dengan orang lain aku sudah malas. Duh, betapa tidak profesionalnya aku ini…
“Please, jangan berhenti menari, Mer, … paling tidak, saya masih mendengarmu menari meski tak sesering sekarang”.
Beda. Pasti beda rasanya. Sekarang denganmu dan nanti tanpamu. Aku berkeras menahan air mata yang hendak jatuh ini.
“Merry bilang nggak janji, A’. Semua akan beda.”
“Merry, kamu Cuma terbiasa ada saya. Percaya deh, nanti lama-lama kamu juga akan terbiasa nggak ada saya”.
Try me. Aku cemberut jengkel. Mau rasanya aku berteriak di depan telinganya bahwa tidak akan, tidak bisa, dan tidak akan sama, semua tanpanya. Ya Tuhan, apa aku diam-diam sudah jatuh cinta padanya?
Dan manusia keras kepala itu jadi pergi. Tak peduli ia meski aku hampir menangis melepasnya di bandara. Aku bahkan marah ketika dia berusaha membuatku tertawa. Dunia jadi tidak lucu di mataku.

Terbukti dia salah.
Selama dia pergi, bertahun-tahun, komunikasi kami memang lancar. Kami bertukar email, sesekali saling menelpon dan membuat kami saling ngamuk menyadari tagihan telpon membengkak dan meledak. Setiap dia liburan, kami pasti bertemu (dan anehnya tak lagi ingin menari bareng, entah mengapa). Tapi hanya itu.
Aku telah memutuskan berhenti menari. Sebab semua sudah tak sama. Setiap kali kulihat kostum-kostum tariku yang tergantung rapi di lemari khusus, aku merasa sendiri. Sangat sendiri. Papa sudah meninggal sejak setahun Aa Fedi kuliah ke Swedia, Mama menyusul enam bulan kemudian. Hidupku berubah. Aku harus buru-buru menyelesaikan kuliahku di Fakultas Ekonomi jika tak ingin melihat adik-adikku berhenti kuliah. Tante Dien dan suaminya ingin membiayai kami, namun gengsiku sebagai anak sulung menolaknya. Yang ada dalam pikiranku adalah aku harus buru-buru mendapatkan pekerjaan yang hasilnya bisa kugunakan membiayai kuliah adik-adikku.
Sialnya, tante Dien masih juga dengan semangat mengungkit kembali cita-citaku ssebagai penari. “Nah, untung kau kuliah di Ekonomi, bukan jadi penari. Mau makan apa kau pentas-pentas nari itu?”
Astaga, si tante ini tampaknya tak percaya bahwa rezeki itu hak Tuhan. Dan itu sama sekali tidak matematis.
See, tidak ada lagi yang mendukungku menari. Semua sudah pergi. Lalu akupun mencoba mengalah. Aku mencoba berdamai dengan kenyataan bahwa mungkin memang aku tidak ditakdirkan untuk menjadi penari. Oh, tidak juga untuk menikahi seorang penari mungkin. Bahkan Aa Fedi pun tak lagi menanyakan aktivitas menariku.
Menari dan semua yang terkait di dalamnya, kini tinggal menjadi kenangan. Kenangan yang hanya boleh kukunjungi sewaktu-waktu, saat aku tak sedang riuh dengan hidupku yang ada di depan mata kini.
Bersama waktu yang berlalu, setelah aku lulus dan bekerja di sebuah bank, seperti tante Dien, aku tak lagi membuka lemari kostum tariku. Meski sangat ingin, aku tak berani untuk melakukannya. Untuk apa mengenang semua yang sudah tak bisa kita temukan lagi?

Fedi : Ragu

Dari dulu aku ingin menjadi penari. Ya, penari, dancer, seperti mas Guruh Soekarno Putra (eh dia mah koreografer ya), bang Denny Malik, mas Ari Tulang, atau I ketut Mario sang pencipta tari Bali tersohor, Oleg Tambulilingan. Atau syukur-syukur bisa mendunia seperti Rudolf Nureyev, Mikhail Baryshnikov, dan Eric Bruhn. Syukurlah, tak ada yang menentang keinginanku itu di keluarga besarku. Mama dan Papa cukup memberi kesempatan yang luas bagiku untuk menimba ilmu dan bahkan merintis karir di bidang tari-menari. Mungkin bakat seniku diturunkan deras dari Mama, yang meskipun bekerja sebagai psikolog, namun sangat jago melukis dan menulis, terutama buku anak-anak.
Tapi aku juga pencinta teknologi yang cukup gila. Aku gila matematika, fisika, dan kimia. Aku suka pada riset dan segala macam pernik-pernik logam dan material. Aku ingin seperti Pierre Curie, sang penemu radioaktif, atau Wernher von Braun, sang pencetus project Man on the Moon yang melesatkan Neil Armstrong ke bulan. Oh, juga seperti Einstein, Niels Bohr, Wernher Heisenberg, Erwin Schrodinger, dan banyak lagi tokoh-tokoh fisika, kimia, dan ilmu atom yang mendunia.
Aku ingin menjadi ilmuwan yang penari. Ada yang salah dengan cita-citaku?
Kurasa tidak. Sampai di sini, dunia terasa sempurna bagiku.
Saking sempurnanya, aku sampai berkeras ingin punya istri yang penari.
Lalu aku kenal Merry, gadis sederhana, lincah, polos, dan periang itu. Seperti gadis-gadis seumurnya, dia suka berdandan dan agak terlalu sadar fashion. Tambahan lagi, dia manja. Seringkali patah semangat untuk melakukan sesuatu, dalam menaripun, dia banyakan merengeknya.
Aku dulu seringkali kurang sabar melatihnya melenturkan badan, membuat sikap tegak ketika dia menari, membangun jarak antara dia dengan pasangan menarinya atau dengan penari lain, atau melatih gerakan matanya, terutama pada tari Bali dan tarian berpasangan dimana dia harus memusatkan tatap mata pada pasangannya. Pasti dia merengek atau berteriak kesal. Tapi dia menurut juga padaku, yang kemudian melatihnya secara khusus.
Mengapa dia? Bukankah masih banyak muridku yang lain, yang perempuan?
Entah. Mungkin hanya dia yang kutahu punya dasar tari yang cukup lengkap, termasuk balet. Dan mungkin hanya dia, yang suka menunduk ketakutan kalau tegasku sudah kumat, untuk kemudian mencuri-curi mengangkat wajahnya hanya sekedar ingin tahu apakah aku masih marah padanya. Hahaha, sejujurnya, aku menikmati ekspresinya yang bagai anak kucing sedang ketakutan itu. Aku juga suka pada ekspresinya saat tertawa lepas, dimana giginya yang kecil-kecil itu muncul semua, dan hidung mungilnya jadi terangkat lucu.
Ya ampun, detail sekali ya, aku menggambarkan dia?

Tapi, kenyataan tak selalu sama dengan keinginan ternyata. Ada banyak hal yang harus dikompromikan. Apalagi jika keduanya berpatok pada kepentingan yang sama yang bernama masa depan.
“Jadi, kamu beruntung sekali bisa mendapat beasiswa ini, Ferdian. Banyak sekali yang menginginkannya, “ kata dekanku, pak Hasrul.
“Kamu harus berangkat, Fed”. Yang ini suara Papa. Tegas, namun lembut. Seumur hidupku, aku nyaris tak pernah menolak permintaannya. Dia adalah figur contoh di keluarga kami.
“Berangkatlah, Fed. Mama tahu kamu bingung dengan Merry. Percayalah kalau dia memang mencintaimu, dia punya perasaan yang sama denganmu, dia akan mengizinkanmu dan bahkan menunggumu. Lagipula, kalau dia jodohmu, pasti akan ada saat dimana Tuhan mempersatukan kalian”, kata Mama.  Ini kena sekali ke hatiku.
Bagi Mama, sebaiknya tidak berlama-lama mengikatkan diri pada hubungan tak jelas seperti yang aku dan Merry jalani. Lalu?
Aku dan dia memang tidak punya hubungan khusus. Tidak ada janji khusus. Kami hanya sangat dekat, tanpa kata.  Lalu bagaimana? Masak aku harus menembak dia dulu dan kemudian meninggalkan dia di sini sementara kami sudah saling tahu perasaan masing-masing? Apakah aku adil kepadanya kalau begitu?
Sampai sini, aku stuck. Hingga saat keberangkatan tiba masih stuck. Hingga bertahun di sana, juga masih stuck. Laki-laki macam apa aku ini?
Entahlah. Namun memang aku tak kunjung mantap memutuskan arah hubungan ini.
Aku ragu, apakah benar dia yang kucari, dan apakah benar aku sudah tak akan berubah pikiran lagi?

Kisah Koneksi yang Kusut

“Jadi kamu kapan nikahnya kalau sibuk kerja terus, Mer?”
Aku mengeluh jengkel. Mengapa tante yang satu ini tampaknya tak bisa membuat hidupku sedikit tenang? Selaluuu ada dia dalam setiap periode hidupku.
“Merry, apa kamu mau tante jodohkan?”
Oh, baiklah. Aku lelah. Bertahun aku terjepit diantara Tante pemaksa dan si dia yang tak kunjung jelas maunya apa.
“Terima kasih, Tante.” Coba kita lihat, kayak apa model jodoh ala si Tante.
“Mau ya? Yang jelas, ini bukan penari. Bukan kayak cowokmu dulu itu, siapa itu yang nggak jelas itu, Edi? Hedi?”
Fedi? Dia bukan pacarku. Aku tidak suka pacaran. Hubungan tak jelas. Lagipula namanya bukan Edi atau Hedi. Tante Dien pasti asal sebut, bertemu saja dia belum pernah sama Aa Fedi. Buuuuhhhh.
————

“Jadi, Pa, mana yang Papa mau jodohkan sama si Merry? Cepatlah, Pa, keburu disambar orang nanti. Kasian si Merry sudah lama lulus kuliah, belum nikah juga”.
“Nanti, Ma, Papa tanya dulu. Orangnya jauh. Siapa tahu dia sudah punya calon.”
“Lho, Papa ini bagaimana sih? Mama kira Papa masih kontak dengan dia”.
“Ya masih, Ma, tapi kami tidak pernah bicara sejauh itu. Tak enaklah. Papa ini dekannya dan dia masih staff dosen. Mama nafsu betul sih mau mencomblangi Merry. Belum tentu juga mereka cocok. Anak sekarang kan lain, Ma”.
“Oh, harus cocok. Kan kita juga nggak sembarang pilihkan jodoh”.
“Entahlah, pusing Papa, Ma, kalau begini”.
“Eh, si Papa nih mau kemana? Jangan lupa ya, tanya sama anak itu. Mau nggak dia sama Merry?”
————-

“Jadi, kamu sudah punya calon, Ferdian?”
Bunyi kresek kresek sambungan internasional. Cuaca sedang tak bersahabat. Skype dari tadi hilang timbul.
Harus sekarang. Aku harus bisa memutuskan. Terbayang saat kepulanganku ke tanah air tercinta tak lama lagi. Terngiang suara gamelan Bali mengiringi dia menari Pendet. Terbayang pula, dia mengenakan kebaya pengantin Sunda.
Akad nikah. Ijab Kabul. Pernyataan sah dari penghulu. Saling bertukar cincin kawin. Saling bertukar mas kawin. Dia mencium tanganku khidmat.
Dia membasuh kakiku. Ngeyeuk seureuh. Memecahkan kendi bersama. Melepas merpati. Berebut ayam bekakak, hingga huap lingkung, saling menyuapkan nasi dan lauk. Ah, indahnya upacara pengantin Sunda-ku. Lalu dilanjut dengan resepsi adat Minang dimana dia mengenakan Suntiang yang berat namun indah itu.
Aku tersenyum lembut membayangkan indah dan semaraknya pernikahan kami. Oh, atau kami akan duet menari dalam resepsi nanti?
“Ferdian… halo…”
Astaga. “I-iya, Pak.”
“Ya sudah, maaf jika kamu ternyata sudah ada calon. Tadinya, saya dan istri akan menawarkan jika saja kamu belum punya…”
“Su-sudah, Pak, terima kasih sekali atas kebaikan hati Bapak dan Ibu Hasrul pada saya…”
Ada yang membumbung tinggi, ringan, keluar dari dadaku. Aku sudah punya pilihan pasti sekarang.  Smaradahana, kidung cinta mengalun indah. Aku jadi tak sabar pada jadwal kepulanganku menjelang Lebaran tahun depan.

———–

“Mer, maaf ya, … ternyata….”
Hahaha, aku tahu pasti calon dari Tante Dien tak merasa cocok denganku. Baguslah. Dengan demikian aku masih bisa puas-puas meniti karir. Toh, sudah lama berusaha kulupaskan masalah seperti ini. Ya, sejak Aa Fedi diam di tempat dan membiarkan kenangan kami membeku. Dan mungkin tak akan pernah mencair…
Tuhan pasti tahu apa yang ada di balik semua ini. Sabar, Mer, hati kecilku menghibur. Ada perih yang terasa. Tapi dunia masih berputar, bukan?
Smaradahana, kidung cinta itu sesayup mengalun untuk kemudian menghilang. Selamat tinggal.

Advertisements

About ifaavianty1

A wife, mom of 3 sons, writer and author of about 70 books. Loves books, music, movies, cook, art n craft, history, rain, mall, coffee, tea, and pasta. Oh, and every genius :))
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s