Pulang

P u l a n g

Padamu aku pulang
Setelah lelah kuhamparkan peta tentang begitu banyak tempat
Menjelajah semua mimpi tentang hidup
Dan anehnya, tetap kusertakan mimpi tentang  mata tulusmu

Padamu aku pulang
Setelah aku tahu bahwa sesungguhnya aku tak pernah bisa pergi
Dari sebuah mimpi sederhana tentang masa lalu
Tentang tulus matamu yang menungguku
Untuk sekedar mengucap salam selamat pagi
Di tepian sungai Kapuas

Tulusnya mata itu selalu memanggil-manggilku dalam sunyi dan ramai
Dalam siang dan malam dan dalam jaga serta tidurku
Seperti kilaunya matahari menerpa Tugu Khatulistiwa dimana engkau pernah memintaku berfoto di sana
Lengkap dengan bidikan lensa kameramu dan lensa mata tulusmu di balik kacamata
Seperti senyum matamu ketika kautemukan silsilah nenek moyangmu di Istana Pontianak
Kauceritakan padaku Sultan Hamid Algadri berikut Masjid Sultan di tepi Sungai Kapuas yang dia bangun itu
Kutemukan matamu mengilat bahagia saat sujud di lantai masjid terapung itu
Dan… kuabadikan itu dalam benakku hingga kini
Sehingga tak bisa aku pergi darimu

“Di Arlington mane pula kau temukan pat lau seperti ini?” katamu sambil menyodorkan makanan khas kota kita padaku.
“Jangankan pat lau, lempok duren pun tak ade lah” jawabku menahan sedih
Bagaimana bisa kaubandingkan kota kelahiranku dengan kota nun jauh di seberang benua, tempatku bekerja kini?
Pat lau, lempok duren, sate kuah, bingke, lida buaye, kwettiau rebus, dan pacri nenas
Istana Pontianak, Masjid Sultan, Tugu Khatulistiwa, Sungai Kapuas, Pasar Terapung
Itu pendar-pendar rindu yang tak mau pergi
Namun ada rindu maharindu yang menderaku dengan setia
Dari awal hingga akhir kujejakkan kakiku di kota ini
Kota dimana Presiden Kennedy yang masyhur itu dimakamkan
Kota dimana tak pernah kubayangkan dalam benak masa kecilku yang kunikmati bersamamu

Lalu aku bekerja begitu kerasnya
Bukan untuk sebuah gemilau dunia
Tapi untuk pulang

Pulang
Ya, aku ingin pulang
Menemuimu lagi di kota kelahiranku
Membersamaimu lagi di sisa usia
Menemukan kembali senyummu di awal dan ujung hariku

Bilakah tiba?

“Pulanglah, jika kau bise pada hari Sembahyang Kubur
Bukankah kau tadak pulang di hari Lebaran tempo hari?’

Hatiku bungah
Rekeningku telah cukup untuk kusudahi saja pengembaraan ini
Bersiul kudendangkan “Leaving on a Jet Plane”
Tunggu aku, aku akan pulang
Padamu, selamanya

Hari itu, hari besar bagiku
Gegas kususuri Bandara JFK yang sibuk dan ramai nian
Tak peduli aku pada sesiapa
Hanya senyummu saja kurindu

Tersentak aku ketika kudengar dering
Nomor rumah membuatku nyaris urung melangkah
“Halo”
“Pulanglah sekarang, Datuk meninggal…”

Lungkrah aku di sini
Aku akan pulang untuk senyummu
Namun kau telah lebih dulu pulang
Pada Yang Memberimu Senyum dan Hidup….

Aku menangis tergugu di sini….
Aku ingin pulang untukmu, Datuk….
Seketika itu alam membentuk warna-warni Khatulistiwa yang kurindu
Indah
Namun tanpamu …

Cinere,  menjelang 31 tahun wafatnya Datuk tercinta
Bersama kerinduan tentang kampung halaman

Advertisements

About ifaavianty1

A wife, mom of 3 sons, writer and author of about 70 books. Loves books, music, movies, cook, art n craft, history, rain, mall, coffee, tea, and pasta. Oh, and every genius :))
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s